• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kendala dan Permasalahan 1. Aspek Ekologi

PERMATA DESA MANDIRI

2.8. Kendala dan Permasalahan 1. Aspek Ekologi

(1). Belum dilaksanakan tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan untuk memantapkan pengelolaan kawasan KPHL, ditandai dengan :

a. Batas luar dan batas fungsi hutan sebagian sudah hilang, rusak dan nomornya hilang, hal tersebut karena tenggang waktu penataan/ rekonstruksi batas rata-rata berumur diatas 10 tahun.

b. Belum dilakukan penataan hutan meliputi tata blok dan petak, selama ini masih terbatas penataan petak pada kegiatan RHL

c. Belum diketahuinya data/peta/informasi detail kawasan hutan, meliputi potensi hutan, kondisi dan permasalahan sosekbud masyarakat sekitar hutan yang menjadi areal kerja KPHL Rinjani Barat berbasis blok (membangun KPHL berbasis petak/blok).

d. Belum ada rencana pengelolaan KPHL yang mantap

(2). Banyak kawasan hutan yang kondisinya kritis, berupa (lahan kosong, padang alang-alang dan hutan rawang dengan potensi rendah, sebagai akibat perambahan, peladangan, dan penyerobotan kawasan hutan. Saat ini, lahan kritis di kawasan KPHL Rinjani Barat mencapai 5.471 Ha (20%) dan apabila digabungkan dengan potensial

97

kritis mencapai 17.640 Ha atau hampir mencapai 50% dari seluruh kawasan hutan KPHL Rinjani Barat. ...Peta lahan kritis dalam Lampiran 11.

(3). Semakin menurunnya potensi sumberdaya hutan yang disebabkan oleh berubahnya struktur hutan akibat tingginya aktivitas antropogenik, yang ditandai :

a) Flora dan Fauna

Potensi HHK dan HHBK unggulan lokal seperti jenis-jenis rajumas, kelicung dan HHBK diantaranya bambu dan rumput ketak yang tumbuh alami menurun tajam di kawasan hutan, sehingga tidak mampu mengimbangi kebutuhan bahan baku dalam rangka menopang industry kerjainan/anyaman bambu dan rumput ketak tersebut. Sementara akibat terganggunya kondisi habitat, terjadi penurunan secara drastis jenis-jenis fauna endemik, seperti : rusa, kancil, lutung, burung koakiao.

b) Berkurangnya jumlah dan menurunnya debit mata air, tingginya erosi, sedimentasi dan sebagainya, sehingga mempengaruhi kinerja DAS.

c) Terjadinya penurunan cadangan karbon akibat semakin berkurangnya kuantitas dan kualitas tegakan di kawasan.

(4). Permasalahan tenurial banyak ditemui disekitar kawasan, seperti terdapat kasus sertifikasi kawasan hutan yang perlu dilakukan proses hukum, sertifikasi tersebut dilakukan oleh BPN melalui Program PRONA Tahun 1984 di Rempek seluas ± 86 Ha. Hal tersebut dikarenakan masyarakat masuk sebelum KPHL beroperasi dikarenakan tidak adanya pengelolaan di tingkat tapak, lemahnya penegakan hukum dan rendahnya pemahaman masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan. Masalah tenurial ini menjadi salah satu isu pokok, karena kemantapan kawasan merupakan syarat bagi terjaminnya pengelolaan hutan secara berkelanjutan...Peta konflik tenurial Lampiran 12.

(4). Tingginya gangguan keamanan hutan dalam bentuk perambahan, ilegal logging, penguasaan lahan (sertifikasi), perlandangan yang ditandai dengan adanya masyarakat yang mengelola kawasan secara ilegal di area seluas 17.000 ha dengan jumlah 27.315 KK.

98

Gangguan keamanan hutan yang menonjol pada KPHL Rinjani Barat, disebabkan oleh perilaku manusia dalam bentuk pembukaan dan pembersihan lahan untuk berladang/berkebun, ilegal loging, pendudukan kawasan untuk pemukiman, serta penguasaan dan sertifikasi kawasan hutan di Rempek. Kondisi ini menjadi pemicu konflik tenurial dalam pengelolaan hutan antara KPHL Rinjani Barat dengan masyarakat. Gambaran tipologi eskalasi konflik tenurial dan potensi ilegal loging pada KPHL Rinjani Barat seperti disajikan dalam Gambar 2.6 dan dalam Tabel 2.13

Gambar 2.6. Gambaran Konflik Tenurial dan Ilegal Loging pada KPHL Rinjani Barat

Gangguan akibat kebakaran hutan dan penggembalaan liar terdapat pada sebagian kecil kawasan yang menyebar secara sporadis. Sedangkan gangguan

Ilegal loging

Ilegal loging

Ilegal loging

99

gejala alam adalah kemungkinan meletusnya Gunung Rinjani sebagai gunung api yang masih aktif.

2.8.2. Aspek Ekonomi

Aspek ekonomi merupakan aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus dikarenakan Sebagian besar (± 70%) masyarakat sekitar hutan (KPHL Rinjani Barat) tergolong masyarakat miskin, yang dapat menjadi pendorong kegiatan illegal di dalam kawasan hutan. Selain itu keberadaan kawasan hutan sebagai penunjang sektor pembangunan semakin terjepit mengingat semakin meningkatnya kebutuan lahan untuk pembangunan non kehutanan. Permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh KPHL Rinjani Barat meliputi :

1. Belum dikembangnya akses pemanfaatan jasa lingkungan dan pariwata alam guna memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap konsumsi jasa hutan.

2. Kesenjangan antara suply dan demand bahan baku industri kehutanan, khususnya kayu untuk kebutuhan energi (kayu bakar) dan HHBK (rumput ketak, bambu, dll) dikarenakan Terhambatnya investasi di KPHL Rinbar dikarenakan kurang kondusifnya masyarakat yang telah ada di dalam kawasan (masalah tenurial). 3. Belum dikembangkannya jenis-jenis tanaman yg bernilai ekonomis tinggi untuk

mendukung pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan kesejahteraannya dan mendorong kemandirian pengelolaan KPHL.

4. Belum dikembangkannya akses pasar hasil hutan, khususnya HHBK.

5. Rendahnya insentif dan bantuan modal dari pemerintah dan sektor swata untuk mengembangkan usaha di bidang kehutanan.

6. Masih terbatasnya infrastruktur di wilayah KPHL untuk mendukung berkembangnya kegiatan ekonomi.

2.8.3. Aspek Sosial Budaya

Berhasil atau tidaknya pengelola kehutanan ditingkat tapak sangat ditentukan oleh kondisi sosial budaya masyarakatnya. Masyarakat di sekitar kawasan KPHL

100

Rinjani Barat mempunyai keterikatan yang tinggi terhadap sumberdaya hutan didekatnya.

Hal tersebut diperlihatkan dengan tingginya aktifitas yang dilakukan masyarakat di dalam kawasan. Tingginya aktifitas ini apabila tidak dikelola secara baik dikhawatirkan akan semakin menekan kondisi sumberdaya hutan yang ada. Sejauh ini permasalahan yang dihadapi dalam aspek sosial budaya, diantaranya :

1. Rendahnya pemahaman dan keperdulian masyarakat terhadap usaha-usaha konservasi, perlindungan dan pemeliharaan kawasan hutan.

2. Rendahnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan lahan dikawasan hutan dan peningkatan nilai tambah hasil-hasil hutan, khususnya HHBK. 3. Belum diakuinya secara yuridis (formal) keberadaan masyarakat adat beserta

nilai-niai kearifan lokalnya (awiq-awiq), yang seharusnya menjadi bagian dalam kegiatan pengelolaan kehutanan, termasuk belum dilibatkannya tokok-tokoh kunci dalam masyakat seperti tokoh agama dan tokoh adat.

2.8.4. Aspek Kelembagaan

Salah satu ketidakberhasilan pengelolaan sumberdaya hutan di Indonesia dikarenakan lemahnya kelembagaan pengelolaan di tingkat tapak. Permasalahan lemahnya kelembagaan yang dihadapi oleh KPHL Rinjani Barat, tidak hanya berpusat pada organisasi KPHLnya tetapi juga lemahnya kelembagaan di masyarakat sekitar kawasan. Permasalahan-permasalahn yang dihadapi, diantaranya :

1. Belum adanya sarana dan prasarana yang mendukung beroperasinya kelembagaan KPHL sampai tingkat lapangan, seperti halnya perkantoran, perlengkapan dan peralatan kerja, kendaraan operasional dan sarana prasarana lainnya.

2. Kelembagaan Balai KPHL Rinjani Barat berbentuk Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD) dari Dinas kehutanan Provinsi NTB, sehingga secara otomatis mempunyai tugas dan fungsi pengurusan hutan. Sedangkan berdasarkan PP no 6 tahun 2007, jo. PP 3 Tahun 2008 serta Permenhut no P.6/Menhut-II/2010, menegaskan bahwa KPHL mempunyai tugas dan fungsi sebagai pengelola (pemangku) kawasan hutan. Konsekuensinya adalah arah kebijakan yang

101

dijalankan dalam lingkup pengurusan hutan, serta system penganggarannya belum mandiri karena bergantung pada bidang-bidang Dinas Kehutanan.

3. Struktur organisasi belum mencerminkan organisasi pengelolaan hutan sampai tingkat tapak. Karena dalam struktur organisasi tersebut belum ada bagian/ resort pengelolaan hutan dilapangan.

4. Jumlah personil KPHL masih terbatas (14 orang), sementara 3 orang diantaranya ditunjuk untuk merangkap tugas-tugas di KPHL dan dilapangan (BKPHL). Dengan demikian masih kekurangan tenaga teknis yang seharusnya mengisi dalam bagian hutan (BKPHL), resort (RPH) dan mandor disetiap petak.

5. Masih rendahnya kapasitas SDM yang ada dalam pengelolaan hutan. 6. Belum terbangunnya sistem data dan informasi SDH kawasan.

7. Keterbatasan tata hubungan kerja, karena tata hubungan kerja sebagai UPTD harus dilakukan melalui dinas kehutanan, sehingga kurang sesuai dengan tugas dan sifat pekerjaan KPHL yang menuntut kecepatan kerja dan meningkatkan intensitas kerjasama dengan lembaga lain.

8. Belum adanya peraturan Gubernur NTB sebagai penjabaran dari PERDA NTB yang mengatur sumbangan pihak ke-tiga dari kawasan hutan. PERGUB tersebut sebagai dasar hokum untuk., (a) mengakomodasikan usulan/harapan masyarakat pengelola hutan yang berniat menyerahkan bagi hasil tanaman produktif (kakao dan kopi) yang ditanam diantara tegakan hutan, (b) mengatur sumbangan berbagai pihak yang memanfaatkan sumberdaya air (PDAM dan perusahaan air mineral) dari kawasan hutan wilayah kerja KPHL Rinjani Barat, dan (c) mengatur sumbangan pihak lainnya yang sejalan dengan amanat PERDA tersebut.

9. Rendahnya kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya hutan sehingga berpengaruh terhadap perekrutan masyarakatan sebagai tenaga lapang dalam pengelolaan hutan di kawasan KPHL.

10. Belum kuatnya kelembagaan ekonomi masyarakat sekitar hutan dalam rangka menopang perekonomian masyarakat.

67