Tabel 3.5 Siswa Madrasah Ibtidaiyah Kota Salatiga Tahun Pelajaran 2007/2008
B. Kendala yang timbul dari pelaksanaan KTSP
Sejak pemberlakuan kurikulum terbaru pada pertengahan tahun 2006, sejumlah sekolah mulai berusaha menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berpedoman pada Standar Isi yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. Standar Isi mecakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dalam hal ini tingkat satuan pendidikan (sekolah) harus merencanakan sendiri dan bisa melaksanakannya, demi mencapai hasil yang memuaskan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yaitu operasional penyempurnaan yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan sekolah, panduan ini diharapkan akan menjadi acuan bagi satuan
pendidikan dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan. Sehingga departemen pendidikan nasional mengharapkan paling lambat tahun 2009/2010, semua sekolah telah melaksanakan KTSP. Perbedaan antara KBK dan KTSP tidak ada, keduanya merupakan seperangkat rencana pendidikan yang berorientasi pada kompetensi dan hasil belajar peserta didik. Kurikulum Berbasis Kompetensi disusun oleh pemerintah pusat dalam hal ini Depdiknas, sedangkan KTSP disusun oleh tingkat satuan pendidikan masing-masing walaupun masih tetap mengacu pada panduan penyusunan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 dar PP No. 19 tahun 2005.
Penyusunan KTSP harus mengacu pada acuan operasional yang memperhatikan, hal-hal sebagai berikut r23
1. Peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia.
2. Peningkatan potensi, kecerdesan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan serta kemampuan peserta didik.
3. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. 4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
5. Tuntutan dunia keija.
6. Perkembangan iptek dan nilai kebangsaan. 7. Kondisi sosial budaya masyarakat.
8. Kesetaraan gender.
23 E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, him. 168-169.
9. Karakteristik satuan pendidikan.
Berdasarkan dari temuan data di lapangan selama penelitian diketemukan beberapa kendala yang dialami oleh sebagian besar Madrasah Ibtidaiyah di Kota Salatiga, antara lain :
1. Ditinjau dari penyusunan KTSP
Menitikberatkan pada 9 acuan operasional penyusunan KTSP, penulis berpendapat dalam penyusunan KTSP harus memenuhi hal tersebut dengan tujuan agar para pendidik dan peserta didik akan lebih terdorong dalam meningkatkan sumber daya manusia bidang pendidikan. Dalam kenyataannya penyusunan KTSP wilayah Kota Salatiga tidak dilakukan oleh masing-masing satuan pendidikan, akan tetapi dilakukan secara bersama-sama antara satuan pendidikan lain melalui kegiatan K KG yang masih melibatkan dinas pendidikan dan departemen agama. Hal ini, tidak akan membuat peningkatan dalam dunia pendidikan karena tidak dilakukan secara mandiri dan otomatis dalam pelaksanaan ada yang mengontrol. Dalam hal penyusunan sebagian besar sekolah yang penulis teliti menyatakan kesulitan, karena ini merupakan hal baru dimana sekolah belum pernah melaksanakan dan sekolah belum bisa sepenuhnya menyusun semua komponen kurikulum ini secara mandiri.
Kendala yang timbul dari penyusunan KTSP banyak disebabkan karena pengetahuan dari pihak guru begitu minim dan sekolah belum mengetahui hakikat pemberlakuan kurikulum itu sendiri, pembahan model
kurikulum disusun oleh pemerintah pusat kemudian seluruh sekolah di Indonesia pada tingkat satuan yang sama mendapatkan kurikulum yang sudah matang tersebut dalam bentuk yang sama pula atau yang sering disebut dengan model penyusunan sentralistik. Adapun yang teijadi saat ini, kurikulum diberikan secara mentah dari pemerintah pusat berupa standar kompetensi dan kompetensi dasar dimana sekolah harus
menggodok sendiri sampai menjadi matang dan siap untuk digunakan. Penyusunan KTSP, masing-masing guru harus membuat RPP tetapi dalam pelaksanaan akan melebihi dengan RPP yang dibuat hal ini dilatarbelakangi oleh daya kreatif dan kemampuan dari masing-masing siswa di Madrasah Ibtidaiyah. Permasalahan yang timbul dari model penyusunan ini adalah mengenai evaluasi. Pemerintah memberikan otonomi kurikulum sekolah hanya terbatas pada penyusunan dan pengembangan, sedangkan untuk evaluasi semua masih ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui Ujian Akhir Nasional (UAN), sehingga untuk kelulusan sekolah tidak mempunyai wewenang.
2. Ditinjau dari segi Sumber Daya Manusia (SDM)
Masalah sumber daya manusia, sebagian besar SDM di tingkat Madrasah Ibtidaiyah bersumber pada guru, murid, orang tua dan sekolah. Ditinjau dari guru, sebagian besar berasal dari program studi Pendidikan Agama Islam dan dituntut mengajarkan pelajaran-pelajaran yang tidak sesuai bidang, karena di madrasah sendiri pelajaran yang diberikan tidak hanya mencakup materi Pendidikan Agama Islam akan tetapi pelajaran
umum yang diberikan pada sekolah dasar juga diberikan di sini. Selain mengajar tidak sesuai bidang, selama penelitian penulis mendapatkan data bahwa beban guru ditingkat satuan pendidikan dasar lebih banyak dari pada beban guru ditingkat satuan pendidikan menengah, karena selain sebagai tenaga pengajar guru juga berperan sebagai administrator, sedangkan sebagian besar guru madrasah adalah guru wiyata bhakti dengan segala keterbatasan. Disini kualitas dari guru dalam satuan
pendidikan masih mict and match (tidak ada keselarasan) serta
pemahaman tentang KSTP masih kurang. Ditinjau dari murid tidak ada minat belajar, keinginan untuk maju dan masih terikat dengan kebudayaan daerah sekitar. Sedang dari orang tua, tidak ada dukungan dan perhatian perkembangan akademis si anak.
Merujuk pada hal tersebut, untuk melakukan proses pematangan kurikulum dibutuhkan tenaga yang ahli yakni guru yang handal dan professional serta dapat mudah beradaptasi pada perubahan lingkungan sekitar. Fakta menunjukkan pada lingkup Madrasah Ibtidaiyah di Kota Salatiga sebagian besar guru yang adalah tenaga pendidik wiyata bhakti dan guru yang sudah berusia tua, sehingga untuk melangkah cepat dalam beradaptasi itu banyak yang merasa kesulitan. Selain itu, sarana dan prasarana sekolah masih belum memadahi demi kelancaran proses belajar mengajar.
3. Ditinjau dari segi dana
Pendanaan adalah masalah yang bisa dikatakan menjadi kendala yang cukup besar, sebagian besar sumber dana Madrasah Ibtidaiyah di
Kota Salatiga dalam memenuhi kebutuhan operasional hanya
mengandalkan dana pada BOS dari pemerintah, karena memang sekolah tidak diperbolehkan mengambil uang SPP seperti ketika sebelum digulirkan dana BOS dari tahun 2005. Hubungan yang seimbang diantara murid, guru dan pihak sekolah maupun dari pihak luar sekolah belum nampak. Sebagian besar lokasi Madrasah Ibtidaiyah di Kota Salatiga berada pada lokasi pinggiran, dimana sebagian besar murid juga berasal dari daerah pinggiran dengan mata pencaharian orang tua sebagai petani dan buruh dengan segala implikasi.
Keadaan di lapangan menunjukkan sebagian besar pendanaan di Madrasah Ibtidaiyah hanya mengandalkan pada dana dari pemerintah yang diturunkan melalui program BOS, meskipun ada sebagian kecil yang mendapatkan tambahan dana dari badan amal zakat di sekitar mereka dan khusus MI Negeri ada sedikit tambahan dari APBN. Dengan keterbatasan sumber dana yang dimiliki setiap sekolah diharapkan mampu mengatur pengeluaran mereka secara profesional, karena masalah keuangan atau dana merupakan salah satu sumber daya yang mendukung bahkan menjadi tumpuan utama dalam dalam proses pembelajaran.
Biaya dalam pendidikan, meliputi biaya langsung (direct cost) dan
pengeluaran yakni biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran, sarana belajar, biaya transportasi, gaji guru, sedangkan biaya tidak langsung menurut Joko Susilo berupa keuntungan yang hilang
(earning forgone) dalam bentuk biaya kesempatan (opportunity cost) yang dikorbankan siswa selama belajar. Sumber keuangan yang ada di suatu sekolah secara garis besar itu ada 3, yakni pemerintah baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, orang tua atau peserta didik, masyarakat baik mengikat maupun tidak mengikat. Pasal 46 ayat 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Pembiayaan pelaksanaan KTSP di masing-masing tingkat satuan pendidikan mulai bulan Januari 2009 dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah yang dapat diterima 3 atau 6 bulan sekali), sehingga biaya pendidikan menjadi gratis untuk tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama kecuali satuan pendidikan yang RSBI (Rintisan Sekolah Berbasis Internasional). Sedangkan dari pihak siswa, sebagian besar berasal dari keluarga bermata pencaharian petani dan buruh. Dengan penghasilan yang rendah dan ditemukan dari mereka banyak yang tidak memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak di bidang akademis.
C. Kesiapan guru dalam pelaksanaan KTSP
Pengimplementasian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan sekolah yang tidak melaksanakan tentu saja ada perbedaan, untuk
mengoptimalkan pelaksanaan dan manfaat KTSP harus ada hubungan yang
seimbang antara siswa, guru dan sekolah. Akan tetapi, untuk
mengimplementasikan suatu program baru di sekolah tidak akan lepas dari kendala maupun rintangan.
Dalam rangka mengatasi kendala-kendala tersebut, maka sekolah harus mencari cara agar berbagai kendala tersebut dapat teratasi. Sehingga tidak menjadi penghambat besar bagi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini. Guru adalah salah satu faktor terpenting dalam komponen kurikulum yang teijun secara langsung dalam penyusunan dan pelaksanaan
kurikulum. Untuk meningkatkan kualitas SDM, para guru dalam
mengimplementasikan KTSP dilakukan dengan berbagai usaha. Berdasarkan data hasil penelitian yang penulis lakukan, persiapan guru dalam menghadapi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah meningkatkan pemahaman melalui berbagai macam kegiatan seperti : pelatihan, diklat, KKG, seminar yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Sedangkan untuk kesiapan dari sekolah sendiri diadakan penataan ulang administrasi atau melengkapi.
Peningkatan kualitas SDM di sekolah harus terus ditingkatkan, baik peningkatan sumber daya guru, kepala sekolah maupun dari siswa. Dalam kurikulum ini, satuan pendidikan dan guru merupakan nahkoda yang menjalankan arah suatu pembelajaran menuju suatu pencapaian hasil yang maksimal. Untuk menjalankan tugas berat tersebut, dibutuhkan figur seorang pendidik yang mampu dan kompeten di setiap bidang. Tenaga pendidik
Madrasah Ibtidaiyah Kota Salatiga sebagian besar mengampu mata pelajaran tidak sesuai dengan bidang yang diampu, sampai saat ini belum diketemukan tenaga profesional khusus dari lulusan program studi bidang kurikulum yang mengampu setiap mata pelajaran. Hal ini, menjadi salah satu penghambat dari pelaksanaan KTSP yang secara maksimal. Peran dari pemerintah sangat diperlukan, seperti: kegiatan-kegiatan yang saat ini sudah banyak dilaksanakan seminar, diklat, pelatihan, dan sebagainya.
Profesionalisme guru dapat dilihat dari sejauh mana mereka menempatkan profesi sebagai titik sentral dalam kehidupan serta sampai sejauh mana guru beruraha untuk selalu menunjukkan sikap profesional dalam bekeija dan kehidupan sehari-hari.24 Untuk menuju pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas tidak bergantung pada satu komponen saja (guru) melainkan sebagai sebuah sistem kepada beberapa komponen, antara lain : berupa program kegiatan pembelajaran, murid, sarana dan prasarana pembelajaran, pendanaan, lingkungan masyarakat dan kepemimpinan Kepala Sekolah. Semua komponen dalam sistem pembelajaran tersebut sangat penting dan menentukan keberhasilan pencapaian tujuan institusional.25
Semua komponen yang telah teridentifikasi tersebut, tidak akan berguna bagi perolehan pengalaman belajar maksimal bagi murid bilamana tidak didukung oleh keberadaan guru yang profesional. Peningkatan mutu di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah sangat tergantung pada profesionalisme
24 Bambang Suteng Sulasmono; Profesionalisme Guru dan Kompetensi Guru di Era Sertifikasi, Makalah Seminar Nasional, Salatiga, 2008; Hal. 2
25 Ibrahim Bafadal, Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar Dalam Rangka Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2003; Hal. 3
PENUTUP
Berdasarkan dari berbagai uraian dalam bab I sampai bab IV, pada bagian bab ini penulis akan sampaikan kesimpulan dan saran-saran sebagai bahan masukan atau sumbangan pemikiran yang mungkin berm anfaat bagi penulisan skripsi beijudul “Kesiapan Guru dalam Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di M adrasah Ibtidaiyah Se-Kota Salatiga” .
A. Kesimpulan
1. Ditinjau dari pemahaman guru mengenai KTSP, sebagian besar para guru pada satuan pendidikan M adrasah Ibtidaiyah di K ota Salatiga paham tentang tahapan implementasi KTSP, akan tetapi masih banyak guru yang hanya menjalankan tugasnya sebagai m ediator pembelajaran di satuan pendidikan dengan tujuan umum mencari cara agar anak didik dapat mencapai kelulusan yang m em uaskan
2. Pelaksanaan KTSP menimbulkan beberapa kendala, antara lain : ditinjau
dari segi penyusunan satuan pendidikan dituntut untuk membuat sendiri dan dapat melaksanakan sesuai KTSP yang dibuat, dim ana para guru ju g a menyusun RPP sendiri dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kendala lain yang timbul dari model penyusunan ini adalah mengenai evaluasi, pemerintah memberikan otonomi kurikulum sekolah hanya terbatas pada penyusunan dan pengembangan, sedangkan untuk evaluasi semua m asih ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui Ujian Akhir
Nasional (UAN). Oleh karena itu, untuk kelulusan sekolah tidak
mempunyai wewenang. Ditinjau dari segi sumber daya manusia peran
guru dan siswa harus saling timbal balik, namun dalam kenyataan RPP yang dibuat masing-masing guru tidak dilakukan kadang melebihi dari apa yang tertuang dalam RPP. Hal ini dipengaruhi oleh peran para siswa yang tidak memiliki daya minat belajar dan keinginan untuk maju, faktor latar belakang guru yakni harus memiliki jenjang akademik yang sesuai dengan
proses pembelajaran yang diampu. Ditinjau dari segi pendanaan,
pembiayaan pendidikan bersumber pada pemerintah pusat dan daerah, orang tua siswa serta masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan sarana dan prasarana dari satuan pendidikan tersebut.
3. Kesiapan guru dalam melaksanakan KTSP dapat dilihat dari bagaimana profesionalisme guru dalam menghadapi segala perubahan yang terjadi disekitar, termasuk mengenai perbedaan implementasi serta di dikung dengan sarana prasarana sekolah yang memadai.
B. Saran-saran
1. Dari penelitian ini diketahui bahwa tidak ada guru madrasah yang mempunyai pendidikan formal di bidang kurikulum, maka untuk mengoptimalkan pelaksanaan dan pengembangan kurikulum tingkat
satuan pendidikan (KTSP), sebaiknya pemerintah lebih sering
mengadakan pelatihan ataupun diklat bagi para guru mengenai penyusunan kurikulum.
2. Dalam masalah pendanaan pemerintah telah menganggarkan bantuan operasional sekolah bagi sekolah dasar dan menengah, dana tersebut harus dikelola dengan manajemen yang baik supaya tidak ditemukan lagi permasalahan pendanaan yang menjadi penghambat bagi penyusunan, pelaksanaan dan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 3. Untuk evaluasi (kelulusan) sampai saat ini ujian akhir masih dipegang oleh
pemerintah pusat, padahal semua penyusunan kurikulum sudah diserahkan pada tingkat satuan pendidikan masing-masing. Sebaiknya daerah atau sekolah diberikan otonomi untuk melaksanakan evaluasi mandiri untuk menentukan kelulusan siswa.
C. PENUTUP
Dengan mengucapkan Alhamdulillah sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga dengan itu semua penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin, namun penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan-kekurangan, baik dari segi susunan bahasa maupun bobot ilmiah. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan penulis dan mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.
Judul Skripsi : Kesiapan Guru dalam Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Se-Kota Salatiga