• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

3.3. Kerja Otot Statis dan Dinamis

Otot adalah organ yang terpenting dalam system gerak tubuh. Otot dapat bekerja secara statis dan dinamis. Pada otot dinamis kontraksi dan relaksasi terjadi silih berganti sedangkan pada kerja otot statis, otot menetap dan kontraksi untuk suatu periode tertentu.

Pada kerja otot statis, pembuluh darah tertekan oleh pertambahan tekanan dalam otot akibat kontraksi sehingga mengakibatkan peredaran darah dalam otot terganggu. Otot yang bekerja statis tidak memperoleh oksigen dan glukosa dari darah dan harus menggunakan cadangan yang ada. Selain itu sisa metabolisme tidak dapat diangkut keluar akibat peredaran darah yang terganggu sehingga sisa metabolisme tersebut menumpuk dan menimbulkan rasa nyeri.

Pada kerja otot dinamis berlangsung otot akan bekerja secara bergantian sesuai dengan irama tegang/kencang, teakan dan kendor seperti layaknya sebuah “pompa” yang membawa dampak pada kelancaran aliran darah. Otot akan banyak sekali menerima atau membawa glukosa dan oksigen saat mengencang dan selanjutnya membuang metabolit (sisa hasil pembakaran atau metabolisme) pada saat mengendur. Karena mekanisme mengencang dan mengendur secara bergantianmaka sirkulasi aliran darah ditambah oksigen dan metabolit akan berjalan dengan lancar.

3.4. Muskuloskeletal

Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada sistem otot (muskuloskeletal) seperti tendon, pembuluh darah, sendi, tulang, syaraf dan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas kerja. Keluhan muskuloskeletal sering juga dinamakan MSD (Musculoskeletal Disorder), RSI (Repetitive Strain Injuries), CTD (Cumulative Trauma Disorders) dan RMI (Repetitive Motion Injury).

Keluhan MSD yang sering timbul pada pekerja industri adalah nyeri punggung, nyeri leher, nyeri pada pergelangan tangan, siku dan kaki. Ada 4 faktor yang dapat meningkatkan timbulnya MSD yaitu posture yang tidak alamiah, tenaga yang berlebihan, pengulangan berkali-kali, dan lamanya waktu kerja (OHSCOs, 2007). Level MSD dari yang paling ringan hingga yang berat akan menggangu konsentrasi dalam bekerja, menimbulkan kelelahan dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas. Untuk itu diperlukan suatu upaya pencegahan dan minimalisasi timbulnya MSD di lingkungan kerja. Pencegahan terhdap MSD akan memperoleh manfaat berupa, penghematan biaya, meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja serta meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dna kepuasan kerja karyawan (OHSCOs, 2007).

OHSCOs (2007) memberikan panduan tahapan untuk melakukan program pencegahan MSD di lingkungan kerjayang meliputi:

a. Membangun pondasi menuju sukses.

b. Untuk melakukan program pencegahan MSD diperlukan penetapan komitmen oleh manajemen, menentukan tujuan pelaksanaan, sasaran dan ruang lingkup pelaksanaan, membuat aturan dan tanggung jawab pada seluruh lapisan karyawan, membentuk komite pelaksana dan bergabung dengan organisasi kesehatan dan keselamatan kerja.

c. Mengidentifikasi faktor -faktor yang menimbulkan MSD dan faktor lainnya yang terkait.

d. Proses identifikasi dilakukan dengan menanyakan kepada pekerja gangaguan MSD yang dialami, menanyakan jenis tugas yang sulit dan menyebabkan ketidaknyamanan, mengevaluasi catatan kecelakaan kerja yang pernah terjadi, mengamati jenis pekerjaan yang membutuhkan waktu yang lama, pengulangan, tenaga dan postur kerja serta menggunakan instrument- instrumen pencegahan MSD.

e. Lakukan evaluasi faktor-faktor yang menyebabkan MSD.

f. Evaluasi faktor-faktor yang telah ditemukan dengan melibatkan pekerja untuk mencari akar masalahnya dan buat kesepakatan untuk melakukan tindakan perbaikan.

g. Memilih dan melaksanakan program perbaikan untuk pencegahan MSD. h. Lakukan perubahan metode kerja, menata ulang peralatan dan area kerja untuk

mengurangi resiko MSD, Libatkan karyawan untuk memberikan ide-ide agar system kerja menajdi lebih baik dan gunakan ide yang dianggap baik, hati hati memilih solusi yang pertama kali karena solusi tersebut disebut desain yang ergonomis.

i. Evaluasi kesuksesan penerapannya dan lakukan peningkatan secara berkelanjutan.

j. Tanyakan kepada pekerja apakah perubahan yang dilakukan memberikan dampak yang lebih baik dan memberika rasa nayaman dalam bekerja. Tingkatkan dan ulangi penerapan setelah 3 -6 bulan.

l. Umumkan hasil yang telah dicapai dan usaha-usaha yang telah dilakukan dalam pencegahan MSD kepada seluruh pekerja dan semua departemen.

3.5. Kelelahan

Pada dasarnya kelelahan menggambarkan tiga fenomena yaitu perasaan lelah, perubahan fisiologis tubuh dan pengurangan kemampuan melakukan kerja (Barnes, 1980). Kelelahan merupakan suatu pertanda yang bersifat sebagai pengaman yang memberitahukan tubuh bahwa kerja yang dilakukan telah melewati batas maksimal kemampuannya. Kelelahan pada dasarnya merupakan suatu keadaan yang mudah dipulihkan dengan beristirahat. Tetapi jika dilakukan terus menrus akan berakibatkan buruk dan dapat mengakibatkan penyakit akibat kerja.

Kelelahan otot merupakan suatu penurunan kapasitas otot dalam bekerja akibat kontraksi tulang. Kontraksi otot yang berlangsung lama mengakibatkan keadaan yang dikenal dengan kelelahan otot (Guyton, 1981). Otot yang lelah akan menunjukkan kurangnya kekuatan, bertambahnya waktu kontraksi adan relaksasi berkurangnya koordinasi serta otot menjadi gemetar (Suma’mur, 1990).

Faktor yang berhubungan dengan pekerjaan termasuk didalamnya jam kerja yang lama, penggunaan kerja fisik dan mental yang lama, pengurangan jam istirahat, tidak cukupnya waktu istirahat, peningkatan tekanan kerja dan

kombinasi beberapa faktor di atas. Ada beberapa faktor umum penyebab kelelahan kerja :

a. Penyebab medis : flu, anemia, gangguan tidur, hepatitis, TBC, dan penyakit kronis lainnya.

b. Penyebab yang berkaitan dengan gaya hidup : kurang tidur, terlalu banyak tidur, alkohol dan minuman keras, diet yang buruk, kurangnya olahraga, gizi, daya tahan tubuh.

c. Penyebab yang berkaitan dengan tempat kerja : kerja shift, pelatihan tempat kerja yang buruk, stress di tempat kerja, pengangguran, suhu ruang kerja, penyinaran, kebisingan, monotoni pekerjaan dan kebosanan, beban kerja. d. Faktor psikologis : depresi, kecemasan dan stres.

Kelelahan tubuh yang merupakan akibat dari perpanjangan kerja adalah konsekuensi kehabisan persediaan energi tubuh. Kelelahan ini akibat dari kebanyakan tugas atau pekerjaan. Kelelahan dalam bekerja dapat disebabkan oleh: 1. Kelelahan karena ketegangan otot.

2. Kelelahan karena ketegangan pada semua organ berupa kelelahan fisik umum.

3. Kelelahan karena pembebanan kerja mental.

4. Kelelahan karena penggunaan salah satu fungsi psikomotor (kelelahan saraf).

5. Kelelahan karena kerja monoton atau karena lingkungan kerja yang tidak kondusif.

6. Kelelahan karena aneka faktor lingkungan secara menetap seperti bising, suhu panas dan dingin.

Dokumen terkait