• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

Dalam dokumen BUKU AJAR ANTROPOLOGI SOSIAL KESEHATAN (Halaman 37-40)

Tujuan Instruksional:

B. MATERI PEMBELAJARAN

3. KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

kesehatan di fasilitasi oleh 4 perubahan yang terjadi dalam dunia medis, antara lain:

a. Perubahan Pola Mortalitas dan Morbiditas

Dari penyakit yang bersifat akut dan infeksi (influensa dan tuberculosis) ke yang bersifat chronic, dan penyakit degeneratif (hati, kanker dan sebagainya). Penyebabnya :

social pattern and life style.

b. Dampak Pengobatan yang Bersifat Preventif dan Meningkatnya Kesehatan Masyarakat (public health)

Tahun 1800 sampai 1900 public health lebih fokus ke bakteriology dan imunologi (preventing disease occurrence). Setelah tahun 1900 fokus lebih pada upaya protection untuk

public health dan menitikberatkan masalah kemiskinan,

malnutrisi, kondisi tempat tinggal yang kumuh dsb. Kajian sosiologi kaitannya dengan kesehatan dan illness.

c. Dampak Perkembangan Bidang Psychiatry

Ada perkembangan lebih ke arah psychopsysiological kaitannya dengan diseases dan illness. Misalnya interaksi yang efektif antara pasien dan dokter. Penggunaan lingkungan sosial pasien sebagai bagian dari terapi.

d. Dampak Administrasi Kesehatan

Perkembangan di bidang kesehatan sangat nampak seperti; organisasi kian kompleks, fasilitas kesehatan kian berkembang; birokrasi dan kondisi finansial serta berbagai aturan yang menyertainya juga semakin beragam. Sosiologi memfokuskan analisis tentang persoalan organisasi dan struktur; siapa yang rugi dan untung dengan aturan yang ada; menjelaskan cara strategis untuk meningkatkan skill SDM dalam organisasi yang kompleks dsb.

3. KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

Kesehatan merupakan faktor pertama dan utama yang mempengaruhi kualitas SDM dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Status kesehatan seseorang atau komunitas masyarakat, merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal manusia maupun faktor eksternal manusia. Faktor internal ini terdiri dari faktor fisik dan psikis. Faktor eksternal terdiri dari berbagai faktor seperti sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Secara garis besar status kesehatan dipengaruhi oleh empat

34

faktor yaitu lingkungan, gaya hidup atau perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik atau keturunan. Faktor lingkungan, yang mencakup lingkungan fisik, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya.

Faktor lingkungan mempengaruhi sebanyak 45 persen, faktor perilaku 30 persen, faktor pelayanan kesehatan 20 persen, dan faktor genetik hanya berpengaruh 5 persen terhadap status kesehatan. Status kesehatan merupakan kesatuan dari kondisi kesehatan fisik, kesehatan mental, dan kesehatan sosial seseorang atau masyarakat.Kesehatan fisik terwujud apabila seseorang tidak merasa sakit dan memang secara klinis tidak menujukkan gejala sakit.

Menurut Blum (1974) yang dipetik dari Notoadmodjo (2007), faktor lingkungan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat manakala faktor perilaku pula merupakan faktor yang kedua terbesar. Faktor lingkungan terdiri dari 1) lingkungan sosial-budaya yaitu pendidikan, pekerjaan, pendapatan, kesosial-budayaan, dan agama; 2) lingkungan fisik dan biologi baik yang merupakan sumber daya alam maupun rekayasa manusia. Termasuk di dalammya sumber air, sanitasi lingkungan, pencemaran, sumber vektor dan lainnya; Faktor gaya hidup meliputi sikap dan perilaku. Faktor genetik meliputi sistem immunitas individu, dan penyakit yang diturunkan; sedangkan faktor pelayanan kesehatan meliputi pencegahan, pengobatan, perawatan dan rehabilitasi.

Contoh kasus permasalahan kesehatan dan lingkungan dalam kajian ilmu antropologi:

a. Gempa bumi di aceh

Gangguan Stress Pasca Trauma merupakan gangguan mental pada seseorang yang muncul setelah mengalami suatu pengalaman traumatik dalam kehidupan atau suatu peristiwa yang mengancam keselamatan jiwanya. Mengutip data yang disajikan dalam Laporan Penelitian Sementara Studi Aspek Sosial Ekonomi Paska Tsunami (SASMI) Tahun 2007 – 2008, tampak temuan bahwa individu pada umumnya mengalami trauma selama tsunami. Pada wilayah-wilayah yang terkena paling parah (heavily damaged zone), sebagai contoh, 83 persen responden melaporkan mendengar suara air atau jeritan tentang air ketika tsunami mulai menerjang pantai.

35

Sebanyak 62 persen responden mengalami ketakutan akan hidup mereka dan 25 persen responden menyaksikan sendiri anggota keluarga mereka atau teman mereka berjuang mempertahankan hidup atau menghilang. Trauma dan kehilangan tersebut dapat menimbulkan kekambuhan penyakit jiwa sebelumnya (misalnya membuat depresi ringan menjadi berat) dan pada sebagian orang menimbulkan bentuk yang parah dari gangguan mental akibat trauma serta dalam kurun waktu tertentu akan mempengaruhi kesehatan fisiknya. Dari kasus ini kita dapat melihat bahwa faktor lingkungan dapat menyebabkan gangguan kesehatan berupa fisik maupun gangguan mental/trauma.

b. Sanitasi dan perilaku menyebabkan pneumonia pada bayi Penyakit berbasis lingkungan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia, salah satunya pneumonia Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), khususnya pneumonia merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian bayi dan balita di negara berkembang. Pneumonia juga menyebabkan empat juta kematian pada anak balita di dunia. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas. Hasil penelitian ini menunjukkan ada nya hubungan antara luas ventilasi kamar, jenis lantai, kepadatan hunian kamar dengan kejadian pneumonia pada balita. Menurut hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara perilaku membuka jendela setiap pagi dan siang hari, perilaku merokok dengan kejadian pneumonia pada balita. Namun hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan antara suhu rumah, kelembaban rumah, kondisi jendela dan penggunaan obat nyamuk dengan kejadian pneumonia pada balita. Ternyata faktor perilaku lebih berperan di dalam penyebab penyakit pneumonia selain faktor lingkungan.

c. Perilaku hidup sehat dalam pencegahan penyakit malaria Penyakit yang sering terjadi lainnya adalah malaria. Penyakit ini ditularkan oleh vektor nyamuk (Anopheles betina) malaria yang semula banyak ditemukan di daerah rawa-rawa Di Indonesia penyakit tersebut merupakan penyakit rakyat yang endemis, karena penyakit tersebut sudah lama diderita oleh banyak penduduk di daerah pantai, daerah persawahan, perkebunan, dan daerah hutan. Kedua penyakit tersebut

36

Loncatan inang pembawa penyakit malaria juga terjadi karena perubahan lingku-ngan. Misalnya perambahan hutan, pengubahan pola tanam pertanian, pendangkalan rawa, dan tambak terlantar. Perubahan lingkungan ini menyebabkan manusia lebih mudah terpapar. Aktivitas masyarakat berperan dalam meningkatkan perkembang biakan nyamuk. Contohnya, peningkatan kepadatan penduduk mendorong pembukaan hutan dan penghunian kawasan perbukitan. Akibatnya menimbulkan banyak genangan air dan sungai kecil yang merupakan tempat perindukan penyakit malaria (5,9)

Dalam dokumen BUKU AJAR ANTROPOLOGI SOSIAL KESEHATAN (Halaman 37-40)