STAFF (MANAJER) DAN KARYAWAN
7.5 Kerangka Pikir Global Leadership Centre (GLC)
Kerangka pikir GLC merupakan hal pokok bagi pola pikir global karena konsep ini memerlukan apresiasi yang simultan terhadap gagasan-gagasan yang bertentangan. Sebagai manajer global, mungkin berada dalam suatu organisasi matriks global dengan berbagai tuntutan yang bersaing dari berbagai unit bisnis fungsional dan geografis yang seringkali berada dalam pertentangan. Praktisi SDM diminta oleh manajer agar responsif terhadap pelanggan lokal, suatu perubahan yang mungkin pada gilirannya mengurangi kemampuan praktisi SDM untuk responsif terhadap pelanggan global atau mengurangi biaya di tingkat regional untuk melawan serangan pesaing global.
Seorang manajer tradisional mungkin menghabiskan berjam-jam berusaha untuk memprioritaskan tuntutan itu, mengusahakan pemecahan yang optimal terhadap berbagai konflik, tetapi manajer global mengetahui bahwa besok akan timbul lagi tuntutan yang lain.
Manajer global belajar hidup dengan konflik ketimbang berusaha memecahkan konflik yang melekat pada organisasi matriks global.
Suatu hari, jawaban akan mengalir ke satu arah, dan hari berikutnya ia akan cenderung kepada pemecahan yang lain. Ini maksudnya bahwa praktisi SDM akan perlu mengasah keterampilan analisis, berunding, dan mempengaruhi, jika praktisi SDM harus bertahan hidup dalam tekanan manajemen global yang terus menerus. Hal ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, tetapi praktisi SDM harus mengembangkan keseimbangan untuk maju dengan cepat dalam organisasi global.
Yuliandi, Nasir Azis, Mukhlis Yunus, Muhammad Adam, Rusdin T.
131
Bagian IIPengukuranEmployee Performan
samping sifat-sifat kerangka pikir untuk mengelola strategi dan struktur, manajer global yang sukses harus menyesuaikan budaya perusahaan dan mempunyai kerangka pikir yang menyeimbangkan kekuatan yang berlawanan, yaitu pengendalian dan kelenturan. Orang yang berpola pikir global melibatkan proses pertama-tama dengan belajar mempercayai bahwa proses berada di atas struktur, kemudian menyesuaikannya untuk menjamin konsistensi pelaksanaan strategi global dan penyebaran kebijaksanaan global yang efektif.
Kebanyakan praktisi SDM telah melewatkan kariernya di organisasi yang memecahkan masalah dengan mengubah struktur.
Praktisi SDM juga bertanggungjawab melalui lini fungsional yang membuatnya berpihak pada unit organisasional tertentu dan bukannya pada pelanggan atau proses, seperti kualitas total. Tetapi organisasi global sekarang ini mendapati bahwa untuk sukses mereka harus lebih menekankan proses lintas fungsi ketimbang struktur hirarkis. Hasilnya, para manajer belajar untuk melihat kemampuan inti, manajemen-rantai-nilai, manajemen kualitas total, dan banyak proses lainnya yang disesuaikan untuk menyusun sumber daya organisasi secara keseluruhan guna mencapai tujuan bisnis.
Karena itu, kerangka pikir global berorientasi pada proses di atas struktur, hal ini kelihatan mudah, namun juga sulit. Para manajer dengan kerangka pikir global kadang-kadang ingin mengganti hal yang merupakan kepentingan mereka sendiri atau kepentingan unit-unit mereka dengan tindakan yang dapat meningkatkan bisnis secara keseluruhan. Tetapi, untuk melakukan hal ini para manajer dan perusahaan harus difokuskan pada proses yang terpadu, bukan membangun sistem feodal. Seorang yang mempunyai kerangka pikir global mengenal dan mengakui bahwa proses lebih kuat daripada struktur, sejatinya proses merupakan kunci bagi penyesuaian diri, daya tahan, dan kelangsungan hidup organisasi.
Seorang yang berpola pikir global mengalir bersama perubahan dan mengelola kemampuan organisasi mereka untuk menanggapi hal yang tidak diduga dan kemenduaan sebagai peluang untuk melakukan berbagai inisiatif baru. Kerangka pikir global menyenangi hal yang tidak diduga, kemenduaan, dan perubahan, dengan cukup
Yuliandi, Nasir Azis, Mukhlis Yunus, Muhammad Adam, Rusdin T.
132
Bagian IIPengukuranEmployee Performan
penstiwa tidak dapat diramalkan karena berbagai sebab. Kadang-kadang takjub karena lingkungan global terlalu kompleks; Kadang- kadang-kadang takjub karena lingkungan global sederhana dan mudah, namun di luar pengalamannya. Kadang-kadang seorang manajer takjub hanya karena alasan yang tidak diketahui. Merasa senang dengan kemenduaan, menerima hal yang menakjubkan, dan melihat perubahan sebagai peluang, semuanya ini merupakan bagian dan pola pikir global yang sejatinya praktisi SDM kembangkan jika harus cepat sukses mengembangkan dunia bisnis.
Kemampuan untuk mengembangkan strategi dan struktur global yang efektif, kemudian menyesuaikan dan melaksanakannya melalui budaya perusahaan yang tepat, akhirnya tergantung kepada ketrampilan karyawan. Seberapa baik praktisi SDM dapat mengelola tim multibudaya dan seberapa baik dapat mempelajari gagasan, sikap, dan perilaku baru yang diperlukan untuk bekerja di dunia yang terus menerus berubah ?
Orang yang berpola pikir global menghargai perbedaan dan dapat bekerja dengan baik dengan tim multibudaya sebagai cara utama untuk mencapai tujuan pekerjaan dan orgamsasi mereka. Tim multibudaya merupakan saringan yang penting bagi pola pikir global.
Organisasi global tidak akan sukses tanpa kerja sama tim antar berbagai daerah, jenis produk, dan fungsi. Tidak disangsikan, manajer dengan pola pikir global tidak akan dapat menyusun sendiri operasi dengan sukses karena tantangannya terlalu besar, terlalu beragam, dan terlalu tersebar secara geografis untuk dihadapi satu orang saja.
Kerja sama tim dan kesalingtergantungan harus menggantikan gaya manajemen Superman.
Dalam proses kerja sama tim global, para manajer menemukan keberagaman latar belakang, budaya, nilai-nilai, kepercayaan, dan perilaku yang besar. Para anggota tim budaya mempunyai berbagai harapan tentang bagaimana mereka harus bekerja bersama-sama.
Sebagai bagian dan pengembangan pola pikir global, praktisi SDM sejatinya memiliki sensitiftas dan fleksibihtas untuk memenuhi kebutuhan berbagai karyawan sambil mencapal tujuan proyek dan organisasi.
Yuliandi, Nasir Azis, Mukhlis Yunus, Muhammad Adam, Rusdin T.
133
Bagian IIPengukuranEmployee Performan
secara global dengan memikirkan kembali batas-batas dan berusaha untuk menjadi yang terbaik di dunia untuk apa yang mereka lakukan.
Seorang yang mempunyai pola pikir global terus menerus mencari perbaikan dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan mereka dengan membuka diri mereka terhadap hal yang tidak diduga, tidak menjauhkan diri mereka dari hal yang tidak diharapkan. Telah diamati bahwa terdapat perbedaan antara terlatih dengan terdidik.
Terlatih berarti disiapkan untuk melawan hal yang tidak diduga;
terdidik berarti disiapkan untuk hal yang tidak diduga. Bukan definisi yang jelek bagi seorang manajer global, praktisi SDM harus terdidik dan bukannya terlatih karena manajemen global penuh dengan hal yang tidak diduga.
Manajer global yang sukses juga menyadari bahwa mereka akan terlibat dakm pembelajaran seumur hidup. Pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan oleh manajer global itu tidak ada habisnya. Guna menjadi manajer yang betul-betul efektif dalam organisasi global, seorang praktisi SDM harus menantang dirinya sendiri untuk mempelajari kawasan yang semakin luas untuk dapat memahami perdagangan internasional, mata uang, dan peraturan pemerintah, dan belajar bagaimana mengelola karyawan dari berbagai latar belakang budaya dan organisasi. Hal ini ditambahkan pada keahlian teknis dan profesionalisme praktisi SDM dan pengetahuannya mengenai perusahaan dan industri.
Keenam aspek kerangka pikir global ini membentuk dasar untuk keenam keterampilan manajemen global yang pokok. Guna menggambarkan kerangka pikir global, praktisi SDM dapat menggunakan kata kerja yang sama banyaknya dengan kata benda.
Kata-kata kerja di bawah ini menyatakan orang yang mempunyai pola pikir global:
✓ Mendorong
✓ Menyeimbangkan
✓ Melibatkan
✓ Menilai
✓ Mengalir
✓ Belajar
Yuliandi, Nasir Azis, Mukhlis Yunus, Muhammad Adam, Rusdin T.
134
Bagian IIPengukuranEmployee Performan
manajer global, para praktisi SDM sejatinya menjadi pelaku yang masih ingin untuk sewaktu-waktu mundur dan "mengalir bersama arus."
Praktisi SDM sejatinya juga menyesuaikan proses dan menjamin agar keputusannya terkoordinasi dengan strategi perusahaannya secara menyeluruh, sementara pada waktu yang bersamaan praktisi SDM juga sejatinya terbuka terhadap berbagai perubahan yang akan menakjubkan di dunia yang kompleks dan kompetitif. Seroang manajer global sejatinya juga menilai tim dan kerja sama tim sambil terus berusaha memperbaiki kualitas dan imbalan kehidupan professional.
Kerangka pikir global dapat dibandingkan dengan pola pikir manajerial yang lebih tradisional yang mungkin sangat logis bagi beberapa perusahaan domestic, tetapi dalam konteks yang global diperlukan perspektif tambahan. Perhatikan bahwa perspektif global bukanlah pengganti bagi pola pikir tradisional, melainkan tambahan.
Kompleksitas yang demikian menandai dunia modern. Praktisi SDM tidak pernah diizinkan untuk mengganti yang lama dengan yang baru, seorang manajer hanya menambah lebih banyak kebutuhan yang membuat hidup lebih kompleks.
Terdapat hubungan tertentu antara pola pikir global dengan sifat atau karakteristik pribadi karyawan. Praktisi SDM mungkin dapat lebih mudah mengambil sifat pola pikir global disebabkan oleh sifat pribadi yang telah mereka miliki. Karena manejer global adalah seseorang yang sensitif terhadap perbedaan antar perorangan (suatu sifat). Sebaliknya, mengubah pola pikir manajer mungkin meningkatkan sifat tertentu. Menghargai perbedaan lintas-budaya dapat menyebabkan seorang manajer menjadi seorang yang secara antar perorangan lebih sensitif terhadap perbedaan lintas-budaya.
Para manajer sumber daya manusia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun berusaha untuk mengembangkan prosedur penyaringan dan seleksi untuk dapat mengenali manajer global.
Kebanyakan mekanisme penyaringan ini telah menggunakan sifat pribadi sebagai dasar untuk ujian, karena sulit untuk menguji pola pikir seorang calon. Jelas ujian yang terbaik untuk manajer global adalah perilaku, bukan pola pikir atau sifat, tetapi hampir tidak
Yuliandi, Nasir Azis, Mukhlis Yunus, Muhammad Adam, Rusdin T.
135
Bagian IIPengukuranEmployee Performan
bekerja di perusahaan. Barangkali pendekatan yang terbaik adalah menggunakan alat-alat penyaringan yang tersedia untuk mengambil karyawan baru, tetapi dengan lebih mengandalkan pengembangan sifat pola pikir global dan ketrampilan dalam organisasi.
Pola Pikir Global dan Karakteristik Pribadi Karyawan hadapi suatu bentuk tantangan dalam interaksi lintas-budaya, dan tantangan ini seringkali tertuju kepada pertanyaan siapa manajer dan apa yang manajer percayai. Jika dihadapkan dengan persoalan seperti ini, orang yang paling sukses adalah mereka yang mempunyai filosofi yang sangat jernih dan penglekatan terhadap hidup yang menyertakan, ketimbang mengesampingkan orang lain. Mereka cukup berpengalaman untuk meyakini penilaian mereka, tetapi juga mengetahui bahwa jarang ada satu jawaban terhadap suatu persoalan yang penting dan bahwa setiap keputusan yang besar memerlukan kehati-hatian yang besar, pembahasan, dan kesediaan mendengarkan berbagai pandangan baru.
Bayangkan betapa sulitnya bagi seorang insinyur yang terlatih untuk mengharapkan bahwa ada berbagai jawaban yang tepat terhadap berbagai masalah teknis, ketika dia menghadapi tantangan untuk menjadi manajer global di mana keputusan harus diambil dalam keadaan kurangnya informasi, keraguan terhadap keahlian untuk melakukan penilaian yang tepat, dan tekanan waktu yang tidak akan memungkinkan dilakukannya analisis yang memadai. Interpretasi dilema etika dari perspektif lintas-budaya, misalnya, merupakan salah satu tantangan yang akan mnajer hadapi.
Yuliandi, Nasir Azis, Mukhlis Yunus, Muhammad Adam, Rusdin T.
136
Bagian IIPengukuranEmployee Performan