• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerja Sama Siswa Kelas III SD N Kepek

99

melakukan sebuah tindakan untuk meningkatkan kerja sama siswa, salah satunya dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) dalam pembelajaran.

Skala kerja sama siswa telah melalui uji validitas dan reliabilitas.Terdapat 40 butir pernyataan yang diuji validitas dan reliabilitas, hasilnyaterdapat 21 butir pernyataan yang valid dan reliabel. Setiap butir pernyataan yang valid dan reliabel di skala kerja sama siswa mewakili delapan sub indikator kerja sama yaitu sebagai berikut.

a. Sub indikator saling membantu sesama teman dalam kelompok (butir 1, 2 dan 3).

b. Sub indikator memiliki kepercayaan terhadap teman dalam kelompok (butir 4 dan 5).

c. Sub indikator terjalin hubungan yang harmonis sesama teman dalam kelompok (butir 6 dan 7).

d. Sub indikator terdapat pertukaran informasi sesama teman dalam kelompok (butir 8 dan 9).

e. Sub indikator aktif berperan serta dalam kelompok (butir 10, 11, 12, dan 13)

f. Sub indikator menyelesaikan setiap tugas dari kelompok dengan sungguh-sungguh (butir 14, 15 dan 16).

g. Sub indikator membuka diri untuk bergaul dalam kelompok (butir 17, 18, dan 19).

100

h. Sub indikator menerima perbedaan teman (suku, ras, gender, dan agama) dalam kelompok (butir 20 dan 21).

Berdasarkan data rekapitulasi kerja sama siswa kelas III pada pra tindakan, juga dapat diketahui tentang nilai kerja sama siswa kelas III SD N Kepek pada setiap sub indikator kerja samanya. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 9. Nilai setiap Sub Indikator Kerja Sama Siswa Kelas III SD N Kepek pada Pra Tindakan

No Sub Indikator Nilai

Kate-gori Butir Butir Butir Butir

Rata-rata 1. Saling membantu sesama

teman dalam kelompok

59 63 85 - 69

Cu-kup 2. Memiliki kepercayaan

terhadap teman dalam kelompok

37 50 - - 43,5

Ku-rang 3. Terjalin hubungan yang

harmonis sesama teman dalam kelompok

60 61 - - 60,5

Cu-kup 4. Terdapat pertukaran

informasi sesama teman dalam kelompok

56 51 - - 53,5

Ku-rang 5. Aktif berperan serta

dalam kelompok

53 59 48 78 59,5

Cu-kup 6. Menyelesaikan setiap

tugas dari kelompok dengan sungguh-sungguh

83 66 80 - 76,33 Baik

7. Membuka diri untuk bergaul dalam kelompok

63 62 87 - 70,67 Baik

8. Menerima perbedaan teman (suku, ras, gender, dan agama) dalam kelompok

68 76 - - 72 Baik

Berdasarkan tabel nilai setiap sub indikator kerja sama siswa kelas III SD N Kepek pada pra tindakan, dapat diketahui bahwa nilai kerja sama siswa kelas III SD N Kepek pada setiap sub indikatornya berbeda-beda.

101

Siswa kelas III SD N Kepek mendapat nilai kurang pada sub indikator memiliki kepercayaan terhadap teman dalam kelompok 43,5 (kurang) dan sub indikator terdapat pertukaran informasi sesama teman dalam kelompok 53,5 (kurang). Nilai cukup pada sub indikator saling membantu sesama teman dalam kelompok 69,67 (cukup), sub indikator terjalin hubungan yang harmonis sesama teman dalam kelompok 61 (cukup), dan sub indikator aktif berperan serta dalam kelompok 61,5 (cukup).Nilai baik pada sub indikator menyelesaikan setiap tugas dari kelompok dengan sungguh-sungguh 77,67 (baik), sub indikator membuka diri untuk bergaul dalam kelompok 72,67 (baik), dan sub indikator menerima perbedaan teman (suku, ras, gender, dan agama) dalam kelompok 76,5 (baik).

Dari keseluruhan nilai tersebut menunjukkan kerja sama siswa kelas III SD N Kepek berada pada kategori cukup. Adapun sub indikator yang mendapatkan nilai kurang yaitu sub indikator memiliki kepercayaan terhadap teman dalam kelompok dan sub indikator terdapat pertukaran informasi sesama teman dalam kelompok. Kedua sub indikator tersebut perlu mendapat perhatian lebih ketika guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Cirlce (IOC) untuk meningkatkan kerja sama siswa.

2. Siklus 1

Penelitian pada siklus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan, masing-masing dilaksanakan pada 24 dan 26 Januari 2017. Pertemuan

102

pertama dilaksanakan pada hari Selasa 24 Januari 2017, dilaksanakan di dua jam pelajaran dengan masing-masing jam pelajaran 35 menit sehingga pertemuan pertama dilaksanakan selama 70 menit. Namun demikian, pada pelaksanaannya, pertemuan pertama dan kedua berlangsung melebihi waktu yang seharusnya. Pertemuan pertama berlangsung selama 85 menit di mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan 08. 25 WIB dan pertemuan kedua berlangsung selama 80 menit di mulai pukul 07.15 sampai dengan 08.35 WIB. Hasil penelitian pada siklus I dapat dideskripsikan sebagai berikut.

a. Perencanaan

Dalam perencanaan tindakan ini guru sebagai pelaksana tindakan dan peneliti sebagai pengamat. Hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam rencana tindakan adalah sebagai berikut.

1) Peneliti dan guru menentukan tempat pelaksanaan pembelajaran yaitu ruang kelas, ruang perpustakaan dan halaman perpustakaan. 2) Peneliti dan guru merencanakan pembelajaran yang akan

diterapkan dalam kegiatan belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) untuk meningkatkan kerja sama siswa kelas III SD N Kepek.

Pada Kamis 19 Januari 2017 dan Jum‟at 20 Januari 2017,

peneliti dan guru merencanakan pembelajaran secara umum yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar dengan menggunakan

103

model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) untuk meningkatkan kerja sama siswa kelas III SD N Kepek. Pada kesempatan tersebut peneliti juga memberi pemahaman tentang gambaran umum model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) menurut Miftahul (2015: 247). Peneliti memperjelas gambaran tersebut dengan memutarkan beberapa video tentang model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC).

3) Peneliti dan guru menentukan pokok bahasan dalam pembelajaran.

Pada Jum‟at, 19 Januari 2017 peneliti dan guru

menentukan pokok bahasan untuk pertemuan pertama tentang tema peristiwa di mata pelajaran Matematika yang tertuang pada standar kompetensi 3. Memahami pecahan sederhana dan penggunaannya dalam pemecahan masalah dengan kompetensi dasar 3.1 Mengenal pecahan sederhana. Pada pokok bahasan tersebut memuat materi pembelajaran berupa mengenal pecahan sederhana (1/2, 1/3, 1/4, 1/5, dan 1/6) dan menuliskan nilai pecahannya.

Pada Selasa 24 Januari 2017, peneliti dan guru menentukan pokok bahasan untuk pertemuan kedua dengan tema peristiwa di mata pelajaran IPS tertuang pada standar kompetensi 2. Memahami jenis pekerjaan dan penggunaan uang dengan

104

kompetensi dasar 2.2 Mengenal jenis-jenis pekerjaan. Pada pokok bahasan tersebut memuat materi pembelajaran berupa jenis-jenis pekerjaan dan hasil dari setiap pekerjaan (barang/jasa).

4) Peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan mempersiapkan perangkat pembelajaran yang dibutuhkan.

Rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun berisi tentang pokok bahasan yang telah didiskusikan sebelumnya bersama guru dan disusun sesuai dengan tahapan model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) menurut Huda (2015: 247).

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tersebut berguna sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Kemudian juga dipersiapkan perangkat pembelajaran pada pertemuan pertama yaitu benda-benda yang dibutuhkan guru untuk apersepsi (apel, tahu, dan kue) dan pada pertemua kedua yaitu video pembelajaran tentang jenis-jenis pekerjaan. Perangkat pembelajaran ini disesuaikan dengan materi pada mata pelajaran di setiap pertemuan yang akan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC).

105

5) Peneliti melakukan konsultasi rencana pelaksanaan pembelajaran kepada guru.

Pada Jumat 20 Januari 2017, peneliti melakukan konsultasi rencana pelaksanaan pembelajaran kepada guru yang akan dilaksanakan pada pertemuan pertama dan menghasilkan kesepakatan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah tersusun. Pada Senin 25 Januari 2017, peneliti juga melakukan konsultasi rencana pelaksanaan pembelajaran kepada guru yang akan dilaksanakan pada pertemuan kedua.

6) Peneliti menyiapkan pedoman observasi penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) untuk guru dan lembar observasi kerja sama siswa saat pembelajaran.

Pedoman observasi disusun sebagai salah satu instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini. Pedoman observasi digunakan untuk mengetahui kegiatan guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) dan kerja sama siswa III SD N Kepek Pengasih selama pembelajaran dengan menyusun rubrik penilaian kerja sama siswa yang secara rinci mengacu pada kisi-kisi observasi penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe

106

7) Peneliti melakukan konsultasi kepada dosen pembimbing untuk penyusunan rubrik penilaian kerja sama siswa yang akan digunakan sebagai pedoman penilaian observasi kerja sama siswa selama pembelajaran.

Rubrik penilaian kerja sama siswa merupakan pedoman untuk menilai kerja sama siswa selama pembelajaran berlangsung melalui pengamatan. Rubrik penilaian kerja sama ini menggunakan format pengamatan yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran sejak dari kegiatan awal sampai dengan kegiatan akhir. Terdapat lima tingkatan dalam penilaian berupa sangat kurang (skor 1), kurang (skor 2), cukup (skor 3), baik (skor 4), dan sangat baik (skor 5) dengan kriteria yang telah ditentukan.

8) Peneliti menyiapkan skala kerja sama siswa.

Kerja sama dalam penelitian ini diukur menggunakan instrumen dalam bentuk skala kerja sama dengan mengacu pada kisi-kisi skala kerja sama. Sebelumnya dilakukan uji instrumen skala kerja sama siswa pada Selasa, 17 Januari 2017 di SD N Gebangan yang merupakan sekolah dasar satu gugus dengan SD N Kepek. Setelah itu, hasilnya di uji validitas dan reliabilitas yang menghasilkan 21 butir valid dan reliabel dari 40 butir yang selanjutnya akan digunakan sebagai skala kerja sama siswa selama penelitian.

107 9) Pembentukan kelompok.

Pada setiap tindakannya, jumlah kelompok yang dibentuk berbeda-beda. Pembentukan kelompok ini dilakukan bersama guru. Pembentukan kelompok berdasarkan keragaman tingkat pengetahuan siswa, jenis kelamin, dan pokok bahasan. Pada pertemuan pertama, siswa kelas III SD N Kepek di bagi menjadi dua kelompok besar sesuai dengan presensi. Presensi 1-13 menjadi kelompok A (lingkaran kecil/dalam) dan presensi 14-25 menjadi kelompok B (lingkaran besar/luar).

Kemudian siswa dibagi lagi ke dalam dua pengelompokkan baru. Pengelompokkan pertama siswa dibagi menjadi enam kelompok dan pengelompokkan kedua siswa dibagi menjadi enam kelompok lagi dengan syarat setiap kelompok terdiri dari siswa laki-laki dan perempuan. Pada pertemuan kedua, siswa kelas III SD N Kepek di bagi menjadi dua kelompok besar sesuai dengan presensi. Presensi 1-13 menjadi kelompok A (lingkaran kecil/dalam) dan presensi 14-25 menjadi kelompok B (lingkaran besar/luar).

10)Peneliti melakukan latihan bersama guru tentang implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC).

Sebelum latihan, pada Kamis 19 Januari 2017 peneliti memberikan gambaran umum kepada guru mengenai definisi,

108

sintaks, dan tujuan model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC). Kemudian juga diputarkan beberapa video tentang model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle

(IOC). Simulasi model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) dilakukan sebanyak satu kali pada hari Sabtu 21 Januari 2017.

b. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan

Penelitian pada siklus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan pada Selasa 24 Januari 2017 dan Kamis 26 Januari 2017 dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle

(IOC).

1) Pertemuan pertama

Pertemuan pertama dilaksanakan pada Selasa, 24 Januari 2017 pada jam mata pelajaran pertama dan keduadi kelas III SD N Kepek dengan jumlah siswa sebanyak 25 siswa. Peneliti bertindak sebagai pengamat yang dibantu oleh dua teman pengamatdan yang bertindak sebagai pengajar adalah guru kelas III SD N Kepek. Proses pembelajaran mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dipersiapkan.Tema peristiwa disampaikan pada pertemuanpada mata pelajaran matematika dengan standar kompetensi 3. Memahami pecahan sederhana dan penggunaannya dalam pemecahan masalah dan kompetensi dasar 3.1 Mengenal

109

pecahan sederhana. Pokok bahasan pembelajaran berupa materi pecahan sederhana (1/2, 1/3, ¼, 1/5, dan 1/6) dan nilai pecahannya. Pengamatan (observasi) dilaksanaan bersamaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran.

Di kegiatan awal, guru memulai pelajaran dengan mengucapkan salam, mengingatkan siswa untuk berdoa bersama dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh seorang siswa sebagai dirigen. Guru melakukan apersepsi dengan memberikan pertanyaan kepada siswa sebagai berikut.

“Siapa yang mempunyai adik di rumah? Pernahkah berbagi makan dengan adik?” (guru berusaha mengantarkan materi melalui cerita tersebut).

Guru menggunakan benda konkret yaitu apel, kue apem, dan tahu untuk memeragakan pembagian kepada siswa. Guru bercerita tentang pengalamannya berbagi apel untuk kedua anaknya sehingga apel yang guru bawa dibagi menjadi dua bagian yang sama besar. Guru kemudian memberikan pertanyaan lanjutan kepada siswa sebagai berikut.

“Anak-anak, sudahkah apel ini terbagi menjadi dua bagian yang sama besar? Kira-kira kue apem ini berbentuk seperti apa

110

Guru kemudian menggambarkan lingkaran di papan tulis yang berbentuk menyerupai apel dan membaginya menjadi dua bagian yang sama besar. Guru bercerita bahwa setiap orang mendapatkan ½ bagian dari apel tersebut, maka guru mengarsir satu bagian dari dua bagian lingkaran tersebut dan menuliskan nilai pecahannya di bawah gambar. Guru melakukan hal yang sama pada tahu dan kue apem yang dibawa dan menunjukkan beberapa nilai pecahannya.

Siswa pun diberi kesempatan untuk maju dan menunjukkan pecahan ½, 1/3, ¼, 1/5 dan 1/6 dengan membagi kue apem dan tahu menjadi beberapa bagian. Namun, tidak ada siswa yang berinisiatif maju sehingga guru perlu menunjuk siswa untuk menunjukkan nilai pecahan yang ada di papan. Siswa yang ditunjuk maju dan menggambarkan gambar persegi panjang menyerupai kue apem dan membaginya menjadi empat bagian serta mengarsir gambar untuk menunjukkan nilai pecahan ½ dan 1/4. Nilai pecahan kemudian ditulis di bawah gambar. Begitu seterusnya sampai siswa mengetahui pecahan ½, 1/3, ¼, 1/5 dan 1/6 secara berurutan. Guru juga menjelaskan materi pembelajaran hari itu dan tujuan mempelajarinya.

Dalam proses pembelajaran selanjutnya, guru mengajak siswa untuk melakukan permainan di luar kelas yaitu di halaman

111

perpustakaan. Siswa terlihat antusias dengan ajakan guru dan mengikuti guru menuju halaman perpustakaan. Kemudian guru menceritakan bahwa pembelajaran kali ini siswa akan membentuk lingkaran. Siswa terlihat antusias dan menanyakan apa yang akan siswa dan guru lakukan. Siswa saling bertanya dengan teman sebelahnya tentang kegiatan yang akan mereka lakukan. Pembagian kelompok ini adalah tahapan pertama model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) yang guru sedang gunakan.

Siswa dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan daftar presensi. Jumlah siswa kelas III adalah 25 siswa, sehingga nomor urut 1 sampai 13 menjadi kelompok A (lingkaran kecil atau dalam) dan nomor urut 14 sampai 25 menjadi kelompok B (lingkaran besar atau luar). Kelompok A akan berdiri membentuk lingkaran dan menghadap ke luar sedangkan kelompok B berdiri membentuk lingkaran dan menghadap ke dalam. Siswa sangat antusias setelah mendapatkan informasi dari guru. Pada saat pembagian kelompok, guru mengalami kesulitan mengondisikan siswa untuk membentuk lingkaran kecil (dalam) dan lingkaran besar (luar).

Beberapa siswa tidak memperhatikan instruksi guru karena suara guru kalah dengan suara siswa lainnya yang asik bergurau. Dalam pembagian kelompok ini guru memerlukan waktu yang

112

cukup lama hingga semua siswa berdiri di posisinya. Tidak semua siswa mudah untuk diajak bekerja sama dengan membentuk lingkaran. Beberapa siswa laki-laki menunjukkan inisiatifnya untuk membantu guru dalam mengatur siswa-siswa lain agar berdiri di lingkaran sesuai urutan presensinya.

Pada saat pembentukan lingkaran, dapat diamati bahwa siswa perempuan cenderung berkelompok dengan siswa perempuan dan siswa laki-laki cenderung berkelompok dengan siswa laki-laki. Ketika siswa perempuan berdekatan dengan siswa laki-laki, keduanya menunjukkan ketidaknyamanannya, baik karena malu, tidak terbiasa berdekatan dengan lawan jenis maupun karena tidak suka dengan teman tersebut. Guru kemudian meminta siswa bergandengan tangan untuk merapikan barisan. Guru memulai membentuk lingkaran kecil (dalam) terlebih dahulu. Siswa yang berdekatan dengan lawan jenisnya menolak untuk bergandengan tangan hingga guru perlu waktu yang lama untuk membuat semua siswa bergandengan tangan dan barisan lingkaran menjadi rapi. Setelah lingkaran kecil (dalam) terbentuk, guru melanjutkan membentuk lingkaran besarnya (luar).

Guru menjelaskan kepada siswa bahwa siswa akan melakukan perputaran di lingkaran tersebut diiringi sebuah lagu.

113

guru berseru “STOP” maka perputaran juga berhenti dan siswa

menjadi berpasangan (siswa lingkaran dalam dengan siswa lingkaran luar).

Selama guru menjelaskan hal tersebut, beberapa siswa masih asik berbicara dengan temannya sehingga tidak memperhatikan apa yang guru sampaikan. Setelah guru menyampaikan penjelasannya, perputaran pertama dimulai. Siswa melakukan putaran sambil bernyanyi dan tepuk, kemudian guru

berseru “STOP” yang menandakan putaran harus berhenti.

Guru memberikan instruksi kepada siswa untuk membentuk kelompok, satu kelompok terdiri dari empat orang anggota. Siswa pun terkejut dan berhamburan membentuk kelompok. Dapat diamati bahwa siswa hanya memilih anggota kelompok yang mereka sukai. Siswa perempuan bergerombol dengan siswa perempuan dan siswa laki-laki bergerombol dengan siswa laki-laki. Namun demikian, terdapat siswa yang tidak diminati untuk dijadikan anggota kelompok oleh siswa lain. Ada satu kelompok yang hanya beranggotakan tiga orang karena jumlah siswa seluruhnya ada 25 siswa.

Setelah semua siswa mendapatkan kelompok, guru meminta siswa untuk kembali ke posisi lingkaran seperti di awal. Semua siswa kembali ke posisinya masing-masing. Siswa

114

kemudian melakukan perputaran kembali sambil bernyanyi dan ketika guru berseru “STOP” maka perputaran juga berhenti. Guru menginstruksikan siswa untuk membentuk kelompok dengan syarat dalam satu kelompok terdiri dari dua siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Siswa kembali berhamburan dan kebingungan memilih anggota kelompoknya. Dari permainan sederhana ini guru ingin mengetahui keterbukaan diri siswa dan penerimaan terhadap perbedaan. Baik yang berbeda lawan jenis maupun perbedaan lainnya. Setelah itu, siswa kembali membentuk dua lingkaran seperti posisi awal.

Siswa pun melakukan perputaran kembali sambil bernyanyi

dan ketika guru berseru “STOP” maka perputaran berhenti. Siswa

dari lingkaran kecil (dalam) dan lingkaran besar (luar) saling berhadapan. Siswa pun menunjukkan ekspresi yang berbeda ketika mengetahui siapa pasangannya. Bagi siswa yang tidak mendapatkan pasangan maka akan berpasangan dengan guru. Beberapa siswa berjingkrak-jingkrak karena pasangannya adalah siswa yang mereka sukai. Siswa perempuan menunjukkan ekspresi sukanya ketika pasangannya adalah perempuan, begitu pun siswa laki-laki dengan siswa laki-laki. Ada siswa yang menunjukkan ketidaksukannya dan melapor kepada guru untuk berganti pasangan. Seperti siswa perempuan yang berpasangan dengan

115

siswa laki-laki atau sebaliknya, maupun karena tidak menyukai siswa tersebut tidak peduli dia siswa laki-laki atau perempuan. Guru tidak mengizinkan siswa berganti pasangan dan memberikan pemahaman kepada siswa untuk menerima siapa pun pasangan yang mereka dapat.

Tahap kedua model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) adalah siswa saling bertukar informasi. Setelah siswa saling berpasangan maka siswa yang berada di lingkaran kecil (dalam) berbagi cerita mengenai pengalamannya dalam berbagi kepada saudara atau temannya (sesuai dengan materi pecahan yang diajarkan). Waktu yang siswa miliki untuk bertukar informasi ini dua sampai tiga menit. Setelah siswa di lingkaran kecil (dalam) selesai bercerita maka dilanjutkan oleh siswa di lingkaran besar (luar) yang berbagi cerita.

Dalam praktiknya, sebagian besar siswa saling bercerita tetapi tidak sesuai dengan materi. Siswa banyak bercanda dan tertawa atau justru mengganggu konsentrasi pasangan lainnya. Adapun siswa lainnya memilih diam atau tertawa kecil kepada pasangannya. Hanya beberapa siswa yang bercerita sesuai dengan materi. Hal ini dapat dikarenakan siswa belum terbiasa bertukar informasi sesuai dengan materi dalam pembelajaran, siswa malu

116

untuk menyampaikan ceritanya, maupun siswa yang tidak paham bagaimana cara bertukar informasi dengan pasangan.

Tahap ketiga model pembelajaran kooperatif tipe Inside-Outside Circle (IOC) adalah perputaran dilanjutkan dan siswa yang berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang berada di lingkaran besar bergeser langkah searah perputaran jarum jam. Namun guru melupakan hal tersebut sehingga siswa yang berada di lingkaran dalam ikut berputar mengikuti siswa di lingkaran luar. Hal ini terjadi selama empat kali perputaran dilakukan. Setelah lagu berhenti maka perputaran pun berhenti dan siswa menjadi berpasangan.

Tahap keempat dari model pembelajaran kooperatif tipe

Inside-Outside Circle (IOC) adalah giliran siswa yang berada di lingkaran besar (luar) yang mengawali bercerita sesuai materi kepada pasangannya. Setelah siswa di lingkaran besar (luar) selesai, maka giliran siswa yang berada di lingkaran kecil (dalam) yang bercerita. Namun demikian, sebagian besar siswa masih belum mau bercerita sesuai dengan materi kepada pasangannya. Hanya sebagian kecil siswa yang mau untuk bercerita sesuai dengan materi kepada pasangannya. Guru pun memberikan arahan dan juga bimbingan agar siswa mau berbagi informasi kepada pasangannya.

117

Guru melanjutkan putaran yang dilakukan, guru melakukan perputaran sebanyak empat kali sehingga siswa berkesempatan berpasangan sebanyak empat kali. Pada perputaran ketiga dan keempat, sebagian besar mulai berbagi informasi kepada pasangannya dalam kata-kata yang singkat. Namun demikian, semua siswa menunjukkan kegembirannya dengan bernyanyi riang sambil bertepuk tangan sesuai irama selama perputaran tersebut.

Dengan instruksi guru, siswa kembali ke ruang kelas dan kembali ke tempat duduknya masing-masing. Guru memberikan penugasan kepada setiap siswa untuk menuliskan kembali cerita miliknya dan ketiga pasangannya tentang pengalaman berbaginya, menggambarkannya ke bentuk bangun datar, membaginya sesuai dengan jumlah bagian dari cerita, mengarsirnya dan menuliskan nilai pecahannya di bawah gambar.

Siswa mulai mengeluarkan alat tulisnya seperti buku, pensil, penghapus dan penggaris. Ada beberapa siswa yang tidak membawa alat tulis, lalu meminjam kepada temannya. Karena temannya tidak membawa, siswa tersebut meminjam lagi ke teman lainnya. Ada yang meminjami siswa tersebut dengan inisiatifnya. Banyak siswa yang lapor kepada guru karena tidak semua pasangan siswa bercerita dan ada yang sudah lupa dengan cerita pasangannya.

118

Guru pun membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok berisi empat orang siswa. Kelompok tersebut merupakan pasangan siswa selama melakukan perputaran. Pada pembagian ini, sebagian besar siswa menolak ketika dikelompokkan sesuai dengan pasangan di perputaran. Siswa lebih memilih dikelompokkan dengan teman kelompok yang sejenis (laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan). Guru memberi pengertian kepada siswa untuk menerima dimana