Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa persepsi dan nilai tentang gender pada masyarakat nelayan di Desa Cituis Kabupaten Tangerang tugas istri adalah mengurus rumah tangga saja. Istri boleh membantu suami mencari nafkah, tetapi tugas utamanya tetap pada ranah domesik, sementara tugas suami adalah mencari nafkah bagi keluarga. Namun pada praktiknya, dalam sistem pembagian kerja secara seksual pada masyarakat nelayan di Desa Cituis Kabupaten Tangerang, istri nelayan mengambil peranan dalam kegiatan sosial dan ekonomi di darat, sedangkan laki-laki berperan di laut untuk mencari nafkah dengan menangkap ikan. Dampak dari sistem pembagian kerja tersebut memberikan ruang bagi kaum perempuan nelayan untuk terlibat dalam kegiatan publik, yaitu mencari nafkah keluarga sebagai antisipasi jika suami mereka tidak memperoleh penghasilan. Hal ini disebabkan karena sistem kerja nelayan yang tidak ada kepastian penghasilan setiap hari sehingga perempuan menjadi penyangga kebutuhan hidup rumah tangga.
Analisis Gender pada Rumah Tangga Nelayan di Desa Cituis Kabupaten Tangerang
93 Di Desa Cituis, istri nelayan membantu ekonomi keluarga dengan bekerja pada rumah pengolahan ikan sebagai pembersih ikan dan rajungan. Pekerjaan ini biasaya dilakukan istri nelayan setelah aktivitas domestik sudah selesai. Selain itu ada pula istri nelayan yang memiliki usaha pengolahan ikan sebagai pedagang. Hal ini sejalan dengan penemuan Sitorus (1994) dalam Sulistyo (2008) yang menunjukkan bahwa perempuan istri nelayan, meskipun mempunyai peran dominan pada kegiatan reproduksi, tetapi terlibat pula dalam kegiatan produksi.
Saruan (2000) menegaskan hal yang sama yaitu wanita nelayan dominan bekerja dalam bidang industri pengolahan hasil laut, perdagangan hasil laut dan persiapan operasi penangkapan, sedangkan laki–laki bekerja dalam bidang operasi penangkapan. Penghasilan tambahan dari aktivitas ekonomi perempuan dapat membantu mengentaskan kemiskinan runah tangga (Rahardjo 1995).
Di samping itu, istri nelayan memiliki relasi yang luas dan terlibat aktif dalam keanggotaan kelompok istri nelayan dan anggota koperasi perikanan. Kelompok ini dibina Koperasi Mina yang membina istri nelayan melakukan usaha. Istri nelayan memiliki akses terhadap pinjaman modal dan tabungan ke koperasi yang suatu saat apabila membutuhkan, baik untuk kebutuhan modal usaha maupun untuk pendidikan anak dapat diambil. Sayangnya, istri nelayan lebih banyak mengakses permodalan untuk kebutuhan modal usaha penagkapan ikan suaminya melaut dibanding untuk kebutuhan modal usahanya. Hal ini tidak terlepas dari pandangan stereotipe dan subordinat yang melekat pada rumah tangga nelayan.
Gambar 1 menunjukkan kontribusi gender terhadap pendapatan rumah tangga nelayan di Desa Cituis Kabupaten Tangerang. Dari gambar tersebut memperlihatkan bahwa istri nelayan memberikan kontribusi pendapatan pada keseluruhan musim dalam satu tahun. Rata-rata kontribusi pendapatan istri pada musim panceklik sebesar Rp480.457 pada musim peralihan Rp498.571 dan pada musim puncak Rp518.000 per bulan.
Sementara rata-rata kontribusi pendapatan suami pada musim panceklik Rp1.804.286 per bulan, pada musim peralihan Rp1.820.571 dan musim puncak Rp3.637.143 per bulan.
94
Pemberdayaan Perempuan dan Kematangan Gender Kelompok Usaha Perikanan
Meskipun dilihat secara nilai, kontribusi pendapatan istri lebih kecil dibandingkan pendapatan suami, namun curahan waktu istri nelayan dalam aktivitas ekonomi cukup menyita waktu dan tenaganya di sela-sela aktivitas domestik, terutama pada saat musim panceklik. Istri nelayan di Desa Cituis juga terlibat dalam aktivitas publik kelompok istri nelayan dan menjadi anggota koperasi perempuan pesisir. Di samping bertujuan untuk mengembangkan usahanya, istri nelayan juga membantu suaminya meminjam modal ke koperasi manakala suaminya membutuhkan permodalan operasional melaut. Hal ini sejalan dengan pendapat Istiqomah (2015); Rahardjo (1995), istri nelayan memiliki peran yang sangat penting dalam ekonomi rumah tangga perikanan. Terbukti istri nelayan mampu menggerakkan perekonomian keluarga dengan mengolah serta memberikan nilai tambah pada sumberdaya perikanan dan menambah pendapatan keluarga sehingga pendapatan istri dapat membantu perekonomian keluarganya. Kusnadi (2001) mengemukakan bahwa istri-istri nelayan bekerja sebagai pedagang dan pengolah mempunyai akses dan kontrol yang penuh terhadap sumber daya keluarga. Studi lain peran istri yang bekerja sebagai pedagang dalam pengambilan keputusan keluarga (Karsanto 2007) menunjukkan bahwa kontribusi wanita dalam sektor finansial untuk keluarga sangat besar karena penghasilan yang diperoleh mampu menutupi biaya kebutuhan keluarganya.
Perempuan yang bekerja tidak hanya untuk mengisi waktu luang, namun juga mereka ingin meningkatkan taraf kehidupannya sendiri maupun keluarganya. Menurut Aswiyati (2016), perempuan di pedesaan bekerja bukan semata-mata untuk mengisi waktu luang atau mengembangkan karir, tetapi untuk mencari nafkah karena pendapatan suaminya dikatakan kurang mencukupi kebutuhan sehingga banyak perempuan atau ibu rumah tangga yang bekerja. Kondisi inilah yang menyebabkan ibu rumah tangga yang tadinya hanya di sektor domestik pada akhirnya turut dalam sektor publik (Karnaen dan Amanah 2017).
Analisis Gender pada Rumah Tangga Nelayan di Desa Cituis Kabupaten Tangerang
95
72
Gambar 1. Gender Gap dalam pendapatan rumah tangga nelayan di Desa Cituis Kabupaten Tangerang, Tahun 2018
Peran gender dalam pengambilan keputusan
Peran gender dalam pengambilan keputusan dipengaruhi oleh norma yang ada di dalam masyarakat dimana laki-laki atau suami harus lebih dominan dibandingkan istri dalam pengambilan keputusan. Hal ini terkait dengan peran suami sebagai pencari nafkah utama, menjadikan suami paling menguasai sumber daya keluarga. Sehingga dalam pola hubungan yang tradisional, maka suami yang paling menentukan dalam pengambilan keputusan keluarga (Setiawati et al., 2017).
Pada kenyataannya, terdapat berbagai variasi tentang soal pengambilan keputusan dalam keluarga. Adakalanya perempuan/istri tidak diikutsertakan, namun adakalanya justru perempuan yang menentukan dalam pengambilan keputusan. Banyak pula keputusan dalam keluarga dilakukan bersama-sama antara suami dan istri. Pada kasus keluarga nelayan di Desa Cituis Kabupaten Tangerang kontribusi isteri dalam perekonomian keluarga secara langsung atau tidak tersebut, meningkatkan posisi tawar isteri dalam pengambilan keputusan di keluarganya.
Tabel 3 memperlihatkan bahwa pengambilan keputusan dalam rumah tangga nelayan pada kegiatan domestik untuk penyediaan makanan 54,29 % dominan diputuskan istri tapi masih ada campur tangan suami, keputsan utuk pendidikan anak 48, 57 % diputuskan bersama-sama antara suami dan istri, keputusan untuk kesehatan keluarga 37,14 % diputuskan bersama-sama,