• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggal lulus :

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Tipe penggunaan lahan memberikan pengaruh yang nyata terhadap limpasan dan imbuhan pada skala DAS. Dari penghitungan dengan metode SCS diperoleh besar limpasan dan imbuhan DAS Cicatih tahun 2000 berturut-turut sebesar 398 mm dan 560 mm. Penggunaan lahan dengan campur tangan manusia (disturbed) memberikan kontribusi limpasan permukaan yang lebih besar dari pada lahan alami.

Terjadi ketidaksinkronan antara data debit dan data CH tahun 2000 yang digunakan dalam penelitian. Ketidaktelitian saat pencatatan data dapat menjadi salah satu faktor penyebab hasil akhir yang kurang akurat.

5.2 Saran

Penelitian ini sampai pada tahap mengetahui jumlah imbuhan DAS Cicatih baik secara spasial maupun temporal. Oleh karena itu perlu dilanjutkan untuk menghitung jumlah air yang berperkolasi sehingga diketahui imbuhan airbumi. Setelah itu, evapotranspirasi tanah juga dapat diketahui dengan menghitung selisih antara imbuhan DAS dan imbuhan airbumi.

Kesalahan yang terjadi pada penelitian dapat dikurangi apabila data-data yang digunakan merupakan hasil pengukuran yang dilakukan sesuai dengan prosedur sehingga dapat dipercaya kebenarannya.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor : IPB Press.

Asdak, C. 2004. Hidrologi dan Pengelolaan

Daerah Aliran Sungai. Cetakan

ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Binh, LT, Mishra, SK, Chaube, UC, Pandey, RP. 2006. An SCS-CN based long-term daily flow simulation model for be river catchment, Vietnam. The 7th Int. Conf. On Hydroscience and

Engineering. Philadelphia, USA,

Sept.10-13.Philadelphia:1-13.

Boer, R. 1999. Model Pembangkit Data

Iklim. Bogor: Depertemen Geofisika

dan Meteorologi, FMIPA-IPB.

Chow, VT, Maidment, DR, Mays, LW. 1988. Applied Hydrology. New York: McGraw-Hill Inc.

Croke, J, Hairsine, P, Fogarty, P. 1999. Runoff generation and re-distribution in logged eucalyptus forests, south-eastern Australia. J.Hydrol 216:56-77.

Farida, Noordwijk, M. 2004. Analisis debit sungai akibat alih guna lahan dan aplikasi model Genriver pada DAS Way Besai, Sumberjaya. J.Agrivita

26:39-47.

Govers, G, Takken, I, Helming, K. 2000. Soil roughness and overland flow.

J.Agron 20:131–146.

Gregorio, AD, Jansen, LJM. 2000. Land

Cover Classification System. Rome:

Food and Agriculture Organization. Hadiwidjoyo, MMP, Guritno, I, Murdiyarso,

D, Martodinomo, M. 1987. Kamus

Hidrologi. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Helming, K, Römkens, MJM, Prasad, SN. 1998. Surface roughness related processes of runoff and soil loss: A flume study. J.Soil Sci 62:243-250. Hidayat, P, Kolopaking, L, Taufik, M,

Kurnianto, S, dan Nawireja, K. 2006a. Assessing the biophysical indicators of forested watershed functions. Final Report for IPB/CIFOR research Collaboration

Phase II; Bogor, Februari 2006.

Bogor: Lab of hydrometeorlogy, IPB. Hidayat, P, Kolopaking, L, Taufik, M, dan

Nawireja, K. 2006b. Assessing the biophysical and socio-economic indicators of watershed functions: a case study of Cicatih-Cimandiri watershed. Final Report for IPB/CIFOR research Collaboration

Phase III; Bogor, Desember 2006.

Bogor: Lab of hydrometeorlogy, IPB. Hong, Y, Adler, RF, Hossain, F, Curtis, S.

2007. Estimate gridded and time-variant runoff curve numbers using satellite remote sensing and geospatial data. J.American Water

Resources Association.

Iqbal, TA. 2006. Calibration of monthly spatial runoff from the root zone using water balance methods: a case study in Cicatih watershed, Sukabumi, West Java [skripsi]. Bogor: Departement of Geophysics and Meteorology, Faculty of Mathematics and Natural Science,

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Tipe penggunaan lahan memberikan pengaruh yang nyata terhadap limpasan dan imbuhan pada skala DAS. Dari penghitungan dengan metode SCS diperoleh besar limpasan dan imbuhan DAS Cicatih tahun 2000 berturut-turut sebesar 398 mm dan 560 mm. Penggunaan lahan dengan campur tangan manusia (disturbed) memberikan kontribusi limpasan permukaan yang lebih besar dari pada lahan alami.

Terjadi ketidaksinkronan antara data debit dan data CH tahun 2000 yang digunakan dalam penelitian. Ketidaktelitian saat pencatatan data dapat menjadi salah satu faktor penyebab hasil akhir yang kurang akurat.

5.2 Saran

Penelitian ini sampai pada tahap mengetahui jumlah imbuhan DAS Cicatih baik secara spasial maupun temporal. Oleh karena itu perlu dilanjutkan untuk menghitung jumlah air yang berperkolasi sehingga diketahui imbuhan airbumi. Setelah itu, evapotranspirasi tanah juga dapat diketahui dengan menghitung selisih antara imbuhan DAS dan imbuhan airbumi.

Kesalahan yang terjadi pada penelitian dapat dikurangi apabila data-data yang digunakan merupakan hasil pengukuran yang dilakukan sesuai dengan prosedur sehingga dapat dipercaya kebenarannya.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor : IPB Press.

Asdak, C. 2004. Hidrologi dan Pengelolaan

Daerah Aliran Sungai. Cetakan

ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Binh, LT, Mishra, SK, Chaube, UC, Pandey, RP. 2006. An SCS-CN based long-term daily flow simulation model for be river catchment, Vietnam. The 7th Int. Conf. On Hydroscience and

Engineering. Philadelphia, USA,

Sept.10-13.Philadelphia:1-13.

Boer, R. 1999. Model Pembangkit Data

Iklim. Bogor: Depertemen Geofisika

dan Meteorologi, FMIPA-IPB.

Chow, VT, Maidment, DR, Mays, LW. 1988. Applied Hydrology. New York: McGraw-Hill Inc.

Croke, J, Hairsine, P, Fogarty, P. 1999. Runoff generation and re-distribution in logged eucalyptus forests, south-eastern Australia. J.Hydrol 216:56-77.

Farida, Noordwijk, M. 2004. Analisis debit sungai akibat alih guna lahan dan aplikasi model Genriver pada DAS Way Besai, Sumberjaya. J.Agrivita

26:39-47.

Govers, G, Takken, I, Helming, K. 2000. Soil roughness and overland flow.

J.Agron 20:131–146.

Gregorio, AD, Jansen, LJM. 2000. Land

Cover Classification System. Rome:

Food and Agriculture Organization. Hadiwidjoyo, MMP, Guritno, I, Murdiyarso,

D, Martodinomo, M. 1987. Kamus

Hidrologi. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Helming, K, Römkens, MJM, Prasad, SN. 1998. Surface roughness related processes of runoff and soil loss: A flume study. J.Soil Sci 62:243-250. Hidayat, P, Kolopaking, L, Taufik, M,

Kurnianto, S, dan Nawireja, K. 2006a. Assessing the biophysical indicators of forested watershed functions. Final Report for IPB/CIFOR research Collaboration

Phase II; Bogor, Februari 2006.

Bogor: Lab of hydrometeorlogy, IPB. Hidayat, P, Kolopaking, L, Taufik, M, dan

Nawireja, K. 2006b. Assessing the biophysical and socio-economic indicators of watershed functions: a case study of Cicatih-Cimandiri watershed. Final Report for IPB/CIFOR research Collaboration

Phase III; Bogor, Desember 2006.

Bogor: Lab of hydrometeorlogy, IPB. Hong, Y, Adler, RF, Hossain, F, Curtis, S.

2007. Estimate gridded and time-variant runoff curve numbers using satellite remote sensing and geospatial data. J.American Water

Resources Association.

Iqbal, TA. 2006. Calibration of monthly spatial runoff from the root zone using water balance methods: a case study in Cicatih watershed, Sukabumi, West Java [skripsi]. Bogor: Departement of Geophysics and Meteorology, Faculty of Mathematics and Natural Science,

Bogor Agriculture University. (unpublished).

Jonsen. 2006. Pemodelan hidrograf

menggunakan pendekatan geomorfologi: studi kasus sub daerah

aliran sungai Cicatih, Kabupaten Sukabumi [skripsi]. Bogor: Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. (tidak dipublikasikan).

Kite, G. 2000. Using a basin-scale hydrological model to estimate crop transpiration and soil evaporation.

J.Hydrol 229:59-69.

Kurnianto, S. 2004. Model spasial dinamik pendugaan surplus air permukaan menggunakan metode neraca air: studi kasus sub daerah aliran sungai Cicatih, Sukabumi [skripsi]. Bogor: Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. (tidak dipublikasikan).

Lukey, BT, Sheffield, J, Bathurst, JC, Hiley, RA, Mathys, N. 2000.Test of the SHETRAN technology for modelling the impact of reforestation on badlands runoff and sediment yield at Draix, France. J.Hydrol 235:44-62. McCuen, RH. 1982. A Guide to Hydrologic

Analysis Using SCS Methods. New

York : Prentice-Hall, Inc.

Melesse, AM, Graham, WD, Jordan, JD. 2003. Spatially distributed watershed mapping and modeling: GIS-based storm runoff response and hydrograph analysis: part 2. J. Hydrol 3:14-16. Melesse, AM, Graham, WD. 2004. Storm

runoff prediction based on a spatially distributed travel time method utilizing remote sensing ang GIS.

J.American Water Resources

Association 2150:863-879.

Michel, C, Andreassian, V, Perrin, C. 2005. Soil conservation service curve number method: how to mend a wrong soil moisture accounting procedure. Water Resources Research

41:1-6.

Mishra, SK, Jain, MK, Bhunya, PK, Singh, VP. 2005. Field applicability of SCS-CN based Mishra-Singh general model and its variants. Water

Resources Management 19:37-62.

Naoum, S, Tsanis, IK. 2004. A hydroinformatic approach to assess interpolation techniques in high spatial and temporal resolution.J.Can

Water Resources 29(1): 23–46.

Prych, EA. 1998. Using chloride and chlorine-36 as soil-water tracers to estimate deep percolation at selected location on the US Departement oe Energy Hanford Site, Washington.

US.Geol.Surv.Water Supply 2481:67

pp.

Putty, MRY, Prasad, R. 2000. Understanding runoff processes using a watershed model: a case study in the Western Ghats in South India. J.

Hydrol 228:215-227.

Rawls, WJ, Brakensiek, DL, Saxton, KE. 1982. Estimation of soil properties.

Transactions of the American Society

of Agricultural Engineers, 25(5):

1316-1320.

Rochelle, BP, Wigington Jr, PJ. 1986. Surface runoff from Southeastern Oklahoma forested watershed.

Proc.Okla.Acad.Sci 66:7-13.

Schulze, RE. 2000. Modelling Hydrological Responses to Land use and Climate change: A Southern African Perspective. Ambio 29(1): 12-22.

Seyhan, E. 1990. Dasar-Dasar Hidrologi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Smakhtin, VU. 2001a. Estimating continuous monthly baseflow time series and their possible applications in the context of the ecological reserve. Water SA 27(2):213-218. Smakhtin, VU. 2001b. Low flow hydrology:

a review. J.Hydrol 240:147-186. Sosrodarsono, S dan Takeda, K. 2003.

Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta :

PT. Pradnya Paramita.

Sudarman, GG. 2007. Laju infiltrasi pada lahan sawah di mikro das Cibojong, Sukabumi [skripsi]. Bogor: Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. (tidak dipublikasikan).

Suyono. 1986. Analisis hidrograf aliran Sungai Cimanuk di atas Leuwigoong Kabupaten Garut, Jawa Barat [tesis]. Bogor: Fakultas Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. (tidak dipublikasikan).

Taufik, M. 2006. Analisis limpasan permukaan dengan sistem informasi geografis untuk mendukung penentuan indikator kuantitatif fungsi hidrologi DAS Cicatih. J. Ilmu

Pertanian Indonesia 11(1): 31-36.

USDA. 1986. Urban hydrology for small watersheds. TR-55, Second ed., June 1986. Natural Resources

Conservation Service.

USDA. 2004. Hydrologic soil-cover complexes. NEH, Chapter 9, July 2004. Natural Resources

Conservation Service.

USDA. 2004. Estimation of direct runoff from storm rainfall. NEH, Chapter 10, July 2004. Natural Resources

Conservation Service.

USDA. 2007. Hydrologic soil groups. NEH, Chapter 7, May 2007. Natural

Resources Conservation Service.

USDA. 2007. Hydrograph. NEH, Chapter 16, March 2007. Natural Resources

Conservation Service.

Vink, APA. 1975. Land Use in Advancing

Agriculture. Berlin: Springer-Verlag.

Wanielista, M. 1990. Hydrology and water

quantity control. New York: John

Wiley & Sons, Inc.

Ward, AD, Trimble, SW, editor. 2004.

Environmental Hydrology. 2nd

edition. New York: Lewis publishers, CRC Press.

Weng, Q. 2001. Modeling urban growth effects on surface runoff with the integration of remote sensing and GIS. Environmental Management

28(6): 737–748.

Wittenberg, H, Sivapalan, M. 1999. Watershed groundwater balance estimation using streamflow recession analysis and baseflow separation.

J.Hydrol 219:20–33.

www.usgcrp.gov

Xu, Y, Titus, R, Holness, SD, Zhang, J, Tonder, GJ. 2002. A hydro-geomorphological approach to quantification of groundwater discharge to streams in South Africa.

Water SA 28(4):375-380.

Yu, B, Sombatpanit, S, Rose, CW, Ciesiolka, CAA, Coughlan, KJ. 2000. Characteristics and modelling of runoff hydrographs for different tillage treatments. Soil Sci. Soc. Am. J. 64: 1763 – 1770.

Lampiran 1. Diagram alur penentuan nilai AMC dan Curve Number

CH harian tahun 2000 dari 7 stasiun

CH bulanan 7 stasiun

Ya

Pengisian data kosong bulanan dengan metode isohyet di

ArcView Tabulasi CH bulanan isian Software CLIMGEN CH harian hasil bangkitan Tabulasi CH harian 7 stasiun Tidak Stasiun CH titik

Crop outlet DAS bendungan

Ubrug

Pembuatan Poligon Thiessen menggunakan

AV tool ext di ArcView

Peta Poligon Thiessen

Input data ke Peta Poligon Thiessen CH wilayah harian Nilai AMC Peta penggunaan lahan Peta tekstur tanah Peta Hydrology Soil Group (HSG) Overlay Peta CN Data kosong

38

Lampiran 2. Diagram alur penentuan Q dan F bulanan.

Tabulasi CH harian 7 stasiun

Input data ke Peta Poligon Thiessen CH wilayah harian Peta CN 25400 254 S CN = Peta S 2 ( 0.2 * ) 0.8* P S Q P S = + Peta Q

Neraca air metode SCS :

a

P=I +F+Q

Peta F

Tabulasi Q harian Qscs bulanan

Tabulasi F harian F bulanan

Lampiran 3. Diagram alur pemisahan baseflow dan pengujian model

; 0 b f f Q Q Q Q= − ≥ b Q Q 2 1 1 N( ) i i RMSE f scs N = Q Q =

40

Lampiran 4. Script model spasial dinamik penghitungan imbuhan dan limpasan

dalam PCRaster

a. Model untuk mengestimasi imbuhan dan limpasan pada kondisi AMC 1

Binding

#input

rain=amc1.tss;

rainarea=thiesen.map;

cn=cn1.map

subdas=dasubrugn.map;

pori254=pori254a.map;

pori42=pori42a.map;

lu=lahan01.map;

#output

#RO=Roamc1;

raintss=hujan

areamap

ubrug.map;

timer

1 255 1;

initial

S=(25400/cn)-245;

Ia=0.2*S;

dynamic

#precipitation

report raintss=timeinputskalar(rain,rainarea);

report ROamc1=if(raintss gt 0.2*S((raintss-0.2*S)**2)/(raintss+0.8*S),0);

runoffsubdas=areaaverage(ROamc1,subdas);

report Famc1=if(raintss gt Ia,(raintss-ROamc1-Ia),0);

report timeseriesROamc1subdas=timeoutput(subdas,ROamc1);

report timeseriesROamc1lu=timeoutput(lu,ROamc1);

report timeseriesFamc1subdas=timeoutput(subdas,Famc1);

report timeseriesFamc1lu=timeoutput(lu,Famc1);

b. Model untuk mengestimasi imbuhan dan limpasan pada kondisi AMC 2

Binding

#input

rain=amc2.tss;

rainarea=thiesen.map;

cn=cn2.map

subdas=dasubrugn.map;

41

pori254=pori254a.map;

pori42=pori42a.map;

lu=lahan01.map;

#output

#RO=Roamc2;

raintss=hujan

areamap

ubrug.map;

timer

1 67 1;

initial

S=(25400/cn)-245;

Ia=0.2*S;

dynamic

#precipitation

report raintss=timeinputskalar(rain,rainarea);

report ROamc2=if(raintss gt 0.2*S((raintss-0.2*S)**2)/(raintss+0.8*S),0);

runoffsubdas=areaaverage(ROamc2,subdas);

report Famc2=if(raintss gt Ia,(raintss-ROamc2-Ia),0);

report timeseriesROamc2subdas=timeoutput(subdas,ROamc2);

report timeseriesROamc2lu=timeoutput(lu,ROamc2);

report timeseriesFamc2subdas=timeoutput(subdas,Famc2);

report timeseriesFamc2lu=timeoutput(lu,Famc2);

c. Model untuk mengestimasi imbuhan dan limpasan pada kondisi AMC 3

Binding

#input

rain=amc3.tss;

rainarea=thiesen.map;

cn=cn3.map

subdas=dasubrugn.map;

pori254=pori254a.map;

pori42=pori42a.map;

lu=lahan01.map;

#output

#RO=Roamc3;

raintss=hujan

areamap

ubrug.map;

timer

42

1 44 1;

initial

S=(25400/cn)-245;

Ia=0.2*S;

dynamic

#precipitation

report raintss=timeinputskalar(rain,rainarea);

report ROamc3=if(raintss gt 0.2*S((raintss-0.2*S)**2)/(raintss+0.8*S),0);

runoffsubdas=areaaverage(ROamc3,subdas);

report Famc3=if(raintss gt Ia,(raintss-ROamc3-Ia),0);

report timeseriesROamc3subdas=timeoutput(subdas,ROamc3);

report timeseriesROamc3lu=timeoutput(lu,ROamc3);

report timeseriesFamc3subdas=timeoutput(subdas,Famc3);

report timeseriesFamc3lu=timeoutput(lu,Famc3);

Lampiran 5. Peta spasial bulanan Qscs DAS Cicatih tahun 2000.

Lampiran 6. Peta spasial bulanan F DAS Cicatih tahun 2000

Lampiran 13. Tabel nilai CN berdasarkan tipe penggunaan lahan dan grup

hidrologi tanah dari TR-55, USDA

Lampiran 14. Bilangan kurva (CN) aliran permukaan untuk berbagai komplek

tanah-penutup tanah (AMC = II; Ia = 0,2 S)

(Sumber: Arsyad, 1989)

A B C D 77 85 90 92 61 75 83 87 57 72 86 86 54 70 80 85 51 68 79 84

2 T empat parkir aspal, at ap, jalan aspal dan lain-lain3 98 98 98 98

76 85 89 91

72 82 87 89

4 8

5 8

Kondisi baik : 75% at au lebih t ert ut up rumput 39 61 74 80 Kondisi sedang : 50% - 75% t ert ut up rumput 49 69 79 84

7 7

Menurut lereng - buruk

Menurut lereng - baik 67 78 85 89

Menurut kont ur - buruk 70 79 84 88

Menurut kont ur - baik 65 75 82 86

Kont ur & t eras - buruk 66 74 80 82

Kont ur & t eras - baik 62 71 78 81

Menurut lereng - buruk

Menurut lereng - baik 63 75 83 87

Menurut kont ur - buruk 63 74 82 85

Menurut kont ur - baik 61 73 81 84

Kont ur & t eras - buruk 61 72 79 82

Kont ur & t eras - baik 59 70 78 81

Menurut lereng - buruk

Menurut lereng - baik 58 72 81 85

Menurut kont ur - buruk 64 75 83 85

Menurut kont ur - baik 55 69 78 83

Kont ur & t eras - buruk 63 73 80 83

Kont ur & t eras - baik 51 67 76 80

Buruk 68 79 86 89

Sedang 49 69 79 84

Baik 39 61 74 80

Menurut kont ur Buruk 47 67 81 88

Menurut kont ur Sedang 25 59 75 83

Menurut kont ur Baik 6 35 70 79

9 92 94 95 1 88 91 93 7 86 91 94 Baik 30 58 71 78 Buruk 45 66 77 83 Sedang 36 60 73 79 Baik 25 55 70 77 14 59 74 82 86

P adang rumput pengembalaan

Hut an

Leguminosa dit anam rapat at au pergiliran t anaman padang rumput4

P adi-padian :

P erumahan pet ani 1

3

6

8

9

P adang rumput pot ong

66 77 85 65

89 81 88 91

76 84 88 Bera larian menurut lereng

72 T anaman semusim (dalam baris) :

98 98

Daerah pert okoan (85% kedap) Daerah indust ri (75% kedap)

98 98 Jalan umum :

Beraspal dan bersaluran pembuangan Kerikil

T anah 1300 2000 4000

P ersent ase rat a-rat a kedap air2

65 38 30 25 20

Pe n ggu n aan Tan ah / Pe rl ak u an / Kon di si Hi drol ogi

N Ke l om pok

Hi drol ogi Tan ah

T empat t erbuka, padang rumput yang dipelihara, t aman, lapangan golf, kuburan dan lain-lain

P emukiman1 Luas kapling (m2) : 500 1000 10 11 12 13 O

51

Ket:

1. Bilangan kurva dihitung berdasarkan asumsi bahwa aliran permukaan dari rumah dan jalan masuk diarahkan ke jalan umum dengan sejumlah minimum air dari atap diarahkan ke halaman berumput dimana infiltrasi dapat terjadi.

2. Areal sisa yang tidak kedap air (pekarangan berumput) dianggap berada sebagai rumput yang baik.

3. Dibagian yang lebih panas bilangan kurva 95 dapat digunakan. 4. Dalam barisan rapat atau disebar.

Lampiran 15. Nilai bilangan kurva untuk AMC = I dan AMC = III

(Sumber: Arsyad, 1989)

AMC = I AMC = III

100 100 100 95 87 99 90 78 98 85 70 97 80 63 94 75 57 91 70 51 87 65 45 83 60 40 79 55 35 75 50 31 70 45 27 65 40 23 60 35 19 55 30 15 50 25 12 45 20 9 39 15 7 33 10 4 26 5 2 1 0 0 0

CN (AMC = II) Penyesuaian CN

7

Lampiran 17. Deskripsi software CLIMGEN

(Sumber : Boer et al., 1999)

Data iklim sangat diperlukan pada banyak studi yang berkaitan dengan

masalah interaksi lingkungan dengan biologi. Pada tingkat studi dengan resolusi

harian, diperlukan ketersediaan data iklim harian. Namun pada banyak daerah,

data iklim harian jarang tersedia. Pada umumnya kalaupun ada, data yang

tersedia umumnya adalah data dengan resolusi bulanan. Permasalahan tidak

tersedianya data iklim dapat diatasi dengan menyusun suatu model pembangkit

data iklim yang mampu membangkit data iklim dengan deskripsi statistik yang

relatif sama dengan data aslinya.

Boer et al. (1999) sudah menyusun model pembangkit data iklim untuk

Indonesia dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman Visual Basic.

Program tersebut memungkinkan untuk membangkit data iklim harian (curah

hujan, suhu maksimum, suhu minimum, radiasi dan evaporasi) pada suatu daerah

mulai dari yang memiliki stasiun yang lengkap sampai ke yang tidak memiliki

stasiun sama sekali. Pada daerah yang memiliki stasiun dengan pengamatan unsur

iklim yang lengkap, program memerlukan input semua parameter model

pembangkit data iklim. Pada daerah yang hanya memiliki dua pengamatan unsur

iklim saja yaitu curah hujan dan suhu, program hanya memerlukan input

parameter dari model pembangkit data kedua unsur iklim tersebut. Pada daerah

yang hanya memiliki curah hujan bulanan, program hanya memerlukan input data

hujan bulanan dan pada daerah yang tidak memiliki stasiun, program memerlukan

input posisi geografis dan ketinggian daerah. Dengan memasukkan input-input

tersebut di atas sesuai dengan pilihan yang diinginkan, data iklim harian curah

hujan, suhu maksimum, suhu minimum, radiasi dan evaporasi dapat dibangkitkan.

Hujan merupakan unsur iklim yang sangat besar variasinya baik dari

waktu ke waktu maupun dari satu tempat ke tempat yang lain. Pembangkitan data

hujan harian dari data hujan bulanan tahun 2000 untuk masing-masing stasiun

dilakukan dalam beberapa langkah dengan input data curah hujan bulanan hasil

dari interpolasi dengan ArcView dan average selama 23 tahun.

1. Bandingkan data bulanan tiap stasiun untuk tahun 2000 dengan data bulanan

tahun lain antara 1984-2006 dengan melakukan uji 2 t di Minitab. Cari tahun

yang memiliki value paling tinggi saat dibandingkan dengan tahun 2000.

p-value yang tinggi mengindikasikan bahwa kedua kelompok data yang

dibandingkan tidak berbeda nyata. Hasilnya adalah tahun pembanding yang

memiliki p-value tinggi saat dibandingkan dengan tahun 2000.

2. Bangkitkan data hujan bulanan pada masing-masing stasiun untuk nilai b =

0.9284; 0.8284; 0.7284. ’b’ merupakan parameter bentuk dari fungsi gamma.

Hasil dari proses ini adalah data harian bangkitan tahun 2000 untuk tiap nilai

’b’.

3. Bandingkan data hujan harian tahun pembanding dengan data hujan harian

hasil bangkitan tahun 2000 untuk tiap nilai ’b’ dengan menggunakan uji 2 t di

Minitab. Data hujan harian hasil bangkitan yang memiliki p-value paling

tinggi saat dibandingkan dengan data hujan harian tahun pembanding adalah

data yang digunakan untuk mengisi data hujan harian yang kosong.

Lampiran 18. Tampilan model CLIMGEN

(Sumber: Boer, 1999)

Dokumen terkait