Tahap III. Analisis Kualitas Telur
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpukan bahwa pemberian tiga jenis konsentrat protein yang berbeda dalam ransum ayam ras petelur memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap kualitas telur ayam ras, baik kualitas eksternal maupun kualitas internal telur ayam ras.
Saran
Ayam yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam mulai bertelur dan waktu penelitian yang digunakan sangat singkat maka penelitian ini perlu diperpanjang.
RINGKASAN
Telur merupakan sumber protein hewani yang berasal dari ternak unggas khususnya ayam ras petelur. Ayam ras petelur memerlukan pakan dengan nutrisi yang tepat untuk dapat menghasilkan produksi yang tinggi, kebutuhan nutrisinya dikhususkan untuk pertumbuhan dan produksi telur. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi dan kualitas telur yang baik maka perlu dimbangi dengan kualitas pakan secara lengkap. Pakan lengkap merupakan pakan yang mengandung semua unsur gizi yang dibutuhkan ternak unsur gizi tersebut di antaranya protein, energi, vitamin, mineral, dan air. Pakan yang diberikan pada ayam ras petelur di masyarakat pada umumnya pakan yang tersusun dari konsentrat energy berupa dedak padi dan jagung kuning serta konsentrat protein buatan pabrik.
Adapun Jenis konsentrat protein produk industri pakan ternak yang terdapat di poultry shop di Nusa Tenggara Barat khususnya di Kota Mataram adalah konsentrat protein RK 24 AA+, KLK super 36 dan KR 55 S. Konsentrat protein RK 24 AA+ merupakan konsentrat protein yang diproduksi oleh PT. Charoen Pokphand yang memiliki kandungan nutrisi yaitu kadar air 12%, protein 34-36%, lemak 3%, serat 8%, abu 30%, kalsium 10%, dan fosfor 1.1%. Konsentrat protein KLK super 36 yaitu konsentrat protein yang diproduksi oleh PT. Japfa Comfeed Indonesia dengan kandungan
35%, lemak kasar 3%, serat kasar 5%, abu 33%, kalsium 9-12%, dan fosfor 1.0-2%.
Berdasarkan kandungan nutrisi yang tersedia pada bahan pakan konsentrat protein untuk itu perlu dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh pemberian tiga jenis konsentrat protein RK 24 AA+, KLK 36 S dan KR 55 S terhadap kualitas eksternal dan internal telur ayam ras petelur.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tiga jenis konsentrat protein dalam ransum terhadap kualitas eksternal dan internal telur ayam ras petelur.
Adapun metode penelitian yang digunakan yakni mempersiapkan kandang baterai yang berukuran 40x40 cm, mempersiapkan ayam ras petelur sebanyak 45 ekor yang dikelompokan dalam tiga perlakuan, dari setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan, dari setiap ulangan terdiri 5 ekor ayam ras petelur, kemudian pemberian pakan dan air minum diberikan setiap pagi dan sore hari secara addlibitum sesuai dengan perlakuan. Tahap pengambilan sampel untuk pengujian kualitas telur baik kualitas eksternal maupun internal di lakukan pada periode awal, tengah, dan akhir produksi, dimana setiap perlakuan dan ulangan masing-masing 3 butir telur, sehingga jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 81 butir telur. Kemudiaan dilakukan analisis kualitas telur di Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan keragaman (ANOVA) atas dasar rancangan acak lengkap (RAL).
. Rata-rata berat telur ayam ras CV.909 yang diberi pakan konsentrat yang berbeda pada perlakuan P1 memiliki berat telur 54,41 g/butir, dan perlakuan P2 memiliki berat telur 53,88 g/butir, dan perlakuan P3 memiliki berat telur 56,02 g/butir. Berat telur yang diperoleh dalam penelitian ini termasuk dalam kategori medium dan large. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata berat telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05), tidak adanya perbedaan yang nyata terhadap berat telur dari ketiga perlakuan ini disebabkan kualitas ransum yang diberikan pada setiap perlakuan relatif sama yaitu iso protein dan iso energi. Selain kualitas pakan yang relatif sama juga umur ayam yang digunakan dalam penelitian juga sama yaitu umur 6 bulan.
Rata-rata volume telur ayam ras CV.909 yang diberi pakan konsentrat yang berbeda pada perlakuan P1 memiliki volume telur 49,96 ml, dan perlakuan P2 memiliki volume telur 48,51 ml, dan perlakuan P3 memiliki volume telur 52,07 ml. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata volume telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap volume telur. Tidak adanya perbedaan yang nyata terhadap volume telur dari ketiga perlakuan ini disebabkan karena persentase penggunaan konsentrat protein dalam ransum yang berbeda dari setiap
ml, dan perlakuan P2 memiliki berat jenis telur 1.11 g/ml, dan perlakuan P3 memiliki berat jenis telur 1.08 g/ml. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata berat jenis telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap berat jenis telur, tidak adanya perbedaan yang nyata terhadap berat jenis telur dari ketiga perlakuan ini disebabkan karena presentase penggunaan mineral seperti kalsium dalam ransum relatif sama yang berkisar antara 3.026 %- 3.626 %. Berat jenis telur diperoleh dari hubungan antara berat telur dan volume telur.
Rata-rata indeks bentuk telur telur ayam ras CV.909 yang diberi pakan konsentrat yang berbeda pada perlakuan P1 memiliki indeks bentuk telur 79,27, dan perlakuan P2 memiliki indeks bentuk telur 79,85, dan perlakuan P3 memiliki indeks bentuk telur 79,43. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata indeks bentuk telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap indeks bentuk telur. Indeks bentuk telur yang diperoleh dalam penelitian ini berkisar 79,27-79,85 hampir mendekati kisaran indeks bentuk telur 77 Hal ini disebabkan karena ayam masih dalam awal produksi telur.
Rata-rata indeks albumen telur telur ayam ras CV.909 yang diberi pakan konsentrat yang berbeda pada perlakuan P1 memiliki indeks albumen telur 0,09, dan perlakuan P2 memiliki indeks albumen telur 0,07, dan perlakuan P3 memiliki indeks albumen telur 0,08. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata indeks albumen telur ayam ras petelur yang
diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap indeks albumen telur. Hal ini disebabkan persentase protein dalam ransum relatif sama.
Rata-rata indeks yolk telur telur ayam ras CV.909 yang diberi pakan konsentrat yang berbeda pada perlakuan P1 memiliki indeks yolk telur 0,46, dan perlakuan P2 memiliki indeks yolk telur 0,46, dan perlakuan P3 memiliki indeks yolk telur 0,45. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata indeks yolk telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap indeks yolk telur. Hal ini disebabkan persentase protein dalam ransum relatif sama.
Rata-rata berat yolk telur telur ayam ras CV.909 yang diberi pakan konsentrat yang berbeda pada perlakuan P1 memiliki berat yolk telur 11,98 g, dan perlakuan P2 memiliki berat yolk telur 12,09 g, dan perlakuan P3 memiliki berat yolk telur 13,54 g. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata berat yolk telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap diameter yolk telur. Hal ini disebabkan karena presentase protein dalam ransum dari ketiga perlakuan relatif sama yaitu berkisar 17,84-18,14 %.
warna yolk telur 6.85. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata warna yolk telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap warna yolk telur. Tidak nyata pengaruh perlakuan terhadap warna kuning telur disebabkan komposisi jagung kuning dalam ransum relatif sama yaitu 40 %.
Rata-rata nilai Haugh unit telur telur ayam ras CV.909 yang diberi pakan konsentrat yang berbeda pada perlakuan P1 memiliki nilai Haugh unit telur 99,84, dan perlakuan P2 memiliki nilai Haugh unit telur 93,17, dan perlakuan P3 memiliki nilai Haugh unit telur 92,07. Dari hasil penelitian diperoleh Rerata nilai HU dari ketiga macam perlakuan berkisar antara 92,07 sampai 9,84 atau digolongkan kualitas AA. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata nilai Haugh unit telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap nilai haugh unit telur. Haugh Unit (HU) adalah ukuran kualitas telur bagian dalam yang didapat dari hubungan antara tinggi putih telur dengan bobot telur.
Rata-rata berat kerabang telur telur ayam ras CV.909 yang diberi pakan konsentrat yang berbeda pada perlakuan P1 memiliki berat kerabang telur 6,34 g, dan perlakuan P2 memiliki berat kerabang telur 6,32 g, dan perlakuan P3 memiliki berat kerabang telur 6,50 g. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata berat kerabang telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap berat
kerabang telur. Hal ini disebabkan karena presentase penggunaan kalsium dalam ransum yang relatif sama berkisar 3.026-3.626 %. Serta penggunaan fosfor dalam ransum berkisar 0.892-1.062 %.
Rata-rata tebal kerabang telur telur ayam ras CV.909 yang diberi pakan konsentrat yang berbeda pada perlakuan P1 memiliki tebal kerabang telur 0.41 mm, dan perlakuan P2 memiliki tebal kerabang telur 0.40 mm, dan perlakuan P3 memiliki tebal kerabang telur 0.42 mm. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata tebal kerabang telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap tebal kerabang telur. Tidak nyata terhadap tebal kerabang pada penelitian ini menunjukan bahwa kandungan kalsium (Ca) pada ransum digunakan dalam pakan ayam ras petelur relatif hampir sama sehingga tidak dapat mempengaruhi tebal kerabang telur.
Rata-rata diameter rongga udara telur telur ayam ras CV.909 yang diberi pakan konsentrat yang berbeda pada perlakuan P1 memiliki diameter rongga udara telur 13,98 mm, dan perlakuan P2 memiliki diameter rongga udara telur 12,82 mm, dan perlakuan P3 memiliki diameter rongga udara telur 13,72 mm. Dari hasil analisis ANOVA menunjukan bahwa rata-rata diameter rongga udara telur ayam ras petelur yang diberi pakan konsentrat protein antara perlakuan P1, P2, maupun P3 memberikan pengaruh yang tidak
relatif hampir sama sehingga tidak dapat mempengaruhi diameter rongga udara telur.
Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpukan bahwa pemberian tiga jenis konsentrat protein yang berbeda dalam ransum ayam ras petelur memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap kualitas telur ayam ras, baik kualitas eksternal maupun kualitas internal telur ayam ras.