• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Konsep dan Teori

6. Kepuasan Kerja Karyawan

pekerjaannya dan prestasi kerja.

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan, dukungan organisasi,

motivasi, dan budaya organisasi secara simultan terhadap kepuasan kerja

karyawan.

2. Untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan, dukungan organisasi,

motivasi, dan budaya organisasi secara parsial terhadap kepuasan kerja

karyawan.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa

pihak, antara lain:

1. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai gambaran atau

pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang akan diambil oleh

memotivasi karyawan sehingga terciptanya budaya yang baik didalam

suatu perusahaan dan gaya kepemimpinan yang tepat sehingga tidak

merugikan karyawan tetapi menciptakan suasana hati yang senang bagi

karyawan, agar karyawan puas terhadap kinerjanya yang diberikannya

untuk perusahaan dan mampu meningkatkan produktivitas karyawan.

2. Bagi Universitas Sanata Dharma

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

referensi untuk penelitian selanjutnya dan tambahan untuk perpusatakan

Universitas Sanata Dharma.

3. Bagi Penulis

Dengan penelitian ini diharapkan penulis dapat menerapkan

teori yang telah diperoleh selama kuliah dan dapat mempraktekkan

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep dan Teori 1. Manajemen

Menurut Handoko (2009:8) manajemen adalah proses perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota

organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya,

agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Menurut Hariandja

(2005:2) sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat

penting dalam suatu perusahaan disamping faktor yang lain seperti modal,

sebab itu sumber daya manusia harus dikelola dengan baik untuk

meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi sebagai salah satu fungsi

dalam perusahaan yang dikenal dengan manajemen sumber daya manusia.

Sedangkan menurut Malayu Hasibuan (2002:10) manajemen sumber daya

manusia adalah ilmu dan seni dalam mengatur hubungan dan peranan

tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan

perusahaan, karyawan, dan masyarakat.

Dari pendapat ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa

Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan ilmu dan seni dalam

mengatur hubungan tenaga kerja agar menjadi efektif dan efisien demi

a. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia

Menurut Justine T. Sirait (2006:5) fungsi manajemen sumber daya

manusia, yaitu:

1) Perencanaan (Planning), seorang manajer yang efektif hendaknya

sadar bahwa isi porsi dari waktu yang tersedia diabadikan untuk

menyusun berbagai rencana.

2) Pengorganisasian (Organization), setelah program-program disusun

dan ditetapkan perlu dibentuk organisasi yang akan melaksanakan

program-program yang telah disusun tersebut.

3) Pengarahan (Directing), setidaknya secara teoritis telah memiliki

rencana dan organisasi untuk melaksanakan rencana tersebut.

4) Pengendalian (Controlling), dapat diartikan sebagai

kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan dalam proses pengendalian berupa

observasi terhadap kegiatan-kegiatan dengan perencanaan.

b. Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia secara tepat sangatlah

sulit untuk dirumuskan karena sifatnya bervariasi dan tergantung pada

penahapan perkembangan yang terjadi pada masing-masing organisasi.

Menurut Samsudin (2010:30) tujuan manajemen sumber daya manusia

ialah memperbaiki kontribusi produktif tenaga kerja terhadap

dan sosial. Empat tujuan manajemen sumber daya manusia, yaitu

(Samsudin, 2010:30):

1) Tujuan Sosial

Tujuan sosial pada tujuan manajemen sumber daya manusia

ialah agar organisasi atau perusahaan bertanggung jawab secara

sosial dan etis terhadap kebutuhan dan tantangan masyarakat dengan

meminimalkan dampak negatifnya.

2) Tujuan Organisasional

Tujuan organisasional dalam tujuan sumber daya manusia itu

sendiri merupakan sasaran formal yang dibuat untuk membantu

organisasi mencapai tujuannya.

3) Tujuan Fungsional

Tujuan fungsional pada proses manajemen sumber daya

manusia adalah mempertahankan kontribusi departemen manajemen

sumber daya manusia pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan

organisasi.

4) Tujuan Individual

Tujuan pribadi dari setiap anggota dicapai melalui

aktivitasnya dalam organisasi atau perusahaan.

Tanggung jawab manajemen sumber daya manusia

mempunyai peranan penting dalam rangka mendukung pencapaian

tujuan organisasi. Hal ini dapat dipahami bahwa semua kegiatan

manusia-manusia yang mengelola organisasi itu. Oleh karena itu karyawan

tersebut harus dikelola dengan baik agar dapat membantu organisasi

dalam mencapai tujuan dari organisasi yang telah ditentukan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan tujuan utama

sumber daya manusia adalah untuk mengingatkan kontribusi sumber

daya manusia atau karyawan terhadap organisasi yang bersangkutan.

2. Kepemimpinan

Menurut Kouzes dan Posner (dalam Suwatno dan Juni Priansa,

2011:140) kepemimpinan adalah penciptaan cara bagi orang untuk ikut

berkontribusi dalam mewujudkan sesuatu yang luar biasa. Menurut

Kartono (dalam Suwatno dan Juni Priansa, 2011:140) kepemimpinan

adalah kemampuan untuk memberikan pengaruh yang konstruktif kepada

orang lain untuk melakukan satu usaha kooperatif mencapai tujuan yang

sudah direncanakan. Sedangkan menurut Boone dan Kurtz (dalam

Suwatno dan Juni Priansa, 2011:140) kepemimpinan adalah tindakan

memotivasi orang lain atau menyebabkan orang lain melakukan tugas

tertentu dengan tujuan untuk mencapai tujuan spesifik.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan kepemimpinan adalah

kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok,

kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki

kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oeh

a. Tujuan Kepemimpinan

Beberapa fungsi kepemimpinan menurut Nawawi (2011) sebagai

berikut:

1) Fungsi Instruktif

Pemimpin berperan sebagai komunikator yang menentukan apa

(isi perintah), bagaimana (cara melakukan), bilamana (waktu

pelaksanaan), dan dimana (tempat mengerjakan) agar keputusan dapat

diwujudkan secara efektif. Dengan kata lain, fungsi orang yang

dipimpin hanyalah untuk melaksanakan perintah pemimpin.

2) Fungsi Konsultatif

Pemimpin menggunakan fungsi konsultatif sebagai cara

berkomunikasi dua arah dalam upaya menetapkan sebuah keputusan

yang membutuhkan pertimbangan dan konsultasi dari orang yang

dipimpinnya.

3) Fungsi Partisipasi

Pemimpin bisa melibatkan anggotanya dalam proses

pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya.

4) Fungsi Delegasi

Pemimpin dapat melimpahkan wewenangnya kepada orang

lain, misalnya membuat dan menetapkan keputusan. Fungsi delegasi

adalah bentuk kepercayaan seorang pemimpin kepada seseorang yang

5) Fungsi Pengendalian

Pemimpin bisa melakukan bimbingan, pengarahan, koordinasi,

dan pengawasan terhadap kegiatan para anggotanya.

b. Indikator Kepemimpinan

Menurut Kartono (2008) kepemimpinan seseorang dapat dilihat

dan dinilai dari beberapa indikator sebagai berikut:

1) Kemampuan Mengambil Keputusan

Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang

sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil

tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling

tepat.

2) Kemampuan Memotivasi

Kemampuan memotivasi adalah daya pendorong yang

mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk

menggerakkan kemampuannya (dalam bentuk keahlian atau

keterampilan) tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan

berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan

menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan

berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.

3) Kemampuan Komunikasi

Kemampuan komunikasi adalah kecakapan atau

orang lain dengan tujuan orang lain tersebut memahami apa yang

dimaksudkan dengan baik, secara langsung atau tidak langsung.

4) Kemampuan Mengendalikan Bawahan

Seorang pemimpin harus memiliki keinginan untuk

membuat orang lain mengikuti keinginannya dengan menggunakan

kekuatan pribadi atau kekuasaan jabatan secara efektif dan pada

tempatnya demi kepentingan jangka panjang perusahaan.

5) Tanggung Jawab

Seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab kepada

bawahannya. Tanggung jawab bisa diartikan sebagai kewajiban

yang wajib menanggung, memikul jawab, menanggung segala

sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.

6) Kemampuan Mengendalikan Emosional

Kemampuan mengendalikan emosional adalah hal yang

sangat penting bagi keberhasilan hidup kita. Semakin baik

kemampuan kita mengendalikan emosi maka semakin mudah kita

akan meraih kebahagiaan.

3. Dukungan Organisasi

Menurut Mujiasih (2015), dukungan organisasi merupakan keyakinan

seseorang bahwa organisasi tempat dia bekerja menghargai kontribusinya

dan peduli akan kesejahteraannya. Dukungan organisasi yang dirasakan

karyawan saat mereka membutuhkan bantuan untuk menjalankan pekerjaan

dan tugas mereka secara efektif (Rasheed et al. 2012).

Rhoades dan Eisenberger (2002:698) mengungkapkan persepsi

terhadap dukungan organisasi juga dianggap sebagai sebuah keyakinan

global yang dibentuk oleh tiap karyawan mengenai penilaian mereka

terhadap kebijakan dan prosedur organisasi yang dibentuk beradasarkan

pada pengalaman mereka terhadap kebijakan dan prosedur organisasi,

penerimaan sumber daya, interaksi dengan agen organisasinya (misalnya

supervisor) dan persepsi mereka mengenai kepedulian organisasi terhadap

kesejahteraan mereka. Bagi karyawan, organisasi merupakan sumber

penting bagi kebutuhan sosioemosinal mereka seperti respect

(penghargaan), caring (kepedulian), dan tangible benefit (gaji dan

tunjangan kesehatan). Perasaan dihargai oleh organisasi membantu

mempertemukan kebutuhan karyawan akan approval (persetujuan), esteem

(penghargaan), dan affiliation (keanggotaan). Oleh karena itu, karyawan

akan memberikan perhatian yang lebih atas penghargaan yang mereka

terima dari atasan mereka.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa dukungan

organisasi adalah keyakinan seseorang terhadap suatu organisasi ditempat

a. Aspek-aspek yang Mempengaruhi Persepsi Dukungan Organisasi

Menurut Robbins (2008:103), dukungan organisasional

yang dirasakan adalah tingkat sampai dimana karyawan yakin

organisasi menghargai kontribusi mereka dan peduli dengan

kesejahteraan para karyawannya. Sigit (2003:19-21)

menjelaskan beberapa faktor kompleks yang masuk dalam

persepsi diantaranya:

1) Hallo Effect (pengaruh halo) ialah memberikan tambahan

penilaian (judgement) kepada seseorang atau sesuatu yang

masih berkaitan dengan hasil persepsi yang telah dibuat.

Hallo effect juga dapat diartikan adanya atau hadirnya

sesuatu, sehingga kesimpulan yang dibuat tidak murni.

2) Attribution (membuat atribusi), mengacu pada bagaimana

seseorang menjelaskan penyebab perilaku orang lain atau

dirinya sendiri. Atribusi adalah proses kognitif dimana

menarik kesimpulan mengenai faktor yang mempengaruhi

atau masuk akal terhadap perilaku orang lain.

3) Stereotyping (memberi stereotipe) ialah memberi sifat

kepada seseorang semata-mata atas dasar sifat yang ada

pada kelompok, rasa tau bangsa secara umum sebagaimana

pernah didengar atau diketahui dari sumber lain. Stereotipe

yang sedang dinilai, misalnya orang yang berasal dari pulau

Bali beragama Hindu, padahal belum tentu orang tersebut

beragama Hindu.

4) Projection (proyeksi) ialah suatu mekanisme meramal, apa

yang akan dilakukan oleh orang yang dipersepsi dan

sekaligus orang yang mempersepsi itu melakukan persiapan

pertahanan untuk melindungi dirinya terhadap apa yang

akan diperbuat orang yang dipersepsi.

b. Indikator dari Dukungan Organisasi

Jenis-jenis organizational support menurut Eisenberger (dalam

Mangkunegara, 2016:271) mengemukakan dua aspek untuk

mengetahui kondisi organizational support yang dirasakan karyawan.

Kedua aspek tersebut adalah: penghargaan organisasi terhadap

kontribusi karyawan dan perhatian organisasi terhadap kesejahteraan

karyawan.

Menurut Rhoades dan Eisenberger (dalam Baliartati, 2016)

terdapat empat bentuk umum perlakuan dari organisasi yang dianggap

baik dan dapat meningkatkan dukungan organisasi yang dirasakan

karyawan, yaitu:

1) Faktor Keadilan

Keadilan disini adalah keadilan prosedural yang menyangkut

masalah keadilan mengenai cara yang seharusnya digunakan untuk

Terjadinya keadilan yang berulang-ulang dalam membuat

keputusan mengenai distribusi sumber daya akan memiliki

pengaruh yang kuat terhadap organizational support yang

dirasakan karyawan ditunjukkan dengan adanya perhatian pada

kesejahteraan karyawan.

2) Dukungan Atasan

Tindakan atasan sebagai wakil organisasi bertanggug jawab untuk

mengatur dan menentukan kinerja bawahan, maka para karyawan

memandang tindakan-tindakan atasan yang bersifat menyenangkan

atau tidak menyenangkan bagi karyawan sebagai perwujudan dari

organizational support.

3) Imbalan-imbalan dari Organisasi

Imbalan-imbalan berupa penghargaan, gaji dan promosi,

membantu mengkomunikasikan suatu penilaian positif dari

kontribusi karyawan yang selanjutnya akan berkontribusi pada

peningkatan organizational support yang dirasakan karyawan.

4) Kondisi Kerja

Adanya keamanan kerja yang memiliki arti dapat memberikan

kepastian bahwa organisasi akan tetap mempertahankan

keanggotaan karyawan dimasa depan dan diharapkan akan

menyebabkan semakin tinggi organizational support yang

dirasakan karyawan. Kepercayaan organisasi terhadap

juga akan meningkatkan dukungan organisasi yang dirasakan

karyawan.

4. Motivasi

Menurut Uno (2007) motivasi dapat diartikan sebagai dorongan

internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan

adanya; hasrat dan minat, dorongan dan kebutuhan, harapan dan cita-cita,

penghargaan dan penghormatan. Sedangkan menurut Sardiman (2006:73)

motivasi merupakan perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai

dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya

tujuan.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan motivasi adalah dorongan

internal dan eksternal yang menumbuhkan energi dalam diri seseorang demi

mewujudkan tujuan yang ingin dicapai.

a. Teori Hirarki Maslow

Teori Hirarki ini dikemukakan oleh seorang psikolog yang bernama

Abraham Maslow pada tahun 1943. Teori ini mengemukakan 5

kebutuhan hidup manusia berdasarkan hirarkinya yaitu mulai dari

kebutuhan yang mendasar hingga kebutuhan yang lebih tinggi. Teori ini

kemudian dikenal dengan Teori Maslow atau Teori Hirarki Kebutuhan.

Hirarki kelima kebutuhan tersebut diantaranya adalah:

1) Kebutuhan Fisiologis (Physiological needs), yaitu kebutuhan

kebutuhan untuk bertahan hidup. Kebutuhan Fisiologis merupakan

kebutuhan yang paling mendasar.

2) Kebutuhan Keamanan (Safety needs), yaitu kebutuhan akan rasa aman

dari kekerasan fisik maupun psikis seperti lingkungan yang aman

bebas polusi, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja serta

bebas dari ancaman.

3) Kebutuhan Sosial (Social needs), yaitu kebutuhan untuk dicintai dan

mencintai. Manusia merupakan makhluk sosial, setiap orang yang

hidup di dunia memerlukan keluarga dan teman.

4) Kebutuhan Penghargaan (Esteem needs), Maslow mengemukakan

bahwa setelah memenuhi kebutuhan fisiologis, keamanan dan sosial,

orang tersebut berharap diakui oleh orang lain, memiliki reputasi dan

percaya diri serta dihargai oleh setiap orang.

5) Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization), Kebutuhan ini

merupakan kebutuhan tertinggi menurut Maslow, Kebutuhan

aktualisasi diri adalah kebutuhan atau keinginan seseorang untuk

memenuhi ambisi pribadinya.

b. Indikator dari Motivasi

Menurut Uno (2009:73) indikator motivasi kerja dapat

dikelompokkan sebagai berikut:

1. Motivasi Internal

Motivasi internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri

a) Tanggung jawab dalam melaksanakan tugas

b) Melaksanakan tugas dengan target yang jelas

c) Memiliki tujuan yang jelas dan menantang

d) Ada umpan balik atas hasil pekerjaannya

e) Memiliki rasa senang dalam bekerja

f) Selalu berusaha mengungguli orang lain

g) Diutamakan prestasi dari apa yang dikerjakannya

2. Motivasi Eksternal

Motivasi eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri

individu, yang terdiri atas:

a) Selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidup dan

kebutuhan kerjanya

b) Senang memperoleh pujian dari apa yang dikerjakannya

c) Bekerja dengan ingin memperoleh insentif

d) Bekerja dengan harapan ingin memperoleh perhatian dari

teman dan atasan

5. Budaya Organisasi

Menurut Stephen Robbins (dalam Wibowo, 2010) menyatakan

bahwa budaya terdiri dari mental program bersama yang mensyaratkan

respon individual pada lingkungannya. Definisi tersebut mengandung

makna bahwa kita melihat budaya dalam perilaku sehari-hari, tetapi

dikontrol oleh mental program yang ditanamkan sangat dalam. Sedangkan

budaya organisasi adalah sebagai filosofi yang mendasari kebijakan

organisasi. Aturan main untuk bergaul dan perasaan atau iklim yang dibawa

oleh persiapan fisik organisasi.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan budaya organisasi adalah

pemahaman penting tentang norma, nilai, sikap, dan keyakinan yang

dimiliki anggota organisasi.

a. Karakteristik Budaya Organisasi

Menurut Robbins (2007) memberikan 7 karakteristik budaya

organisasi sebagai berikut:

1) Innovation and Risk Taking

Inovasi dan pengambilan resiko adalah sebuah tindakan

melakukan inovasi dan berani mengambil resiko dalam proses

inovasi tersebut.

2) Attention to Detail

Perhatian lebih hal-hal detail maksudnya adalah organisasi

mengharapkan para pekerja untuk bekerja lebih detail, analisis, dan

tepat sasaran.

3) Outcome Orientation

Orientasi pada manfaat artinya manajemen

berorientasi/fokus pada hasil/manfaat dan tidak hanya pada proses

untuk mendapatkan hasil tersebut.

Orientasi pada orang artinya manajemen sangat

memperhatikan pengaruh atau manfaat dari sesuatu yang dihasilkan

kepada orang-orang dalam organisasi.

5) Team Orientation

Orientasi pada tim adalah tindakan memprioritaskan

aktivitas kerja dalam organisasi berdasarkan tim, bukan pada

individu.

6) Aggresiveness

Agresivitas adalah situasi dimana orang-orang cenderung

lebih kompetitif dan agresif ketimbang santai.

7) Stability

Stabilitas adalah situasi dimana aktivitas organisasi lebih

menekankan pada menjaga status quo sebagai lawan daripada

perkembangan.

b. Jenis Budaya Organisasi

Menurut Siswanto dan Sucipto (2008:147) ada beberapa tipe budaya

organisasi diantaranya, yaitu:

1) Budaya peran

Budaya organisasi yang dimiliki ciri-ciri birokrasi tinggi,

dikelola secara ilmiah dan memiliki disiplin tinggi

2) Budaya kuasa

Budaya organisasi yang mempunyai ciri-ciri yaitu ada

teman-teman yang sehati sepikiran dan mempunyai ciri-ciri lisan yang

kuat dan intuitif

3) Budaya tugas atau matrik

Budaya organisasi yang didalamnya orang-orang

berkumpul dari latar belakang ilmu dan keterampilan yang

berbeda-beda, namun mereka berfokus pada tugas yang sama

4) Budaya atomistis

Budaya organisasi yang didalamnya orang-orang

berkumpul karena suatu minat, visi atau keterangan yang sama.

c. Indikator dari Budaya Organisasi

Menurut Tampubolon (2008) ada 6 indikator dari budaya organisasi

sebagai berikut:

1) Inovatif memperhitungkan resiko, artinya bahwa setiap karyawan

akan memberi perhatian yang sensitif terhadap segala

permasalahan yang mungkin dapat membuat resiko kerugian bagi

kelompok dan organisasi secara keseluruhan.

2) Memberikan perhatian pada setiap masalah secara detail, didalam

melakukan pekerjaan, akan menggambarkan ketelitian dan

kecermatan dari karyawan didalam melaksanakan tugasnya.

3) Berorientasi pada hasil yang akan dicapai. Supervisi seorang

manajer terhadap bawahannya merupakan salah satu cara

Melalui supervisi ini dapat diuraikan tujuan organisasi dan

kelompok serta anggotanya.

4) Berorientasi kepada semua kepentingan karyawan. Keberhasilan

atau kinerja organisasi salah satunya ditentukan oleh tim kerja,

dimana kerjasama tim dapat dibentuk apabila manajer dapat

melakukan supervisi dengan baik terhadap bawahannya.

5) Agresif dalam bekerja. Produktivitas tinggi dapat dihasilkan

apabila performa karyawan dapat memenuhi standar yang

dibutuhkan untuk melakukan tugasnya. Performa yang baik

dimaksudkan antara lain kualifikasi keahlian (Ability and skill)

yang dapat memenuhi persyaratan produktivitas serta harus

diikuti dengan disiplin dan kerajinan yang tinggi.

6) Mempertahankan dan menjaga stabilitas kerja. Karyawan harus

mampu menjaga kondisi kesehatannya agar tetap prima, kondisi

seperti ini hanya dapat dipenuhi apabila secara teratur

mengkonsumsi makanan bergizi berdasarkan nasehat ahli gizi.

6. Kepuasan Kerja Karyawan

Menurut Handoko (2001:193) kepuasan kerja karyawan adalah keadaan

emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana

para karyawan memandang pekerjaan mereka dan mencerminkan perasaan

seseorang terhadap pekerjaannya. Sedangkan menurut Setiawan dan

menyenangkan atau secara emosional positif yang berasal dari penilaian

seseorang atas pekerjaannya atau pengalaman kerjanya.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan kepuasan kerja karyawan adalah

kondisi menyenangkan secara emosional positif yang dirasakan oleh

karyawan atas kinerjanya yang baik.

a. Faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja Karyawan

Menurut Sutrisno (2009:82-84) ada beberapa faktor yang

mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, sebagai berikut:

1) Kesempatan untuk maju

Dalam hal ini, ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh

pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja.

2) Keamanan kerja

Faktor ini disebut sebagai penunjang kepuasan kerja, baik

bagi karyawan. Karyawan yang aman sangat mempengaruhi

perasaan karyawan selama kerja.

3) Gaji

Ketika gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan

jarang orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan

sejumlah uang yang diperolehnya.

4) Perusahaan dan manajemen

Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu

memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil.

Atribut yang ada dalam pekerjaan mensyaratkan

keterampilan tertentu. Sukar dan mudahnya serta kebanggaan

akan tugas dapat meningkatkan atau mengurangi kepuasan.

6) Kondisi kerja

Termasuk disini kondisi tempat, ventilasi, penyiaran,

kantin, dan tempat parkir.

7) Aspek sosial dalam pekerjaan

Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi

dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas

dalam bekerja.

8) Komunikasi

Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak

manajemen banyak dipakai alasan untuk menyukai

jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak atasan

untuk mau mendengar, memahami, dan mengakui pendapat

ataupun prestasi karyawannya sangat berperan dalam

menimbulkan rasa puas terhadap kerja.

9) Fasilitas

Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan

merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi

b. Indikator Kepuasan Kerja Karyawan

Menurut Hasibuan (2008:202) indikator kepuasan kerja seorang

pegawai dapat dilihat dari beberapa hal berikut ini:

1) Menyenangi Pekerjaannya

Karyawan sadar arah yang ditujunya, punya alasan memilih

tujuannya, dan mengerti cara dalam bekerja. Dengan kata lain,

seorang karyawan menyenangi pekerjaannya karena ia bisa

mengerjakannya dengan baik.

2) Mencintai Pekerjaannya

Dalam hal ini karyawan tidak sekedar menyukai pekerjaannya

tapi juga sadar bahwa pekerjaan tersebut sesuai dengan

keinginannya.

3) Moral Kerja Positif

Ini merupakan kesepakatan batiniah yang muncul dari dalam

diri seseorang atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu sesuai

dengan mutu yang ditetapkan.

4) Disiplin Kerja

Kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari

serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,

kepatuhan, kesetiaan, keteraturan atau ketertiban.

Hasil kerja yang dicapai seorang dalam melaksanakan tugas-

tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan

dan kesungguhan serta waktu.

Dokumen terkait