DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
1. Jawa Barat 218,75 190,00 195,00 885,23 234,
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
Kelangkaan merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Hal ini menjadi masalah utama ketika keinginan manusia yang tidak terbatas berhadapan dengan penggunaan sumberdaya yang langka. Untuk menghadapi persoalan ini, suatu pilihan harus diambil. Saat suatu pilihan diambil menimbulkan biaya imbangan. Biaya imbangan adalah biaya dalam bentuk alternatif yang harus dikorbankan.
Perusahaan merupakan salah satu pelaku ekonomi yang juga mengalami masalah kelangkaan. Untuk mencapai tujuan keuntungan yang maksimum, perusahaan harus dapat mengalokasikan sumberdaya secara efektif dan efisien. Sumberdaya merupakan faktor produksi yang digunakan untuk memproduksi barang atau jasa. Menurut Lipsey (1984) fungsi produksi adalah hubungan antara faktor produksi yang digunakan sebagai input dalam proses produksi dengan jumlah output yang dihasilkan (pada suatu waktu dan tingkat teknologi tertentu).
“Faktor produksi dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu lahan, tenaga kerja, dan sumberdaya modal. Lahan dapat diartikan sebagai sumberdaya alam, baik lahan untuk bertani atau bangunan, sumberdaya energi, dan sumberdaya nonenergi. Tenaga kerja merupakan waktu yang digunakan orang dalam produksi atau bekerja. Sumberdaya modal membentuk barang tahan lama dari suatu perekonomian, dihasilkan dengan tujuan untuk memproduksi barang lain” (Nordhaus, 2001).
Efektivitas merupakan karakteristik lain dari proses yang mengukur derajat pencapaian output dari sistem produksi. Efisiensi adalah ukuran yang menunjukkan bagaimana baiknya sumber daya-sumber daya ekonomi digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan output (Gaspersz, 2003).
Efisiensi dalam teori produksi adalah cara untuk memaksimumkan keuntungan. Hal ini terlihat dari konsep keuntungan yang merupakan selisih dari penerimaan dengan biaya. Untuk memaksimumkan keuntungan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu memaksimumkan penerimaan atau meminimumkan biaya. Maksimum penerimaan ini, dalam efisiensi berarti memproduksi output semaksimum mungkin dengan tingkat penggunaan input yang tetap. Minimum
20 biaya adalah memproduksi output pada tingkat tertentu dengan biaya produksi seminimum mungkin (Gaspersz, 2003).
Biaya minimum terlihat pada kurva keseimbangan produsen (Gambar 1). Kurva keseimbangan produsen menggambarkan pencapaian kombinasi penggunaan input pada kondisi biaya terkecil, untuk memproduksi output dalam jumlah tertentu. Keseimbangan ini diperoleh saat kurva isoquant bersinggungan dengan kurva isocost. Kurva isoquant adalah suatu kurva yang menunjukkan tempat kedudukan titik-titik kombinasi yang menunjukkan semua kombinasi input yang secara fisik mampu menghasilkan output yang sama. Kurva isocost adalah garis yang menunjukkan berbagai kombinasi input yang dapat dibeli untuk suatu tingkat pengeluaran biaya yang sama pada harga-harga input yang tetap.
X2 C w B A Kurva Isoquant TC1 TC2 O v X1
Gambar 1. Kurva Keseimbangan Produsen Sumber: Gaspersz (2003)
Keseimbangan dicapai pada titik B, yaitu saat perusahaan berproduksi dengan kombinasi input X1 sebesar v dan X2 sebesar w. jika perusahaan berproduksi pada titik A atau C maka tidak efisien, karena total biaya yang dikeluarkan lebih besar dari TC1.
Penerimaan maksimum terlihat pada kurva kemungkinan produksi dan garis isorevenue. Kurva kemungkinan produksi menggambarkan alternatif produksi yang dapat dijalankan oleh perusahaan dengan sumber daya tertentu. Dalam kurva ini terdapat tiga konsep, yaitu kelangkaan, pilihan, dan biaya
21 imbangan. Kelangkaan adalah kombinasi produksi yang tidak mungkin dicapai karena keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Konsep ini berada pada luar kurva kemungkinan produksi. Pilihan adalah keharusan untuk memilih di antara kombinasi yang mungkin dicapai dengan menghabiskan seluruh sumberdaya yang dimiliki. Konsep ini berada pada sepanjang garis kurva kemungkinan produksi. Untuk wilayah di bawah kurva produksi dicapai tanpa harus menghabiskan seluruh sumberdaya yang dimiliki. Biaya imbangan yaitu pada saat semua sumberdaya digunakan, untuk memperoleh barang satu lebih banyak, maka barang lain harus dikorbankan. Konsep ini ditunjukkan oleh batas kurva yang miring ke kanan bawah (Lipsey, 1984).
Keuntungan maksimum diperoleh pada saat kurva kemungkinan produksi bersinggungan dengan garis isorevenue. Garis isorevenue adalah garis yang menggambarkan kombinasi output yang memberikan penerimaan tertentu kepada perusahaan (Sudarsono, 1995). Pada Gambar 2 garis isorevenue digambarkan dengan TR (total revenue). Perusahaan diasumsikan memproduksi dua jenis barang Y1 dan Y2. keuntungan maksimum diperoleh saat perusahaan memproduksi Y1 sebesar v dan Y2 sebesar w, yakni berada pada titik B. Jika perusahaan memproduksi pada titik A dan C, maka keuntungan yang diperoleh belum maksimum, karena total penerimaan yang dihasilkan lebih rendah dari TR2.
Y2 C w B A TR1 TR2 V Y1 Gambar 2. Kurva KemungkinanProduksi dan Garis Isorevenue Sumber : Sudarsono (1995)
22 Keuntungan maksimum dicapai dengan optimalisasi produksi. Optimalisasi produksi memiliki arti kegiatan yang bertujuan menghasilkan output optimum dengan memperhatikan input yang terbatas ketersediaannya. Optimalisasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode linear programming. Linear programming merupakan metode perhitungan untuk perencanaan terbaik di antara kemungkinan-kemungkinan tindakan yang dapat dilakukan.
Linear programming dapat digunakan dalam dua cara, yaitu minimisasi atau maksimisasi. Minimisasi adalah meminimumkan biaya dalam rangka mendapatkan total penerimaan atau total keuntungan sebesar mungkin. Maksimisasi adalah memaksimumkan total penerimaan atau total keuntungan pada kendala sumberdaya yang terbatas.
Soekartawi (1992) menyatakan bahwa dalam linear programming terdapat beberapa persyaratan, yaitu :
a. LP harus memiliki fungsi tujuan memaksimumkan atau meminimumkan sesuatu. Fungsi ini dinyatakan dengan garis lurus fungsi Z.
b. LP harus memiliki kendala yang dinyatakan dengan persamaan garis lurus antara koefisien input-output dengan jumlah sumberdaya yang tersedia. c. Semua nilai aktivitas dan koefisien input-output harus bernilai positif atau
sama dengan nol.
Agar persoalan LP dapat diselesaikan, maka terdapat beberapa syarat: a. Fungsi objektif harus didefinisikan secara jelas dan dinyatakan sebagai
fungsi objektif yang linear.
b. Harus ada alternatif pemecahan untuk dipilih salah satu yang terbaik. c. Sumber-sumber dan aktivitas mempunyai sifat dapat ditambahkan
(additivity).
d. Fungsi objektif dan ketidaksamaan untuk menunjukkan adanya pembatasan harus linear (linearity).
e. Variabel keputusan harus positif, tidak boleh negatif
f. Sumber-sumber dan aktivitas mempunyai sifat dapat dibagi (divisibility).
g. Sumber-sumber dan aktivitas mempunyai jumlah yang terbatas
23 h. Aktivitas harus proporsional terhadap sumber-sumber. Hal ini berarti ada hubungan yang linear antara aktivitas dengan sumber-sumber
(proportionality).
i. Model programming deterministik, artinya sumber dan aktivitas diketahui secara pasti.
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
P4S Nusa Indah merupakan pusat pelatihan budidaya jamur tiram putih, yang juga melakukan usaha pembibitan dan budidaya sendiri. Dalam usahanya ini P4S Nusa Indah memiliki tujuan untuk memaksimumkan keuntungan.
Produk yang dihasilkan terdiri dari berbagai jenis, yaitu bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm, 18 x 35 cm, dan 20 x 30 cm, dan jamur tiram putih yang berasal dari bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm, 18 x 35 cm, dan 20 x 30 cm. Permintaan minimum untuk bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm per bulannya sebesar 5.000 log, untuk bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm sebesar 4.000 log hingga 7.000 log setiap dua bulan sekali. Permintaan maksimum jamur tiram per bulannya sebesar 12.000 kg. Namun permintaan ini masih belum terpenuhi seluruhnya oleh P4S Nusa Indah.
Untuk memenuhi permintaan yang ada, P4S Nusa Indah harus meningkatkan produksinya. Namun peningkatan produksi ini dibatasi oleh sumberdaya yang dimiliki, sehingga P4S Nusa Indah harus menentukan kombinasi produksi yang tepat. Produk-produk tersebut menggunakan sumberdaya yang sama yaitu bibit, serbuk, tenaga kerja, dedak, dan lahan. Meskipun sumberdaya yang digunakan sama, tetapi biaya yang dikeluarkannya berbeda sehingga terjadi persaingan penggunaan sumberdaya.
Untuk mencapai keuntungan yang maksimum, P4S Nusa Indah dituntut untuk dapat berproduksi secara efisien dengan segala keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Selain itu P4S Nusa Indah harus memilih kombinasi produksi yang tepat, karena keuntungan setiap produk berbeda. Untuk produksi bibit keuntungannya kecil tetapi jangka waktu yang dibutuhkan relatif singkat yaitu hanya satu bulan. Produksi jamur tiram keuntungannya lebih besar, tetapi waktu yang dibutuhkannya juga relatif lebih lama yaitu empat bulan.
24 Keputusan kombinasi produksi yang tepat dapat diperoleh dengan menggunakan program linier. Program linier akan memberikan perencanaan terbaik diantara kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan. Program linier digunakan sebagai metode perhitungan untuk menghasilkan keuntungan yang maksimum dengan mengalokasikan sumberdaya secara efisien.
Adanya ketidakpastian dalam dunia usaha, seperti perubahan harga jual produk atau ketersediaan sumberdaya, maka diperlukan analisis post optimal. Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana solusi optimal yang diperoleh P4S Nusa Indah jika terjadi perubahan dari kondisi awal. Perubahan ini akan mempengaruhi keuntungan yang diterima oleh P4S Nusa Indah.
Dengan melakukan evaluasi antara kondisi aktual dan optimal, maka dapat diketahui apakah P4S Nusa Indah sudah mendapatkan keuntungan yang maksimum atau belum. Jika belum, maka dicari alternatif pemecahan masalah terbaik, sehingga P4S Nusa Indah dapat mencapai kegiatan produksi yang dapat menghasilkan keuntungan maksimal. Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran operasional dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.
25
Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional Produksi :
Bibit 17 x 35 cm
Bibit 18 x 35 cm
Bibit 20 x 30 cm
Jamur Tiram Putih
Sumberdaya terbatas :
Bibit
tenaga kerja
lahan
serbuk gergaji
dedak dan plastik
Analisis Optimalisasi produksi Kombinasi Produksi Alokasi Sumberdaya Maksimum Keuntungan Kondisi Aktual Evaluasi Analisis Post Optimal Analisis Sensitivitas Permintaan : Bibit 17 x 35 cm Bibit 18 x 35 cm Bibit 20 x 30 cm
26
IV METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu
Penelitian dilakukan pada P4S Nusa Indah di Gang Pala, Kampung Sukamanah RT 02 RW 01, Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, Bogor. P4S Nusa Indah dipilih dengan alasan merupakan salah satu perusahaan agribisnis jamur tiram yang menghasilkan bibit dengan produktivitas yang tinggi serta mampu menghasilkan jamur tiram putih segar, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai optimalisasi produksi. Penelitian dilaksanakan selama bulan Juli hingga Desember 2011.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan pengelola serta pegawai P4S Nusa Indah, Tamansari, Bogor. Data sekunder diperoleh melalui berbagai literatur yang relevan dengan penelitian ini, hasil penelitian terdahulu, buku-buku serta instansi terkait seperti Departemen pertanian, dan BPS.
4.3. Pengolahan Data dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dijabarkan secara deskriptif, mengenai gambaran dan kondisi perusahaan. Pengolahan data secara kuantitatif yaitu mengolah data yang diperoleh secara manual ke dalam bentuk pertidaksamaan program linear. Data kuantitatif yang digunakan adalah data produksi berupa jumlah produksi, penggunaan input, biaya, dan penerimaan.
Data kuantitatif diolah dan dijadikan dasar untuk membentuk fungsi tujuan dan kendala dalam upaya menghasilkan kombinasi produksi yang optimal. Langkah selanjutnya mengolah data dengan bantuan program LINDO (Linier Interactive and Discrete Optimizer). Hasil pengolahan tersebut dijelaskan dalam
27 tiga buah analisis yaitu analisis primal, analisis dual, analisis sensitivitas, dan analisis post optimal.
4.3.1. Variabel Keputusan
Variabel keputusan merupakan simbol matematik yang menggambarkan segala aktivitas produksi perusahaan. Aktivitas produksi yang dilakukan terdiri dari enam jenis aktivitas, yaitu aktivitas produksi bibit serta jamur tiram putih. Produksi bibit dibagi menjadi 3 jenis, yaitu bibit yang dikemas dengan ukuran 17 x 35 cm, 18 x 35 cm, dan 20 x 30 cm. Begitu juga dengan produksi jamur tiram putih yaitu jamur tiram putih yang berasal dari ketiga bibit tersebut.
Aktivitas produksi jamur tiram putih di P4S Nusa Indah dilakukan selama empat bulan, sedangkan untuk bibit hanya memerlukan waktu satu bulan. Waktu yang digunakan dalam perumusan model ini adalah satu kali proses produksi, baik untuk bibit maupun untuk jamur tiram putih. Kegiatan produksi terus-menerus dilakukan tanpa adanya masa peristirahatan lahan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan media tanam khusus yang merupakan campuran dari beberapa bahan tertentu (serbuk kayu, dedak, dan gips) untuk mendukung pertumbuhan jamur tiram putih.
Bibit jamur tiram putih dipanen setelah berusia 30 hari atau satu bulan. Jika bibit ini tidak dijual, maka bibit ini akan digunakan sebagai bahan baku untuk kegiatan budidaya jamur tiram putih. Kegiatan budidaya dilakukan setelah bibit dibuat dan diinkubasikan selama satu bulan, tujuh hingga 15 hari kemudian panen jamur tiram putih dilakukan selama empat bulan.
Dengan demikian, jenis produk yang dirumuskan dalam linear programming ini ada enam jenis, yaitu bibit yang dikemas dalam ukuran 17 x 35 cm, ukuran 18 x 35 cm, dan ukuran 20 x 30 cm. Begitu juga dengan jamur tiram putih, yaitu jamur tiram putih yang dihasilkan dari bibit ukuran 17 x 35 cm, ukuran 18 x 35 cm, dan ukuran 20 x 30 cm. Satuan yang digunakan yaitu log. Berikut tabel 7 menunjukkan variabel keputusan yang akan digunakan dalam perumusan program liniear di P4S Nusa Indah.
28 Tabel 7. Variabel Keputusan Produksi Bibit dan Jamur Tiram Putih dalam Log
No Aktivitas Jenis Produk Variabel
1 Bibit siap panen ukuran 17 x 35 cm X11
2 Bibit siap panen ukuran 18 x 35 cm X12
3 Bibit siap panen ukuran 20 x 30 cm X13
4
Jamur tiram putih yang berasal dari bibit siap panen
ukuran 17 x 35 cm X21
5
Jamur tiram putih yang berasal dari bibit siap panen
ukuran 18 x 35 cm X22
6
Jamur tiram putih yang berasal dari bibit siap panen
ukuran 20 x 30 cm X23
4.3.2. Fungsi Tujuan
Fungsi tujuan dalam penelitian ini adalah maksimisasi keuntungan. Keuntungan diperoleh dari selisih antara nilai jual dan biaya produksi per log dalam satu kali proses produksi. Fungsi tujuan secara matematis ditulis sebagai berikut :
Maksimumkan Z = ∑ ∑ AijXij Z : Nilai fungsi tujuan (Rp)
A : Nilai keuntungan per log (Rp) X : Jumlah produksi (Log)
i : Jenis produksi (1 = bibit, 2 = jamur tiram)
j : Ukuran produk (1 = 17 x 35 cm, 2 = 18 x 35 cm, 3 = 20 x 30 cm)
Dengan demikian fungsi tujuan ini dapat dituliskan sebagai berikut : Maksimumkan
Z = A11X11 + A12X12 + A13X13 + A21X21 + A22X22 + A23X23 4.3.3. Fungsi Kendala
Kelangkaan merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Begitu juga P4S Nusa Indah, dalam menjalankan usahanya dibatasi oleh kendala keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Kendala tersebut berupa lahan, bibit, tenaga kerja, modal, serbuk gergaji, kapur, dedak, gypsum, cincin, kantong plastik, karet,
29 kertas, penjualan bibit siap panen minimum serta permintaan maksimum jamur tiram putih.
a. Kendala Lahan
Luas lahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan masing-masing produk tergantung dari luas lognya dan tidak boleh lebih besar dari luas lahan yang tersedia. Sisi sebelah kanan merupakan luas lahan yang tersedia untuk pembibitan atau pun untuk budidaya jamur. Secara matematis kendala ini dituliskan sebagai berikut :
B11X11 + B12X12 + B13X13 + B21X21 + B22X22 + B23X23 ≤ b Keterangan :
B : Luasan lahan yang diperlukan per log (m2/log) X : Jumlah produksi (Log)
b : Luas lahan tersedia (m2)
b. Kendala Bibit
Produksi yang dihasilkan dipengaruhi oleh banyaknya bibit yang digunakan. Koefisien bibit siap panen dihitung berdasarkan jumlah bibit yang dibutuhkan per log bibit siap panen. Nilai ruas kendala adalah ketersediaan bibit setiap bulan di P4S Nusa Indah. Secara matematis kendala ini ditulis sebagai berikut :
D11X11 + D12X12 + D13X13 + D21X21 + D22X22 + D23X23 ≤ d Keterangan :
D : Bibit yang diperlukan per log (log) X : Jumlah produksi (log)
d : Ketersediaan bibit (Paket)
c. Kendala Tenaga Kerja
Jam kerja yang dibutuhkan antara aktivitas produksi bibit siap panen dengan jamur tiram putih berbeda. Ruas sebelah kiri menunjukan waktu yang
30 dibutuhkan untuk melakukan produksi bibit atau jamur tiram. Ruas sebelah kanan menunjukan ketersediaan jam kerja. Secara matematis dituliskan sebagai berikut :
E11X11 + E12X12 + E13X13 + E21X21 + E22X22 + E23X23 ≤ e Keterangan :
E : Jumlah jam kerja yang diperlukan per log (jam/log) X : Jumlah produksi (log)
e : Ketersediaan jam kerja (jam)
Untuk produksi jamur tiram putih, terdapat kendala tenaga kerja lainnya. Kendala ini adalah saat kegiatan budidaya selama empat bulan. Dalam kegiatan budidaya ini terdiri dari pemeliharaan dan panen. Secara matematis dituliskan sebagai berikut :
F21X21 + F22X22 + F23X23 ≤ f Keterangan :
F : Jumlah jam kerja yang diperlukan per log (jam/log) X : Jumlah produksi (log)
f : Ketersediaan jam kerja (jam)
d. Kendala Serbuk Kayu
Serbuk kayu merupakan salah satu faktor yang penting. Faktor produksi ini selain digunakan sebagai media tanam, juga digunakan sebagai bahan bakar untuk proses sterilisasi. Ruas sebelah kiri menunjukkan jumlah serbuk kayu yang dibutuhkan untuk menghasilkan bibit atau jamur tiram. Ruas sebelah kanan menunjukkan ketersediaan serbuk kayu di P4S Nusa Indah dalam satu bulan. Secara matematis kendala ini dituliskan sebagai berikut :
G11X11 + G12X12 + G13X13 + G21X21 + G22X22 + G23X23 ≤ g Keterangan :
G : Serbuk kayu yang diperlukan per log (kg/log) X : Jumlah produksi (log)
31 e. Kendala Dedak dan Plastik
Kebutuhan dedak dihitung berdasarkan jumlah yang digunakan per log. Kebutuhan plastik disesuaikan dengan produksi yang akan dihasilkan. Kebutuhan ini dikalikan dengan harga beli dedak dan plastik. Nilai ruas kanan adalah ketersediaan modal dalam satu kali proses produksi untuk pembelian dedak dan plastik kemasan. Secara matematis dituliskan sebagai berikut:
H11X11 + H12X12 + H13X13 + H21X21 + H22X22 + H23X23 ≤ h Keterangan :
H : Dedak dan plastik yang diperlukan per log (Rp/log) X : Jumlah produksi (log)
h : Ketersediaan modal (Rp)
f. Kendala Penjualan
Kendala penjualan muncul karena kemampuan perusahaan yang terbatas. Dengan demikian produksi yang dihasilkan hendaknya tidak melebihi dari permintaan yang ada sekarang ini terhadap P4S Nusa Indah.
Penjualan untuk setiap jenis produk berbeda. Ruas sebelah kiri menunjukkan produksi yang dihasilkan, sedangkan ruas sebelah kanan menunjukkan besarnya penjualan yang ada. Secara matematis kendala ini dituliskan sebagai berikut :
IX11 ≥ i j ≤ JX13 ≤ k
K X21 + K X22 + KX23 ≤ k Keterangan :
X : Jenis produk
I, J, K : Jumlah produksi (log) I,j,k : Penjualan (log)
4.3.4. Analisis Primal
Analisis primal berguna untuk mengetahui tingkat kombinasi produksi yang menghasilkan keuntungan maksimum dengan mempertimbangkan
32 keterbatasan sumberdaya. Hasil analisis ini dibandingkan dengan kondisi aktual, agar dapat diketahui apakah kegiatan produksi yang selama ini dijalankan oleh perusahaan sudah berjalan optimal.
4.3.5. Analisis Dual
Analisis dual dilakukan untuk mengetahui sumber daya yang membatasi nilai fungsi tujuan dan sumberdaya yang berlebih. Hal ini terlihat dari nilai slack
atau surplus dan nilai dualnya. Nilai dual menunjukkan perubahan yang akan terjadi pada fungsi tujuan, apabila sumber daya berubah sebesar satu satuan. Jika nilai slack atau surplus nya lebih besar daripada nol dan nilai dualnya nol, maka sumberdaya tersebut berlebih. Sebaliknya jika nilai slack atau surplusnya sama dengan nol dan nilai dualnya lebih besar dari nol, maka sumberdaya tersebut merupakan sumberdaya yang terbatas.
4.3.6. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengukur sejauh mana solusi optimal dapat diterapkan jika terjadi perubahan. Perubahan tersebut yaitu perubahan koefisien fungsi tujuan dan perubahan ketersediaan sumberdaya. Batas minimum adalah batas penurunan nilai parameter yang diperbolehkan agar tidak mengubah kondisi optimal. Batas maksimum adalah batas peningkatan nilai parameter yang diperbolehkan agar kondisi optimal tidak berubah. Semakin kecil batas perubahan yang diperbolehkan, maka semakin peka parameter tersebut mengubah solusi optimal yang telah diperoleh.
4.3.7. Analisis Post Optimalitas
Analisis post optimalitas dilakukan jika solusi optimal yang sudah didapat tidak dapat menjawab perubahan-perubahan yang terjadi akibat adanya beberapa perubahan yang berada diluar selang sensitivitas solusi optimal awal. Analisis post optimalitas juga dilakukan jika terdapat perubahan variabel keputusan, penambahan atau pengurangan fungsi kendala dan terjadinya perubahan koefisien pada setiap fungsi.
33
V. GAMBARAN UMUM P4S NUSA INDAH
5.1. Sejarah dan Perkembangan P4S Nusa Indah
Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Nusa Indah adalah sebuah pusat pelatihan usaha jamur tiram dan tanaman hias yang didirikan pada tanggal 17 Juli 1998. Pusat pelatihan ini terletak di Gang Pala, Kampung Sukamanah RT 02 RW 01, Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, Bogor.
P4S Nusa Indah terbentuk sebagai wujud kepedulian petani dalam meningkatkan jiwa kewirausahaan agribisnis melalui penyebaran informasi dan teknologi pertanian. Selain sebagai pusat pelatihan, P4S Nusa Indah ini juga melakukan usaha jamur tiram putih.
Usaha jamur tiram putih yang dilakukan meliputi usaha pembibitan dan budidaya jamur tiram putih. Usaha pembibitan berupa usaha yang menghasilkan bibit jamur siap panen. Usaha ini dilatarbelakangi tingginya permintaan jamur tiram yang belum terpenuhi. Namun banyak petani yang belum mampu menghasilkan bibit dikarenakan tingginya resiko kegagalan.
Awalnya usaha yang dilakukan hanyalah budidaya jamur tiram putih pada tahun 1998. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya permintaan bibit siap panen dari para petani, maka pembibitan mulai dilakukan. Rata-rata bibit yang dihasilkan per bulan sebanyak 1.300 log dan jamur tiram putih yang dihasilkan sebanyak 30 kg per bulan. Pada tahun 2010 P4S akhirnya hanya melakukan pembibitan jamur tiram putih siap panen.
5.2.Organisasi dan Tenaga Kerja
P4S Nusa Indah merupakan gabungan para petani dalam satu wilayah kerja. Dalam kegiatan pembinaan P4S Nusa Indah mendapat binaan dari dinas atau instansi lingkup Departemen Pertanian. P4S Nusa Indah ini diketuai oleh Ibu Cucu Komalasari dalam pengelolaannya dibantu oleh seorang wakil Bapak Heri Hermawan, sekretaris Ibu Yayat dan Bendahara Ida Yani. Dalam kegiatannya, P4S terdiri dari empat bagian yakni bagian sumberdaya manusia, produksi, pascapanen, dan pemasaran (Gambar 4).
34 Gambar 4. Struktur Organisasi P4S Nusa Indah
Bagian sumberdaya manusia bertugas dalam mengatur para petani dalam kegiatan pembinaan. Bagian produksi bertugas melakukan kegiatan produksi dan menjaga agar kegiatan produksi berjalan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati. Bagian pasca panen bertugas menjalin kerjasama dengan para petani untuk pemenuhan kebutuhan permintaan pasar. Bagian pemasaran bertugas melakukan promosi, mencari tempat pameran, serta bertanggung jawab dalam proses penjualan kepada konsumen.
Untuk usaha jamur tiram dikelola oleh Ibu Cucu Komalasari mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan hingga pengawasan. Dalam usaha ini terdapat lima orang tenaga kerja yang berperan dalam kegiatan produksi. Tenaga kerja ini bekerja delapan jam per hari mulai dari pukul 08.00 hingga 17.00 dengan waktu istrirahat antara pukul 12.00 hingga 13.00. Upah yang diperoleh sebesar Rp 400.000 per bulan.
Bag. Pasca Panen Bag. Pemasaran Bag.SDM Bag. Produksi Bendahara Sekretaris Pembina Camat Distanhut Ciawi
Ketua
35 5.3. Sarana dan Sistem Produksi
Sarana adalah faktor utama yang harus dimiliki untuk menjalankan suatu usaha. Sarana yang dimiliki P4S Nusa Indah untuk berproduksi terdiri dari lahan seluas 200 m². Kemiringan lahan landai, bahkan cenderung datar. Status