• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. PENUTUP

A. Kesimpulan

dapat diambil.

2. Data display (Menyajikan data). Dengan melihat penyajian data, peneliti akan mengerti apa yang terjadi dan memungkinkan untuk mengerjakan

sesuatu pada analisis atau tindakan lain berdasarkan pengertian tersebut.

3. Conclusion Data (Menarik kesimpulan) dari awal pengumpulan data, peneliti sudah harus mengerti apa arti dari hal-hal yang ia temui dan

melakukan pencatatan peraturan-peraturan pola-pola,

pernyataan-pernyataan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin arahan sebab akibat

dan proposisi-proposisi peneliti yang berkompeten memegang berbagai

hal tersebut tidak secara kuat, artinya tetap bersifat terbuka.

Tiga komponen analisis berlaku saling menjalin, baik sebelum, pada

waktu dan sesudah pelaksanaan pengumpulan data secara parallel. Setelah

analisis data selesai, maka hasilnya akan disajikan scara diskriptif yaitu

dengan jalan menuturkan dan menggambarkan apa adanya sesuai dengan

permasalahan yang diteliti dan data yang diperoleh, sehingga didapatkan

saran-saran mengenai apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah

maupun menilai program-program yang dijalankan.

Analisa data dengan model interaktif tersebut tersebut dapat

Bagan 3 : Proses Analisa Data (Interactive Model of Analysis) Pengumpulan

data

Penyajian Data

Reduksi Data Kesimpulan – kesimpulan

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penulis mengadakan penelitian pada Dinas Pelayanan Koperasi dan

usaha Kecil Menengah Provinsi Jawa Tengah. Permasalahan yang penulis

angkat adalah Implementasi Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM

RI Nomor : 98/ Kep / M. KUKM / IX / 2004 Tentang Notaris Sebagai

Pembuat Akta Koperasi. Topik yang akan diuraikan adalah : Diskripsi

Lokasi, Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pelayanan Koperasi dan

UKM Provinsi Jawa Tengah, Implementasi Keputusan Menteri Negara

Koperasi dan UKM RI Nomor : 98 / Kep / M.KUKM / IX / 2004, tentang

Notaris Sebagai Pembuat Akta Koperasi oleh masyarakat, notaries maupun

Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan

hasil penelitian penulis dapatkan dari mulai wawancara mendalam dengan

narasumber, penyebaran questioner, dokumentasi dan observasi akan

diuraikan dibawah ini.

1. Diskripsi Lokasi

Pengesahan Akta Pendirian Koperasi merupakan tanggung

jawab Pemerintah yang dalam hal pelaksanaannya dilimpahkan kepada

Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Untuk efektivitas

dan efisiensi maka pemberian pelayanan Pengesahan Akta Pendirian

Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Nomor : 123 / Kep

/ M. KUKM / X / 2004 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan

dalam Rangka Pengesahan Akta Pendirian, Perubahan Anggaran Dasar

dan Pembubaran Koperasi. Selanjutnya oleh Gubernur Jawa Tengah

ditidak lanjuti dengan menetapkan Keputusan Gubernur Nomor : 518 /

03657 Tentang Pendelegasian Wewenang Penandatanganan Pengesahan

Akta Pendirian, Perubahan Anggaran Dasar dan Pembubaran Koperasi

dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah Kepada Kepala Dinas Pelayanan

Koperasi dan UKM Propinsi Jawa Tengah. Dengan mendasarkan pada

hal – hal tersebut diatas maka penulis membatasi masalah hanya pada

pengesahan Akta Pendirian Koperasi di wilayah Provinsi Jawa Tengah.

2. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pelayanan Koperasi

dan UKM Provinsi Jawa Tengah.

Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah

dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 7

tahun 2001, tentang pembentukan Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi dan

Susunan Organisasi Dinas Pelayanan Koperasi dan Usaha Kecil

Menengah Provinsi Jawa Tengah, dan Peraturan Daerah No 2 Tahun

2002 tentang Unit Pelaksana Teknis Dinas, Balai Pelatihan Koperasi dan

UKM.

Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah

berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 38 Tahun 2002

Pelayanan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Pravinsi Jawa Tengah,

merupaka unsur pelaksana Pemerintah Daerah dibidang pelayanan

Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang dipimpin oleh seorang

Kepala Dinas yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada

Gubernur melalui Sekretaris Daerah.

Adapun pola hubungan organisasi Dinas Pelayanan dan UKM

GAMBAR 1

Bagan Struktur Organisasi

Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM

Provinsi Jawa Tengah

Bagan 4 : Struktur Organisasi Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM

Provinsi Jawa Tengah

KEPALA DINAS UPTD BALATKOP UKM SUB BAGIAN TATA USAHA SEKSI PENYELENGGARA SEKSI KAJI BANG PERDA UPTD PROP JATENG

NOMOR 2 TAHUN 2002 Tanggal : 2 APRIL 2002

KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 38 TAHUN 2002 Tanggal : 5 Mei 2002 SUB BAGIAN KEPEGAWAIAN SUB BAGIAN KEUANGAN SUB BAGIAN UMUM SUB BAGIAN HUKUM DAN KELEMBAGAAN BAGIAN TATA USAHA KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SUB DINAS PROGRAM SUB DINAS FASILITAS PEMBIAYAAN

DAN SIMPAN PINJAM

SUB DINAS PELAYANAN UKM SUB DINAS PELAYANAN USAHA KOPERASI SEKSI D & I SEKSI P E & P SEKSI P P & HMS SEKSI D & I SEKSI D & I SEKSI D & I SEKSI U P & J SEKSI U TAN SEKSI U NON TAN SEKSI KOPTAN SEKSI NONTAN

Untuk melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan

dibidang Pelayanan Koperasi dan UKM Kepala Dinas Pelayanan dan

UKM Provinsi Jawa Tengah mempunyai tugas pokok :

a. Melaksanakan kewenangan desentralisasi dibidang pelayanan

Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang diserahkan kepada

Pemerintah Daerah.

b. Melaksanakan kewenangan dibidang pelayanan Koperasi dan Usaha

Kecil Menengah yang bersifat lintas Kabupaten/Kota.

c. Melaksanakan kewenangan Kabupaten/Kota dibidang pelayanan

Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang dikerjasamakan dengan

atau diserahkan kepada Provinsi sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

d. Melaksanakan kewenangan dekonsentrasi yang dilimpahkan kepada

Gubernur dan tugas pembantuan dibidang pelayanan Koperasi dan

Usaha Kecil Menengah sesuai denga peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut diatas Kepala

Dinas Pelayanan Kopetasi dan UKM mempunyai fungsi :

a. Pelaksanaan perumusan kebijakan teknis dibidang pelayanan

b. Pelaksanaan penyusunan rencana dan program, pelaksanaan fasilitas,

monitoring, evaluasi dan pelaporan dibidang pelayanan Koperasi dan

UKM.

c. Pelaksanaan pengumpulan, pengelolaan, analisis data, informasi,

promosi dan kehumasan dibidang pelayanan Koperasi dan UKM.

d. Pelaksanaan perumusan penetapan kebijakan pembangunan dan

pengembangan Koperasi dan UKM.

e. Pelaksanaan fasilitas penyelenggaraan Pelayanan Koperasi Sekunder

dan Primer lintas Kabupaten/Kota dibidang pembiayaan dan

investasi.

f. Pelaksanaan pemberian dukungan kerja sama antar KUKM dengan

pelaku ekonomi.

g. Pelaksanaan perumusan, pemberian dan pencabutan Badan Hukum

Koperasi skala Provinsi.

h. Pelaksanaan pengawasan dan penilaian kesehatan Koperasi Simpan

Pinjam dan Unit Simpan Pinjam.

i. Pelaksanaan fasilitas pembentukan dan pengembangan jaringan

ekonomi Koperasi dan UKM.

j. Pelaksanaan pengelolaan urusan kepegawaian, keuangan, hukum,

kelembagaan koperasi, organisasi dan tata laksana, serta umum dan

perlengkapan.

Untuk melaksanakan tugas dan fungsi tersebut diatas Kepala

a. Kepala Bagian Tata Usaha

b. Kepala Subdinas Program

c. Kepala Subdinas Fasilitasi Pembiayaan dan Simpan Pinjam

d. Kepala Subdinas Pelayanan Usaha Kecil Menengah

e. Kepala Subdinas Pelayanan Usaha Koperasi

f. Kepala Unit Pelaksana Teknis daerah Balai Pelatihan Koperasi dan

UKM

g. Kelompok Jabatan Fungsional

Selanjutnya sesuai dengan bagan sruktur organisasi Dinas

Pelayanan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah dan Unit Pelaksana

Teknis Daerah Balai Pelatihan Koperasi dan UKM ( balatkop-UKM )

maka :

a. Kepala Bagian Tata Usaha, membawahkan :

1) Sub Bagian Kepegawaian

2) Sub Bagian Keuangan

3) Sub Bagian Hukum dan Kelembagaan

4) Sub Bagian Umum

b. Sub Dinas Program, membawahkan :

1) Seksi Data dan Informasi

2) Seksi Program Evaluasi dan Pelaporan

3) Seksi Penyuluhan, Promosi dan Hubungan masyarakat

c. Sub Dinas Fasilitas Pembiayaan dan Simpan Pinjam, membawahkan

2) Seksi Simpan Pinjam

3) Seksi Kemitraan dan Jaringan Ekonomi

d. Sub Pelayanan Usaha Kecil Menengah, membawahkan :

1) Seksi Usaha Perdagangan dan Jasa

2) Seksi Usaha Pertanian

3) Seksi Usaha Non Pertanian

e. Sub Pelayanan Usaha Koperasi, membawahkan :

1) Seksi Koperasi Pertanian

2) Seksi Koperasi Non Pertanian

f. Unit Pelaksana Teknis Dinas Pelayanan KUKM (UPTD ) Balai

Pelatihan Koperasi dan UKM, membawahkan :

1) Sub Bagian Tata Usaha

2) Seksi Penyelenggara

3) Seksi Pengkajian dan Pengembangan

Kepala Sub Bagian dan Seksi-Seksi masing-masing dipimpin

oleh seorang kepala Sub Bagian dan Kepala seksi yang berada dan

bertanggung jawab langsung kepada Kepala Bagian, Kepala Sub Dinas

dan Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pelayanan Koperasi dan UKm

Balai Pelatihan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah.

Balai Pelatihan Koperasi dan UKM adalah Unit Pelaksana

pelaksana operasional Dinas yang dipimpin oleh seorang Kepala Balai,

yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala dinas.

Balai Pelatihan KUKM mempunyai tugas pokok :

a. Melaksanakan sebagian tugas teknis dinas Pelayanan KUKM

b. Melaksanakan kebijakan teknis operasional pelatihan masyarakat

koperasi dan usaha kecil menengah

Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut Balai Pelatihan

KUKM mempunyai fungsi :

a. Penyusunan rencana teknis operasional pelatihan masyarakat KUKM

b. Pengkajian dan analisis teknis operasional pelatihan masyarakat

KUKM

c. Pelaksanaan kebijakan teknis pelatihan masyarakat KUKM

d. Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelatihan

masyarakat KUKM

e. Pelatihan masyarakat KUKM

f. Pelaksanaan fasilitas dan pengembangan pelatihan masyarakat

KUKM di kabupaten / kota serta lembaga lain

g. Pelayanan penunjang penyelenggaraan tugas dinas

h. Pengelolaan ketatausahaan

Dalam pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pelayanan

Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah didukung dengan kekuatan

Sumber Daya Manusia sebanyak 162 orang terdiri 135 orang pada Dinas

Koperasi dan UKM dengan tingkat pendidikan SD 10 orang, SLTP 11

orang, SLTA 53 orang, Sarjana Muda 15 orang, Sarjana Strata satu

sebanyak 59 orang dan Sarjana Strata dua sebanyak 14 orang yang

dirinci menurut golongan yaitu golongan satu tidak ada, golongan dua 41

orang, golongan tiga 105 orang dan golongan empat 16 orang.

Selanjutnya dalam penyelenggaraan pemerintahan berpedoman

pada asas umum penyelenggaraan Negara yang terdiri atas : asas

kepastian hukum, asas tertib penyelenggaraan Negara, asas kepentingan

umum, asas keterbukaan, asas proporsionalitas, asas profesionalitas, asas

akuntabilitas, asas efisiensi dan asas efektifitas.

Visi dari Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa

Tengah adalah “ KOPERASI DAN UKM SEBAGAI TULANG

PUNGGUNG PEREKONOMIAN JAWA TENGAH “.

Sedangkan Misi Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM Provinsi

Jawa Tengah adalah :

a. Mewujudkan iklim yang kondusif bagi perkembangan KUKM.

b. Mengembangkan lembaga keuangan alternative melalui KSP / USP

dan lembaga pendukung lainnya bagi pengembangan KUKM.

c. Membangun dan mengembangkan distribusi dan networking

ekonomi KUKM.

d. Membangun SDM pengelola KUKM yang professional dan

e. Membangun dan mengembangkan distribusi dan networking

ekonomi KUKM

f. Mengembangkan KUKM berorientasi agribisnis dan produk

unggulan daerah.

g. Mengembangkan pola kemitraan KUKM dan Usaha Besar.

Salah satu tugas dari Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM

Provinsi Jawa Tengah adalah mengesahkan permohonan akta badan

hukum koperasi yang menjadi tugas dari Bagian Tata Usaha yang secara

teknis dilaksanakan oleh Sub Bagian Kelembagaan dan Hukum Di Dinas

Pelayanan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah.

3. Implementasi Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM RI

Nomor : 98/Kep/M.KUKM/IX/2004 tentang Notaris Sebagai

Pembuat Akta Koperasi dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :

a. Implementasi oleh masyarakat pemohon akta pendirian koperasi

Dalam pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor : 25 tahun

1992 tentang Perkoperasian menyebutkan bahwa Koperasi adalah

badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum

koperasi dengan mendasarkan kegiatannya berdasarkan prinsip

koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berasaskan

kekeluargaan, sehingga dapat disimpulkan bahwa :

2) Pemilik atau pendiri adalah orang-orang atau badan hukum

koperasi

3) Bekerja berdasarkan prinsip-prinsip koperasi dan asas

kekeluargaan

4) Sebagai gerakan ekonomi rakyat

Sehingga orang-orang yang akan mendirikan koperasi wajib

untuk memahami pengertian, nilai maupun prinsip-prinsip koperasi.

Sehubungan dengan hal tersebut maka dibawah ini akan dijelaskan

tahapan dalam permohonan akta pendirian koperasi adalah sebagai

berikut :

1) Dasar Pembentukan Koperasi

Orang atau masyarakat yang akan mendirikan koperasi harus

mengerti maksud dan tujuan koperasi serta kegiatan usaha yang

akan dilaksanakan oleh koperasi yaitu untuk meningkatkan

pendapatan dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi anggota

khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembentukan

koperasi oleh masyarakat sebagai pemohon akat pendirian

koperasi :

a) Orang-orang yang mendirikan dan yang nantinya akan

menjadi anggota koperasi harus mempunyai kegiatan dan

b) Usaha yang akan dilaksanakan oleh koperasi harus layak

secara ekonomi, artinya usaha yang akan dikelola mampu

menghasilkan keunyungan usaha dan dapat dikembangkan

bagi kesejahteraan anggota.

c) Modal sendiri harus cukup tersedia untuk memulai kegiatan

usaha yang akan dilaksanakan oleh koperasi. Hal ini

dimaksudkan agar kegiatan usaha koperasi dapat segera

dilaksanakan dengan tanpa menutup kemungkinan untuk

memperoleh bantuan, fasilitas dan pinjaman dari pihak luar.

d) Kepengurusan dan manajemen yang akan dilaksanakan, agar

tercapai efektifitas danefisien dalam pengelolaan koperasi

perlu diperhatikan bahwa orang yang ditunjuk / dipilih

menjadi pengurus haruslah orang yang memiliki kejujuran ,

kemampuan dan kepemimpinan, agar koperasi yang didirikan

tersebut sejak dini telah memiliki kepengurusan yang handal.

2) Persiapan Pembentukan Koperasi

a) Pembentukan koperasi harus dipersiapkan dengan matang

oleh para pemrakarsa. Persiapan tersebut antara lain meliputi

kegiatan penyuluhan, penerangan maupun latihan bagi para

pemrakarsa dan calon anggota untuk memperoleh pengertian

b) Para pemrakarsa mempersiapkan rapat pembentukan dengan

cara antara lain penyusunan rancangan Anggaran Dasar,

Anggaran Rumah Tangga dan rencana awal kegiatan usaha

3) Rapat Pembentukan Koperasi

a) Para pendiri wajib mengadakan rapat persiapan pembentukan

koperasi yang membahas semua hal yang berkaitan dengan

rencana pembentukan koperasi meliputi antara lain

penyusunan rancangan anggaran dasar / materi muatan

anggaran dasar , anggaran rumah tangga dan lain-lain yang

diperlukan untuk pembentukan koperasi.

b) Dalam rapat persiapan pembentukan koperasi dilakukan

penyuluhan koperasi terlebih dahulu oleh pejabat dari instansi

yang membidangi koperasi kepada para pendiri.

c) Rapat pembentukan koperasi yang dihadiri

sekurang-kurangnya 20 orang anggota pendiri, sedangkan untuk

koperasi sekunder dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga)

koperasi yang telah berbadan hukum, yang diwakili oleh

kuasa pendirinya, yang mempunyai kegiatan dan kepentingan

ekonomi yang sama.

d) Rapat pendirian dipimpin oleh seorang atau beberapa orang

dari pendiri atau kuasa pendiri. Yang dimaksud kuasa pendiri

adalah beberapa orang dari pendiri yang diberi kuasa dan

bertindak sebagai pengurus koperasi yang berkewajiban

memproses pengajuan permintaan pengesahan akta pendirian

koperasi dan menandatangani Anggaran dasar Koperasi

e) Megundang Pejabat dari Dinas Pelayanan Koperasi dan

UKM Propinsi Jawa Tengah yang bertujuan untuk :

(1) memberi arahan berkenaan dengan pembentukan koperasi

(2) melihat proses pelaksanaan rapat pembentukan koperasi

(3) sebagai narasumber apabila ada pertanyaan berkaitan

dengan perkoperasian dan untuk meneliti isi konsep

anggaran dasar yang dibuat oleh para pendiri sebelum

dibuat aktanya oleh Notaris Pembuat Akta Koperasi.

f) Mengundang Notaris Pembuat Akta Koperasi

g) Dalam rapat pembentukan dibahas mengenai Anggaran Dasar

Koperasi dengan memperhatikan antara lain :

(1) Rancangan anggaran dasar disusun oleh orang-orang

yang akan mendirikan koperasi atau , dan dibahas dalam

Rapat Pembnetukan Koperasi .

(2) Isi atau materi yang dituangkan dalam Anggaran Dasar

harus sesuai dengan tujuan dan kepentingan ekonomi

anggota

(3) Setiap ketentuan yang dituangkan dalam anggaran dasar

harus mudah dimengerti dan dapat dilaksanakan oleh para

tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang

berlaku. Sedangkan Anggaran dasar itu sendiri harus

memuat antara lain :

(a) daftar nama pendiri

(b) nama dan dan tempat kedudukan

(c) jenis koperasi

(d) maksud dan tujuan

(e) Bidang Usaha

(f) Keanggotaan

(g) ketentuan rapat Anggota

(h) Pengurus dan Pengawas

(i) Sisa Hasil Usaha

(j) permodalan

(k) jangka waktu berdirinya

(l) ketentuan pembubaran koperasi

(m)sanksi

h) Pembuatan atau penyusunan akta pendirian koperasi tersebut

dibuat dihadapan dan atau Notaris Pembuat Akta Koperasi

yang hadir dan dituangkan dalam

(1) berita acara rapat pendirian koperasi

(2) notulen rapat pendiriran koperasi

Pengajuan Pesetujuan Badan Hukum Koperasi dilakukan oleh

Notaris atau kuasa pendiri secara tertulis kepada pejabat yang

berwenang dalam hal ini Kepala Dinas Pelayanan Koperasi dan

UKM pRovinsi Jawa Tengah dengan melampirkan :

a) 1 (satu) salinan akta pendirian koperasi bermeterai cukup

b) Data akta pendirian koperasi yang dibuat dan ditandatangai

Notaris

c) Surat bukti tersedianya modal yang jumlahnya

sekurang-kurangnya sebesar simpanan pokok dan simpanan wajib

yang wajib dilunasi oleh para pendiri.

d) Rencana kegiatan koperasi minimal 3 tahun kedepan dan

rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi .

Adapun hasil wawancara yang dilakukan kepada wakil

masyarakat pemohon akta badan hukum pendirian koperasi atas

nama Sdr Lasiman yang dilakukan pada tanggal 12 Pebruari

2007 bertempat di Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM

Propinsi Jawa Tengah setelah yang bersangkutan mengikuti

sosialisasi pendirian koperasi, yang diselenggarakan oleh Dinas

pelayanan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah dengan

1. Ybs adalah Ketua Paguyuban Pedagang Bakso Kota

Semarang yang berkeinginan untuk mendirikan koperasi

pedagang bakso

2. Ybs sudah melaksanakan tugasnya sebagai Ketua

Paguyuban selama 5 tahun.

3. Ybs tidak dapat mengakses fasilitas permodalan dari

Pemerintah maupun perbankan yang disebabkan lembaga

yang menaungi yakni Paguyuban bukan merupakan

lembaga bisnis yang mempunyai kekuatan hukum yang

kuat yang mengakibatkan kurang kepercayaan dari pihak

perbankan maupun kalangan bisnis yang lain untuk

mengadakan transaksi bisnis.

4. Sebagian besar anggota paguyuban mempunyai problem

yang sama dengan yang bersangkutan.

5. Ybs berharap bahwa dengan mendirikan koperasi

diharapkan kesejahteraan anggota dapat ditingkatkan.

6. Ybs selaku Ketua Paguyuban sebelum mengikuti sosialisasi

tidak paham terhadap proses pendirian koperasi.

7. Setelah mengikuti sosialisasi yang bersangkutan merasa

berkeberatan dengan proses-proses yang harus dilalui

yang bersangkutan merasa enggan berurusan dengan

masalah-masalah hukum yang dianggapnya berbelit-belit

dan sulit dipahami.

8. Berkaitan dengan akta koperasi yang harus dibuat oleh

Notaris dengan kisaran biaya yang tidak seragam dan

relative dianggap besar, yang bersangkutan merasa

berkeberatan karena sebelumnya mendapatkan informasi

dari masyarakat yang sudah mendirikan koperasi bahwa

pendirian koperasi tidak dipungut biaya apapun.

9. Berkaitan dengan pasal 12 Keputusan Menteri Negara

Koperasi dan UKM RI Nomor : 98 / Kep / M.KUKM / IX /

2004 bahwa kepada mereka yang menyatakan diri tidak

mampu, yang dibuktikan dengan surat keterangan tidak

mampu yang dikeluarkan oleh Lurah / Kepala Desa tempat

kedudukan koperasi dan diketahui oleh Kepala Dinas yang

membidangi Koperasi dan UKM Kabupaten / Kota

setempat diberikan kemudahan dengan tidak memberikan

jasa kepada Notaris, yang bersangkutan pesimis dapat

dilakukan dengan mengatakan hal tersebut hanya berlaku

diatas kertas saja, atau hanya impian manis saja, sehingga

sama sekali tidak terpikir oleh yang bersangkutan mengenai

b. Implementasi oleh Notaris.

Hasil wawancara langsung yang dilakukan dengan Notaris

diwakili oleh 3 (tiga ) orang Notaris dengan kondisi yang

berbeda-beda yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1) Notaris Tri Isdiyanti, SH, Notaris Kota Semarang , wawancara

dilakukan pada tanggal 3 Januari 2008 bertempat di kantor

Notaris yang bersangkutan di jalan Sultan Agung 15 A Semarang

dan didapat informasi sebagai berikut :

a) Yang bersangkutan sudah mengikuti pelatihan pembekalan

perkoperasian yang diselenggarakan oleh Kementrian Negara

Koperasi dan UKM RI selama 1 (satu) hari pada tanggal 9

Pebruari 2005, bertempat di Hotel Ibis Jakarta.

b) Sesuai dengan ketentuan pasal 5 Keputusan Menteri Negara

Koperasi dan UKM RI Nomor : 98 / Kep / M.KUKM / IX /

2004 tentang Notaris Sebagai Pembuat Akta Koperasi , yang

bersangkutan sudah ditetapkan menjadi Notaris Pembuat

Akta Koperasi sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Dinas

Pelayanan Kopersi dan UKM RI Nomor 573 / 122 / X / 2005,

tanggal 16 Oktober 2005 dengan cara mengajukan

permohonan tertulis kepada Menteri Negara Koperasi dan

UKM RI melalui Kepala Dinas Pelayanan Koperasi dan

UKM Provinsi Jawa Tengah, yang mana permohonan

(1) Surat Pengangkatan sebagai Notaris

(2) Sertifikat tanda bukti telah mengikuti pembekalan

perkoperasian yang ditanda tangani oleh Menteri

Negara Koperasi dan UKM RI .

(3) Alamat kantor beserta contoh tanda tangan , contoh

paraf dan cap stempel notaris.

c) Berkaitan dengan ketentuan pasal pasal 12 Keputusan

Menteri Negara Koperasi dan UKM RI Nomor : 98 / Kep /

M.KUKM / IX / 2004 tentang Notaris Sebagai Pembuat Akta

Koperasi yang bersangkutan tidak bersedia memberikan jasa

pembuatan akta tanpa memungut biaya kepada pemohon akta

yang dinyatakan tidak mampu oleh Lurah setempat.

d) Sejak yang bersangkutan ditetapkan sebagai Notaris pembuat

Akta Koperasi sebagaimana butir b) sampai dengan akhir

tahun 2007 atau selama 26 bulan telah membuat akta

pendirian badan hukum koperasi atas permintaan masyarakat

yang akan mendirikan koperasi berjumlah 4 ( empat ) akta

pendirian badan hukum koperasi, dan sesuai dengan

ketentuan pasal 7 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992

pasal 7 ayat (1), bahwa akta pendirian badan hukum koperasi

akan mempunyai kekuatan hukum apabila disahkan oleh

pejabat yang berwenang, dalam hal ini Kepala Dinas

4 (empat) akta pendirian koperasi yang dibuat oleh Notaris

Tri Isdiyanti, SH dalam kurun waktu 26 bulan tersebut

semuanya sudah mendapatkan pengesahan dari Kepala Dinas

Pelayanan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah.

e) Bahwa dalam pembuatan akta pendirian badan hukum

koperasi , masih dalam bentuk draft yang bersangkutan selalu

berusaha untuk mengkoordinasikan terlebih dahulu materi

akta agar tidak salah atau sesuai dengan ketentuan

Dokumen terkait