• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kementerian Negara Agraria dan Tata Ruang/

URAIAN INFORMASI

2.4 Kejaksaan Agung Republik Indonesia Kurun Waktu Kurun Waktu

2.5.18 Kementerian Negara Agraria dan Tata Ruang/

Badan Pertanahan Nasional Kurun Waktu

1932-1999

Cakupan (Jumlah) dan Media Unit Deskripsi Arsip Konvensional

Arsip Tekstual : 38 Boks Besar

|Guide Khazanah Arsip Statis Lembaga Negara RI Periode 1945-2018| 174 Kondisi Arsip

Rusak berat (rapuh).

Profil

Kementerian Agraria dan Tata Ruang RI adalah kementerian yang mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang agraria/

pertanahan dan tata ruang dalam pemerintahan. Kementerian Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia dijabat oleh seorang menteri yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Kementerian Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia pertama kali dibentuk pada tahun 1955 melalui Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1955. Sebelumnya, urusan agraria diselenggarakan oleh Departemen Dalam Negeri.

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 96 Tahun 1993, tugas Kepala Badan Pertanahan Nasional menjadi dirangkap oleh Menteri Negara Agraria. Kedua lembaga tersebut dipimpin oleh satu orang sebagai Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Dalam pelaksanaan tugasnya, Kantor Menteri Negara Agraria berkonsentrasi merumuskan kebijakan yang bersifat koordinasi, sedangkan Badan Pertanahan Nasional lebih berkonsentrasi pada hal-hal yang bersifat operasional.

Pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid tahun 1999, Kementerian Negara Agraria dibubarkan melalui Keputusan Presiden Nomor 154 Tahun 1999 tentang Perubahan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1988. Kepala Badan Pertanahan Nasional dirangkap oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia.

Pada tahun 2001, Presiden Megawati menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen, dan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional Di Bidang Pertanahan memposisikan BPN sebagai lembaga yang menangani kebijakan

|Guide Khazanah Arsip Statis Lembaga Negara RI Periode 1945-2018| 175 nasional di bidang pertanahan. Kedudukan BPN kemudian diperkuat pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional dan menempatkan BPN RI di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Pada masa Presiden Jokowi, Badan Pertanahan Nasional digabung dengan unit pemerintah yang mengurusi penataan ruang, planologi dan perencanaan kehutanan, serta informasi geospasial.

Kementerian Agraria dan Tata Ruang menyelenggarakan fungsi:

1. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang tata ruang, infrastruktur keagrariaan/pertanahan, hubungan hukum keagrariaan/pertanahan, penataan agraria/pertanahan, pengadaan tanah, pengendalian pemanfaatan ruang dan penguasaan tanah, serta penanganan masalah agraria/pertanahan, pemanfaatan ruang, dan tanah;

2. Koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang;

3. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Agraria dan Tata Ruang;

4. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang;

5. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi ataspelaksanaan urusan Kementerian Agraria dan Tata Ruang di daerah; dan 6. Pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif kepada seluruh

unsur organisasi di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang.

Riwayat Akuisisi

Arsip Badan Pertanahan Nasional diserahkan ke ANRI pada 8 Agustus 2001 dengan berita acara serah terima (tanpa nomor) berupa

|Guide Khazanah Arsip Statis Lembaga Negara RI Periode 1945-2018| 176 arsip mengenai Surat-surat Keputusan Departemen Binnenland Bestuur tentang pajak tanah sebanyak 12 meter linear, pada 17 Maret 2002 sejumlah 7 meter linear, pada 14 Januari 2003, serta 13 Maret 2003.

Lingkup dan Isi

Arsip Badan Pertanahan Nasional berisi informasi mengenai telaah dan perumusan undang-undang, Rapat kerja, hubungan masyarakat, hak tanah, pendaftaran tanah, bidang pedesaan, bidang perkotaan.

(Sebagian arsip berbahasa Belanda)

Sarana Bantu Temu Kembali Arsip (Finding Aids)

1. Daftar Arsip Kantor Menteri Negara Agraria/ Badan Pertanahan Nasional (1988-1999).

2. Daftar Pertelaan Arsip Menteri Negara.

Contoh Deskripsi

1. Peraturan Menteri Negara Agraria atau Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Tahun 1999.

2. Surat dari menteri Negara Agraria, Deputi Bidang Pengawasan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Maluku Tengah, Masohi, mengenai Permasalahan yang dialami dalam proses ganti rugi terhadap obyek tuntutan (Komplek Dermaga Feri Hunimua Liang) yang digunakan oleh Kanwil Departemen Perhubungan Provinsi Maluku, 10 Agustus 1995.

3. Surat Permohonan Pembuatan Sertifikat Hak Milik dari Ir.

Abdurrahman (Mantan Staf Ahli Menteri Perindustrian) kepada Menteri Negara Agraria (Kepala BPN) tahun 1997.

|Guide Khazanah Arsip Statis Lembaga Negara RI Periode 1945-2018| 177 2.5.19 Kementerian Negara Ekonomi, Keuangan dan Industri

Kurun Waktu 1967-1973

Cakupan (Jumlah) dan Media Unit Deskripsi Arsip Konvensional

Arsip Tekstual : 298 Boks Besar (7.714 item), 14 Boks Kecil (356 item)

Kondisi Arsip

Baik, sebagian rusak ringan/sedang.

Profil

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terbentuk pada 25 Juli 1966 dengan nama Kementerian Utama Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (EKUIN) yang pada saat itu dijabat oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Kementerian ini tergabung dalam Kabinet Ampera I yang menggantikan Kabinet Dwikora. Seiring dengan pergantian Pemerintahan, nama Kementerian juga ikut beberapa kali berubah. Nama "Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian" sendiri baru dimulai pada tahun 2000.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian urusan kementerian dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang perekonomian. Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyelenggarakan fungsi:

1. Koordinasi dan sinkronisasi perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan Kementerian/Lembaga yang terkait dengan isu di bidang perekonomian;

2. Pengendalian pelaksanaan kebijakan Kementerian/Lembaga yang terkait dengan isu di bidang perekonomian;

|Guide Khazanah Arsip Statis Lembaga Negara RI Periode 1945-2018| 178 3. Koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian

dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian;

4. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian;

5. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; dan

6. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Presiden.

Riwayat Akuisisi

Arsip Kementerian Negara Ekonomi, Keuangan dan Industri diserahkan ke ANRI pada 31 Agustus 1984.

Lingkup dan Isi

Arsip Kementerian Negara Ekonomi, Keuangan dan Industri yang diserahkan ke ANRI berisi mengenai Hukum Perundang-undangan, administrasi, urusan dalam, hubungan masyarakat, protokol dan security, pertahanan dan keamanan, hubungan ekonomi luar negeri, analisa ekonomi, pertanian, transmigrasi dan koperasi, perhubungan, perdaganagan dan moneter, pekerjaaan umum dan tenaga listrik, industri dan pertambangan, investasi, pendidikan dan kebudayaan, kesehatan, keagamaan, MPR GR, DPR GR, dan politik.

Sarana Bantu Temu Kembali Arsip (Finding Aids)

1. Inventaris Arsip Menteri Negara Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Tahun 1967-1973 Jilid I.

2. Inventaris Arsip Menteri Negara Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Tahun 1967-1973 Jilid II.

3. Inventaris Arsip Menteri Negara Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Tahun 1967-1973 (Suplemen) (terbit 2011).

|Guide Khazanah Arsip Statis Lembaga Negara RI Periode 1945-2018| 179 Contoh Deskripsi

1. Surat dari Winata Sutiono, SH anggota Perumus RUU Modal Asing kepada Prof. Dr. Selo Soemardjan di Jakarta mengenai keharusan perusahaan asing berbadan hukum Indonesia.

2. Surat-surat mengenai sumbangan pikiran dan saran sekitar pembentukan Kabinet Ampera.

3. Berkas tentang pembentukan Badan Pertimbangan dan Penasehat Sosial Politik.

4. Surat dari Meneg EKUIN kepada Ketua Panitia Penanaman Modal mengenai penyederhanaan pemberian ijin investor.