TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Sektor Industri Rumah Tangga
2.4.2 Kendala Perkembangan Industri Rumah Tangga
Industri rumah tangga sebagai salah satu industri skala kecil di negara-negara maju memang sangat berbeda dengan industri kecil di Indonesia, yang sebagian besar terutama industri rumah tangga masih sangat terbatas akan SDM dan penguasaan teknologi, juga sebagian besar pekerja dan pengusahanya hanya berpendidikan sekolah dasar saja. Sehingga mereka menggunakan teknologi
tradisional yang kebanyakan direkayasa sendiri. Akses informasi tentang pasar juga sangat minim. Sangat sedikit industri rumah tangga yang menggunakan sistem komputer lengkap dengan internet. Padahal semua faktor-faktor ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas produk, efisiensi dalam proses produksi, dan fleksibilitas. Sebagian besar industri rumah tangga di Indonesia sangat dominan di sektor manufaktur. Selain itu juga, sebagian besar industri rumah tangga berada di daerah pedesaan yang kebanyakan dari mereka menjadikan industri tersebut sebagai mata pencaharian sampingan selain bertani (http://formasiberita.blogspot.co.id).
Pertumbuhan unit usaha dan jumlah tenaga kerja yang diserap oleh industri skala kecil, pentingnya industri skala kecil juga diukur dengan pertumbuhan nilai output dan nilai tambah, serta peningkatan produktivitas.
Industri rumah tangga memberikan kontribusi output dan nilai tambah yang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan industri kecil pada pembentukan output dan nilai tambah dari industri skala kecil di sektor industri manufaktur. Produktivitas tenaga kerja sangat erat kaitannya dengan jumlah dan jenis mesin (termasuk di dalamnya jenis teknologi) yang digunakan di dalam proses produksi,dan keterampilan tenaga kerja. Produktivitas dari suatu (atau berbagai) faktor produksi merupakan salah satu indikator yang umum digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan efektivitas dari suatu kegiatan produksi dalam menggunakan faktor produksi tersebut. Berarti semakin tinggi produktivitas dari faktor produksi yang digunakan di dalam suatu kegiatan produksi, semakin efisien dan efektif pelaksanaan proses produksi tersebut. Tingkat produktivitas tenaga kerja bisa
20
berbeda antara unit usaha walaupun di dalam suatu kegiatan produksi (sub-sektor) yang sama. Lebih rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja di industri rumah tangga dibandingkan di industri kecil disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu (http://formasiberita.blogspot.co.id):
1. Keterbatasan akan dana, berarti keterbatasan akan barang modal seperti mesin dan teknologi modern
2. Tingkat pendidikan tenaga kerja yang rendah
3. Organisasi, pola manajemen dan metode produksi yang pada umumnya masih sangat tradisional
Selain itu secara luas, untuk memberikan tambahan wawasan bagi pelaku industri rumah tangga, terdapat 8 kendala industri kecil di kawasan Pusat Industri Kecil (PIK) dan sekitarnya Menteng Medan yang sering dihadapi para pelaku usaha, yaitu:
1. Modal Usaha
Hampir setiap pelaku usaha kecil menghadapi kesulitan yang hampir sama yaitu dalam hal permodalan, termasuk juga para pelaku industri kecil di Kawasan Pusat Industri Kecil (PIK) dan sekitarnya Menteng Medan.
Sebagian besar dari mereka merintis usahanya dengan menggunakan dana pribadi, sehingga kapasitas produksi yang mereka jalankan hanya sebatas besarnya modal yang dimiliki. Hal inilah yang membuat industri kecil di Kawasan Pusat Industri Kecil (PIK) dan sekitarnya Menteng Medan belum bisa berkembang dengan maksimal.
2. Ketersediaan Bahan Baku
Selain modal dana, ketersediaan bahan baku yang kurang stabil ternyata cukup menghambat pertumbuhan industri kecil di Kawasan Pusat Industri Kecil (PIK) dan sekitarnya Menteng Medan. Meskipun sekarang ini masih banyak pelaku usaha yang mengandalkan sumber daya alam untuk bahan baku pembuatan produk, namun tak jarang mereka menemukan beberapa kesulitan di tengah perjalanan usaha. Misalnya saja seperti harga beli bahan baku yang cukup mahal, atau lokasi sumber penyedia bahan baku yang terlalu jauh sehingga para pelaku bisnis harus mengeluarkan ongkos lebih untuk mendapatkan bahan baku.
3. Kapasitas Produksi
Sebagian besar industri kecil tidak berani memproduksi barang atau jasa secara massal, mereka lebih cenderung melakukan produksi berdasarkan pesanan yang datang dari konsumen. Jadi, bila belum ada pesanan khusus dari konsumen maka proses produksi juga akan ikut berhenti. Sehingga tidak heran bila persediaan produk belum bisa stabil maka minat beli para konsumenpun juga belum bisa terjaga.
4. Promosi dan Pemasaran
Para pelaku industri kecil cenderung pasif dalam melakukan kegiatan promosi dan pemasaran produk. Mereka lebih senang memasarkannya dari mulut ke mulut, dan terlihat masih takut untuk menggunakan media iklan maupun mengikuti berbagai event pameran yang diadakan pihak-pihak terkait. Kalaupun pernah ikut kegiatan promosi, biasanya atas permintaan
22
Dinas Perindustrian dan Perdagangan melalui pameran-pameran yang mereka selenggarakan.
5. Dukungan Teknologi Modern
Belum banyak pelaku usaha di Kawasan Pusat Industri Kecil (PIK) dan sekitarnya Menteng Medan yang menjalankan roda bisnisnya dengan bantuan teknologi modern. Kebanyakan dari mereka masih menjalankan bisnisnya secara tradisional, sehingga adanya perkembangan teknologi modern belum begitu lekat dengan bisnis yang mereka jalankan. Tentunya ini menjadi kendala besar bagi para pelaku usaha, sebab keberadaan teknologi modern menjadi alat pendukung yang cukup efektif untuk meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga kualitas produk yang dihasilkan.
6. Administrasi Dan Pengelolaan Keuangan
Sampai hari ini masih banyak pelaku industri kecil yang mengabaikan peranan administrasi dan laporan keuangan. Mereka lebih sering membuatnya dengan cara manual sehingga hasilnya juga kurang terperinci. Padahal, pencatatan administrasi dan keuangan usaha tentunya menjadi bagian penting dalam menjalankan industri kecil. Sebab, Anda bisa mengetahui seberapa besar biaya produksi yang dikeluarkan, dan berapa besar keuntungan yang Anda dapatkan setiap bulannya.
7. Belum Ada Jaringan Kemitraan
Kendala yang ketujuh yaitu sempitnya jaringan kemitraan yang dimiliki para pelaku industri kecil di daerah pedesaan. Selama ini mereka hanya
mengandalkan para tengkulak untuk memasarkan produk-produknya, bekerjasama dengan para petani lokal untuk menyediakan bahan baku, dan menggunakan dana pribadi untuk memenuhi kebutuhan modal.
8. Kurang Respect Terhadap Koperasi
Keberadaan koperasi tentunya memberikan banyak kemudahan bagi para pelaku UKM. Contohnya saja seperti memberikan pendampingan manajemen usaha, menyediakan berbagai macam kebutuhan produksi, membantu pemasaran produk, dan lain sebagainya. Namun sayangnya, para pelaku industri kecil di Medan masih kurang respect untuk bergabung menjadi anggota koperasi. Sehingga peluang sukses yang ditawarkan belum dimanfaatkan para pelaku usaha.