A. Penetapan dan Penegasan Batas (Sk Mendagri) • Batas Kabupaten Kampar dengan Kota Pekanbaru
II.6 ASPEK LAYANAN URUSAN PILIHAN
II.6.2.1 Keragaan Perkembangan ternak .1 Populasi
Populasi ternak sampai dengan tahun 2010, baik ruminansia besar, ruminansia kecil maupun ternak unggas rata-rata mengalami peningkatan. Kenaikan ini didukung oleh beberapa faktor yaitu : 1) gairah beternak masyarakat semakin meningkat; 2) rata-rata peternak telah menerapkan teknologi untuk mendukung perkembangan peternakan sebagai salah satu contoh adalah Inseminasi Buatan; 3) tahun 2010, isu flu burung sudah mampu ditekan dan ditanggulangi sehingga peternak mampu bangkit kembali; 4) potensi sumber daya lokal telah dimanfaatkan peternak dalam mendukung perkembangan ternaknya.
Tabel 105 Populasi Ternak Menurut Jenis Ternak Tahun 2006-2010 (ekor) Kabupaten Kampar
Jenis Ternak 2006 2007 2008 2009 2010
Sapi Potong 10,264 11,185 14,914 17,291 19,875 Kerbau 21,555 22,548 18,923 21,703 24,785 Kambing 16,655 17,511 13,368 16,706 20,879 Domba - 799 74 85 97
Sumber: LPPD Kabupaten Kampar, 2011
Jumlah ternak Sapi Potong sampai dengan tahun 2010 bertambah 9.611 ekor dibanding tahun 2006 atau rata-rata meningkat 1.922 ekor (18,73%) setiap tahunnya.
Jumlah ternak Kerbau sampai dengan tahun 2010 bertambah 3.230 ekor dibanding tahun 2006, meskipun jumlah kerbau pada tahun 2008 sempat berkurang 3.625 ekor dibanding tahun 2007. Rata-rata pertambahan jumlah ternak kerbau adalah 646 ekor (3%) tiap tahun. Jumlah ternak Kambing sampai dengan tahun 2010 bertambah 4.224 ekor dibanding tahun 2006. pada tahun 2008, jumlah ternak Kambing sempat berkurang 4.143 ekor dibanding tahun 2007. Rata-rata pertambahan jumlah ternak kerbau adalah 845 ekor (5,07%) setiap tahunnya.
Jumlah ternak domba sampai dengan tahun 2010 bertambah 23 ekor dibanding tahun 2008, atau rata-rata bertambah 5 ekor (6,22%) setiap tahunnya.
Tabel 106 Populasi Ternak Unggas Tahun 2006-2010 (ekor) Kabupaten Kampar
Jenis Unggas 2006 2007 2008 2009 2010
Ayam Buras 1,077,665 1,131,610 418,447 449,245 482,306 Ayam Petelur 33,687 33,778 30,401 30,699 49,419 Ayam Ras Pedaging 9,683.457 11,433,864 12,076,057 12,754,320 13,343,135 Itik 5,238 5,615 5,992 6,533 7,123 Itik Manila 16,559 17,028 22,340 25,214 28,457
Sumber: LPPD Kabupaten Kampar, 2011
Jumlah ternak Ayam Buras pada tahun 2008 berkurang 713.163 ekor dibanding tahun 2007, hal ini mungkin disebabkan oleh adanya isu penyakit flu burung yang melanda dunia, sehingga di sebagian tempat termasuk di Kabupaten Kampar, hampir separuh populasi ayam buras dimusnahkan. Pada tahun 2010, populasi ayam buras kembali bertambah 63.859 ekor dibanding tahun 2008 atau rata-rata bertambah 21.286 ekor (5,09%) setiap tahunnya. Populasi ayam petelur tahun 2010 bertambah 15.732 ekor dibanding tahun 2006 atau rata-rata bertambah 3.146 ekor (9,34%) setiap tahunnya. Populasi ayam ras pedaging tahun 2010 bertambah 3.659.678 ekor dibanding tahun 2006 atau rata-rata bertambah 731.936 ekor (7,56%) setiap tahun.
Populasi itik tahun 2010 bertambah 1.885 ekor dibanding tahun 2006 atau rata-rata bertambah 377 ekor (7,2%) tiap tahun. Populasi itik manila tahun 2010 bertamba 11.898 ekor dibanding tahun 2006 atau rata-rata bertambah 2.380 ekor (14,37%) setiap tahun.
• Produksi Hasil Ternak
• Produksi Daging ternak tahun 2010 untuk Sapi naik sebesar 21,96% (dari 2.887 ekor tahun 2009 menjadi 3.521 ekor tahun 2010), Kerbau naik 20,75% (dari 3.567 ekor tahun 2009 menjadi 4.307 ekor tahun 2010), Kambing naik 35,81% (dari 1.547 ekor tahun 2009 menjadi 2.101 ekor tahun 2010). Hasil konversi pemotongan tersebut terhadap produksi daging secara keseluruhan naik 12,30% dari 2.223.798 kg tahun 209 menjadi 2.497.329 kg tahun 2010.
• Produksi telur naik 3,21%, dari 660.870 kg tahun 2009 naik 682.063 kg pada tahun 2010
• Konsumsi Daging dan Telur
• Perhitungan tingkat konsumsi daging dan telur adalah atas dasar jumlah yang tersedia dikonsumsi per jumlah penduduk Kabupaten Kampar. Hasil perhitungan tersebut menunjukan bahwa terjadi peningkatan konsumsi daging 8,46% dari 5,32 kg/kapita/tahun pada tahun 2009 menjadi 5,77 kg/kapita/tahun pada tahun 2010 dan untuk konsumsi telur meningkat 4,06% dari 3,45 kg/kapita/tahun tahun 2009 menjadi 3,59 kg/kapita/tahun untuk tahun 2010.
1. Keragaan Penyerapan Tenaga Kerja Bidang Peternakan
Peningkatan penyerapan tenaga kerja pada sub sektor peternakan komoditas ternak sapi dan kerbau pada tahun 2009 sebanyak 10.818 KK meningkat menjadi 11.582 KK (&,06%) pada tahun 2010.
2. Pendapatan Asli Daerah sub sektor Peternakan tahun 2005 Rp. 111.972.000,-; tahun 2006 Rp. 193.820.300,-; tahun 2007 Rp. 158.355.000,- ; tahun 2008 Rp. 194.581.500,-; tahun 2009 Rp. 234.315.500,-; tahun 2010 Rp. 260.420.000,- sedangkan tahun 2011 ditargetkan PAD sub sektor Peternakan sebesar Rp. 258.920.000,-.
II.6.2.1.2 Perikanan
Secara umum kondisi yang diinginkan dalam urusan kelautan dan perikanan adalah sebagai berikut :
a. Peningkatan pemanfaatan sumber daya alam/perikanan;
b. Peningkatan skala usaha dan produksi perikanan, yang diikuti dengan meningkatnya pendapatan masyarakat pelaku usaha;
c. Peningkatan fasilitasi permodalan dan pemasaran;
d. Dapat dikendalikannya keberadaan penyakit ikan menular;
e. Adanya peningkatan kontribusi dari bidang perikanan untuk ”mengentaskan” kemiskinan.
Tabel 107 Produksi Perikanan Menurut Sektor Perairan (Ton) Tahun 2005-2009 Kabupaten Kampar
Tahun Air Tawar Kolam Keramba Jumlah
2005 1.393,20 9.755,68 730,76 11.879,64 2006 971,00 10.194,48 4.858,15 16.023,63 2007 998,00 12.108,44 6.548,53 19.654,97 2008 808,30 12.325,31 6.972,28 20.105,89 2009 799,00 14.135,15 9.015,46 23.949,61
Sumber: LPPD Kabupaten Kampar, 2011
Secara keseluruhan jumlah produksi perikanan sampai dengan tahun 2009 meningkat 12.069,97 ton atau rata-rata peningkatan 2.413,99 ton (20,32%) tiap tahunnya. Jumlah produksi perikanan pada sektor perikanan Air Tawar dari tahun 2005 s/d 2009 menurun 594,20 ton atau rata-rata penurunan 118,84 ton (8,53%) tiap tahunnya.
Jumlah produksi perikanan pada sektor perikanan Kolam tahun 2005 s/d 2009 meningkat 4.379,47 ton atau rata-rata peningkatan 875,89 ton (8,98%) tiap tahunnya. Jumlah produksi perikanan pada sektor perikanan Keramba tahun 2005 s/d 2009 meningkat 8.284,70 ton atau rata-rata peningkatan 1.656,94 ton (226%%) tiap tahunnya.
Kecenderungan diatas menunjukkan bahwa budidaya ikan dengan keramba mengalami kemajuan yang cukup pesat, hal ini dikarenakan program Dinas Perikanan yang setiap tahun melakukan pembinaan dan pengembangan perikanan pada usaha budidaya keramba.
Tabel 108 Jumlah Rumah Tangga Perikanan Nelayan menurut Sektor Perikanan Tahun 2005 – 2009 Kabupaten Kampar
Tahun Air Tawar Kolam Keramba Jumlah
2005 1.386 5.677 999 8.062 2006 801 5.960 2.206 8.967 2007 840 6.586 2.994 10.420 2008 831 6.648 3.254 10.733 2009 4.957 6.871 6.121 19.049
Secara keseluruhan jumlah rumah tangga perikanan di Kabupaten Kampar pada dari tahun 2005 s/d 2009 meningkat sebanyak 10.987 rumah tangga atau rata-rata bertambah 2.197 (27,25%) rumah tangga tiap tahunnya. Jika diperbandingan dengan jumlah produksi perikanan menurut sektor perikanan pada tahun 2009, rata-rata jumlah produksi perikanan pada sektor perikanan air tawar adalah 0,16 ton/ rumah tangga, Kolam 2,06 ton/ rumah tangga dan keramba 1,47 ton/ rumah tangga atau secara keseluruhan rata-rata produksi perikanan sebanyak 1,26 ton/rumah tangga/ tahun.
Tabel 109 Jumlah Produksi Budidaya Perikanan menurut Jenis Ikan (ton) Tahun 2005-2009Kabupaten Kampar
Tahun Mas Patin Nila Bawal Gurami Lele Lemak Baung Lain2 Jumlah
2007 2915.95 5906.11 2440.34 1085.81 1649.66 1406.72 1055.16 341.77 1933.48 18735.00 2008 2944.65 7246.96 2558 751.84 1439.02 1991.65 1590.37 500.91 274.22 19297.62 2009 4461.48 10792.98 2103.98 812.88 876.77 1655.36 1871.26 501.24 74.65 23150.61
Sumber: LPPD Kabupaten Kampar, 2011
Sampai dengan tahun 2009 persentase produksi budidaya perikanan menurut jenis dari yang terbanyak adalah sebagai berikut : Ikan patin (46,6%), Ikan Mas (19,3%), Ikan Nila (9,09%), Ikan Lemak (8,08%), Ikan lele (7,15%), Ikan Gurami (3,79%), Ikan Bawal (3,51%), Ikan Baung (2,17%) dan lain-lain (0,32%). Berdasarkan jenisnya mulai tahun 2007 s/d 2009, jenis ikan yang meningkat produksinya adalah ikan Mas,Patin, Lele, Lemak, Baung sedangkan yang mengalami penurunan adalah ikan Nila, Bawal, Gurami,dan lain-lain.
Tabel 110 Luas Kolam, Keramba, Mina Padi Tahun 2005-2009 Kabupaten Kampar
Tahun Kolam (Ha) Keramba (Unit)
2005 632,57 1818
2006 645,22 4015
2007 656,72 4779
2008 657,30 5129
2009 700,05 7150
Sumber: LPPD Kabupaten Kampar, 2011
Luas Kolam Mina Padi mulai tahun 2005 s/d 2009 mengalami peningkatan 67,48 Ha atau rata-rata bertambah 13,50 Ha (2,13%) tiap tahunnya. Jumlah Keramba mulai tahun 2005 s/d 2009 bertambah 5.332 unit atau rata-rata bertambah 1.066 unit (58,66%) tiap tahunnya.
II.6.2.1.3 Perkebunan
Capaian Kinerja pelaksanaan program di Bidang Perkebunan dapat dilihat dari data tabel berikut :
Tabel 111 Jumlah Petani, Luas Tanaman dan Produksi Perkebunan Tahun 2005-2009Kabupaten Kampar
TAHUN PETANI LUAS AREAL PERKEBUNAN (HA) PRODUKSI TBM TM TTR JUMLAH 2005 187,895 56,062 300,990 12,163 369,215 1,062,636 2006 188,469 46,288 169,906 12,631 228,825 126,315 2007 106,648 30,687 82,580 15,590 128,857 152,538 2008 176,275 79,218 324,969 19,579 423,766 1,308,544 2009 177,566 47,677 194,971 21,203 263,851 1,840,647
Sumber: LPPD Kabupaten Kampar, 2011
Tabel 112 Jumlah Petani, Luas Tanaman dan Produksi Perkebunan Tahun 2009 Kabupaten Kampar
JENIS TANAMAN JUMLAH PETANI LUAS AREAL PRODUKSI (TON)
KARET 48,809 91,328 46,664 KELAPA SAWIT 77,610 164,551 1,788,218 KELAPA 44,624 2,921 1,136
JENIS TANAMAN JUMLAH PETANI LUAS AREAL PRODUKSI (TON) KEMIRI 5 2 1 GAMBIR 2,121 4,903 4,572 KOPI 93 17 1 PINANG 3,587 81 21 KAKAO 717 47 23 Jumlah 177,566 263,850 1,840,636
Sumber: LPPD Kabupaten Kampar, 2011
Jumlah petani yang terbanyak menurut jenis tanaman pada tahun 2009 adalah Petani Kelapa Sawit sebanyak 77.610 orang (43,71%), dan diikuti oleh petani Karet sebanyak 48.809 orang (27,49%), petani kelapa 44.624 orang (25,13%), Petani Pinang 3.587 orang (2,02%) dan petani gambir 2.121 orang (1,19%).
Luas areal perkebunan terbesar menurut jenis tanaman perkebunan pada tahun 2009 adalah Kelapa sawit 164.551 Ha (62,37%), Karet 91.328 Ha (34,61%), Gambir 4.903 Ha (1,86%), Kelapa 2.921 Ha(1,11%), Pinang 81 Ha (0,03%) dan Kakao 47 Ha (0,03%).
Jumlah produksi perkebunan menurut jenis tanaman sampai dengan tahun 2009 adalah sebagai berikut : Kelapa Sawit 1.788.218 ton (97,15%), Karet 46.664 ton (2,54%), Gambir 4.572 ton (0,25%) dan Kelapa 1.136 ton (0,06%).
Tabel 113 Perkembangan Usaha Perkebunan Besar Sampai dengan Tahun 2009 Kabupaten Kampar
JENIS TANAMAN Luas Areal (Ha) Produksi (Ton)
Perkebunan Besar Negara 33.915 529.885
- Karet 8.156 12.705
- Kelapa Sawit 25.759 515.180
Perkebunan Besar Swasta 113.634 2.222.306
- Karet 1.647 2.970
- Kelapa Sawit 131.987 2.219.336
Jumlah 167.549 2.752.191
Sumber: LPPD Kabupaten Kampar, 2011
Jumlah petani dan jumlah produksi, jenis tanaman yang paling dominan adalah Jenis Kelapa Sawit. Berdasarkan penyebaran menurut kecamatan, Jumlah Petani, Luas Areal dan Produksi (ton) adalah sebagai berikut :
} Jumlah petani kelapa sawit terbanyak berada pada Kecamatan Tapung Hilir sebanyak 18.149 orang (23,56%), diikuti oleh Kecamatan Tapung 16.975 orang (22,03%), Kecamatan Tapung Hulu 9.738 orang (12,64%), Kecamatan Kampar Kiri 8.137 orang (10.56%) dan Kecamatan Siak Hulu 5.703 orang (7,4%).
} Luas areal kelapa sawit terbesar berada pada Kecamatan Tapung yaitu 32.924 Ha (20,05%), diikuti Kecamatan Tapung Hilir 28.508 Ha (17,36%), Kecamatan Tapung Hulu 22.754 Ha (13,86%), Kecamatan Kampar Kiri 15.879 Ha (9,67%) dan Kecamatan Siak Hulu 13.907 Ha (8,47%).
} Produksi kelapa sawit terbanyak berada pada kecamatan Tapung Hilir yaitu 406.447 ton (22,73%), diikuti oleh Kecamatan Tapung 384.244 ton (21,49%), Kecamatan Tapung Hulu 232.390 ton (13%), Kecamatan Kampar Kiri 226.890 ton (12,69%) dan Kecamatan Siak Hulu 85.827 ton (4,8%).
Pelaksanaan program dan kegiatan Tahun 2005-2009 yang terkait urusan kehutanan mendukung capaian kinerja sebagai berikut:
Tabel 114 Luas hutan Menurut Jenis Kabupaten Kampar
JENIS HUTAN LUAS (HA) %
Hutan Lindung 29.906,04 6.32 Hutan Konservasi 103.136,29 21.80 Hutan Produksi Terbatas 303.351,42 64.11 Hutan Produksi 36.749,42 7.77
Jumlah 473.143,17 100.00
Sumber: LPPD Kabupaten Kampar, 2011
Kawasan hutan lindung terluas berada di Kecamatan XIII Koto Kampar 18.182,21 Ha (60,8%), Kecamatan Kampar Kiri Hulu 8.810,92 (29,46%) dan Kecamatan Kampar Kiri 2.273,63 Ha (7,6%). Kawasan hutan Konservasi terluas berada di Kecamatan XIII Koto Kampar 12.233,61 Ha (11,86%), Kecamatan Kampar Kiri Hulu 82.297,57 Ha (79.79%) dan Kecamatan Kampar Kiri 3.786,79 Ha (3,67%) dan Tapung Hilir 3.347,21 Ha (3,25%).
Kawasan hutan Produksi Terbatas (HPT) terluas berada di Kecamatan XIII Koto Kampar 58.011,07 Ha (19,12%), Kecamatan Kampar Kiri Hilir 51.472 Ha (16,97%), Kecamatan Kampar Kiri 43.610,65 Ha (14,28%), Kecamatan Tapung Hilir 36.550,02 Ha (12,05%), Kecamatan Kampar Kiri Hulu 28.863,10 Ha (9,51%) dan Kecamatan Tapung 27.105,49 Ha (8,94%). Kawasan hutan Produksi (HP) terluas berada di Kecamatan Tapung Hulu 18.484,07 Ha (50,3%), Kecamatan Tapung Hilir 12.028,42 Ha (32,73%) dan Kecamatan Gunung Sahilan 6.236,93 Ha (16,97%).
Tabel 115 Luas dan Potensi Sumber Daya Hutan Per Kawasan Tahun 2009
No Jenis Hutan Luas (Ha) Berhutan (Ha) Tidak Berhutan (Ha) Potensi Kayu (M3/Ha)
I Hutan Lindung 29,906.04 24,979.73 4,926.32 329.34 1 Bukit Suligi 5,798.16 4,318.71 1,479.46 85.62 2 Batang Ulak I 12,612.63 12,469.61 143.02 128.90 3 Batang Ulak II 10,893.29 8,191.41 2,701.88 114.82 4 Sungai Kepenuhan 601.96 - 601.96 - II Hutan Konservasi 103,136.29 84,898.65 18,237.64 - 1 SM Bukit Rimbang Baling 86,084.36 73,093.67 12,990.69 - 2 Tahura Sutan Syarif Kasim 3,347.21 - 3,347.21 - 3 CA Bukit Bungkuk 12,820.35 11,012.77 1,807.58 - 4 TWA Buluh Cina 884.37 792.21 92.16 - III Hutan Produksi Terbatas 303,351.42 138,974.27 164,377.16 920.82 1 Batang Lipai Siabu 118,015.51 72,163.29 45,852.22 240.75 2 Minas 37,046.21 9,430.76 27,615.45 174.48 3 Muara Mahat 9,199.91 1,224.24 7,975.67 33.94 4 Sei Pialan 5,418.98 3,494.12 1,924.86 87.65 5 Tesso Nilo 87,346.00 44,233.99 43,112.01 205.55 6 Batu Gajah 30,608.95 4,309.11 26,299.84 150.00 7 Bukit Permanisan 15,715.86 4,118.76 11,597.11 28.45 IV Hutan Produksi 36,749.42 3,415.08 33,334.34 166.51 1 Rangau Tamaluku 30,512.49 32.74 30,479.75 16.51 2 Tanjung Pauh 6,236.93 3,382.34 2,854.59 150.00
Jumlah 473,143.17 252,267.73 220,875.46
Sumber: LPPD Kabupaten Kampar, 2011
Persentase Luas kawasan berhutan pada Kawasan Hutan Lindung di Kabupaten Kampar yaitu 83,53% dan yang tidak berhutan 16,47%. Persentase Luas kawasan berhutan pada Kawasan Hutan Konservasi di Kabupaten Kampar yaitu 82,32% dan yang tidak berhutan 17,68%. Persentase Luas kawasan berhutan pada Kawasan Hutan Produksi Terbatas di Kabupaten Kampar yaitu 45,81% dan yang tidak berhutan 54,19%. Persentase Luas kawasan berhutan pada Kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Kampar yaitu 9,29% dan yang tidak berhutan 90,17%.
Untuk melihat luas kawasan hutan berdasarkan fungsi yang ada pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Kampar, dapat di lihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 116 Luas Kawasan Hutan Berdasarkan Fungsi Masing-masing kecamatan Tahun 2010 Kabupaten Kampar
No. KECAMATAN FUNGSI/LUAS HUTAN (HA) TOTAL (HA) HL HPT HP HK 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Kampar Kiri Kampar Kiri Hulu Kampar Kiri Hilir Kpr. Kiri Tengah Gunung Sahilan XIII Koto Kampar Bangkinang Barat Salo Tapung Tapung Hulu Tapung Hilir Bangkinang Bangk. Seberang Kampar Kampar Timur Rumbio Jaya Kampar Utara Tambang Siak Hulu Perhentian Raja 2.273,63 8.810,92 - - - 18.182,21 - 37,32 - 601,96 - - - - - - - - - - 43.610,65 28.863,10 51.472,00 14.268.77 10.350,80 58.011,07 1.389,33 3.028,20 27.105,49 746,71 36.550,02 9.126,28 3.149,70 1.893,60 - - - - 11.393,05 2.392,65 - - - - 6.236,93 - - - - 18.484,07 12.028,42 - - - - - - - - - 3.786,79 82.297,57 - - - 12.233,61 439,43 147,31 - - 3.347,21 - - - - - - - 884,37 - 49.671,07 119.971,59 51.472,00 14.268,77 16.587,73 88.426,89 1.828,76 3.212,83 27.105,49 19.832,74 51.925,65 9.126,28 3.149,70 1.893,60 - - - - 12.277,42 2.392,65 J u m l a h 29.906,04 303.351,42 36.749,42 103.136,29 473.143,17
Sumber : Profl Kabupaten Kampar, 2010
Dari tabel di atas terlihat bahwa persentase luas kawasan Hutan Produksi Terbatas mendominasi secara keseluruhan luas hutan yang ada di Kabupaten Kampar, yaitu sebesar 63, 98 persen. Kondisi ini memberikan indikasi bahwa masih luas kawasan hutan yang bisa di manfaatkan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat tempatan. Untuk melindungi kelestarian lingkungan, keberadaan Hutan Konservasi mutlak di perlukan. Luas kawasan Hutan Konservasi di Kabupaten Kampar adalah 21,75 persen dari total keseluruhan hutan yang ada di Kabupaten Kampar. Sedangkan persentase hutan lainnya adalah, hutan produksi tetap sebesar 7,75 persen dan Hutan lindung sebesar 6.31 persen.
Meskipun luas hutan di Kabupaten Kampar masih tergolong cukup luas, namun dari tahun ketahun selalu mengalami penurunan. Hal ini disebabkan beberapa hutan di ubah fungsi oleh manusia untuk kepentingan lain, seperti untuk perkebunan dan aktivitas lainnya. Disamping itu, ancaman terhadap keberadaan hutan di Kabupaten Kampar adalah masih banyaknya lahan kritis pada masing-masing hutan. Lahan kritis merupakan lahan dalam kondisi semak
belukar dan terbuka, dimana luasnya mencapai 35.649,55 Ha. Keadaan ini apabila tidak segera di rehabilitasi di kuatirkan dapat mengalami kerusakan lebih parah dan tidak menutup kemungkinan berimplikasi kepada terjadinya bencana alam seperti banjir, longsor dan lainnya. Untuk melihat besaran lahan kritis pada masing-masing kawasan hutan, dapat di lihat pada Grafik di bawah ini.
Gambar 2 Besaran Lahan Kritis pada Masing-masing Kawasan Hutan
Sumber : Profil Kabupaten Kampar, 2010
Dari gambar di atas terlihat bahwa besaran lahan kritis paling luas terdapat di kawasan Hutan Produksi Tetap, yaitu seluas 32.134, 45 Ha atau 90,14 persen. Kondisi ini memberikan gambaran, lebih dari 90 persen lahan kritis di Kabupaten Kampar terdapat di kawasan Hutan Produksi Tetap. Sedangkan sisa lahan kritis lainnya dapat kita jumpai di kawasan Hutan Produksi Terbatas seluas 2.993,96 Ha, atau 8,40 persen, Hutan Konservasi seluas 371,23 Ha atau 1,04 persen dan Hutan Lindung seluas 142,92 Ha atau 0,40 persen. Meskipun luas lahan kritis pada kawasan Hutan Lindung relatif sedikit, seharusnya hal ini tidak boleh terjadi, mengingat kawasan ini harus di jaga kelestariannya.
Faktor lain yang menyebabkan lahan kritis terus mengalami peningkatan luas di Kabupaten Kampar dari tahun ketahun adalah masalah kebakaran hutan. Banyaknya pengusaha yang membuka lahan baru untuk perkebunan sawit dengan cara pembakaran, telah menyebabkan kebakaran hutan tidak terelakkan. Kebakaran hutan tidak saja menimbulkan masalah bagi Kabupaten Kampar, tetapi sudah menjadi isu nasional. Dampak dari kebakaran hutan telah mengganggu jalur transportasi negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapore. Kalau kondisi ini di biarkan terus tanpa ada upaya untuk mengatasinya tentu akan dapat merusak citra Indonesia di mata dunia internasional.
Susahnya mengatasi kebakaran hutan disebabkan kurangnya pengawasan terhadap pengusaha yang melakukan pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Kondisi ini di perburuk lagi dengan sebahagian lahan yang ada di Kabupaten Kampar merupakan lahan gambut yang mudah terbakar, akan tetapi susah untuk di padamkan. Namun melalui satelit, kondisi titik api (hot spot) bisa di ketahui penyebarannya di masing-masing lokasi. Untuk
KETERANGAN
HL à Hutan Lindung HP à Hutan Produksi HPTà Hutan Produksi HK à Htn. Konservasi
melihat penyebaran titik api di Kabupaten Kampar pada bulan Mei 2008, dapat di lihat pada Gambar di bawah ini.
Gambar 3 Tingkat Penyebaran Titik Api Tahun 2010 Kabupaten Kampar
Sumber : Profil Kabupaten Kampar, 2010
Pada gambar peta di atas terlihat bahwa titik api tersebar di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Kampar. Sedangkan kecamatan yang mempunyai titik api paling banyak berdasarkan hasil pantauan Satelit NOAA adalah Kecamatan Kampar Kiri dan Tapung. Hal ini memberikan indikasi bahwa pada Tahun 2008, kecamatan tersebut memang banyak melakukan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit. Kondisi ini telah memberikan dampak yang sangat luas, khususnya bagi Kota Pekanbaru yang jaraknya tidak begitu jauh dengan sumber kebakaran lahan. Kota Pekanbaru di selimuti asap/kabut pada pagi hari, sehingga menyulitkan bagi pengendara kenderaan bermotor, berbagai penerbangan dari Bandara Sultan Syarif Qasim harus mengalami penundaan. Namun dampak yang paling serius di rasakan adalah dapat mengganggu kesehatan. Sedangkan pada Tahun 2009 pembakaran hutan masih terus berlanjut. Dari hasil pemantauan satelit NOAA, ada 165 titik api di Kabupaten Kampar, dimana sebanyak 50 titik api ada di Kecamatan Tapung, 19 titi api di Kampar Kiri, 16 titik api di Gunung Sahilan, 15 titik api di XIII Koto Kampar, 10 titik api di Tambang, 8 titik api di Tapung Hulu, 7 titik api masing-masing di Kampar Kiri Hulu dan Bangkinang Barat, 6 titik api masing-masing di Kampar Kiri Tengah dan Tapung Hilir, 5 titik api masing-masing di Salo, Kampar Utara, Siak Hulu dan Perhentian Raja, sedangkan 1 titik api di Bangkinang.
Hutan memiliki sumber kekayaan yang tak ternilai kalau kita bisa mengelola dengan baik. Banyak sumber penghidupan yang bisa di manfaatkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari yang berasal dari hutan. Mulai dari rotan, danan, sampai kepada kayu yang merupakan salah satu bahan pembuatan rumah. Salah satu hasil hutan yang mempunyai nilai jual tnggi di Kabupaten Kampar sekarang ini adalah kayu. Meskipun produksinya dari tahun ketahun cenderung mengalami penurunan, namun industri ini cukup menjanjikan. Seiring dengan semakin pesatnya pembangunan perumahan dewasa ini, permintaan akan kayupun mengalami peningkatan.
Pemanfaatan hasil hutan kayu adalah segala bentuk usaha yang memanfaatkan dan mengusahakan hasil hutan kayu dengan tidak merusak lingkungan dan tidak mengurangi fungsi pokok hutan. Kegiatan ini hanya dapat dilaksanakan pada areal hutan yang memiliki potensi untuk dilakukan kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu dan dapat dilaksanakan setelah di peroleh izin. Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) pada Hutan Alam adalah izin untuk memanfaatkan hutan produksi yang kegiatannya terdiri dari pemanenan atau penebangan, penanaman, pemeliharaan, pengamanan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan kayu. Untuk melihat perusahaan yang mendapat IUPHHK di Kabupaten Kampar, tersaji pada tabel di bawah ini.
Tabel 117 Perusahaan yang Mendapat IUPHHK Tahun 2010 Kabupaten Kampar
NO. IUPHHK –HT/HA NOMOR PERIZINAN TANGGAL LUAS (HA) KET A IUPHHK – HT 1 2 3 4 5 6 7 8 PT. ARARA ABADI PT. NUSA WANA RAYA PT. PERAWANG SUKSES P.I PT. RAPP
PT. RIMBA SERAYA UTAMA PT. SIAK RAYA TIMBER PT. WANANUGRAHA B.L PT. RIAU ABADI LESTARI
743/Kpts-II/1996 444/Kpts-II/1997 249/Kpts-II/1998 327/Menhut-II/09 599/Kpts-II/1996 202/Menhut-IV/07 351/Menhut-IV/98 542/Kpts-II/1997 25–11-1996 06-08-1997 27-02-1998 12-06-2009 16-09-1996 16-05-2007 27-02-1998 25-08-1997 19.090 8.005 50.725 30.422 12.600 16.191 10.087 4.000 Jumlah 151.120 B IUPHHK – HA 1 2 3 PT. MANDAU ABADI PT. SIAK RAYA TIMBER PT. HUTANI SOLA LESTARI
100/Kpts-II/2000 89/Kpts-II/2001 840/Kpts-VI/1999 26-12-2000 15-03-2001 06-10-1999 40.842 2.306 9.195 Proses Pengambilan T o t a l 203.463
Sumber : Profil Kabupaten Kampar, 2010
II.6.2.1.5 Energi dan Sumberdaya Mineral
Sektor Pertambangan mempunyai peranan yang sangat besar dalam upaya meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Kampar. Selama lima tahun terakhir ini, usaha pertambangan terus memberikan kontribusi yang paling besar dari sembilan lapangan usaha yang dijadikan indikator dalam perhitungan PDRB suatu daerah. Meskipun produksi Migas menurut Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKSK) cendrung mengalami fluktuasi setiap tahunnya, hal ini tidak mempengaruhi sektor pertambangan sebagai sumbangsih terbesar PDRB di Kabupaten Kampar selama lima tahun terakhir ini.
Ada beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama dalam pengelolaan Tambang Migas di Kabupaten Kampar, yaitu : BOP PT. BSP, C & T Siak PSC, CPI dan SPR Langgak Ex C & T MFK PSC. Dari kontraktor tersebut, di hasilkanlah produksi minyak setiap tahunnya yang menjadi penyumbang dalam PDRB Kabupaten Kampar itu sendiri. Produksi terbesar Migas Kabupaten Kampar terjadi pada tahun 2006, yaitu sebesar 17.260.484,99 barel, namun setelah itu terus mengalami penurunan produksi. Pada Tahun 2007, produksi minyak dari KKSK di Kabupaten Kampar sebesar 11.917.888 barel, jauh di bawah produksi tahun sebelumnya. Kondisi ini kembali mengalami peningkatan produksi pada Tahun 2008, menjadi 15.004.449 barel. Namun kondisi ini tidak bisa di pertahankan untuk tahun berikutnya, dimana jumlah produksi kembali mengalami penurunan menjadi 14.343.590 barel. Begitu juga pada Tahun 2010, dimana jumlah produksi Migas Kabupaten Kampar kembali mengalami penurunan produksi menjadi 13.076.886 barel.
Sumbangsih sektor pertambangan Kabupaten Kampar tidak semata-mata dari tambang Migas, akan tetapi masih ada beberapa bahan tambang lainnya yang secara langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Meskipun dari berbagai penelitian terhadap bahan tambang yang ada, Kabupaten Kampar mempunyai potensi yang cukup besar. Hanya saja, sampai Tahun 2010 ini, baru jenis Sirtu dan pasir kuarsa yang mampu berproduksi setiap tahunnya selama lima tahun terakhir ini. Untuk melihat jumlah produksi masing-masing bahan galian tersebut selama lima tahun terakhir di Kabupaten Kampar, dapat di lihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 118 Jumlah Produksi Barang Galian Unggulan Menurut Jenis Barang Galian Tahun 2006-2010 Kabupaten Kampar
NO BARANG GALIAN T A H U N (.000)
2006 2007 2008 2009 2010
1 SIRTU (M3) 22.230 100.048 741.745 389.051 378.926 2 PASIR KUARSA (M3) 40.704,5 1.183 162.298 7.216 4.507 3 TIMAH PUTIH (Ton) - 5.918 1.043 - - 4 MANGAN (Ton) - 1.468 236.858 - -
Sumber : Profil Kabupaten Kampar, 2010
Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian yang terkait dalam pembangunan sektor pertambangan dan energi di Kabupaten Kampar sekarang ini adalah masalah listrik (energi). Sampai sekarang ini, krisis listrik hampir merata di berbagai daerah yang ada di Provinsi Riau, hal ini bisa di lihat dengan adanya pemadaman bergilir di berbagai daerah. Krisis listrik semakin lebih parah bila di akumulasi dengan masih terdapatnya 48,47 persen Rumah Tangga di Kabupaten Kampar yang belum mendapatkan penerangan listrik.
Ironis memang, ketika energi listrik sudah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari, namun pada kenyataannya masih banyak daerah yang ada di Kabupaten Kampar justru belum tersentuh oleh pelayanan listrik. Maka sudah menjadi keharusan bagi Pemerintah Daerah untuk bisa menyedian pelayanan listrik bagi seluruh penduduknya, agar perwujudan visi dan misi yang sudah di tetapkan bisa tercapai. Penyedian listrik harus seimbang bagi setiap masyarakat, tanpa melihat status sosial yang melekat dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Untuk melihat perbandingan Rumah Tangga yang sudah dan belum memakai listrik menurut kecamatan pada Tahun 2010, dapat di lihat pada Tabel di bawah ini.
Tabel 119 Jumlah Rumah Tangga yang Memiliki Listrik Menurut Kecamatan Tahun 2010 Kabupaten Kampar
No. KECAMATAN JUMLAH RUMAH TANGGA MEMAKAI LISTRIK TIDAK MEMAKAI LISTRIK
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. Kampar Kiri Kampar Kiri Hulu Kampar Kiri Hilir Kampar Kr. Tengah Gunung Sahilan XIII Koto Kampar Bangkinang Barat Salo Tapung Tapung Hulu Tapung Hilir Bangkinang Bangk. Seberang Kampar Kampar Timur Rumbio Jaya Kampar Utara Tambang Siak Hulu Perhentian Raja Koto Kampar Hulu
5.609 2.515 2.477 5.778 3.125 5.460 5.020 5.367 17.117 18.531 12.961 7.450 5.896 9.277 4.764 3.390 3.526 7.447 17.656 3.279 3.653 2.422 497 998 2.156 1.369 2.015 3.902 4.868 6.322 1.837 2.298 6.083 4.787 8.377 2.632 1.839 2.790 6.393 13.034 962 1.875 3.187 2.018 1.479 3.622 1.756 3.445 1.118 499 10.795 16.694 10.663 1.367 1.109 900 2.132 1.551 736 1.054 4.622 2.317 1.778 JUMLAH 150.298 77.456 72.842 2009 147.166 66.564 80.032 2008 149.837 66.328 83.509
Sumber : Profil Kabupaten Kampar, 2010
Berdasarkan Tabel 2.46 diatas, jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik dari tahun ke