• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II CHARTER DEWAN KOMISARIS

2.12 Keputusan Dewan Komisaris

1. Segala keputusan Dewan Komisaris diambil dalam Rapat Dewan Komisaris dan atau Rapat Dewan Komisaris dengan Direksi.

2. Keputusan Dewan Komisaris dapat pula diambil diluar Rapat Dewan Komisaris sepanjang seluruh Anggota Dewan Komisaris setuju tentang cara dan materi yang diputuskan misalnya melalui Sirkuler dan bentuk lainnya serta mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan keputusan rapat yang dihasilkan melalui Rapat Direksi secara fisik.

3. Keputusan Dewan Komisaris didukung Risalah Rapat dan mengacu pada Anggaran Dasar Perseroan.

4. Keputusan Dewan Komisaris sebelumnya sudah melalui proses telaah oleh komite-komite Dewan Komisaris.

5. Standar waktu tingkat kesegeraan pengambilan keputusan Dewan Komisaris sejak usulan tindakan disampaikan dalam Rapat Dewan Komisaris dan atau Rapat Dewan Komisaris dengan Direksi atau secara

Board Manual PT Indofarma Tbk 14 tertulis untuk keputusan sirkuler maksimal 14 (empat belas) hari kalender.

6. Standar waktu tingkat kesegeraan untuk mengkomunikasikan keputusan Dewan Komisaris kepada Direksi maksimal 7 (tujuh) hari kalender sejak disahkan/ditandatangani.

2.13 Penetapan Rencana Kerja Dan Anggaran

1. Dewan Komisaris wajib menyusun program kerja Dewan Komisaris yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Perseroan yang disusun oleh Direksi.

2. Rancangan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Perseroan yang telah ditandatangani oleh seluruh anggota Direksi disampaikan kepada Dewan Komisaris, paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tahun buku baru dimulai atau dalam waktu yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, untuk mendapatkan persetujuan Dewan Komisaris.

3. Rancangan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Perseroan disetujui oleh Dewan Komisaris paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah tahun anggaran berjalan (tahun anggaran Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Perseroan yang bersangkutan) atau dalam waktu yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

4. Dalam hal rancangan Rencana Kerja dan Anggaran Perseroan belum disampaikan oleh Direksi dan/atau Rencana Kerja dan Anggaran Perseroan belum disetujui dalam kurun waktu sebagaimana dimaksud, maka Rencana Kerja dan Anggaran Perseroan tahun sebelumnya yang diberlakukan.

2.14 Hubungan Kerja Dewan Komisaris Dan Direksi

1. Hubungan kerja Dewan Komisaris dan Direksi didasarkan pada prinsip keterbukaan dan saling menghormati.

2. Setiap hubungan Direksi dan Dewan Komisaris dalam rangka tugas dan tanggung jawab masing-masing merupakan hubungan yang bersifat formal.

3. Dewan Komisaris memberikan arahan/informasi kepada Direksi mengenai informasi lingkungan bisnis dan permasalahannya yang diperkirakan berdampak pada usaha dan kinerja Perseroan mencakup antara lain adanya kondisi perubahan : politik, perekonomian mikro dan makro, teknologi informasi, persaingan usaha, proposal bisnis, sistem manajemen mutu dan regulasi/peraturan perundang-undangan terbaru terkait bisnis Perseroan dan terjadi bencana alam.

4. Arahan/informasi tersebut dikomunikasikan melalui mekanisme Rapat Dewan Komisaris dan Direksi atau melalui surat.

5. Informasi yang disampaikan baik berkala maupun insendentil ke Direksi paling lambat 14 (empat belas) hari melalui mekanisme Rapat Dewan Komisaris dan Direksi atau melalui surat.

6. Hubungan yang bersifat informal dapat dilakukan tetapi tidak mengikat sebelum diputuskan dalam Rapat Dewan Komisaris dan Direksi atau di luar rapat sepanjang seluruh Anggota Dewan Komisaris setuju tentang cara dan materi yang diputuskan.

7. Dewan Komisaris mendapat akses informasi Perseroan dan harus disediakan oleh Direksi secara berkala dan insendentil serta disampaikan paling lambat 14 (empat belas) hari atau pada pertemuan Rapat Dewan Komisaris dengan Direksi periode berikutnya.

Mekanisme penyampaian oleh Direksi dapat melalui surat dan atau Rapat Dewan Komisaris dengan Direksi periode berikutnya.

Bentuk informasi yang disediakan oleh Direksi ke Dewan Komisaris secara berkala yaitu informasi rutin /berkala yang harus disampaikan ke pihak regulator seperti OJK, BEI, KBUMN, BPOM dan intitusi lainnya antara lain dapat berupa Laporan Kinerja/Keuangan Bulanan, Triwulan, Semester, dan Tahunan.

Bentuk informasi yang disediakan oleh Direksi ke Dewan Komisaris secara insendentil berupa informasi tidak rutin /berkala yang tidak diwajibkan ke pihak regulator antara lain seperti informasi pengadaan Barang dan Jasa untuk investasi, kegiatan produksi dan permasalahannya, kegiatan penjualan dan permasalahannya laporan pencapaian RKAP serta informasi lain-lain sesuai kebutuhan Dewan Komisaris.

Board Manual PT Indofarma Tbk 15 8. Informasi yang diminta oleh Dewan Komisaris dari Direksi hanya yang terkait dengan dan untuk

kepentingan Perseroan.

9. Direksi dapat menolak permintaan informasi oleh Dewan Komisaris jika informasi tersebut tidak terkait dengan tanggung jawab Direksi.

10. Jika Direksi tidak dapat memenuhi kewajiban penyediaan informasi yang terkait dengan dan untuk kepentingan Perseroan kepada Dewan Komisaris, maka Dewan Komisaris berupaya melakukan komunikasi yang lebih intensif ke Direksi baik berupa penyampaian surat permintaan penyedian informasi, surat teguran dan surat pemanggilan minta keterangan Direksi dan atau komunikasi langsung melalui alat media komunikasi lainnya.

11. Dewan Komisaris dapat berkomunikasi dengan manajemen di bawah Direksi dengan sepengetahuan Direksi.

12. Mekanisme persetujuan terkait tugas, wewenang, kewajiban direksi, dan perbuatan-perbuatan direksi yang harus mendapat persetujuan Dewan Komisaris melalui persetujuan di dalam Rapat Dewan Komisaris maupun di Luar Rapat Dewan Komisaris dan atau surat maksimal 30 (tiga puluh) hari.

Board Manual PT Indofarma Tbk 16

BAB III

CHARTER DIREKSI PT Indofarma Tbk

Direksi adalah organ Perseroan yang bertugas menjalankan segala tindakan yang berkaitan dan bertanggung jawab atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan baik di dalam maupun di luar Pengadilan tentang segala hal dan segala kejadian dengan pembatasan-pembatasan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, Anggaran Dasar dan/atau Keputusan RUPS.

3.1 Keanggotaan Dan Komposisi Direksi

Direksi Perseroan sesuai dengan ketetapan RUPS dan Anggaran Dasar Perseroan berjumlah sekurang-kurangnya 2 (dua) orang, seorang diantaranya diangkat sebagai Direktur Utama dan apabila diperlukan seorang diantaranya dapat diangkat sebagai wakil Direktur Utama.

3.2 Ketentuan Jabatan Anggota Direksi

1. Masa jabatan Anggota Direksi adalah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal yang ditetapkan oleh RUPS yang mengangkatnya dan berakhir pada penutupan RUPS Tahunan ke-5 (ke-lima) setelah tanggal pengangkatannya, dengan syarat tidak boleh melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun, dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang pasar Modal, namun dengan tidak mengurangi hak dari RUPS untuk sewaktu-waktu dapat memberhentikan para anggota Direksi sebelum masa jabatannya berakhir jika para Anggota Direksi tersebut memenuhi salah satu atau lebih alasan namun tidak terbatas pada:

a. Tidak/kurang dapat memenuhi kewajibannya yang telah disepakati dalam kontrak manajemen;

b. tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik;

c. Melanggar peraturan perundang-undangan dan/atau ketentuan Anggaran Dasar;

d. terlibat dalam tindakan yang merugikan Perseroan dan/atau Negara;

e. Melakukan tindakan yang melanggar etika dan/atau kepatutan yang seharusnya dihormati sebagai Direksi;

f. dinyatakan bersalah dengan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap;

g. mengundurkan diri; atau

h. alasan lainnya yang dinilai tepat oleh RUPS demi kepentingan dan tujuan Perseroan.

2. Keputusan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ketentuan nomor 1(satu) di atas sebelumnya diambil setelah yang bersangkutan diberi kesempatan membela diri.

3. Setelah masa jabatan berakhir Anggota Direksi tersebut dapat diangkat kembali oleh RUPS untuk 1 (satu) kali masa jabatan.

4. Apabila oleh suatu sebab jabatan Anggota Direksi lowong, maka :

a. lowongan tersebut harus diisi dalam RUPS yang mengagendakan pengisian lowongan jabatan tersebut paling lambat 90 (sembilan puluh) hari sejak terjadinya lowongan jabatan apabila menyebabkan anggota Direksi berjumlah kurang dari 2 (dua) salah satunya Direktur Utama atau jabatan yang lowong adalah Direktur Utama atau direktur lainnya yang diwajibkan oleh ketentuan;

b. selama jabatan itu lowong dan penggantinya belum ada atau belum memangku jabatannya, maka salah seorang Anggota Direksi lainnya yang ditunjuk oleh Dewan Komisaris, menjalankan pekerjaan Anggota Direksi dimaksud dengan kekuasaan dan wewenang yang sama.

5. Masa jabatan seseorang yang diangkat oleh RUPS untuk mengisi lowongan tersebut adalah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana ditentukan dalam ketentuan nomor 1 (satu) di atas.

6. Dalam hal terdapat penambahan jumlah Anggota Direksi maka masa jabatan Anggota Direksi baru

Board Manual PT Indofarma Tbk 17 tersebut adalah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana ditentukan dalam angka 1 (satu) di atas.

7. Apabila oleh suatu sebab apapun Perseroan tidak mempunyai Anggota Direksi, maka untuk sementara Dewan Komisaris mengurus Perseroan dengan kekuasaan dan weweang yang sama, dengan kewajiban dalam waktu selambatnya 90 (sembilan puluh) hari setelah terjadi lowongan, untuk menyelenggarakan RUPS guna mengisi lowongan jabatan Direksi tersebut.

8. Dalam hal terjadi pengunduran diri Direksi, berlaku hal-hal sebagai berikut :

a. Seorang Anggota Direksi berhak mengundurkan diri dari jabatannya dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksudnya tersebut kepada Perseroan dengan tembusan kepada Dewan Komisaris, Anggota Direksi Perseroan lainnya dan Pemegang Saham yang mengusulkan pengangkatan Anggota Direksi yang bersangkutan;

b. Perseroan wajib menyelenggarakan RUPS untuk memutuskan permohonan pengunduran diri Anggota Direksi paling lambat 90 (sembilan puluh) hari setelah diterimanya surat pengunduran diri;

c. Dalam hal Perseroan tidak menyelenggarakan RUPS dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ketentuan diatas, maka pengunduran diri Anggota Direksi tersebut menjadi sah tanpa memerlukan persetujuan RUPS;

d. Kepada Anggota Direksi yang mengundurkan diri tersebut tetap dapat dimintakan pertanggungjawabannya sejak pengangkatan yang bersangkutan sampai dengan tanggal pengunduran dirinya menjadi efektif;

e. Dalam hal anggota Direksi mengundurkan diri, sehingga mengakibatkan jumlah anggota Direksi menjadi kurang dari 2 (dua) orang, maka pengunduran diri tersebut sah apabila telah ditetapkan oleh RUPS dan telah diangkat anggota Direksi yang baru sehingga memenuhi persyaratan minimal anggota Direksi.

9. Jabatan Anggota Direksi berakhir apabila :

a. Pengunduran dirinya efektif sebagaimana dimaksud dalam nomor 8 di atas;

b. meninggal dunia;

c. masa jabatannya berakhir;

d. diberhentikan berdasarkan RUPS; dan/atau;

e. dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap atau ditaruh dibawah pengampunan; atau

f. tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai anggota Direksi.

10. Bagi Anggota Direksi yang berhenti sebelum maupun setelah masa jabatannya berakhir, kecuali berhenti karena meninggal dunia, maka yang bersangkutan wajib menyampaikan pertanggungjawaban atas tindakan-tindakan yang belum diterima pertanggungjawabannya oleh RUPS.

11. Anggota Direksi dapat diberhentikan untuk sementara waktu oleh Dewan Komisaris apabila mereka bertindak bertentangan dengan Anggaran Dasar Perseroan atau terdapat indikasi melakukan kerugian Perseroan atau melalaikan kewajibannya atau terdapat alasan yang mendesak bagi Perseroan, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

a. pemberhentian sementara dimaksud harus diberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan disertai alasan yang menyebabkan tindakan tersebut dengan tembusan kepada Direksi;

b. pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam huruf b ayat ini disampaikan dalam waktu paling lambat 2 (dua) hari kalender setelah ditetapkannya pemberhentian sementara tersebut;

c. Anggota Direksi yang diberhentikan sementara tidak berwenang menjalankan pengurusan Perseroan serta mewakili Perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan;

d. dalam jangka waktu paling lambat 90 ( sembilan puluh) hari setelah pemberhentian sementara dimaksud harus diselenggarakan RUPS oleh Dewan Komisaris yang akan memutuskan apakah mencabut atau menguatkan keputusan pemberhentian sementara tersebut;

e. dalam RUPS sebagaimana dimaksud pada huruf d diatas, Anggota Direksi yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri;

f. Dengan lampaunya jangka waktu penyelenggaraan RUPS sebagaimana dimaksud pada huruf d atau RUPS tidak dapat mengambil keputusan, maka pemberhentian sementara tersebut menjadi batal.

g. Perseroan wajib melaukan keterbukaan informasi kepada masyarakat dan menyampaiakan kepada

Board Manual PT Indofarma Tbk 18 Otoritas Jasa Keuangan mengenai :

1) Keputusan pemberhentian sementara; dan

2) Hasil Penyelenggaraan RUPS untuk mencabut atau menguatkan keputusan pemberhentian sementara tersebut atau informasi mengenai batalnya pemberhentian sementara oleh Dewan Komisaris karena tidak terselenggaranya RUPS sampai dengan lampaunya jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam huruf d, paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah terjadinya peristiwa tersebut.

12. Anggota Direksi dilarang memangku jabatan rangkap sebagaimana tersebut di bawah ini, yaitu : a. Anggota Direksi pada Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Milik

Swasta;

b. Anggota Dewan Komisaris dan/atau Dewan Pengawas pada Badan Usaha Milik Negara;

c. Jabatan struktural dan fungsional lainnya pada instansi/lembaga pemerintah pusat dan atau daerah;

d. Pengurus partai politik, anggota DPR, DPD, DPRD Tingkat I, dan DPRD Tingkat II dan/atau kepala daerah/wakil kepala daerah;

e. Menjadi calon/anggota DPR, DPD, DPRD Tingkat I, dan DPRD Tingkat II dan/atau calon kepala daerah/wakil kepala daerah;

f. Jabatan lain yang dapat menimbulkan benturan kepentingan; dan/atau g. Jabatan lainnya sesuai ketentuan dalam peraturan perundang-undangan.

h. Untuk perangkapan jabatan Direksi yang tidak termasuk dalam huruf a sampai dengan huruf g tersebut diatas diperlukan persetujuan dari Rapat Dewan Komisaris.

3.3 Program Pengenalan Perseroan

1. Anggota Direksi yang diangkat untuk pertama kalinya wajib diberikan Program Pengenalan mengenai Perseroan.

2. Tanggung jawab untuk mengadakan program pengenalan tersebut berada pada Sekretaris Perseroan atau siapapun yang menjalankan fungsi sebagai Sekretaris Perseroan dan program pengenalan tersebut dianggarkan dan dijadwalkan dalam rencana kerja Sekretaris Perseroan setiap tahunnya.

3. Program Pengenalan meliputi :

a. Pelaksanaan Prinsip-Prinsip GCG oleh Perseroan dan penjabaran/penyerahan materi infrastruktur GCG Perseroan antara lain visi dan misi Perseroan, budaya Perseroan, Code of Conduct, Code of Corporate Governance, Board Manual, Komite Audit Charter, Komite GCG & Pemantauan Risiko Charter, SPI Charter, Kebijakan Gratifikasi, LHKPN, Whistle Blowing System (WBS), Pedoman Manajemen Risiko, SMAP ISO-2006 serta kebijakan lainnya yang terkait tata kelola Perseroan.

b. Gambaran mengenai Perseroan berkaitan dengan tujuan, sifat, dan lingkup kegiatan, kinerja keuangan dan operasi, strategi, sistem manajemen mutu, rencana usaha jangka pendek dan jangka panjang, posisi kompetitif, risiko dan masalah-masalah strategis lainnya;

c. Keterangan berkaitan dengan kewenangan yang didelegasikan, audit internal dan eksternal, sistem dan kebijakan pengendalian internal, termasuk komite audit dan komite lainnya yang dibentuk;

d. Keterangan mengenai tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris serta hal-hal yang tidak diperbolehkan.

4. Program Pengenalan Perseroan dapat berupa presentasi, pertemuan, kunjungan ke Perseroan dan pengkajian dokumen atau program lainnya yang dianggap sesuai dengan Perseroan dimana program tersebut dilaksanakan.

5. Undangan kegiatan, daftar hadir, bahan/ materi serta kegiatan yang terkait Pelaksanaan Program Pengenalan Perseroan wajib didokumentasi oleh Sekretaris Perseroan dan disimpan dalam arsip Perseroan.

3.4 Program Peningkatan Kompetensi Direksi

1. Direksi melaksanakan program peningkatan kompetensi melalui berbagai program pelatihan, seminar, sosialisasi peraturan/kebijakan dan studi banding.

Board Manual PT Indofarma Tbk 19 2. Pelaksanaan program peningkatan kompetensi tersebut sesuai dengan rencana kerja Direksi serta

kebutuhan Perseroan.

3. Setiap realisasi atas pelaksanaan peningkatan kompetensi yang dijalani oleh Anggota Direksi dibuatkan hasil pelaksanaan/ laporannya.

4. Program peningkatan kompetensi tersebut dibuat rencana kerja dan anggarannya dan terpisah dalam RKAP.

3.5 Tugas, Wewenang, Kewajiban Direksi, Dan Perbuatan-Perbuatan Direksi Yang Harus Mendapat Persetujuan Organ Di Atasnya

1. Tugas Direksi.

Direksi bertugas menjalankan segala tindakan yang berkaitan dan bertanggungjawab atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan baik di dalam maupun di luar Pengadilan tentang segala hal dan segala kejadian dengan pembatasan-pembatasan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, Anggaran Dasar Perseroan dan/atau Keputusan RUPS. Dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggungjawab, Direksi dapat membentuk komite.

2. Wewenang Direksi.

a. Menetapkan kebijakan yang dipandang tepat dalam kepengurusan Perseroan;

b. Mengatur penyerahan kekuasaan Direksi untuk mewakili Perseroan di dalam dan di luar pengadilan kepada seorang atau beberapa orang Anggota Direksi yang khusus ditunjuk untuk itu termasuk pekerja Perseroan baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dan/atau badan lain;

c. Mengatur ketentuan-ketentuan tentang Pekerja Perseroan termasuk penetapan upah, pensiun atau jaminan hari tua dan penghasilan lain bagi pekerja Perseroan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

d. Mengangkat dan memberhentikan Pekerja Perseroan berdasarkan peraturan ketenagakerjaan Perseroan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

e. Mengangkat dan memberhentikan Sekretaris Perseroan dan/atau Kepala Satuan Pengawas Intern dengan persetujuan Dewan Komisaris;

f. Menghapusbukukan piutang macet dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam anggaran dasar ini dan selanjutnya dilaporkan kepada Dewan Komisaris selanjutnya dilaporkan dan dipertanggungjawabkan dalam Laporan Tahunan;

g. Tidak menagih lagi piutang bunga, denda, ongkos-ongkos dan piutang lainnya di luar pokok yang dilakukan dalam rangka restrukturisasi dan/atau penyelesaian piutang serta perbuatan-perbuatan lain dalam rangka penyelesaian piutang Perseroan dengan kewajiban melaporkan kepada Dewan Komisaris yang ketentuan dan tata cara pelaporannya ditetapkan oleh Dewan Komisaris;

h. Melakukan segala tindakan dan perbuatan lainnya mengenai pengurusan maupun pemilikan kekayaan Perseroan, mengikat Perseroan dengan pihak lain dan/atau pihak lain dengan Perseroan, serta mewakili Perseroan di dalam dan di luar pengadilan tentang segala hal dan segala kejadian, dengan pembatasan-pembatasan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, Anggaran Dasar Perseroan dan/atau Keputusan RUPS;

i. Menetapkan calon Anggota Direksi dan Dewan Komisaris pada anak Perseroan dan / atau Perseroan patungan.

3. Kewajiban Direksi.

a. Mengusahakan dan menjamin terlaksananya usaha dan kegiatan Perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan serta kegiatan usahanya;

b. Menyiapkan pada waktunya Rencana Jangka Panjang Perseroan untuk 5 (lima) tahun kedepan, serta Rencana Kerja dan Anggaran Perseroan Tahunan dan rencana kerja lainnya serta perubahannya untuk disampaikan kepada Dewan Komisaris dan mendapatkan persetujuan Dewan Komisaris;

c. Membuat Daftar Pemegang Saham, Daftar Khusus, Risalah RUPS, dan Risalah Rapat Direksi;

d. Membuat Laporan Tahunan yang antara lain berisi Laporan Keuangan, sebagai wujud pertanggungjawaban pengurusan Perseroan, serta dokumen keuangan Perseroan sebagaimana

Board Manual PT Indofarma Tbk 20 dimaksud dalam undang-undang tentang Dokumen Perseroan;

e. Menyusun Laporan Keuangan Perseroan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku dan menyerahkan kepada Akuntan Publik untuk diaudit;

f. Menyampaikan Laporan Tahunan setelah ditelaah oleh Dewan Komisaris dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) bulan setelah tahun buku Perseroan berakhir kepada RUPS untuk disetujui dan disahkan;

g. Memberikan penjelasan kepada RUPS mengenai Laporan Tahunan.

h. Menyampaikan Neraca dan Laporan Laba Rugi yang telah disahkan oleh RUPS kepada Menteri yang membidangi Hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;

i. Menyusun laporan lainnya yang diwajibkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan;

j. Memelihara dan menyimpan ditempat kedudukan Perseroan Daftar Pemegang Saham, Daftar Khusus, Risalah RUPS, Risalah Rapat Dewan Komisaris dan Risalah Rapat Direksi, Laporan Tahunan dan dokumen keuangan Perseroan sebagaimana dimaksud pada butir d dan e di atas, dan dokumen Perseroan lainnya;

k. Mengadakan dan memelihara pembukuan dan administrasi Perseroan sesuai dengan kelaziman yang berlaku bagi suatu Perseroan;

l. Menyusun sistem akuntansi sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan dan berdasarkan prinsip-prinsip pengendalian intern, terutama fungsi pengurusan, pencatatan, penyimpanandan pengawasan;

m. Memberikan laporan berkala menurut cara dan waktu sesuai ketentuan yang berlaku, berupa laporan manajemen kinerja perusahaan (bulanan), serta laporan lainnya setiap kali diminta oleh Dewan Komisaris dan/atau Pemegang Saham Seri A Dwiwarna, dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan khususnya peraturan di Bidang Pasar Modal berlaku;

n. Menyiapkan susunan organisasi Perseroan lengkap dengan perincian dan tugasnya;

o. Memberikan penjelasan tentang segala hal yang ditanyakan atau yang diminta Anggota Dewan Komisaris dan Pemegang Saham Seri A Dwiwarna, dengan memperhatikan peraturan perundan-undangan khususnya peraturan di Bidang Pasar Modal berlaku.

p. Melaporkan penetapan Anggota Direksi dan Dewan Komisaris pada anak Perseroan dan / atau Perseroan patungan kepada Dewan Komisaris.

q. Menyusun sistem/pedoman pengukuran dan penilaian kinerja untuk unit dan jabatan dalam organisasi (struktural) yang diterapkan secara obyektif dan transparan minimal memuat :

1) Prosedur operasional standar atas pengukuran dan penilaian kinerja untuk unit dan jabatan (struktural) dalam Perseroan serta

2) Penjelasan mengenai Indikator Kinerja minimal berupa formula/rumus, cara-cara penilaian, informasi sumber data, saat pelaporan.

r. Menyusun pencapaian kinerja masing-masing Direktorat berdasarkan target-target yang ditetapkan dalam Kontrak Manajemen sebagai Laporan pencapaian target kinerja masing-masing dan disampaikan kepada Dewan Komisaris.

s. Memastikan sosialisasi infrakstruktur GCG ke seluruh karyawan dan stakeholders seperti Code of Conduct, Code of Corporate Governance, Board Manual, RJPP, RKAP, Kebijakan LHKPN, Kebijakan Gratifikasi, Kebijakan Whistle Blowing System, Charter SPI, SMAP ISO-2006, Charter komite-komite Dewan Komisaris, Standar Operating Procedure (SOP) Perseroan serta kebijakan-kebijakan lain, dapat berjalan konsiten dan berkelanjutan.

t. Menjalankan kewajiban-kewajiban lainnya sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Anggaran Dasar ini dan yang ditetapkan oleh RUPS.

Dalam melaksanakan tugasnya, Direksi wajib mencurahkan tenaga, pikiran, perhatian dan pengabdiannya secara penuh pada tugas, kewajiban dan pencapaian tujuan Perseroan serta wajib melaksanakan prinsip-prinsip profesionalisme, efisiensi, transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban serta kewajaran.

Board Manual PT Indofarma Tbk 21 4. Perbuatan-Perbuatan Direksi Yang Harus Mendapat Persetujuan Organ di Atasnya.

a. Perbuatan-perbuatan Direksi dibawah ini yang harus mendapat persetujuan tertulis dari Dewan Komisaris :

1) Melepaskan/memindahtangankan dan/atau mengagunkan aset Perseroan dengan nilai melebihi jumlah tertentu yang ditetapkan oleh Dewan Komisaris, kecuali aset yang dicatat sebagai persediaan, dengan memperhatikan ketentuan di bidang pasar modal;

2) Mengadakan kerjasama dengan badan usaha atau pihak lain, dalam bentuk kerjasama operasi (KSO), kerjasama usaha (KSU), kerjasama lisensi, Bangun Guna Serah (Build, Operate and Transfer/BOT), Bangun Serah Guna (Build, Transfer and Operate/BTO), Bangun Guna Milik

2) Mengadakan kerjasama dengan badan usaha atau pihak lain, dalam bentuk kerjasama operasi (KSO), kerjasama usaha (KSU), kerjasama lisensi, Bangun Guna Serah (Build, Operate and Transfer/BOT), Bangun Serah Guna (Build, Transfer and Operate/BTO), Bangun Guna Milik