• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan

Tabel 3.5 Siswa Madrasah Ibtidaiyah Kota Salatiga Tahun Pelajaran 2007/2008

D. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan

Dalam setiap perubahan, apalagi perubahan itu menuju ke arah yang lebih baik pasti akan menemukan berbagai macam kendala. Seperti halnya perubahan kebijakan dalam pe.jalanan kurikulum pada pendidikan di Indonesia saat ini, dimana perubahan tata pemerintahan dari yang terpusat (sentralistik) menjadi disentralistik yang sering juga disebut dengan otonomi daerah merambah juga pada sektor pendidikan, yang terjadi pada perubahan

ini adalah dengan diberlakukannya KTSP untuk mengganti atau

menyempurnakan kurikulum sebelumnya yakni KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), dimana pusat hanya memberikan kompetensi sebagai standar, sedangkan untuk pengembangannya diserahkan kepada daerah atau sekolah. Akan tetapi dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki, maka timbul berbagai macam kesulitan atau kendala.

Temuan data dilapangan menunjukkan bahwa masing-masing sekolah mendapatkan beberapa kesulitan dalam penyusunan dan pelaksanaan KTSP. Seperti paparan dari ZA,

“Ya, sekolah banyak mengalami kesulitan dalam penyusunan KTSP ini, karena merupakan hal baru yang sebelumnya sekolah belum pernah melaksanakannya.”( 01 /W/ZA/16-02-2009/C W)

Hal yang hampir serupa juga diungkapkan oleh MY,

“tentu saja kami banyak mendapatkan berbagai macam kendala, seperti halnya SDM kami yang belum mencukupi, seperti halnya kami masih kekurangan guru bidang studi, karena kebanyakan dari kami adalah lulusan program Pendidikan Agama Islam (PAI), dan dari kami yang berlatar belakang pendidikan agama juga dituntut untuk mengajar mata pelajaran umum seperti matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris dan sebagainya.”( 02/W/MY/23-02-2009/CW)

Ditambahkan pula oleh SL,

“kesulitan kami disini yang terlihat besar selain dari sumberdaya yang belum mencukupi dari guru dan siswa yang rata-rata Sumber Daya Manusianya berada pada tingkat menengah, juga masih ada h?l lain seperti pendanaan pengembangannya, karena operasional di sini diambil seluruhnya dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sebab untuk penarikan SPP (Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan) saat ini sudah tidak diperbolehkan, dan juga memang sisiwa-siswa disini berasal dari orang tua yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh.” Ditambahkan pula oleh E W yang juga satu sekolah dengan SL, “sumber dana di sekolah atau madrasah kami berasal dari infaq orang tua melalui LAZ (Lembaga Amal Zakat) sebasar @ Rp. 4000 tiap bulannya,”(03/W/SL/23-02-2009/CW)

Pendanaan memang merupakan kendala yang dialami pada setiap sekolah, apalagi di tingkat madrasah yang sebagian besar berlokasi di daerah pinggiran dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berada pada angka tingkat rata-rata menengah dan berpenghasilan menengah kebawah, seperti ungkapan MY,

“memang kalau sudah sampai pada masalah pendanaan, banyak sekali kesulitannya, untuk bulan ini saja dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) juga belum turun, padahal kebutuhan itu selalu ada setiap hari apalagi ini menjelang ujian nasional pendanaan menjadi semakin meningkat untuk kegiatan-kegiatan seperti try-out (percobaan

mengerjakan soal ujian), les tambahan, lomba-lomba dan

Pada tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah sebagian besar memang hanya mengandalkan pada dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dari pemerintah, walaupun ada sebagian sekolahan yang mendapatkan sumber dana lain seperti dari donator tetap atau infaq orang tua seperti yang terjadi di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Kauman Kidul, Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Kutowinangun dan Madrasah Ibtidaiyah Asas Islam Kalibening, seperti penuturan dari bapak AZ,

“Masalah Pendanaan, di sekolah kami mengandalkan dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah) karena itu merupakan sumberdana satu-satunya yang ada di sekolah kami, dan mungkin juga di kebanyakan sekolah yang lain. Karena sekolah kami tidak menarik SPP dari orang tua murid.” (01/W/ZA/16-02-2009/CW)

Meskipun SDM (Sumber Daya Manusia) dan sumber dana yang tersedia itu terbatas, akan tetapi masing-masing sekolah/madrasah harus tetap mempertahankan eksistensi untuk tetap mengabdi pada bidang pendidikan dengan terus menerus belajar agar dapat meningkatkan mutu/ kualitas guru itu sendiri dan kualitas sekolahnya dengan mengikuti berbagai macam kegiatan seperti pelatihan-pelatihan kurikulum, diklat KTSP, kegiatan rutin KKG/ KKM, lokakarya, studi banding dan sebagainya.

Berbeda dengan MIN Kecandran, selain mengandalkan dana BOS dari pemerintah, khusus untuk sekolah negeri mendapatkan tambahan pendanaan yang berasal dari APBN yang sering disebut dengan DIPA. Dituturkan pula oleh MY,

“selain kegiatan-kegiatan rutin dan pelatihan-pelatihan sebagai wujud usaha peningkatan mutu SDM, langkah lain dari sekolah kami adalah dengan merekrut guru bidang study bam (gum mapel Bahasa Inggris), karena memang dari sekolah kami selain masih kekurangan SDM yang

memadai juga masih kekurangan tenaga pendidik yang bias dikatakan ‘profesional’ pada bidangnya.“(02/W/MY/23-02-2009/CW)

Hal yang lain disebutkan oleh EW,

“peningkatan mutu pendidik dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti seminar-seminar, kegiatan KKG, diklat oleh sebagian guru (karena memang belum seluruh guru disekolah ini pernah mengikuti kegiatan diklat) dan yang baru-baru ini adalah kegiatan study banding, akan tetapi dari sekolah kami tidak ada yang ikut dalam kegiatan ini, permasalahannya kembali lagi pada pendanaan”(03/W/SL/23-02- 2009/CW).

Keberhasilan suatu program memang membutuhkan peijuangan dan pengorbanan dari berbagai pihak, seperti halnya program kurikulum baru ini, dengan adanya kebijakan penyusunan mandiri dari sekolah, apakah ini memerlukan pengorbanan waktu maupun pikiran dari berbagai pihak yang berada didalam sekolah, dan apakah kegiatan penyusunan kurikulum ini mengganggu kegiatan dalam proses belajar mengajar?

Penemuan data dilapangan melalui wawancara peneliti dengan beberapa informan di beberapa sekolah menemukan beberapa keterangan. Semua guru di beberapa sekolah mengemukakan bahwasannya,

“Dalam penyusunan KTSP ini, dilakukan pada menjelang awal ajaran baru atau pada saat liburan semester, dan untuk kegiatan rutin KKG ini dilaksanakan setelah selesai kegiatan pembelajaran sehingga tidak menggangu kegiatan proses belajar mengajar, ini memang sudah direncanakan sehingga bisa mengeliminir ganguan pada proses belajar mengajar di sekolah kami.”