BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 10-29
B. Kerangka teori
1. Konsep segmentasi politik
Segmentasi banyak digunakan dalam bidang pemasaran. Konsep segmentasi pertama kali dikemukakan oleh Smith. Dengan kata lain, ini adalah aktivitas yang terdiri dari tiga asumsi. Konsumen terdiri dari komponen yang tidak sama atau berbeda, dan heterogenitas kedua konsumen ini dapat memisahkan tingkat dan jenis permintaan konsumen, masing-masing dari ketiga segmen pasar secara individual, tergantung pada karakteristik seluruh pasar. dibedakan. Segmentasi politik juga terkait dengan definisi di atas, sehingga menurut Francisco, segmentasi adalah kegiatan seperti menemukan, mengevaluasi, dan memilih kelompok dengan karakteristik, dan merancang strategi berdasarkan karakteristik tersebut.
Segmentasi politik diperlukan untuk penyiapan pesan politik, program kerja, kampanye politik, sosialisasi dan produk politik. Segmentasi politik yang dilakukan oleh parpol dan calon kepala daerah dan kepala daerah menggunakan pendekatan politik berbasis informasi. Calon partai politik atau pemimpin daerah dan wakil kepala daerah mencari, menerima, dan mengolah informasi tentang kondisi sosial yang ada.
Segmentasi politik juga terkait dengan definisi di atas, sehingga menurut Francisco, segmentasi adalah kegiatan yang mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memilih kelompok dengan karakteristik, dan strategi dapat dirancang sesuai dengan karakteristik tersebut meningkat. Segmentasi politik diperlukan untuk menyiapkan pesan politik, program kerja, kampanye politik, sosialisasi, dan produk politik. Pembagian politik oleh partai politik dan calon kepala daerah dan
wakil kepala daerah menggunakan pendekatan politik berbasis informasi. Calon parpol atau kepala daerah dan wakil direktur daerah mencari, mencatat, dan mengolah informasi tentang kondisi sosial yang ada. Ada juga jenis metode segmentasi pemilih menurut Firmanzah (pengadopsi: Kollat, Dollarmple & Parson, Cui, Liu). Geografi masyarakat dapat disegmentasi berdasarkan geografi dan kepadatan penduduk, sebagai berikut: Misalnya, produk dan jasa yang dibutuhkan masyarakat di pedesaan berbeda dengan produk kebijakan yang dibutuhkan penduduk perkotaan. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda, bahkan antara gunung dan pantai. Demokrasi konsumen politik dapat dibedakan berdasarkan usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, profesi, dan kelas sosial.
Setiap kategori memiliki karakteristik yang berbeda-beda terkait dengan isu politik.
Oleh karena itu, harus dikelompokkan berdasarkan demografis. Minat dan keterlibatan yang kuat dalam isu politik, loyalitas dan perhatian terhadap isu-isu politik. Karena masing-masing kelompok berperilaku berbeda, maka perlu diidentifikasi bahwa pengelompokan masyarakat sosial budaya dapat dicapai dengan karakteristik sosial dan budaya. Klasifikasi seperti budaya, etnis, etnis, dan upacara tertentu sering membedakan kekuatan, minat, dan perilaku dari masalah politik. Selain metode segmentasi statis, metode ini mengelompokkan orang berdasarkan perilaku yang dihasilkan dari isu-isu politik, dan sebab dan akibat inilah yang mendasari pengelompokan tersebut. Metode berbasis pemilih yang masuk akal. , Tradisional, kritis, ambigu(Firmanzah, 2008)
2. Pendekatan politik
Pendekatan segmentasi politik pada dasarnya bertujuan untuk mengenal lebih jauh kelompokkelompok. Hal ini berguna untuk mencari peluang, menggerogoti segmen pemimpin, merumuskan pesanpesan komunikasi, melayani lebih baik, menganalisis perilaku, dan lain sebagainya. Para politisi perlu memahami konsep pendekatan segmentasi karena berhadapan dengan para pemilih yang sangat heterogen. Para politisi dapat memberikan tawaran politik yang efekti bila mereka mengetahui karakter segmen yang menjadi sasaran.
Pendekatan Segmentasi dikatakan efektif bila segmen-segmen tersebut memenuhi lima syarat menurut Kotler (Adman Nursal, 2004), yaitu sebagai berikut:
a. Dapat di ukur
Syarat ini menghendaki perlunya informasi mengenai jumlah anggota setiap segmen. Hal ini penting untuk memproyeksikan jumlah perolehan suara yang mungkin diraih dari setiap segmen politik. Dengan mengetahui prospek perolehan suara itulah, peluang kemenangan seorang kanidat atau perolehan kursi sebuag kontes politik yang sedang berlangsung.
b. Dapat diakses
Jika Anda tidak dapat mengakses segmen yang Anda tangani secara efektif, segmentasi tidak banyak berguna. Pemasaran politik memerlukan akses untuk menyampaikan signifikansi politik kepada pemilih, misalnya melalui media massa, rapat, surat, kontak tatap muka, dan bentuk komunikasi lainnya.
c. Substansial
Jumlah populasi peemilih dari suatu segmen yang terdiri dari anggota yang relatif homogen harus cukup besar dan signifikan dalam peta perebutan suara.
Sebuah partau dapat memenuhi aspirasi politik sebuah niche market atau segmen tertentu dengan aspirasi yang sangat khas. Tetapi tindakan ini bisa saja tidak berguna untuk meraih kemenangan karena jumlah suara maksimal yang dapat diraih segmen tersebut tidak mencapai kuota untuk sebuah kursi
d. Respon
Segmentasi dikatakan efektif bila setiap segmen yang dihasilkan itu memberikan respon khas terhadap tawaran politik tertentu. Respon khasi ini memungkinan partai atau kandidat membidik segmen tertentu secara efektif.
3. Kebijakan segmentasi politik
Kebijakan politik merupakan salah satu asumsi terbesar dalam menentukan kedudukan dalam dunia politik yang mana para calon atau kanidat kepala daerah sebelumnya harus menentukan kebijakan apa saja yang akan di tentukan untuk masa yang akan dating. menurut Noam Chomsky, seorang filosof ternama dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), dalam penggalan kutipannya seolah ingin mengingatkan bahwa politik dan kebijakan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Di mana ada kebijakan, maka di situ terdapat kekuatan politik, kepentingan, dan aktor politik yang bekerja dan membentuk interseksi, atau bahkan terkadang persinggungan yang berujung pada konflik. Dengan demikian, setiap kebijakan sebetulnya tidaklah bersifat benar-benar netral.
Eksistensi sisi politis dari sebuah kebijakan itu yang pada praktiknya mewarnai kehidupan manusia di manapun mereka tinggal dan berada. Politik berbicara tentang tujuan seperti memperjuangkan nilai dan jabatan (offices) berhadapan dengan lawan politik, sementara kebijakan bertujuan untuk menghasilkan solusi terhadap masalah penting yang perlu mendapat dukungan dari pihak yang terkena dampak dari kebijakan tersebut.
4. Factor-faktor segmentasi politik
Secara umum, pemilih cenderung terobsesi dengan partai jika memiliki rekam jejak yang solid dalam menjaga hubungan jangka panjang. Pemilih akan melihat bagaimana partai politik secara konsisten merepresentasikan idealismenya dan memperjuangkan nasibnya dalam jangka panjang. Hanya sikap mengecewakan partai yang membuat pemilih berpikir lama untuk berkomitmen pada partai tanpa kritik. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab terbentuknya massa terapung atau kelompok putih (Golput).
Menurut Bainess terdapat empat faktor yang mempengaruhi perkembangan penerapan konsep segmentasi politik dan positioning dalam dunia politik, diantaranya sebagai berikut :
a. Meningkatnya stigma sosial politik dibandingkan dengan produk konsumen, informasi dari pemilih lebih sedikit dibandingkan dengan konsumen produk bisnis.
b. Sumber daya yang tersedia untuk penelitian kebijakan umumnya sangat terbatas dibandingkan dengan sumber daya penelitian pasar dalam bisnis.
Karena keterbatasan ini, investigasi kebijakan biasanya dilakukan melalui
investigasi dan kelompok fokus yang tidak sesuai untuk segmentasi dan positioning
c. Positioning produk dan positioning untuk kontestan politik adalah dua hal dengan proses yang berbeda. Sebuah merek produk bisa sukses dengan mempositioningkan citra dengan jelas, konsisten,kredibel dan kompetitif.
d. Proses marketing politik bersifat intangible (tidak dapat diraba) dan pilihan politik para pemilih sangat bersifat emosional. Hal ini menyebabkan besarnya masalah yang harus diatasi untuk menciptakan citra baru dari seorang kandidat atau partai politik. Dibutuhkan waktu yang cukup lama dan dengan perubahan sedikit demi sedikit.
5. Perilaku Pemilih
Partisipasi politik yang menarik untuk diperhatikan adalah partisipasi politik pemilih baru, karena pemilih baru adalah mereka yang baru terjun ke dunia politik dan informasi tentang politik masih minim. Pemilih pemula tidak terlepas dari media baru, khususnya media sosial. Salah satu kekuatan pendorong di balik partisipasi politik adalah penggunaan studi media. (Jayawinangun & Valdiani, 2019)
Berdasarkan partisipasi pemilih diketahui bahwa sebagian besar responden tidak berpartisipasi pada proses pemilihan pada pilkada serentak yang di lakukan oleh pemerintah. Hal ini menujukan bahwa pemilih baik dari pemilih sudah lama atapun para pemilih pemula. Berikut adalah beberapa contoh perilaku pemilih dalam pelaksanaan pemilihan serentak di beberapa kabupaten di Indonesia.
a. Penggunaan media social
Media sosial dalam kontek penelitian ini adalah jejaring sosial yang dipakai dalam mengakses berita politik meliputi jenis media sosial dan akses berita dalam mencari informasi terkait berita dan perkembangan politik. Hal ini menunjukan bahwa media sosial belum dapat mempengaruhi ketertarikan pemilih pemula ataupun para pemilih yang sdah lama terhadap dunia politik, seperti hasil penelitian CSIS (2017) yang menyebutkan bahwa pengaruh generasi milenial dalam aspek politik dan ekonomi belum terlalu kuat, namun bila informasi di media sosial semakin dapat dipercaya, akan membentuk generasi yang lebih kuat. Media social salah satu media yang kadang membuat para pemilih acuh tak acuh terhadap partisifasi politik yang kadang pemberitaan yang ada di media social mencakup tentang kemenangan kanidat sebelum berlangsungnya pemilihan.
b. Kampanye Politik
Kampanye menurut (Venus., 2009) adalah serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu, kemudian membagi jenis kampanye ke dalam tiga kategori kampanye yakni productoriented campaigns, candidateoriented campaigns dan ideologically or cause oriented campaigns. Productoriented campaigns atau kampanye yang berorientasi pada produk umumnya terjadi di lingkungan bisnis. Istilah lain yang sering dipertukarkan dengan kampanye jenis ini adalah cammercial campaigns atau corporate campaign.
Selanjutnya candidateoriented campaigns atau kampanye yang berorientasi pada kandidat umumnya dimotivasi oleh hasrat untuk meraih kekuasaan politik. Karena
itu jenis kampanye ini dapat pula disebut sebagai political campaign atau kampanye politik yang tujuannya antara lain adalah untuk memenangkan dukungan masyarakat terhadap kandidatkandidat yang diajukan partai politik agar dapat menduduki jabatanjabatan politik yang diperebutkan lewat proses pemilihan umum.Terakhir ideologically or cause oriented campains adalah jenis kampanye yang berorientasi pada tujuantujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial.
c. Kampanye Politik di Era Pemasaran Politik
Semakin terbukanya proses pemilihan yg dilakukan pada sistem politik pada Indonesia, menurut (Tabroni, 2014), setidaknya Indonesia menghadapi 3 konsekuensi. Pertama adanya pergeseran politik pada ruangan ke politik luar ruangan. Dulu buat menentukan presiden, Gubernur, Walikota & Bupati relatif dilakukan pada ruang sempit yg dianggap gedung legislatif, sekarang hirup-pikuk itu berpindah ke daerah publik yg lebih terbuka karena melibatkan semua rakyat.
Kedua terbangunnya para pemilih menjadi penentu, Untuk meyakinkan publik menjadi penentu kemenangan. Para kandidat wajib membujuk mereka menggunakan aneka macam cara. Ketiga merubah corak interaksi antara parpol, politikus, anggota partai, & pemilih. Sejak Pemilu memakai bunyi terbanyak, goresan hanya terjadi antarpartai, namun jua menggunakan sesama kader satu partai. Begitu jua pada taraf akar rumput, rakyat hanya terkotak-kotak pada ruang partai & ideologi tertentu, namun lebih dalam titik-titik yg lebih sempit lantaran goresan itu sanggup terjadi dalam setiap calon anggota legislatif.
C. Implementasi pemilih pada pilkada kabupaten Bulukumba