FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
MERAH 61 7.1 Sistem Usahatani Cabai Rawit Merah
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 1 Konsep Usahatan
Beberapa definisi mengenai ilmu usahatani sudah banyak dikemukakan oleh mereka yang melakukan analisis usahatani diantaranya yang dikemukakan oleh Soekartawi (2006), yakni ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu terterntu. Dikatakan efektif apabila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki (yang dikuasai) sebaik-baiknya; dan dikatakan efisien apabila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang melebihi pemasukan (input).
Soekartawi et al. (1986) menambahkan bahwa tujuan berusahatani adalah
memaksimalkan keuntungan atau meminimumkan biaya. Konsep
memaksimumkan keuntungan adalah bagaimana mengalokasikan sumberdaya dengan jumlah tertentu seefisien mungkin untuk mendapatkan keuntungan maksimum. Sedangkan konsep meminimumkan biaya, yaitu bagaimana menekan biaya sekecil mungkin untuk mencapai tingkat produksi tertentu. Ciri usahatani Indonesia adalah : 1) sempitnya lahan yang dimilik petani, 2) kurangnya modal, 3) terbatasnya pengetahuan petani dan kurang dinamis, dan 4) tingkat pendapatan petani yang rendah.
Soeharjo dan Patong (1973), menyatakan bahwa usahatani adalah kombinasi yang tersusun (organisasi) dari alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Definisi tersebut menunjukkan bahwa komponen dalam usahatani tersebut terdiri dari alam, tenaga kerja, modal dan manajemen atau pengelolaan (organisasi). Alam, tenaga kerja dan modal merupakan unsur usahatani yang mempunyai bentuk, sedangkan pengelolaan tidak, tetapi keberadaannya dalam proses produksi dapat dirasakan.
Tingkat produksi dan produktivitas usahatani dipengaruhi oleh teknik budidaya, yang meliputi varietas yang digunakan, pola tanam, pemeliharaan, dan penyiangan, pemupukan serta penanganan pasca panen. Hernanto (1996)
21 berpendapat bahwa keadaan usahatani yang satu dengan yang lain berbeda dari segi luas, kesuburan, tanaman yang ditanam serta hasilnya. Setiap bagian lahan berbeda kemampuan dan variasinya. Hal ini membuat usahatani yang ada di atasnya juga bervariasi. Oleh karena itu, manusia yang beragam menyebabkan beragam juga putusan yang ditetapkan untuk usahataninya. Secara umum beragamnya usahatani dipengaruhi oleh aspek-aspek sosial, ekonomi dan politik yang ada di lingkungan usahataninya.
Terdapat beberapa definisi usahatani yang diambil dari buku Suratiyah (2006), yaitu :
1. Menurut Daniel, ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari cara- cara petani mengkombinasikan dan mengoperasikan berbagai faktor produksi seperti lahan, tenaga, dan modal sebagai dasar bagaimana petani memilih jenis dan besarnya cabang usahatani berupa tanaman atau ternak sehingga emberikan hasil maksimal dan kontinyu.
2. Menurut Efferson, ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari cara- cara mengorganisasikan dan mengoperasikan unit usahatani dipandang dari sudut efisiensi dan pendapatan yang kontinyu.
3. Menurut Vink (1984), ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari norma- norma yang digunakan untuk mengatur usahatani agar memperoleh pendapatan yang setinggi- tingginya.
4. Menurut Prawirokusumo (1990), ilmu usahatani adalah ilmu terapan yang membahas atau mempelajari bagaimana membuat atau menggunakan sumberdaya secara efisien pada suatu usaha pertanian, peternakan, atau perikanan. Selain itu, juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana membuat dan melaksanakan keputusan pada usaha pertanian, peternakan atau perikanan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati oleh petani/ peternak tersebut.
Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan melalui produksi pertanian yang berlebih maka diharapkan memperoleh pendapatan tinggi. Dengan demikian harus dimulai dengan perencanaan untuk menentukan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor- faktor produksi pada waktu yang akan datang secara efisien sehingga dapat diperoleh pendapatan yang maksimal.
22 Faktor- faktor yang bekerja dalam usahatani adalah faktor alam, tenaga kerja dan modal. Alam merupakan faktor yang sangat menentukan usahatani. Yang termasuk dalam faktor alam dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor tanah dan lingkungan alam sekitarnya. Faktor tanah misalnya jenis tanah dan kesuburannya. Faktor alam sekitar yakni iklim yang berkaitan dengan ketersediaan air, suhu dan lain sebagainya. (Suratiyah, 2006).
Tenaga kerja adalah salah satu unsur penentu, terutama bagi usahatani yang sangat tergantung dengan musim. Kelangkaan tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehingga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk. Tenaga kerja dalam usahatani memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan tenaga kerja dalam usaha bidang lain yang bukan pertanian.
Karakteristik tenaga kerja bidang usahatani menurut Tohir (1983) adalah sebagai berikut :
1. Keperluan akan tenaga kerja dalam usahatani tidak kontinyu dan tidak merata.
2. Penyerapan tenaga kerja dalam usahatani sangat terbatas.
3. Tidak mudah distandarkan, dirasionalkan, dan dispesialisasikan.
4. Beraneka ragam coraknya dan kadang kala tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Modal adalah syarat mutlak berlangsungnya suatu usaha, demikian pula dengan usahatani. Menurut Vink dalam Suratiyah (2006) benda- benda termasuk tanah yang dapat mendatangkan pendapatan dianggap sebagi modal. Dalam pengertian ekonomi, modal adalah barang atau uang yang bersamasama dengan faktor produksi lain dan tenaga kerja serta pengelolaan menghasilkan barang- barang baru, yaitu produksi pertanian.
Pada usahatani yang dimaksud dengan modal adalah (Hernanto, 1996) : 1. Tanah
2. Bangunan- bangunan (gudang, kandang, pabrik, dan lain-lain) 3. Alat- alat pertanian (traktor, sprayer, cangkul, parang, dan lai-lain) 4. Tanaman, ternak dan ikan di kolam
23 6. Piutang di bank
7. Uang tunai.
3.1.2. Penerimaan Usahatani
Pendapatan kotor atau dalam istilah lain penerimaan usahatani didefinisikan sebagai nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Jangka waktu pembukuan umumnya satu tahun dan mencakup semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan dalam usahatani untuk bibit atau makanan ternak, digunakan untuk pembayaran, disimpan atau digudangkan pada akhir tahun. penerimaan ini dinilai berdasarkan perkalian antara total produksi dengan harga pasar yang berlaku (Soekartawi et al. 1986).
Soeharjo dan Patong (1973) menyebutkan bahwa penerimaan usahatani berwujud tiga hal, yaitu :
1. Hasil penjualan tanaman, ternak, ikan atau produk yang akan dijual. Adakalanya yang dijual ialah hasil ternak, misalnya susu, daging dan telur. Adakalanya pula yang dijual adalah hasil dari pekarangan yaitu, pisang, kelapa, dan lain- lain.
2. Produk yang dikonsumsi pengusaha dan keluarganya selama melakukan kegiatan.
3. Kenaikan nilai inventaris. Nilai benda- benda inventaris yang dimiliki petani, berubah- ubah setiap tahun. Dengan demikian akan ada perhitungan. Jika terjadi kenaikan nilai benda- benda inventaris yang dimiliki petani, maka selisih nilai akhir tahun dengan nilai awal tahun perhitungan merupakan penerimaan usahatani.
3.1.3. Biaya Usahatani
Soekartawi et al. (1986) biaya usahatani meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan tidak berpengaruh terhadap besarnya jumlah produksi. Biaya tetap meliputi pajak, penyusutan alat produksi, bunga pinjaman, sewa lahan dan iuran irigasi. Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang jumlahnya selalu berubah dan
24 besarnya tergantung dari jumlah produksi. Biaya variabel meliputi biaya input produksi dan upah tenaga kerja.
Pengelompokan biaya usahatani yang lain adalah biaya tunai dan biaya tidak tunai (Hernanto 1996). Biaya tunai dan tidak tunai berasal dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap yang termasuk dalam biaya tunai adalah iuran irigasi dan pajak tanah. Sedangkan untuk biaya variabel meliputi biaya input produksi dan upah tenaga kerja. Biaya diperhitungkan yang merupakan biaya tetap adalah biaya penyusutan dan biaya tenaga kerja keluarga. Sedangkan yang termasuk dalam biaya variabel yaitu sewa lahan.
3.1.4. Pendapatan Usahatani
Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Selisih antara pendapatan kotor usahatani dengan pengeluaran total usahatani disebut pendapatan bersih usahatani. Pendapatan bersih usahatani mengukur imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan dan modal milik sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke dalam usahatani, oleh karena itu pendapatan bersih merupakan ukuran keuntungan usahatani yang dapat digunakan untuk membandingkan beberapa penampilan usahatani (Soekartawi et al. 1986).
Analisis pendapatan usahatani mempunyai kegunaan bagi petani maupun bagi pemilik faktor produksi. Tujuan utama dari analisis pendapatan ada dua,
yaitu menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usaha, dan
menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan. analisis pendapatan memberikan bantuan untuk mengukur seberapa jauh kegiatan usahanya pada saat ini berhasil atau tidak bagi seorang petani.
Pendapatan usahatani akan berbeda untuk setiap petani, dimana perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan faktor produksi, tingkat produksi yang dihasilkan dan harga jual yang tidak sama hasilnya. Pendapatan cabang usaha adalah selisih antara penerimaan cabang usaha yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Pengukuran pendapatan pada dasarnya dapat menggunakan beberapa perhitungan. Pilihan bergantung pada tingkat perkembangan usahataninya. Jika usahatani yang menggunakan tenaga kerja dari keluarga maka lebih tepat pendapatan itu dihitung sebagai pendapatan yang berasal dari kerja keluarga. Pada kasus tersebut kerja
25 keluarga tidak usah dihitung sebagai pengeluaran. Ada pula usahatani yang menggunakan tenaga kerja yang diupah. Dalam hal yang demikian, upah kerja dihitung sebagai pengeluaran.
Prinsip penting yang perlu diketahui dalam menganalisis mengenai pendapatan pada usahatani adalah keterangan mengenai keadaan penerimaan dan keadaan pengeluaran. Penerimaan didapat dari hasil perkalian antara berapa besar produksi yang dicapai dan dapat dijual dengan harga satuan komoditi tersebut di pasar. Pengeluaran usahatani dapat diperoleh dari perolehan nilai penggunaan faktor produksi serta seberapa besar penggunaanya pada suatu proses produksi yang bersangkutan (Soekartawi et al, 1986).
3.1.5. Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Rasio)
Salah satu ukuran efisiensi usahatani adalah rasio imbangan penerimaan dan biaya (Return and Cost). Rasio R/C ini menunjukkan pendapatan kotor yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk memproduksi tiap satuan produksi. Alat analisis ini dapat dipakai untuk melihat keuntungan relatif dari suatu kegiatan usahatani berdasarkan perhitungan financial sehingga dapat dijadikan penilaian terhadap keputusan petani untuk menjalankan usahatani tertentu. Titik tekan pada konsep ini adalah unsur biaya merupakan unsur modal. Dalam analisis ini akan dikaji seberapa jauh setiap nilai rupiah biaya yang digunakan dalam kegiatan usahataninya dapat memberikan sejumlah nilai penerimaan sebagai manfaatnya (Soeharjo dan Patong 1973).
Usahatani efisien apabila R/C lebih besar dari 1 (R/C>1) artinya untuk setiap Rp. 1,00 biaya yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan lebih dari Rp. 1,00. Sebaliknya jika rasio R/C lebih kecil satu (R/C<1) maka dikatakan bahwa untuk setiap Rp. 1,00 yang dikeluarkan akan memberikan penerimanaan lebih kecil dari Rp. 1,00 sehingga usahatani dinilai tidak efisien. Semakin tinggi nilai R/C, semakin menguntungkan usahatani tersebut (Gray et al 1992).
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Salah satu komoditi sayuran unggulan nasional adalah cabai. Kebutuhan akan komoditi ini khususnya cabai rawit terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perkembangan industri di Indonesia
26 (Lampiran 1). Penelitian ini dilakukan berdasarkan kecenderungan yang terjadi pada permasalahan agribisnis cabai rawit di Indonesia. Permasalahan tersebut menyebabkan ketidakpastian pendapatan petani akibat dari terjadinya fluktuasi harga di pasar nasional.
Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut merupakan desa yang memiliki potensi untuk mengembangkan tanaman hortikultura khususnya cabai rawit sebagi komoditas unggulan. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi alam dan kondisi sosial masyarakatnya yang mendukung produksi cabai rawit hingga mencapai 5,5 ton dari total potensi sebesar 7,5 ton (Programa 2012 BP3K Cigedug). Berdasarkan potensi tersebut, PT Indofood Fritolay Makmur menjalin kemitraan dengan petani cabai rawit merah di Desa Cigedug. Namun, tidak semua petani cabai rawit merah di Desa Cigedug memilih menjalin kemitraan dengan PT Indofood Fritolay Makmur.
Resiko dari segi pasar akibat fluktuasi harga cabai rawit merah yang tinggi dirasakan oleh petani cabai rawit merah di Desa Cigedug yang lebih memilih untuk tidak menjalin kemitraan dengan PT Indofood Fritolay Makmur. Sedangkan bagi petani cabai rawit merah yang memilih untuk menjalin kemitraan dengan PT Indofood Fritolay Makmur mendapatkan manfaat berupa harga yang tetap, pasar yang tetap dan pembinaan dalam menjalankan usahatani cabai rawit merah dari pihak Indofood.
Perubahan harga cabai rawit merah tersebut kemudian digunakan sebagai dasar pemikiran bahwa perubahan harga cabai rawit merah akan berdampak kepada perubahan penerimaan yang diperoleh oleh petani cabai rawit merah di desa Cigedug. Perbedaan penerimaan petani juga akan menyebabkan perbedaan pendapatan yang diterima petani cabai rawit merah di Desa Cigedug. Hubungan kemitraan antara petani cabai rawit merah dan perusahaan yang bermitra dapat dijadikan salah satu alternatif solusi yang telah dilakukan oleh beberapa petani cabai rawit merah di Desa Cigedug. Hal tersebut didasarkan kepada manfaat yang diterima oleh para petani berupa kepastian harga yang tetap sehingga keuntungan yang didapat oleh petani tergantung dari kemampuan efisiensi biaya produksi yang dikeluarkan.
27 Kegiatan usahatani cabai rawit merah sebagai suatu proses produksi harus dilakukan secara efisien, sehingga diperoleh keuntungan yang maksimum. Kondisi keuntungan kegiatan usahatani cabai rawit merah didekati dengan analisis pendapatan usahatani. Identifikasi biaya dan penerimaan diperlukan dalam analisis pendapatan usahatani tersebut. Identifikasi biaya dilakukan agar biaya- biaya produksi yang dikeluarkan dalam usahatani dapat diketahui. Harga jual juga diperlukan karena merupakan komponen penerimaan cabang usahatani. Keuntungan diperoleh dari total penerimaan dikurangi biaya yang dikeluarkan. Penerimaan yang diterima untuk setiap satuan unit biaya yang dikeluarkan dapat dihitung dengan pendekatan rasio R/C. Usahatani yang dilakukan menguntungkan jika rasio tersebut lebih besar dari satu.
Oleh karena itu, seberapa jauh setiap nilai rupiah yang diterima petani cabai rawit merah dalam kegiatan usahataninya dapat memberikan gambaran sejumlah nilai dan pengeluaran sebagai biayanya. Sehingga dapat diketahui sistem pertanian mana yang lebih efisien antara petani bermitra dan petani yang tidak bermitra. Berdasarkan hasil analisis pendapatan dan efisiensi maka penelitian dapat dijadikan bahan masukan untuk para petani dalam membudidayakan cabai rawit, baik dengan pola kemitraan maupun non-kemitraan. Bagan Alur kerangka pemikiran dari usahatani cabai rawit dengan bermitra dan cabai rawit tanpa mitra dapat dilihat pada Gambar 1.
28
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Merah (Capsicum frutescens) (Kasus : Petani Mitra PT Indofood Fritolay Makmur dan Petani Nonmitra Di Desa Cigedug Kec. Cigedug Kab. Garut
Potensi Pengembangan Cabai Rawit Merah di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug
Kabupaten Garut
Petani Cabai Rawit Merah Bermitra Dengan PT Indofood Fritolay Makmur
Harga Tetap
Petani Cabai Rawit Merah yang tidak Bermitra Dengan PT Indofood Fritolay Makmur
Harga Berfluktuasi
Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Merah
Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Merah
R/C Rasio R/C Rasio
29
IV.
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Garut merupakan salah satu sentra produksi cabai rawit di Indonesia. Pemilihan Kecamatan Cigedug dikarenakan wilayah tepatnya di Desa Cigedug terdapat banyak petani yang telah menjalin kemitraan dengan PT. Indofood Fritolay Makmur. Pelaksanaan penelitian akan dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2012.
4.2. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer didapat dengan melakukan observasi langsung di daerah penelitian serta pembuatan daftar pertanyaan yang telah disiapkan untuk melakukan wawancara. Metode yang digunakan adalah wawancara langsung kepada petani sebagai responden dengan menggunakan kuisioner sebagai alat bantu seperti yang tertera pada Lampiran 9.
Data sekunder didapat dari instansi-instansi terkait yakni Badan Penyuluh Pertanian (BPP), Kecamatan Cigedug, Departemen Pertanian, Departemen Perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS), Pusat Data dan Informasi Pertanian (Pusdatin), serta hasil-hasil penelitian berupa publikasi-publikasi dan jurnal-jurnal pertanian oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP). Selain itu, data sekunder juga didapat dari situs web internet, buletin, literatur-literatur serta sumber-sumber yang terkait dengan topik penelitian ini.
4.3. Metode Penarikan Contoh
Responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 24 petani cabai rawit merah yang terdiri dari 9 petani yang menjalin kemitraan dan 15 petani yang tidak menjalin kemitraan di wilayah Desa Cigedug Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut. Penentuan petani responden dilakukan menggunakan metode purposive menggunakan data petani yang berasal dari Gapoktan Cagarit dan disesuaikan
30 dengan karakteristik dan jenis tanaman tumpang sari yang dominan diusahakan bersama cabai rawit merah. Adapun definisi petani cabai rawit merah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah para petani Desa Cigedug yang membudidayakan tanaman cabai rawit merah secara tumpang sari dengan tanaman tomat dan kol minimal satu kali dalam satu musim tanam di lahan sendiri atau di lahan garapan, baik yang telah bermitra dengan PT. Indofood Fritolay Makmur maupun yang tidak bermitra.
4.4. Pengolahan dan Analisis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif kemudian dilakukan pengolahan dan analisis data. Metode analisis data kuantitatif menggunakan analisis pendapatan usahatani yang berdasarkan pada penerimaan dan biaya usahatani, sedangkan R/C rasio digunakan untuk mengetahui tingkat efisiensi usahatani tersebut. Metode analisis data kualitatif dianalisis secara deskriptif pada analisis keragaan usahataninya. Jadi analisis data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi analisis keragaan usahatani dan analisis pendapatan usahatani dari komoditi cabai rawit merah yang telah menjalin kemitraan dan tidak menjalin kemitraan.
4.4.1. Analisis Keragaan Usahatani
Analisis keragaan usahatani dianalisis secara deskriptif dengan mengamati secara langsung proses usahatani mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan. Analisis ini juga ditunjang dengan data-data primer yang diperoleh melalui proses wawancara langsung terhadap petani responden. Analisis keragaan usahatani digunakan untuk mengetahui secara detail kegiatan usahatani yang berlangsung mulai dari sarana produksi yang digunakan hingga teknik budidaya yang digunakan oleh masing-masing petani responden. Keragaan usahatani ini dapat memberi penjelasan tentang hasil produksi serta biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani yang dijalankan.
4.4.2. Analisis Pendapatan Usahatani
Pendapatan dalam penelitian ini akan dibedakan menjadi dua, pertama pendapatan atas biaya tunai (pendapatan tunai) yaitu biaya yang benar-benar dikeluarkan secara tunai oleh petani (explicit cost). Kedua, pendapatan atas biaya
31 total (pendapatan total) dimana semua input milik keluarga juga diperhitungkan sebagai biaya (Siregar 2008).
Penerimaan total usahatani (total farm revenue) merupakan nilai produk dari usahatani yaitu harga produk dikalikan dengan total produksi periode tertentu. Total biaya atau pengeluaran adalah semua nilai faktor produksi yang dipergunakan untuk menghasilkan suatu produk dalam periode tertentu. Pendapatan total usahatani dapat diartikan sebagai penerimaan total dikurang dengan semua biaya yang telah dikeluarkan, baik biaya tunai maupun tidak tunai. (Soekartawi 2006). Secara matematis tingkat pendapatan usahatani dapat ditulis sebagai berikut (Soekartawi 1986) :
TR = P x Q
TC = biaya tunai + biaya diperhitungkan
π atas biaya tunai = TR - biaya tunai π atas biaya total = TR – TC
Keterangan :
TR : total penerimaan usahatani (Rp) TC : total biaya usahatani (Rp) P : harga output (Rp/Kg) Q : jumlah output (Kg)
π : pendapatan atau keuntungan (Rp)
Biaya tunai digunakan untuk melihat seberapa besar likuiditas tunai yang dibutuhkan petani untuk menjalankan kegiatan usahataninya. Biaya tunai terdiri dari sarana produksi, tenaga kerja luar keluarga, dan pajak dan sewa lahan. Biaya tidak tunai digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika penyusutan, bibit sendiri dan nilai kerja keluarga diperhitungkan. Biaya yang diperhitungkan meliputi, penyusutan alat, dan tenaga kerja dalam keluarga serta biaya bibit sendiri.
Biaya penyusutan alat-alat pertanian diperhitungkan dengan membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang ditafsirkan dengan lamanya modal pakai. Metode yang digunakan ini adalah metode garis lurus. Metode ini digunakan karena jumlah penyusutan alat tiap tahunnya dianggap sama dan
32 diasumsikan tidak laku bila dijual. Rumus yang digunakan yaitu (Soekartawi 2006) :
Biaya penyusutan : Dengan : Nb = Nilai pembelian (Rp)
Ns = tafsiran nilai sisa (Rp)
n = jangka usia ekonomis (Tahun)
4.4.3. Analisis Perbandingan Penerimaan dan Biaya (R/C-ratio)
Analisis pendapatan usahatani selalu disertai dengan pengukuran efisiensi. Salah satu ukuran efisiensi penerimaan untuk tiap rupiah yang dikeluarkan
(revenue cost ratio) adalah analisis R/C. Analisis R/C rasio dalam usahatani
menunjukkan perbandingan antara nilai output terhadap nilai inputnya yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan dari usahatani yang dilaksanakan. Selain itu R/C rasio juga merupakan perbandingan antara penerimaan dengan pengeluaran usahatani.
Rasio R/C yang dihitung dalam analisis ini terdiri dari R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total. Rasio R/C atas biaya tunai dihitung dengan membandingkan antara penerimaan total dengan biaya tunai dalam satu periode tertentu. Rasio R/C atas biaya total dihitung dengan membandingkan antara penerimaan total dengan biaya total dalam satu periode tertentu. Rumus analisis imbangan penerimaan dan biaya usahatani adalah sebagai berikut (Soekartawi 1986) :
R/C rasio atas biaya tunai = TR / biaya tunai R/C rasio atas biaya total = TR / TC
Keterangan :
TR : total penerimaan usahatani (Rp) TC : total biaya usahatani (Rp)
Secara teoritis R/C menunjukkan bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan sebesar nilai R/C. Suatu usaha dapat dikatakan menguntungkan dan layak untuk diusahakan apabila nilai R/C rasio lebih besar dari satu (R/C > 1), makin tinggi nilai R/C menunjukkan bahwa penerimaan yang diperoleh semakin lebih besar dari tiap unit biaya yang
33 dikeluarkan untuk memperoleh penerimaan tersebut. Namun apabila nilai R/C lebih kecil dari satu (R/C < 1), usaha ini tidak mendatangkan keuntungan sehingga tidak layak untuk diusahakan karena penerimaan yang diterima lebih