Pada kegiatan belajar pertama modul ini, Anda telah mengenal dan tentu diharapkan telah menguasai sejarah perjuangan bangsa Indionesia dan semangat kebangsaan. Pada kegiatan belajar kedua berikut ini, Anda akan diajak untuk mengenal kondisi bangsa Indonesa sebaga bangsa yang beragam terutama dalam aspek sosal budaya. Bangsa Indonesa sebaga bangsa yang beragam n memlk semboyan bhnneka tunggal ka.
Bhnneka Tunggal Ika adalah semboyan atau motto bangsa Indonesa yang terdapat dalam lambang negara “Burung Garuda”. Istlah tersebut dambl dar buku Sutasoma karangan Mpu Tantular yang dtuls dalam bahasa Sanskrit. Bhnneka Tunggal Ika menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang heterogen, yaitu bangsa yang mempunya keanekaragaman, bak dalam agama, budaya, maupun ras dan suku bangsa.
Kebhnnekaan yang ada pada dr bangsa Indonesa merupakan potens sekalgus tantangan. Kebhinnekaan sebagai potensi telah terbukti secara nyata dapat menjadi
perekat atau patri bagi bangsa Indonesia sejak awal-awal kemerdekaan bahkan sejak
tumbuhnya kesadaran kehdupan berbangsa dan bernegara, yatu pada tahun 1908 dalam
melawan dan mengisi serta mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Sejarah perjalanan bangsa Indonesia telah membuktikan, bahwa jauh sebelum tahun 1908 perjuangan bangsa Indonesia selalu dapat dipatahkan oleh pemerintahan kolonial, salah satu penyebabnya karena perjuangan bangsa Indonesia masih bersifat kedaerahan, yatu untuk kepentngan daerah atau wlayahnya masng-masng. Konds n memudahkan pemerntahan kolonal Belanda untuk melaksanakan poltk devide et
impera oleh pemerntahan kolonal.
Tahun 1908 telah dirintis perjuangan yang bersifat nasional, yaitu dipelopori oleh Dr. Wahdn Sudrohusodo dengan mendrkan organsas modern yang dber nama “ Boed Utomo”.
Kesadaran kehdupan berbangsa dan bernegara makn nampak dengan dcetuskannya Ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada waktu tu seluruh pemuda dar berbaga kesatuan aks, sepert Jong Java; Jong Sumatra Bond; Jong Celebes dan
sebaganya mengkrarkan dr dalam satu sumpah yang dsebut Sumpah pemuda, yatu hanya akan menjunjung tinggi, Satu Tanah Air; Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia
“Pada saat yang bersamaan untuk pertama kalnya dnyanykan lagu “Indonesa Raya”
cptaan W.R. Supratman.
Ikrar para pemuda yang hanya akan menjunjung tinggi, Satu Tanah Air; Satu Bangsa
dan Satu Bahasa Indonesia, menunjukkan bahwa kesadaran bangsa Indonesia akan
pentngnya persatuan dan kesatuan bangsa semakn menngkat. Mereka menyadar bahwa konds rl bangsa Indonesa penuh dengan kebhnnekaan.
Semangat Sumpah Pemuda menjadi inspirasi tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk terus dan terus berjuang dalam upaya merebut kembali kemerdekaan bangsa, usaha ini ternyata tdak sa-sa karena berkat usaha keras dan brkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, akhrnya pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesa berhasl memproklamaskan kemerdekaannya. Proklamas n merupakan krar seluruh bangsa Indonesa untuk bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republk Indonesa.
Kebhinnekaan telah menjadi kekayaan khusus bagi bangsa Indonesia yang amat menark, bak bag bangsa Indonesa sendr ataupun bag bangsa-bangsa lan d duna sehingga dapat menarik devisa melalui kunjungan wisata atau kunjungan lainnya.
Dengan demikian, jelaslah bahwa kebhinnekaan merupakan kekuatan dan kekayaan sekaligus juga merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia. Tantangan itu sangat terasa terutama ketka bangsa Indonesa membutuhkan kebersamaan dan persatuan dalam rangka menghadap dnamka kehdupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, bak yang berasal dar dalam maupun dar luar neger, sepert halnya dewasa n kta sedang bersama-sama menghadap dan berupaya memecahkan serta mengakhr krss
multidimensional dan krss ekonom yang sudah berlangsung cukup lama. Tanpa adanya
persatuan dan kesatuan vs dan ms dar seluruh bangsa Indonesa mustahl kta dapat ke luar dar krss tersebut.
Kebhnnekaan adalah sfat nyata bangsa Indonesa yang serng kta banggakan namun sekalgus kta prhatnkan. Hal n dkarenakan mengatur masyarakat yang heterogen jauh lebih sulit dibandingkan masyarakat homogen. Masyarakat yang heterogen mempunyai cita-cita, keinginan dan harapan yang jauh lebih bervariasi dibandingkan dengan masyarakat homogen.
Indonesa adalah negara yang terdr dar 33 provns maka apabla setap provns mempunya satu atau dua kengnan/program maka d Indonesa palng tdak ada 33 sampa 66 kengnan/program yang harus dakomodas. Untuk mengakomodas kengnan/program setap daerah tdaklah semudah kta membalkkan tangan. Dalam art memerlukan perencanaan yang matang untuk memproses dan melaksanakan berbaga tindakan kebijakan.
mana Jepang adalah negara yang sudah jauh lebih maju dan makmur. Salah satu faktor pendukungnya adalah keseragaman kebudayaan dan bahasa. Adanya keseragaman ternyata memudahkan penyusunan rencana-rencana dan kebijaksanaan yang sama dan amat memudahkan komunkas antara satu wlayah dengan wlayah lannya, antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lannya dan antara penyelenggara negara dan warga negara.
Sebaliknya India, di mana suasana ketenangan, keamanan dan kerja sama antara suku-suku bangsa dan golongan amat terganggu oleh perbedaan norma-norma kasta dan perbedaan agama. Sementara tu untuk mencptakan persatuan dan kesatuan d tngkat nasional kadang-kadang terganggu oleh masalah kebijaksanaan nasional. Begitu juga apa yang terjadi di Filipina negara tetangga kita yang juga sama-sama anggota organisasi regonal ASEAN masalah persatuan dan kesatuan bangsa serng terganggu oleh faktor agama (kaum mls Moro d Flpna Selatan), maupun faktor bahasa yang lebh serng menjadi bahan persaingan, yaitu antara Bahasa Tagalog dan Bahasa Bisayan.
Oleh karena itu, amatlah logis dalam upaya mengantisipasi terjadinya perpecahan antar suku bangsa MPR sebaga lembaga tertngg negara dalam sdang tahunnya yang pertama pada tahun 2000 mengeluarkan Ketetapan Nomor V/MPR/2000 tentang “Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasonal” d mana dalam salah satu kalmatnya menyatakan bahwa :Konflik sosial budaya telah terjadi karena kemajemukan suku, kebudayaan dan agama yang tdak dkelola dengan bak dan adl oleh pemerntah maupun masyarakat. Hal tu semakn dperkuat oleh phak penguasa yang menghdupkan kembal cara-cara menyelenggarakan pemerntahan yang feudalstk dan paternalstk sehngga menimbulkan konflik horizontal yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.
Bangsa Indonesa memerlukan konds penyelenggaraan negara yang mampu memahami dan mengelola kemajemukan bangsa secara adil sehingga dapat terwujud tolerans, kerukunan sosal, kebersamaan dan kesetaraan berbangsa. Dengan demkan, arah kebijakan pembangunan yang diperlukan di Indonesia adalah meningkatkan kerukunan sosal antara pemeluk agama, suku dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya melalui dialog dan kerja sama dengan prinsip kebersamaan, kesetaraan, toleransi dan salng menghormat. Intervens pemerntah dalam kehdupan sosal budaya perlu dkurang, sedangkan potens dan nsatf masyarakat perlu dtngkatkan.
Kebhinnekaan dapat menjadi tantangan atau ancaman karena kebhinnekaan mudah membuat orang untuk berbeda pendapat yang lepas kendal,tumbuhnya perasaan kedaerahan atau kesukuan atau kekerasan yang sewaktu-waktu bisa menjadi ledakan yang akan mengancam ntegras atau persatuan dan kesatuan bangsa.
Konflik-konflik atau gejolak-gejolak atau prbedaan pandangan, pendapat dapat dselesakan dengan bak melalu dalog yang menggunakan prnsp kebersamaan dan kesetaraan. Melalu dalog kta akan dapat mengetahu apa sebenarnya yang
dpermasalahkan atau dngnkan oleh masyarakat d suatu wlayah atau daerah.
Dengan mengetahui apa yang menjadi harapan, keinginan dan cita-cita masyarakat tersebut, tnggal bagamana pemerntah dan masyarakat daerah yang bersangkutan mewujudkannya dalam bentuk kebijakan atau program yang diikuti dengan berbagai alternatif kebijakan dan alternatif tindakannya. Sebagai salah satu upaya yang dilakukan pemerintah pusat dalam mengantisipasi apa yang menjadi harapan dan keinginan daerah-daerah d Indonesa maka mula tahun 2001 dterapkan otonom daerah-daerah. Khusus d Aceh dterapkan Syarat Islam yang ddeklaraskan tanggal 19 Desember 2000, sedangkan d Iran dberlakukan otonom khusus yang seluas-luasnya.
Berbagai kebijakan tersebut bukan merupakan satu-satunya obat yang mujarab untuk menangkal dan mengantspas berbaga perbedaan atau keanekaragaman d masyarakat, karena bagaimanapun rakyatlah yang pada akhirnya akan merasakan apakah kebijakan itu mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya atau justru akan terjadi sebaliknya. Oleh karena tu, dperlukan kesapan yang matang dar daerah-daerah untuk menerma dan melaksanakan berbaga otonom tersebut.
Keanekaragaman bangsa Indonesia dilatarbelakangi oleh jumlah suku-suku bangsa Indonesa yang mendam wlayah Indonesa sangat banyak, dan tersebar, d mana setap suku bangsa mempunya cr atau karakter tersendr, bak dalam aspek sosal maupun budaya. Menurut para ahli (Depdikbud, 1984 : 149) jumlah suku bangsa di Indonesia mencapa 300 suku bangsa atau golongan etnk. Apabla setap suku bangsa memlk trads sosal budaya masng-masng, berart d Indonesa telah ada dan berkembang 300 keanekaragaman budaya.
Contoh lan dalam aspek bahasa, setap daerah mempunya bahasa daerahnya masng-masng, bahasa daerah orang Jayapura akan berbeda dengan bahasa daerah orang Dayak, bahasa daerah orang Crebon akan berbeda dengan bahasa daerah orang Cams dan sebaganya. S.J. Esser menyatakan d seluruh wlayah Nusantara ada sektar 102 bahasa daerah, bahkan bila dilihat dari segi dialek maka jumlahnya akan jauh lebih banyak lagi, di Irian saja ada sekitar 185 dialek bahasa lokal.
Keanekaragaman tampak pula dalam hasl-hasl kebudayaan daerah d wlayah Indonesa, sepert taran dan nyanyan. Hampr semua daerah atau suku bangsa mempunyai jenis tarian dan nyanyian yang berbeda, begitu juga dalam hasil karya atau kerajinan, setiap daerah mempunyai hasil karya yang berbeda yang menjadi ciri khas daerahnya masng-masng.
Contoh tar-taran daerah, msalnya tar Topeng (Crebon); tar Kpas (Sulawes Selatan), tar Prng dan tar Payung (Sumatera Barat), Tar Japong (Jawa Barat), tar Kecak (Bal), tar Seudat (Aceh), tar Maengket (Sulawes Utara), tar Lueso (Maluku).
Begitu juga halnya dengan nyanyian daerah, ada lagu Es Lilin, Tokecang, Cingcangkeling, Ole-Ole Bandung, Borondong Garing, Manuk Dadali, Bubuy Bulan, Warung Pojok, Sintren
(Jawa Barat); dar Jawa Tengah, msalnya lagu Suwe Ora Jamu, Sekolah, Lr Ilr, Gundul Pacul, Ande-ande Lumut, Dhongdhong Apa Salak; sedangkan dar Jawa Tmur ada lagu Bapak Tane, Rek Ayo Rek, Grms-Grms dan sebaganya.
Sementara itu dari Flores juga ada lagu Tutu Koda, Pai Mura Rame-rame; dari Irian ada lagu Yamko Rambe dan Apuse, sedang dar Maluku kta kenal lagu Burung Kakatua, Nak-nak ke Puncak Gunung, Nona Mans Sapa yang Punya, sedangkan dar Sulawes Utara ada lagu O Ina Ni Keke dan Si Patokaan, dari Bugis kita juga kenal lagu Ma Rencong Rencong; dar Sulawes Selatan kta kenal lagu Angng Mamr dan Ampar-ampar Psang; dar Kalmantan Selatan ada lagu Saputangan Babuncu Ampat, kemudan dar Kalmantan tengah ada lagu Kalayar dan Naluya.
Sementara itu dari Kalimantan Barat ada lagu Cikcik Periook; dari Aceh juga kita kenal lagu Bungong Jeumpa, sedangkan dar Tapanul kta tdak asng lag dengan lagu Sngsng So, Butet dan Tllo Tllo; dar Sumatera Barat ada lagu Sarnggt Dua Kupang, Kampuang Nan Jauh D Mato; Ayam Den Lapeh dan Tmang-Tmang Anakku Sayang; dan dar Ibu Kota Negara Jakarta kta kenal lagu-lagu Keroncong Kemayoran, Kcr-Kcr; Ondel-Ondel; Wak- Wak Gung; Lenggang Kangkung, Jal-Jal dan Surlang.
Dalam mata pencaharian pun setiap lingkungan daerah mempunyai jenis pencaharian yang berbeda, masyarakat yang sebagan besar tnggal d daerah pedesaan bermata pencaharan dar pertanan, masyarakat yang tnggal d daerah panta sebagan besar mata pencaharannya dar laut sebaga nelayan, sedangkan bag masyarakat yang tnggal di daerah perkotaan mata pencahariannya bervariasi, ada yang berprofesi sebagai pejabat negara, pedagang, buruh, penjual jasa dan sebagainya.
Koentjaraningrat (1993) menguraikan secara garis besar unsur-unsur pokok yang hdup dalam seleks dar 15 kebudayaan d Indonesa. Ke-15 kebudayaan tersebut hanya merupakan contoh kecil saja dari kondisi dan kenyataan yang sesungguhnya. Ke-15 kebudayaan tu, msalnya Sebelah Barat Sumatera ada kebudayaan Smalur, Nas, Banyak, Batu, Mentawa dan Enggano. Orang Smalur dan Banyak lebh banyak terpengaruh oleh kebuadayaan dan adat istiadat Aceh, termasuk agama yang dipeluknya juga mayoritas Islam. Sedangkan orang Nas belum pernah terpengaruh oleh kebudayaan Hndu maupun Islam, jadi lebih banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Megalithikum (kebudayaan batu). Oleh karena tu, banyak dar mereka yang mengembangkan sen bangunan yang ndah. Agama yang danut oleh orang Nas pada umumnya Krsten dan Katholk. Sementara tu orang Mentawa mempunya kebudayaan bercocok tanam pad, dan agama yang danutnya Krsten dan Katolk, sedangkan bag masyarakat Enggano hampr sama dengan kebudayaan orang Mentawa.
Di Pantai Utara Irian Jaya menunjukkan keanekawarnaan yang bervariasi; ada kebudayaan Cendrawash; Panta teluk Cendrawash; Pulau-Pulau Cendrawash; Rawa-Rawa di daerah Pantai Utara; Pegunungan Jayawijaya; Rawa-Rawa-rawa dan Sungai-Sungai
d bagan Selatan dan penduduk daerah Sabana d bagan selatan. Sedangkan d Batak sebagan besar mendam pegunungan Sumatera Utara, yatu mula dar perbatasan Aceh d Utara sampa perbatasan Rau dan Sumatera Barat d Selatan. Penduduknya sebagan besar tnggal d pedesaan, ada yang dsebut Huta; Kerta; Lumbon; Sosor; Bus; Pertalan dan Pertumpuka. Masyarakat Batak n terkenal dengan sebutan masyarakat patrlneal atau mayarakat kebapaan.
Sebutan untuk kelompok masyarakat d Batak terdr dar Suku Bangsa, Marga, dan Sub Marga. Contohnya, Suku Bangsa Karo; Marga Makaro-Karo; Sub Marga Stepu, Borus, Snulngga dan lan sebaganya. Marga lan dalam Suku Bangsa Karo n adalah Gntng (Sub Marga Suka, Munte, Mank dan lan sebaganya), Sembrng (Sub Marga Keloka, Muhan, Pamde); Parangn-Angn (Submarga:Kutabuluh, Seboayang, Bangun, Sngarmbun); Targan (Sub Marga Slangt dan Tambun).
Selan tu ada kebudayaan penduduk Kalmantan tengah; Kebudayaan Mnahasa, Kebudayaan Flores, kebudayaan Tmor (waktu dtuls buku n Tmor Tmur belum memsahkan dr dar wlayah Negara Kesatuan republk Indonesa); Kebudayaan Aceh; Kebudayaan Mnangkabau; Kebudayaan Bugs-Makassar; Kebudayaan Bal; Kebudayaan Sunda; Kebudayaan Jawa, dan Kebudayaan Orang Tonghoa d Indonesa.
Selanjutnya Koentjaraningrat (1993:32-33) mengelompokkan 15 kebudayaan yang dmlk daerah-daerah tersebut ke dalam 6 tpe sosal budaya yang dmlk bangsa Indonesa, yatu berkut n.
1. Tipe masyarakat berkebun yang amat sederhana dengan keladi dan ubi jalar sebagai tanaman pokoknya dalam kombnas dengan berburu atau meramu; penanaman pad tak drasakan; sstem dasar kemasyarakatannya berupa desa terpencl tanpa diferensiasi dan stratifikasi yang berarti; Gelombang pengaruh kebudayaan menanam pad, kebudayaan perunggu, kebudayaan Hndu dan Agama Islam tdak dalam; Isolas dbuka oleh Zendng atau Msse. Contoh kebudayaan Mentawa d Panta Utara ran Jaya.
2. Tpe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam d ladang atau d sawah dengan pad sebaga tanaman pokok; Sstem dasar kemasyarakatannya berupa “Komunitas petani “ dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang sedang dan yang merasakan dr bagan bawah dar suatu kebudayaan yang lebh besar, dengan suatu kebudayaan yang lebh besar dengan suatu bagan atas yang danggap lebh halus dan beradab di dalam masyarakat kota. Masyarakat kota yang menjadi arah orientasinya itu mewujudkan suatu peradaban kepegawaian yang dibawa oleh system pemerintahan kolonal beserta Zendng dan Msse atau oleh Pemerntah Republk Indonesa yang merdeka; gelombang pengaruh kebudayaan Hndu dan Islam tdak dalam. Contoh Kebudayaan Nas, Batak, Kalmantan tengah, Mnahasa, Flores, dan Ambon.
3. Tpe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam d ladang atau d sawah dengan pad sebaga tanaman pokoknya; sstem dasar kemasyarakatannya berupa desa
komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang sedang; masyarakat kota yang menjadi arah orientasinya mewujudkan suatu peradaban bekas kerajaan berdagang dengan pengaruh yang kuat dar agama Islam, bercampur dengan suatu peradaban kepegawaan yang dbawa oleh sstem pemerntahan kolonal; gelombang pengaruh kebudayaan Hndu tdak dalam, atau hanya sedemkan keclnya sehngga terhapus oleh pengaruh agama Islam. Contohnya, kebudayaan Aceh, Mnangkabau, dan Makassar.
4. Tpe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam d sawah dengan pad sebaga tanaman pokoknya; system dasar kemasyarakatannya berupa komuntas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang agak kompleks; masyarakat kota yang menjadi arah orientasinya itu mewujudkan suatu peradaban bekas kerajaan pertanian bercampur dengan peradaban kepegawaian yang dibawa oleh sstem pemerntah kolonal; semua gelombang pengaruh kebudayaan asng dalam, seperti halnya pada kebudayaan Bali, gelombang pengaruh agama Islam hanya sejak setengah abad terakhr n. Contoh kebudayaan Sunda, Jawa, dan Bal.
5. Tpe masyarakat perkotaan yang mempunya cr-cr pusat pemerntahan dengan sektor perdagangan dan ndustr yang lemah. Contoh kebudayaan kota-kota besar, sepert Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan.
6. Tpe masyarakat metropoltan yang mula mengembangkan suatu sektor perdagangan dan ndustr yang agak berart, tetap yang mash ddomnas oleh aktvtas kehdupan pemerntah, dengan suatu sektor kepegawaan yang luas dan dengan kesbukan poltk d tngkat daerah maupun nasonal. Contoh kebudayaan kota-kota besar, sepert Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan.
Berdasarkan tpe-tpe kebudayaan tersebut ada yang perlu dcatat bahwa semua kebudayaan yang ada di Indonesia tidak ada yang lebih jelek atau lebih baik karena masng-masng mempunya keunggulan dan kekurangan. Kta semua bertolak dar suatu ttk yang sama, yatu menghadap zaman modern dengan potens serta kecepatan yang sama, membangun ke arah suatu bangsa yang kuat dan sentosa yang beraneka, tetap tetap satu, yatu Kebudayaan Indonesa.
Awan Mutaqn (1992: 49-50) menyatakan bahwa konstruks keragaman kebudayaan bangsa Indonesa dapat drumuskan berdasarkan nla adaptas ekologs, sstem kemasyarakatan dan berbaga pengaruh unsur-unsur dar luar, ada pun perncannya sebaga berkut.
1. Budaya berkebun sederhana. 2. Budaya berladang dan bersawah. 3. Budaya bersawah.
4. Budaya Masyarakat Kota. 5. Budaya Metropoltan.
Berdasarkan contoh tersebut, jelaslah bahwa masing-masing masyarakat mempunyai kebudayaan dan cara berpkrnya yang belum tentu sama. Menurut Von Savgny, hukum suatu masyarakat mengkut Volksgeist (jiwa/semangat rakyat) dari masyarakat tempat hukum (adat) tu berlaku. Karena Volksgest masng-masng masyarakat berbeda-beda atau belum tentu sama, hukumnya pun belum tentu sama atau berbeda-beda.
Konds kebhnnekaan dalam berbaga aspek kehdupan yang ada d Indonesa menuntut kajian dan analisis kita. Menurut Koentjaraningrat (1993 : 384) ada 4 aspek yang harus dperhatkan dalam menganalss hubungan antar suku-suku bangsa dan golongan, yatu :
1. Sumber-sumber konflik 2. Potens untuk tolerans
3. Skap dan pandangan dar suku bangsa atau golongan terhadap sesama suku bangsa atau golongan
4. Konds masyarakat d mana hubungan dan pergaulan antar suku bangsa atau golongan tersebut berlangsung.
Selanjutnya dikatakan pula oleh Koentjaraningrat bahwa sumber-sumber konflik di negara berkembang termasuk Indonesa ada 5, yatu berkut n.
1. Konflik bisa terjadi kalau warga dari dua suku bangsa masing-masing bersaing dalam hal mendapatkan mata pencaharan hdup yang sama.
2. Kalau warga dar satu suku bangsa mencoba memaksakan unsur-unsur dar kebudayaannya kepada warga dar suatu suku bangsa lan.
3. Konflik yang sama dasarnya, tetapi lebih fanatik dalam wujudnya bisa terjadi kalau warga dar satu suku bangsa mencoba memaksakan konsep-konsep agamanya terhadap warga dar suku bangsa lan yang berbeda agama.
4. Konflik akan terjadi kalau suku-suku bangsa berusaha mendominasi suatu suku bangsa lan secara polts.
5. Potensi konflik terpendam ada dalam hubungan antara suku-suku suatu bangsa yang telah bermusuhan secara adat.
Namun demikian, situasi dan kondisi serta keadaan Indonesia juga sangat menguntungkan karena palng tdak ada 2 potens untuk bersatu, yatu berkut n. 1. Warga dari dua suku bangsa yang bersangkutan yang berbeda dapat saling bekerja
sama secara sosal ekonom.
2. Warga dari dua suku bangsa yang berbeda dapat hidup berdampingan konflik, kalau ada orentas ke arah suatu golongan ketga yang dapat menetralsas hubungan antara kedua suku bangsa tersebut.
Latihan:
1) Diskusikan faktor-faktor apa yang melatarbelakangi terjadinya keanekaragaman di Indonesa?
2) Upaya apa yang bsa dlakukan untuk memperkecl adanya perbedaan yang dapat menjurus terjadinya disintegrasi bangsa ?
3) Keanekaragaman yang dmlk bangsa Indonesa bukan hanya sebaga kenyataan yang menguntungkan, akan tetapi juga merupakan tantangan. Jelaskan makna pernyataan tersebut di atas!
4) Mengapa wlayah Iran dan Aceh dber otonom khusus oleh pemerntah Indonesa?