• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 95-137)

iv

Halaman Gambar 2.1. Struktur Kimia Metil Paraben ... 12 Gambar 2.2. Struktur Kimia Propil Paraben ... 13 Gambar 2.3. Struktur Kimia Butil Hidroksitoulen ... 14 Gambar 2.4. Struktur Kimia D- α-Tokoferil asetat ... 17 Gambar 4.1. Perbandingan Hasil Uji Coba Aplikasi Lipsik pada 11 orang

Responden pada Formula I dan Formula II... 32 Gambar 4.2. Presentase Formula Lipstik yang Digemari Responden Berdasarkan Kenyamanan Aplikasi pada Bibir ... 33

v

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 4.1. Data Hasil Pengukuran Titik Leleh Formula Lipstik ... 28 Tabel 4.2. Hasil Uji Coba Aplikasi Lipstik pada 11 orang Responden pada

Formula I ... 30 Tabel 4.3. Hasil Uji Coba Aplikasi Lipstik pada 11 orang Responden pada

Formula II... 31 Tabel 4.4. Persentase Formula Lipstik yang Digemari Responden Berdasarkan

vi

Halaman Lampiran 1. Lipstik Hasil (a) Formulasi I dan (b) Formulasi II ... 38 Lampiran 2. Hasil Olesan Lipstik (a) Formula I (b) Formula II ... 38

1 Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kosmetika adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik atau memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit. Kosmetika diklasifikasikan atas kosmetika perawatan kulit, kosmetika dekoratif dan kosmetika tubuh. Kosmetika dekoratif diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti percaya diri (self confident). Dalam kosmetik dekoratif, peran zat warna dan pewangi sangat besar. Kosmetik dekoratif terbagi menjadi 2 golongan, yaitu: Kosmetik dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan pemakaian sementara, misalnya lipstik, bedak, pemerah pipi, eyes shadow, dan lain-lain serta kosmetik dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu lama baru luntur, misalnya cat rambut, pengeriting rambut, dan preparat penghilang rambut (Tranggono, 2008)

Pewarna bibir merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah dan juga disertai bahan yang dapat melindungi bibir dari lingkungan yang merusak misalnya sinar ultraviolet (Wasitaatmadja, S.M., 1997). Pewarna bibir digunakan oleh hampir seluruh wanita di lingkungan masyarakat modern karena lipstik telah dikenal dan diterima oleh masyarakat sebagai kosmetik rias wajah yang sering digunakan dan mempunyai arti yang sangat penting untuk memberi efek penyegar kepada wajah. Pewarna bibir terdapat dalam berbagai bentuk, seperti cairan, krayon, dan krim. Pewarna bibir dalam bentuk cairan dan krim umumnya akan memberikan selaput yang tidak tahan lama dan mudah terhapus dari bibir dibandingkan pewarna bibir dalam bentuk krayon. Pewarna bibir bentuk krayon lebih dikenal dengan nama lipstik yang mana termasuk produk kosmetik wajah yang sudah menjadi identitas bagi wanita pada

Universitas Indonesia zaman modern ini. Tanpa polesan pewarna bibir ini banyak diantara wanita merasa kurang tampil percaya diri di depan umum.

Syarat sediaan lipstik antara lain harus mudah digunakan, warna merata dan tidak berubah, mempunyai rasa yang menyenangkan, perlekatan yang baik, tidak terpengaruh oleh perubahan suhu, bebas dari perubahan fisik, bentuk padat dan tidak mudah hancur.

Guna memperoleh sediaan lipstik yang memenuhi syarat, maka dibutuhkan suatu formula yang tepat. Pada Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Fabindo Sejahtera dilakukan suatu percobaan pembuatan dua buah formula lipstik dengan dua emolien yang memiliki nama ilmiah yang sama namun dengan viskositas yang berbeda dan akan diamati pengaruhnya terhadap titik leleh dan karakteristik aplikasi lipstik.

1.2 Tujuan

1. Mengetahui pengaruh penambahan Hydrogenated polydecene viskositas 20 dan viskositas 30 sebagai emolien terhadap titik leleh dan karakteristik aplikasi lipstik.

2. Mengetahui pengaruh penambahan Hydrogenated polydecene viskositas 20 dan viskositas 30 terhadap jenis lipstik yang dihasilkan.

3 Universitas Indonesia

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kosmetika

Kosmetika berasal dari kata kosmein yang berarti berhias. Bahan yang dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang tedapat disekitarnya. Sekarang kosmetik dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan sintesis dengan maksud meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja,1997). Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 140/1991, kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin luar), gigi dan rongga mulut untuk: membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampilan, melindungi supaya dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit.

Banyaknya kosmetika yang beredar dengan segala macam bentuk dan nama, telah membingungkan baik para pemakai maupun pihak-pihak lain yang berperan serta di dalamnya. Untuk itu para ahli berusaha mengelompokkan kosmetika sesederhana mungkin. Penggolongan menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I. berdasarkan kegunaan dan lokalisasi pemakaian pada tubuh, kosmetika dig olongkan menjadi 13 golongan antara lain:

 Preparat untuk bayi; minyak bayi, bedak bayi, dan lain-lain.

Preparat untuk mandi; minyak mandi, bath capsules, dan lain-lain.

Preparat untuk mata; maskara, eye shadow, dan lain-lain.

 Preparat wangi-wangian; parfum, toilet water dan lain-lain.

Preparat untuk rambut; cat rambut, hairspray, pengeriting rambut dan lain-lain.

Preparat pewarna rambut; cat rambut, hair bleach, dan lain-lain.

Preparat make up (kecuali mata); pemerah bibir, pemerah pipi, bedak muka dan lain-lain.

Preparat untuk kebersihan mulut; mouth washes, pasta gigi, breath freshener dan lain-lain.

Universitas Indonesia

Preparat untuk kebersihan badan; deodorant, feminism hygiene spray dan lain-lain.

 Preparat kuku; cat kuku, krem dan lotion kuku, dan lain-lain.

Preparat cukur; sabun cukur, after shave lotion, dan lain-lain.

 Preparat perawatan kulit; pembersih, pelernbab, pelindung dan lain-lain.

Preparat untuk suntan dan sunscreen; suntan gel, sunscreen foundation dan lain-lain.

Pembagian yang dipakai pada bagian Kosmetologi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, berdasarkan kegunaan dan cara bekerjanya kosmetika dibagi dalam tiga golongan antara lain:

Kosmetik perawatan kulit (skin care cosmetic)

Jenis ini perlu untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk di dalamnya:

Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser): sabun, cleansing cream,

cleansing milk, dan penyegar kulit (freshener).

Kosmetik untuk melembabkan kulit (mosturizer), misalnya moisturizer

cream, night cream, anti wrinkel cream.

Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan sunscreen

foundation, sun block cream atau lotion.

Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling), misalnya

scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai

pengamplas (abrasiver).

Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)

Kosmetika dasar: foundation, bedak

Make up : lipstik, blusher, eyeshadow, eyeliner

 Perawatan kuku : cat kuku, pembersih cat kuku

Body Cosmetics

 Sabun mandi padat-cair, perlengkapan mandi

5

Universitas Indonesia

Antiperspirant & deodoran: deodorant spray-stick-roll on

Bleaching, depilatory

Insect repellent

Kosmetik dekoratif adalah bahwa kosmetik ini bertujuan semata-mata untuk mengubah penampilan, yaitu agar tampak lebih cantik dan noda-noda atau kelainan pada kulit tertutupi. Kosmetik dekoratif tidak perlu menambah kesehatan kulit. Kosmetik ini dianggap memadai jika tidak merusak kulit (Tranggono, 2008). Persyaratan untuk kosmetik dekoratif antara lain adalah (Tranggono, 2008): warna yang menarik, bau harum yang menyenangkan, tidak lengket, tidak menyebabkan kulit tampak berkilau, tidak merusak atau mengganggu kulit.

Kosmetik dekoratif dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu:

 Kosmetik dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan pemakaiannya sebentar, misalnya bedak, lipstik, pemerah pipi, eye shadow, dan lain-lain.

 Kosmetik dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu lama baru luntur, misalnya cat rambut, dan pengeriting rambut.

2.2. Bibir (deNavarre,1993)

Kulit adalah lapisan atau jaringan yang menutup seluruh tubuh dan melindungi dari bahaya yang datang dari luar. Bagi wanita, kulit merupakan bagian tubuh yang perlu mendapat perhatian khusus untuk memperindah kecantikan. Bagi seorang dokter apa yang terlihat pada kulit dapat membantu menemukan penyakit yang diderita pasiennya. Lapisan kulit pada dasamya sarna di semua bagian tubuh, kecuali di telapak tangan, telapak kaki, dan bibir. Tebalnya bervariasi dari 0,5 mm di kelopak mata sarnpai 4 mm di telapak kaki.

Warna kulit bibir setiap orang hampir seluruhnya berwarna merah. Warna merah tersebut disebabkan oleh warna darah yang mengalir dalam pembuluh di lapisan bawah kulit bibir. Di bagian ini warna itu terlihat lebih jelas karena pada bibir tidak ditemukan satu lapisan kulit paling luar, yaitu lapisan cornium (lapisan tanduk) sehingga, kulit bibir lebih tipis dari kulit wajah. Karena itu, bibir juga lebih mudah luka dan mengalami pendarahan.

Universitas Indonesia Di samping itu, karena kulitnya yang tipis, saraf yang mengurus sensasi pada bibir menjadi lebih sensitif. Luka yang sedikit pada bibir dapat menimbulkan rasa sakit yang lebih hebat.

2.3. Lipstik (Rieger,2000 ; deNavarre,1993)

Lipstik merupakan kosmetik bibir yang dicetak menjadi bentuk stik dan merupakan dispersi dari zat warna pada basis yang mengandung minyak, lemak, dan lilin (Rieger, 2000). Lipstik harus dapat diaplikasikan dengan mudah pada bibir, memiliki rasa yang enak dan pemakaiannya tahan lama. Lipstik digunakan untuk mewarnai bibir dan mendapatkan efek yang diinginkan bila digunakan secara tepat. Lipstik digunakan untuk mewarnai bibir sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah & memberikan ekspresi wajah yang menarik. Fungsi lipstik antara lain:

 Memberikan warna pada bibir.

Bibir yang kurang baik akan disamarkan atau disembunyikan. Bibir yang lebih tipis dapat dibuat tampak lebih tebal dan sebaliknya.

 Melindungi bibir dari kekeringan.

Meningkatkan kepercayaan diri.

Lipstik berkembang tidak hanya menjadi pewarna bibir tapi juga menjadi emolien untuk bibir. Lipstik tidak boleh sweating pada kondisi penyimpanan biasa. Lipstik tidak boleh mudah patah dan hancur selama pemakaian, begitu pula warnanya terdispersi sempurna dan tidak menggumpal. Karakteristik yang telah disebutkan tersebut adalah ciri lipstik yang ideal. Adapun karakteristik lipstik yang diinginkan para konsumen antara lain:

 Warna menarik.

 Lembut dan nyaman di bibir.

 Melekat kuat dan tahan lama pada bibir.

 Dapat melembabkan dan melembutkan bibir.

 Tidak berubah warna setelah pemakaian pada bibir.

 Tidak mudah meluber keluar dari garis bibir.

Seiring dengan perkembangan zaman, produsen lipstik semakin mengembangkan formulanya sehingga lipstik yang beredar di pasaran semakin

7

Universitas Indonesia banyak jenisnya. Berikut adalah jenis-jenis lipstik yang hingga saat ini telah ada di pasaran.

Lacquer

Yaitu lipstik berbahan dasar gel, biasanya dikemas dalam botol atau wadah kecil, memberi kesan halus dan lembut pada bibir dalam berbagai nuansa warna. Satin

Lipstik yang bertekstur sangat lembut, dikemas dalam bentuk stik atau cairan dan tersedia dalam warna, bisa menutupi bibir dengan sempurna serta memberi efek kilap tanpa kesan minyak.

Semi-gloss

Efeknya tidak begitu mengilap dan berminyak seperti lip gloss, dikemas dalam bentuk stik atau krim padat.

Matte

Lipstik yang tahan lama, tidak mengilap pada bibir, tapi mengandung pelembab dan memberi efek halus pada bibir, tersedia dalam bentuk stik.

Lip Care atau Lip Vitamin

Yaitu treatment campuran antara pewarna bibir dan vitamin bibir yang dikemas dalam bentuk stik, bertekstur lembut, mengandung pelembab dan memberi efek berkilau.

Dalam pembuatan lipstik, tahap formulasi dan proses produksi sangat penting. Jika salah satunya kurang baik maka hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Lipstik kosmetik untuk bibir dibuat dengan melelehkan bahan pembawa lipstik dan zat warna kemudian dicetak menjadi stick yang dapat dimasukkan kedalam tabung sebagai basis digunakan campuran wax, minyak dan lemak. Kualitas lipstik pada saat pembuatan, penyimpanan, dan penggunaannya tergantung dari basisnya. Kualitas lipstik dilihat dari reologi campuran bahan pada beberapa variasi temperatur. Selama pembuatan, campuran bahan harus dapat bercampur dan membentuk massa, mudah dituang ke dalam cetakan, terbentuk

Universitas Indonesia cepat dengan permukaan yang bagus dan mudah diambil. Selama waktu penggunaan, massa lipstik harus kuat dan stabil dalam kondisi yang baik. Pada penggunaannya, massa lipstik harus melembut saat kontak dengan bibir, dan membentuk lapisan (film) pada bibir.

2.4. Komponen Utama lipstik

Berdasarkan literatur, komponen dasar lipstik mengandung empat bahan pembentuk utama yaitu waxes (lilin), pelarut, emolien dan pewarna (deNavarre.M, 1993). Lilin merupakan bagian dari basis lipstik yang berfungsi guna mendapatkan titik leleh yang tinggi atau kekerasan yang diharapkan untuk memperoleh bentuk yang memuaskan, yaitu dengan cara pengaturan cepat dan pelepasan yang baik dari cetakan dengan permukaan glossy dan berupa tongkat kaku. Sifat seperti ini bisa didapatkan dengan menambahkan lilin atau bahan seperti lilin dengan konsentrasi 8-15% dari formulasi. Contoh lilin antara lain

beeswax, candelila wax, Carnauba wax, Ozokerit. Basis berupa wax berfungsi

untuk memberikan struktur pada stik dan menjaganya untuk tetap padat bahkan dalam keadaan hangat. Kilauan dan kekerasan umumnya tergantung pada karakteristik dan jumlah dari lilin yang digunakan. Karakteristik yang paling baik mengandung penggunaan campuran wax dengan titik lebur yang berbeda dan pengaturan titik lebur akhir pada penggabungan wax dengan titik lebur yang tinggi dalam jumlah yang cukup. Paduan wax yang ideal akan mempertahankan bentuk stik minimal pada suhu 50°C dan akan mempertahankan fase minyak sehingga tidak akan mengeluarkan tetesan cairan, namun akan selalu lembut dan mudah diaplikasikan untuk mewarnai pada tekanan minimum pada bibir. Campuran minyak diperlukan untuk memperoleh paduan yang tepat dengan wax untuk lapisan yang sesuai dalam pengaplikasiannya pada kulit bibir.

Basis berupa minyak berfungsi sebagai pelarut dan pada beberapa formulasi sebagai agen pendispersi untuk pewarna yang tidak larut. Pelarut yang biasa digunakan adalah minyak jarak (castor oil). Minyak jarak praktis tidak berbau, berasa dan non kompatibel dengan hidrokarbon. Penggunaan dalam persentase besar cenderung menimbulkan rasa tebal di bibir dan rasa berminyak yang khas pada aplikasinya. Beberapa lipstik di pasaran mengandung 65% minyak jarak, dan hal tersebut tidak dianjurkan karena persentasenya terlalu tinggi.

9

Universitas Indonesia Pemakaian minyak jarak yang umum digunakan sejumlah 25-50% dari formula. Minyak jarak sangat diperlukan dalam formulasi lipstik, karena selain sebagai pelarut, minyak jarak juga memberikan rasa lembab dan lembut pada bibir.

Emolien dalam formulasi lipstik berfungsi sebagai oklusif atau membentuk lapisan yang mempunyai kemampuan untuk mengganti lapisan hidrofilik alamiah, sehingga mengurangi hilangnya air melalui epidermis pada bibir. Jenis emolien yang biasa digunakan dalam formula lipstik antara lain trigliserida kaprilat/kaprat, fenil trimetikon, oktil palmitat dan lain-lain.

Warna bagi lipstik merupakan salah satu nilai jual utama. Nuansa warna yang tepat bergantung pada tren dan mode pada periode tertentu. Dalam membuat suatu nuansa warna merupakan hal biasa jika warna tersebut mengandung pencampuran beberapa jenis warna merah, yang memungkinkan menghasilkan nuansa mulai dari warna oranye-kuning menjadi merah pekat menjadi biru-ungu dan merah-coklat. Kedalaman warna, tingkat kilapan, dan keburaman yang dihasilkan juga bervariasi. Periode ketika tren fashion "tanpa make-up" sedang populer, lipstik tidak berwarna dengan efek glossy dipasarkan dengan nama "lip gloss." Nuansa lipstik yang berkilau juga diciptakan melalui penggunaan pigmen

pearlize.

Terdapat banyak pewarna yang digunakan baik organik maupun anorganik untuk mendapatkan perbedaan warna yang diinginkan. Beberapa pewarna yang dapat digunakan untuk lipstik adalah merah (C.I. 15850), oranye (C.I. 45370), putih (TiO2, pigmen anorganik), putih (ZnO, pigmen anorganik). Ukuran partikel pigmen yang digunakan sekitar 3-5 mikron. Mutiara (pearlize) dan pigmen berefek lain juga dipakai untuk menambah cahaya dan gemerlapnya lipstik. Pewarna bisa sekitar 4-5% sampai 15-20% tergantung pada merek dan tren fashion.

Universitas Indonesia

2.5. Bahan-bahan Pembentuk Lipstik (Rieger, 2000 ; deNavarre, 1993; Departemen Kesehatan RI,1993; Goottschalck and McEwen, 2006))

Candelilla wax

Candelilla wax merupakan lilin yang diperoleh dari tanaman famili

Euphorbiaceae (Euphorbia cerifera Alcocer, Euphorbia antisyphillitica Zucarrini, dan Pedilanthus pavonis Boissier) yang ditanam di barat laut Mexico dan Texas. Candelila wax sangat kering dan terdiri dari 30% ester asam lemak C16-C34, dan 45% hidrokarbon dengan 25% alkohol bebas seperti mirisil alkohol, resin, dan sebagainya. Candelilla wax lebih dipilih daripada Carnauba wax yang harganya mahal. Walaupun titik lelehnya lebih rendah, akan tetapi Candelilla wax dapat mengatasi masalah ketidakbersatuan (graininess) yang diproduksi oleh Carnauba

wax. Wax ini juga membuat lipstik menjadi keras, padat, dan memiliki kilau. Candelilla wax dapat digunakan dalam formula hingga 15%.

Carnauba wax

Carnauba wax merupakan lilin keras yang diperoleh dari daun dan ranting

palem carnauba yang tingginya 10 m, Copernica cerifera Mart dibesarkan di Amerika Selatan, terutama Brazil. Mengandung ester C20-C32 asam lemak dan alkohol C28-C34. Carnauba wax memiliki banyak kandungan ester asam hidroksi dan titik leleh 80-86ºC. Carnauba wax digunakan untuk meningkatkan titik leleh dan memberi kepadatan. Sangat berguna bila digunakan dalam pencampuran dengan wax amorf seperti Ozokerit. Wax ini tidak boleh digunakan lebih dari 5%, karena dapat menyebabkan massa menjadi butiran. Wax ini juga memberikan kepadatan pada molded stick.

Seresin

Seresin berbentuk massa hablur berwarna putih atau tidak berwarna memiliki bau khas dan tidak berasa. Seresin merupakan stiffness agent. Merupakan campuran dari Ozokerit atau wax mikrokristalin dengan parafin, rasio tergantung dari biaya yang diinginkan, semakin banyak parafin maka biaya akan semakin murah. Digunakan hingga 15% tergantung titik leleh yang diinginkan

11

Universitas Indonesia pada suatu produk. Seresin lelehan akan menyusut seperti beeswax ketika didinginkan, hal ini digunakan untuk membantu pelepasan cast stick dari mold.

Ozokerit

Ozokerit (Galician Ozokerite) merupakan hidrokarbon kompleks yang diformulasikan menjadi lilin. Pemerian Ozokerit berupa lilin padat berwarna putih, dan tidak memiliki bau khas. Ozokerit yang memiliki titik leleh 76o hingga 86oC, dapat digunakan untuk meningkatkan titik leleh, namun penggunaannya dengan Carnauba wax akan meningkatkan kesuksesan pencampuran. Ozokerit dapat memberikan kepadatan pada molded stick. Untuk setiap penambahan 1%

Carnauba wax, titik leleh dinaikkan sebesar 2 ½oC. Campuran paling efektif adalah dengan penambahan Carnauba wax 3%.

Minyak Jarak

Minyak jarak memiliki nama asli castor oil (BP), castor oil (JP, USP), dan ricini oleum virginale (PhEur). Minyak jarak merupakan trigliserida asam lemak. Komposisi asam lemak yaitu asam risinoleat (87%), asam oleat (7%), asam linoleat (3%), asam palmitat (2%), asam stearat (1%) dan asam dihidroksi stearat. Minyak jarak dapat digunakan sebagai emolien, pembawa, dan pelarut. Minyak jarak banyak digunakan dalam kosmetik, produk makanan, dan formulasi dalam produk farmasi. Minyak jarak merupakan minyak jernih, hampir tidak berwarna atau berwarna kuning pucat. Titik leleh −12°C. Kelarutan praktis tidak larut dalam air, praktis tidak larut dalam minyak mineral, kecuali dicampur dengan minyak sayur lain. Minyak jarak tidak tercampurkan dengan reduktor kuat.

Minyak jarak yang digunakan dalam lipstik biasanya merupakan fraksi penjernihan murni dari komoditas minyak alami. Dalam lipstik, zat tersebut dapat membantu dispersi pewarna, seperti pewarna solubizing bromo-acid. Zat ini memiliki warna, aroma, dan rasa yang dapat diterima. Dengan harga berkisar antara US$8.00/kg, zat ini dinilai lebih murah bila dibandingkan dengan alternatif sintesis lainnya. Untuk formulasi lipstik klasik, umumnya castor oil digunakan sebesar 20-45%. Formulasi dengan kandungan lebih dari 50% menyebabkan

Universitas Indonesia kurangnya kestabilan, rasa berat dan lengket pada bibir. Minyak kastor tidak kompatibel dengan hidrokarbon dan pelarut kurang polar lainnya.

Lanolin Anhidrat (Adeps lanae)

Lanolin Anhidrat adalah bahan mirip lemak yang diperoleh dari bulu domba (Ovies aries Linne) dan dimurnikan yang mengandung tidak lebih dari 0,25% air. Massa lembek, liat, bau khas dan berwarna kuning terang. Lanolin terdiri dari kolesterol, isokolesterol, dan juga mengandung alkohol C13 sampai C33. Berguna untuk membuat massa homogen dari campuran berbagi macam lemak sehingga dapat mencegah lipstik terpengaruh perubahan temperatur ataupun tekanan secara tiba-tiba. Lanolin juga memiliki efek menghaluskan bibir, juga berguna untuk mencegah sweating. Masalah bau dapat mengeset upper limit pada 10 hingga 15% tergantung dari unsur pokok lain yang digunakan. Material turunan dari lanolin diantaranya adalah wol, alkohol, special liquid fractions, lanolin linoleat dan risinoleat, alkosilat dan lanolin asetil atau fraksi-fraksi lain dimana semuanya merupakan bagian formulasi dari lipstik dalam jumlah mencapai 5%.

Metil Paraben (Nipagin)

Gambar 2.1. Struktur Kimia Metil Paraben

Metil paraben berbentuk hablur kecil, tidak berwarna, atau serbuk hablur, putih, tidak berbau, atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar, diikuti rasa tebal. Kelarutan dari metal paraben antara lain larut dalam 500 bagian air, 20 bagian air mendidih, dalam 3, bagian etanol 95% P, dan dalam 3 bagian aseton ; mudah larut dalam eter P dan dalam alkali hidroksida ; larut dalam 60

13

Universitas Indonesia bagian gliserol panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larutan tetap jernih.

Metil paraben berfungsi sebagai antimikroba. Aktivitas antimikroba berkurang dengan adanya surfaktan nonionik, seperti polisorbat 80, akibat pembentukan misel, tetapi dengan adanya propilen glikol (10%) menunjukkan potensiasi aktivitas antimikroba dari metil paraben dengan adanya surfaktan nonionik dan mencegah interaksi metil paraben dengan polisorbat 80, bentonit, magnesium trisilikat, talk, tragacant, natrium alginat, minyak esensial, atropin, dan sorbitol. Metil paraben terkotori dengan adanya besi, dihidrolisis dengan asam

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 95-137)

Dokumen terkait