• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIN

H. Teknik Analisis Data

2. Kemampuan Berpikir Kritis

Mengorganisasi pikiran dan mengungkapkannya dengan jelas, logis atau masuk akal (3) Membedakan antara kesimpulan yang didasarkan pada logika yang valid dengan logika yang tidak valid (4) Menyangkal suatu argumen yang tidak relevan dan menyampaikan argumen yang relevan. Kemampuan berpikir kritis tersebut diperoleh melalui tes postes.

3. Model pembelajaran dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS). Tahapan model pembelajaran TSTS terdiri dari lima tahap yaitu tahap persiapan, tahap presentasi guru, tahap kegiatan kelompok, tahap formalisasi dan tahap evaluasi kelompok dan penghargaan.

4. Pokok bahasan yang digunakan yaitu materi sumber daya alam KD 11.1.

6

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang menjadi bahan pengkajian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara pemahaman konsep dengan kemampuan berpikir kritis siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada mata pelajaran IPA dikelas 4 SD Negeri Karundang 2”

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui apakah terdapat mengetahui hubungan yang signifikan antara pemahaman konsep dengan kemampuan berpikir kritis siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada mata pelajaran IPA.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Secara umum, hasil penelitian ini secara teoritis dapat memberikan sumbangan kepada pembelajaran IPA, yaitu berupa antara kemampuan berpikir kritis dengan pemahaman konsep siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap mata pelajaran IPA khusunya pada pokok bahasan daur hidup hewan . 2. Manfaat Praktis

Selain memberikan manfaat secara teoritis, penelitian ini memberikan manfaat praktis sebagai berikut:

a. Bagi Guru

1) Penelitian ini dapat memberikan masukan kepada guru khususnya di SD Negeri Karundang 2 model pembelajaran yang tepat sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

2) Sebagai pembelajaran alternatif dalam mengelola pembelajaran agar menciptakan sebuah pembelajaran yang menarik serta dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep siswa terhadap materi yang sedang dipelajari.

b. Bagi Siswa

1) Penelitian ini dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

c. Bagi Sekolah

1) Salah satu inovasi model pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

2) Memberikan sumbangan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan kondisi pembelajaran.

d. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dengan terjun langsung ke lapangan dan memberikan pengalaman yang menumbuhkan kemampuan dan ketrampilan meneliti serta pengetahuan yang lebih mendalam terutama pada bidang yang dikaji.

G. Kerangka Berpikir

Belajar pada dasarnya adalah suatu proses pemerolehan informasi/

keterampilan. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru kelas IV SD Negeri Karundang 2. Pada saat pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPA, guru sudah sering menggunakan model kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS)

8

Akan tetapi dalam pelaksanaannya, masih terdapat beberapa kekurangan diantaranya guru kurang memicu kemampuan berpikir kritis siswa. Pemahaman konsep memiliki peranan penting dalam Kemampuan berpikir kritis pada pembelajaran IPA. Keterampilan berpikir kritis merupakan kemampuan untuk memahami suatu permasalahan dan mencari solusi pemecahan masalahnya, serta selalu berpikiran terbuka terhadap hal-hal baru untuk menemukan solusi terbaik dari permasalahan yang dihadapi. Masalah dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam adalah salah satu permasalahan yang mampu merangsang kemampuan siswa dalam berpikir kritis karena dengan menyelesaikan permasalahan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa mampu berpikir secara kritis, logis dan ilmiah sehingga kemampuan mereka dalam berpikir kritis juga dapat terus dikembangkan.

Dari uraian di atas maka kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1.1.

Gambar 1.1 Kerangka Berpikir Masalah:

H. Hipotesis

Dari kerangka berpikir di atas peneliti mengajukan hipotesis tindakan yaitu:

1. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemahaman konsep dengan kemampun berpikir kritis siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri Karundang 2.

10 BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) 1. Pengertian dan Hakikat IPA

Ilmu pengetahuan alam merupakan terjemahan dari kata natural science, artinya alamiah atau berhubungan dengan alam. Berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan alam, sedangkan science artinya ilmu pengetahuan. ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini.

IPA secara sederhana didefinisikan sebagai ilmu tentang fenomena alam semesta. Menurut Trianto (2010: 136) bahwa IPA merupakan suatu kumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur, dan sebagainya.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian IPA dapat diartikan sebagai ilmu tentang fenomena alam semesta dengan metode khusus untuk mendapatkan suatu konsep berdasarkan hasil observasi dan eksperimen tentang gejala alam dan berusaha mengembangkan rasa ingin tahu tentang alam.

2. Tujuan Mata Pelajaran IPA

Setiap mata pelajaran yang ada di sekolah mempunyai tujuan masing-masing. Pada mata pelajara IPA juga mempunyai tujuan tertentu dalam pelaksanaan pembelajaran. Sesuai dengan yang tertulis dalam Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 dalam Mulyasa (2010: 111), tujuan dari mata pelajaran IPA adalah sebagai berikut:

1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya

2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.

4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan

5) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.

6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/ MTs.

(Mulyasa, 2010: 111)

Tujuan mata pelajaran IPA pada pembelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran TSTS adalah agar siswa dapat mengembangkan pengetahuannya baik dalam pemahaman konsep maupun dalam kemampuan berpikir kritis.

3. Ruang Lingkup IPA SD

Ruang lingkup materi IPA di sekolah dasar dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 dalam Mulyasa (2010: 112) meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

1) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan.

12

2) Benda/ materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas.

3) Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya, dan pesawat sederhana.

4) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.

Ruang lingkup materi IPA yang akan diajarkan pada penelitian ini adalah materi kelas IV tentang sumber daya alam khususnya materi tentang sumber daya alam dan lingkungannya.

4. Pembelajaran IPA SD

Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan mata pelajaran lainnya. Pembelajaran IPA untuk siswa SD berbeda dengan pembelajaran IPA untuk siswa SMP dan SMA. IPA perlu diajarkan di sekolah karena dapat memberikan pengalaman langsung untuk memahami segala yang ada di alam semesta secara utuh.

Ada berbagai alasan yang menyebabkan mata pelajaran IPA dimasukkan kedalam kurikulum suatu sekolah. Samatowa (2006: 3) mengemukakan alasan tersebut digolongkan menjadi empat golongan, yaitu:

1) IPA berfaedah bagi suatu bangsa, kiranya tidak perlu dipersoalkan panjang lebar.

2) Bila diajarkan menurut cara yang tepat, maka IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis.

3) Bila IPA diajarkan melalui percobaan-percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak, maka IPA tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka.

4) Mata pelajaran ini mempunyai nilai-nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan.

IPA sebagai ilmu pengetahuan tentang alam semesta serta isinya, maka dalam pembelajaran harus menggunakan metode yang tepat. Pada pembelajaran IPA tidak bisa hanya menggunakan metode ceramah saja, karena pada pembelajaran IPA siswa belajar dengan pengalaman yang nyata.

Dalam memahami konsep-konsep IPA yang abstrak, dalam pembelajarannya di sekolah dasar harus menggunakan media atau alat bantu untuk mempermudah siswa dalam pembelajaran IPA. Selain itu pembelajaran IPA di sekolah dasar menekankan pada pembelajaran secara langsung dengan mengaitkan pengalaman keterampilan proses dan sikap ilmiah agar siswa dapat memahami alam semesta beserta isinya.

Pembelajaran model TSTS dalam pembelajaran IPA di SD. Dalam model pembelajaran kooperatif TSTS merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki tujuan agar siswa di ajak untuk bergotong royong dalam menemukan suatu konsep. Penggunaan model pembelajaran kooperatif TSTS akan mengarahkan siswa untuk aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman. Dengan penerapan model pembelajaran TSTS, siswa juga akan terlibat secara aktif, sehingga akan memunculkan semangat siswa dalam belajar (aktif). Sedangkan tanya jawab dapat dilakukan oleh siswa dari kelompok satu dan yang lain, dengan cara mencocokan materi yang didapat dengan materi yang disampaikan. Dengan begitu, siswa dapat mengevaluasi sendiri, seberapa tepatkah pola pikirnya terhadap suatu konsep dengan pola pikir nara sumber. Sehingga mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.

B. Pemahaman Konsep

1. Pengertian Pemahaman Konsep

Pemahaman konsep adalah kemampuan seseorang mengaitkan skema-skema tertentu yang sesuai ke dalam skema-skema yang dimilikinya yang telah

14

terbentuk di dalam bayangan mental seseorang yang diperoleh dari pengalaman belajar sebelumnya.

2. Indikator Pemahaman Konsep

Indikator yang menunjukkan pemahaman konsep antara lain sebagai berikut.

1) Menyatakan ulang sebuah konsep adalah kemampuan seseorang untuk mengungkapkan kembali apa yang telah dikomunikasikan kepadanya.

2) Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya) adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengelompokkan objek menurut sifat-sifatnya.

3) Memberikan contoh dan non contoh dari konsep adalah kemampuan seseorang dapat membedakan contoh dan bukan contoh dari suatu materi yang telah dipelajari.

4) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis adalah kemampuan seseorang menggambar atau membuat grafik, membuat ekspresi matematis, menyusun cerita atau teks tertulis.

5) Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah adalah kemampuan seseorang menggunakan konsep serta prosedur dalam menyelesaikan masalah.

Davis (Akib, 2001: 146) menyebutkan empat kriteria seseorang dikatakan memahami konsep, yaitu:

1) Dapat menyatakan atribut-atributnya, 2) Dapat memberikan contoh dari konsep itu, 3) Dapat memberikan noncontoh dari konsep, dan 4) Dapat memberikan nama dan mendefinisikannya.

Berdasarkan uraian di atas peneliti memilih empat indikator pemahaman konsep yang disesuaikan dengan perkembangan usia anak SD.

Adapun indikator yang akan digunakan peneliti dalam mengukur pemahaman konsep siswa SD adalah sebagai berikut:

1) Menyatakan ulang sebuah konsep.

2) Mengklasifikasi objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya

3) Memberi contoh dan bukan contoh dari suatu konsep.

4) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep

C. Berpikir Kritis

1. Pengertian Berpikir Kritis

Berpikir merupakan aktivitas mental dalam aspek teori dasar mengenai aspek psikologis. Berpikir sangat berperan dalam prestasi belajar, penalaran formal, keberhasilan belajar dan kreativitas karena berpikir merupakan inti pengatur tindakan. Ashman Conway (dalam Sunaryo, 2011: 24) mengungkapkan bahwa keterampilan berpikir melibatkan enam jenis berpikir yaitu, metakognisi, berpikir kritis, berpikir kreatif, proses kognitif, kemampuan berpikir inti dan memahami peran konten pengetahuan

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan suatu salah satu proses mental yang harus dikembangkan karena mempengaruhi prestasi belajar dan keberhasilan proses pembelajaran.

Berpikir kritis merupakan suatu proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi dan melakukan penelitian ilmiah. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpendapat dengan cara yang terorganisasi.

Berpikir kritis merupakan kemampuan untuk mengevaluasi secara sistematis bobot pendapat pribadi dan pendapat orang lain . Berpikir kritis secara esensial adalah proses aktif dimana seseorang memikirkan berbagai hal secara mendalam, mengajukan pertanyaan untuk diri sendiri, menemukan informasi

16

yang relevan untuk diri sendiri daripada menerima berbagai hal dari orang lain.

Dari pendapat beberapa ahli mengenai pengertian berpikir kritis, dapat dinyatakan bahwa berpikir kritis adalah suatu proses kegiatan mental yang terarah dan jelas tentang suatu masalah yang meliputi merumuskan masalah, menentukan keputusan, menganalisis dan melakukan penelitian ilmiah yang akhirnya menghasilkan suatu konsep yang diyakini berdasarkan sumber terpercaya. Kemampuan ini penting untuk dikembangkan pada siswa, mengingat kemampuan berpikir kritis mempengaruhi prestasi belajar dan membantu siswa memahami konsep IPA secara mendalam, khususnya pada materi Sumber Daya Aalam..

2. Tujuan Berpikir Kritis

Tujuan berpikir kritis adalah untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Sementara itu, Faiz, F (2012: 2) mengemukakan bahwa tujuan berpikir kritis sederhana yaitu untuk menjamin, sejauh mungkin, bahwa pemikiran kita valid dan benar.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dikatakan bahwa tujuan berpikir kritis adalah untuk mencapai pemahaman yang mendalam tentang suatu materi atau konsep sehingga dapat menjamin bahwa pemikiran siswa terhadap suatu konsep tersebut adalah valid dan benar.

3. Aktivitas Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis menurut Ennis ( dalam Nursyamsinar Nursiti, 2013) terdiri atas 12 komponen yaitu:

1) Merumuskan masalah 2) Menganalisis argumen

3) Menanyakan dan menjawab pertanyaan

4) Menilai kredibilitas sumber informasi

5) Melakukan observasi dan menilai laporan hasil observasi 6) Membuat deduksi dan menilai deduksi

7) Membuat induksi dan menilai induksi 8) Engevaluasi

9) Mengidentifikasi dan menilai identifikasi 10) Mengidentifikasi asumsi

11) Memutuskan dan melaksanakan 12) Berinteraksi dengan orang lain 4. Indikator Berpikir Kritis

Faiz, F (2012: 4-5) telah menyusun indikator orang yang berpikir kritis dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap, dan kebiasaan adalah sebagai berikut:

1) Menggunakan fakta-fakta secara tepat dan jujur

2) Mengorganisasi pikiran dan mengungkapkannya dengan jelas, logis atau masuk akal

3) Membedakan antara kesimpulan yang didasarkan pada logika yang valid dengan logika yang tidak valid

4) Mengidentifikasi kecukupan data

5) Menyangkal suatu argumen yang tidak relevan dan menyampaikan argumen yang relevan

6) Mempertanyakan suatu pandangan dan mempertanyakan implikasi dari suatu pandangan

7) Menyadari bahwa fakta dan pemahaman seseorang selalu terbatas;

8) Mengenali kemungkinan keliru dari suatu pendapat dan kemungkinan bias dalam pendapat.

Berdasarkan uraian di atas peneliti memilih empat indikator kemampuan berpikir kritis yang disesuaikan dengan perkembangan usia anak

18

SD. Adapun indikator yang akan digunakan peneliti dalam mengukur kemampuan berpikir kritis siswa SD adalah sebagai berikut:

1) Menggunakan fakta-fakta secara tepat dan jujur.

2) Mengorganisasi pikiran dan mengungkapkannya dengan jelas, logis atau masuk akal.

3) Membedakan antara kesimpulan yang didasarkan pada logika yang valid dengan logika yang tidak valid.

4) Menyangkal suatu argumen yang tidak relevan dan menyampaikan argumen yang relevan.

D. Model Pembelajaran

1. Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan salah satu bagian dari keseluruhan sistem belajar yang tidak dapat dipisahkan dari sistem lainnya. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran.

Dalam buku Trianto (2010:50) Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajaran dalam tutorial. Fungsi dari model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran

Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Model Kooperatif

Berasal dari kata cooperative artinya mngerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau sati tim. Istilah cooperative learning dalam baha indonesia dikenal dengan pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar, tetapi juga sesama siswa. Menurut Slavin ( dalam Heriawan, Adang dkk) pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang untuk memebuhi konsep yang difasilitasi oleh guru.

Dari beberapa pengertian pembelajaran kooperatif yang telah dijabarkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok untuk menyelesaikan tugas atau masalah dengan melakukan kerja sama antar siswa.

Tabel 2.1

Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif

Tahap Perilaku Guru

Tahap 1: Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik

Menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada materi yang dipelajari dan memotivasi siswa untuk belajar Tahap 2: Menyajikan informasi

atau materi pelajaran

Menyajikan informasi atau materi pelajaran kepada siswa baik dengan demonstrasi atau bahan

20

bacaan Tahap 3: Mengorganisasikan

kedlama kelompok-kelompok belajar

Menjelaskan kepada siswa bagaimana membentuk kelompok belajar dan bekerja sama dalam kelompok agar terjadi perubahan yang efesien

Tahap 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Mengamati, mendorong dan membimbing siswa dalam menyelesaikan tugas

Tahap 5: Evaluasi Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing- masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya

Tahap 6: Mengemukakan pengakuan atau penghargaan

Memberikan umpan balik terhadap hasil kerja seluruh kelompok dan memberikan penghargaan kepada kelompok yang telah menunjukkan hasil kerja baik.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, ada lima unsur pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan, yaitu:

1) Saling ketergantungan positif

Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok yang efektif, pengajar perlu

menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.

2) Tanggung jawab perseorangan

Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur saling ketergantungan. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggungjawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.

3) Tatap muka

Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para siswa untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing.

4) Komunikasi antar anggota

Unsur ini juga menghendaki agar siswa dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi.

5) Evaluasi proses kelompok

Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama lebih dekat.

Pelaksanaan pembelajaran kooperatif membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok pembelajaran. Tujuan dalam pembelajaran kooperatif adalah:

22

1) Dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik 2) Unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit 3) Membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.

Adapun manfaat dari pembelajaran kooperatif diantaranya adalah:

1) Meningkatkan hasil belajar.

2) Meningkatkan hubungan antar kelompok, pembelajaran kooperatif memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan teman satu tim untuk mencerna materi.

3) Meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar, pembelajaran kooperatif dapat membina sifat kebersamaan, peduli satu sama lain dan tenggang rasa, serta mempunyai rasa andil terhadap keberhasilan tim.

4) Menumbuhkan realisasi kebutuhan siswa untuk belajar berpikir.

Pembelajaran kooperatif dapat diterapkan untuk berbagai materi ajar.

5) Memadukan dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan.

6) Meningkatkan perilaku dan kehadiran dikelas.

7) Relatif murah karena tidak memerlukan biaya khusus untuk menerapkannya.

3. Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS)

3.1 Pengertian Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS)

Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model TSTS. “Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Kagan, S 1992. Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya.

3.2 Ciri-ciri Model Pembelajaran Two Stay Two Stray(TSTS) Ciri-ciri model pembelajaran TSTS, yaitu:

1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.

2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

3) Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.

4) Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu

3.3 Tujuan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray(TSTS)

Dalam model pembelajaran ini siswa dihadapkan pada kegiatan mendengarkan apa yang diutarakan oleh temannya ketika sedang bertamu, yang secara tidak langsung siswa akan dibawa untuk menyimak apa yang diutarakan oleh anggota kelompok yang menjadi tuan rumah tersebut. Dalam

Dalam model pembelajaran ini siswa dihadapkan pada kegiatan mendengarkan apa yang diutarakan oleh temannya ketika sedang bertamu, yang secara tidak langsung siswa akan dibawa untuk menyimak apa yang diutarakan oleh anggota kelompok yang menjadi tuan rumah tersebut. Dalam