2.4. DAYA SAING DAERAH
2.4.1. Kemampuan Ekonomi Daerah 1 Makroekonomi Daerah
Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi selama 5 tahun terakhir yaitu sebesar 6,58% per tahun. Pertumbuhan yang cukup tinggi ini menggambarkan bahwa perekonomian daerah berjalan cukup dinamis. Di sisi lain, pengendalian laju pertumbuhan penduduk berhasil dilakukan sehingga mampu meningkatkan pendapatan per kapita secara signifikan. Nilai PDRB per kapita selama 5 tahun terakhir rata-rata tumbuh sekita 15% per tahun bila dihitung dengan harga berlaku dan sekitar 4% bila dihitung atas dasar harga konstan. Kondisi ini menunjukkan bahwa perekonomian Kutai Barat berjalan dengan dinamis. Sementara itu dukungan sektor perbankan dalam menggerakan ekonomi daerah cukup besar dan menunjukkan tren yang terus meningkat selama 5 tahun terakhir. Hal ini memberikan gambaran bahwa pembangunan ekonomi Kutai Barat dipandang memiliki prospek yang cerah, sehingga menumbuhkan kepercayaan dari dunia perbankan.
Bila dipandang dari beberapa indikator ekonomi secara keseluruhan, posisi daya saing Kutai Barat dibandingkan dengan daerah lain di Kalimantan Timur terlihat cukup baik. Meski demikian, indikator pengeluaran per kapita per bulan misalnya, masih menunjukkan angka yang relatif kecil bila dibandingkan daerah lain. Namun, rasio pendapatan per kapita Kutai Barat terhadap pendapatan per kapita Provinsi tergolong tinggi yaitu 29,69%. Angka ini merupakan angka terbesar ke 6 dari seluruh daerah di Kalimantan Timur. Rasio potensi pendapatan daerah terhadap Provinsi juga menunjukkan bahwa dibanding daerah lain, posisi daya saing Kutai Barat tidak dapat dikatakan buruk meskipun masuk dalam kelompok bawah. Hanya rasio jumlah kendaraan bermotor per km yang menempati posisi cukup tinggi yaitu peringkat 5 di Kalimantan Timur dengan jumlah rasio 147 kendaraan per km, sehingga arus lalu lintas di Kutai Barat relatif lebih padat dibandingkan daerah lain.
Tabel 2.54.
Perbandingan Beberapa Indikator Kinerja Kesejahteraan
` PPK RKB RPPK PPD Pasir 626,470 121 31.7 71.77 Kutai Barat 625,570 147 29.69 60.35 Kutai Kartanegara 632,640 124 182.8 91.25 Kutai Timur 621,340 39 119.42 69.33 Berau 633,470 53 25.52 90.05 Malinau 645,910 17 23.38 54.18 Bulungan 633,850 31 22.91 50.81 Nunukan 637,560 41 24.35 72.68
Penajem Paser Utara 630,250 67 18.63 87.32
Balikpapan 646,650 776 86.54 65.19
Samarinda 644,220 751 28.99 52.98
Tarakan 642,450 480 28.86 83.9
Bontang 629,410 632 548.65 77.44
PPK=Pengeluaran Per Kapita Disesuaikan RKB=Jumlah Kendaraan/Km
RPPK=Rasio Pendapatan Per Kapita Terhadap Provinsi PPD=Potensi Pendapatan Daerah terhadap Provinsi
Sumber: Suseda Kutai Barat 2010, Indikator Penting Kalimantan Timur 2010
Kutai Barat didukung oleh aparat dengan kualifikasi SDM yang cukup baik. Hal ini dapat terlihat dan tingkat eselonisasi yang sebagian besar golongan IV, serta peningkatan jumlah pegawai baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Dari sisi kuantitas, terlihat dari semakin bertambahnya jumlah pegawai dalam rangka optimalisasi pelayanan masyarakat dan dari sisi kualitas terlihat dari semakin bertambahnya jumlah pegawai yang berpendidikan S1 dan S2 dan mengikuti berbagai pelatihan. Konsep reformasi birokrasi terus dijalankan sehingga pelayanan terhadap masyarakat dapat berjalan dengan baik. Perijinan yang berkaitan dengan usaha misalnya, mengalami peningkatan yang sangat besar. Tahun 2009 jumlah perijinan hanya mencapai 32 kali, dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 819 kali. Kondisi tersebut menggambarkan dinamika perekonomian Kutai Barat yang berkembang serta berhasilnya reformasi birokrasi. Hal ini menggambarkan salah satu wujud dari komitmen pemerintah dalam menjalankan good corporate governance. Hal ini diharapkan mampu memperkuat daya saing Kutai Barat.
Jumlah angkatan kerja dengan usia produktif di Kutai Barat (25 – 40 tahun) yang cukup besar membuat Kutai Barat memiliki potensi besar dalam SDM. Sumber daya tersebut mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja di Kutai Barat. Sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas dan memberikan bekal keterampilan bagi pencari kerja telah diambil langkah-langkah melalui Program Pengembangan Kualitas
dan produktifitas Tenaga Kerja yang dilaksanakan di antaranya adalah yang bersifat memberikan keterampilan dengan tujuan agar peserta perusahaan dapat melaksanakan kegiatan usaha mandiri, dan pelatihan yang mengacu pada kebutuhan pasar kerja di mana dalam kegiatan ini peserta pelatihan mendapatkan ilmu dan pengetahuan serta keterampilan sebagai bekal untuk berkompetensi di pasar kerja yang ada. Jumlah peserta latihan yang telah dilaksanakan dalam waktu lima tahun sebanyak 372 orang dengan aneka jurusan. Dalam Program Peningkatan Kualitas dan Produktifitas Tenaga Kerja pada kurun waktu ini telah disediakan lahan seluas 8 (delapan) ha yang akan digunakan untuk membangun Balai Latihan Kerja (BLK). Diharapkan daya saing tenaga kerja Kutai Barat dapat meningkat untuk mendukung aktivitas perekonomian.
2.4.1.2. Kesejahteraan Sosial Budaya Masyarakat
Kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu komponen dalam aspek daya saing daerah. Beberapa ukuran yang dapat dipergunakan untuk melihat kesejahteraan masyarakat antara lain daya beli masyarakat, pendapatan per kapita, pola konsumsi masyarakat, dan beberapa ukuran lain. Daya beli masyarakat di Kutai Barat semakin meningkat, sehingga hal ini membuat daya saing Kutai Barat semakin baik. Kondisi tersebut tercermin dari: (1) rata-rata pengeluaran per kapita per bulan yang semakin membaik. Tahun 2007 rata-rata pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp344.335 naik tahun 2009 naik menjadi Rp501.886, (2) tingkat konsumsi non makanan meningkat dari Rp130.753 atau 37,9% dari tingkat konsumsi makanan per kapita per bulan, menjadi Rp211.925 atau 42,2%. Kondisi memberikan gambaran bahwa penduduk Kutai Barat tidak memiliki kendala dalam konsumsi makanan sebagai kebutuhan pokok, dan konsumsi kebutuhan rumah tangga lain semakin membaik, (3) batas garis kemiskinan yang mulai meningkat dari Rp188.635 di tahun 2005 menjadi Rp245.687 di tahun 2009 sehingga standar hidup masyarakat semakin membaik.
Tabel 2.55.
Jenis dan Besar Konsumsi Masyarakat
Jenis Pengeluaran 2007 2009
Makanan 214,582 289,961
Non Makanan 130,753 211,925
Rasio Makanan terhadap Non Makanan 1.641124869 1.368224608
Rasio Non Makanan terhadap Total 0.379 0.422
Jenis konsumsi non makanan yang terbesar adalah untuk perumahan (22,89%) dan aneka barang dan jasa (7,78%) sedangkan yang terkecil adalah pengeluaran untuk pajak dan asuransi (0,74%). Pola konsumsi ini secara umum belum mengalami perubahan dibanding tahun 2007.
Tabel 2.56.
Jenis Pengeluaran Konsumsi Masyarakat
Jenis Pengeluaran 2007 2009
Perumahan 21.89 22.89
Aneka Barang dan Jasa 7.8 7.78
Biaya Pendidikan 1.46 2.55
Biaya Kesehatan 1.33 1.46
Pakaian dan Alas Kaki 2.15 2.11
Barang Tahan Lama 1.44 3.27
Pajak dan Asuransi 0.44 0.74
Keperluan Pesta 1.26 1.41
Sumber: Suseda Kutai Barat 2009
Secara keseluruhan, dari sisi kesejahteraan menunjukkan posisi daya saing Kutai Barat dibandingkan dengan daerah lain cukup baik. Misal dari indikator lain seperti angka harapan hidup yang besarnya 70,08 menempati peringkat ke 9 di Kalimantan Timur. Untuk indikator angka melek huruf masuk peringkat 7 dengan nilai 95,97. Meski angka sebesar ini bukan termasuk yang terbaik, namun bila dibandingkan dengan tahun 2004, kemajuan Kutai Barat termasuk yang paling cepat karena mampu memperbesar indeks angka melek huruf sebear 7,67% dari 2004-2009, sementara daerah lain dalam rentang waktu yang sama hanya berkisar 1-2%.
Indikator kesejahteraan sosial yang lain juga menunjukkan posisi yang tidak jauh berbeda dalam arti, posisi daya saing Kutai Barat dibandingkan dengan daerah lain dalam hal kesejahteraan sosial dapat dikatakan cukup tinggi, yaitu berkisar antara urutan 7-9 dari seluruh daerah di Kalimantan Timur. Sebagai daerah yang tergolong baru, kondisi ini menunjukkan kinerja yang cukup baik.
Tabel 2.57.
Perbandingan Beberapa Indikator Sosial Kesejahteraan Antar Daerah
Kabupaten/Kota AHH AMH IPM RLS DPLN
Pasir 72.74 95.22 73.99 7.8 66.38 Kutai Barat 70.08 95.97 72.66 7.86 43.95 Kutai Kartanegara 67.85 96.87 72.54 8.38 78.18 Kutai Timur 68.43 95.89 71.27 7.7 31.25 Berau 69.66 96.05 73.17 8.03 35.92 Malinau 68.22 92.65 72.36 7.75 19.39 Bulungan 72.73 95.51 74.67 7.88 62.07 Nunukan 71.3 93.41 73.38 7.45 8.72
Penajem Paser Utara 71.32 94.47 73.18 7.6 97.87
Balikpapan 71.95 98.35 77.49 10.08 100
Samarinda 71.01 97.91 76.45 9.77 100
Tarakan 71.55 97.9 76.32 9.37 100
Bontang 72.26 98.35 76.32 10.07 86.67
AHH=Angka Harapan Hidup AMH=Angka Melek Huruf
IPM=Indeks Pembangunan Manusia RLS=Rata-rata Lama Sekolah
DPLN=Proporsi Desa Menggunakan Listrik PLN
Sumber: Indikator Penting Kalimantan Timur 2010
Tingginya kinerja kesejahteraan sosial di atas pada prinsipnya menggambarkan kondisi hasil pembangunan selama ini. Oleh karena itu semakin tinggi indikator kesejahteraan sosial menggambarkan bahwa taraf kehidupan masyarakat secara makro semakin membaik.
2.4.2. Fasilitas Wilayah/Infrastruktur