BAB II TINJAUAN TEORETIS
C. Kemampuan Metakognitif
c. Tindak Lanjut
Kegiatan yang perlu dilakukan untuk memantapkan pemahaman peserta didik tentang materi yang dibahas dengan menggunakan media, maka perlu adanya tindak lanjut berupa tes atau tugas untuk mengukur efektivitas pembelajaran dengan menggunakan media torso.
pengetahuan yang dibutuhkan dari memori jangka panjang untuk membandingkannya dengan informasi yang baru diterimanya. Proses kedua adalah mengingat kembali, dengan kegiatan mengingat kembali dibutuhkan kekuatan memori yang lama dan mampu memprosesnya.
2) Memahami (C2)
Memahami adalah mendeskripsikan susunan dalam artian pesan pembelajaran, mencakup moral, tulisan, dan komunikasi grafik.14 Dalam kategori ini terdapat tujuh proses kognitif diantaranya menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan dan menjelaskan.
3) Mengaplikasikan (C3)
Mengaplikasikan maksudnya adalah menggunakan prosedur dalam situasi yang biasa dihadapi. Dalam kategori ini terdapat dua proses kognitif yaitu pertama mengeksekusi dan kedua mengimplementasi.15
4) Menganalisis (C4)
Kemampuan untuk mencegah suatu kesatuan menjadi bagian-bagian dan menentukan bagian-bagian tersebut dihubungkan antara satu dengan yang lain atau bagian tersebut dengan keseluruhannya. Pada tingkat analisis, seseorang biasanya akan mampu menganalisa suatu informasi yang masuk, membagi dalam bentuk yang lebih kecil untuk memahami pola atau hubungan serta dapat mengenali dan membedakan faktor-faktor penyebab dan akibatnya. Kategori menganalisa terdiri dari kemampuan membedakan, mengorganisasi dan memberi simbol.
14Wowo Sunaryo Kuswana, Taksonomi Kognitif, h. 115.
15Wowo Sunaryo Kuswana, Taksonomi Kognitif, h. 115.
5) Menilai atau mengevaluasi (C5)
Mengevaluasi didefinisikan dengan cara membuat keputusan berdasarkan kriteria dan standar yang ada. Kategori dalam evaluasi mencakup cheking dan Critiquing.
6) Mencipta (C6)
Mencipta artinya membuat hasil yang bagus berdasarkan semua ide-ide yang ada.16 Proses create terdiri dari tiga, pertama merumuskan, kedua merencanakan dan ketiga memproduksi.
b. Dimensi pengetahuan
Dimensi pengetahuan merupakan dimensi tersendiri dalam revisi Taksonomi Bloom. Terdapat empat jenis kategori dalam dimensi pengetahuan, yaitu pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif. Berikut penjelasannya:
1) Pengetahuan Faktual
Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar yang harus diketahui siswa ketika ingin mempelajari disiplin ilmu atau menyelesaikan suatu masalah dalam disiplin ilmu tersebut. Dalam pengetahuan faktual terdiri dari dua sub jenis, yaitu:
a) Pengetahuan tentang terminologi. Pengetahuan ini melingkupi pengetahuan tentag label dan simbol verbal dan nonverbal (misalnya kata, angka, tanda dan gambar)
16Wowo Sunaryo Kuswana, Taksonomi Kognitif, h. 115.
b) Pengetahuan tentang detail-detail dan elemen-elemen yang spesifik.
Pengetahuan ini meliputi pengetahuan tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber informasi dan semacamnya. Pengetahuan ini meliputi informasi yang mendetail dan spesifik.17
2) Pengetahuan Konseptual
Pengetahuan konseptual mencakup pengetahuan tentang kategori, klasifikasi dan hubungan antara dua atau lebih kategori atau klasifikasi pengetahuan yang lebih kompleks dan tertata. Pengetahuan konseptual terdiri dari tiga sub jenis:
a) Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori. Pengetahuan ini meliputi kategori, kelas, divisi dan susunan yang spesifik dalam disiplin-disiplin ilmu.
Perlunya klasifikasi dan kategori dapat digunakan untuk menstrukturkan dan mensistematisasikan fenomena.
b) Pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi. Prinsip dan generalisasi dibentuk oleh klasifikasi dan kategori. Pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi mencakup pengetahuan tentang abstraksi-abstraksi tertentu yang dapat meringkas hasil-hasil pengamatan terhadap suatu fenomena.
c) Pengetahuan tentang teori, model, dan struktur. Pengetahuan ini meliputi pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi serta antara keduanya yang menghadirkan pandangan yang jelas, utuh dan sistematik tentang sebuah fenomena, masalah, atau materi kajian yang kompleks. Pengetahuan tentang teori, model dan struktur mencakup pengetahuan tentang berbagai paradigma,
17Lorin W. Anderson and David R. Krathwohl, A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Education Objectives, terj. Agung Prihantoro, Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen: Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom, h. 57-61.
epistemologi, teori dan model yang digunakan dalam disiplin ilmu untuk mendeskripsikan, memahami, menjelaskan dan memprediksi fenomena.18 3) Pengetahuan prosedural
Pengetahuan prosedural meliputi bagaimana individu melakukan sesuatu, mempraktikkan metode-metode penelitian dan kriteria-kriteria untuk menggunakan keterampilan, algoritma, teknik dan metode. Pengetahuan prosedural biasanya memuat pertanyaan “bagaimana”, dengan kata lain pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang beragam proses. Pada pengetahuan ini terdiri dari tiga subjenis, yaitu:
a) Pengetahuan tentang keterampilan dalam suatu bidang tertentu dan algoritme.
b) Pengetahuan tentang teknik dan metode dalam suatu bidang tertentu.
Pengetahuan ini pada umumnya adalah hasil konsensus, kesepakatan atau ketentuan dalam disiplin ilmu, bukan hasil pengematan atau eksperimen atau penemuan langsung. Pengetahuan ini menunjukkan bagaimana para ilmuan dalam bidang mereka berpikir dan mampu menyelesaikan masalah-masalah, bukan hasil penyelesaian masalah atau pemikiran.
c) Pengetahuan tentang kriteria untuk menentukan kapan harus menggunakan prosedur yang tepat.19
18Lorin W. Anderson and David R. Krathwohl, A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Education Objectives, terj. Agung Prihantoro, Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen: Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom, h. 71-76.
19Lorin W. Anderson and David R. Krathwohl, A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Education Objectives, terj. Agung Prihantoro, Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen: Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom, h. 77-81.
4) Pengetahuan Metakognitif
Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan tentang kognisi secara umum dan kesadaran dan pengetahuan tentang kognisi diri sendiri. Pada pengetahuan ini terdiri dari tiga subjenis, yaitu:
a) Pengetahuan strategis, pengetahuan ini merupakan pengetahuan perihal strategi-strategi belajar dan berpikir serta pemecahan masalah. Pengetahuan ini mencakup tentang strategi-strategi belajar dan berpikir serta memecahkan masalah dan berpikir.
b) Pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif.
c) Pengetahuan diri, Pengetahuan ini mencakup pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri dalam kaitannya kognisi dan belajar.20
2. Pengertian Metakognitif
Metakognitif atau metakognisi terdiri dari dua kata yakni, meta dan kognisi. Meta artinya sesudah dan kognisi artinya pengetahuan. Secara harfiah metakognisi diartikan sebagai kognisi tentang kognisi, pengetahuan tentang pengetahuan dan berpikir tentang berpikir.21
Metakognitif adalah kesadaran berfikir seseorang tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui.22 Metakognitif merupakan suatu bentuk kemampuan seseorang untuk melihat dirinya sendiri sehingga apa yang dikerjakan dapat terkontrol secara optimal. Dengan kemampuan seperti ini, seseorang
20Lorin W. Anderson and David R. Krathwohl, A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Education Objectives, terj. Agung Prihantoro, Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen: Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom, h. 82-88.
21Desmita, Psikologi Perkembangan peserta Didik, (Cet VII; Bandung: Remaja Rosdakarta, 2017), h. 132.
22Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2010), h.149.
memiliki kemungkinan dapat memecahkan masalah, sebab dalam setiap langkah yang dia kerjakan senantiasa bertanya: “Apa yang saya kerjakan?”, “Mengapa saya mengerjakan ini?”, Hal apa yang membantu saya untuk menyelesaikan ini?”.23
Seiring dengan berkembangnya psikologi dalam bidang pendidikan maka konsep metakognisi juga berkembang. Pada intinya metakognisi menggali pemikiran orang tentang berfikir “thinking about thingking”. Konsep dari metakognisi adalah ide dari berpikir tentang pikiran pada diri sendiri. Termasuk kesadaran tentang apa yang diketahui seseorang (pengetahuan metakognitif) dan apa yang diketahui seseorang tentang kemampuan kognitif dirinya sendiri (pengalaman metakognitif).
Hasamah & Yanur Setyaningrum mengutip Jonassen memberikan definisi metakognitif sebagai kesadaran seseorang tentang bagaimana ia belajar, kemampuan untuk menilai kesukaran suatu masalah, kemampuan untuk mengamati tingkat pemahaman dirinya, kemampuan menggunakan berbagai informasi untuk mencapai tujuan, dan kemampuan menilai kemampuan diri sendiri. Sedangkan pengalaman metakognitif adalah proses-proses yang dapat diterapkan untuk mengontrol aktivitas-aktivitas kognitif dan mencapai tujuan-tujuan kognitif.24
Pengetahuan metakognisi meliputi usaha dan refleksi atas pikiran-pikiran yang ada pada saat ini. Refleksi ini membutuhkan pengetahuan faktual (factual knowledge) tentang tugas, tujuan-tujuan atau diri sendiri dan pengetahuan
23Husamah dan Yanur Setyaningrum, Desain Pembelajaran Berbasis Pencapaian Kompetensi Panduan dalam Merancang Pembelajaran untuk Mendukung Implementasi Kurikulum 2013, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2013), h.180.
24Husamah dan Yanur Setyaningrum, Desain Pembelajaran Berbasis Pencapaian Kompetensi Panduan dalam Merancang Pembelajaran untuk Mendukung Implementasi Kurikulum 2013, h.179.
strategis (strategic knowledge) tentang bagaimana dan kapan menggunakan prosedur-prosedur tertentu untuk memecahkan masalah. Sedangkan aktivitas metakognitif meliputi penggunaan self-awareness dalam menata dan menyesuaikan strategi yang digunakan selama berpikir dan pembelajaran.25
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat diambil garis besar bahwa metakognitif adalah sebuah kesadaran akan kemampuan yang dimiliki seseorang sehingga mengetahui apa yang mesti dilakukan dan tidak dilakukan. Seseorang yang memiliki kemampuan metakognitif maka mampu mengontrol suatu aktivitas yang sedang dilakukannya.
3. Indikator Kemampuan Metakognitif
Menurut Woolfolk, komponen kemampuan metakognitif terdiri dari tiga yaitu merencanakan, memonitor dan mengevaluasi. Berikut penjelasannya:
a. Perencanaan
Perencanaan merupakan keputusan mengenai berapa banyak waktu yang digunakan untuk dapat menyelesaikan masalah yang ada, strategi apa yang digunakan, bagaimana langkah penyelesaiannya, sumber apa yang mesti digunakan, bagaimana cara memulainya dan mana yang harusnya dilaksanakan terlebih dahulu.
b. Memonitor
Memonitor adalah proses berpikir secara sadar dengan bertanya-tanya pada diri sendiri mengenai suatu tugas yang ada, bagaimana tugas ini saya kerjakan, bagaimana saya memahami masalah yang ada dalam tugas ini, apakah saya bisa mengerjakan tugas ini dengan cepat dan apakah tugas ini pernah saya pelajari sebelumnya.
25Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, h.134.
c. Proses evaluasi
Proses dalam evaluasi maksudnya adalah hasil yang didapatkan dari proses berpikir dan belajar. Dalam hal ini dalam proses evaluasi seseorang akan bertanya pada dirinya, mampukah saya mengerjakan tugas yang ada dengan strategi yang berbeda dan apakah saya mampu dalam hal itu ataukah menyerah.26
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa komponen kemampuan metakognitif yaitu dengan mengembangkan perencanaan, memonitor pelaksanaan dan mengevaluasi tindakan. Adapun indikator kemampuan metakognitif, dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Indikator Kemampuan Metakognitif
No Kemampuan Metakognitif Indikator
1. Mengembangkan Perencanaan
1. Siswa dapat menentukan tujuan.
2. Siswa dapat memperoleh rencana penyelesaian.
3. Siswa dapat menghubungkan ingatannya dengan soal yang sudah pernah
diselesaikan.
2. Memonitor Pelaksanaan 1. Siswa yakin dengan apa yang dipilih 2. Siswa menganalisis kesesuaian dengan
rencana yang dibuat.
3. Mengevaluasi tindakan 1. Siswa mampu memeriksa kelebihan dan kekurangan yang sudah dilakukan.
2. Siswa dapat memperhatikan cara kerja sendiri.
3. Siswa dapat mengevaluasi tujuan.
26Martinis Yamin, Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran, (Cet. Jakarta: GP Press Group, 2013), h.30.
4. Strategi Belajar Metakognitif
Strategi pembelajaran adalah prinsip-prinsip dalam pemilihan urutan pengulangan belajar dalam suatu proses pembelajaran.27 Strategi pembelajaran terdiri dua hal, pertama strategi pembelajaran merupakan suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Kedua, strategi disusun dengan tujuan tertentu.28
Strategi metakognitif merupakan strategi untuk melaksanakan dan memonitor, model berpikir yang melibatkan penalaran siswa, dan terfokus pada penggunaan penalaran. Yamin mengutip Kellough mengatakan bahwa strategi metakognitif mengkondisikan siswa aktif merencanakan, memonitor, mengevaluasi kemajuan berpikir dan belajar.
Strategi belajar metakognitif adalah cara yang tepat untuk meningkatkan kesadaran tentang proses berpikir dalam pembelajaran yang berlaku, sehingga apabila kesadaran itu terwujud maka seseorang dapat mengawal pemikirannya dengan merancang, memantau, dan menilai apa yang dipelajarinya.
Yamin mengutip Preisseisen menerangkan bahwa metakognisi terdiri empat keterampilan, yaitu sebagai berikut:
a. Keterampilan Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta-fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternatif pemecahan, dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif.
27Martinis Yamin, Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran, h.4.
28Wina Sanjaya, Perencanaan & Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2015), h.186.
b. Keterampilan Pengambilan Keputusan (Discision Making)
Keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk memilih suatu keputusan terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, dan pengambilan keputusan terbaik berdasarkan alasan-alasan rasional.
c. Keterampilan Berpikir Kritis (Creative Thingking)
Keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menganalisis argument dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang salah melalui logical reasoning, analisis asumsi dan bisa dari argument, dan interpretasi logis.
d. Keteampilan Berpikir Kreatif (Creative Thingking)
Keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menghasilkan suatu ide yang baru, konstruktif, dan baik berdasarkan konsep-konsep, dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi, dan intuisi individu.29
5. Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Metakognitif
Elaine Blakey dan Sheila Spence menjelaskan langkah-langkah penerapan strategi pembelajaran metakognitif, yaitu sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi “apa yang kamu ketahui” dan “apa yang kamu tidak ketahui”
Melalui aktifitas pengamatan, siswa perlu membuat keputusan yang disadari tentang pengetahuan mereka. Pertama-tama siswa menulis apa yang sudah ingin diketahui dan apa yang ingin dipelajari. Dengan menyelidiki suatu topik, siswa akan memverifikasi, mengklasifikasi dan mengembangkan, atau mengubah pertanyaan awal mereka dengan informasi yang akurat.
b. Berbicara tentang berpikir (Talking about thingking)
29Darmiyati Zuchdi, Humanisasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), h.127.
Setelah mengidentifikasi kemampuan diri, siswa mendiskusikan tentang hasil identifikasi terhadap dirinya dengan guru. Selama membuat perencanaan, guru boleh menyuarakan pikiran, sehingga siswa terstimulasi proses berpikirnya.
Pemecahan masalah berpasangan merupakan strategi lain yang berguna pada langkah ini. Seorang siswa membicarakan sebuah masalah, mendeskripsikan proses berpikirnya, sedangkan pasangannya mendengarkan dan bertanya untuk membantu mengklarifikasikan proses berpikir.
c. Membuat jurnal berpikir (keeping thinking journal)
Langkah selanjutnya adalah membuat catatan terhadap hasil identifikasi dan diskusi tentang kemampuan dan permasalahan yang dihadapi. Jurnal ini berupa tentang kesadaran mereka terhadap kedwiartian (ambiguisties) dan ketidak konsistenan dan komentar tentang bagaimana mereka berurusan/ menghadapi urusan.
d. Membuat perencanaan dan regulasi diri
Siswa harus memulai bekerja meningkatkan responsbilitas untuk merencanakan dan meregulasi belajar mereka. Sulit bagi pembelajar menjadi orang yang mampu mengatur diri sendiri (self-directed) ketika belajar direncanakan dan dimonitoring oleh orang lain.
e. Melaporkan kembali proses berpikir (Debriefing thinking process)
Aktivitas terakhir adalah memfokuskan diskusi siswa pada proses berpikir untuk mengembangkan kesadaran tentang strategi-strategi yang dapat diaplikasikan pada situasi belajar yang lain. Ada tiga langkah metode yang dapat digunakan: 1) Guru mengarahkan siswa untuk mereview aktivitas dan mengumpulkan data tentang proses berpikir, 2) Kelompok mengklarifikasi ide-ide yang terkait dan mengidentifikasi strategi yang dapat digunakan kemudian, dan mencari pendekatan alternatif yang menjanjikan.
f. Evaluasi diri (Self-evaluation)
Mengarahkan pengalaman-pengalaman evaluasi diri dapat diawali melalui pertemuan individu dan daftar-daftar yang berfokus pada proses berpikir. Secara bertahap evaluasi akan lebih banyak diaplikasikan secara independen.30
D. Pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)