"'
•
' iI
I.
l.
I I I I I . I. -.
I
74
-sa .apukah betul di tiap kato. ditaruh kotu ruung disitu, apakuh tidak kebanyakan •
PEMERINTAH, PROF.DR. EMIL'SALIM :
•
Yung boku adalah ungkapo.n wilayah nusional, wilayuh do~ -ro.h tingko.t I dun wilayah dueroh tingkat II. Judi wilayah itu
\ .
ko.itan dengan nasional, wilayuh d.ai;euh tingkat I, wiluyuh do.e-rah tingko.t II. Itu sutu yang baku, maka p~nutaan ruo.ng udulah berc.iosu1·kon usp~k administrusi meliputi ruo.ng dari wiloyuh·wi-layah ini.
'•.
KE'l'UA RAPA T ;
Pengertian saya rnemang begitu, menurut pendapo.t so.ya ko.i-dah bahasa ini sudah bogus. NamWl de1nikian nanti ki ta tanya 1£
gi
kepada ah1i bahasa.Saya tanyakan kembo.11 apakuh ayat (1) dan ayat (2) bisu dit~ -rima ? waluupun kulau belum puas dapat ki tu tanya.k.ari kt-:pudu
ahli dalam Tim Peruwus.
F' .PDI, DRS. MAHKUS WAUMN :
•.
Maaf kaluu saya katukon tad.i sudo.h diterima tadi, cumu d!:.
ngan didiskusika~nya soal ruang wilayuh-ruang wilayah, so.ya berta.nya sekaro.ng apakah kata ruant;; perlu ? Jadi penutaan ru-ang berdasurkan aspt:k administrati.f mt:liputi wilayah nasiona.l, wilayah daerah tingkat I do.nwilayuh daeruh tingkut I I .
Jadi tidak perlu ruang, st:bab wilayo.h itu pengertiannya juga ruang menurut ketentuan uwum. Jadi saya kira tidak perlu ada kata ruang disitu.
Jadi penataan ruang berdaso.rkan aspt:k administratif m~li
puti wilayah nuaional, kart.ma uienurut ket~ntuan umun1 wilayuh.
j.tu adalah ruang. Jadi nanti ko.lau tambah ruang wilayah, muka
pengertiannya ruang-ruang. Judi usul konkrit kami katu ruang disitu dicoret.
KETUA RAPAT :
Memang kalau ~~nurut pemahaw.an saya, itu biso. sajo. dihi -langkan, tetapi kalau ditarub 4i~itu juga tidak keliru, yang suya katakan tadi kan·ru.ang yang k~-2 itu merever kepada pena-taan. jadi.orang lebih jelas lasi sebetulnya, tapi sayu sepa -kat dengun penjelasan Pemerintab tadi bahwa yang baku itu ada-lah •••••••••••
ARMUS
I·'.,
I
I
I'~
.,I ~·
I I
'I
I ~-I I I
I.
~ I
I I I I
.. l I
75
-lah wilayoh nasional, wilayah daerah tingkat I dan wilayah da-erah. tingkat II. Jadi jangan dimengerti bahwa·ini lalu nanti kalau ada tata ruang menjac;li ruang-ruang, saya kurang sepakat kalau itu. Sebab ruang disini adnlah merever ke depan, ke pen~
taan ruang itu. Ruang yang dimaksudkon di penataan ruang it~
c;lijelaskan lebih lonjut oleh kota ke-2 ini, yaitu wilayah na~
siqnal, wiloyah ini, wilayah ini, pengertiarmya begitu.
Kalau-pun dihilangkan memang bisa saja bagi orang yang mengert1, ta-pi kalau ditaruhpun tidak berleb1han, kalau menurut pendapat saya.
Oleh karena itu saya katakan tadi kalau daripada kita berlama-lama disini, barahgkali kita ser.ahkan saja kepada ahli bahasa bagaimana yang bagus. \
F•ABRI, N.M. BUDI WALUJO
Memang kami pikir perlu ke ahli bahasa, yang konsisten itu sebetulnya Pasal 6 ayat (1). Itu mengalirnya enak sebab yang kita atur sekarang ini dalam Bab, I I I itu adalah penataan ruangG Obyeknya opa ? Kalau menurut administrati! yo wilayah
n~sional, tingkat I, tingkat II. Kalau !ungsi, ya lindung dan budidaya. Tinggol mengotur urutan kalimatnya saja. Seperti pa-da Pasal 6 ayat (1) : Penataan runng meliputi kegiatan penata-an rupenata-ang wilayah nasional, wilayah Dati I, wilayah Dati II.
Jadi kalau untuk diterapkan di kawasan lindung fungsinya ada -lah penataan ruang wilayah kawasan lindung, kawasan budidaya.
Jodi jangan kita obyek:nya itu tetap soja wilayah nasional,
Da-t i I, Dati II. Obyek yang pertama tadi kawasan lindung, kawas-an budidaya.
Jadi kami cenderung untuk diserahkan saja kepada ahli bahasa dalam Panja nanti.
KETUA RAPAT :
Kalau menurut pendapat saya memang Pasal 6 ayat (1) itu sama dengan Pasal 5 ayat (2) ini perumusonnya.
F.PDI, DRS. MARKUS 'WAURAN : Bagi kami beda.
KETUA RAPAT :
Bedanya dimana ? ruangnya juga dua kali, coba dibaca itu.
Penataan •••••••••
ARMUS
I I I
I.
-;.·
I~
~·I I I I I . l -.
I
76
-Penatuan ruang meliputi kegiaton penataan ruang wilayah nasio-nul, wiloyah daerah tingkat I, wilayah daerah tine;kat II.
Kulau kalimatnya sajo, t"uangnyo
juga dua kali muncul.
In!seb!
narnya sama, tapi seperti saya katakan tad! bisa saja kita ta-nyo.kan kepa.da ahli bahasa. Itu saja kita tanyakan kepada ahli bahasa, saya juga tidak berpretensi bahwa Pemerintah atau sayn ini lebih pintor ba.hasanya dari s.audara-saudaro., tidak.
Kita tanyakan saja, tap~ substonsinya sudah kite mengerti.
Jadi bagaimana '/ ki ta terima saja Paxa.l 5 o.yat. (l') dan ay:;it
(2) ini ? \
F.PDI, DRS. MARKUS WAURAN :
\
Biso, dengon catatan kntQ ruang itu barangkali kita minta pertimbangan dari ahli bahasa.
KETUA RAPAT :
Sudah beekali-kali saya ucapkan disini, mungkin 3 - 4 ka-li saya ucupkon disini.
lTudi rumusan ayat (1) don (2) ki ta terimo rumusan Pemerintah seperti yang saya bacak~n tadi, nanti kita check lagi kep~dQ
nhli bahasn apakah betuJ.> katn ruong in! ? kelebihan atau ku -rang ? saya tanya lag!, tidok opa-apa, sedan~kan oyat (3) kita balms logi nan ti di Ponja. Setuju ?
•,
( FRAKSI-FRAK$I DAN PEMERINTAH SETUJU )
· Ketok l X Baik, kita sekarang ke Pasal 6. Disini ada usul perubahan dari FKP, penyempurnaan redaksi. Demikian juga F.ABRI, F.PP tetap , F.PDI kalau tidak salah disini tetap, tapi nanti memang kalau
ado usul perubahan silahkan saja angkat tangan.
Soya persilahkan FKP dulu.
FKP, DRS. ALOYSIUS ALOY :
Dori apa yang sudah kita bohas tadi, FKP merasa bohwa ini suduh terbahaskan, karena FKP todi mengusulkan Pasol 6 ayat (1) itu menjadi Pasal 4 ayat (2) dimana sudah disempurnakan S!
hingga menjadi rumusannya : Penataan ruang berdasarkan aspek odministratif meliputi ruang wilayah nasional, wilayah daerah tingkat I don wilayah daerah tingkat II.
Sehingga ••••••••
ARMUS
I·
I
1~
•I~·
I I I I
~
I I I
I.
I
~--1 I I I I ..
l
~
I
77
-Sehinggo menurut FKP Pasal 6 ayat (1) itu sudah kita over di Posal 5 ayat (2) itu tadi1 sehingga menurut kami sudah kita ba has.
KETUA RAPAT :
seperti yang saya katakan ta.di kalau menurut pendapat sa.-ya Paso! 6 ayat (1) itu sudah soma dengan Pasal 5 ayat (2) to-di. Namun kolau belum puas, kita konsultasikan lagi dengon ahli bahosa. Persilnhkan F .ABRr'~
F.ABRI, N.M. BUDI WALUJO :
F .ABIU melihot Pasol 6 ayat ( l) dun oyo.t (2) sudah
terba-.hos. Pasol 6 ayat (1) ki.ta ~etujui ke ahli bahasa, ayat (2)
i-ni kita Ponja kan.
KETUA RAPAT :
F.ABHI ini sudoh sekaligus ke ayat (2), saya persilah.kan kepada F.PP.
~ ~···
... .
_J
ARMUS
t~;';
...
I I>--
~1,·
I , I I I
1~~.
I I I
I.
l
I I I I 1·
•l
I~
I
78 -F.PP, DRS. H. SUANDI HAMBALI :
I
F.PP pada DIM TETAP. Tet~pi karena pembicaraan terc:;lahulu memang sud.ah menjalar ke sini rupanya, saya baru Ulenyadari juga.
Tetapi di sini ada perkataan "secara terpadu dan tidak clapat dipisab-pisahkan". Dan pada ayat (2) nya ada ·sebagai bagian dari penataan wilayah, diselenggarakan se'bagai 'bagia.n daripa<ia wil.ayah, ini belum ter&mpungkan atau sudah tertampung. Ini ka-mi minta penjelasan darl Pemerintah, ayat ( 1) nya, secara ter- · padu dan tidak dapat dipisah-pisahkan, dan ayat (2) masih akan kita bicarakan nanti di tingkat Panja. Sedangkan ayat (3) belum kita bicarakan.
Terimakasih.
KETUA RAPAT, R.K. SEMBIRING MELIALA : Terimakasih.
Saya persilakan F.PDI.
F.PDI, DRS. MARKUS WAURAN :
Saudara Ketua, 'barangkali kami agak berbeda dengan !raksi-fra.ksi yang lain, bahwa Pasal 6 ayat ( 1) ini substansinya 'beda dengan Pasal 5 ayat (2). Kalau Pasal 5 ayat (2) sebenarnya pe-ngertiannya. Penataan ruang b~rdasarkan aspek administratif
me-liputi wilayah nasiona~ Tingkat I, Tingkat Il. Sedangkan disini bahwa penataan ruang, kami langsung dengan penyempurnaan redak-si : Penataan ruang yang berdasarkan aspek administraredak-si yang meliputi wilayah nasional, wilayah Tingkat I, dan wilayah Ting-kat II, ditata atau diatur secara terpadu· dan tidak dapat dipi-sah-pisahkan. Sehingga substansmnya beda dengan Pasal 5. Demi-kian juga dengan ayat
(2),
tetapi nanti kita bicara sebentar dengan ayat(2).
Jadi Fraksi kami tegasnya berpendirian ballwa ayat (1) dipertahankan cu.ma kami sempurnakan redaksinya, seba-gaimana yang kami sebutkan tadi.Terimakasih.
fil!:TUA RAPAT, R.K. SEMBIRING MELIALA :
Terimakasih, saya persilakan Pewerintah • PEMERINTAH, PROF. DR. EMIL SALIM : 4
Memang benar Saudara Ketua, isi slt'bstansi adalah·pena~an
ruang •••••••••
ARMUS
I I
I~
1:
I I I I
r
I I
1.
1.
l,J_
I I I I
I
J I'··
I
79
-ruang;Wilayah nasionalwilayah Daerah Tingkat I, dan wilayah Da-erah Tingkat II, penataa.n ruang dari tiga wilayah itu dilaksa-nakan secara terpadu dan tidul< dapat dipisah-pisahkan; itu sub-stansinya. Jadi kalimat ini diperbaiki, Pasal 6 ayat (1) : Penataan. ruang wilayah nasional, wilayah Daerah Tingkat I, wi-layah Daerah Tingkat II dilaksanakan secara terpadu d~n tidalc dapa t dipisah-pisahlrnn.
Terimakasih.
l<E~l1UJ\ Hf PA'l\ 11. K. SEMBif\ING MJ~LIALA :
. ;'.'.•
J adi Pemerintah sudah menye1npurnakan Pasal 6 ayat ( 1) ini, bunyinya menjadi : Penataan ruang wilayah nasional, wilayah
Da-erah Tingkat I, wilayah Oaerah Tingkat II dilaksanalcan secara terpadu dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
F .KP silal<.an.
F.KP, DRS. ALOYSIUS ALOY :
Kami memahami apa yang dikewukakan baik oleh F.PDI dan Pe-aerintah mengenai makna yang dikandung dalam Pasal 6 ayat (1).
Memang dalarn usul kami, kami menampung itu dalam Pasal 5 ayat (2). Dan itu sudah kita sepakati. Oleh karena itu untuk menam-pung aPa. yang dir.naksudkan oleh Pasal 6 ayat ( 1), rnaka kami ingin mencoba ~erumuskan suatu rumusan penyempurnaan sebagai berikut : Pasal 6 ayat (1) Penataan ruang 5ebagaimana dimaksud Pasal
5
ayat (2) dilakulcan secara terpadu dan tidak dapat dipisah-pisah-kan. Jadi kita rnengacukepada Pasal 5 ayat (2) yang sudah kita sepakati tadi. Jadi dia tidak. seolah-olah berdiri sendiri, te-tapi kita mengacu kepada Pasal 5 ayat (2). Pasal 5 ayat (2) ada-lah menyangkut penataan ruang wilayah nasional, wilayah Daerah·
Tingkat I dan wilayah Daerah Tingltat II.
KE't.'UA RAPAr1', H, K. SEMBIH.ING MBLIALA : Saya persilakan F.ABRI.
F.ABRI1 N.M. BUDI WALUJO ;
' \
Begini Pak. Substanei mula Pasal 6 ayat (~) ini : penataan ruang m~liputi kegiatan penataan ruang wilayah n~sional, Dati I, Dati II. Setelah kita berbicara ~a.di, Paaal 5 ayat (1), (2), (3), substansi ini d;irubah, silakan. Kalau yang aslinya itu, ...
substansinya •• • • • • • ••••••
ARMUS
~:~ltf.:,;· .. :·'
I
I~··
'1:
I I I I
~
I I I
1.
l.J,._
I I I I I
•I~
I·~·
I
80
-substansinya : penataan ruang meliputi penataan ruang wilayah nasional, I, II. Setelah tadi kita bahas Pasal 5 ayat (1), (2),
(3),substan~i ini. tergeser. Pe~geseran ini kita terima semua rupanya. Sebab·kala\l tidak, kita lihat dalam DIM berbeda dengan yang diutarakan semua fraksi demikir:n. Tetapi dari F .POI TETAP.
Yang diutarakan tadi konsisten dengc.n pembahasa,n Pasal 5 (1),
(2).
Apakah kita mau d~skusi menuju· ke sana, gieruba,h sekalian,a~au bagaimana. Pemerirt~h I 1 tadi secara tidak sengaja mengajukan , konsep perubahan total karena ;erubahan Pasal 5 tadi. Kalau itu yang dianut, mari. Dan,kami sepakat dengan apa yang dirumuskan rekan dari F.KP, tetapiwenunjuknya jangan ayat (2) saja, te-tapi ayat
(1)
juga. Kawasan lindung, budi daya, wilayahI, II,
nasional dan perkotaan itu terpadu, tidak bisa dipisab-pisah-kan. Tidak ada kawasan lindung sendiri, kota sendiri, desa sen-diri. Jadi kalau boleh Pasal 6 ayat (1) 5eperti konsep rekan dari F.KP ditambah : sebagaimana diatur d.alam Pasal 5
(1), (2),
(3) dilaksanakan secara terpadu dan tidak dapat
dipisa.h-Pi$ah-kan.
Terimakasih.
KETUA RAPAT, R.K. SEMBIRING MELIALA : Terimakasih.
Saya persilakan F.PP.
f.:PP, DRS. H. SUANDI HAM:SALI : Terimakasih.
Kami cenderung untuk sependapat dengan konsep bari Peme-rintah karena memang substansi sebagaimana yang dikemukakan oleh F.ABRI, memang tadinya ad.a dua substansi, satu ruang ling-kupnya, yang kedua sifatnya yang secara terpadu dan tidak da-Pat dipisah-pisahkan. J.adi kalau aspek yang pertama tadi telah ma.suk ke Ps.. . di atasnya, maka ketentuanyang kedua ini masih tetap berlaku dan sangat penting·dimuat dalam pasal ini. Adapun ad.a gagasan untuk mencantolkan ini 5ebagai keterangan daripada pasal di atasnya, saya kira kalau ini tetap berdiri sebagai pa-sal, ini adalah kurang lazim. Sebab biasanya keterangan seperti itu dalam keluarga satu pasal diantara ayat dengan ayat. Ada.pun pasal dengan pasal adalah dalam rangka sanksi pidana. Jadi kami pikir untuk tidak menyulitkan pembahasan kita ini, kita tetap · dengan berupa pasal dan kita tetap kita sependapat dengan
penda-pat ·dar.i pihak Pemerintah. ...
Terimakasih.
ARMUS
I';'·
I I>-·· ..
I~·
I I I I
~·
I I I I.
I
~I I I I I
•I
It
I
81
-KETUA RAPAT, R.K. SEMBIRING MELIALA : Terimakasih • •
Saya persilakan F.PDI.
F .PDI 1 DRS. MARKUS 1,vAUHAN :
;
Saudara Ketua, Saudara Mt;interi dan Saudara-saudarQ. sekalia:1.
F.PDI datang den~an usulan baru tadi, walaupun dalaro DIM T£TAP, itu 5ebagai konsekwensi daripad~ Pasal 5 berubah. Sehing-.
ga kita datang dengan usul penyempurnaan dimana menurut pendiri-. an Fraltsipendiri-. ka~~i Pasal 6 TE1rAP ada rumusan seperti ini, sub5
tans1-nya seperti ini karena mem~p.g berbeda dengan Pasal 5 ayat (2).
'· ~
· Tadi 5udah kami usull{an, kemudian Pemerintah datang dengan suatu rumusan yang lebih bagus, kami dapat r.aenerima rumusan dari Peme-rintah, yang kalau tidak s.~lah bunyinya : Penataan ruang yang me-liputi wilayah nasional, wilayah Daerah Tingkat I dan wilayah Da-erah Tingkat II, dilaksahakan secara terpadu dan tidak dapat di-pisah-pisahkan.
Terimal\:asih.
KE'I'UA RAPAT 1 R.K. SEMBIHING ME:LIALA.:
Nampaknya beberapa fraksi sudah dapat u1enerima usulan yang terakhir dari Pemerintah. Tetapi ma~ih ada beberapa hal yang rna-sih perlu minta penjelasan dari pihak Pemerintah. Karena itU sa-ya persilakan Pemerintah untuk menanggapi.
PEMEHINTAH1 PH.OF. DH. EMIL SALIM :
Saudara Ketua, yang dilakukan secara terpadu adalah penata-an rupenata-ang, tiga wilayah. Jadi penatapenata-an rupenata-ang wilayah nasional, wi-layah Daerah Tingkat I, wilaya.h Daerah Tingkat II dilaksanalcan secara terpadu dan tidak dapat dipisah-pisahltan. Mungkin kalimat terakhir bisa nanti dengan Pusat Baha~a supaya menaalir : dilak-sa.nakan secara terpadu dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Tetapi yang terpad·ll itu adalah penataan ruang wilayah nasional, wilayah Dati I, wilayah Dati II. Jadi meliputi kegiatan terhadap ruang mungkin tidak perlu ditulis di sin1.
KETUA RAPAT1 R,K. SEMBIRING MELIAIA :
I 1
Jadl saya kira Pemerintah konsisten tetap dengan usul yang tadi sudah disempurnakan. Saya akan minta persetujuan dari !r~k
si-!ra.ksi tentang Pasal 6 ayat (1) 1ni.
ARMUS
I I .._ ..
r
I~·
I I
·1 :I
~·
I I I
I.
~ I
I I I I I If I
82
-Saya persilakan F.KP.
F.KP, DRS. ALOYSIUS ALOY :·
Bapak Ketua, kami melll.ahami betul, 9-an inipun sudah ter\Wlus-dalrun beberapa pasal.dari RUU ini, bahwa memang penataan
ruang
antara wilayah nasional, wilayah Daerah Tingkat I dan wilayah Daerah Tingkat I I itu memang saling kait mengkait. Oleh kare.na itu dalam Pasal 18, 19, 20,·21 dikemukak.an bahwa penataan ruang Dati I berpedoman pada tata ruang wilayah nasional. Demikian ju-ga penataan ruang Dati I I berpedoman pad.a rencana tata ruang Da-ti I dan nasional. Memang betul yang dikatakan oleh Pemerintah bahwa penataan ruang itulan yang harus terpadu antara ketiga wi-layah ini.. ", \
Memang tadi kami mengu5ulkan suatu rumusan untuk menunjuk keterkaitan saja pada Pasal 5 ayat (2), dimana dalam Pasal 5 ayat (2) yang 5udah kita sepakati bahwa penataan ruang berdasar-kan aspek administratif itu meliputi wilayah nasional, wilayah Dati I dan wilayah Dati II. Dalam Pasal 6 ayat (1) ini tadi ka.Jni
men.gemukakan menuju ke sana. Penataan ruang sebagaimana dimak-sud pada Pasal 5 ayat (2) dilaku.kan secara terpadu dan tidak da-pat dipisah-pisahkan. Sebenarnya maksudnya itu tidak terlalu
ja-uh beda. Hanya rumusannya kami mengacu kepada Pasal 5 ayat (2), sedangkan Pemerintah tetap i,ngin berdiri sendiri pada.Pasal 6 ayat·(1). Hanya itu saja sebenarnya perbeda~ya. Kita sudah
me-ngemukakan tadi bahwa Pasal 5 ayat (2) itu adalah mengenai pena-taan ruang wilayah nasional, wilayah Dati I dan wilayah Dati II.
Inilah penjelasan kami, terimakasih.
KETUA RAPAT, R.K. SEMBIRING MELIALA :
i
Ya penjelasannya sudah jelas, posisinya yang saya belum
je-las. Jadi posisinya masih belum bergeser.
Saya persilakan F.ABRI.
F.ABRI. N.M. BUD! WALUJO :
F.ABRI sebetulnya tidak ada perbedaan, hanya konsisten de-nga.n tuguan. Tujuan penataan ruang adalah keterpaduan semua ke-pentingan. Jadi yang terpadu dan saling mengkait itu tidak hanya nasional, Dati I, Dati II tetapi kepentingan yang diatur pada konsep tadi. Mengenai kawasan lindung, budi daya juga harus terpadu dengan wilayah Tingkat
I, II,
nasional. Demikian j~gavyang••••••••••••
ARMUS
I:
I
I>--~
I·
I I I I
i~-1
I
I~
I·
14-1 I I I I I
IJ,.
.~:;'
I
83
-yang lain-lainnya. Jadi keterpaduan itu OK tetapi dalam konteks
~eseluruhannya, jangan hanya wilayah nasional, I, II, nanti ka-lau membuat ini cuek dengan yang lainnya, kita buat saja rencana tata ruang, lindung sendiri, tidak mengltait pada tata ruang yang lainnya. Kan jadi bubar nariti. Jadi kita menyempurnakan bahwa ke-terpaduan itu tidak hanya berlaku pada ayat (2) Pasal 5 tadi, te-tapi (1), (2), (,).
Terimakasih.
KE'rUA RAPAT 1 R.K. SEMDIRING MgLIAI.A ;
Jadi konkritnya F.ABRI apakah roasih perlu ad.a tambahan kali-mat atau tambahan ayat lagi pada Pasal 6 ini, untuk menunj\lkkan bahwa tata ruang kawasan lain-lain itu juga secara terpadu dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
F .ABH.I 1 N.M. BUD! WALUJO : ).
'1, I,
Penataan ruang dilaksanakan 5ecara terpadu dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
I<f~TUA RAPAT 1 R.K. SEMBIRING ME;I,IALA :
Ya, kalau begitu $aya lebih mengerti lagi maltsudnya. Jadi kalau F.ABRI tidak perlu lag! disebutkan wilayah-wilayah karena
\
.
semua penataan ruang haru~. terpadu dun tidak dapat dipisuh-pisah-ltan.
Silakah F.KP.
F .KP, ANDI MATTALAT 1 SH. M.
f!t :
Mungkin ada satu kata kecil yang terlupakan dalam Pasal 6 yang selama ini kita tiqak sebut-~ebut. Subyek di sini sebenarnya bukan . penataan ruang wilayah
...
na~ional,.tetapi . kegiatan penataan ruang wilayah na~io~al, Tin~k~t lqan
fin~katII,
kegiatan itu' ' .
yang harus ttF~~q.u, l3ellw~
qa+am
'~~p"a.,t ~'~laaJlruang
wilayahnasional~ .Tingl).~t
+
~~ +'~~f~~.;p:
~i~~· ~td~~ ~tara fungsibu-didaya dan tung~~
tµi4unf,, ·;s.itµ,
J>,~.r"q~l.~.ny'° ~i 1;~P,tpat lain~ Barang-kali .j. tu r~·P.$ 4~~~~p4cq.
~~~ f~~ ,:r~qi,¥f.it1i
}~r;p~d~ di sini se-h~nge;a P~~C?P~ol~pfa ~~r~~~ rfa-~~~n ~~~~Rf,~! ~;ngkat I ~an Tipglc~t It ~~l~ lte:~,~~, ~~m,..~t~ r~fM1~1,_,. ~Etgiatan penataan~an~ ~~ion~tr ,fttlf.~~~
:t,
~~~~R~ J>,~i~. ~tne;~at II dilaku;kan secar~ t~rp~qUi ~~b~~ 4ida.~~W. ~ela~uk~ ~~fiatan penataan
I ! '
ruang ... .
. \
ARMUS
I I
1~
rI
~,I I I I
1~·
I I I
..1 ..
I~.
I I I I I
•I lt I
-..
,.84
-ruang Tingkat I, Tingkat II dan nasional ada keterpaduan antara fungsi budi daya,·fungsi lindung dan kawasan-kawasan lainnya, itu pasti. Dan itu bukan di sinirndiat\ll'.
Barangkali begitu Pak.
KETUA RAPAT, R.K. SEMBIRING MELIALA : I I
Ya coba nanti fraksi-fraksi yang lain memikirkan.
Tadi di Pasal 5 ayat \(3) ada kata 11kegiatan11 , l<ita semua me-ngatakan, kenapa tilia-tiba inuncul 11kegiatan", lalu kita coret.
Sekarang kolt diusulkan lagi mamba.has 11ltegiatan", apa ki ta nanti tidak bolak-balik. Artinya tadi, kata "kegiatanu itu sendiri kita tidak setuju, untuk sekarang diterima d.alam kaitan penataan ruang.
Jadi menimbulkan kebingungan. Padahal Peme:c-intah sudai.1 muncul
ta-di penataan ruang dari aspek fµngsi kegiatan tetapi tidak ada
frak-si yang menerima. Sekarang dimunculkan lagi kata 11ltegiatan".
Pe-merintah lebih konsisten, dicoret kata "kegiatan" itu.
Silakan Pemerintah.
PBM8RINTAH, PROF.· DR. EMIL SALIM ;
Begini Saudara-saudara sekalian.
Yang dipadukan penataan ruang. Yang diartikan dengan penata-an rupenata-ang adalah proses perencpenata-anapenata-an, pempenata-an!aatpenata-an rupenata-ang dpenata-an pengen-dalian. Ini harus terpadu, mengapa. Ini betul terjadi. Ada
Kabupa-ten~ Bupati melihat kepentingan kabupatennya •. Masuk akal, betul dia ha~s berjuang untuk ltabupatennya, terjadi di Jawa Tengah.
Ada po.lur di Karanganyar pµnya irigasi., teta.Pi day a serap irigasi PBBnya lebih kecil kalau menjadi industri. Maka Bupati Karanganyar memutuskan merencanakan wawasan industri di palur tersebut. Se-hingga investasi irigasi yang irigasi mempengaruhi kabupaten lain-nya te~ganggu. Maka perencanaan penataan ruang, proses perenca-: naan tata ruang Kabupaten Karanganyar itu tidak mengindahkan
pe-rencanaan tata I'4ang dari kabupaten lain clan Propinsi Tingkat I.
Ini yang terjadi. . ~adi yang ·, kita. makeud seka~ang
.
; He.Saudara-saudara B~:pati., Q~P,erou:r fl.aNs g.i~la!D p~nat~~ jangan melihat diri send;iri s~~~' l~~~i nar\l~ ·~~lihat~~~erl~an yang lain. Am-bil BadlJtl~·di ~~li, ~usa~ ~on~~Q~fafi dar+ hotel-hotel. Padahal :dalam pe~antaat~ ~~~~ ~~~ t14~~ hanya B~dUAf sehingga harus;µiensinkrQnkap_ 4f1ff-P~~¥a·~~4a ~~li Barat dan
'ebagainya.
Demikian.seteru~nya yan~ ki~~ j~pai.
Sek~rang Pr~pin~i.
Keadaan alam
dt
Sulawesi Selatan mendorong pemanfaatan alarll ••• , • , • , ••ARMUS
~?·' :~;·
I
I+-
~1:
I I I I
lk
I I
1.
I~
1t
I·
I I I I '
I
k-l
85
-alam sebaik-baiknya u,ntuk pertanJ.an, ·bagi kepentingan nasional.
Tetapi pertanian daya serapnya lambat, dinamika lambat, karena
i tu Propinsi Sulawesi Sel.atan ingin industri. Maka daerah perta-nian yang baik untuk pertaperta-nian akan dirubah untuk industri. Da-ri sudut propinsi saya mengerti, tetapi dari sudut nasion.al itu tidak baik. Karena itu pemanfaatan ruang propi,nsi harus terpadu, tidak dipisah-pisahkan denga.n nasion.al. Ini sebetulnya. Jad~ apa yang tidak dipisah-pisahkan ? Ialah penataan ruang yang isi ada-lah proses perencanaan, pemanfaatan ruang dan pengendalian. Ini penataan ruang dari naslonal, propinsi, kabupaten jangan dipisah-pisa.hkan.
KETUA RAPAT, R.K.SEMBIRING MELIALA : ,;
Baik, barangkali dari fraksi-fraksi lebih jelas lagi untuk m.enyatakan sikapnya, posisinya.
Saya persilalan F.PP.
F.PP, DRS. H. SUAl\ffiI HAMBALI : Setuju.
KETUA RAPAT1 R.K. SEMBIRING MELIALA : Silakan F.PDI.