BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
a. Telah memperoleh pengetahuan dan wawasan mengenai penerapan segala aspek CPOB di PT. Kalbe Farma, Tbk. yang telah menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam rangkaian pembuatan obatnya, yaitu dalam aspek manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri, audit mutu, audit dan persetujuan pemasok, penanganan keluhan terhadap produk dan penarikan kembali produk, dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak, kualifikasi dan validasi.
b. Seorang apoteker dalam industri farmasi memiliki peranan yang penting, yaitu sebagai kepala bagian produksi, kepala bagian pengawasan mutu dan kepala bagian pemastian mutu. Ilmu dan keterampilan yang dimiliki apoteker harus dibaktikan secara menyeluruh dalam pekerjaan profesinya di suatu industri farmasi. Penerapan ilmu dan keterampilan apoteker secara total akan meningkatkan kualitas produk obat yang dihasilkan oleh industri farmasi semakin baik dari waktu ke waktu.
5.2. Saran
a. PT. Kalbe Farma, Tbk yang telah menerapkan sistem yang baik, terutama dalam manajemen proses produksi, pengawasan mutu, dan pemastian mutunya sebaiknya terus meningkatkan pengkajian dan evaluasi terhadap efektivitas sistem yang dikelola PT. Kalbe Farma, Tbk. Dengan demikian, kinerja setiap bagian dalam perusahaan dapat ditingkatkan lebih baik.
b. PT. Kalbe Farma, Tbk. sebaiknya terus meningkatkan pemahaman setiap karyawannya akan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam kaitannya dengan bidang kerjanya dan secara mendasar. Pemahaman ini pun harus terus diperbaharui menyesuaikan dengan pembaharuan dari lembaga regulator, yaitu Badan POM.
DAFTAR ACUAN
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2012). Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan RI No HK. 03.1.33.12.12.8195 Tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang Industri Farmasi. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
No 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.
UNIVERSITAS INDONESIA
PENETAPAN PRODUK DAN ZAT AKTIF TERBURUK
BERDASARKAN HASIL ANALISIS RESIKO SEBAGAI
BAHAN VALIDASI PEMBERSIHAN MESIN MIXING
DIOSNA P-250
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
ARLIKA RAHAYU, S. Farm.
1206329392
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
DAFTAR ISI ...ii DAFTAR TABEL ...iii DAFTAR LAMPIRAN ...iv BAB 1. PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang ...1 1.2 Tujuan...2 BAB 2. TINJAUAN UMUM ...2 2.1 Pengertian Validasi...2 2.2 Validasi Pembersihan...2 2.3 Prosedur Pembersihan ...4 BAB 3. METODOLOGI PENGKAJIAN. ...12
3.1 Waktu Pelaksanaan Tugas Khusus ...12 3.2 Metode Penentuan Produk dan Zat Aktif Terburuk...12 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ...13 4.1 Hasil...13 4.2 Pembahasan ...16
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ...20 5.1 Kesimpulan...20 5.1 Saran ...20 DAFTAR ACUAN ...21 LAMPIRAN...22
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Produk yang Diproduksi oleh Mesin Mixing Diosna P- 250... 13 Tabel 4.2 Analisis Resiko Produk... 15
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap industri farmasi harus memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) untuk menjamin agar obat dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Aspek yang diatur dalam CPOB yaitu manajemen mutu; personalia; bangunan dan fasilitas; peralatan; sanitasi dan higiene; produksi; pengawasan mutu; inspeksi diri, audit mutu, dan audit persetujuan pemasok; penanganan keluhan terhadap produk dan penarikan kembali produk; dokumentasi; pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak dan kualifikasi dan validasi. Aspek tersebut mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu karena mutu obat terbentuk dari sepanjang proses pembuatan obat (BPOM, 2012).
Salah satu aspek dalam cara pembuatan obat yang baik adalah mengenai kualifikasi dan validasi. CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Validasi yang dipersyaratkan oleh CPOB antara lain mengenai validasi proses, validasi pembersihan, dan validasi metode analisis.
Salah satu validasi yang di lakukan oleh PT. Kalbe Farma. Tbk adalah validasi pembersihan dimana validasi pembersihan adalah tindakan pembuktian yang didokumentasikan bahwa prosedur pembersihan yang disetujui akan senantiasa menghasilkan peralatan bersih yang sesuai untuk pengolahan obat (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012). Validasi pembersihan ini penting karena bertujuan untuk menghindari terjadinya pencemaran silang antara produk sebelumnya terhadap produk selanjutnya yang pada umumnya dibuat menggunakan peralatan yang sama dan juga digunakan untuk memproduksi berbagai macam produk lain.
Prosedur dalam melakukan validasi pembersihan ini adalah dengan melakukan analisis resiko berdasarkan kategori kelarutan zat aktif dalam air,
kategori berdasarkan jumlah bahan aktif, kategori berdasarkan kemudahan dibersihkan dan kategori berdasarkan LD50.
Salah satu mesin yang menjadi objek validasi pembersihan untuk di tentukan produk dan zat aktif yang terburuk di PT. Kalbe Farma Tbk. adalah mesin mixing Diosna P-250 di Line 8 extention yang memproduksi sediaan solid.
1.2 Tujuan
Tujuan pembuatan tugas khusus ini adalah menentukan produk dan zat aktif terburuk pada mesin mixing Diosna P-250.
BAB 2
TINJAUAN UMUM
2.1 Pengertian Validasi
Berdasarkan CPOB 2012 validasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan. CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan dan proses yang dapat memengaruhi mutu produk hendaklah divalidasi. Pendekatan dengan kajian risiko hendaklah digunakan untuk menentukan ruang lingkup dan cakupan validasi. Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama program validasi hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan di dalam Rencana Induk Validasi (RIV) atau dokumen setara.
2.2 Validasi Pembersihan
Validasi pembersihan adalah tindakan pembuktian yang didokumentasikan bahwa prosedur pembersihan yang disetujui akan senantiasa menghasilkan peralatan bersih yang sesuai untuk pengolahan obat. (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012).
Pada prinsipnya produk farmasi dan bahan aktif farmasi dapat terkontaminasi oleh produk farmasi lainnya dan juga mikroorganisme atau oleh material lainnya. Prosedur pembersihan ini sangatlah penting karena pada beberapa kasus adanya penggunaan bersamaan alat atau mesin untuk produk farmasi atau bahan aktif farmasi yang berbeda (PIC/S, 2007).
Pembersihan adalah penghilangan kontaminan dari permukaan yang hendak dibersihkan. Kontaminan ini dapat berasal dari bahan lain, produk intermediate, detergen, mikroorganisme, debu atau lubrikan. Mekanisme pembersihan meliputi kelarutan, solubilisasi, emulsifikasi, dispersi, pembasahan,
hidrolisis, oksidasi, penghilangan secara fisik dan berdasarkan kerja antimikroba (LeBlanc, 2000).
Tujuan validasi pembersihan adalah verifikasi keefektifan proses pembersihan untuk menghilangkan residu produk, degradasi produk atau bahan pembersih sehingga monitoring analisis dapat diminimalkan pada fase rutin (PIC/S, 2007).
Berdasarkan CPOB 2012 validasi pembersihan hendaklah dilakukan untuk konfirmasi efektivitas prosedur pembersihan. Penentuan batas kandungan residu suatu produk, bahan pembersih dan pencemaran mikroba, secara rasional hendaklah didasarkan pada bahan yang terkait dengan proses pembersihan, dalam melakukan validasi pembersihan hendaklah digunakan metode analisis tervalidasi yang memiliki kepekaan untuk mendeteksi residu atau cemaran. Batas deteksi masing-masing metode analisis hendaklah cukup peka untuk mendeteksi tingkat residu atau cemaran yang dapat diterima.
2.3 Prosedur Pembersihan
Biasanya validasi prosedur pembersihan dilakukan hanya untuk permukaan alat yang bersentuhan langsung dengan produk. Pada prosedur validari permbersihan ini hendaklah dipertimbangkan juga untuk bagian alat yang tidak bersentuhan langsung dengan produk. Interval waktu antara penggunaan alat dan pembersihan hendaklah divalidasi demikian juga antara pembersihan dan penggunaan kembali. Hendaklah ditentukan metode dan interval pembersihan. (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012).
Revalidasi diperlukan bila sering terjadi Out of Specification (OOS) dan deviasi, adanya perubahan mesin, adanya produk baru, adanya perubahan proses manufaktur dan adanya perubahan bahan baku. Hal ini diperlukan karena bahan baku yang berasal dari supplier berbeda mungkin mempunyai sifat fisika dan profil ketidakmurnian berbeda.
Prosedur pembersihan untuk produk dan proses yang sangat mirip tidak perlu divalidasi secara terpisah tetapi dipilih produk dan proses yang mewakili
5
untuk justifikasi program validasi. Pemilihan produk dan proses berdasarkan pertimbangan worst case (PIC/S, 2007).
2.3.1 Dokumentasi
Protokol validasi pembersihan harus mencakup (PIC/S, 2007) 1. Tujuan proses validasi
2. Tanggung jawab dalam melakukan dan persetujuan studi validasi 3. Deskripsi mesin yang digunakan
4. Interval antara akhir proses produksi dan mulainya proses pembersihan 5. Prosedur pembersihan yang digunakan untuk masing-masing produk,
masing-masing sistem manufaktur atau masing-masing bagian mesin 6. Jumlah siklus pembersihan yang dilakukan
7. Persyaratan monitoring rutin
8. Proses sampling termasuk penjelasan rasional mengenai metode sampling tertentu digunakan
9. Tempat sampling yang jelas 10. Recovery studi bila diperlukan
11. Metode analisis termasuk LOD dan LOQ
12. Batas penerimaan termasuk penjelasan rasional dalam menetapkan batas spesifik
13. Produk lain, proses dan mesin yang direncanakan menggunakan konsep bracketing
14. Jadwal revalidasi
Protokol tersebut harus disetujui oleh Plant Management untuk menjamin bahwa protokol telah diketahui dan disetujui oleh management. Departemen
Quality Assurance harus terlibat dalam persetujuan protokol dan laporan.
2.3.2 Metode Sampling (PIC/S, 2007)
Sampling harus dilakukan sesuai protokol validasi pembersihan. Ada dua metode sampling yang digunakan yaitu swabbing (penyekaan) dan rinsing
(bilasan). Kombinasi dari kedua metode merupakan kombinasi yang paling diharapkan.
a. Swabbing
Sampling dengan metode swabbing ini kesesuaian bahan yang akan digunakan untuk sampling dan media sampling harus ditentukan. Kemampuan untuk recovery sampel yang akurat mungkin akan terpengaruh oleh pemilihan sampling bahan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa media sampling dan pelarut bisa mudah digunakan. b. Rinsing
Sampling dengan metode rinsing memungkinkan sampling pada area yang lebih luas. Selain itu, metode ini dapat digunakan untuk bagian mesin yang tidak bisa diakses dengan tangan. Namun perlu dipertimbangkan akan kelarutan kontaminan dalam medium bilasan.
2.3.4 Kriteria Penerimaan
1. Batas Penerimaan Residu Kimia
Batas residu yang ditetapkan harus dapat dicapai dan dapat diverifikasi (PIC/S, 2007). Penetapan batas residu tidak bisa secara cukup berfokus hanya kepada bahan utama saja karena mungkin saja terjadi dekomposisi bahan yang mungkin lebih sulit untuk dihilangkan. Pendekatan dalam menentukan batas :
a. Spesifik untuk produk
b. Dikelompokkan dalam famili produk dan memilih produk worst case c. Mengelompokkan ke dalam kelompok resiko (produk yang sangat
mudah larut, potensi mirip, produk dengan toksisitas tinggi, produk yang sulit untuk dideteksi).
Batas penerimaan (APIC, 2000) :
a. Berdasarkan dosis terapeutik/ Therapeutic Daily Dose (TDD)
Prinsipnya adalah bahwa zat tidak terkontaminasi pada proporsi tertentu (biasanya 1/1000 bagian) zat sebelumnya. Metode ini hanya digunakan bila dosis terapeutik harian diketahui.
7
= × ×
MACO : Maximum Acceptable Carry Over (jumlah
maksimum produk sebelumnya yang diizinkan berada di produk berikutnya)
TDD sebelumnya : Therapeutic Daily Dose sebelumnya (dosis terapeutik harian produk sebelumnya
MBS : Maximum Batch Stage (jumlah bets maksimum untuk produk berikutnya)
SF : Safety factor
MTDD selanjutnya : Maximum Therapeutic Daily Dose sebelumnya (dosis terapeutik harian produk sebelumnya)
Bila menggunakan rumus di atas, maka MACO untuk tiap produk akan berbeda. Oleh sebab itu, untuk produk dengan SF sama, perhitungan MACO menggunakan konsep worst case, yaitu menggunakan TDD zat aktif yang paling rendah (zat paling poten) dan perbandingan antara jumlah bets terkecil untuk seluruh produk dan TDD maksimum.
b. Berdasarkan data toksikologis
Bila dosis terapeutik tidak diketahui (misalnya untuk bahan intermediate atau untuk detergen), dapat digunakan data toksisitas untuk menghitung MACO
= 50 2000× 70
NOEL : No Observed Effect Level (dosis yang tidak menimbulkan efek farmakologis yang terlihat) LD 50 : Dosis letal 50 dalam g/kg hewan coba
70 : berat rata-rata dewasa (kg)
2000 : Konstanta
Nilai SF bervariasi tergantung rute administrasi obat: 1. Topikal (10-100)
2. Oral (100-1000)
3. Parenteral (1000-10000)
c. General Limit
Jika metode berdasarkan dosis terapi atau data toksikologi menghasilkan angka
carryover sangat tinggi atau tidak relevan, atau data toksikologi untuk
intermediet tidak dikenal, dapat digunakan cara berikut ini. General limit ini sering ditetapkan sebagai batas atas untuk konsentrasi maksimum (MAXCONC) suatu zat yang dapat mencemari pada batch berikutnya. Konsentrasi zat yang dapat diterima pada batch berikutnya, menurut perhitungan sebagai berikut:
=
= ×
MACO : Maximum Acceptable Carry Over (jumlah
maksimum produk sebelumnya yang diizinkan berada di produk berikutnya). Dihitung dari data toksikologi dan dosis terapetik.
MACOppm : Maximum Acceptable Carry Over (jumlah maksimum produk sebelumnya yang diizinkan berada di produk berikutnya). Dihitung dari batas
9
ppm umum
CONC : Konsentrasi (kg / kg atau ppm) dari produk sebelumnya pada batch berikutnya. Berdasarkan MACO dihitung dari dosis terapi dan / atau
Data toksikologi.
MAXCONC : Konsentrasi maksimum (kg/kg or ppm) yang diijinkan pada produk sebelumnya untuk berada di batch berikutnya
MBS : Minimum Batch Size untuk produk berikutnya
Batas general limit 10 ppm atau 100 ppm (tergantung kebijakan masing -masing institusi). (APIC, 2000)
d. Swab Limit
Jika distribusi homogen diasumsikan berada pada semua permukaan, nilai yang direkomendasikan dapat ditetapkan untuk digunakan dalam swab. Hal ini dapat digunakan sebagai informasi dasar untuk persiapan metode analisis dan batas deteksi. Cara menetapkan nilai batas swab menggunakan cara:
Target value [dm ] =μg [ ][dm ]
2. Batas Penerimaan Residu Mikrobiologi
Penetapan batas penerimaan untuk kontaminasi mikroba lebih sulit daripada penetapan batas residu kimia. Berbeda dengan batas penetapan batas residu kimia, tidak ada panduan resmi untuk penetapan batas residu mikrobiologi. Batas umum untuk residu mikrobiologi yaitu sebesar 50 CFU/contact plate berdasarkan pedoman CPOB 2012 mengenai batas mikroba untuk ruang kelas D. Persyaratan batas mikroba menurut CPOB 2012 :
Kelas Jumlah mikroba (CFU/plate)
A <1
B 5
C 25
D 50
Batas penerimaan residu mikrobiologi untuk air bilasan mengacu kepada persyaratan USP, yaitu Purified water mempunyai angka mikroba ≤100 CFU/ml dan mempunyai hasil negatif terhadap uji E.coli dan Pseudomonas.
2.3.5 Metode untuk Mendeteksi Hasil Pembersihan (ISPE, 2011)
Ada beberapa metode untuk deteksi residu proses. Metode tersebut seperti pemeriksaan visual, konduktivitas, TOC dan metode analisis spesifik zat.
a. Pemeriksaan visual
Pemeriksaan visual memungkinkan deteksi kontaminan pada konsentrasi kecil yang mungkin tidak dapat dideteksi dengan metode analisis lain. Semua permukaan harus bersih secara visual. Metode visual ini adalah metode paling sesuai untuk produk dengan resiko rendah atau produk dengan resiko tinggi yang dapat dideteksi mudah secara visual.
b. Konduktivitas
Metode ini digunakan untuk mendeteksi residu senyawa bermuatan. Metode ini sesuai untuk produk dengan resiko rendah tetapi juga untuk produk dengan resiko tinggi bila telah dijustifikasi secara saintifik.
c. Total Organic Carbon (TOC)
Metode ini bersifat sederhana, cepat dan dapat mendeteksi residu dengan kadar rendah. TOC adalah metode deteksi pilihan pertama ketika dilakukan sampling dengan metode swabbing. TOC sesuai untuk proses pembersihan senyawa dengan resiko rendah hingga tinggi.
d. HPLC
HPLC merupakan metode yang sensitif dan banyak digunakan dalam studi validasi pembersihan. HPLC merupakan metode yang spesifik dan dapat
11
memberikan mengenai residu yang spesifik. HPLC dipilih ketika metode visual dan TOC tidak dapat digunakan.
2.3.6 Worst Case Rating (Satinder et al, 2012)
a. Kelarutan zat aktif b. Toksisitas maksimum c. Dosis terapetik minimun
d. Kemudahan dalam membersihkan
e. Batas terendah dari dosis terapetik/ data toksisitas, ukuran batch, luas permukaan, dan lain – lain
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus
Tugas khusus dilaksanakan selama Praktek Kerja Profesi Apoteker periode 14 Agustus - 30 Agustus di Departemen Quality Assurance, PT. Kalbe Farma, Tbk. yang berlokasi di jalan M. H. Thamrin Blok A1-3, kawasan industri Delta Silicon, Lippo Cikarang, Bekasi.
3.2 Metode Penentuan Produk dan Zat Aktif Terburuk
Urutan langkah dalam menentukan produk dan zat aktif terburuk adalah sebagai berikut :
1. Mendata semua produk yang diproduksi oleh mesin tersebut 2. Mendata zat aktif dari masing-masing produk
3. Mendata data toksisitas LD50 untuk masing – masing zat aktif 4. Mendata kelarutan masing – masing zat aktif dalam air
5. Mendata jumlah zat aktif
6. Mendata kemudahan dibersihkan masing – masing zat aktif
7. Pemberian skor terhadap toksisitas LD50, kelarutan masing – masing zat aktif dalam air, jumlah zat aktif, dan kemudahan dibersihkan masing – masing zat aktif
8. Melakukan analisis risiko berdasarkan kategori toksisitas LD50, kategori kelarutan zat aktif dalam air, kategori berdasarkan jumlah bahan aktif, dan kategori berdasarkan kemudahan dalam membersihkan masing – masing zat aktif.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Pendataan Produk yang Diproduksi oleh Mesin Diosna P-250
Mesin Mixing Diosna P-250 di Line 8 extention adalah mesin yang memproduksi beberapa sediaan tablet. Produk sediaan yang diproduksi oleh mesin ini yaitu :
Tabel 4.1 Produk yang Diproduksi oleh Mesin Mixing Diosna P-250 NO
NAMA Zat Aktif
1 Angioten Tablet Losartan potassium ;50 mg 2 Cholestat 10 mg Simvastatin; 10 mg
3 Cravit 500 mg Tablet Levofloxacin anhydrat; 500 mg 4 Facid 20 mg Tablet Famotidine; 20 mg
5 Hexer150 mg Tablet
Ranitidine HCl equivalen dengan Ranitidine ;150 mg
6 Hextrofen 100 mg Tablet Ketoprofen; 100 mg 7 Ifen 400 mg Tablet Ibuprofen; 400 mg 8 Kaltrofen 50 mg Tablet Ketoprofen; 50 mg 9 Kaltrofen 100 mg Tablet Ketoprofen; 100 mg 10 Losartan 50 mg Tablet Losartan potassium; 50 mg 11 Svt 20 mg Tablet Simvastatin; 20 mg
12 Tarivid 200 mg Tablet Ofloxacin; 200 mg 13 Tarivid 400 mg Tablet Ofloxacin; 400 mg
14 Divoltar 50 mg Tablet Diclofenac Sodium; 50 mg 15 Glunor 850 mg Tablet Metformin HCl; 850 mg 16 Mycoral 200 mg Tablet Ketoconazole; 200 mg 17 Rantin 150 mg Tablet
Ranitidine HCl equivalen dengan Ranitidine ;300 mg
18 Spasmacine Kaplet Hyosine N-butylbromide 10 mg Paracetamol 500 mg
19 Cravit 250 mg Tablet Levofloxacin anhydrat; 250 mg 20 CPG 75 mg Tablet
Clopidogrel bisulfate 97,69 mg setara dengan Clopidogrel basa 75 mg
21 Ferofort FC Tablet
Ferronyl - Iron ;84.7-83 mg Ascorbic Acid ;150 mg
NO
NAMA Zat Aktif
Vit B12 (Cyanocobalamin) ;10 mg Vit B1 (Thiamine HCl) ;3 mg Vit B2 (Riboflavine) ;3 mg Vit B6 (Pyridoxine HCl) ;5 mg Niacinamide ;30 mg Calcium Pantothenate ;15 mg ZnSO4.H2O - Zinc ;41.2-15 mg Lysine
22 Fexofed Kaplet Fexofenadine HCl 60 mg Pseudoephedrine HCl 120 mg 23 Mucosulvan Tablet Bromhexine HCl ;8 mg
24 Pospargin 0,125 mg Tablet Methylergometrine Maleate ;0.125 mg 25 Reotal 400 mg Tablet Pentoxifylline ;400 mg
26 Vasdalat 10 mg Tablet Nifedipine ;10 mg 27 Vasdalat 20 mg Tablet Nifedipine ;20 mg 28 Vitalene FilcoTablet
B-carotene ;25 mg Vitamin E ;200 IU Vitamin C ;500 mg 29 Zofredal 1 mg Tablet Risperidone ;1 mg 30 Zofredal 2 mg Tablet Risperidone ;2 mg 31 Zofredal 3 mg Tablet Risperidone ;3 mg 4.1.2 Impact
Impact A : Kategori produk berdasarkan LD 50
Impact B : Kategori produk berdasarkan kelarutan (dalam air) Impact C : Kategori produk berdasarkan jumlah bahan aktif Impact D : Kategori produk berdasarkan kemudahan dibersihkan
15
Tabel 4.2 Analisis Resiko Produk
Impact Subject Kategori Skor
A 0 – 2000 mg/Kg bb Very High 5 2001 – 4001 mg/Kg bb High 4 4002 – 6002 mg/Kg bb Medium 3 6003 – 8003 mg/Kg bb Low 2 > 8004 mg/Kg bb Very Low 1 B
Praktis tidak larut air (1 : > 10000) Very High 5 Sangat sukar larut air (1 : 1001 –
10000)
High 4
Sukar larut air (1 : 101 – 1000) Medium 3 Agak sukar larut air (1 : 31 – 100) Low 2
Larut air (1 : 1 – 30) Very Low 1
C > 72,52 Kg Very High 5 54,39 – 72,51 Kg High 4 36,26 – 54,38 Kg Medium 3 18,13 – 36,25 Kg Low 2 0 – 18,12 Kg Very Low 1 D
Sangat sukar dibersihkan Very High 5
Sukar dibersihkan Medium 3
Hasil analisis risiko terdapat di Lampiran 1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa produk terburuk adalah Mycoral Tablet dengan zat aktif kondisi Ketoconazole.
4.2 Pembahasan
PT. Kalbe Farma, Tbk merupakan perusahaan yang memiliki komitmen untuk membantu masyarakat mewujudkan kesehatan dan kehidupan yang lebih baik. Dalam mewujudkan komitmennya, PT. Kalbe Farma, Tbk telah menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam setiap aspek pembuatan obat, salah satu aspek CPOB yang telah diterapkan oleh PT. Kalbe Farma, Tbk adalah mengenai kualifikasi dan validasi dimana salah satu validasi yang dilakukan oleh PT. Kalbe Farma, Tbk adalah validasi pembersihan. Adapun tujuan dilakukannya validasi pembersihan tersebut adalah untuk memastikan bahwa validasi pembersihan tersebut memberikan bukti tertulis dan terdokumentasi bahwa cara pembersihan yang digunakan tepat dan dapat dilakukan berulang-ulang. Peralatan atau mesin yang dicuci tidak terdapat pengaruh yang negatif karena adanya efek pencucian.
Line 8 extention adalah line di PT. Kalbe Farma, Tbk yang menghasilkan
sediaan solid berupa tablet, kaplet, atau kapsul. Salah satu mesin yang terdapat di
line 8 extention ini mencakup mesin mixing yang digunakan untuk beberapa
produk. Pada pelaksanaan tugas khusus ini, dilakukan pengkajian analisis resiko untuk menentukan worst case dari produk dan zat aktif untuk salah satu mesin
mixing di line 8 extention yang bernama mesin mixing Diosna P-250.
Tujuan dilakukannya validasi pembersihan mesin ini adalah agar pembersihan mesin dilakukan dengan benar sehingga diperoleh mesin yang bebas dari cemaran dari sisa produk sebelumnya. Pembersihan rutin untuk mesin ini dilakukan setiap hari setelah selesai proses bila tidak ada pergantian produk, sedangkan untuk pembersihan berkala dilakukan jika ada pergantian produk, mesin yang digunakan untuk produk yang sama terus–menerus selama 1 minggu, dan bila mesin selesai proses dan tidak digunakan lagi maksimal selama 3 hari,
17
sedangkan untuk pembersihan ulang dilakukan jika mesin akan dioperasikan lagi setelah tidak dipakai (idle) selama lebih dari 1 minggu.
Sebelum melaksanakan validasi pembersihan harus disusun terlebih dahulu protokol validasi pembersihan dimana protokol ini berfungsi sebagai suatu rencana tertulis mengenai pelaksanaan program validasi yang akan dilaksanakan termasuk parameter pengujian dan batas pengambilan keputusan terhadap hasil uji yang dapat diterima. Tujuan pembuatan protokol ini yaitu untuk membuktikan bahwa prosedur pembersihan mesin dengan produk worst case dan zat marker setelah dianalisis dengan metode analisis yang telah tervalidasi senantiasa memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Protokol ini disusun oleh Supervisor Departemen Quality Assurance (QA) dan harus mendapat persetujuan Manager Departemen QA, Research and Development (R&D) dan Produksi. Protokol