BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain:
1. Konservasi sumber daya ikan adalah upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetic untuk menjamin keberadaan, ketersediaan dan kesinambungannya denga tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya ikan. Dikarenakan laut berprisip “Mare Liberum”, yaitu laut merupakan wilayah yang bebas dipergunakan oleh bangsa manapun (freedom of the high seas), tidak bisa dimonopoli oleh suatu negara mana pun, maka segala sumber daya yang terkandung di laut termasuk sumberdaya ikan bebas untuk dinikmati pihak mana pun (freedom of fishing). Namun pelaksanaannya suatu persoalan timbul yaitu dengan kebebasan itu, prinsip ini sering salah pemahaman yang mengakibatkan overfishing atau over exploited, sehingga mendorong masyarakat internasional untuk mengatur hal ini. Maka untuk mempertahankan perdamaian dan ketertiban di laut, serta penggunaan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk kepentingan umat manusia, maka Desember 1982 UNCLOS 1982, menetapkan asas-asas dasar untuk penataan kelautan. Secara rinci UNCLOS 1982 menetapkan hak dan kewajiban,
kedaulatan, hak-hak berdaulat dan yurisdiksi negara-negara dalam pemanfaatan dan pengelolaan laut. Setelah berlakunya UNCLOS 1982, ketentuan tentang kebebasan menangkap ikan di laut lepas diatur dalam pasal 87 ayat (1) huruf (e) UNCLOS 1982, yaitu kebebasan menangkap ikan disertai dengan kewajiban yang diatur dalam bab VII bagian 2 Konvensi. Bagian 2 Konvensi mengatur tentang pengelolaan dan konservasi sumber daya hayati di laut lepas yang terdapat dalam pasal 116 sampai pasal 120. Sebelumnya, pasal 63 dan pasal 64 UNCLOS 1982 mewajibkan negara pantai dan negara penangkap ikan yang bermigrasi untuk membuat kesepakatan bersama tentang pengelolaan dan konservasi sumberdaya ikan tersebut, dan pasal ini memerlukan pengaturan lebih jauh untuk mengatur secara jelas tentang pengelolaan dan konservasi ikan beruaya tersebut. Mengingat bahwa sifat dari sumber daya ikan jenis beruaya jauh, yaitu untuk bertahan hidup memerlukan sumber makanan dari kondisi laut yang diinginkan maka jenis ikan ini adalah jenis ikan yang temasuk jenis ikan yang berpindah jauh hingga melintasi batas suatu negara, oleh sebab itu dibutuhkan kerjasama dan hubungan diantara negara-negara dalam membentuk pengaturan pengelolaan dan konservasi sumber daya ikan jenis ini. Hal ini yang memberi dampak terhadap negara-negara dalam mengatur pengelolaan dan konservasi sumber daya ikan jenis ini terdapat beberapa RFMOs pengaturan tentang pengelolaan dan konservasi sumber daya perikanan yang telah diadakan diantaranya dapat kita lihat yaitu RFMOs berdasarkan, yaitu kawasan (region) dimana
pengelolaan dan konservasi tersebut dilakukan dalam suatu kawasan tertentu, dan juga RFMOs berdasarkan spesies yang dikelola, seperti Commission on the Conservation of Antarctic Marine Living Resources (CCAMLR), North East Atlantic Fisheries Commission (NEAFC), Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), The Convention on the Conservation and Management of the Pollock Resources in the Central Bering Sea; North Pacific Anadromous Fish Commission (NPAFC), Commission For The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT), International Whaling Commission (IWC), Pacific Salmon Commission; INTER- AMERICAN Tropical Tuna Commission (IATTC), South Pacific Regional Fisheries Management Organization (SPRFMO), General Fisheries Commission for the Mediterranean (GFCM), Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC).
2. Posisi Indonesia yang sangat diuntungkan karena dianugerahi dalam posisi georgrafis yang strategis dengan memilikai wilayah perairan yang luas, maka amanat pasal 64 UNCLOS 1982 utuk bekerjasama dengan negara lain dalam pengelolaan dan konservasi sumber daya ikan di laut lepas telah dinyatakan dengan dibentuknya beberapa organisasi-organisasi pengelolaan ikan regional (RFMOs), yang saat ini Indonesia telah bergabung didalamnya dan telah meratifikasi perjanjian tersebut. Beberapa RFMOs yang telah diikuti Indonesia seperti Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), melalui Undang-Undang No. 21 tahun 2009 Indonesia meratifikasi United Nation Fish Stocks Agreement or Agreement
for the Implementation of the provisions of the United Nation Convention on the Lax of the Sea Relating to the Conservation and Management of Straddling Fish Stocks and Highly Migratory Fish Stocks 1995 (UNFSA/UNIA 1995) dan terkhusus di wilayah regional samudera hindia dan samudera pacific diantaranya Comission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) yang khusus mengartur konservasi jenis ikan beruaya jauh yaitu jenis ikan tuna sirip biru selatan dan Western and Central Pasific Fisheries Comission (WCPFC) yaitu konvensi tentang Konservasi dan Pengelolaan Sediaan Ikan Beruaya Jauh di Samudera Pasifik Barat dan Tengah, yang dibentuk karena adanya kesadaran perlunya menghindari dampak buruk terhadap lingkungan laut, melesatarikan kenaekaragaman hayati, menjaga integritas ekosistem laut, meminilakan resiko jangka panjang atau dampak yang tidak dapat diperbaiki dari operasi penangkapan ikan dan kondisi kerentanan ekologis dan geografis negara-negara pulau kecil yang sedang berkembang, wilayah dan kawasan, ketergantungan ekonomi dan sosialnya terhadap sediaan ikan yang beruaya jauh dan kebutuhan mereka akan bantuan khusus, termasuk bantuan finansial, ilmu pengetahuan dan teknologi, agar negara- negara berkembang tersebut dapat berperan-serta secara aktif di dalam konservasi, pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan sediaan ikan yang beruaya jauh.
3. Setelah meratifikasi Konvensi WCPFC 2000 dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2013 (LN tahun 2013 No. 148)
tentang pengesahan Convention on the Conservation and Management of Highly Migratory Fish Stocks in the Western and Central Pacific Ocean (WCPFC) terdapat sembilan hal yang harus menjadi perhatian pemerintah Indonesia sebagai negara anggota, yaitu: (1) Wilayah penerapan, (2) Azas- azas dan langkah-langkah untuk konservasi dan pengelolaan, (3) Penerapan pendekatan kehati-hatian, (4) Pelaksanaan azas-azas di wilayah-wilayah berdasarkan yurisdiksi nasional, (5) Kesesuaian langkah- langkah konservasi dan pengelolaan, (6) Kewajiban Para Anggota Komisi, (7) Kewajiban- Kewajiban Negara Bendera, (8) Penaatan dan Penegakan, dan (9) Itikad Baik dan Penyalahgunaan Hak, dan mengingat produksi tuna dan jenis ikan beruaya jauh di wilayah Indonesia maka keikutsertaan Indonesia pada Konvensi ini dapat meningkatkan dan memajukan industri perikanan nasional dengan tetap menjaga dan melindungi kedaulatan wilayah laut teritorial Republik Indonesia.
5.2 Saran
Berdasarkan sejumlah simpulan tersebut, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Pengaturan dalam konvensi hukum internasional tentang Pengelolaan dan Konservasi Sumber Daya Ikan Beruaya Jauh menurut Hukum Internasional yang sudah ada dan ditambah lagi dengan adanya pengaturan yang lebih spesifik diatur dalam perjanjian antara negara dengan organisasi-organisasi pengelolaan perikanan dapat dikatakan cukup
memadai. Pengaplikasian dari setiap pengaturan dan peran aktif negara sangat diperlukan khususnya Indonesia dalam upaya pengelolaan sumber daya yang dimilikinya harus benar-benar terlibat aktif supaya tidak ada penyelewengan ataupun tindakan yang merugikan negara atas pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang tidak tepat terkhusus sumberdaya ikan beruaya jauh.
2. Kerjasama Indonesia dengan negara-negara Kawasan Pasifik Tengah dan Barat dalam Pengelolaan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Beruaya Jauh dapat dikatakan sudah cukup baik terutama dengan keterlibatannya dalam beberapa RMFOs yang ada dan memberi sumbangsih terhaadap peningkatan industry perikanan nasional. Namun dengan mengikuti lebih dari satu organisasi maka Indonesia sebagai anggota harus lebih aktif dan benar-benar menerapkan konvensii yang diratifikasi dan harus adanya korelasi dan dinamisasi dari aturan hukum Indonesia sehingga tidak statis dan terjebak dalam aturan lama. Dalam pembuatan aturan hukum tersebut harusnya Indonesia juga menyelaraskan aturan-aturan yang ada hukum sehingga tidak tumpang tindih dalam pengaplikasiannya.
3. Sebagai implikasi dari Convention on the Conservation and Management of Highly Migratory Fish Stocks in the Western and Central Pacific Ocean (WCPFC), Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2013 (LN tahun 2013 No. 148) tentang pengesahan Convention on the Conservation and Management of Highly Migratory Fish Stocks in the Western and Central Pacific Ocean (WCPFC) maka dibutuhkan peran
Indonesia dalam membuat Undang-undang atau pelaksanaan dari pengesahan Konvensi ini untuk dapat lebih jelas mengatur pengelolaan dan konservasi ikan beruaya jauh dan pelaksanaannya lebih optimal di Indonesia.