• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keputusan Hakim dalam Mengabulkan Gugatan Konsumen Yang Terlibat Dalam Klausula Eksonerasi Yang Dibuat Dalam Bentuk Baku,

Dalam Perjanjian Parkir.

Kewajiban penerima titipan diatur dalam pasal 1706, 1714 dan 1715 KUH Perdata yang berbunyi:

1) Diwajibkan mengenai perawatan barang yang dipercayakan padanya,

memeliharanya dengan sama seperti ia memelihara barang-barangnya sendiri (Pasal 1706 KUH Perdata)

2) Diwajibkan mengembalikan barang yang sama itu telah

diterimanya (Pasal 1714 KUH Perdata)

3) Hanya diwajibkan mengembalikan barang yang dititipkan

dalam keadaannya pada saat pengembalian itu (Pasal 1715 KUH Perdata)

Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan kewajiban penerima titipan harus memelihara barang yan dititipkan padanya, mengembalikan barang yang sama setelah menerimanya dan diwajibkan mengembalikan barang yang dititipkan.

Hak penerima titipan terdapat dalam pasal 1729 KUH Perdata yaitu:

Berhak untuk menahan barangnya hingga segala apa yang harus dibayar kepadanya karena penitipan tersebut, telah dilunasi.

26

Maksud dari isi pasal diatas bahwa seorang penerima titipan berhak untuk menahan barang yang dititipkan oleh penitip kepadanya sampai penitip membayar lunas biaya penitipan kepada penerima titipan, jika penitip tidak membayar lunas maka penerima titipan berhak untuk menahan barang yang dititipkan oleh penitip kepada penerima titipan.

Kewajiban Pemberi Titipan terdapat pada pasal 1728 KUH Perdata yaitu:

1). Mematuhi segala peraturan yang ada di tempat titipan

2) Diwajibkan mengganti kepada si penerima titipan segala biaya

yang telah dikeluarkan guna menyelamatkan barang yang dititipkan

Dari pasal diatas dapat disimpulkan bahwa penitip berkewajiban untuk mematuhi segala peraturan yang di ada di tempat penitipan yang khususnya diadakan oleh penerima titipan selama hal tersebut tidak menimbulkan kerugian pada penitip. Dan berkewajiban mengganti segala biaya kepada penerima titipan guna menyelamatkan barang yang dititipkan kepada penerima titipan.

Hak Pemberi Titipan terdapat pada Pasal 4 UUPK yang menyebutkan:

27

1) Hak untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan dan

keselamatan atas barang yang dititipkan

2). Hak untuk mendapatkan informasi yang benar dan jelas mengenai kondisi barang yang dititipkan

3) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya apabila

penitip mengalami kerusakan pada barang yang dititipkan

4)Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif

Hak pemberi titipan di dalam perjanjian barang bisa disamakan dengan hak konsumen yang mana terdapat dalam UUPK yaitu Pasal 4. Setiap konsumen/penitip berhak mendapatkan kenyamanan dan keselamatan atas barang yang dititipkan kepada penerima titipan/pelaku usaha, jika mengalami kerusakan ataupun hilang maka penerima titipan harus bertanggung jawab atas hilangnya barang tersebut. Dan pemberi titipan berhak untuk didengar semua keluhannya apabila penitip mengalami kehilangan barang. Serta juga harus dilayani secara adil tidak diskriminatif.

Sedangkan tanggungjawab salah satu pihak apabila terjadi wanprestasi yaitu :

Maka dapat diambil kesimpulan apabila salah satu pihak melakukan wanprestasi maka harus bertanggung jawab atas kelalaiannya. Biasanya kebanyakan pihak yang sering melakukan wanprestasi tersebut adalah pihak penerima titipan. Misalnya apabila penerima titipan telah lalai untuk mengembalikan barang yang

28

dititipkan dan apabila barang yang dititipkan mengalami kekurangan, maka yang harus dilakukan oleh penerima titipan tersebut adalah:

1) Memberi ganti rugi (yang meliputi biaya, rugi dan keuntungan yang diharapkan)

2) Pembatalan perjanjian 3) Pemutusan perjanjian

4) Memberi ganti rugi dan pembatalan perjanjian 5) Memberi ganti rugi dan pemutusan perjanjian 8

Menurut J.Satrio didalam bukunya menjelaskan dalam Pasal 1238 BW mengajarkan kepada kita bahwa keadaan lalainya debitur

berkaitan dengan masalah “perintah” yang dituangkan secara tertulis.

Kata “Perintah” mengandung suatu peringatan. Karena disana

dikatakan bahwa perintah/peringatan itu ditujukan kepada debitur (penerima titipan), dan debitur adalah pihak yang dalam perikatan mempunyai kewajiban prestasi, tentunya perintah itu datang dari kreditur (pemberi titipan) yaitu pihak yang dalam perikatan mempunyai hak tuntut atas prestasi. 9

8

Kelik Wardiono, op.cit. hlm 66

9 J. Satrio, Wanprestasi Menurut KUHPerdata, Doktrin dan Yurisprudensi, PT.Citra Aditya Bakti Bandung, 2012, hal 26.

29

Bahwa berdasarkan putusan nomor 551/PDT.G/2000/ PN.JKT.PST dan 345/PDT.G/2007/ PN.JKT.PST bahwa keputusan hakim dalam mengabulkan gugatan konsumen yaitu menyatakan bahwa Tergugat melakukan perbuatan melawan hukum atas kelalaian dan ketidak hati-hatian Tergugat sehingga menyebabkan hilangnya kendaraan Penggugat dan menghukum Tergugat untuk tidak mencantumkan klausula baku yang menyatakan pengalihan tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggug jawab tergugat tetepi dialihkan kepada penggugat.

Bahwa putusan hakim tersebut telah sesuai dengan norma yaitu Pasal 1706, 1714 dan 1715 KUH perdata yangmana pasal tersebut menyatakan kewajiban penerima titipan tapi pada kenyataannya dalam sengketa parkir tersebut penerima titipan (Tergugat) tidak menjalankan kewajibannya untuk menjaga kendaraan yang dititipkan oleh pemberi titipan (Penggugat) kepada penerima titipan (Tergugat) selain itu doktrin menurut J. Satrio mengenai tanggung jawab seseorang apabila wanprestasi yangmana bahwa Tergugat disitu adalah sebagai penerima titipan yangmana mempunyai tanggungjawab terhadap barang yang dititipkan oleh pemberi titipan. Tapi dalam kenyataannya penerima titipan telah lalai atas kewajibannya dan dianggap wanprestasi maka dari itu penerima titipan (Tergugat) harus bertanggung jawab atas

30

kesalahan yang diperbuatnya dengan mengganti kerugian kepada pemberi titipan (Penggugat).

Dari pernyataan diatas mengenai kewajiban pihak dalam perjanjian penitipan khususnya perjanjian parkir yaitu penerima titipan pada dasarnya kebanyakan pelaku usaha khususnya perparkiran di kota-kota besar seperti Jakarta masih rendah dalam menjalankan peraturan yaitu menjalankan kewajibannya yaitu memberi keamanan dan rasa nyaman pada konsumen yang parkir di areal parkirnya. Padahal apabila ada konsumen yang parkir di areal parkirnya seharusnya menjaga kendaraan yang dititipkan padanya dikarenakan pemberi titipan memberi kepercayaan untuk menjaga kendaraannya kepada penerima titipan untuk tidak sampai mengalami krerusakan atau kehilangan tapi pada kenyataan mengenai sengketa parkir diatas akibat dari kelalaian atau wanprestasi yang dilakukan oleh penerima titipan diakibatkan oleh kesalahan dari penerima titipan itu sendiri.

C. PENUTUP

1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

31

a) Pertimbangan hukum dari hakim dalam menentukan kekuatan mengikat klausula eksonerasi yang dbuat dalam bentuk baku, dalam perjanjian parkir

Pertimbangan hakim di dalam putusan No. 551/PDT.G/ 2000/PN.JKT.PST dan putusan No. 345/PDT.G/2007/PN.JKT.PST telah mempertimbangkan aspek-aspek, Perjanjian penitipan dan Klausul Baku. Hal ini telah sesuai Pasal 1694 KUH Perdata dan Pasal 18 ayat (1) sub a, akan tetapi tidak mempertimbangkan aspek peraturan Perda Tentang Perparkiran nomor 5 Tahun 1999 khususnya pasal 36 ayat 2.

b) Keputusan hakim dalam mengabulkan gugatan konsumen yang terlibat dalam klausula eksonerasi yang dbuat dalam bentuk baku, dalam perjanjian parkir

Keputusan hakim di dalam putusan No. 551/PDT.G/ 2000/PN.JKT.PST dan putusan No. 345/PDT.G/ 2000/PN.JKT.PST telah mengabulkan tuntutan penggugat berupa: telah sesuai dengan pasal 1706 KUH Perdata jo 1714 ayat (1) KUH Perdata dan ketentuan pasal 18 ayat (1) sub a UUPK mengenai ketentuan pencantuman klausula baku dan pendapat J. Satrio.

32 D. DAFTAR PUSTAKA

David M.L. Tobing, Hukum Perlindungan Konsumen dan Parkir, Timpani, 2007. Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, Jakarta : PT Gramedia, Pustaka Utama. 2003.

J.Satrio, Wanprestasi Menurut KUH Perdata, Doktrin dan Yurisprudensi, PT. Citra Aditya Bakti Bandung. 2012.

Kelik Wardiono, Metodelogi Penelitian Hukum, Surakarta : FH UMS .2005. Kelik Wardiono, Landasan Normatif, Doktrin dan Praktiknya, Bahan Ajar Mata Kuliah Hukum Perlindungan Konsumen Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2007.

Khudzaifah Dimyati, Kelik Wardiono, Metode Penelitian Hukum, Surakarta : Buku Pegangan Kuliah Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2004.

Soerjono Soekamto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : UI Press. 1986.

Undang-Undang :

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Peraturan Daerah DKI Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Perparkiran Undang-Undang tentang Lalu Lintas Jalan Raya Nomor 14 Tahun 1992 Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999

33

Website :

Suara Karya Online, DPRD Minta Manajemen BP Parkir DKI Dibenahi, tanggal 4 April 2006 Beritajakarta.com. Komisi B DPRD DKI Minta Manajemen BP Parkir Dibenahi, tanggal 10 Maret 2006.

Dokumen terkait