• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dalam dokumen Kajian (Halaman 153-158)

provinsi dan Kabupaten terkait dengan pelaksanaan program/kegiatan rutinitas SKPD, program  penanggulangan kemiskinan, instrumen proyek KPDT, dan forum‐forum temu dunia usaha, atau  forum‐forum kerjasama antar kabupaten; 4) tidak ada pedoman monev yang disusun oleh Tim 

Koordinasi Provinsi dan kabupaten, yang menjabarkan lima sasaran prioritas PPDT yang 

disesuaikan dengan upaya penyelesaian faktor‐faktor ketertinggalan masing‐masing daerah.   

5. Perbedaan Karakteristik Wilayah Studi 

Meski tidak terlalu banyak perbedaan antara model pengelolaan PPDT di kabupaten yang  mewakili wilayah daratan/pedalaman dengan model pengelolaan PPDT di kabupaten yang  mewakili pesisir/kepulauan, namun pada hal‐hal tertentu terdapat perbedaan, seperti dalam  hasil realisasi pelaksanaan RAD PPDT, dalam proses penyusunan dan koordinasi pelaksanaan  RAD PPDT di kabupaten, dan dalam pelaksanaan monitoring evaluasi implementasi RAD PPDT.   Perbedaan hasil RAD PPDT akan mencolok apabila peneliti menelaah substansi RAD yang  dikaitkan dengan ketepatan faktor‐faktor penyebab ketertinggalan kabupaten antara wilayah  yang  didominasi  wilayah  daratan/pedalaman  dengan  wilayah  yang  didominasi  pesisir/kepulauan; dan menelaah tingkat pemahaman pada Tim Koordinasi RAD PPDT di masing‐ masing wilayah studi. 

 

7.2

Rekomendasi 

 

Berdasarkan hasil kesimpulan, rekomendasi yang dapat disampaikan sebagai bahan masukan bagi  stakeholders dalam rangka mendorong pelaksanaan percepatan pembangunan daerah tertinggal di  masa mendatang, adalah sbb :  

 

1. Diperlukan adanya Program Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparat Perencana di Daerah 

Povinsi  dan  Kabupaten,  terkait  dengan  upaya  meningkatkan  pengelolaan  percepatan 

pembangunan daerah tertinggal, dengan agenda materi pelatihan antara lain menyangkut 

tentang : a) keberimbangan pengusulan jumlah kegiatan dan jumlah anggaran dalam RAD PPDT  Provinsi dan Kabupaten yang berumber dari APBN, APBD Provinsi atau APBD Kabupaten sesuai  PP 38 Tahun 2007; b) keberimbangan pengusulan jumlah kegiatan dan jumlah anggaran dalam  RAD PPDT Provinsi dan Kabupaten yang berumber dari pemerintah, swasta/pelaku usaha,  masyarakat, dan stakeholders lainnya; c) konsistensi jumlah usulan dengan realisasinya antar  SKPD sesuai dengan skala prioritas dalam penyelesaian faktor‐faktor ketertinggalan di masing‐ masing daerah; d) kesesuaian, konsistensi dan keberimbangan realisasi program/kegiatan antar  SKPD, pelaku usaha, dan masyarakat, dalam merealisasikan lima sasaran prioritas PPDT di  tingkat  provinsi  dan  kabupaten;  e)  kesesuaian,  konsistensi  dan  keberimbangan  realisasi  program/kegiatan kerjasama antar wilayah kabupaten yang dikoordinasikan oleh provinsi; f)  kesesuaian dan keterpaduan implementasi RAD PPDT Kabupaten SBB dengan sejumlah program  pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan dari Pemerintah. 

 

2. Diperlukan kajian khusus oleh masing‐masing kabupaten sebelum penyusunan RAD, untuk 

keperluan penentuan skala prioritas,  kerangka logis, target indikator output maupun outcame,  proses pentahapan, asas realistis, dan ketepatan stakeholders pelaksana dalam substansi RAD  PPDT sehingga mampu mewujudkan ketepatan dan pemfokusan jenis program/kegiatan dalam  menyelesaian faktor‐faktor penyebab ketertinggalan daerah tersebut, agar RAD PPDT tidak lagi  didominasi copy paste dari RAN PPDT.  

 

3. Tim Koordinasi RAD PPDT Provinsi dan Kabupaten harus meningkatkan koordinasi pengelolaan 

dengan stakeholders melalui pemanfaatan sistem dan mekanisme Musrenbang, forum‐forum 

koordinasi SKPD, forum‐forum koordinasi instrumen proyek Kementerian PDT,  forum‐forum 

Koordinasi Penyusunan RAD PPDT Provinsi dan Kabupaten, untuk substansi RAD PPDT sekaligus 

sosialisasi peningkatan dukungan sektor dan pelaku usaha.   

4. Tim Koordinasi RAD PPDT Provinsi perlu menyediakan media koordinasi untuk keterpaduan 

program/kegiatan yang bersifat koordinasi dan kerjasama antar wilayah kabupaten di dalam 

RAD PPDT Kabupaten dan Provinsi. Hal ini dapat memanfaatkan salah satunya dari program dari  Kementerian PDT tentang Regional Management.  

 

5. Kementerian PDT seyogyanya lebih mengefektifkan koordinasi dengan provinsi dan kabupaten 

melalui : penyediaan pedoman sistem dan mekanisme koordinasi dari Kementerian PDT dalam 

pelaksanaan RAD PPDT di provinsi dan kabupaten; pengawalan penyusunan RAS PDT oleh SKPD  yang dikoordinasikan oleh Bappeda Provinsi dan Kabupaten; mendorong pembuatan  nota  kesepakatan  yang  dapat  diacu  oleh  SKPD  provinsi  dan  kabupaten  dalam  mendukung  pelaksanaan RAD PDT; menyediakan media koordinasi reguler misalnya melalui website dan  Rakor  khusus  tentang  perkembangan  dukungan  rencana  dan  pelaksanaan  oleh  kementerian/lembaga di pusat terhadap RAD PPDT provinsi dan kabupaten; meningkatkan  proses literasi antar K/L dan SKPD dalam Pra‐Musrenbang.  

 

6. Kementerian PDT dan Tim Koordinasi RAD PPDT provinsi dan kabupaten seyogyanya lebih 

memanfaatkan forum‐forum koordinasi tentang pelaksanaan program/kegiatan yang terkait 

dengan penanggulangan kemiskinan dengan instrumen proyek KPDT untuk mendorong PPDT di  kabupaten. 

 

7. Kementerian PDT seyogyanya meminta laporan secara reguler tentang hasil monev yang 

disusun oleh Tim Koordinasi RAD PPDT di provinsi dan kabupaten, serta mengawal tindak 

lanjutnya di tingkat provinsi  dan  kabupaten.  Hal ini dapat dilakukan antara lain  melalui 

pemanfaatan forum‐forum monev yang terkait dengan pelaksanaan program/kegiatan rutinitas  SKPD, program penanggulangan kemiskinan, instrumen proyek KPDT, dan forum‐forum temu  dunia usaha, atau forum‐forum kerjasama antar kabupaten, oleh Tim Koordinasi RAD PPDT di  provinsi dan kabupaten. 

 

8. Kementerian PDT harus mendorong dan menguatkan instrumen pelaksanaan monev bagi Tim 

Koordinasi Provinsi dan Kabupaten dalam menjabarkan sasaran monev menyangkut lima 

prioritas PPDT (a.l : pengembangan ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat, pengembangan 

kelembagaan, pembangunan sarana prasarana, penanganan karakteristik daerah khusus) yang 

kemudian disesuaikan dengan upaya penyelesaian faktor‐faktor ketertinggalan secara spesifik  pada masing‐masing daerah. 

                       

L A M P I R A N 

 

K U E S I O N E R

---

Kuesioner ini dimaksudkan sebagai data primer bagi penyusunan kajian yang diselenggarakan oleh Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal Kementerian Negara PPN/Bappenas dengan topik

Kajian Keserasian Dan Keterpaduan Pengelolaan Pembangunan Daerah Tertinggal”. Kami mohon kesediaan Bapak/Ibu untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini sesuai dengan pengalaman Bapak/Ibu terkait topik terkait. Kami akan menjamin kerahasiaan sumber responden dan data yang diberikan. Atas partisipasi Bapak/Ibu diucapkan terima kasih .---

DATA RESPONDEN

Nama : ... Instansi : ... Jabatan : ...

PERTANYAAN

1. Apakah Instansi Bapak/Ibu mengetahui dan atau pernah menerima Dokumen Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT) dan Rencana Aksi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (RAN PPDT)? ...

...

2. Mohon dijelaskan bagaimana partisipasi/keterlibatan instansi Bapak/Ibu dalam penyusunan STRANAS PPDT dan RAN PPDT ? ... ... ... ... ... ...

3. Apakah Instansi Bapak/Ibu menyusun dokumen Rencana Aksi Sektoral (RAS) PPDT ? Jika ya, mohon jelaskan bagaimana mekanisme penyusunannya.. Jika tidak, mengapa ? ...

...

...

4. Apakah Bapak/Ibu mengikuti Rapat Koodinasi Nasional-PPDT dalam rangka pembahasan STRANAS PPDT dan RAN PPDT ? Jika mengikuti, menurut pendapat Bapak/Ibu bagaimana efektifitas pelaksanaan forum Rakornas tersebut dalam mensinergikan rencana K/L dalam pembangunan daerah tertinggal ? jika tidak mengikuti, mengapa ? ...

...

...

5. Disamping Rakornas PPDT, apakah ada forum/rapat koordinasi yang diselenggarakan oleh Kementerian PDT untuk membahas dan megkoordinasikan STRANAS PPDT dan RAN PPDT ? Seberapa sering frekuensinya dan agenda apa yang dibahas dalam forum/rapat tersebut ? ...

...

6. Apakah STRANAS PPDT dan RAN PPDT telah menjadi bahan acuan Bapak/Ibu dalam menyusun program dan kegiatan dalam RENSTRA K/L atau RENJA K/L, khususnya dalam merencanakan kegiatan pembangunan di 199 daerah tertinggal ? Jika ya, mohon jelaskan. Jika tidak mengapa?

...

...

...

7. Apakah Instansi Bapak/Ibu telah memiliki regulasi khusus (Peraturan menteri, Juknis, dll) yang terkait dengan pembangunan daerah tertinggal ? Jika ada mohon disebutkan. ... ... ... ... ... ...

8. Apakah instansi Bapak/Ibu selalu menindaklanjuti berbagai usulan pembangunan dari daerah-daerah tertinggal, khususnya usulan yang tertuang dalam dokumen Rencana Aksi Daerah (RAD) PPDT yang disampaikan Pemerintah Provinsi/Kabupaten ? jika ya, bagaimana bentuk tindak lanjutnya ? Jika tidak, mengapa ? ...

...

...

Dalam dokumen Kajian (Halaman 153-158)