• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Pembagian harta pailit wajib pajak oleh kurator adalah sama dengan pembagian harta debitur sebagaimana terdapat dalam UUK dan PKPU yang menyatakan bahwa semua debitur merupakan wajib pajak, karena debitur adalah orang yang mempunyai utang, baik karena perjanjian atau UU yang dapat ditagih di pengadilan, termasuk dalam hal ini utang pajak. Utang pajak merupakan hak istimewa yang hanya dimiliki oleh negara dan dengan hak tersebut, negara yang merupakan kreditur preferen dinyatakan mempunyai hak mendahulu atas barang-barang milik wajib pajak/penanggung pajak. Kurator juga dilarang membagikan harta pailit sebelum membayar utang pajak. Kurator dapat membagikan harta pailit jika diperintahkan oleh hakim pengawas kepada kreditur yang piutangnya telah dicocokkan apabila hakim pengawas berpendapat terdapat cukup uang tunai. Pembagian harta pailit tidak dapat dibagikan kepada para kreditur apabila tidak ada putusan yang mengikat atau memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap daftar pembagian harta pailit. Sebelum melakukan pembagian harta pailit kepada para kreditur, kurator yang bertugas melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit diwajibkan untuk membuat daftar pembagian harta pailit. Terhadap daftar pembagian harta pailit yang dibuat oleh kurator tersebut dapat diajukan perlawanan dengan mengajukan surat keberatan kepada panitera pengadilan.

2. Pengajuan keberatan atas pembagian harta pailit dilakukan dengan diajukannya surat keberatan oleh kreditur, baik kreditur separatis, kreditur preferen/istimewa, ataupun kreditur konkuren, sebagai bentuk perlawanan atas daftar pembagian harta pailit yang dibuat oleh kurator kepada hakim pengawas. Objek pengajuan keberatan tersebut adalah daftar pembagian harta pailit yang dibuat oleh kurator. Tenggang waktu pengajuan keberatan ditetapkan oleh hakim pengawas pada saat penetapan dan pengumuman daftar harta pailit. Tenggang waktu yang ditetapkan oleh hakim pengawas tersebut bersifat subjektif sehingga merugikan pihak-pihak yang ingin mengajukan perlawanan. Apabila dilakukan perlawanan terhadap daftar pembagian harta pailit tersebut, maka hakim pengawas akan menetapkan hari untuk memeriksa perlawanan tersebut di sidang Pengadilan terbuka untuk umum. Pada hari sidang pertama atau paling lama 7 (tujuh) hari kemudian, pengadilan wajib memberikan putusan yang disertai pertimbangan hukum yang cukup. Terhadap putusan tersebut, kurator atau kreditor dapat mengajukan permohonan kasasi. Sebelum diucapkannya putusan perkara terkait perlawanan terhadap daftar pembagian harta pailit, kurator tidak dapat melakukan pembagian harta tersebut.

3. Posisi kasus adalah KPP Pratama Bandung Bojonagara sebagai kreditur PT. Metrocorp Indonusa yang didasarkan pada utang pajak, mengajukan keberatan sebagai bentuk perlawanan atas daftar pembagian harta pailit yang dibuat oleh Drs. Bakhtiar, Msi, SPA selaku kurator PT. Metrocorp Indonusa (dalam pailit) pada tanggal 18 Agustus 2010. KPP Bandung Bojonegoro yang keberatan dengan daftar tersebut kemudian melakukan perlawanan dengan mengajukan

surat keberatan tertanggal 25 Agustus 2010, namun tanggal stempel pos yang dikirim tertanggal 27 Agustus 2010. Dasar pengajuan perlawanan tersebut adalah tidak diperhatikannya kedudukan KPP Pratama Bandung Bojonagara sebagai kreditur preferen/istimewa yang memiliki hak mendahulu sebagai perwakilan negara atas utang pajak terkait Pasal 60 ayat (2) UUK dan PKPU, Pasal 21 ayat (3a) UU KUP, dan Pasal 19 ayat (6) UU PPSP dalam daftar pembagian harta pailit oleh kurator, yang mengakibatkan jumlah pembayaran yang seharusnya diterima oleh KPP Pratama Bandung Bojonagara lebih kecil daripada PT. Bank Mandiri Persero (Tbk) yang kedudukannya sebagai kreditur separatis. Namun, dasar pertimbangan hakim mengacu kepada syarat formilnya, yaitu terhadap tenggang waktu pengajuan surat keberatan oleh KPP Pratama Bandung Bojonagara yang telah lalai/terlambat menggunakan haknya untuk mengajukan keberatan atas daftar pembagian harta pailit PT. Metrocorp Indonusa oleh kurator terkait Pasal 193 ayat (1) UUK dan PKPU, yang memberikan kewenangan kepada hakim pengawas untuk menetapkan tenggang waktu pengajuan surat keberatan terhadap daftar pembagian harta pailit secara subjektif, sehingga hakim Pengadilan Niaga dalam Putusan No. 16/Pailit/2007/PN.Niaga.Jkt.Pst Jo. No. 01/PKPU/2007/PN.Niaga.Jkt.Pst tertanggal 12 Oktober 2010 menolak permohonan keberatan pemohon KPP Pratama Bandung Bojonagara atas daftar pembagian harta pailit kepada para kreditur PT. Metrocorp Indonusa. Terhadap putusan tersebut KPP Pratama Bandung Bojonagara mengajukan permohonan kasasi dan diterima oleh kepaniteraan pengadilan pada tanggal 19 Oktober 2010 dengan Putusan

Mahkamah Agung No. 963 K/Pdt.Sus/2010 yang menolak permohonan kasasi KPP Pratama Bandung Bojonagara. Kedudukan kantor pelayanan pajak sebagai kreditur istimewa dalam mengajukan permohonan keberatan atas pembagian harta pailit ditinjau berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 963 K/Pdt.Sus/2010 seharusnya dapat diterima dan dikabulkan apabila secara judexfacti KPP Pratama Bandung Bojonagara tidak lalai/terlambat dalam mengajukan keberatan atas daftar pembagian harta pailit yang dibuat oleh kurator. Hal tersebut dikarenakan kedudukan KPP Pratama Bandung Bojonagara sebagai kreditur preferen/istimewa yang juga berhak mengajukan keberatan atas daftar pembagian harta pailit dan memiliki hak mendahulu sebagai perwakilan negara atas utang pajak terkait Pasal 60 ayat (2) UUK dan PKPU, Pasal 138 UUK dan PKPU, Pasal 193 ayat (1) UUK dan PKPU, Pasal 21 ayat (3a) UU KUP, dan Pasal 19 ayat (6) UU PPSP, serta Penjelasan Umum Butir 4 UU No.4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, harus didahulukan pembayaran utangnya daripada kreditur-kreditur lainnya.

B. Saran

1. Kedudukan kreditur preferen dalam mengajukan permohonan pailit berdasarkan perundang-undangan di Indonesia saat ini sudah sangat jelas karena pada dasarnya pengajuan permohonan pailit tidak melihat kedudukan kreditur, yang terpenting dalam permohonan pailit, syarat-syarat dari permohonan pailit sudah dilengkapi. Adapun perbaikan dalam prosedur permohonan kepailitan ini adalah kejelasan terkait dengan pembagian harta

harta pailit kepada para kreditur dengan harus mengutamakan kedudukan masing-masing kreditur.

2. Prosedur permohonan keberatan atas pembagian harta pailit sudah benar akan prosesnya dan dapat melindungi kreditur lainnya dalam hal pembagian harta pailit. Akan tetapi yang harus diperbaiki adalah dalam prosedur ini dapat menggunakan teknologi yang ada sekarang ini sebagai bentuk efesiensi waktu tempat dan biaya. Pastinya pelaksanaan ini juga harus melalui aturan terkait perubahan ini. Oleh karenanya aturan untuk memperbolehkan pengajuan permohonan keberatan melalui cara online seperti email atau menggunakan sistem teknologi lainnya dapat dibuat.

3. Kedudukan kantor pelayanan pajak sebagai kreditur istimewa dalam mengajukan permohonan keberatan atas pembagian harta pailit ditinjau dari undang-undang kepailitan berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor 963 K/Pdt.Sus/2010 sudah tepat untuk mengajukan keberatan, namun yang menjadi masalah adalah pada keterlambatan dalam pengajuan keberatan tersebut. Terhadap hal ini harus ada perbaikan sumber daya manusia pada kantor pelayanan pajak agar lebih teliti dalam hal menanggapi permasalahan-permasalahan seperti ini.