• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Total Economic Value (TEV)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Kerangka Total Economic Value (TEV)

Kerangka nilai ekonomi yang sering digunakan dalam evaluasi ekonomi sumberdaya adalah konsep Total Economic Value (TEV) yang terdiri atas tiga tipe nilai, yaitu nilai pakai langsung (direct use value), nilai pakai tak langsung (indirect use value) dan nilai non pakai (non use value). Nilai pakai langsung diturunkan dari pemanfaatan langsung (interaksi) antara masyarakat dengan ekosistem. Nilai-nilai ini terdiri dari pemanfaatan konsumtif dan pemanfaatan non konsumtif. Nilai pakai tak langsung didefinisikan sebagai nilai fungsi ekosistem dalam mendukung dan melindungi aktifitas ekonomi atau sering disebut jasa ekosistem. Nilai pilihan (option value) terkait dengan nilai pakai (use value) yang merupakan pemanfaatan ekosistem dimasa datang. Nilai non pakai merupakan representasi dari individu yang tidak dalam posisi memanfaatkan ekosistem, tetapi memandang bahwa kelestarian ekosistem tetap perlu sebagai sebuah intrinsic value. Salah satu representasi dari nilai intrinsik adalah nilai keberadaan (existence value) (Adrianto 2006).

Sedangkan menurut Fauzi (2000) konsep penilaian ekonomi konvensional mendefiniskan nilai ekonomi sebagai nilai ekonomi total (net) yang merupakan penjumlahan dari nilai-nilai pemanfaatan (use values) dan nilai-nilai non- pemanfaatan (non-use values). Secara umum, memang sulit mengukur dengan pasti konsep use value dan non-use value di atas, sehingga penilaian ekonomi dengan menggunakan pendekatan di atas sering menjadi perdebatan menyangkut akurasi atau ketepatan dari pengukuran nilai ekonomi sumberdaya alam.

Salah satu kesulitan dalam mengukur nilai dari barang atau jasa yang dihasilkan sumberdaya alam adalah terdapat barang atau jasa dari sumberdaya alam yang tidak memiliki harga pasar dan tidak dapat diobservasi, sehingga nilai realnya tidak dapat diukur dengan baik. Menyikapi permasalahan tersebut, Krutila (1967) memperkenalkan konsep penilaian ekonomi total, yaitu sebuah usaha untuk memasukkan seluruh nilai dari kedua komponen nilai ekonomi sumberdaya alam, yaitu use value dan non-use value.

Dalam kerangka TEV individu bisa memegang use value dan non use value

jasa ekosistem perairan. Kerangka TEV terhadap jasa ekosistem perairan dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Kerangka total economic value jasa ekosistem perairan

Use Value Nonuse Value

Direct Indirect Existence dan Bequest Value

Perikanan tangkap dan rekreasi

Siklus nutrien Sumberdaya untuk generasi mendatang

Budidaya perikanan Pengendali banjir Keberadaan spesies karismatik Transportasi Fungsi habitat Keberadaan alam liar

Rekreasi Pendidikan

Estimasi nilai guna dan non guna sering dikaitkan dengan ketidakpastian. Ketidakpastian ini dapat mempengaruhi estimasi use value dan nonuse value dari perspektif ex ante. konsep ekonomi untuk TEV untuk penilaian ex ante dengan ketidakpastian, baik dari pasokan atau sisi permintaan, adalah option price (Uskup 1983; Freeman 1985; Larson dan Flacco 1992; Smith 1983; Weisbrod 1964 dalam

Fauzi 2000). Option price adalah jumlah uang yang akan membayar seorang individu atau harus dikompensasikan untuk kondisi status quo ekosistem dan kondisi, baru yang diusulkan. Option price dapat diperkirakan untuk menghilangkan ketidakpastian atau untuk hanya mengubah probabilitas; mengurangi kemungkinan suatu peristiwa yang tidak pasti atau meningkatkan kemungkinan kejadian yang diinginkan.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk memperkirakan atau mengukur manfaat dari ekosistem. Penilaian dapat dinyatakan dalam beberapa cara, termasuk uang, fisik unit atau indeks. Para ekonom telah mengembangkan sejumlah metode penilaian yang biasanya menggunakan unit moneter sementara para ekologis dan yang lainnya mengembangkan penilaian dengan unit non moneter seperti trade-off biofisik dan analisis kualitatif (Contanza et al. 2011). Sedangkan Turner (1993) dalam Fauzi (2000) yang mengklasifikasikan penilaian ke dalam dua kategori, yaitu nilai barang atau jasa melalui sebuah kurva permintaan dan tanpa melalui kurva permintaan.

Menurut Nunes (2001) dalam Adrianto (2004) menyebutkan ada dua kategori penilaian ekonomi yaitu: (1) mengeksplorasi data pasar yang ada dikaitkan dengan komoditas lingkungan, teknik penilaian dalam kategori ini adalah travel cost (TC) melalui pendekatan generalisasi biaya kunjungan (generalized travel cost), hedonic price (HP) menggunakan pendekatan hedonik untuk mengestimasi averting behavior (AB) menggunakan pendekatan generalisasi biaya pengeluaran untuk menilai jasa-jasa lingkungan termasuk biaya pencegahan kerusakan (avoided damage costs), biaya pengganti (replacement cost), biaya kompensasi (compensation cost) dan production function (PF) yang mengestimasi nilai ekonomi sebuah komoditas lingkungan melalui hubungan input-output produksi (2) state preferences method yang berdasarkan preferensi melalui teknik Contingent Valuation (CV).

Ada dua metode utama untuk memperkirakan nilai moneter nilai: expressed

atau state preference. Keduanya biasanya melibatkan penggunaan metode statistik yang canggih dalam menghasilkan nilai (Haab dan McConnell 2002).Sedangkan Metode Revealed preference melibatkan analisis pilihan individu secara nyata yang disimpulkan dari pilihan yang diamati. Contohnya termasuk penilaian berorientasi produksi yang terlihat pada perubahan nilai penggunaan langsung dari produk benar-benar diambil dari lingkungan (misalnya, ikan didapat dari laut). Metode ini mungkin juga berlaku untuk nilai penggunaan tidak langsung, misalnya manfaat hutan yang diberikan kepada produksi pertanian dengan mengendalikan erosi tanah. Metode revealed preference lain menyimpulkan nilai jasa ekosistem dari perubahan pasar perumahan. Misalnya, ekosistem hutan kota dan lahan basah dapat meningkatkan kualitas air dan yang mungkin bisa (sebagian) ditangkap dalam nilai properti (Phaneuf et al. 2008). Travel Cost Method digunakan untuk nilai rekreasi jasa ekosistem berbasis sumber daya, uang, dan waktu yang dihabiskan pengunjung mengunjungi tempat rekreasi rekreasi.

Menurut Garrod dan Willis (1999) Revealed preference adalah teknik valuasi yang mengandalkan harga implisit dimana willingness to pay (WTP) terungkap melalui model yang dikembangkan. Beberapa teknik valuasi yang termasuk dalam revealed preference ini adalah : (i) travel cost method yang diperkenalkan oleh Hotelling (1941) yang selanjutnya dikembangkan oleh Wood dan Trice (1958); dan (ii) hedonic price method yang didasarkan pada teori atribut yang dikembangkan oleh Lancaster (1966) dalam (Fauzi 2000).

Stated preference bergantung pada respon individu untuk skenario hipotetis yang melibatkan jasa ekosistem dan termasuk contingent valuation and structured choice Experiments. Contingent valuation menggunakan metodologi survey terstuktur yang meminta responden untuk menilai perbaikan ekosistem (misalnya, kualitas udara lebih baik) dan jasa ekosistem yang akan dihasilkan (misalnya, peningkatan stok salmo) (Boardman 2006). Choice experiments menyajikan responden dengan skenario yang mewujudkan kombinasi dari jasa ekosistem dan biaya moneter dan meminta skenario yang paling disukai untuk menyimpulkan nilai-nilai jasa ekosistem.

Menurut Garrod dan Willis (1999), expressed atau state preference adalah teknik penilaian yang didasarkan pada survai dimana keinginan membayar atau WTP diperoleh langsung dari responden, yang langsung diungkapkan secara lisan maupun tertulis. Salah satu teknik yang cukup popular dalam kelompok ini adalah

Contingent Valuation Method (CVM) atau Metode Valuasi Kontingensi. CVM adalah motede teknik survey untuk menanyakan tentang nilai atau harga yang diberikan terhadap komoditas yang tidak memiliki nilai pasar (non-market). Dari uraian kedua teknik penilaian ekonomi sumberdaya yang tidak dapat dipasarkan (non-market valuation) tersebut di atas, terdapat perbedaan paling mendasar antara keduanya. Revealed preference bekerja secara tidak langsung dalam pengukuran nilai ekonomi yang tidak dipasarkan. Adapun expressed/state preference merupakan teknik pengukuran langsung. Untuk kategori kedua, yaitu teknik penilaian tanpa melalui kurva permintaan, salah satu teknik yang terkenal adalah effect on production (EOP) atau pendekatan opportunity cost. Teknik ini menguji efek produktivitas sumberdaya terhadap intervensi atau campur tangan manusia. Dengan demikian, teknik ini memandang kualitas sumberdaya alam sebagai salah satu faktor produksi, sehingga perubahan kualitas lingkungan akan mempengaruhi produktivitas sumberdaya dan biaya produksi yang pada akhirnya turut menentukan perubahan harga dan produk. Sebagai contoh, polusi yang dilepaskan ke sungai akan mempengaruhi kualitas lingkungan sungai tersebut menjadi buruk, sehingga akan menurunkan produksi perikanan (Turner et al. 1993

dalam Fauzi 2000).

Pendekatan EOP dalam penggunaannya dapat mengukur nilai pemanfaatan langsung (direct use value). Banyak aplikasi dari teknik ini telah digunakan dalam studi atau kajian sumberdaya pesisir di negara berkembang. Ruitenbeek (1991) diacu dalam Fauzi (2000) telah menggunakan pendekatan ini untuk menduga nilai mangrove dan hubungannya dengan perikanan di Irian Jaya (Papua), Indonesia.

Menurut Fauzi (2000), metode lainnya yang termasuk dalam pendekatan

non-marked based adalah preventinve expenditure dan replacement cost.

Preventinve expenditure menempatkan nilai sumberdaya alam dan lingkungan dari seseorang atau individu yang memiliki keinginan membayar untuk mencegah

degradasi lingkungan atau untuk mengurangi pengaruh buruk terhadap sumberdaya alam dan lingkungan.

Adapun dalam teknik replacement cost, nilai sumberdaya alam didekati dari biaya atau pengeluaran untuk restorasi sumberdaya alam. Sebagai contoh, berkurangnya produktivitas sumberdaya perikanan dapat ditunjukkan dari hilangnya hutan mangrove, sehingga dalam teknik ini, biaya yang dibutuhkan untuk menanam kembali hutan mangrove yang hilang dapat dikonversikan sebagai sebuah pendugaan minimum dari manfaat yang dihasilkan sumberdaya (Fauzi 2000).

Travel Cost Method (TCM) dapat dikatakan sebagai metode yang tertua untuk pengukuran nilai ekonomi tidak langsung terhadap sumberdaya alam. Metode ini kebanyakan digunakan untuk menganalisis permintaaan terhadap rekreasi di alam terbuka, seperti memancing, berburu dan hiking (Fauzi 2010). Secara prinsip, metode ini mengkaji biaya yang dikeluarkan setiap individu untuk mendatangi tempat rekreasi, misalnya untuk menyalurkan hobi memancing atau berekreasi di pantai, seseorang akan mengorbankan biaya dalam bentuk waktu dan uang untuk mendatangi tempat tersebut. Dengan mengetahui pola ekspenditure

dari konsumen ini, maka akan dapat dikaji barapa nilai (value) yang diberikan konsumen kepada sumberdaya alam dan lingkungan.

Dengan demikian, menurut Fauzi (2010) metode ini dapat digunakan untuk mengukur manfaat dan biaya akibat dari : (i) perubahan biaya akses (tiket masuk) bagi suatu tempat rekreasi; (ii) penambahan tempat rekreasi baru; (iii) perubahan kualitas lingkungan tempat rekreasi; dan (iv) penutupan tempat rekreasi yang ada. Tujuan dasar TCM adalah ingin mengatahui nilai kegunaan dari sumberdaya alam melalui pendekatan proxy. Dengan kata lain, biaya yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi jasa dari sumberdaya alam digunakan sebagai proxy untuk menentukan harga dari sumberdaya alam tersebut.

Asumsi mendasar yang digunakan pada pendekatan TCM adalah bahwa utilitas dari setiap konsumen terhadap aktivitas, misalnya bersifat dapat dipisahkan (separable). Artinya, fungsi permintaan dari kegiatan-kegiatan yang berlangsung di lokasi yang menjadi obyek penelitian tidak dipengaruhi (independent) oleh permintaan kegiatan rileks lainnya, seperti menonton televisi, dan belanja atau shopping (Fauzi 2010).

Secara umum ada dua teknik sederhana yang digunakan untuk menentukan nilai ekonomi berdasarkan TCM, yaitu : (i) pendekatan sederhana melalui zonasi; dan (ii) pendekatan individual. Pendekatan TCM melalui zonasi adalah pendekatan yang relatif simpel dan murah karena data yang diperlukan relatif lebih banyak mengandalkan data sekunder dan beberapa data sederhana dari responden pada saat survai. Dalam teknik ini, tempat rekreasi pantai dibagi dalam beberapa zona kunjungan dan diperlukan data jumlah pengunjung per tahun untuk memperoleh data kunjungan per seribu penduduk. Dengan memperoleh data ini dan data jarak, waktu perjalanan, serta biaya setiap perjalanan per satuan jarak (per km), maka akan diperoleh biaya perjalanan secara keseluruhan dan kurva permintaan untuk kunjungan ke tempat wisata (Fauzi 2010).

TCM berdasarkan pendekatan individual menggunakan data yang sebagian besarnya berasal dari kegiatan survai di lapangan. Metodologi pendekatan individual TCM secara prinsip sama dengan sistem zonasi, namun pada pendekatan ini analisis lebih didasarkan pada data primer yang diperoleh melalui

survey dan teknik statistika yang relatif kompleks. Kelebihan dari metode TCM dengan pendekatan individu adalah hasil yang diperoleh relatif akurat daripada metode zonasi (Fauzi 2010).

Beberapa asumsi dasar yang harus dibangun agar penilaian terhadap sumberdaya alam tidak bias melalui TCM sebagaimana dikemukakan oleh Haab dan McConnel (2002) diacu dalam Fauzi (2010), antara lain : (i) biaya perjalanan dan biaya waktu digunakan sebagai proxy atas harga rekreasi; (ii) waktu perjalanan bersifat netral, artinya tidak menghasilkan utilitas maupun disutilitas; dan (iv) biaya perjalanan merupakan perjalanan tunggal (bukan multiple travel). Selain itu, menurut Fauzi (2010), TCM harus dibangun berdasarkan asumsi bahwa setiap individu hanya memiliki satu tujuan untuk mengunjungi tempat wisata yang dituju sehingga tidak menganalisis aspek kunjungan ganda (multipurpose visit). Selanjutnya, para pengunjung atau individu juga harus dibedakan tempat mereka berasal untuk memilah pengunjung yang datang dari wilayah setempat (penduduk di sekitar lokasi wisata).

Tantangan utama dalam penilaian adalah informasi tidak sempurna. Bagi individu misalnya, tempat tidak memiliki nilai pada jasa ekosistem jika mereka tidak tahu peran peranan jasa bagi kehidupan mereka (Norton 1998) Berikut adalah analogi. Jika pohon jatuh di hutan dan tidak ada satu sekitar mendengarnya, apakah itu masih membuat suara? Jawabannya ini pertanyaan lama jelas tergantung pada bagaimana seseorang mendefinisikan "suara". Jika "suara" didefinisikan sebagai persepsi gelombang suara oleh orang-orang, maka jawabannya adalah tidak. Jika "Suara" didefinisikan sebagai pola energi fisik dalam udara, maka jawabannya adalah ya. Dalam kasus kedua, expressed atau

state preference menyatakan tidak akan mencerminkan manfaat sebenarnya dari jasa ekosistem. Kunci lainnya tantangan secara akurat mengukur fungsi sistem untuk benar menghitung jumlah jasa yang diberikan berasal dari bahwa sistem (Barbier et al. 2008; Koch 2009).

Dokumen terkait