BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Bentuk Sediaan Oral ... ... 3 2.1.1 Tablet... . 3 2.1.2 Kapsul dan Kaplet... 4 2.1.3 Sirup dan Suspensi... 4
2.1.4 Petunjuk Pemakaian Obat Oral... 4 4 2.2 Informasi Dalam Penyerahan Obat ... 6
2.3 Peran Apoteker Dalam Penyerahan Obat... 9
BAB 3 METODE PENGKAJIAN.. ... 11
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan... 11 3.2 Metode Pengumpulan Data... 11
BAB 4 HASIL ... 12
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 107
5.1 Kesimpulan ... 107 5.2 Saran ... 107
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Minum obat dengan segelas air... 4 Gambar 2.2 Minum obat saat makan... ... 5 Gambar 2.3 Minum obat sebelum makan... ... 5 Gambar 2.4 Minum obat setelah makan... ... 5 Gambar 2.5 Obat untuk kerja diperlama (long acting) harus ditelan seluruhnya.
Tidak boleh dipecah atau dikunyah... 5 Gambar 2.6 Minum obat sampai habis... ... 6
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Informasi obat dan pengobatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses terapi rasional. Pengobatan yang rasional adalah suatu keadaan pasien yang menerima pengobatan sesuai dengan kebutuhan klinis mereka, dengan dosis, cara pemberian dan durasi yang tepat sehingga meningkatkan kepatuhan pasien terhadap proses pengobatan (BPOM RI, 2008).
Proses penyerahan obat seringkali diabaikan dan dianggap kurang penting. Hal ini sangat merugikan karena proses penyerahan obat yang tidak tepat dan tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak buruk bagi sistem pemberian pelayanan kesehatan. Semua proses yang telah dilakukan hingga penentuan obat untuk pasien akan menjadi tidak berguna bila proses penyerahan obat tidak dapat menjamin ketepatan pemberian obat yang benar kepada pasien yang benar dalam dosis dan jumlah yang efektif, dengan instruksi yang jelas dan penyimpanan obat dalam kemasan yang menjamin kestabilan obat (BPOM RI, 2008).
Pemakaian obat oral adalah cara yang paling lazim karena praktis, mudah dan aman. Minum obat yang terbaik adalah minum dengan segelas air. Cara pemakaian obat yang tepat yaitu obat digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan obat, pada saat yang tepat, dan dalam jangka waktu terapi sesuai anjuran (Depkes RI, 2006).
Proses penyerahan obat kepada pasien disertai dengan informasi tambahan mengenai peringatan atau hal-hal yang sebaiknya diperhatikan saat menggunakan obat misalnya melalui pelabelan tertentu yang memberikan informasi obat. Informasi tambahan pada label yang diberikan bertujuan untuk melengkapi instruksi yang diberikan oleh dokter, misalnya “Kocok dahulu”, “Obat ini dikunyah dahulu sebelum ditelan”, “Obat ini harus diminum sampai habis” dan lain-lain (BPOM RI, 2008).
Peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit dalam upaya meningkatkan penggunaan obat yang rasional, salah satunya dengan memberikan informasi tambahan pada label dengan tepat dan jelas guna meningkatkan
dengan membuat daftar label obat sebagai panduan memberi label pada kemasan obat di lingkungan RSUP Fatmawati.
1.2 Tujuan
Tujuan pelaksanaan tugas khusus ini adalah untuk:
1.2.1 Memperoleh data jumlah jenis sediaan oral yang terdapat di RSUP Fatmawati berdasarkan Formularium RSUP Fatmawati Edisi VI tahun 2012.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bentuk Sediaan Oral 2.1.1 Tablet
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi (FI IV, 1995).
Jenis-jenis tablet, antara lain (Ansel, 2005): a. Tablet kompresi
Tablet kompresi yaitu tablet yang dibuat dengan sekali tekanan menjadi berbagai bentuk tablet dan ukuran, biasanya ke dalam bahan obatnya diberi tambahan sejumlah bahan pembantu antara lain pengisi, pengikat, penghancur, pelincir dan bahan tambahan lain seperti zat warna dan zat pemberi rasa. b. Tablet salut gula
Tablet salut gula yaitu tablet kompresi yang diberi lapisan gula baik berwarna maupun tidak, lapisan ini larut dalam air dan cepat terurai begitu ditelan. c. Tablet salut selaput
Tablet salut selaput yaitu tablet disalut dengan selaput tipis dari polimer yang larut atau tidak larut dalam air maupun membentuk lapisan yang meliputi tablet.
d. Tablet salut enterik
Tablet salut enterik yaitu tablet yang disalut dengan lapisan yang tidak melarut atau hancur di lambung tapi di usus.
e. Tablet sublingual atau bukal
Tablet sublingual yaitu tablet yang disisipkan di pipi atau di bawah lidah biasanya berbentuk datar, tablet oral yang direncanakan larut dalam kantung pipi atau di bawah lidah untuk diabsorpsi melalui mukosa oral.
f. Tablet kunyah
Tablet kunyah yaitu tablet yang segera hancur ketika dikunyah atau dibiarkan melarut dalam mulut.
Tablet effervescent yaitu tablet kompresi yang mengandung bahan yang mampu melepaskan gas dan berbuih ketika bercampur dengan air. Tablet ini harus dilarutkan dalam air baru diminum.
2.1.2 Kapsul dan Kaplet
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin; tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai (Depkes RI, 1995). Kaplet (kapsul tablet) adalah bentuk tablet yang dibungkus dengan lapisan gula dan biasanya diberi zat warna yang menarik.
2.1.3 Sirup dan Suspensi
Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa (C12H22O11), tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0% (FI III, 1979).
Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat dalam bentuk halus yang tidak larut tetapi terdispersi dalam cairan. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap, jika dikocok perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali. Suspensi umumnya mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitasnya, sebagai stabilisator dapat dipergunakan bahan-bahan disebut sebagai emulgator (Joenoes, 1990).
2.1.4 Petunjuk Pemakaian Obat Oral
Pemakaian obat oral adalah cara yang paling lazim, karena sangat praktis, mudah dan aman. Minum obat yang terbaik adalah minum obat dengan segelas air (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Ikuti petunjuk dari profesi pelayan kesehatan (saat makan atau saat perut kosong)
Gambar 2.2 Minum obat saat makan (Departemen Kesehatan RI, 2006)
Gambar 2.3 Minum obat sebelum makan (Departemen Kesehatan RI, 2006)
Gambar 2.4 Minum obat setelah makan (Departemen Kesehatan RI, 2006)
Gambar 2.5 Obat untuk kerja diperlama (long acting) harus ditelan seluruhnya.
Tidak boleh dipecah atau dikunyah (Departemen Kesehatan RI, 2006)
Gambar 2.6 Minum obat sampai habis (Departemen Kesehatan RI, 2006)
a. Sediaan obat bentuk cair, gunakan sendok obat atau alat lain sesuai ukuran ketepatan dosis. Jangan gunakan sendok rumah tangga.
b. Penderita yang sulit menelan sediaan obat, anjurkan kepada dokter untuk meminta pilihan bentuk sediaan lain.
Petunjuk pemakaian obat oral untuk bayi/ anak balita :
a. Sediaan cair untuk bayi dan balita harus jelas dosisnya, gunakan sendok takar dalam kemasan obatnya.
b. Segera berikan minuman yang disukai anak setelah pemberian obat yang terasa tidak enak/ pahit.
2.2 Informasi Dalam Penyerahan Obat
Proses penyerahan obat kepada pasien, ada 8 langkah penting yang sebaiknya dilakukan untuk menjamin terlaksananya penyerahan obat yang benar kepada pasien dari petugas penyerah obat. Setiap langkah membawa tanggung jawab dan atau pertimbangan yang penting untuk dilakukan. Hal ini diasumsikan bahwa pemberi resep telah melakukan diagnosis yang benar serta memilih obat yang benar dan regimen yang tepat, serta pasien mempunyai akses terhadap apotek (BPOM RI, 2008).
Langkah tersebut adalah sebagai berikut (BPOM RI, 2008) :
1. Petugas penyerah obat menerima resep yang benar dari pasien atau pemberi resep (secara tertulis atau lisan ) dan melakukan pengkajian resep terhadap antara lain :
b) Jika diperlukan komunikasi dengan pemberi resep untuk resep yang meragukan dan tidak jelas
2. Petugas penyerah obat membaca resep dengan benar dan memeriksa ketepatan instruksi yang tertulis pada resep, terhadap :
a) Nama obat
b) Dosis, cara dan lama pemberian c) Ketersediaan obat
Petugas penyerah obat kemudian mencari obat di tempat penyimpanan. 3. Obat yang diresepkan tersedia dalam kondisi layak pakai (tidak kadaluarsa
atau rusak). Petugas penyerah obat sebaiknya :
a) Menjamin obat disimpan pada tempat yang benar
b) Memeriksa tanggal kadaluarsa dan melakukan proses FIFO (First
In first Out )
c) Melakukan proses periksa dan pemeriksaan ulang (jika memungkinkan) terhadap ketepatan nama, kekuatan dan bentuk sediaan obat yang diberikan
4. Petugas penyerah obat sebaiknya memiliki pengetahuan obat dan cara penggunaan obat yang tepat dan dapat pula melakukan hal berikut :
a) Penyiapan obat dengan tepat
b) Pengecekan kembali terhadap jenis obat dan dosis
5. Petugas penyerah obat sebaiknya mengkomunikasikan kepada pasien cara yang tepat untuk menggunakan obat melalui informasi mengenai :
a) Etiket obat yang mencantumkan informasi mengenai nama pasien, nama obat, petunjuk penggunaan obat, tanggal pemberian obat, identitas pemberi resep, dan identitas petugas penyerah obat
b) Instruksi berupa simbol, untuk pasien yang buta huruf c) Pemberi label/etiket informasi tambahan untuk obat
6. Pasien mengerti terhadap instruksi dari petugas penyerah obat. Petugas penyerah obat sebaiknya :
a) Mengulang secara lisan, instruksi yang tertulis pada etiket, jika memungkinkan dalam bahasa yang jelas dan lugas, yang dimengerti oleh pasien
b) Meminta pasien untuk mengulang instruksi yang diberikan c) Menekankan kebutuhan terhadap adanya kepatuhan
d) Menginformasikan peringatan dan perhatian terkait penggunaan obat
e) Memberikan perhatian khusus terhadap kondisi tertentu seperti wanita hamil, pasien yang memiliki gangguan penglihatan dan pendengaran, buta huruf, anak dan pasien lanjut usia dan pasien yang mendapatkan lebih dari satu jenis obat.
7. Yakinkan pasien untuk mematuhi instruksi dari terapi. Untuk meningkatkan kepatuhan, pemberian obat sebaiknya disertai dengan pemberian informasi yang memadai. Komunikasikan dengan pasien atau keluarganya seringkali menemui hambatan, sehingga pasien gagal untuk mengikuti petunjuk pengobatan. Berikut ini beberapa kemungkinan penyebab yang telah teridentifikasi :
a. Ada kesengajaan antar pemberi dan menerima informasi, baik dalam penggunaan bahasa, cara penuturan, ataupun cara pendekatan
b. Waktu untuk memberikan informasi terbatas
c. Pemberi informasi tidak berhasil menarik perhatian atau keterbukaan pasien/ keluarganya
d. Informasi yang diberikan tidak diartikan secara benar, atau tidak dimengerti
e. Petunjuk yang diberikan tidak dipahami f. Petunjuk yang diberikan tidak disepakati
g. Petunjuk yang diberikan tidak dapat dilaksanakan h. Petunjuk diberikan secara tidak lengkap
i. Hal-hal yang sebaiknya dikerjakan terlupa j. Pasien tidak suka diajak berdiskusi
k. Pasien/ keluarga merasa sudah mengetahui l. Keyakinan pasien/ keluarganya sulit diubah
Tidak tersampaikannya informasi secara baik, mutlak menjadi tanggung jawab apoteker atau petugas penyerah obat lainnya, walaupun hambatannya mungkin ada di pihak penerima.
8. Petugas penyerah obat melakukan pendokumentasian terhadap langkah yang dilakukan, yaitu :
a) Memasukkan detail informasi pada profil pengobatan pasien b) Memasukkan data resep
c) Melengkapi data inventori
2.3 Peran Apoteker Dalam Penyerahan Obat
Apoteker mempunyai fungsi yang penting dalam sistem pelayanan kesehatan, baik dalam hal pengadaan, distribusi, peresepan, maupun monitoring penggunaan obat (BPOM RI, 2008).
Peran lain dari apoteker adalah melakukan (BPOM RI, 2008):
a. Komunikasi dengan dokter : dalam melakukan konfirmasi resep atau menjawab pertanyaan
b. Mematuhi standar terapi, terutama yang berlaku secara lokal : apoteker di rumah sakit dapat diberi tanggung jawab untuk memastikan kepatuhan resep terhadap standar terapi. Terutama untuk regimen yang sifatnya kompleks seperti terapi kanker.
c. Penelitian terhadap pola peresepan dan penggunaan obat : Apoteker memiliki posisi yang strategis dalam melakukan monitor dan evaluasi terhadap peresepan dan penggunaan obat terutama di rumah sakit lokasi dia bekerja. d. Edukasi pasien : apoteker, pada umumnya, dipercaya oleh pasien dan dapat
memberikan saran yang dihargai oleh pasien secara individual atau edukasi kepada kelompok pasien dengan penyakit tertentu.
Informasi mengenai petunjuk penggunaan berbagai bentuk sediaan perlu diketahui oleh semua tenaga kesehatan (petugas penyerah obat, perawat, dokter, apoteker) agar dapat menjelaskan dengan tepat kepada pasien mengenai cara penggunaan setiap bentuk sediaan obat (BPOM RI, 2008).
Proses penyerahan obat kepada pasien, selalu disertai dengan informasi tambahan mengenai peringatan atau hal-hal yang sebaiknya diperhatikan saat menggunakan obat. Apoteker sebaiknya bisa memastikan bahwa pasien memahami cara meminum atau menggunakan obat serta efek samping yang mungkin ditimbulkan seperti kemampuan memusatkan perhatian atau konsentrasi
saat mengemudi atau bekerja, beberapa makanan atau obat yang dihindari, dan juga perlu dijelaskan apa saja yang sebaiknya dilakukan jika terdapat dosis terlupa. Beberapa sediaan obat ada kebutuhan khusus untuk dilakukan konseling, seperti waktu minum obat atau cara pemberian obat yang khusus atau interaksi yang dapat terjadi dengan makanan atau obat lain (BPOM RI, 2008).
Informasi tambahan label yang diberikan oleh apoteker bertujuan untuk melengkapi instruksi yang diberikan oleh dokter, seperti “Kocok dahulu”, “Obat Luar”, “Simpan di tempat kering dan terlindung dari cahaya”. Selain itu, ada pula informasi tambahan seperti “Buang sisa obat.... hari setelah pembukaan” dan “Jangan gunakan setelah ....” untuk antibiotik yang telah mengalami pencampuran, pengenceran dan sediaan topikal, dan untuk tetes mata (BPOM RI, 2008).
BAB 3
METODE PENGKAJIAN
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelusuran literatur tersier mengenai label sediaan oral di RSUP Fatmawati dilakukan pada tanggal 22 September – 25 Oktober 2013 bertempat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit RSUP Fatmawati.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penulisan laporan label sediaan oral di RSUP Fatmawati adalah dengan penelusuran atau studi literatur berupa Formularium RSUP Fatmawati edisi VI tahun 2012, Drug Information Handbook (DIH), Informasi Obat Nasional Indonesia (IONI), Medication Teaching Manual (MTM) dan USP DI.
Un ive rsitas Ind o n es BAB 4 HASIL
Hasil berupa tabel label sediaan oral berdasarkan formularium RSUP Fatmawati edisi VI tahun 2012.
No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
1 Abbotic XL Tab
salut selaput
Klaritomisin 500 mg
3 3, 4, 27 3, 4,
15, 27 3, 12
Klaritomisin tidak boleh digunakan bersama astemizole, cisapride, pimozide atau terfenadin (USP DI)
2 Abilify Tab Aripiprazol 10 mg, 15
mg
- - - -
Diberikan dengan atau tanpa makanan dan beberapa produk yang mengandung fenilalanin (DIH)
3 Abixa Tab Memantine 10 mg
- - - - Diberikan tanpa makanan
(DIH)
4 Acpulsif Tab Cisaprid 5 mg
- - 5,12 5, 17
Diminum 15 menit sebelum makan dan sebelum tidur. Buah anggur dapat
meningkatkan efek obat ini (USP DI)
5 ACT : Artesunat + amodiakuin
ACT : Artesunat 250 mg
+ amodiakuin 200 mg - - - -
6 Actonel Tab Risedronate Na 35 mg
13, 15, 13, 20, 12, 13,
13,15
Jangan minum obat ini dengan air mineral, kopi, jus jeruk (MTM). Jangan
Un ive rsitas Ind o n es No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
direkomendasikan. Berdiri atau duduk tegak selama paling sedikit 30 menit dan jangan berbaring sampai setelah makan pagi. Jangan menelan tablet pada waktu akan tidur atau sebelum bangun dari posisi berbaring (IONI). Pasien harus tetap dalam posisi berdiri setelah 30 menit pemberian (mengurangi iritasi esofageal). Pastikan asupan vitamin D dan kalsium cukup, hindari pemberian suplemen oral kalsium, antasida,
suplemen
magnesium/laksatif dan preparat besi setelah 30 menit pemberian risedronate (DIH) 7 Actos, Pionic Tab Pioglitazon 15 mg, 30
mg
- - 12, 17 17
Dapat diberikan tanpa makanan (DIH). Dapat diberikan dengan atau tanpa makanan (USP DI)
Un ive rsitas Ind o n es No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
27
sebelum 1 sampai 2 jam setelah minum obat ini (MTM). Hindari jus buah anggur. Dapat diberikan dengan atau tanpa makanan (DIH)
9 Adona Tab Carbazochrome Na
sulfonate 10 mg - - - -
10 Aerius Tab Desloratadin 5 mg - - - -
11 Agulan Tab Tiklopidin HCl 250 mg
3 - - 3
Penggunaan obat bersama makanan atau sesaat setelah makan untuk mencegah nyeri lambung. Jangan menggunakan antasid selama 2 jam penggunaan trikopidin, hindari aspirin bersama triklopidin (MTM)
12 Alanox Kaps Alfa-lifoic acid 600 mg - - - -
13 Albendazol Susp Albendazol 400 mg/10
ml 3, 15 4 - 3
Harus diberikan dengan makanan tinggi lemak (DIH)
14 Albendazol Tab Albendazol 200 mg, 400
mg 3, 15 4 - 3, 27
Harus diberikan dengan makanan tinggi lemak (DIH)
15 Alco Drop 10 ml dan 15 ml
Pseudoefedrin HCl 7,5 mg Per 0,8 ml 15 ml
Kafein yang terkandung pada kopi, teh, dan
Un ive rsitas Ind o n es No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
dan menyebabkan insomnia. Jika
menggunakan amfetamin atau obat asma atau tekanan darah tinggi, jangan menggunakan pseudoefedrin tanpa petunjuk dokter. Jangandigunakan jika menggunakan MAO inhibitor (MTM). Dapat diberikan dengan atau tanpa makanan (DIH). Jangan gunakan >7 hari (USP DI) 16 Alco Plus DMP Sirup Pseudoefedrin HCl 30 mg, Bromfeniramin maleat 2 mg, Dekstrometorfan HBr 10 mg Per 5 ml - 5, 17 5, 17 -
Kafein yang terkandung pada kopi, teh, dan minuman soda
meningkatkan kegelisahan dan menyebabkan
insomnia. Jika
menggunakan amfetamin atau obat asma atau tekanan darah tinggi, jangan menggunakan pseudoefedrin tanpa petunjuk dokter. Jangan
Un ive rsitas Ind o n es No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
menggunakan MAO inhibitor (MTM)
17 Alinamin F Tab Fursutiam HCl 25
mg/ml, Glukose 2000 mg/ml
- - - -
18 Alkeran Tab Melfalan 2 mg 2/11 - 22 15
19 Allopurinol,Isoric Tab Allopurinol 100 mg, 300 mg 3, 15 3, 12, 15 3, 5, 15, 17 3, 5, 15, 17
Jangan terlalu banyak minum jus buah atau suplemen vitamin C (MTM) 20 Alprazolam ER Tab (Xanax) Alprazolam 0,5 mg, 1 mg 12, 27 5, 17 5, 12, 17 5, 12, 17 Merokok dapat menurunkan efektifitas obat ini (MTM).
Diberikan pagi hari (DIH) 21 Alprazolam,
Feprax, Frixitas, Zypraz Tab, Xanax ER Tab Alprazolam 0,25 mg, 0,5 mg, 1 mg 12, 27 5, 17 5, 12, 17 5, 12, 17, 27 Merokok dapat menurunkan efektifitas obat ini (MTM). Diberikan pagi hari (DIH)
22 Ambroxol, Bronchopront, Mucopect Sirup 100 ml dan Mucopect Drop 20 ml Ambroxol HCl 15 mg/5 ml - - - - 23 Ambroxol, Mucopect Tab Ambroxol HCl 30 mg - - - -
24 Amdixal Tab Amlodipin maleat 5 mg,
10 mg - - 5, 12 12
Dapat diberikan tanpa makanan (DIH)
Un ive rsitas Ind o n es No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
kaya potasium (seperti pisang, jus jeruk, kismis dan susu skim). Alkohol meningkatkan efek obat ini (MTM) 26 Aminefron kaplet salut film α-Ketoisoleucine 67 mg, ketoleucine 101 mg, α-Ketophenylalanine 68 mg, α-Hydroxymethionine 59 mg, α-ketovaline 86 mg, Tryptophan 23 mg, L-Threonine 53 mg, L- Histidine 38 mg, Tyrosine 30 mg, L-Lysine acetate 105 mg, Ca 50 mg - - - -
27 Aminofilin Tab Aminofilin 200 mg
- 27 2/11,
12, 27
2/11, 15, 27
Diminum dengan 1 gelas air. Obat demam, alergi atau asma meningkatkan efek samping aminofilin. Kopi, teh dan rokok dapat mempengaruhi efek aminofilin (MTM) 28 Amitriptilin HCl
Tab salut film
Amitriptilin HCl 25 mg - 5, 17, 27 5, 12, 17 3, 5, 12, 15, 17, 21 Amitriptilin tidak
diberikan untuk anak < 12 tahun (DIH)
Un ive rsitas Ind o n es No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
Kapsul lunak 30 Amlodipin, Amlogrix, Divask, Norvask, Tensivask, Theravask tab 5 mg dan 10 mg
Amlodipin besilat Tab 5 mg dan 10 mg
- - 5, 12 12
Dapat diberikan tanpa makanan (DIH) 31 Amoksisillin, Lapimox amoxan, kalmoxilin Tablet dan Kaplet 500 mg Amoksisillin trihidrat 500 mg 3 4 4, 15 2/11, 4, 15
Gunakan obat ini bersama makanan. Diminum dengan 1 gelas air 32 Amoksisillin
trihidrat paed drop (Amoxan)
Amoksisillin trihidrat
250 mg/5 ml 15 ml 3 4 1,4, 15 2/11, 4,
15, 16
Gunakan pipet (IONI)
33 Amoksisillin trihidrat Sir forte (Amoxan) Amoksisillin trihidrat 250 mg/5 ml 60 ml 3 4 1,4, 15 2/11, 4, 15, 16 34 Amoksisillin, Amoxan, Kalmoxilin Sir kering 60 ml Amoksisillin trihidrat 125 mg/5 ml 3 4 1,4, 15 2/11, 4, 15, 16
35 Ampicillin Tab Ampicillin 500 mg
2/11 4, 2 2/11 2/11, 4,
15
36 Anafranil Tab Klomipramin HCl 25 mg
- 5, 17 3, 5,
12, 17
3, 5, 12, 15, 17,
21 37 Analsik Kaps salut
enterik
Metampiron 500 mg,
diazepam 2 mg - 5, 17 5, 17
5, 12, 17, 27
Un ive rsitas Ind o n es No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
40 mg
39 Angeliq Tab Estradiol 1 mg,
Drospirenone 2 mg - - - -
Pastikan asupan vitamin D cukup untuk mencegah osteoporosis (DIH)
40 Angioten Tab Losartan K 50 mg
- - - 5, 17 Dapat diberikan tanpa
makanan (DIH) 41 Antasida DOEN II Susp Antasida DOEN II kombinasi : alumunium hidroksida 200 mg/5 ml, magnesium hidroksida 200 mg/5 ml - - 1 2/11, 15
Diminum di antara makan dan sebelum tidur (DIH). Diminum 1 jam dan 3 jam setelah makan. Jangan gunakan antasida > 1-2 minggu tanpa petunjuk dokter. 42 Antasida DOEN I Tab kunyah Antasida DOEN I kombinasi : aluminium hidroksida 200 mg, magnesium hidroksida 200 mg - 14 14 2/11, 14, 15
Diminum di antara makan dan sebelum tidur
(maksimum 16
tab/hari)(DIH). Diminum dengan 1 gelas air. Jangan menggunakan obat lain secara bersamaan dengan antasida (MTM) 43 Antimalaria DOEN (Pirimetamin+Sulfa doksin) Antimalaria DOEN : Pirimetamin 25 mg, Sulfadoksin 500 mg - - - -
44 Apialys Drop Vit.A 2000 IU, Vit.B1 1
mg, Vit.B2 1,2 mg,
Un ive rsitas Ind o n es No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
400 iu, Nicotinamide 10 mg, Lysine HCl 25 mg, d-Pantotenol 5 mg Per 0,6 ml
45 Apialys Sirup Vit.A 5000 iu, Vit.B1 3 mg, Vit.B2 2 mg, Vit.B6 6 mg, Vit.B12 5 mcg, Vit.C 50 mg, Vit.D 400 iu, Nicotinamide 20 mg, Lysine HCl 250 mg, d-Pantotenol 5 mg, I-Glutamic acid 25 mg Per 5 ml
- - - -
46 Apresoline Tab Hidralazin HCl 3 - 3, 12 -
47 Arcalion 200 Tab salut gula
Sulbutiamine 200 mg
- - - -
48 Arcoxia Tab Etoricaxib 60 mg,90
mg,120 mg - - - -
49 Ardium Tab 500 mg Micronized purified flavonoidic fraction (500 mg flavonoids expressed as hesperidin, diosmin ) - - - - 50 Artesdiaquine (Artesunat, amodiakuin 200) artesunat 50 mg, amodiakuin 200 mg - - - - 51 Asetosal, Aspilet Tab
Asam asetil salisilat
(Asetosal) 80 mg 3, 15, 3, 12, 15,
Dewasa : jangan menggunakan obat ini
Un ive rsitas Ind o n es No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
untuk anak) tanpa resep dokter dan jangan berikan obat ini lebih dari 5 dosis selama 24 jam (MTM). Jangan berbaring dalam 15-30 menit setelah meminum obat ini (USP DI). Dikontraindikasikan untuk anak < 12 tahun (kecuali untuk juvenil
arthritis) (IONI)
52 Asetosal, Aptor, Ascardia, Thrombo aspilet Tab salut enterik
Asam asetil salisila 100 mg, 80 mg 3, 15, 27 18, 27 3, 15, 17, 27 3, 12, 15, 22
Diminum dengan 1 gelas air atau susu. Dewasa : jangan menggunakan obat ini lebih dari 10 hari (5 hari untuk anak) tanpa resep dokter dan jangan berikan obat ini lebih dari 5 dosis selama 24
jam(MTM).
Jangan berbaring dalam 15-30 menit setelah meminum obat ini (USP DI). Dikontraindikasikan untuk anak < 12 tahun (kecuali untuk juvenil
Un ive rsitas Ind o n es No
Nama Obat Komposisi Obat Label Keterangan
DIH IONI MTM USP DI
(Vitamin C) Tab jangka panjang dan jangan
melebihi dosis yang dianjurkan tanpa
konsultasi dokter (MTM) 54 Asam askorbat Tab
hisap (Vitacimin) Asam askorbat 50 mg - 15 - Penggunaannya dihisap (IONI) 55 Asam folat, Anemolat, Folavit, Folic acid Tab
Asam folat 1 mg, 400 mcg, 5 mg - - 12 - 56 Asam mafenamat,mefinal, Lapistan Tab 250 mg dan 500 mg Asam mafenamat 250 mg dan 500 mg - 3 3, 5, 17 - 57 Asam traneksamat, Kalnex Tab dan Kaps
Asam traneksamat 250
mg dan 500 mg - - - -
58 Asam traneksamat, Plsaminex Tab salut film Asam traneksamat 500 mg - - - - 59 Asetazolamid, Diamox, Glaucon Tab Asetazolamid 250 mg - 5 3 3, 5
Obat ini menurunkan kewaspadaan dan keseimbangan, jangan mengendarai mobil atau menjalankan mesin (MTM). Kapsul lepas lambat tidak