• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Data dan Analisis

5.1.1 Kenyamanan Termal .1 Iklim Mikro .1 Iklim Mikro

Kenyamanan termal pada suatu kawasan berkaitan dengan penerimaan radiasi matahari serta ditentukan oleh faktor pembentuk iklim mikro. Penerimaan radiasi matahari berkaitan sudut datang matahari, topografi dan kemiringan lahan serta penutupan lahan tersebut. Pada wilayah Indonesia yang berada dekat garis Khatulistiwa, sudut datang matahari yang cenderung seragam setiap bulannya tidak begitu berpengaruh seperti pada negara empat musim. Kelerengan wilayah Kecamatan Beji yang landai kurang dari 15% juga tidak signifikan berpengaruh terhadap perbedaan penerimaan radiasi.

Karena itu, identifikasi kenyamanan termal Kecamatan Beji berfokus pada faktor pembentuk iklim mikro yaitu suhu udara, kelembaban dan angin. Menurut Smith (2001) dalam meteorologi, untuk memudahkan prediksi cuaca dan analisis maka penggambaran peta cuaca ditampilkan berupa peta isoplet. Isoplet (dari bahasa Yunani iso- sama; pleth- nilai) merupakan garis yang menghubungkan titik-titik dengan nilai yang sama. Dalam penelitian ini, analisis iklim mikro Kecamatan Beji dilengkapi dengan peta isoplet yang dibuat dengan bantuan

software Surfer 8. Data yang digunakan adalah hasil pengukuran suhu dan

Tabel 8. Suhu (T), Kelembaban (RH) dan THI Tiap Lokasi Pengukuran

Penutupan/ Ke- THI THI THI THI

Penggunaan T(°C) RH(%)T(°C) RH(%) T(°C) RH(%) pagi siang sore harian

1 Taman Kota RTH/ 1 28 85 30 78 29 78 28,7 80,3 27,2 28,7 27,5 27,6

Lingkar UI Taman Kota 2 28 85 30 78 28,5 78

2 Tepi Hutan RTH/ 1 28 85 30,5 78 28 77 28,4 79,8 26,9 28,9 26,7 27,3

Kota UI Hutan Kota 2 27,5 84 30 78 28 77

3 Juragan Sinda terbangun/ 1 29 78 31,5 79 30 78 30,0 79,5 27,9 30,7 28,7 28,8

Perumahan swadaya 2 29 85 32,5 79 30 78 4 H. Mustafa terbangun/ 1 28 77 31 79 30 78 29,7 79,3 27,4 30,4 28,7 28,5 Perumahan swadaya 2 29 85 32,5 79 30 78 5 Kuburan RTH/ 1 28 77 31 79 29 78 29,5 79,3 27,4 30,2 28,2 28,3 Pemakaman 2 29 85 32 79 30 78 6 Kampung terbangun/ 1 29 78 32,5 79 30 79 30,1 81,0 27,9 31,4 28,4 28,9

Pocin Perumahan swadaya 2 29 85 33 80 29 85

7 Margo City terbangun/ 1 29,5 78 35,5 81 32 79 31,3 79,2 28,0 33,6 30,4 30,0

Perdagangan jasa 2 29 78 34,5 80 31,5 79

8 Danau UI badan air/ 1 28 85 32 86 29 85 29,3 84,2 27,6 30,4 27,6 28,3

Perguruan tinggi 2 29 85 31 79 28 85

9 Kampung terbangun/ 1 29 78 32 79 30,5 78 30,2 78,5 27,5 31,2 29,4 28,9

Curug Perumahan swadaya 2 28,5 77 33 80 31 79

10 Ladang RTH/ 1 28,5 77 31,5 79 29 78 29,8 79,3 27,7 30,7 28,4 28,6

Pertanian Lahan campuran 2 29 85 32,5 79 30,5 78

11 Perum Depok terbangun/ 1 29 78 33 80 30 78 29,75 80,8 27,45 31,17 28,41 28,6

Mulya II Perumahan formal 2 28 85 32 79 29 85

12 Perum Depok terbangun/ 1 29 78 32 79 30 78 30,00 78,3 27,72 30,66 28,68 28,70

Mulya III Perumahan formal 2 29 78 32 79 29,5 78

13 Setu Pladen Badan air/ 1 28 92 32 86 29 85 28,88 85,3 26,92 30,62 27,65 28,03

Setu 2 27,5 92 31 86 27 92

14 Mall Depok terbangun/ 1 29 78 34,5 80 31 79 30,88 79,0 27,72 32,40 30,42 29,58

Perdagangan jasa 2 29 78 33 80 31,5 79

29,75 80,3 27,52 30,78 28,52 28,57

Rata-rata

Siang (13.00) Sore (16.00) T(°C) RH (%)

LokasiKeterangan Pagi (07.00)

Keterangan: T = temperature (suhu); RH = relative humidity (kelembaban); THI= temperature humidity index

3

33

(1) Suhu Udara

Dari hasil pengukuran di lapang (Tabel 8) diketahui suhu udara (T) rata-rata harian Kecamatan Beji adalah 29,7°C. T harian teringgi adalah 31,3°C dan T terendah 28,4°C. Sebaran T rata-rata Kecamatan Beji tergambar dalam peta isoplet suhu udara (peta isoterm) seperti dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Peta Isoterm Kecamatan Beji, Kota Depok

Gambar 13 memperlihatkan isoplet T yang semakin rapat dan meningkat nilainya ke arah tepi tenggara (sepanjang Jalan Margonda Raya). Pergeseran peningkatan suhu udara ini semakin tajam mengarah ke area tinggi terbangun. T puncak tertinggi berada pada lokasi pengukuran di kawasan perdagangan yang

didominasi pertokoan bertingkat yang rapat dan terpola. Pada tengah kawasan Kecamatan Beji, T seragam yaitu berkisar 30°C. Hal ini dikarenakan penutupan yang seragam yaitu dominasi pemukiman dengan koefisien dasar bangunan sedang hingga tinggi dengan pola tidak teratur. Kemudian T berangsur menurun ke arah timur laut mengarah ke kawasan Hutan Kota UI.

Pada wilayah perkotaan, tingginya emisivitas dan albedo perkerasan berpengaruh terhadap peningkatan suhu udara setempat. Kepadatan dan orientasi bangunan yang tidak teratur mengakibatkan pergerakan angin tidak mengalir dan suhu udara tetap tinggi. Kondisi termal tersebut perlu diameliorasi dengan pengadaan RTH. Vegetasi sebagai komponen RTH mampu menyerap dan menghalangi radiasi matahari yang sampai di permukaan serta memberi kesejukan dari oksigen yang dihasilkan. Pengadaan RTH diperlukan pada kawasan timur hingga tenggara dan tengah Kecamatan Beji dimana dapat berupa koridor yang mengalikan udara atau taman atap pada lahan terbatas.

(2) Kelembaban Udara

Dari hasil pengukuran di lapang (Tabel 8), diketahui kelembaban udara (RH) harian rata-rata di Kecamatan Beji adalah 80,3%. RH harian minimum adalah 78,3%, berlokasi pada penutupan lahan terbangun perumahan formal. RH minimum terjadi saat tengah hari bersamaan dengan suhu udara maksimum. RH maksimum 85,3% berada di penutupan badan air setu.

Tingginya RH di kawasan situ maupun hutan kota disebabkan proses evapotranspirasi oleh air dan tanaman yang sangat besar sehingga massa udara di daerah tersebut lebih banyak mengandung uap air dibanding pada lahan terbangun. Keberadaan badan air dengan luasan tertentu mampu secara efektif meningkatkan kelembaban udara. Namun, pada kawasan sekitar Kali Tanah Baru di sebelah barat Kecamatan Beji yang dikelilingi pemukiman rapat, keberadaan badan air tidak cukup berpengaruh dan kelembaban udara cenderung rendah. Pelestarian badan air dan sempadan diperlukan untuk menunjang upaya ameliorasi iklim Kecamatan Beji. Sebaran RH rata-rata harian Kecamatan Beji nampak dalam peta isoplet kelembaban udara (peta isohume) pada Gambar 14.

35

Gambar 14. Peta Isohume Kecamatan Beji, Kota Depok (3) Temperature Humidity Index

Temperature Humidity Index (THI) adalah indeks tingkat kenyamanan

suatu area secara kuantitatif berdasarkan nilai suhu dan kelembaban udara relatif. THI nyaman yaitu THI 21 – 28 dan THI tidak nyaman jika THI < 21 dan THI > 28. Dari hasil pengukuran di lapang diperoleh THI harian rata-rata Kecamatan Beji adalah 28,6 dimana pagi hari tergolong nyaman (THI 27,5), siang hari tidak nyaman (THI 30,8) dan sore hari tidak nyaman (THI 28,5).

Kondisi kenyamanan termal Kecamatan Beji tidak nyaman saat siang hari dimana THI berkisar antara 28 hingga 34. Dari Peta THI siang Kecamatan Beji

(Gambar 16), dapat dilihat pola isoplet THI menyerupai isoplet suhu udara. Nilai THI semakin tinggi (THI > 30,5) mengarah ke arah tepi tenggara dan selatan Kecamatan Beji. Tingginya THI pada kawasan tersebut dipengaruhi tingginya suhu udara akibat besarnya radiasi matahari yang diserap, dipantulkan dan ditransmisikan oleh dominasi perkerasan. Pada area tengah Kecamatan Beji yang didominasi perumahan formal, THI seragam mendekati nilai 30,5. Kenyamanan termal meningkat (THI < 30) ke arah timur laut yang didominasi RTH.

Gambar 15. Peta THI Siang Kecamatan Beji, Kota Depok

Rata-rata THI harian Kecamatan Beji adalah 28,6 dan termasuk tidak nyaman. THI harian tertinggi (THI 30) berada di sebelah tenggara yaitu pusat

37

perbelanjaan Margo City. THI terendah (THI 27,3) berada di sebelah timur laut yaitu Hutan Kota UI. Berdasarkan pembagian dengan poligon thiessen, dapat diperkirakan luasan area yang terwakili oleh setiap titik pengukuran. THI nyaman meliputi 9,2% wilayah Kecamatan Beji (138,84 ha) dan sisanya (1.370,86 ha) adalah area tidak nyaman. Area nyaman meliputi poligon titik pengukuran 1 dan 2 dimana terdapat RTH hutan dan taman kota. Sebaran THI harian menyerupai pola isoplet THI siang seperti dapat dilihat pada Gambar 16.

Gambar 16. Peta THI Harian Kecamatan Beji, Kota Depok

Nilai THI sangat dipengaruhi oleh nilai suhu udara. Hal ini terlihat dengan serupanya pola isoplet THI (Gambar 15 dan Gambar 16) dengan pola isoterm

(Gambar 13). Nilai kelembaban udara yang dipengaruhi oleh luasan RTH dan badan air di Kecamatan Beji tidak cukup signifikan berpengaruh terhadap nilai THI. Secara umum, pergeseran kontur THI semakin nyaman mengarah ke lokasi pengukuran dominan RTH ataupun badan air. THI tidak nyaman mengarah ke penutupan terbangun, dimana lebih tinggi pada kawasan perdagangan. Kawasan dengan kondisi tidak tercapainya kenyamanan termal tersebut (THI > 28) memerlukan langkah ameliorasi melalui perencanaan RTH.

(4) Angin

Angin sebagai salah satu komponen iklim mikro secara efisien menggabungkan perbedaan dalam suhu dan kelembaban udara di lanskap. Hal ini bergantung pada kecepatan dan arah angin di kawasan tersebut. Berdasarkan data iklim BMG tahun 2010, kecepatan angin di Kecamatan Beji seperti pada Tabel 9. Tabel 9. Kecepatan Angin Tiap Bulan di Kota Depok Tahun 2010

Bulan Kecepatan angin

maksimum (km/jam)

Kecepatan angin rata2 (km/jam) Januari 13,58 5,31 Februari 12,29 5,17 Maret 10,46 5,18 April 9,79 5,04 Mei 10,24 4,90 Juni 10,27 4,83 Juli 10,27 4,85 Agustus 10,96 4,93 September 10,65 5,04 Oktober 12,12 5,05 Nopember 11,93 4,93 Desember 10,08 5,06 Sumber: BMG (2010)

Dari data Tabel 9 diketahui rata-rata kecepatan angin maksimum adalah 11,05 km/jam dan rata-rata kecepatan angin bulanan adalah 5,02 km/jam. Berdasarkan skala Beaufort (Lampiran 2), kecepatan tersebut tergolong angin sepoi-sepoi dimana angin dapat dilihat pada arah asap. Kecepatan ini tergolong rendah dan kurang signifikan mempengaruhi iklim kota.

Sesuai dengan sifat gas, pemanasan udara oleh radiasi matahari mengakibatkan udara memuai dan tekanan udara menurun. Adapun dalam iklim

39

mikro, peningkatan panas ditandai dengan peningkatan suhu udara. Perbedaan tekanan udara karena perbedaan suhu udara ini menimbulkan angin. Angin bergerak dari tekanan tinggi (bersuhu rendah) ke tekanan rendah (bersuhu tinggi). Spasialisasi pergerakan udara dari perbedaan ini seperti pada Gambar 17.

Gambar 17. Peta Angin Berdasarkan Isoterm Kecamatan Beji, Kota Depok Pada Gambar 17 dapat dilihat angin mengarah dari area bersuhu rendah ke area bersuhu tinggi yang mayoritas adalah kawasan terbangun. Terdapat beberapa area (dilingkari merah) dimana arah angin saling bertemu dan terdapat pula area tidak terlalui arah angin. Pertemuan arah angin menandakan lokasi tersebut merupakan area terpanas (dibandingkan sekitarnya) sehingga aliran udara

isoplet T arah angin

berkumpul disana. Pada lokasi-lokasi tinggi terbangun tersebut pergerakan udara terhenti dan suhu udara tetap tinggi. Hal ini dipengaruhi struktur fisik kawasan terbangun berkerapatan tinggi dengan orientasi tidak teratur.

Pada kawasan perdagangan dengan bangunan bertingkat berpola rapat di sebelah tenggara Kecamatan Beji, angin terhalang bangunan dan menurun kecepatannya pada level dekat permukaan sehingga suhu udara tetap tinggi. Hal serupa terjadi pada pemukiman padat di sebelah barat, utara dan tengah Kecamatan Beji. Kondisi berbeda terjadi pada kawasan terbuka, dimana angin sepoi-sepoi dekat permukaan mengalirkan udara dan membawa kesejukan.

Dalam upaya ameliorasi iklim, pergerakan udara dari suhu udara tinggi ke lokasi bersuhu udara rendah dapat disiasati dengan pengadaan koridor hijau. Koridor RTH yang mengarahkan angin diperlukan dalam pemerataan suhu dan kelembaban udara untuk kenyamanan termal. Selain itu, pengadaan greenbelt di tepi Kecamatan Beji juga dapat membantu penurunan suhu udara di dalam wilayah serta mengurangi pengaruh panas dari lingkungan sekitar yang padat terbangun. Pada kawasan bangunan-bangunan tinggi dan rapat, pergerakan angin di atas bangunan yang lebih cepat dapat dimanfaatkan untuk membantu pemerataan suhu dan kelembaban udara dengan pengadaan RTH atap.

5.1.1.2 Kenyamanan Termal Ideal Kecamatan Beji

Berdasarkan identifikasi kenyamanan termal sebelumnya, diketahui kenyamanan termal Kecamatan Beji beragam pada penutupan lahan berbeda dan tergolong tidak nyaman (THI harian rata-rata 28,6). THI tidak nyaman berada pada wilayah terbangun sedangkan THI nyaman pada kawasan yang didominasi penutupan kanopi pohon. Vegetasi, terutama pohon sebagai komponen RTH lebih efektif menciptakan kenyamanan termal pada suatu kawasan.

Dalam upaya ameliorasi iklim perlu ditentukan nilai THI yang ingin dicapai (THI ideal) melalui perencanaan RTH. Secara umum, semakin luas area dan sebaran RTH maka nilai THI semakin rendah, berada dalam skala THI nyaman (21 < THI < 28). Pada wilayah perkotaan, pengadaan RTH menghadapi faktor pembatas yaitu luas lahan terbuka yang minim serta keberadaan kawasan terbangun yang mayoritas memenuhi perijinan (legal). Karenanya, dalam upaya

41

menurunkan THI melalui keberadaan RTH dipilih nilai THI pada batas atas THI nyaman. Dari rentang THI harian hasil pengukuran di lapang (27 < THI < 30), nilai THI = 27 dinilai cukup sebagai parameter nilai kenyamanan termal yang diharapkan tercapai dalam perencananaan RTH di Kecamatan Beji.

5.1.2 Jumlah dan Alokasi RTH

Dokumen terkait