BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Modal Sosial
2.1.2 Kepercayaan
Kepercayaan adalah harapan yang tumbuh dalam suatu masyarakat yang ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur, dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama (Fukuyama, 1995). Kepercayaan sosial yang tinggi dalam masyarakat cenderung memiliki aturan-aturan sosial bersifat positif dan pada akhirnya terbentuk hubungan-hubungan kerjasama yang baik pula (Cox, 1995). Trust (kepercayaan) dapat mendorong seseorang untuk bekerjasama dengan orang lain untuk memunculkan aktivitas ataupun tindakan bersama yang produktif. Trust merupakan produk dari norma-norma sosial kooperation yang sangat penting yang kemudian memunculkan modal sosial. (Fukuyama : 2002), menyebutkan trust sebagai harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran, perilaku kooperatif yang muncul dari dalam sebuah komunitas yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama anggota komunitas-komunitas itu. Trust merupakan produk dari norma-norma sosial koorporation yang menyebutkan trust sebagai harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran, pada norma-norma yang dianut bersama. Trust (kepercayaan) dalam pengobatan tradisional engkong ini sangat diperlukan, tidak hanya antar pelaku pijat terapi namun antar masyarakat satu dengan yang lainnya juga dibutuhkan suatu kepercayaan karena dengan adanya kepercayaan ini maka akan terjalin suatu hubungan kerjasama yang baik.
Tidak ada kecurigaan antara sesama pelaku pijit terapi atau masyarakat lainnya.
17 2.1.3 Nilai Dan Norma
Norma-norma terdiri dari pemahaman, nilai, harapan dan tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang. Norma-norma dapat terbentuk dari agama, panduan moral, maupun standar-standar sekuler seperti kode etik yang berupa pra-kondisi ataupun produk dari kepercayaan sosial. Robert W. Richey sebagaimana dikutip oleh T.
Sulistyono (1991: 15) membagi nilai menjadi tujuh macam, yaitu (1) nilai intelektual, (2) nilai personal dan fisik, (3) nilai kerja, (4) nilai penyesuaian, (5) nilai sosial, (6) nilai keindahan, dan (7) nilai rekreasi. Sementara itu Notonagoro membagai nilai menjadi tiga macam, yaitu :
1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur jasmani manusia.
2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk mengadakan kegiatan atau aktivitas
3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia, yang meliputi : a. nilai kebenaran atau kenyataan-kenyataan yang bersumber pada unsur akal manusia (rasio, budi, cipta) b. nilai keindahan yang bersumber pada rasa manusia (perasaan, estetis) c. nilai kebaikan atau moral yang bersumber pada kehendak atau kemauan manusia (karsa, etis) d. nilai relegius yang merupakan nilai Ketuhanan, nilai kerohanian yang tertinggi dan mutlak.
Sedangkan norma adalah petunjuk tingkah laku yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam hidup sehari-hari, berdasarkan suatu alasan (motivasi) tertentu dengan disertai sanksi. Sanksi adalah ancaman/akibat yang akan diterima apabila norma tidak dilakukan (Widjaja, 1985: 168).
2.1.4 Resiprositas (Hubungan timbal balik)
Resiprositas atau hubungan timbal balik yang dimaksudkan disini adalah kecenderungan saling tukar menukar kebaikan, tukar menukar kebaikan bisa berwujud
18
kepedulian sosial (solidaritas sosial), saling memperhatikan satu sama lain dan saling membantu. Hubungan timbal balik (resiprositas) ini terjadi karena didorong oleh norma dan nilai yang terinternalisasi dalam diri para pengusaha. Rasa kepedulian sosial, saling memperhatikan satu sama lain dan saling membantu yang terjalin antara satu dengan yang lainnya dengan orang lain memang sudah mengakar dalam kehidupan pergaulan mereka sehari-hari. Hubungan timbal balik dapat dijumpai dalam bentuk memberi, saling menerima dan saling membantu yang dapat muncul dari interaksi sosial (Soetomo, 2006: 87). Hubungan timbal balik ini terjadi karena didorong oleh norma dan nilai yang terinternalisasi dalam diri para pengusaha. Rasa kepedulian sosial, saling memperhatikan satu sama lain dan saling membantu yang terjalin antara keduanya.
Sikap dan perasaan kepedulian pedagang dapat kita lihat dari kehidupan sehari-hari mereka sebagai bagian dari kelompok atau warga masyarakat. Sebagai bagian dari suatu kelompok atau warga masyarakat mengakibatkan mereka untuk peduli terhadap apa yang terjadi disekelilingnya, misalnya terjadi musibah (sakit, kematian dan lain-lain), ataupun hal-hal yang berkaitan dengan perayaan (pernikahan, syukuran dan lain-lain), ada masyarakat yang tidak mampu atau masyarakat yang butuh bantuan, ada kegiatan-kegiatan (di perkumpulan, dilingkungan tempat tinggal).
2.2 Penelitian terdahulu
Adapun penelitian terdahulu yang terkait dengan kepercayaan pasian pada pengobatan tradisional, sebagai berikut;
1. Penelitian dari Cecep Eka Permana yang berjudul Masyarakat baduy dan pengobatan tradisional berbasis tanaman. Pada tahun 2009, dengan menggunakan metode deskriptif kuliatatif. Hasil dari penelitian tersebut, masyarakat baduy memilki pengartian sendiri mengenai sakit. Mereka mengatakan orang yang sakit ialah orang yang tidak bisa beraktivitas seperti biasanya atau bisa diartikan seperti aktivitas sehari-hari. Selain itu, seseorang
19
dikatakan sakit, apabila keadaan sakit dinyatakan oleh paraji (dukun) atau kokolot lembur (tetua kampung) barulah orang tersebut dinyatakan benar sakit. Dari pengertian tentang
“sakit” di atas, ada dua hal yang penting, yakni “jika tidak dapat sembuh sendiri” dan
“dinyatakan sakit oleh paraji atau kokolot”. Pada tata cara pengobatan masyarakat baduy mereka lebih kepada rempah-rempah dan memanfaatkan alam sekitar mereka untuk dijadikan racikan obat. Pengetahuan mengenai penyakit dan pengobatannya bagi masyarakat Baduy termasuk warisan tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sejak kecil sebagian mereka telah diajarkan oleh orang tua mereka yang memiliki pengetahuan memanfaatkan tanaman-tanaman tertentu di sekitarnya untuk mengobati berbagai penyakit. Tanaman-tanaman tersebut banyak dan dapat diperoleh di hutan, sekitar ladang, atau sepanjang jalan menuju hutan atau ladang. Beberapa contoh tanaman yang biasa digunakan sehari-hari oleh masyarakat Baduy untuk mengobati penyakit ringan adalah: daun jambu biji untuk mengobati sakit perut, daun jampang pahit untuk mengobati luka, tanaman capeuk untuk menghilangkan pegal-pegal, daun harendong untuk mengobati sakit gigi, dan kulit pohon terep untuk menghilangkan gatal-gatal pada kulit. Maka sebenarnya, masyarakat badauy yang masih terkenal dengan ketradisionalannya baik berupa tindakan bagaimana mereka hidup bahkan sampai mengatasi kesehatan mereka, masih dalam bentuk tradisional.
Persamaan dan perbedaan dari penelitian mengenai pengobatan tradisional sendiri ialah. Yang pertama, pengobatan masyarakat baduy hanya menggunakan ramuan atau rempah-rempah yang memanfaatkan tanaman dari alam, kemudian masyarakat baduy hanya melestarikan budaya mereka kepada satu suku dengan ruang lingkup yang hanya sekiranya masyarakat baduy saja. Sedangkan pengobatan tradisional engkong lebih ke cara atau teknik dan pengobatan tradisional engkong tidak di batasi mulai dari usia, suku, maupun agama.
2. Penelitian dari Prof. Riza Buana Ph.d, Dr Iskandar Zulkarnain, M.Si, Dra Ria Manurung, M.Si, Devi Sihotang, S.Sos, dengan judul Pengobatan Namalo. Dalam Batak
20
Toba berarti 'orang pintar' atau 'dukun', penelitian ini dilakukan pada tahun 2015 dengan menggunakan metode kualitatif yang mana hal tersebut dilakukannya wawancara langsung.
Pengobatan namalo yaitu mereka yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dengan menggunakan herbal. Namalo di masa lalu dikenal sebagai tabib yang menggunakan hal-hal mistis, spiritual dan herbal yang dimiliki oleh para leluhur. Setiap namalo memiliki kemampuan dan pengetahuan yang berbeda-beda dalam memberikan perawatan kepada pasien. Ada namalo yang melakukan pijat refleksi dan menggunakan herbal untuk pengobatan internal. Ada juga namalo yang menggunakan herbal untuk patah tulang ramuan.
Namalo yang tinggal di daerah sekitar Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara, setelah masuknya agama Kristen di daerah Batak Toba pengobatan hanya dilakukan dengan menggunakan herbal. Komunitas Batak Toba memiliki buku medis yang berisi pengetahuan tentang cara menjalani hidup sehat dan juga digunakan sebagai referensi untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Buku ini diceritakan berasal dari Debata Mula Jadi Na Bolon, atau Sang Pencipta. Saat ini pengobatan tradisional suku Batak Toba mulai menunjukkan keterampilan pengobatan herbalis kembali dengan tidak melakukan meditasi ritual memanggil roh saat melakukan perawatan. Namun tetap saja keberadaannya masih ditolak oleh banyak orang Batak, terutama mereka yang beragama Kristen.
Namalo Tobing dan putranya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan patah tulang. Kemampuan Namalo Tobing berasal dari nenek moyang informan dan diturunkan ke generasi berikutnya. Perawatan yang dilakukan oleh Namalo adalah perawatan tradisional menggunakan ramuan herbal. Namalo melakukan perawatan dengan mengurutkan bagian-bagian tubuh pasien yang mengalami patah tulang dan memanfaatkan herbal untuk membantu proses perawatan pasien tersebut. Salah satu pasien yang menerima perawatan dari namalo Tobing, Tn. Siahaan, menderita patah tulang di kakinya karena balok balok ketika bekerja di Malaysia. Ketika dibawa ke rumah sakit, kakinya tidak sembuh sampai akhirnya
21
pasien dan keluarganya memutuskan untuk kembali ke kota asal mereka dan memilih obat tradisional. Tahapan pengobatan yang dilakukan namalo Tobing pada pasien Siahaan adalah dengan melakukan refleksi pada kaki pasien untuk memperbaiki posisi tulang yang patah.
Dalam pengobatan namalo menggunakan campuran yang terdiri dari nasi menir, lada hitam, lengkuas, kincung, kunyit dan dicampur dengan babi gemuk, adulpak, santan kelapa, daun sirih dan air liur burung yang dapat mengembalikan patah tulang kaki burung dan dicampur dengan tanaman yang dibawa oleh burung ini ke dalam sarangnya. Semua bumbu masak dan dicampur.
Persamaan dan perbedaan antara penelitian Namalo dengan Engkong ialah persamaannya adalah bebrapa dari pengobatan Namalo ada yang menggunakan cara atau teknik sama halnya dengan pengobatan tradisional Engkong. Dari sisi penelitian, namalo mendalami teknik secara keseluruhan pengobatan tradisionl namalo tersebut dengan konsep pemberdayaan, sedangkan dalam penelitian Engkong peneliti pendalami pandangan sosiologi dengan teori modal sosial yang mana melihat sisi interaksi antar pasien, masyarakat sekitar dengan Engkong sampai menimbulkan suatu kepercayaan.
22 2.3 Kerangka Berpikir
Bagan 2.1 Kerangka Berfikir
Modal Sosial (Putnam)
\f
Trust
Norma/Nilai
Jaringan
Repositas
Pasien Sembuh
Pasien Sakit
Masyarakat Sekitar
E n g k o n g
Pasien Engkong Pasien
Sembuh Pasien Sakit
Pasien
Engkong
Kepercayaan Pasien Terhadap Pengobatan Tradisional Engkong
23 BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif (Suyanto & Sutisna 2005:116). Pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial yang bersifat kemanusiaan oleh individu dan sejumlah kelompok orang. Dalam hal tersebut pendekatan kualititif sangat memperhatikan suatu proses, peristiwa, otentitas. Penelitian kualitatif biasanya terlibat dalam reaksi, interaksi, dan realitas yang akan ditelitinya. Maka peneliti akan menjalin interaksi yang lebih intens dengan responden ataupun obek penelitiannya.
Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif tentu adalah metode yang digunakan pada umunya untuk mengetahui permasalaha di masyarakat. penelitian dan orang yang diteliti (informan) diharapan bersama-sama memberikan arah pada jalannya dan keberlangsungan penelitian tersebut. Dengan peneliti memilih untuk menggunakan penelitian deskriptif kualitatif hal tersebut harapan bagi peneliti agar bisa menggambarkan secara tepat mulai dari sifat-sifat, individu, keadaan, gejala dalam suatu kelompok tertentu di lokasi penelitian. (Idrus, 2009:24)
3.2 Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian di Kelurahan Pujidadi Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai. Alasan peneliti mengambil lokasi tersebut dikarenkan banyaknya masyarakat Kota Binjai yang mulai antusias mengambil keputusan untuk melakukan perobatan dalam bentuk tradisional, dan lokasi ini juga tempat aktivitas pelaku pengobatan tradisional singgah untuk melakukan prakteknya.
24 3.3 Unit Analisis Dan Informan
3.3.1 Unit Analisis
Unit analisis adalah keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin 2008:266). Unit analisis ialah bagian yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Dalam pengertian lain unit analisis merupakan satuan yang diteliti berupa individu, kelompok, benda atau suatu latar perstiwa sosial, dan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan fokus atau komponen yang diteliti. Kegunaan unit analisis ini untuk menguji validitas dan reabilitas dalam penelitian agar tetap terjaga. Unit analisis ini dapat berupa penelitian dapat berupa inidividu, kelompok, organisasi, benda, wilayah tertentu sesuai dengan fokus permasalahan yang ada. Kemudian, dalam penelitian ini yang menjadi unit analisis penelitian adalah masyarakat yang memakai jasa pengobatan tradisional “Engkong” di Binjai.
3.3.2 Informan
Informan di dalam penelitian kualitatif berkaitan dengan bagaimana langkah yang ditempuh peneliti agar data dan informansi dapat diperoleh dengan baik. Informan merupakan sasaran atau subjek yang memahami permaalahan penelitian (Bungin, 2014:78).
Dalam penelitian ini terdapat dua jenia informan yakni informan kunci dan informan tambahan.
1. Informan Kunci
Adapun informan kunci yang menjadi kreteria peneliti ialah, masyarakat kota binjai yang melakukan pengobatan tradisional pada pengobatan “engkong”. Selain itu juga masyarakat yang datang dari luar kota binjai dan memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pengobatan tradisional “Engkong”.
2. Informan Tambahan
Adapun yang menjadi informan tambahan dalam penelitian ini ialah pelaku pijit terapi buang penyakit itu sendiri, yang mana pelaku terapi sering dikenal dengan sebutan
25
“Engkong” oleh pasien yang datanng untuk berobat. Guna adanya informan tambahan untuk sedikit mengetahui bagaimana cara ataupun teknik dalam pelaksanaan pengobatan tersebut yang menjadikan masyarakat tertarik dan meletakkan kepercayaan pada pengobatan tradisional engkong.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data atau informasi yang akurat dalam penelitian di lapangan, maka diperlukan alat pengumpulan data dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat mejelaskan dan menggambarkan masalah dan kondisi, individu atau kelompok yang bersangkutan dengan penelitian (Usman, 2009). Dalam proses pengumpulan data, peneliti akan menggunakan beberapa teknik, agar mendapatkan kesesuaian peneliti dan mendapatkan fokus dan kebutuhan penelti dalam mengelola data dan informasi nantinya.
3.4.1 Data Primer
Data primer adalah sumber data yang diperolah langsung dari sumber asli dan tidak melalui media perantara, data primer berupa opini subjek atau orang secara individual maupun kelompok, hasil observasi dari bentuk benda ataupun sebuah kejadian.
1) Observasi
Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah observasi, dimana metode observasi merupakan suatu pencatatan hasil penelitian yang bukan hanya sekedar mencatat tetapi juga ada pertimbangan yang kemudian mengadakan penelitian ke dalam suatu skala bertingkat menuju penelitian. Yang dilakukan pertama kali dalam pengumpulan data adalah pra-observasi. Teknik ini merupakan kegiatan yang pertama sekali dilakukan oleh peneliti, hal ini guna untuk mengetahui gambaran awal dari tema yang ingin diteliti. Kemudian, setelah melakukan pra-observasi dan observasi di lapangan, selanjutnya peneliti melakukan teknik pra penelitian. Adapun adalah teknik pra penelitian ada alat-alat yang dibutuhkan seperti, catatan, alat tulis, kamera, dan juga literature yang berhubungan dengan kajian
26
penelitian ini. Selanjutnya mempersiapkan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan peneliti dalam melakukan teknik pengumpulan data, dan lanjut pada bagian wawancara.
2) Wawancara
Teknik wawancara dilakukan secara mendalam. Teknik wawancara adalah teknik yang dilakukan dengan percakapan bermaksud untuk mendapatkan informasi yang mendalam dan informasi yang dibutuhkan peneliti. Percakapan tersbut dilakukan oleh dua orang yaitu, pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberi (Maleong, 2000). Tujuan wawancara dalam sebuah penelitian untuk mengumpulkan keterangan dari berbagai informasi kehidupan masyarakat serta berbagai hal yang menyangkut dengan data, yang didapat dari beberapa orang yang disebut sebagai informan.
Teknik wawancara juga dilakukan secara terstruktur, artinya peneliti telah menyiapkan draft pertanyaan untuk mempermudah peneliti ketika sedang melakukan wawancara dengan informan. Dipertanyakan dengan informan dengan terstruktur dan baik, dan upayakan untuk meminimalisir pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan.
3) Dokumentasi
Dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi. Metode dokumentasi merupakan metode penelusuran data historis. Sebagian besar adalah data yang berbentuk surat-surat, catatan harian, laporan. Kemudian juga dalam dokumentasi diperoleh dari foto dan gambar mengenai masyarakat yang memakai jasa pengobatan tradisional Engkong di Kota Binjai. Metode dokumentasi yatu mencari data mengenai variable yang berupa catatan, transip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan sebagainya. Pengumpulan data dengan cara dokumentasi merupakan suatu hal yang dilakukan oleh peneliti guna mengumpulkan data dari berbagai hal media yang membahas mengenai narasumber yang akan diteliti (Arikunto, 2009:231),
27 3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diambil secara tidak langsung atau menggunakan media prantara, misalnya yaitu, buku-buku, jurnal, laporan peneliti yang berkaitan dengan topik penelitian yang dianggap relevan dan berhubungan dengan kebenaran masalah yang diteliti.
3.5 Interpretasi Data
Intrerpretasi data merupakan hasil kegiatan analisis dengan permasalahan penelitian untuk menemukan makna yang ada dalam permasalahan. Intrepretasi data dimulai dari menelaah seluruh data yang tersedia yang didapat melalui observasi, wawancara, dan juga dokumentasi. Setalah itu, data akan dipelajari menggunakan teori yang cocok untuk digunakan dan diinterpretasikan secara kualitatif untuk menganalisis permasalahan tersebut.
Kemudian data-data tersebut akan diukur,diatur, diurutkan, dikelompokkan ke dalam kategori, pola atau uraian tertentu dan diperoleh hasil atau kesimpulan yang baik dan sampai pada hasil akhir yaitu laporan.
Setelah data tersebut sudah terkumpul dan dibaca, maka langkah selanjutnya adalah mereduksi data dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan rangkuman terperinci yang merujuk atau berisi pada semua isi penelitian yang ada.
3.6 Jadwal Kegiatan
Agar berjalannya penelitian ini, maka dengan itu peneliti membuat jadwal kegiatan agar tersusun dan terlaksana dengan baik, adapun jadwal ketiatan tersebut sebagai berikut;
28
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian No
Kegiatan
Bulan Ke………
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Pra Observasi
2 ACC Judul Penelitian 3 Penyusunan Proposal 4 Seminar Desain Penelitian 5 Revisi Proposal Penelitian 6 Penelitian Lapangan
7 Pengumpulan Dan Interpretasi Data 8 Bimbingan
9 Penulisan Laporan Akhir
10 Seminar Hasil Dan Sidang Meja Hijau
29 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1 Deskripsi Kota Binjai
Gambar 4.1 Peta Kota Binjai
Sumber : Data Peta 2020 Binjai Kota
Kota Binjai adalah salah satu kota (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) dalam wilayah provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota provinsi Sumatra Utara, Medan. Sebelum berstatus kotamadya, Binjai adalah ibu kota Kabupaten Langkat yang kemudian dipindahkan ke Stabat. Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Langkat di sebelah barat dan utara serta Kabupaten Deli Serdang di sebelah timur dan selatan. Binjai merupakan salah satu daerah dalam proyek pembangunan Mebidang yang meliputi kawasan Medan, Binjai dan Deli Serdang. Saat ini, Binjai dan Medan dihubungkan oleh jalan raya Lintas Sumatra yang menghubungkan antara Medan dan Banda Aceh. Lebih jelasnya lagi batas wilayah kota binjai dari bagian Utara ada Kabupaten Langkat dan Kabupate Deli Serdang. Kemudian di bagian Timur ada Kabupaten Deli
30
Serdang. Dibagian Selatan ada Kabupaten Langkat dan Deli Serdang. Dan terakhir di bagian Barat ada Kabupatem Langkat.
Uniknya Kota Binjai Sejak lama dikenal dengan julukan Kota rambutan, dikarenakan buah rambutan binjai sangat terkenal menjadikan komoditas unggul bagi kota binjai sendiri.
Kota Binjai sendiri terbagi dalam lima kecamatan, mulai dari Binjai Barat, Binjai Kota, Binjai Selatan, Binjai Timur dan terakhir Binjai Utara. Tetapi setiap Kecamatan memiliki kelurahan yang berbeda pula.
Pada Tahun 1945 (saat revolusi) sebagai kepala pemerintahan Binjai adalah RM.Ibnu dan pada 29 Oktober 1945 T. Amir Hamzah diangkat menjadi Residen Langkat oleh Komite Nasional dan pada masa pendudukan Belanda 1947 Binjai berada di bawah Asisten Residen J. Bunger dan RM. Ibnu sebagai Wakil Walikota Binjai pada tahun 1948–1950 pemerintahan Kota Binjai dipegang oleh ASC Moree. Tahun 1950–1956 Binjai menjadi Kota Administratif Kabupaten Langkat dan sebagai Walikota adalah OK. Salamuddin kemudian T. Ubaidullah Tahun 1953–1956. Berdasarkan Undang-Undang Darurat No. 9 Tahun 1956 Kota Binjai menjadi otonom Kotapraja dengan Walikota pertama S.S. Parumuhan. Dalam perkembangannya Kota Binjai sebagai salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sumatera Utara telah membenahi dirinya dengan melakukan pemekaran wilayahnya. Semenjak ditetapkan Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1986 wilayah Kota daerah Kota Binjai telah diperluas menjadi 90,23 Km2 dengan 5 wilayah kecamatan yang terdiri dari 11 desa dan 19 kelurahan. Setelah diadakan pemecahan desa dan kelurahan pada tahun 1993 maka jumlah desa menjadi 17 dan kelurahan 20. Perubahan ini berdasarkan keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 140-1395/SK/1993 tanggal 3 Juni 1993 tentang Pembentukan 6 desa persiapan dan 1 kelurahan persiapan di Kota Binjai. Berdasarkan SK Gubernur Sumatera Utara No.146/2624/SK/ 1996 tanggal 7 Agustus 1996, 17 desa menjadi kelurahan. Hal ini diperjelas sebagai berikut:
31
Ketinggian rata-rata adalah 28 meter di atas permukaan laut dan berjarak hanya sekitar 8KM dari Kota Medan. Dalam peraturan Walikota binjai Nomor 21 Tahun 2019 tentang
32
penjabaran perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah tahun anggaran 2019, mencantumkan mengenai keberadaan Kota Binjai sebagai berikut:
1. Undang-undang darurat Nomor 9 Tahun Tahun 1956 tentang pembentukan Daerah Otonomi kota-kota kecil Dalam Lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1092);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1986 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Binjai, Kabupaten Daerah Tingkat II Deli Serdang (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 11 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3322).
4.2 Pemerintah Kota Binjai Dalam Aspek Pelayanan Kesehatan
Pemerintah Kota Binjai dalam aspek pelayanan kesehatan memiliki peraturan yang sudah disusun sedemikian rupa dalam peraturan pemerintah Walikota Binjai Nomor 38 Tahun 2017 tentang Tugas Dan Fungsi Bagian Kesatu UPTD Puskesmas Pasal 7
1. UPTD Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan Pembangunan Kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya Kecamatan sehat.
1. UPTD Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan Pembangunan Kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya Kecamatan sehat.