EFISIENSI DAN PENURUNAN INTENSITAS EMISI GRK
6. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 KESIMPULAN
1. Kajian dalam laporan ini menjelaskan bahwa Benchmarking Kinerja Pembangkit PLTU batubara dan pembangkit fosil lainnya berhasil disusun sesuai dengan data yang tersedia. Analisis benchmarking kinerja ini disusun dengan metode statistik yang diterapkan pada data Apple Gatrik tahun 2017 dan 2018. Hasil dari analisis adalah model persamaan regresi kinerja pembangkit dapat digunakan untuk menghitung Efisiensi Termal Prediksi dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi yang dapat digunakan untuk:
a. Mengetahui kinerja dan distribusi kinerja pembangkit dengan mempertimbangkan enam (6) faktor kunci yang mempengaruhi kinerja masing-masing pembangkit yaitu (i) Daya Mampu pembangkit (MW); (ii) Usia Pembangkit (Tahun); (iii) Nilai Kalor atau Kualitas Bahan Bakar Pembangkit (kCal/kg); (iv) Karateristik Manajemen Pengoperasian dan Pemeliharaan Pembangkit; (v) Faktor Kapasitas Pembangkit (%) dan (vi) Jenis Teknologi Pembangkit.
b. Menghitung kinerja normalisasi pembangkit yang dinyatakan dalam rating score kinerja pembangkit dalam skala 1 sampai dengan 100.
c. Menghitung potensi penghematan energi, potensi reduksi emisi GRK dan intensitas emisi GRK setelah efisiensi energi dari masing-masing pembangkit dengan menggunakan berbagai skenario yang diusulkan didalam kajian ini.
2. Berdasarkan data APPLE GATRIK tahun 2017 dan 2018, jumlah PLTU di Indonesia adalah 140 units. Dari sejumlah itu, 46% (65 pembangkit) berusia dibawah 5 tahun, 29% (40 pembangkit) berusia antara 6 sampai dengan 10 tahun dan sisanya 25% (35 unit pembangkit) berusia diatas 10 tahun. Dengan demikian PLTU Batubara di Indonesia didominasi oleh pembangkit yang berusia relatif muda, berteknologi subcritical dan 68% berkapasitas kecil dari 6 MW sampai dengan 200 MW. Dengan karakteristik ini dan dari hasil analisis benchmarking kinerja pembangkit tersebut, efisiensi termal pembangkit rata-rata tergolong rendah yaitu 27,44%. Akibatnya emisi GRK pada PLTU di Indonesia cenderung tinggi rata-rata sekitar 1,24 Ton CO2/MWh.
3. Selain itu rendahnya kinerja pembangkit PLTU batubara di Indonesia umumnya disebabkan oleh:
a. Kualitas atau Nilai Kalor Bahan Bakar Batubara yang sangat rendah, rata-rata jauh dibawah 5000 kCal/kg, yaitu hanya 4033,46 kCal/kg.
b. Faktor Kapasitas (CF) pembangkit yang rendah, rata-rata hanya 45,5%.
c. Rendahnya kualitas Manajemen Pengoperasian dan Pemeliharaan pembangkit. Indikasi dari rendahnya kualitas ini adalah tidak adanya divisi manajemen energi, tidak adanya sertifikasi internasional untuk manajemen pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit. Rata-rata pembangkit hanya mengadopsi standar manajemen pengoperasian dan pemeliharaan yang yang disediakan oleh perusahaan pembangkit.
4. Rendahnya kinerja PLTU batubara berakibat tingginya emisi dan intensitas emisi GRK masing-masing pembangkit. Kontribusi emisi GRK di sektor pembangkit menjadi sangat signifkan dalam jangka panjang. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya yang serius, terukur dan melibatkan semua pemangku kepentingan terkait untuk menekan tingginya emisi GRK. 5. Upaya yang paling rasional dalam menekan tingginya emisi GRK di sektor pembangkit adalah
diterapkan pada semua PLTU batubara setelah dilakukan pengelompokan pada kinerjanya. Terdapat tiga (3) kelompok/grup kinerja pembangkit yaitu: (i) grup Low 25% adalah grup pembangkit dengan rating score kinerja antara 0 sampai dengan 25; (ii) grup Medium 50% adalah grup pembangkit dengan rating score kinerja antara 26 sampai dengan 75; dan (iii) grup Top 25% adalah grup pembangkit dengan rating score kinerja antara 75 sampai dengan 100. Peningkatan kinerja pembangkit dapat disusun dengan meningkatkan kinerja pembangkit di grup Low 25% dan grup Medium 50% menjadi setara dengan kinerja pembangkit di grup Top 25%. Dengan cara ini terdapat tiga (3) skenario penghematan energi yaitu:
a. Skenario Resiko Rendah; b. Skenario Resiko Menengah; dan c. Skenario Progresif.
6. Penghematan energi dengan Skenario Resiko Rendah, Skenario Resiko Menengah dan Resiko progresif mampu mengurangi emisi GRK secara berturut-turut mencapai 3.953.493 CO2
Ton/Tahun, 9.193.386 CO2 Ton/Tahun dan 24.563.931 CO2 Ton/Tahun. Atas dasar itu, potensi maksimum reduksi Intensitas Emisi GRK untuk ketiga skenario tersebut adalah 0.26, 0,30 dan 0,35 CO2 Ton/MWh. Rata-rata intensitas emisi GRK PLTU Batubara adalah 1,24 Ton/MWh, maka dengan ketiga skenario penghematan energi tersebut, intensitas emisi GRK yang bisa dicapai adalah 0,98, 0.94 dan 0,89 Ton/MWh.
7. Potensi penghematan energi maksimum yang bisa dicapai dari ketiga skenario tersebut diatas secara berturut-turut adalah 11.012.989 MWh/Tahun, 25.609.421 MWh/Tahun, dan 68.426.158 MWh/Tahun.
8. Analisis resiko dari masing-masing skenario penghematan energi tersebut diatas menunjukkan bahwa Skenario Resiko Rendah dan Skenario Resiko Menengah dapat diterapkan di Indonesia tanpa memerlukan regulasi atau peraturan baru, yaitu dengan menegakkan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi. Sedangkan untuk menerapkan penghematan energi dengan Skenario Progresif memerlukan dukungan pemerintah yang serius dalam bentuk peraturan baru atau revisi PP 70 Tahun 2009 dan/atau peraturan mengikat terkait lainnya serta juga dengan adanya insentif atau sanksi yang tegas kepada perusahaan pembangkit apabila tidak mampu memenuhi peraturan tersebut.
6.2 REKOMENDASI
1. Mengingat urgensi penghematan energi dan reduksi emisi GRK di sektor pembangkit, maka kajian ini merekomendasikan untuk menerapkan Usulan Implementasi Peningkatan Kinerja Pembangkit yang didasarkan atas analisis resiko dari beberapa skenario yang disebutkan diatas. Mengingat kondisi kemampuan perusahaan dan kinerja PLTU di Indonesia dan lemahnya penegakan regulasi terkait konservasi energi dan emisi pembangkit listrik, maka diperlukan regulasi yang bersifat lebih mengikat dengan program dan target penghematan energi dan emisi GRK yang terukur, realistik atau dapat dicapai oleh pembangkit, serta adanya insentif dan sanksi yang jelas dan tegas kepada setiap pembangkit yang melaksanakan atau tidak melaksanakannya. Usulan yang diajukan dalam rekomendasi ini adalah usulan dengan skenario efisiensi energi yang berkelanjutan. Usulan ini tergolong usulan antara skenario resiko menengah dan skenario progresif yang memerlukan peran aktif semua pemangku kepentingan terkait, mulai dari perusahaan pembangkit, PT PLN (Persero), Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan dan Kementerian BUMN. Usulan Implementasi Peningkatan Kinerja Pembangkit diantaranya adalah:
a. Kewajiban bagi setiap perusahaan PLTU batubara untuk membentuk divisi manajemen energi dengan program dan target konservasi energi yang realistik;
b. Kewajiban bagi setiap perusahaan PLTU batubara melaksanakan sertifikasi manajemen energi dan sertifikasi relevan lainnya untuk meningkatkan kualitas manajemen pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit;
c. Kewajiban bagi setiap perusahaan PLTU batubara melaksanakan monitoring atau pemantauan dan diagnosa kinerja pembangkit secara periodik dan sistematik terhadap boiler, turbin, kondensor, air preheater, ekonomiser dan auxiliary equipment. Diagnosa kinerja dapat dalam bentuk Audit Energi;
d. Kewajiban bagi setiap perusahaan PLTU batubara melaksanakan optimasi kinerja, perbaikan dan perawatan secara periodik terhadap boiler, turbin, kondensor, air preheater, ekonomiser dan auxiliary equipment;
e. Kewajiban bagi setiap perusahaan PLTU batubara melengkapi pembangkitnya dengan sistem monitoring atau pemantauan kinerja dan emisi pembangkit berbasis digital;
f. Himbauan kepada setiap perusahaan PLTU batubara untuk meningkatkan kualitas batubara yang digunakan hingga mencapai nilai kalor minimal 5000 kCal/kg dengan teknologi Coal Drying, Cofiring dan/atau dengan teknologi Coal Blending;
g. Himbauan kepada setiap perusahaan PLTU batubara berkapasitas besar diatas 200 MW untuk melaksanakan retrofit peralatan pembersih pipa-pipa boiler; dan
h. Himbauan kepada setiap perusahaan PLTU batubara berkapasitas diatas 100 MW untuk melaksanakan retrofit peralatan pembersih gas buang seperti Wet Scrubber, ESP, dan FGD.
2. Potensi penghematan energi maksimum yang dapat dicapai dengan Usulan Implementasi Peningkatan Kinerja Pembangkit adalah sebesar 50.511.686 MWh/Tahun. Potensi reduksi Emisi maksimum karena usulan ini adalah sebesar 18.132.913 CO2 Ton/Tahun.
3. Berdasarkan analisis peningkatan kinerja PLTU batubara maka direkomendasikan bahwa rentang batasan (cap) intensitas emisi GRK adalah minimum 0,96 Ton CO2/MWh sampai dengan maksimum 1,11 Ton CO2/MWh untuk setiap PLTU batubara di Indonesia.
4. Untuk melaksanakan usulan aksi peningkatan kinerja dengan skenario efisensi energi berkelanjutan, diperlukan total biaya investasi sekitar 3.337 Milyar Rupiah sampai dengan 21.684 Milyar Rupiah. Dengan potensi penghematan biaya sebesar 39.145 Milyar Rupiah/Tahun sampai 40.820 Milyar Rupiah/Tahun, maka estimasi waktu pengembalian modal adalah minimal satu bulan sampai dengan maksimal 7 bulan.