KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari hasil kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Badan POM selama tanggal 1-24 April 2014, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Badan POM adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) berdasarkan Peraturan Presiden No 03 tahun 2013 tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden No 103 tahun 2001(14) yang menjalankan fungsi di bidang pengawasan Obat dan Makanan yang masuk dan beredar di wilayah Republik Indonesia. Badan POM selaku salah satu lembaga pemerintahan yang menyelenggarakan kegiatan PKPA menjadi salah satu sarana calon apoteker mengembangkan pengetahuan dan keterampilan praktis.
2. Direktorat Standardisasi Produk Pangan termasuk dalam Deputi Bidang Pengawasan Produk Pangan dan Bahan Berbahaya dan merupakan salah satu unit eselon 2 tempat pelaksanaan kegiatan PKPA di Badan POM. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, direktorat ini dibantu oleh Subdit Standardisasi Pangan Olahan, Subdit Standardisasi Pangan Khusus serta Subdit Standardisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan. peraturan, standar, pedoman maupun kode praktis (code of practice). Direktorat Standardisasi Produk Pangan mempunyai peran penting antara lain :
Mewujudkan standardisasi produk pangan dalam rangka meningkatkan perlindungan konsumen dari pangan yang tidak layak, tidak aman dan dipalsukan serta meningkatkan efisiensi dan daya saing produk pangan nasional
Mewujudkan keamanan pangan dan perdagangan yang adil.
3. Calon Apoteker telah mendapat pembekalan agar memiliki wawasan, pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dan makanan dalam lembaga pemerintahan melalui kegiatan PKPA di Badan POM khususnya di Direktorat Standardisasi Produk Pangan.
6.2. Saran
Mengingat beratnya beban kerja dan keterbatasan waktu, maka penyusun menyarankan agar:
1. Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dapat difokuskan pada satu Subdirektorat yang terdapat pada unit kerja eselon 2 saja agar lebih banyak mendapatkan wawasan dan informasi dalam waktu yang terbatas.
2. Diperlukan waktu PKPA yang lebih panjang agar mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih banyak.
DAFTAR PUSTAKA
1 Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2001. Keputusan
Kepala Badan POM No.02001/SK/KBPOM Tahun 2001 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
2. Presiden Republik Indonesia. 2000. Keputusan Presiden Republik
Indonesia No. 173 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 166 Tahun 2000 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Jakarta: Sekretariat Negara.
3. Presiden Republik Indonesia. 2013. Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomer 03 Tahun 2013 Tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden No 103 tahun 2001 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Lembaga Pemerintahan Non Kementrian. Jakarta: Presiden Republik
Indonesia.
4 Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2010. Keputusan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor: HK.04.01.21.11.10.10509 Tahun 2010 Tentang Penetapan Visi dan Misi Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta: Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
5. Presiden Republik Indonesia. 2001. Keputusan Presiden Republika
Indonesia Nomer 103 Tahun 2001 Tentang Kedudukan, Tugas,
Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Lembaga Pemerintahan Non Departemen. Jakarta: Presiden.
6. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2014. Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Kode Etik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta: Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
7. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2013. Himpunan
Peraturan PerUndang-Undangan Tentang Organisasi dan Tata Kerja. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia.
8. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2006.
Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor: HK.00.05.52.4040 tahun 2006 Tentang Kategori Pangan. Jakarta:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
9. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2013. Panduan
Kerja Codex. Jakarta: Direktorat Standarisasi Produk Pangan Deputi
Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
10. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2013. Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2013 Tentang Rencana Strategis Badan Pengawas Obat Dan Makanan Tahun 2010-2014. Jakarta: Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia.
11. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2010. Peraturan
Nomor: HK.04.1.21.11.10.10507 tahun 2010 tentang Rencana Strategis Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta: Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
12. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2013. Rencana
Strategis 2010-2014 Direktorat Standardisasi Produk Pangan.
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
13. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2009. Rencana
Strategis 2010-2014 Direktorat Standardisasi Produk Pangan.
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
14. Badan Standardisasi Nasional. 2001. Peraturan Pemerintah Nomor 135
tahun 2010 tentang Sistem Standardisasi Nasional. Jakarta: Badan
Standardisasi Nasional.
15. Republik Indonesia. 2000. Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia
Nomor 102 Tahun 2000 Tentang Standardisasi Nasional Indonesia.
Jakarta: Sekretariat Negara.
16. Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2013. Peraturan Kepala Badan POM
RI Nomor 39 Tahun 2013 Tentang Standar Pelayanan Publik di Lingkungan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta: Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
17. Republik Indonesia. 2012. Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012
tentang Pangan. Jakarta: Sekretariat Negara.
18. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2011. Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor:
Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan. Jakarta :
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
19. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2012. Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor: HK.03.1.23.04.12.2206 tahun 2012 Tentang Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga. Jakarta: Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
20. Republik Indonesia. 2004. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 28 Tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan.
Jakarta: Sekretariat Negara.
21. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2008. Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor: HK.00.06.52.0100 tentang Pengawasan Pangan Olahan Organik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia.
22. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 030 tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji. Jakarta:
Menteri Kesehatan.
23. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2012.
Peraturan Kepala Badan POM RI Nomor:. HK.03.1.23.03.1563 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengkajian Keamanan Pangan Produk Rekayasa Genetik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan
Makanan.
24. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2013. Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomer 26 Tahun 2013 Tentang Pengawasan Pangan Iradiasi. Jakarta:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
25. Menteri Kesehatan. 2012. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 033 tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan.
Jakarta: Menteri Kesehatan.
26. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2011. Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor:
HK.03.1.23.11.11.09909 tahun 2011 Tentang Pengawasan Klaim Dalam Label dan Iklan Pangan Olahan. Jakarta: Badan Pengawas
Obat dan Makanan Republik Indonesia.
27. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2011. Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor: HK. 03.1.23.12.11.10569 tahun 2011 Tentang Pedoman Cara Ritel Pangan yang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia.
28. Republik Indonesia. 2010. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 102 Tahun 2010 Tentang Standardisasi Nasional Indonesia.
Jakarta: Sekretariat Negara.
29. Republik Indonesia. 1999. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label dan Iklan Pangan. Jakarta:
Sekretariat Negara.
30. CAC/GL 21. 1997. Principle and Guidelines For The Establishment and
Application of Microbiological Criteria Related to Foods. USA: CAC.
31. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2012. Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor:
HK.03.1.23.03.12.1564 tahun 2012 Tentang Pengawasan Pelabelan Pangan Produk Rekayasa Genetik Jakarta: Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia.
32. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2013. Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 4-25 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Bahan Pengkarbonasi, Humektan, Pembawa, Perlakuan Tepung, Pengatur Keasaman, Bahan Pengeras, Bahan Antikempal, Pengembang, Pelapis, Antibuih, Propelan, Pengental, Gas Untuk Kemasan, Sekuestran, Pembentuk Gel, Pengemulsi, Peretnesi Warna, Pembuih, Penguat Rasa, Penstabil, Peningkat Volume. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia.
33. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2012. Pedoman
Kriteria Cemaran Pada Pangan Siap Saji Dan Pangan Industri Rumah Tangga. Jakarta: Direktorat Standardisasi Produk Pangan,
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
34. Pemerintah Republik Indonesia. 2004. Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan. Jakarta: Sekretariat Negara.
UNIVERSITAS INDONESIA
PENYUSUNAN KONSEP RANCANGAN STANDAR
NASIONAL INDONESIA 1 (RSNI 1) KERIPIK APEL
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DONNY LUKMANTO, S. Farm.
1306343523
ANGKATAN LXXVIII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014
Halaman
HALAMAN JUDUL ………... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR……….………... iii DAFTAR TABEL ……….………..………. iv DAFTAR LAMPIRAN.………..……….. v BAB 1 PENDAHULUAN ………..…...1
1.1 Latar Belakang………..………… 1 1.2 Tujuan………...………... 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.………..…………. 3
2.1 Apel……….………. 3 2.2 Keripik Apel……….…………....……… 4 2.3 Standar dan Standardisasi………....……… 5 2.4 Standardisasi di Indonesia………....……… 5 2.5 Proses Penyusunan SNI………... 6
BAB 3 METODOLOGI TUGAS KHUSUS ... 16
3.1 Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Tugas Khusus…………...…… 16 3.2 Metode Pelaksanaan..………..………... 16
BAB 4 PEMBAHASAN………... 17
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN……… 21
5.1 Kesimpulan…….……… 21
5.2 Saran…………..………. 21
Halaman Gambar 2.1. (a) Apel rhome beauty ... 3 Gambar 2.2. (b) Apel manalagi ... 3 Gambar 2.2. Keripik Apel ... 4 Gambar 2.3. Tahap Perumusan SNI ... 4
Halaman
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Produktivitas Apel (Malus sp.﴿ di Indonesia, khususnya di Jawa Timur (khususnya kota Batu, kota Malang, dan Pasuruan sebagai salah satu sentra produksi apel) termasuk tinggi. Dengan produktivitas apel yang tinggi, dan untuk meningkatkan penanganan pasca panen buah apel, maka berkembang pula industri pengolahan apel di daerah sentra produksi apel, salah satunya adalah industri keripik apel.
Keripik apel berkembang menjadi komoditi pangan olahan yang banyak dipasarkan karena mempunyai pasar yang cukup baik. Hal ini mengingat keripik adalah salah satu jenis makanan ringan atau dikenal dengan istilah camilan yang sangat disukai masyarakat Indonesia karena rasanya yang enak, renyah, tahan lama, praktis, mudah dibawa dan disimpan, serta dapat dinikmati kapan saja(1). Makanan ringan ini sering dikonsumsi pada waktu senggang oleh orang dewasa dan anak-anak dalam masa pertumbuhan. Oleh karena itu, diperlukan suatu standar keripik apel di Indonesia. Satu satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) (2). Adanya SNI keripik apel dapat menjadi acuan bagi Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) sebagai produsen keripik apel untuk mengembangkan produknya sehingga keripik apel yang dihasilkan dapat bersaing dengan produk sejenis. Di sisi lain, bagi konsumen, SNI keripik apel dapat melindungi kesehatan konsumen dari keripik apel yang tidak memenuhi SNI kerpik apel yang berlakuk.
Dalam perumusan SNI (termasuk merumuskan SNI keripik apel) terdapat berbagai tahapan proses, yang dimulai dari penyusunan konsep Rancangan Standar Nasional Indonesia 1 (RSNI 1) oleh konseptor bertujuan untuk
memperoleh konsep awal SNI keripik apel yang selanjutnya akan melalui tahap tahap perumusan SNI, yakni: rapat teknis, rapat konsensus, jajak pendapat,
e-balloting, hingga penetapan menjadi SNI (2). Oleh karena itu, dalam tugas khusus ini, penyusun memposisikan diri sebagai konseptor untuk menyusun RSNI 1 keripik apel.
1.2 Tujuan
Penulisan tugas khusus ini bertujuan untuk:
a. mempelajari dan mengetahui proses perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI).
b. mempelajari dan mengetahui tujuan penyusunan Rancangan Standar Nasional Indonesia 1 (RSNI1) keripik apel.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Apel
Gambar 2.1 (a). Apel rhome beauty Gambar 2.1 (b). Apel rhome manalagi
Apel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari Asia Barat dengan iklim sub-tropis. Di Indonesia, apel dapat tumbuh dan berbuah baik di daerah dataran tinggi. Sentra produksi apel di Indonesia terdapat di Malang dan Pasuruan, Jawa Timur. Di daerah ini, apel telah diusahakan sejak tahun 1950 dan berkembang pesat pada tahun 1960 hingga saat ini. Selain itu daerah lain yang banyak dinanami apel adalah Jawa Timur (Kayumas-Situbondo, Banyuwangi), Jawa Tengah (Tawangmangu), Bali (Buleleng dan Tabanan), Nusa Tenggara Barat, NusaTenggara Timur dan Sulawesi Selatan(3).
Menurut klasifikasi ilmiah, Apel memiliki nama latin Malus sp. dan termasuk dalam familia Rosaceae. Apel memiliki bermacam-macam varietas yang memiliki kekhasan tersendiri. Beberapa varietas apel unggulan, antara lain: rhome
beauty, wangli, dan manalagi (apel malang)(3). Apel tidak termasuk buah musiman karena apel dapat dipanen setiap 6 bulan sekali berdasarkan siklus pemeliharaan yang telah dilakukan dengan perkiraan produksi sekitar 6-15 kg/pohon, tergantung dengan varietas yang dibudidayakan(3).
Apel merupakan buah dengan kandungan gizi yang beragam, antara lain: kalori, protein, lemak, kalsium, zat besi, vitamin C. Untuk lebih jelasnya, kandungan gizi dalam 100 gram buah apel dapat dilihat dalam tabel pada tabel 2.1 di halaman berikutnya
Tabel 2.1. Kandungan Gizi 100 gram Buah Apel(4)
Kandungan Gizi Jumlah /100 g buah Apel Kalori 58 KKal Protein 0,3 g Lemak 0,4 g Karbohidrat 14,9 g Vitamin A 90 I.U. Vitamin B1 0, 04 mg Vitamin C 5 mg Kalsium 6 mg Fosfor 10 mg Zat Besi 0 mg 2.2. Keripik Apel
Gambar 2.2. Keripik Apel
Salah satu pengolahan buah apel adalah menjadi keripik apel yang renyah dan gurih. Pengolahan menjadi keripik apel ini dapat membantu meningkatkan nilai jual apel dan merupakan salah satu upaya untuk mengolah stok apel pasca panen. Dalam applikasi sehari-hari, keripik sangat cocok untuk dijadikan sebagai camilan di waktu senggang, dan digemari oleh banyak orang.
Definisi keripik berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor: HK. 00. 05.52.4040 tahun 2006 tentang Kategori Pangan adalah produk buah, ubi, sayur, atau bahan lainnya berbentuk pipih atau bentuk lainnya
dicampur tanpa dicampur dengan adonan tepung dan bumbu serta langsung digoreng(5). Oleh karena itu, keripik apel adalah makanan yang dibuat dari buah apel (Malus sp.﴿, yang melalui proses pemotongan dan penggorengan, dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lain serta bahan tambahan pangan yang diizinkan.
2.3. Standar dan Standardisasi(6)
Standar adalah spesifikasi atau persyaratan teknis yang dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Sedangkan, standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisi standar, dilaksanakan secara tertib dan kerjasama semua pihak.
2.4. Standardisasi di Indonesia
Kegiatan standardisasi diperlukan untuk mengantisipasi era globalisasi perdagangan dunia. Kegiatan ini meliputi penyusunan standar dan penilaian kesesuaian (conformity assessment) secara terpadu yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, untuk membina, mengembangkan serta mengkoordinasikan kegiatan di bidang standardisasi secara nasional menjadi tanggung jawab Badan Standardisasi Nasional (BSN). Badan Standardisasi Nasional (BSN) adalah Badan yang membantu Presiden dalam menyelenggarakan pengembangan dan pembinaan di bidang standardisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku(7). BSN juga berwenang untuk menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai salah satu luaran dari proses standardisasi. Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar yang dibuat oleh panitia teknis yang dikoordinasikan oleh instansi teknis sesuai dengan kewenangannya, ditetapkan oleh BSN dan berlaku secara nasional. SNI disusun dengan tujuan yang beragam, antara lain: untuk memantapkan dan meningkatkan daya saing produk nasional, memperlancar arus perdagangan, dan melindungi kepentingan umum(2).
2.5. Proses Penyusunan SNI(2)
Sebelum proses penyusunan SNI, dilakukan penyusunan, pengusulan, dan pengajuan Program Nasional Perumusan Standar (PNPS) kepada BSN. PNPS adalah rencana kegiatan untuk merumuskan SNI dalam periode tertentu, yang dipublikasikan agar dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.PNPS dapat mencakup usulan perumusan SNI baru, revisi atau amandemen SNI. PNPS paling lambat diajukan kepada BSN pada bulan Oktober setiap tahunnya. Apabila usulan tersebut setelah dikaji oleh BSN diterima, maka usulan akan dimasukkan ke dalam PNPS pada periode selanjutnya.
Perumusan SNI dilaksanakan sesuai PNPS dengan mengacu pada ketentuan dalam Pedoman Standardisasi Nasional dan pedoman atau ketentuan lain yang relevan sesuai dengan kebutuhan. Proses perumumsan SNI dilaksanakan oleh Panitia Teknis (PANTEK) dari unit terkait atau kementrian terkait sesuai dengan perihal yang ingin distandardisasi, yang terdiri dari wakil Pemerintah, wakil ahli/perguruan tinggi, wakil Industri/Usaha, wakil dari konsumen (diusulkan oleh koordinator PANTEK﴿ dan ditetapkan oleh BSN. Proses perumusan SNI dilaksanakan mengikuti tahapan sesuai tabel 2.2 di halaman berikutnya.
Gambar 2.3. Tahap Perumusan SNI
2.5.1. Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI)
RSNI adalah rancangan SNI yang disusun oleh panitia teknis atau subpanitia teknis secara konsensus. RSNI merupakan dokumen yang dihasilkan dalam tahap-tahap perumusan SNI. RSNI 1 adalah rancangan SNI yang dihasilkan oleh konseptor yang ditunjuk untuk menyusun konsep SNI terkait perihal yang ingin distandardisasi. RSNI 1 kemudian akan dibahas dalam rapat teknis untuk dibahas oleh pantek/sub panitia teknis terkait. Hasil pembahasan rapat teknis ini adalah RSNI 2. RSNI 2 ini kemudian akan dibahas hingga mencapai konsesus di antara pantek dan atau sub panitia teknis terkait untuk diajukan kepada BSN. Hasil dari rapat konsesus adalah RSNI 3 yang akan disebarluaskan oleh BSN kepada pantek/sub panitia teknit terkait dan masyarakat standardisasi (MASTAN) untuk melalui tahap jajak pendapat. Apabila seluruh anggota yang memiliki hak suara menyatakan setuju pada tahap jajak pendapat, RSNI 3 dapat diproses langsung menjadi Rancangan Akhir Standar Nasioanal Indonesia (RASNI). RASNI adalah RSNI yang siap ditetapkan menjadi SNI. Apabila hanya 2/3 anggota yang berhak memberikan suara pada tahap jajak pendapat menyatakan setuju, maka RSNI 3 ini
dapat diajukan menjadi RSNI 4 setelah melalui tahap perbaikan akhir. Perbaikan dilakukan oleh panitia teknis dengan memperhatikan semua tanggapan yang diperoleh dalam tahap jajak pendapat. RSNI 4 kemudian dapat disetujui untuk menjadi RASNI apabila disetujui oleh 2/3 anggota yang berhak memberikan suara pada tahap e-balloting. Melihat uraian di atas, perbedaan antara RSNI 1, RSNI 2, RSNI 3, dan RSNI 4 adalah adanya masukkan dan pembahasan dari berbagai pihak yang terlibat pada setiap tahapan yang dilalui dalam proses perumusan SNI.
2.5.2. Penyusunan konsep (drafting)
Pertama-tama penyusunan SNI dilakukan dengan menyusun konsep Rancangan Standar Nasional Indonesia 1 (RSNI 1) selama 1-3 bulan oleh konseptor. Konseptor dapat berbentuk perorangan atau gugus kerja yang terdiri atas tenaga ahli yang berkaitan dengan bidang standar yang akan dirumuskan dan dapat berasal dari luar anggota panitia teknis atau subpanitia teknis. Gugus kerja ini bersifat sementara dan tugasnya selesai setelah RSNI1 disetujui menjadi RSNI2 oleh panitia teknis atau subpanitia teknis. Apabila diperlukan gugus kerja atau subpanitia teknis atau panitia teknis dapat berkonsultasi dengan berbagai pihak lain yang berkepentingan, melakukan penelitian, studi banding, dan atau pengujian untuk memastikan agar ketentuan yang dicakup dalam RSNI 1 sesuai dengan konteks tujuan penyusunan SNI tersebut serta kondisi yang mempengaruhinya. Apabila menetapkan metode pengujian baru yang berdiri sendiri atau merupakan bagian suatu standar dan metode tersebut tidak mengadopsi atau tidak mengacu suatu standar lain yang biasa digunakan, maka harus dilakukan validasi.
2.5.3 Rapat Teknis
RSNI 1 yang disusun oleh konseptor atau gugus kerja dibahas dalam rapat teknis yang diikuti oleh panitia teknis atau subpanitia teknis untuk mendapatkan pandangan dan masukan dari seluruh anggota. Rapat teknis harus dihadiri oleh 3/4 anggota Panitia Teknis. Apabila diperlukan dalam tahap ini dapat diundang pakar dan dilakukan konsultasi dengan berbagai pihak dan atau melakukan
penelitian/pengujian sesuai dengan kebutuhan. Hasil rapat teknis setelah diperbaiki oleh tim editor adalah RSNI 2.
2.5.3 Rapat Konsensus Panitia Teknis atau Subpanitia Teknis
RSNI 2 selanjutnya dikonsensuskan oleh panitia teknis atau subpanitia teknis dengan memperhatikan pandangan seluruh peserta rapat yang hadir dan pandangan tertulis dari anggota panitia teknis atau subpanitia teknis yang tidak hadir. Apabila diperlukan, dalam tahap ini dapat diundang pakar dari luar anggota panitia teknis atau subpanitia teknis sebagai narasumber yang pendapatnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh anggota panitia teknis atau subpanitia teknis dalam mengambil keputusan, tetapi tidak memiliki hak suara. Rapat konsensus hanya dapat dilakukan apabila rapat mencapai kuorum, yaitu minimal 2/3 anggota panitia teknis atau subpanitia teknis hadir dan semua pihak yang berkepentingan terwakili. Pelaksanaan rapat konsensus harus dihadiri oleh Tenaga Ahli Standardisasi yang ditugaskan oleh BSN sebagai pengendali mutu (TAS-QC) perumusan SNI. Selain itu, anggota panitia teknis atau subpanitia teknis yang tidak hadir dalam rapat berhak memberikan pandangannya secara tertulis sebagai bahan pembahasan, namun yang bersangkutan tidak diperhitungkan di dalam kuorum dan pemungutan suara. RSNI2 dapat ditetapkan menjadi RSNI 3 apabila anggota panitia teknis atau subpanitia teknis peserta rapat konsensus menyepakati rancangan tersebut secara aklamasi. Jika dalam hal aklamasi tidak dicapai, dapat dilakukan voting, dengan sekurang-kurangnya 2/3 dari anggota panitia teknis atau subpanitia teknis peserta rapat konsensus menyatakan setuju. Apabila peserta rapat konsensus yang menyetujui rancangan tersebut tidak mencapai 2/3 maka RSNI 2