• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

B. KERUSAKAN MEKANIS PADA BUAH

Penanganan pascapanen harus digunakan secara hati-hati untuk memperoleh buah-buahan yang segar dan mempunyai mutu yang tinggi. Penanganan secara kasar dapat mempengaruhi mutu produk secara langsung. Mutu buah-buahan tersebut ditentukan oleh sifat fisik mekanis, morfologis, dan fisiologis. Sifat fisik morfologis meliputi panjang, diameter, volume, dan bobot. Sifat fisiologis dipengaruhi oleh laju respirasi, sedangkan mekanis merupakan ketahanan buah terhadap benturan dan goresan (Prajawati 2006).

Kerusakan mekanis pada produk pertanian dapat disebabkan oleh gaya-gaya luar (statik ataupun dinamis) dan gaya-gaya dalam yang disebabkan oleh perubahan fisik bahan tersebut. Perubahan fisik dapat disebabkan oleh perubahan kadar air, temperatur, biologis, dan kimia. Kerusakan mekanis dapat terjadi karena buah menerima pembebanan, baik berupa tekanan ataupun pukulan (Prajawati 2006). Menurut ASTM, sifat-sifat yang tergolong ke dalam sifat mekanis antara lain strain, stress, bearing load, compressive strength, elastic limit, dan modulus of elasticity (Suastawa 2008).

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kerusakan mekanik buah antara lain : 1. Gaya-gaya luar

Tingkat kerusakan mekanis yang terjadi dipengaruhi oleh besarnya gaya luar (beban) yang mengenai buah. Kerusakan akan semakin tinggi jika gaya luar (beban) yang diterima oleh buah semakin besar. Buah tersusun dari sel-sel yang memiliki sifat vikoelastis yang memberikan respon terhadap gaya. Respon terhadap gaya gantung dari sifat pembebanan. Sifat pembebanan terdiri dari dua macam, yaitu pembebanan yang bersifat statis dan pembebanan yang bersifat dinamis atau berubah-rubah terhadap waktu. Pembebanan dinamis terjadi pada tumpukan buah yang mengalami getaran selama pengangkutan. Sedangkan pembebanan statis terjadi pada saat buah menanggung beban gaya yang tetap seperti penumpukan buah pada waktu penyimpanan.

2. Sifat mekanis buah

Sifat mekanis yaitu respon bahan yang sesuai dengan perilakunya apabila diberi gaya. Secara reologis, sifat mekanis buah dapat dinyatakan dalam tiga bentuk parameter yaitu gaya, deformasi, dan waktu (Prajawati 2006).

Studi mengenai pengukuran kerusakan belum sepenuhnya dikembangkan. Hal ini disebabkan oleh bentuk kerusakan yang sangat beragam. Menurut Suastawa (2008) bentuk kerusakan yang sama bisa saja ditangani secara berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh proses penanganan produk tersebut yakni, langsung diproses maupun disimpan terlebih dahulu dalam waktu yang lama. Bentuk-bentuk utama kerusakan mekanik antara lain :

1. Lecet (abrasion). Jaringan kulit mengalami kerusakan atau terlepas dari jaringan di bawahnya. Reaksi yang muncul dari peristiwa ini baru terlihat saat satu atau dua minggu kemudian.

2. Memar (bruishing). Kerusakan jaringan tanaman akibat gaya eksternal sehingga terjadi perubahan fisik, warna, dan rasa.

3. Retak (cracking). Kerusakan seperti ini terjadi akibat benturan atau tekanan namun tanpa mengakibatkan produk hancur (split).

4. Cutting. Kerusakan ini disebabkan oleh penetrasi benda tajam ke dalam produk namun tidak mengakibatkan penghancuran produk yang signifikan.

5. Punture. Kerusakan ini merupakan jenis luka akibat benda tajam seperti ujung batang atau ranting yang patah yang mampu menembus permukaan produk.

6

6. Retak hancur (shatter cracking). Jenis retakan yang banyak dan terpusat di titik benturan. 7. Retak kulit (skin cracking). Retakan yang terbatas pada bagian luar kulit.

8. Pecahan (splitting). Kerusakan ini terjadi saat produk menjadi beberapa bagian yang terpisah.

9. Sobekan (tearing). Terjadi di posisi pangkal buah pada saat pemetikan.

10. Retakan hebat (swell cracking). Retakan yang terjadi akibat meningkatnya tekanan osmotik internal.

11. Distorsi (distorsion). Perubahan bentuk yang terjadi akibat pembebanan terhadap produk.

C.Teknik Pengemasan

Plastik merupakan salah satu kemasan yang terbuat dari bahan minyak dan gas sebagai sumberalami, namun dalam perkembangannya, bahan pembuat plastik ini digantikan oleh bahan-bahan sintetis sehingga dapat diperoleh sifat-sifat plastik yang diinginkan dengan cara kepolimerasi, laminasi dan ekstrusi (Syarief et al. 1989 diacu dalam Nurfajrianti 2010). Jenis dan sifat-sifat produk plastik sangat ditentukan oleh monomer-monomer penyusunnya. Beberapa monomer yang sering digunakan diantaranya adalah etilen, propilen, stiren dan lain-lain. Jenis kemasan plastik yang paling dikenal adalah polietilen, polypropilen, polyester, nilon, dan vinil film.

Jenis kemasan plastik yang biasa digunakan oleh para petani dan perusahaan stroberi di

Indonesia adalah PET (Polyethylene terephtalate) styrofoam (polystyrene) dan PVC

(Polyvinyl chloride) atau di pasaran dikenal dengan nama plastik mika. PET merupakan sebuah senyawa turunan polyester yang bersifat mempunyai resistensi yang tinggi terhadap panas, bahan kimia, asam, basa, beberapa pelarut, minyak dan lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PET lebih efektif digunakan sebagai pengemas dibandingkan LDPE (Low Density Polyethylene) dalam mempertahankan kualitas stroberi dalam 10 hari (Cane et al. 2008 diacu dalam Nurfajrianti 2010). Styrofoam atau polystyrene dibuat dengan mereaksi styrene pada suhu 125oC selama 7 hari. Polimer ini dapat dimurnikan dengan menambah benzena sehingga monomer-monomer akan terlarut yang selanjutnya didestilasi dengan metode destilasi vacum. Proses pembuatan styrofoam ditampilkan pada Gambar 1.

nCH2=CH CH2-CH 125OC

Gambar 1. Proses Pembuatan Polystyrene (Setyowati et al. 2000 diacu dalam Nurfajrianti 2010) PVC merupakan hasil polimerisasi vinil klorida dengan bantuan katalis. Antoniette (2009) diacu dalam Nurfajrianti (2010) menyatakan bahwa plastik jenis PVC bersifat tebal tapi masih sedikit fleksibel karena adanya bahan pemlastis pembentukannya. Beberapa jenis PVC antara lain:

1. Plasticized Vinyl Chloride yang banyak digunakan untuk kemasan daging segar, buah-buahan dan sayuran.

2. Vinyl Copolimer yang biasa digunakan untuk kemasan blister pack, kosmetik dan sari buah 3. Oriented Film yang mempunyai sifat lunak dan tidak mudah berkerut.

Vinil klorida yang merupakan monomer PVC mempunyai sifataliran yang baik dan digunakan untuk bahan film atau melindungi bahan yang memerlukan permeabilitas yang rendah terhadap uap airdan gas. Menurut Buckle et al. (1987) diacu dalam Nurfajrianti (2010) bahwa permeabilitas gas PVC seperti CO2, O2, dan N2 lebih rendah dibandingkan HDPE (High Density Polyethylene), LDPE, dan PP (Polypropylene) sehingga PVC cocok untuk mengemas produk yang banyak mengandung senyawa volatile (mudah menguap).

Buah-buahan yang tidak disusun secara rapi dalam kemasan akan saling berbenturan dan terjadi gesekan antara buah jika mendapat gaya dinamis berupa guncangan atau getaran. Dalam pengemasan buah-buahan tersebut, penyusunan lapisan dasar merupakan faktor yang penting bagi penyelesaian lapisan-lapisan berikutnya. Bahan berupa bantalan atau kertas dapat digunakan untuk

7

mengurangi gesekan antara buah dengan kemasan ataupun buah dengan buah. Kertas tersebut diletakkan bagian bawah, atas, samping, atau diantara buah.

Dalam penyusunan buah, perlu diperhatikan arah penyusunan buah dalam kemasan. Buah harus disusun dengan bagian yang mempunyai kekerasan terbesar searah dengan arah getaran yang dominan selama pengangkutan. Untuk pengangkutan dengan truk, arah getaran yang dominan adalah arah vertikal sehingga buah di dalam kemasan disusun dengan arah vertikal (Prajawati 2006).

Beberapa dari kerusakan ini dapat diminimalisir dengan menghindari adanya ruang kosong yang terdapat di dalam kemasan serta melindungi tekanan dan gesekan antara sesama produk ataupun antara produk dengan kemasan selama kegiatan transportasi. Bahan yang digunakan untuk mengisi ruang tersebut sering disebut dengan bahan pengisi kemasan (Hasiholan 2008).

D.Transportasi

Pengangkutan merupakan mata rantai yang penting dalam penanganan, penyimpanan, dan distribusi buah-buahan serta sayur-sayuran. Pengangkutan dilakukan untuk menyampaikan komoditi hasil pertanian secara cepat dari produsen ke konsumen (Hasiholan 2008). Teknik transportasi merupakan penerapan dari sains dan matematika dimana sifat-sifat zat dan sumber-sumber energi alami dipakai untuk mengangkut penumpang dan barang dengan cara yang berguna bagi manusia. Pengangkutan juga diartikan sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Syarat-syarat bagi berlangsungnya proses transportasi antara lain:

1. Ada muatan yang diangkut.

2. Tersedia kendaraan sebagai alat angkutnya. 3. Ada jalan yang dapat dilalui.

Pada pengangkutan barang diharapkan nilai barang akan lebih tinggi di tempat tujuan daripada di tempat asal. Transportasi dapat dilihat dalam dua kategori antara lain:

1. Pemindahan bahan-bahan dan hasil-hasil produksi

2. Pengangkutan penumpang dari satu tempat ke tempat yang lain.

Kerusakan pada buah-buahan hasil pemanenan dapat terjadi saat transportasi. Kerusakan tersebut dapat berupa memar, susut berat, ataupun masa simpan yang semakin pendek. Pengangkutan yang kurang baik dapat menyebabkan kerusakan mencapai 30-50% (Soedibdjo 1985 diacu dalam Kusumah 2007).

Penanganan pascapanen yang baik mulai dari pemanenan, pengumpulan, sortasi, grading, pengemasan dan pengangkutan dapat mengurangi kerusakan yang terjadi pada buah. Oleh karena itu, buah-buahan harus diangkut secepat mungkin sampai ke tempat pemasaran. Cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kerusakan akibat getaran selama transportasi dapat digunakan bahan anti getaran. Menurut sifatnya, bahan anti getaran terdiri dari bahan anti getaran elastik (dapat kembali ke bentuk semula jika beban telah dilepas/dihilangkan), dan bahan anti getaran nonelastik (tidak dapat kembali ke bentuk semula jika beban dihilangkan) (Prajawati 2006).

Goncangan yang terjadi selama pengangkutan baik di jalan raya maupun di rel kereta api dapat mengakibatkan kememaran, susut bobot dan memperpendek masa simpan. Hal ini terjadi terutama pada pengangkutan buah-buahan dan sayuran yang tidak dikemas. Meskipun kemasan dapat meredam efek goncangan, tetapi daya redamnya tergantung pada jenis kemasan serta tebal bahan kemasan, susunan komoditas di dalam kemasan dan susunan kemasan di dalam alat pengangkut (Purwadaria 1992 diacu dalam Kusumah 2007).

Dalam kondisi jalan yang sebenarnya, permukaan jalan ternyata memiliki permukaan yang tidak rata. Permukaan jalan yang tidak rata ini menyebabkan produk mengalami berbagai guncangan ketika ditransportasikan. Besarnya guncangan yang terjadi bergantung kepada kondisi jalan yang diamati. Tingkat ketidakrataan ini disebut amplitudo dan tingkat kekerapan terjadinya guncangan akibat ketidakrataan jalan tersebut dinamakan dengan frekuensi. Kondisi transportasi yang buruk ini dan penanganan yang tidak tepat pada komoditi yang ditransportasikan (buah dan sayuran) dapat mengakibatkan kerugian berupa turunnya kualitas komoditi yang akan disampaikan ke tangan konsumen. Penurunan kualitas yang sangat sering terjadi adalah kerusakan mekanis pada buah dan sayuran.

Untuk memperoleh gambaran mengenai kerusakan mekanis yang dialami oleh komoditi pertanian akibat goncangan selama transportasi dilakukan, Purwadaria dkk telah merancang alat simulasi transportasi yang dapat mewakili pengaruh goncangan yang terjadi pada kondisi jalan yang sebenarnya. Alat simulasi ini telah disesuaikan dengan jalan dalam dan luar kota adalah besarnya

8

amplitudo yang terukur. Jalan dalam kota memiliki amplitudo yang rendah dibandingkan jalan luar kota, jalan buruk dan jalan bebatu.

Pada simulasi pengangkutan dengan menggunakan truk goncangan yang dominan adalah goncangan pada arah vertikal. Sedangkan goncangan yang dominan adalah goncangan pada arah vertikal. Goncangan lain berupa puntiran dan bantingan diabaikan karena jumlah frekuensinya kecil sekali (Soedibyo 1992 diacu dalam Hasiholan 2008). Ilustrasi gerakan yang menyebabkan guncangan pada angkutan dan meja getar ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Ilustrasi gerakan pada meja simulasi getar

F

F

W

F F

W

N N Keterangan :

W = Gaya berat antar buah F = Gaya dorong antar buah f = Gaya gesek

9

III. METODE PENELITIAN

A.Waktu dan Tempat

Penelitian “Kajian Teknik Penyimpanan dan Pengemasan Buah Stroberi Selama Transportasi” dilakukan di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP), Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor pada bulan Mei sampai bulan Juni 2010.

B.Bahan dan Alat

1. Bahan

Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah stroberi dengan umur 10 hari setelah awal pembentukan buah yang diproduksi oleh petani Ciwidey (Bandung). Buah stroberi yang digunakan adalah buah stroberi tipe California yang mempunyai nilai mutu sama. Parameter keseragaman dari buah stroberi yang digunakan adalah berat, kekerasan buah (tidak lembek) dan warna dari buah stroberi. Bahan lain yang digunakan berupa bahan pengisi kemasan berupa daun lamtoro yang masih hijau, jaring styrofoam (pembungkus buah), dan kardus. Selain itu, juga ada kemasan mika yang digunakan sebagai kemasan utama.

2. Alat

Peralatan yang digunakan terdiri dari meja getar dengan kompresor (rancangan Purwadaria dkk.), timbangan digital untuk mengukur susut bobot buah, Rheometer tipe CR-300DX untuk mengukur kekerasan buah, Refraktometer untuk mengukur total padatan terlarut pada buah, hybrid recorder, dan ruang pendingin dengan suhu 10oC.

C. Prosedur penelitian

Prosedur penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Buah stroberi yang diambil dari kebun kemudian dibersihkan dengan menggunakan kertas tisu/lap dan disortasi (tidak ada memar ataupun berjamur dengan bobot dan warna yang seragam). Setelah itu, buah stroberi disusun di dalam kemasan mika yang sebelumnya telah diberi bahan pengisi bagian alas kemasan mika (pembungkus buah/ jaring styrofoam yang dipotong membentuk persegi panjang berukuran 16.3x11.3x0.4 cm dengan tebal 3 mm, daun lamtoro dirontokkan dan dibersihkan (dengan merendamnya pada air kemudian dikeringkan) setelah itu ditaburkan pada alas kemasan stroberi dengan ketebalan sekitar 3 mm, serta kardus dengan tebal 2-3 mm). Dengan posisi penyusunan berbeda (vertikal dan horizontal). Kemudian kemasan-kemasan buah stroberi

10

diletakkan ke dalam kardus untuk menahan getaran yang timbul dari pertemuan kemasan dan kemasan yang lainnya. Bentuk penyusunan buah stroberi untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Gambar 14 dan 15.

2. Kardus-kardus tersebut kemudian diatur pada meja getar sesuai dengan frekuensi dan amplitudo yang diinginkan dan sebelumnya dipasangkan hybrid recorder untuk pengontrolan suhu selama transportasi.

3. Penggetaran dilakukan dengan frekuensi (3.12 Hz) dan amplitudo (3.63 cm) selama 2 jam. 4. Setelah dilakukan penggetaran pada buah stroberi, kemudian dilakukan pengamatan kerusakan mekanis dan biologis yang terjadi akibat getaran selama transportasi.

5. Selesai pengamatan, stroberi diuji susut bobot, kekerasan buah, dan total padatan terlarut (kadar gula) dengan mengambil sampel 2 buah.

6. Kemudian disimpan ke dalam lemari pendingin dengan suhu 10oC. Stroberi yang disimpan dalam lemari pendingin ini digunakan sebagai sampel setiap harinya untuk pengamatan kerusakan mekanis, kerusakan biologis, susut bobot, kekerasan buah, dan total padatan terlarut. Secara ringkas, metode penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Diagram alir pelaksanaan penelitian

Stroberi

Sortasi

Pengujian susut bobot, kekerasan buah, dan kadar gula

Pengemasan dengan tiga perlakuan (styrofoam, kardus, dan daun lamtoro) dan

dua penyusunan (vertikal dan horizontal)

Penggetaran di meja getar (suhu dikontrol dengan hybrid recorder) amplitudo 3.63

cm dan frekuensi 3.12 Hz selama 2 jam

Pengujian kerusakan mekanis dan biologis, susut bobot, kekerasan

buah, dan kadar gula

Penyimpanan selama 5 hari dengan suhu 10oC

Pengambilan data

11

Gambar 5. Susunan dan ukuran kemasan buah stroberi

D.Pengamatan

Pengamatan dilakukan terhadap tingkat kerusakan mekanis dan biologis, susut bobot, perubahan tingkat kerusakan buah, kadar gula pada buah.

A. Tingkat kerusakan mekanik

Pengamatan tingkat kerusakan mekanis stroberi dilakukan setelah pengangkutan. Pengamatan dilakukan secara visual pada buah stroberi di tiap-tiap kemasan kemudian dipersentasekan sesuai dengan persamaan (1). Luka memar pada buah stroberi terjadi akibat benturan produk dengan dinding kemasan. Persamaan yang digunakan untuk menghitung persentase kerusakan mekanis pada stroberi tersebut dapat

% Rusak = X 100% (1)

B. Tingkat kerusakan biologis

Pengamatan tingkat kerusakan biologis stroberi dilakukan setelah pengangkutan. Pengamatan dilakukan dengan cara melihat adanya bercak menyerupai jamur yang menempel pada buah stroberi. Pengamatan ini dilakukan secara visual di tiap-tiap kemasan kemudian di persentasekan sesuai dengan persamaan (2). Bercak putih menyerupai jamur tumbuh pada bagian buah stroberi yang memar akibat guncangan. Persamaan yang digunakan untuk menghitung persentase kerusakan biologis pada stroberi tersebut adalah :

% Rusak = X 100% (2)

Tabel 3. Contoh lembar pengujian kerusakan mekanis dan kerusakan biologis

Jenis Bahan Pengisi Jumlah Kerusakan

Mekanis

Jumlah Kerusakan Bilogis

Total Sampel dalam Satu Kemasan Kardus Horizontal

Kardus Vertikal

Daun Lamtoro horizontal Daun Lamtoro Vertikal Styrofoam Horizontal Styrofoam Vertikal Tampak atas 4 m m Tampak samping

12

C. Susut bobot

Pengukuran susut bobot dilakukan berdasarkan persentase penurunan bobot bahan sebelum pengangkutan sampai dengan setelah pengangkutan. Sesuai dengan persamaan (3) dapat ditentukan berapa susut bobot terjadi pada buah stroberi. Pengukuran ini menggunakan timbangan Mettler PM-4800.

% Susut Bobot= X 100% (3)

Dimana :

Wo = Bobot awal bahan (gram) Wt = Bobot akhir bahan (gram) D. Uji Kekerasan pada buah

Uji kekerasan dilakukan sebelum pengangkutan dan setelah pengangkutan terdapat dua kemasan yang diujikan, setiap kemasan diambil 1 buah untuk dijadikan sampel. Nilai kekerasan yang diperoleh dari ke 2 buah tersebut kemudian dirata-ratakan. Alat yang digunakan untuk pengujian kekerasan buah adalah Rheometer tipe CR-300. Pengukuran yang dilakukan dilakukan di 3 bagian sisi dari buah stroberi kemudian dirata-ratakan.

E. Kandungan total padatan terlarut

Refraktometer merk N-1 ATAGO tipe PR-201 digunakan untuk mengukur kandungan total padatan terlarut buah stroberi. Pengukuran ini dilakukan sebelum dan setelah transportasi (masa penyimpanan). Terdapat enam kemasan yang diujikan, setiap kemasan diambil dua buah secara acak untuk dijadikan sampel. Nilai kekerasan yang diperoleh dari ke 2 buah tersebut kemudian dirata-ratakan .Bahan yang akan diukur diperas dan kemudian diteteskan pada prisma pengukur. Kandungan total gula akan terlihat pada alat tersebut dalam satuan % brix. Di dalam pengukuran kadar gula terlarut ada hal yang harus diperhatikan yaitu pada saat penetesan buah stroberi ke Refraktometer terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan air aquades agar data yang didapatkan akurat.

Gambar 6. Timbangan Mettler PM-4800

Gambar 7. Rheometer tipe CR-300 Gambar 8. Refraktometer merk

13

Tabel 4. Contoh lembar pengujian susut bobot, kekerasan buah, dan kadar gula

Jenis Bahan Pengisi Susut

Bobot

Kekerasan Buah Kadar Gula

Atas Tengah Bawah Atas Tengah Bawah

Kardus Horizontal Rata-rata Kardus Vertikal

Rata-rata

Daun Lamtoro Horizontal Rata-rata

Daun Lamtoro Vertikal Rata-rata Styrofoam Horizontal Rata-rata Styrofoam Vertikal Rata-rata

E.Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor dan dua kali ulangan.

Faktor-faktor tersebut antara lain : 1. Jenis bahan pengisi

A1 = Kardus A2 = Styrofoam A3 = Daun lamtoro

2. Cara penyusunan buah stroberi dalam kemasan

B1 = Posisi vertikal B2 = Posisi horizontal

Model umum dari rancangan percobaan ini adalah :

Y

ij1

= + A

i

+ B

j

+ (AB)

ij

+ ε

ij1

Dimana :

Yij1 = pengamatan padaperlakuan A ke-i dan B ke-j pada ulangan 1

= nilai rata-rata harapan

Ai = perlakuan A ke-i

Bj = perlakuan B ke-j

(AB)ij = interaksi A ke-i dan B ke-j

εij1 = pengaruh alat percobaan dari perlakuan A ke-i dan B ke-j pada ulangan ke-1 dengan :

i = 1,2

j = 1,2

14

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengemasan Buah Stroberi

Kemasan buah stroberi umumnya tidak menggunakan bahan pengisi kecuali buah stroberi kelas ektra (ukurannya paling besar) yang membutuhkan bahan pengisi kardus dengan penyusunan horizontal. Buah stroberi yang memiliki ukuran ekstra lebih rentan terhadap guncangan sehingga dibutuhkan perlindungan khusus agar buah stroberi terhindar dari dampak transportasi. Buah stroberi yang dikemas dengan bahan pengisi kardus penyusunan horizontal umumnya mempunyai umur simpan kurang dari 5 hari dengan suhu penyimpanan 10oC.

Pada penelitian ini, digunakan dua perlakuan pada buah stroberi yaitu penggunaan bahan pengisi berbeda didalam kemasan dan cara penyusunan buah pada kemasan. Perlakuan bahan pengisi kemasan terdiri dari tiga jenis bahan yaitu kardus tipe Single – Wall (sebagai kontrol), pembungkus buah/styrofoam, dan daun lamtoro sebagai pembanding. Bahan-bahan pengisi alternatif tersebut dipilih berdasarkan nilai ekonomis dan manfaatnya.

Gambar 9. Penampang kardus tipe Gambar 10. Bahan pengisi kardus pada

Single-Wall kemasan buah stroberi

1. Bahan Pengisi

Bahan pengisi yang diujikan pada penelitian ini ada 2 jenis yaitu pembungkus buah (styrofoam) sebagai bahan pengisi non organik dan daun lamtoro sebagai bahan pengisi organik.

a. Pembungkus Buah (styrofoam)

Styrofoam yang biasanya diaplikasikan pengemasan buah pear dan apel digunakan sebagai bantalan untuk buah agar pada saat transportasi buah tidak mengalami kerusakan mekanis yang dapat menimbulkan pembusukan pada sisi buah, maka styrofoam diuji cobakan kedalam bahan pengisi kemasan buah stroberi. Berdasarkan hasil pengujian, bahan pengisi pembungkus buah (styrofoam) dapat mengurangi kerusakan mekanis daripada kardus (yang digunakan sebagai kontrol) karena styrofoam mempunyai tekstur yang lebih tebal, elastis serta lembut sehingga kerusakan yang terjadi saat transportasi dapat dikurangi. Selain itu dari segi ekonomis dibandingkan dengan kardus, styrofoam penampakannya lebih menarik.

15

kemasan buah stroberi

16

b. Daun Lamtoro

Pada penelitian ini, daun lamtoro yang digunakan adalah daun lamtoro yang masih hijau karena teksturnya masih halus dan tidak kering sehingga pada saat digunakan sebagai bahan pengisi kemasan buah stroberi dapat terlindungi. Hasil dari pengujian penggunaan daun lamtoro sebagai bahan pengisi kemasan buah stroberi yaitu, kerusakan mekanis pada buah stroberi dapat berkurang dibandingkan dengan bahan pengisi kardus yang umumnya digunakan. Namun, kekurangan pada penggunaan daun lamtoro sebagai bahan pengisi adalah daun lamtoro menempel pada kulit stroberi sehingga buah tidak bersih lagi.

Gambar 13. Daun Lamtoro 2. Penyusunan buah stroberi

Cara penyusunan pada kemasan diperhitungkan karena berpengaruh pada perlindungan buah stroberi terhadap kerusakan mekanis selama transportasi. Pada penelitian ini, buah stroberi disusun dengan 2 penyusunan berbeda yaitu penyusunan vertikal dan horizontal. Cara penyusunan buah stroberi dalam tiap kemasan dapat dilihat pada Gambar 14, 15 dan 16.

Gambar 14. Penyusunan horizotal Gambar 15. Penyusunan vertikal

kemasan buah stroberi kemasan buah stroberi

Vertikal Horizontal

4 m m

17

Gambar 16. Sketsa penyusunan tampak samping bahan pengisi kemasan dan posisi buah stroberi

Gambar 17. Bahan pengisi daun lamtoro pada kemasan buah stroberi

B. Kerusakan Mekanis pada Buah Stroberi

Setelah dilakukan simulasi transportasi, buah kemudian diamati kerusakan mekanis yang terjadi sebagai dampak dari adanya goncangan yang terjadi pada kemasan selama kegiatan transportasi dilakukan. Goncangan pada simulasi transportasi menyebabkan komoditas buah stroberi yang dikemas mengalami pergerakan sehingga mempengaruhi masa simpan yang singkat karena proses pembusukan yang berlangsung lebih cepat. Kerusakan mekanis ditandai dengan perubahan

Dokumen terkait