BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Kanker Paru
2.3.3. Tatalaksana Kanker Paru
2.3.3.1. Kemoterapi
Kemoterapi dapat diberikan pada semua kasus kanker paru. Syarat utama harus ditentukan jenishistologis tumor dan tampilan (performance status) harus lebih dan 60 menurut skala Karnosfky atau 2menurut skala WHO. Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan beberapa obat antikanker dalamkombinasi regimen kemoterapi.
Pada keadaan tertentu, penggunaan 1 jenis obat anti kanker dapatdilakukan. (PDPI, Kanker paru, 2011; IASLC/ATS/ERS, 2011)
Prinsip pemilihan jenis antikanker dan pemberian sebuah regimen kemoterapi adalah:
1. Platinum based therapy ( sisplatin atau karboplatin) 2. Respons obyektif satu obat antikanker s 15%
3. Toksisiti obat tidak melebihi grade 3 skala WHO
4. harus dihentikan atau diganti bila setelah pemberian 2 sikius pada penilaian terjadi tumor progresif( PDPI, Kanker paru, 2011)
Regimen untuk KPKBSK adalah :
1. Platinum based therapy ( sisplatin atau karboplatin).
2. PE (sisplatin atau karboplatin + etoposid).
3. Paklitaksel + sisplatin atau karboplatin.
4. Gemsitabin + sisplatin atau karboplatin.
5. Dosetaksel + sisplatin atau karboplatin. ( PDPI, Kanker paru, 2011) Syarat standar yang harus dipenuhi sebelum kemoterapi
1. Tampilan > 70-80, pada penderita dengan PS < 70 atau usia lanjut, dapat diberikan obat antikankerdengan regimen tertentu dan/atau jadual tertentu.
2. Hb > 10 g%, pada penderita anemia ringan tanpa perdarahan akut, meski Hb <
10 g% tidak pertu, tranfusi darah segera, cukup diberi terapi sesuai dengan penyebab anemia.
3. Granulosit > 1500/mm3 4. Trombosit > 100.000/mm3.
5. Fungsi hati baik
6. Fungsi ginjal baik (creatinin clearance lebih dari 70 ml/menit). ( PDPI, Kanker paru, 2011)
Dosis obat anti-kanker dapat dihitung berdasarkan ketentuan farmakologik masing masing. Ada yangmenggunakan rumus antara lain, mg/kg BB, mg/luas permukaan tubuh (BSA), atau obat yangmenggunakan rumusan AUC (area under the curve) yang menggunakan CCT untuk rumusnya.Luas permukaan tubuh (BSA) diukur dengan menggunakan parameter tinggi badan dan berat badan, laludihitung dengan menggunakan rumus atau alat pengukur khusus (nomogram yang berbentuk mistar). ( PDPI, Kanker paru, 2011)
Untuk obat anti-kanker yang mengunakan AUC (misal AUC 5), maka dosis dihitung denganmenggunakan rumus atau nnenggunakan nomogram.Dosis (mg) = (target AUC) x (GFR + 25) Nilai GFR atau gromenular filtration rate dihitung dari kadarkreatinin dan ureum darah penderita. ( PDPI, Kanker paru, 2011)
Evaluasi dilakukan terhadap:
Respons subyektif yaitu penurunan keluhan awal
Respons semisubyektif yaitu perbaikan tampilan, bertambahnya berat badan
Respons obyektif
Efek samping obat. ( PDPI, Kanker paru, 2011)
Respons obyektif dibagi atas 4 golongan dengan ketentuan:
1. Respons komplit (complete response , CR) : bila pada evaluasi tumor hilang 100% dan keadan inimenetap lebih dari 4 minggu.
2. Respons sebagian (partial response, PR) : bila pengurangan ukuran tumor >
50% tetapi < 100%.
3. Menetap {stable disease, SD) : bila ukuran tumor tidak berubahatau mengecil
> 25% tetapi < 50%.
4. Tumor progresif (progresive disease, PD) : bila terjadi petambahan ukuran tumor > 25% atau muncul tumor/lesi baru di paru atau di tempat lain. (PDPI, Kanker paru, 2011)
2.4. Thrombosis Pada Kanker
Dilaporkan dalam perkembangan penyakitnya 15% pasien kanker akan mengalami trombo-emboli vena (VTE), angka ini menjadi 30-50% pada otopsi postmortem. Sebaliknya 20% pasien dengan DVT atau emboli paru kemudian hari didiagnosa menjadi kanker. Diawali oleh laporan Armand Trousseau (1865), yang menegakkan hubungan kanker dengan VTE yang dikenal dengan sindrom
“Trousseau” sekarang lebih diketahui bahwa kanker sendiri dapat meningkatkan resiko kejadian thrombosis sampai empat kali dan kemoterapi sebanyak 6 kali. (Buku ajar Penyakit Dalam FK UI, 2006; Annie Young et al, 2012)
Walau pasien kanker paru dapat mengalami thrombosis vena maupun arteri tetapi thrombosis pada venalah yang paling banyak di teliti. Resiko terjadinya venous thromboembolism (VTE) meningkat sebanyak 4 kali bila dibandingkan dengan
populasi umum. Banyak faktor dapat meningkatkan faktor trombotik , termasuk faktor resiko umum pasien seperti, immobilitas pasien, umur tua dan operasi, juga faktor spesifik pasien seperti stadium tumor yang berat dan obat kemoterapi. (Annie Young et al, 2012)
Kelainan/keabnormalan dari satu atau beberapa test koagulasi sering terjadi pada pasien kanker, walaupun tanpa adanya manifestasi thrombosis maupun pendarahan. Hasil dari test laboratorium menunjukkan adanya proses pembentukan fibrin, fibrinolisis secara parallel berhubungan dengan perkembangan keganasan, dan peningkatan metastase. Terutama, dapat mendeteksi perubahan yang sedikit pada faktor faktor koagulasi. Sebagai hasil dari aktifitas koagulasi, nilai produk fibrin degradasi (D-dimer) meningkat secara signifikan pada pasien dengan keganasan dibandingkan dengan pasien sehat, nilai ini akan semakin tinggi pada keadaan dimana ukuran tumor yang besar dan adanya penetrasi ke dinding dada. (A. FALANGA et al, 2013; Slavica Kvolik, 2010)
Marker hemostatik dasar termasuk PLT, PT, aPTT, F, D-dimer, ATIII meningkat pada pasien kanker paru. Pada kanker paru bukan sel kecil dankanker paru sel kecil mekanisme aktivasi sistem koagulasi dan fibrinolisis berbeda. Pada SCLC (Small cell lung ca) sel tumor mengeluarkan TF (tissue factor/faktor jaringan) uang secara langsung mengaktivasi sistem koagulasi. Sedangkan pada NSCLC (nonSmall cell lung ca) makrofag pasien akan mengeluarkan faktor prokoagulan yang mana akan mengaktifkan sistem fibrinolisis (Ebru Unsal et al, 2003; Shaker A. Mousaet al, 2004)
Gerald dkk, melaporkan banyak terjadi keabnormalan pembekuan darah pada pasien dengan adenokarsinoma dan squamus sel karsinoma. (Gerald A. Soff, 2013) Pada studi Ebru Unsal dkk menemukan D-dimer meningkat pada pasien dengan tanda-tanda metastase jauh, dimana hal ini tidak berhubungan dengan jenis histopatologi dari kanker. (Ebru Unsal et al, 2003)
2.4.1. Patogenesis Dan Patofisiologi
Terjadinya thrombosis pada keganasan mencakup proses kompleks yang terutama disebabkan aktivitas prokoagulan sel kanker (prokoagulanactivity/PCA) yang kemudian akan merupakan interaksi antara:
Aktivitas prokoagulan dengan diproduksinya jaringan (tissue factor/TF) dan
“cancer procoagulan” (CP)/” tumor associated mucin oleh sel tumor.
Sitokin yang dikeluarkan oleh sel kanker ( INF-α, TNFβ dan VEGF)
Dampak pada proses fibrinolisis
Perubahan pembuluh darah/disfungsi endotel
Interaksi antara sel pasien/ host (teraktivasinya: monosit, makrofag, trombosit,
dan sel endotel) dengan sel tumor. Monosit dan makrofag akan mengeluarkan interleukin-1 (IL-1) dan interleukin-6 (IL-6) yang menyebabkan kerusakan endotel dan pengelupasan sel endotel pembuluh darah (PD), sehingga menjadi bersifat trombogenik. Khususnya interaksi dengan makrofag akan mengaktifkan trombosit, faktor.XII dn faktor.X, yang akan meningkatkan pembentukkan thrombin dan selanjutnya menimbulkan thrombosis.
Sel kanker yang utuh mampu melepaskan vesikel plasma membran kedalam
sirkulasi darah dan meningkatkan pembentukkan bekuan darah. (A. FALANGA et al, 2013; Slavica Kvolik, 2010)
Phatogenesis ketidakseimbangan sistem koagulasi pada kanker cukup kompleks dan meliputi banyak faktor baik klinikal dan biologi.
Faktor Klinikal
Faktor klinikal dapat dimasukkan dalam tiga grup kategori, i) karakteristik yang berhubungan dengan pasien, seperti immobilitas, umur tua, riwayat thrombosis sebelumnya, nilai leukosit dan platelet yang tinggi, obesitas, dan adanya komorbid seperti penyakit jantung, infeksi akut, dan penyalkit sistem pernafasan. ii) fitur-fitur yang berhubungan dengan kanker, berhubungan dengan jenis tumor dan stadium tumor. Dimana kanker otak, keganasan sel darah, adenocarcinoma pada pankreas, paru, uterus meningkatkan resiko VTE. Lebih lanjut kanker yang bermetastase dapat meningkatkan resiko VTE dibandingkan tumor yang terlokalisasi iii) terapi anti kanker. Termasuk kemoterapi, hormonal terapi, agen antiangiogenik, kombinasi regimen kemoteropi dengan operasi dapat menyebabkan efek pro-trombotik.
perusakan sel endothelial oleh agen kemoterapi atau produk derivate tumor, menyebabkan hilangnya property antitrombotik yang memegang peranan pada peningkatan resiko VTE. (A. FALANGA et al, 2013)
Temuan penting lainnya yaitu peningkatan pada munculnya procoagulant tissue faktor (TF) dan/atau phosphatydilserine (PS) dan pelepasan MP setelah terapi yang disebabkan oleh kemoterapi yang berbeda. (A. FALANGA et al, 2013)
Tabel 2.4. Mekanisme Klinis Dan Unsur-Unsurnya. (A. FALANGA et al, 2013)
Faktor Pasien Faktor Kanker Faktor Terapi
Umur Tua
Diluar faktor klinikal, mekanisme biologis juga memegang peranan penting dalam patogenesa dari perubahan hemostasis pada kanker. Sel kanker dapat mengaktifkan sistem hemostasis melalui pengekspresian dari protein prokoagulan, pengeluaran lipid prokoagulan, pelepasan sitokin inflamasi dan MP dan perlengketan ke vaskular. Tumor prokoagulan yang paling dikenal adalah TF (tumor faktor), tampak pada gambar 2.4. (A. FALANGA et al, 2013)
Munculnya TF ke permukaan sel tumor dipotensiasi anionic phospolidips (misalnya PS) dibagian terluar dari membran sel dan keluarnya heparanase. Fungsi utama dari heparanase adalah untuk degradasi heparin sulfates dari matrix
ektraselular sehingga mempromosikan invasi tumor dan metastasis. Heparanase juga dapat berinteraksi dengan TF pathway inhibitor (TFPI) dari sel permukaan, menyebabkan disosiasi dari TFPI dari sel membran endothelial dan sel tumor yang meningkatkan aktivasi sel TF permukaan. (A. FALANGA et al, 2013; Paolo Prandoni et al, 2005)
Prokoagulan tumor lain adalah prokoagulan kanker (CP), tidak seperti TF, aktivasi F.X secara bebas dari F.VII. CP terdeteksi dari beberapa sel tumor, dan dalam jaringan amnion chorion tetapi tidak pada sel normal. TF secara aktif di lepaskan oleh sel tumor oleh kerja TF yang disangga MP (membrane plasma). PS diekspresikan pada MP permukaan, anionic phospolipid ini akan memfasilitasi pertemuan tenase dan kompleks prothrombinase, yang mempromosikan terjadinya koagulasi. Hal ini akan lebih lanjut di tingkatkan seiring dengan pengekspresian dari TF (tampak pada gambar 8). Normlanya MP terdapat pada level yang rendah, biasanya berasal dari platelet (>80%). Peningkatan MP terjadi pada stadium IV dibandingkan dengan stadium I, II dan III pada kanker lambung, menunjukkan akurasi diagnostk yang tinggi pada metastase. (A. FALANGA et al, 2013, Paolo Prandoni et al, 2005)
Lebih jauh, sel tumor mengeluarkan berbagai larutan proinflamasi (misal tumor nekrosis faktor α (TNF-α) dan interleukin-1β (IL-1β) dan proangiogenik (vascular endothelial growth factor(VEGF) dan basic fibroblast growth factor(bFGF)), dimana dapat menstimulasi prothrombin dari pembuluh darah. Pada sel endothelial, molekul
ini menginduksikan pengekspresian TF, menstimulasi produksi PAI-1, menurunkan regulasi dari trombomodulin dan mempromosikan perlengketan sel-sel. Kapasitas sel tumor dalam mengikuti endotel pembuluh darah berhubungan dengan lokalisasi dari aktivasi pembekuan darah dan pembentukan thrombin, tampak pada gambar 2.5. (A.
FALANGA et al, 2013)
Gambar 2.4. Interaksi Tumor Dengan Sistem Hemostasis. (A. FALANGA et al, 2013)
Patofisiologi terjadinya thrombosis pada kanker yang masih tetap relevan diterangkan dengan „Triad Virchow‟ yang sejak 1826 menyatakan kejadian thrombosis dikarenakan adanya:
1. Gangguan aliran darah, yang dalam hal ini karena imobilisasi bed rest atau adanya kompresi pembuluh darah oleh massa tumor: kondisi ini akan memperlambat atau bahkan menghambat aliran darah, yang selanjutnya akan menurunkan clearance faktor faktor pembekuan yang teraktivasi, menimbulkan hipoksia sel endotel, trauma pembuluh darah.
2. Trauma dan gangguan fungsi pembuluh darah, akibatnya adanya invasi sel tumor atau kemoterapi. Hal ini dikaitkan dengan menurunya trombomodulin, prostasiklin dan aneksin II, yang ketiganya bersifat sebagai antikoagulan dan antiagregasi baik langsubg maupun tidak langsung.
3. Terjadinya perubahan pada komponen pembekuan darah yang menyebabkan kondisi hiperkoagulasi, terjadi melalui langsung faktorXa oleh CP yang hanya diekspresikan oleh sel tumor dan foetal (suatu sistein protease dengan BM 68 kDa) atau melalui TF (suatu glikoprotein transmembran dengan BM 47 kDa) selain diekskresikan sel kanker juga oleh sebagian besar sel normal seperti sel monosit, endotel, sel jaringan ikan dan lainnya. Ekskresi TF di “up regulated” oleh sitokin yang kemudian mengaktivasi faktorVII dan membentuk kompleks TF + VIIa. Salah satu produksi sel tumor berupa musin asam sialat, dapat mengaktifkan faktorX secara non enzymatic. Selain mekanisme diatas juga diketahui terjadi penurunan antikoagulan alamiah, seperti : AT III, protein C dan S atau melalui aktifasi trombosit. (Buku ajar Penyakit Dalam FK UI, 2006: Isabel Dos Santos Silva,2010)
Gambar 2.5. Pertumbuhan Sel Tumor, Neoangiogenesis (A. FALANGA et al, 2013) Obat Kemoterapi adalah terapi pertama pada kanker stadium lanjut. Agen kemoterapi memiliki target poin yang berbeda beda seperti meningkatkan apoptosis sel tumor, maupun menekan neoangiogenesis tumor. Pada keadaan penekanan neoangiogenesis aktivitas koagulasi pada pasien ini juga akan menurun. Intensitas dan tipe koagulasi tergantung pada tipe dari agen kemoterapi, dosis dan terapi lain yang menyertai. Kebanyakan agen kemoterapi akan menyebabkan ketidakseimbangan aktifitas koagulasi oleh karena agen kemoterapi yang menginduksikan kerusakan endotelial sel kanker dan menurunkan sitesis faktor-faktor koagulasi pada hati dan juga adanya disfungsi dari platelet. (Slavica Kvolik, 2010)
Peningkatan apoptosis pada endotel sel kanker selama kemoterapi adalah faktor prokoagulasi yang kuat, mempercepat aktifasi platelet,dan perlengketan mikrotrombosis pada jaringan tumor. Aktifasi koagulasi intertumoral dan oklusi mikrovaskular terjadi pada agen kemoterapi dengan cisplatin based kemoterapi.
(Slavica Kvolik, 2010).
Kemoterapi. Meningkatkan resiko TE melalui tiga mekanisme :
a. Kerusakan akut dinding pembuluh darah ( misal: bleomisin, carmusin, vinka alkaloid).
b. Non akut pada endotel ( misal doksorubisin).
c. Menurunkan kadar antikoagulan alamiah seperti CMF menurunkan protein C dan S, L-asparaginase menurunkan AT III. (Buku ajar Penyakit Dalam FK UI, 2006)
2.5. Tumor Marker
Tumur marker adalah substansi biologi, yang biasanya peptide yang disekresikan oleh sel tumor. Substansi ini normalnya tidak ada pada serum (atau ada dalam konsentrasi yang rendah) karena mereka tidak disekresikan atau disekresikan sedikit oleh sel normal. Coombes dan pekerjanya memastikan potensi kegunaan dari tumor marker pada aplikasi klinis. Dimana potensi ini meliputi a) membantu dalam mendiagnosis sebuah tumor, b) dasar dalam evaluasi dari prognosis tumor, c) membantu dalam memilih pasien yang akan diterapi dengan kemoterapi adjuvant, d) membantu dalam menilai respon terapi dan mendeteksi rekurensi penyakit. (A. A.
Ponomaryova et al, 2011)
Lebih lanjut level serum dari marker yang ideal sebaiknya: a) meningkat secara patologis pada munculnya sel keganasan, b) tidak meningkat juga tidak terdapat tanda tanda keganasan, c) berhubungan dengan sisa tumor dan penyebaran/metastase tumor, d) berubah dengan hubungannya dengan evolusi klinis, yang merefleksikan status penyakit, e) mengatisipasi perubahan klinis, contoh dapat mengindikasikan munculnya tumor relaps sebelum munculnya efek klinis. (A. A. Ponomaryova et al, 2011)
Tumor marker tidak hanya signifikan dalam mengenal biologi tumor tetapi juga berguna bagi klinisi dalam menatalaksana pasien dengan tumor paru. Pada lingkungan onkologi, pengunaan tumor marker berguna dalam menentukan diagnosa dan klasifikasi patologi dari tumor, penilaian berkala dari tumor marker juga berguna dalam menilai respos dari terapi kanker paru, dalam menilai perjalanan spontan dari penyakit dan dalam pengawasan akan rekurensi dari tumor itu sendiri.
Masalah dalam mendiagnosis kanker dengan tumor marker adalah, apakah penyakit lain yang berhubungan dengan peningkatan nilai tumor marker. Sebagai contoh tumor marker dengan nilai prediksi positif 95%, artinya dari 100 % pasien dengan peningkatan tumor marker 5% dari pasien ini tidak memiliki kanker.
Tabel 2.5. Kegunaan Dan Potensi Kegunaan Tumor Marker Pada Kanker Paru. (Petra Stieber et al, 2006)
Cancer Marker
Proposed Use/Uses Phase of Development NSE
CEA
Differential diagnosis of lung masses when biopsy is not available: in high levels high specificity for small cell carcinoma; in SCLC, additive information to ProGRP Assessing prognosis. High levels predict adverse outcome in SCLC
Assessing prognosis. High levels predict adverse outcome in NSCLC
Monitoring therapy in SCLC
Monitoring therapy in advanced disease (NSCLC)
Detection of recurrent disease. Increasing kinetics indicate progressive disease in SCLC
Differential diagnosis of lung masses when biopsy is not available; in high levels high specificity for adenocarcinoma; in NSCLC, additive information to CYFRA 21-1 Assessing prognosis. High levels predict adverse outcome in early and advanced stage NSCLC
Monitoring therapy in advanced disease (NSCLC and SCLC)
Detection of recurrent disease. Increasing kinetics indicate progressive disease in NSCLC, part. in adeno cancer.
In clinical use, but value not validated in a high-level evidence study
In clinical use, but value not validated in a high-level evidence study
In clinical use, but value not validated in a high-level evidence study
In clinical use, but value not validated in a high-level evidence study
Not in clinical use
In clinical use, but value not validated in a high-level evidence study
In clinical use, but value not validated in a high-level evidence study.
Not in clinical use
Not in clinical use Not in clinical use
Tabel 2.6. Rekomendasi Pengunaan Tumor Marker Pada Kanker Paru. (Petra Stieber et al, 2006)
Marker Application EGTM 1999 NACB 2005
NSE Cyfra 21-1 Differential diagnosis of lung masses when
biopsy is not available: in high levels high specificity for squamous cell carcinoma;
best marker for NSCLC
Assessing prognosis. High levels predict adverse outcome in early and advanced NSCLC
Assessing prognosis. High levels predict adverse outcome in SCLC
Monitoring therapy in advanced disease (NSCLC)
Early prediction of therapy response in advanced disease (NSCLC)
Detection of recurrent disease. Increasing kinetics indicate progressive disease in NSCLC, part in squamous cell cancer.
In clinical use, but value not validated in a high-level evidence study. Recommended for clinical use
Not in clinical use
In clinical use, but value not validated in a high-level evidence study.
Not in clinical use yet,
undergoing further validation
In clinical use, but value not validated in a high-level evidence study.
CYFRA
Tabel 2.7. Rekomendasi Penggunaan Tumor Marker Berdasarkan Histology Dari Tumor Dan Aplikasinya. (Petra Stieber et al, 2006)
Histology Before therapy Post-therapy follow-up Unknown In advanced disease: using the leading marker
CYFRA 21-1 and/or CEA CYFRA 21-1 and/or CEA CYFRA 21-1 and/or CEA NSE
2.6. Peran Tumor Marker Dalam Deteksi Awal Kanker Paru
Dalam hal skrining, tidak ada laporan yang menunjukkan kegunaan satu jenis atau kombinasi dari tumor marker dalam mendiagnosis kanker paru pada popolasi yang tanpa gejala ataupun pada populasi resiko tinggi seperti pada perokok. P.P.
Mumbarkar dkk, melaporkan terjadi peningkatan dari NSE pada KPKSK. CEA meningkat pada adenocarcinoma dan skuamus sel karsinoma, dan Cyfra 21-1
meningkat pada adenocarcinoma, skuamus sel karsinoma dan KPKBSK. (P.P.
Mumbarkar et al, 2006)
Dalam hal diagnostik, tumor marker dipertimbangkan dalam hal diagosa banding dan jenis sel kanker, terutama pada kanker paru yang tidak diketahui asalnya.
Terutama pada populasi tanpa kanker atau overlap dengan patologi jenis sel jinak, tingginya CEA, Cyfra 21-1, NSE meningkatkan kecurigaan kita terhadap keganasan.
Dari profil tumor marker, tumor marker yang paling meningkat memberikan kemungkinan jenis histologi yang berbeda, seperti CEA pada adenocarcinoma, Cyfra 21-1 dan SCC meningkat pada kanker paru jenis sel skuamus, Cyfra 21- dan NSE pada kanker paru jenis sel bukan sel kecil, NSE dan ProGRP pada kanker paru sel kecil. Tetapi walau nilai yang normal atau meningkat sedikit dari tumor marker tidak mengeksklusikan penyakit tumor dan progresivitasnya. Berdasarkan keterbatasan ini.
Penilaian tumor marker pada diagnosa awal mungkin berguna dengan beberapa alasan berikut:
Pola pelepasan tumor marker berdasarkan histologi tumor dan dapat mengungkap kombinasi dari beberapa komponen histologi.
Tumor marker diekspresikan dan dilepaskan pada diagnosis awal menjadi marker yang sesuai untuk follow-up monitoring
Cyfra 21-1, CEA, NSE, adalah faktor prognostik bebas dari KPKBSK, sama seperti Cyfra 21-1, NSE pada KPKSK.
Tingkat dan penurunan yang luas dari marker postoperative (post
pembedahan) memberikan informasi yang berguna dalam menilai tumor yang tersisa dan keefektifan dari terapi.
Pada semua tipe KPKBSK termasuk kanker paru jenis sel skuamus, sensitivitas diagnostik paling tinggi dilaporkan oleh Cyfra 21-1. Jika CEA >10 μg/L dan CA125
>100 U/mL, menunjukkan adenocarcinoma dan kanker paru jenis sel bukan sel kecil.
Berdasarkan sensitivitas diagnostik tambahan dari CEA dan Cyfra 21-1, kombinasi keduanya berguna dalam diagnostik KPKBSK. (Petra Stieber et al, 2006: P.P.
Mumbarkar et al, 2006)
2.6.1. Peran Tumor Marker Dalam Diagnostik
Beberapa penelitian melaporkan nilai prognosis dari satu atau beberapa tumor marker dalam hubungannya terhadap keadaan klinis dan parameter laboratorium.
Walaupun demikian, membandingkan penelitian ini cukup sulit karena: a) beragamnya jenis populasi yang dipakai ( stadium awal dan akhir bercampur, begitu juga dengan jenis histologi), b) mengunakan analisa univariat atau multivariate, c) gagal membandingkan parameter tunggal dalam menentukan parameter diagnostik, terutama status klinis, d) gagal dalam menentukan bagaimana memaksimalkan level cut off yang dipilih dan kadang mengunakan metode yang berbeda dalam memilih nilai cut off investigasi. Hal ini menjadi keinginan yang tinggi dalam mengindentifikasi tumor marker yang paling baik dalam hal membandingkan faktor
diagnostik yang potensial pada pasien. (Petra Stieber et al, 2006: D. Ferrigno et al,1994)
Dari semua tumor marker yang mengevaluasi KPKBSK, Cyfra 21-1 menjadi marker yang memiliki nilai prognostik pada pasien ini, baik pasien dengan stadium awal yang operatif maupun pasien dengan stadium lanjut. (D. Ferrigno et al,1994;
Kostas D.Hatzakis et al,2002)
Perawatan post operatif, efekasi kontrol terapi dan pendeteksian rekurensi penyakit adalah indikasi pemeriksaan tumor marker dalam menentukan kanker paru.Perawatan post bedah, kecepatan dan kelengkapan penurunan nilai dari tumor marker yang menunjukkan outcome lebih lanjut dari pasien. Setelah peningkatan jangka pendek yang segera setelah terapi intervensi, berdasarkan pelepasan marker yang berasal dari kerusakan post operatif dan dari jaringan tumor, penurunan marker ini tergantung waktu paruh marker biologi (half life) dan sel tumor sisa. Pada disfungsi ginjal dan renal dapat memperpanjang waktu paruh dari tumor marker, lamanya klirens marker dan/atau stabilnya nilai tumor marker mengindikasikan adanya sisa tumor sel dan memprediksikan rekurensi tumor. (Petra Stieber et al, 2006; Bo jin et al, 2010)
Kontrol dari terapi sistemik. Ketika mengamati efekasi kemoterapi dan radioterapi dengan tumor marker, penurunan sebagian sering berkorelasi dengan respon terapi dimana peningkatan atau penurunan berhubungan dengan progresivitas penyakit. Pada KPKBSK, Cyfra 21-1 memiliki nilai korelasi yang paling baik terhadap tumor. Untuk mendeteksi progresivitas penyakit marker ini memiliki
sensitivitas 52% dan spesifisitas 100%, tetapi korelasi terhadap remisi cukup rendah.
Perubahan awal Cyfra 21-1 setelah kemoterapi siklus pertama telah dilaporkan memiliki nilai prediktif yang baik. (Petra Stieber et al, 2006; Bo jin et al, 2010)
Tumor marker sebelum dan sesudah kemoterapi dapat menolong klinisi dalam
Tumor marker sebelum dan sesudah kemoterapi dapat menolong klinisi dalam