provinsi dan Kabupaten terkait dengan pelaksanaan program/kegiatan rutinitas SKPD, program penanggulangan kemiskinan, instrumen proyek KPDT, dan forum‐forum temu dunia usaha, atau forum‐forum kerjasama antar kabupaten; 4) tidak ada pedoman monev yang disusun oleh Tim
Koordinasi Provinsi dan kabupaten, yang menjabarkan lima sasaran prioritas PPDT yang
disesuaikan dengan upaya penyelesaian faktor‐faktor ketertinggalan masing‐masing daerah.
5. Perbedaan Karakteristik Wilayah Studi
Meski tidak terlalu banyak perbedaan antara model pengelolaan PPDT di kabupaten yang mewakili wilayah daratan/pedalaman dengan model pengelolaan PPDT di kabupaten yang mewakili pesisir/kepulauan, namun pada hal‐hal tertentu terdapat perbedaan, seperti dalam hasil realisasi pelaksanaan RAD PPDT, dalam proses penyusunan dan koordinasi pelaksanaan RAD PPDT di kabupaten, dan dalam pelaksanaan monitoring evaluasi implementasi RAD PPDT. Perbedaan hasil RAD PPDT akan mencolok apabila peneliti menelaah substansi RAD yang dikaitkan dengan ketepatan faktor‐faktor penyebab ketertinggalan kabupaten antara wilayah yang didominasi wilayah daratan/pedalaman dengan wilayah yang didominasi pesisir/kepulauan; dan menelaah tingkat pemahaman pada Tim Koordinasi RAD PPDT di masing‐ masing wilayah studi.
7.2
Rekomendasi
Berdasarkan hasil kesimpulan, rekomendasi yang dapat disampaikan sebagai bahan masukan bagi stakeholders dalam rangka mendorong pelaksanaan percepatan pembangunan daerah tertinggal di masa mendatang, adalah sbb :
1. Diperlukan adanya Program Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparat Perencana di Daerah
Povinsi dan Kabupaten, terkait dengan upaya meningkatkan pengelolaan percepatan
pembangunan daerah tertinggal, dengan agenda materi pelatihan antara lain menyangkut
tentang : a) keberimbangan pengusulan jumlah kegiatan dan jumlah anggaran dalam RAD PPDT Provinsi dan Kabupaten yang berumber dari APBN, APBD Provinsi atau APBD Kabupaten sesuai PP 38 Tahun 2007; b) keberimbangan pengusulan jumlah kegiatan dan jumlah anggaran dalam RAD PPDT Provinsi dan Kabupaten yang berumber dari pemerintah, swasta/pelaku usaha, masyarakat, dan stakeholders lainnya; c) konsistensi jumlah usulan dengan realisasinya antar SKPD sesuai dengan skala prioritas dalam penyelesaian faktor‐faktor ketertinggalan di masing‐ masing daerah; d) kesesuaian, konsistensi dan keberimbangan realisasi program/kegiatan antar SKPD, pelaku usaha, dan masyarakat, dalam merealisasikan lima sasaran prioritas PPDT di tingkat provinsi dan kabupaten; e) kesesuaian, konsistensi dan keberimbangan realisasi program/kegiatan kerjasama antar wilayah kabupaten yang dikoordinasikan oleh provinsi; f) kesesuaian dan keterpaduan implementasi RAD PPDT Kabupaten SBB dengan sejumlah program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan dari Pemerintah.
2. Diperlukan kajian khusus oleh masing‐masing kabupaten sebelum penyusunan RAD, untuk
keperluan penentuan skala prioritas, kerangka logis, target indikator output maupun outcame, proses pentahapan, asas realistis, dan ketepatan stakeholders pelaksana dalam substansi RAD PPDT sehingga mampu mewujudkan ketepatan dan pemfokusan jenis program/kegiatan dalam menyelesaian faktor‐faktor penyebab ketertinggalan daerah tersebut, agar RAD PPDT tidak lagi didominasi copy paste dari RAN PPDT.
3. Tim Koordinasi RAD PPDT Provinsi dan Kabupaten harus meningkatkan koordinasi pengelolaan
dengan stakeholders melalui pemanfaatan sistem dan mekanisme Musrenbang, forum‐forum
koordinasi SKPD, forum‐forum koordinasi instrumen proyek Kementerian PDT, forum‐forum
Koordinasi Penyusunan RAD PPDT Provinsi dan Kabupaten, untuk substansi RAD PPDT sekaligus
sosialisasi peningkatan dukungan sektor dan pelaku usaha.
4. Tim Koordinasi RAD PPDT Provinsi perlu menyediakan media koordinasi untuk keterpaduan
program/kegiatan yang bersifat koordinasi dan kerjasama antar wilayah kabupaten di dalam
RAD PPDT Kabupaten dan Provinsi. Hal ini dapat memanfaatkan salah satunya dari program dari Kementerian PDT tentang Regional Management.
5. Kementerian PDT seyogyanya lebih mengefektifkan koordinasi dengan provinsi dan kabupaten
melalui : penyediaan pedoman sistem dan mekanisme koordinasi dari Kementerian PDT dalam
pelaksanaan RAD PPDT di provinsi dan kabupaten; pengawalan penyusunan RAS PDT oleh SKPD yang dikoordinasikan oleh Bappeda Provinsi dan Kabupaten; mendorong pembuatan nota kesepakatan yang dapat diacu oleh SKPD provinsi dan kabupaten dalam mendukung pelaksanaan RAD PDT; menyediakan media koordinasi reguler misalnya melalui website dan Rakor khusus tentang perkembangan dukungan rencana dan pelaksanaan oleh kementerian/lembaga di pusat terhadap RAD PPDT provinsi dan kabupaten; meningkatkan proses literasi antar K/L dan SKPD dalam Pra‐Musrenbang.
6. Kementerian PDT dan Tim Koordinasi RAD PPDT provinsi dan kabupaten seyogyanya lebih
memanfaatkan forum‐forum koordinasi tentang pelaksanaan program/kegiatan yang terkait
dengan penanggulangan kemiskinan dengan instrumen proyek KPDT untuk mendorong PPDT di kabupaten.
7. Kementerian PDT seyogyanya meminta laporan secara reguler tentang hasil monev yang
disusun oleh Tim Koordinasi RAD PPDT di provinsi dan kabupaten, serta mengawal tindak
lanjutnya di tingkat provinsi dan kabupaten. Hal ini dapat dilakukan antara lain melalui
pemanfaatan forum‐forum monev yang terkait dengan pelaksanaan program/kegiatan rutinitas SKPD, program penanggulangan kemiskinan, instrumen proyek KPDT, dan forum‐forum temu dunia usaha, atau forum‐forum kerjasama antar kabupaten, oleh Tim Koordinasi RAD PPDT di provinsi dan kabupaten.
8. Kementerian PDT harus mendorong dan menguatkan instrumen pelaksanaan monev bagi Tim
Koordinasi Provinsi dan Kabupaten dalam menjabarkan sasaran monev menyangkut lima
prioritas PPDT (a.l : pengembangan ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat, pengembangan
kelembagaan, pembangunan sarana prasarana, penanganan karakteristik daerah khusus) yang
kemudian disesuaikan dengan upaya penyelesaian faktor‐faktor ketertinggalan secara spesifik pada masing‐masing daerah.
L A M P I R A N
K U E S I O N E R
---
Kuesioner ini dimaksudkan sebagai data primer bagi penyusunan kajian yang diselenggarakan oleh Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal Kementerian Negara PPN/Bappenas dengan topik
“
Kajian Keserasian Dan Keterpaduan Pengelolaan Pembangunan Daerah Tertinggal”. Kami mohon kesediaan Bapak/Ibu untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini sesuai dengan pengalaman Bapak/Ibu terkait topik terkait. Kami akan menjamin kerahasiaan sumber responden dan data yang diberikan. Atas partisipasi Bapak/Ibu diucapkan terima kasih .---DATA RESPONDEN
Nama : ... Instansi : ... Jabatan : ...PERTANYAAN
1. Apakah Instansi Bapak/Ibu mengetahui dan atau pernah menerima Dokumen Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT) dan Rencana Aksi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (RAN PPDT)? ......
2. Mohon dijelaskan bagaimana partisipasi/keterlibatan instansi Bapak/Ibu dalam penyusunan STRANAS PPDT dan RAN PPDT ? ... ... ... ... ... ...
3. Apakah Instansi Bapak/Ibu menyusun dokumen Rencana Aksi Sektoral (RAS) PPDT ? Jika ya, mohon jelaskan bagaimana mekanisme penyusunannya.. Jika tidak, mengapa ? ...
...
...
4. Apakah Bapak/Ibu mengikuti Rapat Koodinasi Nasional-PPDT dalam rangka pembahasan STRANAS PPDT dan RAN PPDT ? Jika mengikuti, menurut pendapat Bapak/Ibu bagaimana efektifitas pelaksanaan forum Rakornas tersebut dalam mensinergikan rencana K/L dalam pembangunan daerah tertinggal ? jika tidak mengikuti, mengapa ? ...
...
...
5. Disamping Rakornas PPDT, apakah ada forum/rapat koordinasi yang diselenggarakan oleh Kementerian PDT untuk membahas dan megkoordinasikan STRANAS PPDT dan RAN PPDT ? Seberapa sering frekuensinya dan agenda apa yang dibahas dalam forum/rapat tersebut ? ...
...
6. Apakah STRANAS PPDT dan RAN PPDT telah menjadi bahan acuan Bapak/Ibu dalam menyusun program dan kegiatan dalam RENSTRA K/L atau RENJA K/L, khususnya dalam merencanakan kegiatan pembangunan di 199 daerah tertinggal ? Jika ya, mohon jelaskan. Jika tidak mengapa?
...
...
...
7. Apakah Instansi Bapak/Ibu telah memiliki regulasi khusus (Peraturan menteri, Juknis, dll) yang terkait dengan pembangunan daerah tertinggal ? Jika ada mohon disebutkan. ... ... ... ... ... ...
8. Apakah instansi Bapak/Ibu selalu menindaklanjuti berbagai usulan pembangunan dari daerah-daerah tertinggal, khususnya usulan yang tertuang dalam dokumen Rencana Aksi Daerah (RAD) PPDT yang disampaikan Pemerintah Provinsi/Kabupaten ? jika ya, bagaimana bentuk tindak lanjutnya ? Jika tidak, mengapa ? ...
...
...