BAB III. KEPEMIMPINAN RELIGIUS DALAM SUDUT
B. Kepemimpinan Religius
Dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja menegaskan :
Para pemimpin hendaknya melaksanakan kuasa yang diterima dari Allah lewat pelayanan Gereja dalam semangat pengabdian. Maka dalam melaksanakan tugasnya hendaknya mereka peka terhadap kehendak Allah, memimpin bawahannya sebagai putra-putra Allah, serta mengusahakan ketaatan sukarela mereka dengan menghargai pribadi manusiawi mereka, dengan senang hati mendengarkan mereka serta memajukan peran-serta mereka demi kebaikan tarekat dan Gereja, tetapi dengan tetap memelihara otoritas mereka sendiri untuk memutuskan dan memerintahkan apa saja yang harus dilaksanakan (Kan. 618).
Gereja mengingatkan para pemimpin religius akan tugas dan peranannya dalam dunia dan dalam Kongregasi sebagai pelayan Gereja yang siap melaksanakan tugas memimpin seluruh anggota sesuai dengan kehendak Allah. Memimpin sebuah kongregasi mengandaikan memimpin umat Allah yang memiliki Kristus sebagai Gembala, Guru, dan Roh yang akan memimpinnya menuju kebenaran. Seorang pemimpin perlu memiliki sikap dan keterampilan kepemimpinan Kristus dan Roh Kudus sehingga Kristus sendiri yang memimpin (Darminta, 2005: 11).
Yesus Kristus datang ke dunia untuk melaksanakan kehendak Bapa demikian hendaknya para pemimpin religius menyerahkan hidup dan karya dalam penyelenggaraan Ilahi karena kesadaran bahwa tugas yang diemban diterima dari Allah sendiri sebagai bentuk pelayanan dan pengabdian seutuhnya terhadap Gereja dan kongregasi demi kemuliaan Allah. Hal ini ditegaskan oleh Sardi (2005: 96) yang mengatakan bahwa: Kepemimpinan religius yang mengemban kuasa dari Allah merupakan amanat yang suci dari Allah sehingga semua yang dilakukan dalam kepemimpinan harus bermuara pada kesucian.
Pengalaman rohani diharapkan membawa setiap orang kepada kesadaran diri guna menghayati hidup rohani sebagai manusia rohani. Dalam hal ini setiap orang ditantang untuk mengenal diri secara terus menerus dan melatih diri untuk
hidup menurut rencana dan kehendak Allah (Darminta, 1993: 25). Pemimpin yang melayani hendaknya memiliki kepekaan untuk melihat dan menemukan kehendak Tuhan dalam memimpin anggotanya selaku putra-putra Allah. Hal ini hendaknya menjadi bagian dari hidup pemimpin religius yang senantiasa mengarahkan hidup dan memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah yang berarti bahwa seorang pemimpin memiliki kemampuan membaca tanda-tanda zaman dan dapat mengartikannya dalam terang cahaya Allah (Sardi, 2005: 57).
Pemimpin hendaknya memiliki tekad memuaskan yang dipimpin dan sungguh-sungguh rindu untuk melayani Tuhan. Dalam pikiran, perkataan dan perbuatan semua dilakukan seperti untuk Tuhan tanpa mengabaikan kebutuhan spiritual. Kesuksesan duniawi harus dilengkapi secara rohani. Kekayaan dan kemakmuran adalah media untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan untuk melayani sesamanya dengan mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dan belajar bertumbuh dalam berbagai aspek, baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dan sebagainya. Harmonisasi diri dengan komitmen untuk melayani Tuhan dan sesama dapat dilakukan melalui refleksi, doa, dan mendengarkan Firman Tuhan.
b. Kanon dalam KHK 619 menegaskan tugas pelayanan seorang pemimpin religius: Para pemimpin hendaknya menunaikan tugas mereka dengan tekun dan bersama dengan anggota yang dipercayakan kepada dirinya berusaha membentuk komunitas persaudaraan dalam Kristus, di mana Allah dicari dan dicintai melebihi segala sesuatu. Hendaknya kerap kali memberi santapan rohani kepada para anggota dengan sabda Allah dan mengajak mereka merayakan ibadat suci. Hendaknya memberi teladan dalam membina keutamaan-keutamaan serta dalam menaati peraturan-peraturan dan tradisi tarekatnya sendiri; membantu secara layak dalam hal kebutuhan-kebutuhan pribadi mereka, memperhatikan dan mengunjungi yang sakit, menegur yang rewel, menghibur yang kecil hati, sabar terhadap semuanya (KHK, no. 619).
Dalam hidup-Nya, Yesus telah memulai membentuk sekelompok murid menjadi sebuah komunitas kenabian. Para murid diajak untuk hidup bersama secara komunal dengan membangun sebuah komunitas pewarta Kerajaan Allah, dengan ikut ambil bagian dalam iman, harapan dan cinta kasih Yesus sendiri (Darminta, 1995: 29).
Di dalam kongregasi religius beberapa orang dipercaya untuk mengemban tugas dari Allah sebagai pemimpin. Tugas ini hendaknya dilaksanakan dengan tekun dan sungguh-sungguh dan bersama para anggota membentuk komunitas persaudaraan di mana Allah dicari dan dicintai. Pemimpin religius adalah tali pemersatu hidup religius yang diharapkan membangun komunitas beriman yang berpusat pada Kristus karena Ia adalah jalan kebenaran dan hidup (Sardi, 2005: 102). Komunitas merupakan anugerah Allah yang menghimpun kita menempuh jalan persaudaraan Injili (Konst. Bag. I. Art. 78-79).
Gereja menganjurkan para pemimpin religius selalu berusaha menjadi figur dan teladan kepada para anggota dalam menunaikan tugas, membina keutamaan-keutamaan dan mentaati tradisi kongregasi dan inspirasi sang pendiri. Lewat tutur kata, cara hidup, sikap dan perbuatan hendaknya menunjukan pelaksanaan spiritualitas kongregasi sebagai dasar pijak, sehingga para anggota dapat menjadikannya sebagai pola panut sebagaimana Yesus kepada para murid-Nya.
Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam diri yang menuntut suatu transformasi hati dan perubahan karakter; kemudian bergerak ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Identifikasinya adalah: orientasi kepemimpinannya adalah melayani kepentingan pengikut dan publik yang dipimpinnya. Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari
kemampuannya untuk membangun orang-orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi mempunyai banyak anggota dan pemimpin yang berkualitas, maka organisasi tersebut akan berkembang dan menjadi kuat. Memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Wujudnya adalah kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya. Artinya seluruh perkataan, pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada setiap anggota organisasinya dan publik. Pemimpin yang melayani berarti pemimpin yang mau mendengar setiap kebutuhan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya, dapat mengendalikan ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan publik atau mereka yang dipimpinnya. Seorang pemimpin sejati selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri dan tidak mudah emosi.
Sardi (2005: 104-105) menegaskan bahwa pemimpin bagai seorang ayah atau ibu dalam keluarga yang membantu secara layak dalam hal kebutuhan-kebutuhan pribadi keluarga mereka, memperhatikan dan mengunjungi yang sakit, menegur yang rewel, menghibur yang kecil hati, sabar terhadap semuanya. Ia senantiasa berusaha menyentuh hati dan menyemangati para anggota. Maka seorang pemimpin hendaknya mencintai seperti Kristus sendiri yang mencintai dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hal ini menjadi pedoman bahwa hidup religius sangat penting untuk mengejar kesempurnaan injili dalam pengabdian demi Kerajaan Allah.
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi anggota kelompok atau organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Seorang pemimpin yang baik diharapkan tahu tujuan yang mau dicapai bersama dan dapat menunjukan jalan menuju tujuan. mempunyai banyak aspek. Dari perspektif alkitabiah kepemimpinan dalam komunitas mulai dibicarakan pada zaman Musa yang dianggap sebagai Pelayan dan Nabi yang kharismatis. Darminta (1993: 15-26) menguraikan kepemimpinan berdasarkan inspirasi beberapa tokoh Kitab Suci diantaranya:
a. Musa
Musa adalah pemimpin yang membawa keluar bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Ia juga membela orang tertindas, membawa kemerdekaan dan memberikan hukum Taurat sebagai dasar bagi Israel. Kepemimpinan Musa bersifat karismatis berasal dari pengenalan dari bangsa yang dipimpin, dan terutama dengan Allah yang diimani. Hal ini berlandaskan kepribadiannya yang prihatin terhadap identitas bangsa Israel yang bermartabat dan berhak atas kemerdekaan. Maka Musa mendasarkan kepemimpinan pada pergaulan, konsultasi dengan Allah dan akhirnya hidupnya disebut Hamba Allah yang menjalankan banyak hal antara lain: mengusahakan makanan dan minuman (Kel 16-17), menanggung beban, ketidakdewasaan, kecemasan dan sunggut-sunggut bangsa (Ul 1: 10.12), selalu berdoa dan menjadi pengantara Allah dan manusia (Kel 17: 11), menguatkan bangsa bila mengalami goncangan, menyampaikan kehendak Tuhan, memberi visi masa depan bangsanya (Kel 19: 3).
Daud merupakan pimpinan pilihan Allah yang masuk dalam penghayatan berbangsa dengan segala kompleksitas hidup bernegara dengan landasan kebangsaan tertentu yaitu sebagai umat Allah. Ia masuk dalam resiko kekuasaan pada mekanisme organisasi bernegara dan bermasyarakat untuk mempertemukan kuasa serta kepemimpinan dengan pelayanan bagi orang yang dipimpinnya. Dalam kerapuhannya Daud dapat membawa dan memimpin bangsa Israel sebagai bangsa yang bermartabat, disegani dengan kemakmuran dan kemajuan. Kebesaran Daud terletak pada keberanian mengakui dosa dan kesalahan Tuhan dan rakyatnya yang merendahkan dirinya tidak hanya sebagai raja tetapi juga martabatnnya sebagai manusia. Daud merupakan gambaran pemimpin yang mau menyesali kesalahan-kesalahan dalam menggunakan kekuasaan, yang sangat rawan di hati manusia. c. Ezra-Nehemia
Mereka adalah tokoh pemimpin yang membangun bangsa dari puing-puing kehancuran yang disebabkan oleh persaingan suku, persaingan berbagai kelompok atau penguasa yang bersifat pribadi dan sebab utama dari kehancuran ini adalah kemerosotan moral. Hal ini jelas dalam para nabi yang menyerukan suara Allah serta suara orang tertindas karena ketidakadilan dan kesewenangan para penguasa.
Para nabi berusaha membela kedaulatan Allah dan kedaulatan orang miskin agar dapat membangun kembali harga diri bangsa serta menyusun kekuatan moral agar mendapatkan hidup yang layak. Hal ini juga menjadi tugas kepemimpinan Ezra dan Nehemia yang mengajak rakyat kembali pada visi dan idealisme yang diletakkan Musa untuk mulai membangun kesadaran religius baru, bahwa semua
adalah citra Allah yang bermartabat yang sama. Ezra dan Nehemia menjadi tokoh pemimpin dan pembaharu yang merealisasikan fundamen baru dan berusaha membebaskan orang dari pandangan statis sehingga setiap generasi mempunyai panggilan untuk mencari dan menemukan jalan baru untuk hidup baik dalam iman dan dalam kemanusiaan.
d. Yesus
Yesus senantiasa membiarkan orang yang percaya dan yang mengikut-Nya mengambil sikap dan menimba inspirasi untuk hidup masing-masing. Yesus tidak tampil sebagai pemimpin kemasyarakatan atau negara. Yesus menuntut rasa percaya dari para pengikut-Nya akan diri-Nya dan misi yang diemban-Nya. Walau demikian Yesus memberi petunjuk, bagaimana menghayati kepemimpinan, ketika Ia berkata kepada para murid yang berebutan tempat terhormat (Mrk 10: 41-45). Lebih lanjut Yesus memberikan petunjuk tentang sikap seorang pemimpin dengan membasuh kaki murid-murid. Yesus berkata:
“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Guru dan Tuhanmu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki, sebab aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu perbuat sama seperti yang telah kuperbuat kepadamu; sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari tuannya, ataupun utusan dari pada dia yang mengutusnya, jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya” (Yoh 13: 12-27).
Penginjil Lukas merenungkan program kerja Yesus sebagai seorang pemimpin dengan ungkapan Yesus:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada para tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk 4: 18-19).
Yesus menunjukkan bahwa apapun kedudukan dan pangkatnya, sudah sepatutnya seorang mengambil prakarsa dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Keselamatan diperuntukan bagi semua orang demikian halnya pengabdian diberikan tanpa membeda-bedakan. Pengabdian dan perbuatan kepada orang yang kecil, lemah merupakan batu ujian kemurnian iman karena Yesus menginginkan dalam hukumnya bahwa semua orang mendapat perhatian dalam pengabdian kita. Hal ini telah ditunjukkan Yesus dalam seluruh hidup-Nya untuk mengangkat martabat manusia itu sendiri menjadi milik-Nya yang berharga (Luk 16: 22).
2. Karakteristik Kepemimpinan Religius
Dalam kepemimpinan pemimpin dituntut memiliki karakteristik tertentu. Berkaitan dengan karakteristik kepemimpinan religius Darminta (2005: 28-34), menguraikan beberapa hal penting antara lain:
a. Melindungi karisma pendiri
Pemimpin religius adalah orang yang secara khusus bertanggungjawab terhadap perkembangan tarekat yang dipimpinnya. Setiap tarekat memiliki kekhasan termasuk di dalamnya karisma pendiri. Tanggung jawab untuk mengembangkan tarekat sangat penting. Tetapi perlu diingat bahwa perkembangan dan perubahan yang selalu dicanangkan dan digalakkan tidak menyimpang dari inspirasi pendiri. Karena Karisma pendirilah yang menjadi dasar dan semangat awal terbentuknya suatu tarekat. Karisma pendiri adalah sumbu dan obor yang diharapkan senantiasa bernyala memberi terang terhadap para pemimpin dan setiap anggota tarekat. Maka setiap pemimpin religius diharapkan untuk menanamkam semangat pendiri dalam karya dan diri setiap anggota tarekat. Hal ini menjadi
tantangan terus-menerus bagi seorang pemimpin religius terutama dalam menerjemahkan dan menyesuaikanya dengan tuntutan zaman dan perkembangan dunia modern.
b. Memajukan Kesatuan dan Persatuan
Tarekat religius hidup bersama dalam semangat persaudaraan yang dibangun dalam kesadaran yang tinggi akan nilai pribadi, nilai perbedaan aspirasi dan gerak-gerak batin yang hidup. Pemimpin hendaknya memperhatikan, mendorong dan mengarahkan anggota demi membangun komunitas, menjadi daya kekuatan untuk karya kerasulan yang semakin efektif.
c. Hormat terhadap pribadi
Dalam memimpin, pribadi setiap anggota perlu dihormati karena seorang pemimpin tarekat bertanggung jawab memajukan kepribadian anggota dan mendorong terlaksananya ketaatan. Hormat terhadap pribadi anggota harus dimengerti secara benar dengan pemahaman bahwa hak-hak pribadi adalah suci. Hormat terhadap pribadi juga berarti mengenal perasaaan, pikiran, menemukan dan memperkembangkan kualitas positif yang ada pada orang lain.
d. Kasih dan Percaya
Pemimpin hendaknya mengembangkan dan menunjukan kasih Allah, menaruh minat dan kepercayaan kepada anggota. Bila tidak ada kepercayaan hubungan akan ditandai dengan ketakutan, ketegangan, saling curiga dan hubungan ini membekukan relasi pribadi dan daya rasuli. Kepercayaan merupakan batu uji apakah relasi pribadi antara pemimpin dan anggota sungguh otentik.
Dalam kehidupan dunia tidak hanya Roh Kudus yang bekerja. Roh jahat yang bersumber pada kekuatan destruktif pun bekerja. Tanda-tanda zaman ini sering membingungkan, bersifat mendua dan tidak jelas. Maka seorang pemimpin perlu mengembangkan kemampuan pembedaan roh, penegasan rohani dan mengenal sumber-sumber gerak roh dengan selalu mengarah pada Kristus, dengan mata Kristus karena ini adalah salah satu ciri tugas pelayanan pemimpin dewasa ini. f. Menyesuaikan unsur-unsur positif
Tahap berikut setelah penegasan rohani adalah bagaimana seorang pemimpin menyesuaikan unsur-unsur positif baru. Tanda-tanda zaman juga mengandung unsur-unsur positif, dan mengandung janji-janji serta undangan Tuhan untuk hidup secara baru. Dialog, tanggung jawab bersama, subsidiaritas, komunikasi antar pribadi memberi kesempatan kepada komunitas dan anggota untuk memperoleh inspirasi serta cara baru dalam menghayati panggilan dan misi. Pemimpin harus berusaha menerapkan dan mengintegrasikan semuanya dalam kepemimpinan dan pemerintahannya dengan mempelajari perkembangan ilmu-ilmu managemen modern, bagaimana membuat perencanaan dan menggunakan sumber daya manusia secara tepat demi tercapainya misi. Managemen yang terbuka akan mengurangi kemungkinan terjadi penyimpangan-penyimpangan yang tersembunyi, yang tidak disadari namun merugikan efektifitas kesaksian dan kerasulan.
g. Memberi inspirasi
Pemimpin yang berada di tengah-tengah situasi yang ditandai ketakutan, keraguan dan ketidakpastian, ketidakberdayaan dan kerapuhan yang sering membawa sikap pesemis dan frustrasi perlu memberi inspirasi dan daya hidup yang mengandaikan seorang pemimpin memiliki kepercayaan besar kepada Tuhan dan
komunitas. Hal ini menuntut sikap realistis dan diperlukan kekuatan adikodrati dan kebesaran jiwa yang berasas pada Tuhan dan penyelenggaraan-Nya dalam menegaskan nilai demi memperjuangkan nilai yang datang dari Tuhan. Untuk itu seorang pemimpin harus memiliki iman yang kuat, sehingga dalam kesalahan apapun ada keyakinan bahwa Allah akan mengubahnya dan mengarahkannya pada kehendak-Nya. Iman memungkinkan seorang pemimpin menerima anugerah kebesaran jiwa yang menjadikannya benar-benar siap menerima anggotanya dengan segala keterbatasan yang biasanya tidak mereka terima. Seorang pemimpin hendaknya berusaha memiliki intuisi dan keterbukaan kepada roh sehingga dapat memiliki impian, keberanian, visi luas, realisme, keteguhan dengan terus menerus berjuang melawan ketakutan, ketidakmenentuan, pandangan picik dan kemapanan. h. Membaharui diri terus-menerus
Membaharui diri terus-menerus adalah tuntutan dasar menjadi seorang pemimpin sejati masa kini. Gambaran seorang pemimpin pada masa sekarang ialah orang yang sadar akan terjadinya perubahan terus-menerus dalam lingkungannya dan menerima kenyataan.