• Tidak ada hasil yang ditemukan

VERA AGUSTINA YANTI

DAFTAR LAMPIRAN

3 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

Kerangka Berpikir

UMKM merupakan sektor usaha yang memiliki peran yang penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan berkontribusi pada pembangunan nasional.

Sebagai pilar pembangunan ekonomi nasional UMKM mempunyai peran yang strategik, sepak terjang UMKM dalam mengurangi angka pengangguran dan menciptakan lapangan kerja, serta turut menyumbang pendapatan ekonomi negara. Setiap tahun jumlah pelaku usaha kecil menengah mengalami peningkatan. Berkembangnya UMKM di berbagai daerah di tanah air merupakan bukti bahwa pengelolaan UMKM yang didukung oleh pemerintah melibatkan masyarakat pelaku usaha. Pengelolaan UMKM yang baik terbukti dapat memperbaiki kondisi masyarakat pelaku usaha, namun demikian pengembangan UKM masih belum optimal meningkatkan kesejahteraan pelaku usahanya. Hal ini disebabkan karena kompetensi para wirausaha ditanah air yang rendah.

Pada kerangka penelitian terhadap UMKM ini dimulai dengan pendapat yang dicetuskan oleh Spencer dan Spencer (1993) yang menyebutkan setiap kompetensi tampak pada individu dalam berbagai tingkatan sebagai karakteristik manusia yang paling dalam, untuk dikembangkan dengan perilaku standar yang kompeten, sehingga memampukan mereka untuk melakukan tugas dan tanggung jawab secara efektif serta meningkatkan standar kompetensi dalam pekerjaan mereka.

Salah satu pengembangan kompetensi UMKM melalui penerapan TIK mempunyai peluang besar untuk meningkatkan kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia. Hasil kajian penelitian Jones (1997) menunjukkan pemanfaatan TIK akan meningkatkan efisiensi, memacu produktivitas dan memperluas akses pasar bagi UMKM. Hal tersebut berdampak pada pengembangan kompetensi pelaku usaha dalam pemanfaatan TIK menjadi faktor penting sebagai tujuan dan sasaran program penyuluhan bagi pelaku usaha baik jangka panjang maupun jangka pendek untuk menunjang harapan pelaku usaha dalam upaya untuk meningkatkan keberlanjutan daya saing usaha, karena keberadaan akses TIK salah satu diantaranya adalah internet telah mampu menjadi jembatan komunikasi antar pengusaha baik dalam area domestik maupun internasional.

Pelaku usaha dalam pencapaian target di setiap aktifitas usahanya pernah mengalami kegagalan diantaranya akibat memiliki daya saing yang lemah, kehidupan pelaku usaha UMKM belum banyak yang memanfaatkan peran TIK dalam aktifitas usahanya, sehingga menimbulkan rendahnya mutu produk, dan kalah terhadap produk luar. Pendapatan usaha UMKM menurun, aspek kompetensi TIK berkurang, dikaitkan dengan fungsi pelaku usaha sebagai pelaku utama, aspek kompetensi masih rendah sehingga masih belum mampu dalam memanfaatkan TIK secara optimal, banyak karyawan UMKM lain yang masih belum memiliki kemampuan dalam aktifitas usahanya.

Berbagai permasalahan dihadapi pelaku usaha uraian di atas diantaranya adalah rendahnya kinerja pelaku usaha UMKM, tingkat persaingan yang semakin tinggi, menghadapi perusahaan besar dan pesaing modern lainnya serta adanya

pasar bebas yakni adanya AFTA, rendahnya kualitas produk, daya saing serta penguasaan TIK di kalangan pelaku usaha kecil menengah, serta akses permodalan, kurang intensifnya penyuluhan dan pendampingan. Hal tesebut menjadi hambatan bagi pelaku usaha, kemampuan teknis yang rendah, akibat dari faktor latar belakang pendidikan terbatas, kesadaran yang rendah akan manfaat TIK, maka dapat disimpulkan bahwa faktor TIK cukup berperan, pentingnya upaya lain yang harus dilakukan dalam pengembangan kompetensi UMKM, hal ini karena terkait dengan pelaku usaha yang memiliki kompetensi TIK yang rendah. Ketrampilan TIK baik dan penguasaan TIK menjadi penting, karena akan mengurangi keterbatasan pelaku usaha UMKM dalam menggunakan TIK.

Dampak yang ditimbulkan akibat keterbatasan pelaku usaha dalam penggunaan TIK adalah kualitas hasil produk UMKM masih dalam posisi strata bawah dibandingkan produk yang dihasilkan dari usaha besar maupun produk dari luar.

Kompetensi pemanfaatan TIK pelaku usaha ini dikembangkan dalam penelitian ini unsur kompetensi UMKM. Dari uraian–uraian pemikiran yang dikemukakan, penelitian ini dapat dikaji beberapa peubah yang terukur yaitu profil individu pelaku usaha UMKM, sedangkan faktor pendukung adalah dukungan lingkungan eksternal, faktor persepsi dalam memanfaatkan TIK yang diharapkan dapat menaikkan daya saing usaha dan berimplikasikan pada keberlanjutan usaha, kesejahteraan hidup dalam komunitas pelaku usaha UMKM baik di pedesaan maupun di perkotaan, adapun pemanfaatan teknologi informasi (TIK) akan meningkatkan kinerja usaha, dan keberlanjutan usaha melalui peningkatan pengetahuan, sikap dan ketrampilan tentang penggunaan TIK.

Tujuan keberlanjutan usaha dapat dicapai melalui proses sinergi, pelaku usaha UMKM memiliki kapasitas teknologi, dapat diaplikasikan pada aktivitas usahanya. Faktor internal berupa profil individu pelaku usaha menjadi faktor penentu akan kompetensi pelaku usaha dalam memanfaatkan TIK, dan faktor eksternalnya adalah berupa kondisi lingkungan baik lingkungan fisik, sosial maupun organisasi, disini adalah ketersediaan akses jaringan informasi, infrastruktur dan dukungan kebijakan pemerintah. Salah satu faktor yang tak kalah penting peran serta tugas pendamping UMKM adalah agar mendorong perilaku pelaku usaha untuk peningkatan perilaku pelaku usaha dalam memanfaatkan TIK, yang tujuan akhirnya berdampak pada peningkatan keberlanjutan usaha UMKM.

Keterkaitan ini tampak dalam pendekatan model logika yang dikembangkan adalah Gibson (2001). Model tersebut menjelaskan tahapan perencanaan, implementasi dan evaluasi,tahap pertama adalah menganalisis situasi, tahap kedua pengaturan program prioritas dan yang ketiga adalah program aksi yaitu: (1) input, (2) output dan (3) sasaran yang ingin dicapai, (4) outcome yang merupakan sasaran jangka pendek, dan (5) sasaran jangka panjang ditinjau dari aspek ekonomi sosial dan lingkungan. Pemanfaatan pendekatan model logika tersebut untuk menganalisis permasalahan pendampingan UMKM dalam upaya mengubah perilaku UMKM dalam memanfaatkan TIK terlihat pada Gambar 7:

Gambar 7 Bagan Pengembangan Perubahan Perilaku UMKM dalam Pemanfaatan TIK Menurut Model Logika (Gibson 2001)

Pengembangan Kompetensi Untuk Keberlanjutan Usaha

Kebutuhan pengembangan kompetensi pelaku usaha kecil menengah dalam memanfaatkan TIK sebagai sesuatu hal yang harus diutamakan dalam pengelolaan aktiftas usahanya, oleh karena tingkat kompetensi pelaku usaha UMKM menjadi perlu dikembangkan sebagai model perilaku pelaku usaha UMKM dengan menempatkan peran strategi penyuluhan untuk mengatasi hambatan pengembangan kompetensi dalam pemanfaatan TIK dalam setiap aktifitas usaha.

Pada sisi lain hasil penelitian Sari (2017), menunjukkan bahwa strategi pengembangan kompetensi tidak hanya strategi penyuluhan, tetapi di lingkungan akademik melibatkan guru, organisasi, siswa sekolah, pemimpin dan masyarakat pemerintah pusat berkolaborasi dalam membuat kebijakan dan regulasi penggunaan TIK di lingkungan akademik, serta melengkapi infrastruktur dan menyediakan dana penelitian, serta sikap terbuka dan percaya diri.

Secara konseptual kemampuan masyarakat UMKM memanfaatkan TIK dapat ditingkatkan melalui proses pendidikan, adapun perilaku pelaku usaha UKM dalam mengelola usaha dengan memanfaatkan TIK dapat ditinjau dari tiga tujuan pendidikan yaitu perilaku kognitif, afektif, dan keterampilan psikomotorik.

Rentang pelaku usaha tentang pemanfaatan TIK yang dapat dimiliki oleh UMKM adalah mulai dari pengetahuan tentang potensi TIK dan management usaha kecil yang dapat dimanfaatkan dalam setiap aktivitas usahanya, dimilikinya pengetahuan dan pemahaman tentang peran TIK dan kelebihan dari TIK, sehingga pemanfaatannya untuk daya saing usaha berkelanjutan dan harus diikuti dengan keseimbangan lingkungan sosial yang ada dan pelestarian, diharapkan masyarakat pelaku usaha dapat berkemampuan untuk melaksanakan pengelolaan TIK secara tepat dan dapat mengaplikasikannya pada setiap aktifitas usahanya. Dengan pemahaman bahwa Teknologi Informasi (TIK) sangat besar, dampak pengaruhnya

Pengetahuan

Kondisi Input Output Outcomes

bagi peningkatan keberlanjutan usaha, maka pemanfaatannyapun harus disertai dengan upaya peningkatan kemampuan dan kompetensi TIK, diharapkan masyarakat pelaku usaha mampu memanfaatkan TIK untuk kepentingan aktifitas usaha. Pengetahuan tentang informasi oleh pelaku usaha dalam memanfaatkan sarana teknologi informasi (TIK) melalui bantuan dari tenaga pendidik, praktek langsung melalui media, meniru model, dan mengamati penggunaan TIK pada individu.

Kehandalan masyarakat pelaku usaha mampu memanfaatkan TIK secara optimal, jika masyarakat hingga level terkecil yaitu keluarga memiliki kemampuan untuk memanfaatkan TIK, menjadi sesuatu hal yang aktif digunakan untuk beragam aktivitas usaha, oleh karena hal tersebut kemampuan pengetahuan pelaku usaha dalam memanfaatkan TIK dapat diukur dengan kemampuan berpikir tentang: (1) menggunakan sarana TIK untuk akses pasar, (2) mencari informasi harga, (3) mengelola keuangan dengan sarana TIK, (4) mengelola SDM dengan TIK, (5) menjalin kemitraan dengan sarana TIK, dan (6) mengolah bahan baku menjadi produk jadi dengan sarana TIK.

Rentang perilaku afektif yang diinginkan oleh masyarakat pelaku usaha UMKM terhadap kompetensi dalam pemanfaatan TIK adalah sikap yang sesuai dengan kaidah ekologi, sosial, dan ekonomi. Sikap merupakan reaksi seseorang yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau obyek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat menafsirkan terlebih dahulu dari perilaku tertutup. Sikap nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo 2007). Area sikap mental berkaitan dengan perasaan, emosi, subjektif, minat, sikap dan nilai serta pengembangan penghargaan dan penyesuaian diri, atau perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu, sehingga mempengaruhi responnya terhadap suatu objek atau situasi tertentu (Woolfolk 2004; Tesser danSchwart 2003), maka perilaku afektif yang diharapkan masyarakat pelaku usaha terhadap pemanfaatan teknologi informasi adalah sikap yang mendukung dan berpihak terhadap kemajuan Teknologi Informasi, terkait dengan tahap perkembangan perilaku afektif adalah sikap dapat dikategorikan menjadi:

menerima meliputi: menerima ide tentang cara–cara memanfaatkan TIK yaitu: (1) mencari informasi harga dan akses pasar, (2) menanggapi atau bereaksi yaitu kemampuan merespon atau menyebarkan informasi tentang usaha yang positif dalam memanfaatkan TIK, (3) penilaian (valuing), sikap menilai baik dan buruk dalam memanfaatkan TIK, (4) pengorganisasian yaitu menjadikan pola pemanfaatan TIK secara benar, dan (5) pengaturan adalah mengkarakteran perilaku pelaku usaha yang optimal.

Pada aspek psikomotorik, masyarakat pelaku usaha diharapkan dapat meningkatkan ketrampilan dalam mengunakan TIK. Kompetensi dalam kawasan keterampilan terkait dengan kemampuan motorik atau menggerakkan anggota tubuh yang membutuhkan koordinasi, mulai tindakan reflek sampai dengan tindakan kreatif yang perlu keahlian tertentu (Woolfolk 2004: Tesser dan Schwart 2003). Pada aspek psikomotorik, masyarakat pelaku usaha dapat mengasah keterampilannya semakin meningkatnya pengalaman dan mengelola usaha, selain itu pelaku usaha yang memiliki garis keturunan untuk berwirausaha memiliki keahlian tinggi. Lain daripada itu sesama komunitas pelaku usaha dapat

berkomunikasi saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan yang berkaitan dengan pemanfaatan TIK, maka hal ini meningkatkan peluang untuk mendapatkan akses jaringan pasar melalui keahlian dalam penggunaan TIK.

Tingkat kompetensi pelaku usaha UMKM menjadi perlu dikembangkan sebagai model perilaku pelaku usaha yang efisien dan efektif dalam pemanfaatan TIK khususnya di wilayah pedesaan, dengan menempatkan peran strategi penyuluhan atau pendampingan yang tepat serta kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagai penggerak utama untuk mengatasi hambatan pengembangan kompetensi pelaku usaha UMKM dalam pelaksanaan kegiatan aktivitas usahanya di lingkungan usahanya.

Pengembangan kompetensi pelaku usaha UMKM akan mengisyaratkan perlunya penguasaan kemampuan teknis. Upaya untuk mencapai penguasaan TIK diperlukan pendidikan, agar terjadi perubahan perilaku dapat ditempuh dengan berbagai program penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha meliputi pelatihan, penyuluhan dan pemberdayaan yang sesuai. Dalam penelitian ini penyuluhan dipandang sebagai proses yang merangsang terjadinya perubahan perilaku pelaku usaha. Teori tentang perubahan berencana (Lippit et al., 1958) digunakan sebagai analisis guna memanfaatkan TIK untuk berbagai usaha, dengan tetap mengutamakan keseimbangan untuk meraih keberlanjutan usaha. Ada tahapan-tahapan perubahan berencana adalah: (a) mengembangkan keperluan untuk suatu perubahan, (b) menciptakan hubungan untuk berubah, (c) mendiagnosis masalah sistem klien, (d) memilih alternatif penyelesaian dan tujuan dan menciptakan tujuan dan maksud setiap tindakan, (e) transformasi menuju upaya perubahan nyata. dan (f) hubungan antara agen dan klien mulai berakhir, namun hubungan dapat terjalin lain dalam fenomena lain.

Adapun penyuluhan sebagai bentuk upaya pemberdayaan masyarakat pelaku usaha terkait dengan teori perilaku belajar yang dipusatkan para para peserta belajar dan interaksi dengan lingkungannya yang dikemukakan oleh Skinner dalamoperant conditioning, Pavlov dalam Clasical conditioning dan Bandura dalam social learning theory serta konsep perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik digunakan untuk menganalisis bahwa perubahan perilaku merupakan bagian dari proses belajar dan pengalaman experiental learning.

Konsep perilaku kompetensi pelaku usaha yang diharapkan melekat pada pelaku usaha dilihat dari unsur kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam mengelola dan memanfaatkan TIK.

Berdasarkan uraian di atas perlu dibentuk model pengembangan kompetensi yang dituju yang dapat mewujudkan perilaku positif pada masyarakat pelaku usaha untuk aktif memberdayakan diri, dengan memanfaatkan TIK akan meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya. Dengan mengacu pada standar kompetensi masing-masing bidang usaha pada Kemenakertrans (2009) dan meninjau paradigma perilaku kompetensi pelaku usaha di tingkat usaha kecil menengah. Identifikasi terhadap paradigma membuat peningkatan kemampuan pelaku usaha, sedangkan gambaran pelaku usaha dalam memiliki perilaku kompetensi tinggi rendah dapat dilihat Tabel 1.

Tabel 1 Perilaku Pelaku Usaha dengan Kompetensi Tinggi dan Rendah dalam Penggunaan Sarana TIK

Unsur–unsur perilaku Perilaku Pelaku Usaha dengan

kompetensi tinggi Perilaku Pelaku Usaha dengan kompetensi rendah 1. Pengetahuan

wawasan UMKM Memahami bagaimana

mengelola sistem kepegawaian /personalia

Mengetahui proses rekruitmen dan melakukan seleksi pegawai

Memahami mengelola aktivitas kegiatan pemasaran

Respon Keberpihakan dan bersikap proaktif mengelola sistem

Keberpihakan dan aktif pelaku usaha mengelola keuangan sesuai dengan kaidah, prinsip, prosedur yang baik

Keberpihakan pelaku usaha dalam mengelola management operasional kerja (menyusun alur produksi dan menyusun

perbaikan lingkungan

Respon yang kurang dalam mengelola sistem

Respon yang kurang dalam melakukan perbaikan mutu

Respon dan sikap kurang dalam mengelola keuangan sesuai kaidah, prisip &

prosedur yang baik.

Respon sikap yang kurang dalam operasional kerja (menyusun alur produksi &

menyusun perbaikan 3. Keterampilan Mampu mengelola sistem

kepegawaian /personalia

Mampu melakukan rekruitmen dan melakukan seleksi pegawai

Mampu mengelola aktivitas kegiatan pemasaran

Mampu mengatur dan mengelola aktivitas proses produksi

Mampu melaksanakan perbaikan mutu

Mampu mengelola keuangan dan analisis keuangan

Perilaku masyarakat pelaku usaha dalam penelitian ini difokuskan pada aspek kompetensi pelaku usaha untuk aktivitas usahanya memiliki hubungan dengan dukungan lingkungan eksternal, persepsi pelaku usaha dan profil individu pelaku usaha dan keberlanjutan usaha. Kontribusi penelitian ini adalah model pengembangan kompetensi pelaku usaha dalam memanfaatkan TIK.

Kualitas Pemanfaatan TIK

Perilaku pelaku usaha dalam memanfaatkan TIK ditinjau dari intensitas pemanfaatan TIK dapat menunjukkan kualitas kemampuan pelaku usaha dalam menggunakan TIK. Pemanfaatan TIK yang memperhatikan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan akan menjamin keberlanjutan usaha, oleh karena pelaku usaha yang hanya mengutamakan pemanfaatan TIK untuk peningkatan keuntungan secara ekonomi semata. Hal ini sejalan dengan penelitian Spitzberg (1994) menunjukkan bahwa perilaku atau kapasitas pengguna TIK menentukan kategori dan jangkauan pemanfaatan TIK baik dalam pengelolaan data, implementasi komunikasi maupun pengembangan jaringan. Hal tersebut dapat dikaitkan bahwa indikator tingkat kemampuan pemanfaatan TIK dalam penelitian ini diukur dari dengan melihat pengetahuan pelaku usaha dalam memanfaatkan TIK yang tersedia untuk mengakses sumber informasi. Secara umum, tingkat kemampuan pemanfaatan TIK dapat dideskripsikan terhadap kecenderungan untuk memanfaatkan TIK dalam akses dan pengelolaan informasi. Di sisi lain hasil penelitian Browning (2008), menunjukkan bahwa pemanfaatan TIK dikategorikan secara berurutan berdasarkan motivasi penggunaan TIK ditinjau dari kegunaan atau manfaat TIK.

Menurut hasil penelitian Mulyandari (2012), pemanfaatan TIK dapat dikategorikan menjadi menjadi tiga yaitu tingkat dasar pada kategori 1 yaitu : Basic adalah profil pelaku usaha dalam pemanfaatan TIK dominan menggunakan media konvensional: kategori II yaitu menengah kecenderungan keberpihakan pada pelaku usaha yang menggunakan media telpon genggam yang sifatnya sederhana tanpa beragam aplikasi dan sarana komputer tanpa beragam program dan tidak berinternet, sedangkan kategori berikutnya adalah kategori III yaitu advanced atau lanjut, dan kecenderungan pelaku usaha memanfaatkan sarana TIK lebih modern.

Dari uraian di atas secara umum pemanfaatan TIK bagi pelaku usaha besar adalah memiliki kemampuan tinggi menggunakan fasilitas TIK yang lebih modern dan memiliki kemampuan managerial, sedangkan pelaku usaha kecil hanya memanfaatkan TIK dengan sarana TIK konvensional, berikut perilaku pelaku usaha yang memiliki kompetensi tinggi dan kompetensi rendah dalam memanfaatkan TIK terkait dengan aktivitas usahanya disajikan pada Tabel 2, menunjukkan perilaku tingkat kompetensi pelaku UMKM dalam pemanfaatan TIK, untuk akses informasi harga, akses mencari informasi bahan baku yang berkualitas, inovasi, sebagai sarana media promosi, menjalin mitra ataupun kerjasama dengan relasi usaha, berkomunikasi dengan pelanggan, melakukan transaksi online, aktivitas melakukan jual beli melalui media online, mengatur aktivitas operasional perusahaan dengan memanfaatkan sarana TIK.

Tabel 2 Ciri Perilaku Pelaku Usaha Yang Memiliki Kompetensi Tinggi Dalam Memanfaatkan Sarana TIK

Perilaku Kompetensi

Menggunakan Sarana TIK Pemanfatan TIK Dalam Aktivitas Usaha

dalam Menggunakan Sarana TIK Lebih Kosmopolit

Masyarakat kritis

Cara pandang atau pemikiran pelaku usaha yang memiliki kompetensi tinggi dalam menghadapi era teknologi TIK semakin pesat, berbeda dengan pemikiran terdahulu. Hal ini dmulai dengan pemikiran Khun (1990) bahwa disiplin ilmu lahir sebagai proses revolusi paradigma, dimana suatu pandangan teori ditumbangkan oleh pandangan teori yang baru. Paradigma diartikan pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori.

Lebih lanjut tentang paradigma, bahwa paradigma pembangunan saat ini tentu berbeda dengan paradigma lama. Di awali dengan hakekat pembangunan bahwa menurut hasil kajian Misra (1981) menunjukkan kehidupan yang bermutu ditandai empat kondisi: (1) terpenuhinya kebutuhan hidup yang berkesinambungan, (2) penghargaan, (3) bebas dari tirani, dan (4) kehidupan bermasyarakat yang dirasakan.

Khususnya bagi usaha kecil UMKM yang merupakan bagian dari pembangunan dengan beragam permasalahan, peluang, perkembangannya dan alternatif jalan keluarnya. Hal ini akan menuntun pandangan tentang pembangunan pada usaha kecil untuk berfokus pada manusia, guna meningkatkan kesejahteraan martabat dan kualitas manusia.

Saat ini fokus bahwa paradigma pembangunan usaha kecil yaitu meningkatkan keberdayaan, kemandirian, kepercayaan diri dan kreatifitas. Seiring dengan hal tersebut paradigma baru pembangunan usaha kecil ini menggiring secara tidak langsung untuk dapat memiliki kompetensi yang dapat beradaptasi serta menjadi bagian dari paradigma baru pembangunan usaha kecil saat ini, dimana keberdayaan dan kemandirian usaha kecil menjadi sasaran tujuan utama bagi pihak yang terkait bagi pengembangan usaha kecil.

Berdasarkan penjelasan di atas disimpulkan pelaku usaha juga dituntut serta memiliki kesamaan pandangan atas pembangunan usaha kecil, sehingga hal tersebut menjadikan pelaku usaha saat ini harus memiliki paradigma, seiring dan harmoni dengan tujuan pembangunan UMKM menjadikan pelaku usaha untuk berdaya. Hal ini mendorong pelaku usaha yang memiliki kompetensi tinggi yang memiliki paradigma baru yaitu,pelaku usaha yang memiliki kompetensi ini adalah memiliki cara pandang bahwa pelaku usaha harus memiliki kemampuan membangun, untuk meraih keberlanjutan usaha, memiliki kompetensi personal

yang mempunyai kesadaran kritis, komunikatif, optimisme, kreatif, inovatif, kosmopolit untuk meraih keberdayaan tinggi, terbuka akan hal-hal terkait TIK yang modern, memiliki pandangan bahwa menjalin mitra usaha sebagai sesuatu hal penting untuk meningkat perkembangan usaha, memiliki hubungan yang luas, untuk memperlancar proses bisnis.

Paradigma pelaku usaha kecil memiliki kompetensi rendah, tidak memandang pentingnya keberlanjutan usaha, hanya output, tidak berpandangan bahwa perilaku untuk berdaya itu sebagai faktor utama, serta teknologi (TIK) penting diterapkan pada aktivitas usaha.

Profil Individu Pelaku Usaha UMKM

Berbagai studi telah mengungkap bahwa faktor individu pelaku usaha seperti pengalaman usaha, pendidikan, kosmopolitan, motivasi, dan lama memiliki sarana TIK, hingga mengaitkan individu dengan partisipasi pada kegiatan kelompok komunitas usahanya, berdasarkan studi tersebut faktor internal pelaku usaha, pendidikan baik formal dan informal yang pernah diikuti, teknologi yang digunakan, pengalaman usaha, kekosmopolitan, memiliki hubungan positif terhadap pemanfaatan TIK yang optimal dan keuntungan usaha serta keberlanjutan usaha. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Venkantesh et al.

(2003) yang menunjukkan faktor perantara berpengaruh terhadap perilaku pengguna memanfaatkan teknologi informasi diantaranya adalah: umur, gender, pengalaman atau lama menggunakan teknologi informasi, dan pendidikan.

Semakin tinggi tingkat pendidikan pelaku usaha, maka kompetensi pelaku usaha terhadap pengetahuan, keterampilan, sikap menggunakan TIK meningkat baik. Dalam teori belajar diungkap terdapat hubungan antara karakteristik internal pelaku usaha dengan lingkungannya, Dari interaksi terjadi proses belajar yang akhirnya menimbulkan sikap, dan ketika sikap menjadi sebuah aktivitas maka timbul suatu perilaku. Perilaku yang berulang akan muncul sebuah kebiasaan dan membentuk pola perilaku yang sulit untuk diubah,maka karakteristik pelaku usaha akan berkontribusi membantu membentuk perilaku dalam pemanfaatan TIK.

Profil ideal dalam mengelola TIK dijelaskan pada Tabel 3. Mencirikan kualitas perilaku mandiri dan progresif di berbagai segi kehidupan yang dicitrakan.

Ciri–ciri masyarakat modern menurut Parlson (1974) adalah (1) netralitas yang efektif bersikap netral, (2) universalisme menerima segala sesuatu yang obyektif (3) spesifitas berterus terang dalam mengungkap sesuatu, (4) prestasi masyarakat suka mengejar sesuatu. Adapun ciri masyarakat tradisional memiliki ciri: (1) bersifat homogen, (2) mengungkapkan sesuatu dengan tidak terus terang, (3) segala sesuatu diperoleh dari pewarisan sebelumnya, (4) lebih mengutamakan kelompok, dan (5) hubungan antar anggota masyarakat didasarkan pada kasih sayang, serta (6) mobilitas pelaku usaha. Menurut Talcott Parson (Dwiningrum2012), masyarakat modern digambarkan dengan ciri-ciri sebagai berikut: (a) netralitas efektif yaitu bersikap netral, bahkan dapat menuju sikap tidak memperhatikan orang lain atau lingkungan. (b) orientasi diri, yaitu lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri. (c) universalisme, yaitu menerima segala

Ciri–ciri masyarakat modern menurut Parlson (1974) adalah (1) netralitas yang efektif bersikap netral, (2) universalisme menerima segala sesuatu yang obyektif (3) spesifitas berterus terang dalam mengungkap sesuatu, (4) prestasi masyarakat suka mengejar sesuatu. Adapun ciri masyarakat tradisional memiliki ciri: (1) bersifat homogen, (2) mengungkapkan sesuatu dengan tidak terus terang, (3) segala sesuatu diperoleh dari pewarisan sebelumnya, (4) lebih mengutamakan kelompok, dan (5) hubungan antar anggota masyarakat didasarkan pada kasih sayang, serta (6) mobilitas pelaku usaha. Menurut Talcott Parson (Dwiningrum2012), masyarakat modern digambarkan dengan ciri-ciri sebagai berikut: (a) netralitas efektif yaitu bersikap netral, bahkan dapat menuju sikap tidak memperhatikan orang lain atau lingkungan. (b) orientasi diri, yaitu lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri. (c) universalisme, yaitu menerima segala

Dokumen terkait