Perjanjian penunjukkan agen dibuat memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian sebagaimana Pasal 1320 KUHPerdata, dan memenuhi karakteristik perjanjian penunjukkan agen di antaranya dibuat secara tertulis sehingga mengikat kedua belah pihak sebagaimana mengikatnya undang-undang bagi perusahaan penerbangan dan agen sesuai dengan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata. Perjanjian keagenan tersebut tidak dapat dibatalkan secara sepihak, pembatalan hanya diperkenankan jika kedua belah pihak mencapai kata sepakat atau oleh peraturan

perundang-undangan diperkenankan untuk itu sesuai dengan Pasal 1338 ayat (2) KUHPerdata. Hal ini berarti bahwa selama perjanjian penunjukkan agen berlangsung, maka pembatalan secara sepihak adalah dilarang dan jika mengakibatkan agen menderita kerugian, maka dapat digunakan sebagai dasar agen untuk menuntut ganti kerugian.

Pengakhiran hubungan keagenan antara perusahaan perbangan dengan para agen disebabkan karena izin penerbangan dicabut oleh pemerintah, yang berarti bahwa pengakhirian hubungan keagenan tersebut dibenarkan oleh undang-undang sesuai dengan Pasal 1338 ayat (2) KUHPerdata. Namun tidak jarang dalam perjanjian tersebut tercantum klausula mengesampingkan berlakunya ketentuan Pasal 1266 KUHPerdata, bahwa setiap perjanjian yang bersifat timbal balik syarat batal selalu dianggap dicantumkan di dalamnya. Perjanjian tersebut tidak batal dengan sendirinya, melainkan dengan putusan pengadilan. Putusan pengadilan tersebut tetap harus dimintakan meskipun klausula syarat batal telah dicantumkan dalam perjanjian penunjukkan agen.

Dalam perspektif Hukum Perikatan, penyimpangan terhadap Pasal 1266 KUHPerdata masih menimbulkan perbedaan penafsiran, menyangkut sifat dari ketentuan ini, yakni bersifat melengkapi (aanvullend/voluntary) atau memaksa (dwinged/mandatory). Jika mengacu pada sifat yang pertama maka ketentuan ini boleh saja disimpangi, sebaliknya jika dinilai memaksa tentu penyimpangan tidak akan mempunyai kekuatan hukum dalam arti tidak mengikat.15 Perbedaan itu terutama bersumber dari Pasal 1266 ayat (2) KUHPerdata yang menyatakan, “Dalam hal yang demikian persetujuan tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada hakim”.

Umumnya dipahami, untuk menentukan sifat suatu ketentuan, dalam bidang perdata, salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan mengidentifikasi konstruksi atau susunan kalimat dalam ketentuan itu. Dengan demikian cara ini tergolong penafsiran gramatikal. Adanya kata “harus” atau “wajib” misalnya, mengindikasikan bahwa ketentuan yang bersangkutan bersifat dwingend/mandatory. Sebaliknya, rumusan, “jika tidak telah diadakan perstujuan lain” atau “jika tidak diper-janjikan sebaliknya” misalnya, mengindikasi bahwa ketentuan itu bersifat aanvullend/ voluntary. Dengan cara ini maka tak dapat lain untuk tidak mengatakan bahwa Pasal 1266 KUHPerdata bersifat dwingend dan karenanya tidak dapat disimpangi.94

Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan memahami strekking dari ketentuan dimaksud, yakni dengan mengkaitkan suatu ketentuan dengan ketentuan lain. Pada hakekatnya ini merupakan jenis penafsiran sistematis karena penafsiran dilakukan dengan memahami suatu ketentuan dihubungkan dengan pemahaman terhadap seluruh aturan yang terkait. Dari segi strekkingnya Pasal 1266 KUHPerdata juga harus dinilai dwingend karena syarat batal dalam Pasal ini tergolong syarat batal relatif dan bukan syarat batal mutlak seperti ketentuan sebelumnya, yakni Pasal 1265 KUHPerdata. Perbedaan keduanya terletak pada momen terjadinya kebatalan. Pada syarat batal mutlak, jika syarat terpenuhi maka dengan sendirinya perikatan batal, sedangkan pada syarat batal relatif, sekalipun syarat terpenuhi perikatan tidak otomatis batal melainkan harus dimintakan kepada hakim. Juga jika dilihat dari segi tujuannya, penilaian terhadap Pasal 1266

94

KUHPerdata akan sampai pada kesimpulan bahwa pasal ini bersifat dwingend karena tujuan pasal ini untuk melindungi salah satu pihak dan penilaian subjektif pihak yang lain. Adalah tidak adil jika penilaian mengenai tidak dipenuhinya suatu kewajiban (wanprestasi) digantungkan pada pihak lain. Hakimlah yang berwenang melakukan penilaian itu.

Prinsip-prinsip dan norma hukum yang diterapkan jika terjadi kegagalan pemenuhan kewajiban pemenuhan prestasi pada kontrak penunjukkan agen yang di dalamnya tidak tercantum mengenai sanksi bagi pelanggar perjanjian adalah prinsip-prinsip sebagaimana diatur di dalam Buku III KUHPerdata, tentang Perikatan. Prinsip kontrak penunjukkan agen adalah didasarkan atas buku III KUHPerdata, yang menganut asas terbuka atau kebebasan berkontrak dan asas pelengkap. Apabila dalam kontrak penunjukkan agen tidak mengadakan penyimpangan dari buku III KUHPerdata, maka akan dilengkapi oleh pasal-pasal buku III KUHPerdata dengan adanya kelengkapan ini menjadikan kontrak penunjukkan agen dapat berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai dengan maksud dibuatnya kontrak penunjukkan agen tersebut.

Selain itu dalam perjanjian penunjukkan agen perusahaan penerbangan mengesampingkan ketentuan pasdal 1267 KUH Perdata, yang berarti membatasi diri dari tuntutan ganti kerugian atas dasar wanprestasi, di mana ketentuan Pasal 1267 KUHPerdata memberikan pilihan kepada pihak yang dirugikan untuk meminta agar perjanjian keagenan dibatalkan disertai dengan ganti kerugian ataui ganti kerugian saja atau poembatalan disertai dengan penggantian kerugian. Gugatan ganti kerugian merupakan hak dari pihak yang dirugikan akibat adanya

wanprestasi, oleh karena itu jika pihak yang mengakibatkan terjadinya kerugian atau perusahaan penerbangan yang membatalkan secara sepihak dan akibat pembatalan tersebut pihak agen dirugikan, maka peraturan perundang-undangan memberikan hak untuk menggugat ganti kerugian. Sehingga jika perjanjian mengesampingkan mengenai gugatan ganti kerugian adalah tidak berlandaskan hokum. Hal ini secara tegas diatur dalam Pasal 1339 KUHPerdata bahwa mengikatnya perjanjian bukan hanya sebatas pada hal-hal yang tercantum dalam perjanjian saja, melainkan juga harus memperhatikan pula kebiasaan, kepatutan dan undang-undang.

Berdasarkan hal tersebut di atas yang berhubungan dengan pembatalan perjanjian keagenan, pembatalan perjanjian disebabkan karena izin usaha angkutan udara dicabut oleh pemerintah. Pembatalan perjanjian penunjukkan keagenan yang demikian adalah diperkenankan sebagaimana Pasal 1338 ayat (2) KUHPerdata, bahwa suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Sehingga termasuk pembatalan perjanjian secara sepihak yang didasarkan atas alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.

Dengan dibatalkannya perjanjian kerjasama keagenan tersebut, maka sesuai dengan kesepakatan perusahaan penerbangan mengembalikan uang jaminan yang diserahkan oleh agen sebagai syarat dari penunjukkan keagenan dalam penjualan tiket atau karcis penumpang angkutan udara. Kenyataannya tidak mengembalikan uang jaminan penunjukkan sebagai agen penjualan tiket

perusahaan penerbangan, padahal tercantum dalam klausula jika perjanjian keagenan berakhir, perusahaan penerbangan yang diageninya bersedia mengembalikan uang jaminan tersebut.

Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa hal yang dituntut para agen adalah pengembalian uang jaminan, hukan tuntutan akibat pembatalan perjanjian keagenan secara sepihak. Pengembalian uang jaminan keagenan sebagai syarat untuk menjadi agen penjualan tiket merupakan hak para agen ketika perjanjian keagenan berakhir karena pembatalan tersebut, sehingga apabila ternyata perusahaan penerbangan tidak mengembalikan uang jaminan yang merupakan hak agen, menjadikan para agen dapat menuntut haknya tersebut.

Perusahaan penerbangan menolak untuk mencairkan uang jaminan keagenan, yang mengakibatkan para agen menderita kerugian. Kerugian yang timbul dari hukum keperdataan dapat dituntut untuk memberikan penggantian kerugian. Mengenai gugatan ganti rugi dalam hukum perdata dapat terjadi karena adanya ingkar janji atau wanprestasi dan dapat pula terjadi karena perbuatan melanggar hukum atau onrechmatige daad.

Gugatan ganti rugi atas dasar wanprestasi atau ingkar janji menurut Abdulkadir Muhammad diartikan sebagai berikut: “Wanprestasi artinya tidak memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam perikatan”.95

Dengan demikian perusahaan penerbangan yang tidak mengembalikan jaminan keagenan sebagai syarat keagenan dalam penjualan tiket tersebut dapat dikatakan telah melanggar

95

kewajiban yang diwajibkan oleh perjanjian kerjasama penunjukkan agen, maka dapat dikatakan telah wanprestasi atau ingkar janji.

Menurut Subekti, seseorang dikatakan telah wanprestasi apabila: 1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya.

2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan. 3. Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat.96

Di atas disebutkan bahwa salah satu unsur wanprestasi adalah berakibat merugikan orang lain. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh M. Yahya Harahap sebagai berikut: “Jika wanprestasi itu benar-benar menimbulkan kerugian kepada kreditur, maka debitur wajib mengganti kerugian yang timbul. Namun untuk itu harus ada hubungan sebab akibat atau kausal verband antara wanprestasi dengan kerugian.97

Dengan demikian seseorang yang wanprestasi memberikan hak kepada pihak lain yang dirugikannya untuk menggugat ganti kerugian. Mengenai bentuk ganti kerugian dapat berupa penggantian biaya, rugi dan bunga, sesuai dengan ketentuan Pasal 1246 KUHPerdata, yang menentukan: “Biaya, rugi dan bunga yang oleh si berpiutang boleh dituntut akan penggantiannya, terdirilah pada umumnya atas rugi yang telah dideritanya dan untung yang sedianya harus dapat dinikmatinya,…”. Namun dalam hal gugatan atas dasar wanprestasi tersebut, peraturan perundang-undangan memberikan suatu pilihan kepada pihak yang dirugikan sebagaimana tercantum dalam Pasal 1267 KUHPerdata yang menentukan: “Pihak terhadap siapa perikatan tidak dipenuhi, dapat memilih

96

R. Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 2001, hal. 45 97

apakah ia, jika hal itu masih dapat dilakukan, akan memaksa pihak yang lain untuk memenuhi perjanjian, ataukah ia akan menuntut pembatalan perjanjian, disertai penggantian biaya, rugi dan bunga”. Jadi pihak yang dirugikan atas dasar wanprestasi dapat memilih antara memaksa agar debitur berprestasi jika masih memungkinkan, atau membatalkan perjanjian atau membatalkan perjanjian disertai dengan ganti kerugian. Dengan demikian apabila dalam pelaksanaannya perusahaan penerbangan tidak mengembalikan uang jaminan penunjukkan agen tersebut kepada agen maka dapat dikatakan telah ingkar janji atau wanprestasi dan masuk dalam klasifikasi tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya. Kepada para agen atas wanprestasi yang dilakukan oleh perusahaan penerbangan dapat memilih untuk memaksa perusahaan penerbangan untuk mengembalikan uang jaminan saja, atau memilih mengembalikan jaminan disertai dengan penggantian biaya, rugi dan bunga.

Mengenai gugatan ganti rugi atas dasar perbuatan melanggar hukum atau onrechtmatige daad dibedakan antara perbuatan melanggar hukum dalam arti sempit dan dalam arti luas. Perbuatan melanggar hukum dalam arti sempit yaitu melanggar peraturan perundang-undangan. Perihal perbuatan melanggar hukum setelah tahun 1919 diartikan secara luas sesuai dengan yang dikemukakan oleh Riduan Syahrani sebagai berikut: “Baru tahun 1919 Hoge Raad meninggalkan penafsiran yang sempit atas pengertian perbuatan melanggar hukum, yaitu ketika memberikan putusan pada tingkat kasasi terhadap perkara Lindenboum vs Cohen,

tanggal 31 Januari 1919 yang dikenal dengan nama arrest drukker”.98

Perbuatan melanggar hukum secara luas diartikan sebagai berikut: “Berbuat atau tidak berbuat melanggar hak orang lain, atau bertentangan dengan kewajiban hukum orang yang berbuat itu sendiri, atau bertentangan dengan kesusilaan atau sikap berhati-hati sebagaimana patutnya dalam lalu lintas masyarakat, terhadap diri atau barang-barang orang lain”.99

Sedangkan menurut Soetojo Prawirohamidjojo adalah: “Suatu perbuatan atau kelalaian yang apakah mengurangi hak orang lain atau melanggar kewajiban hukum orang yang berbuat, apakah bertentangan dengan kesusilaan atau bertentangan dengan sikap hati-hati, yang pantas di dalam lalu lintas masyarakat terhadap orang lain atau barangnya”.100

R. Setiawan menggolongkan pelaku melakukan perbuatan melanggar hukum apabila:

1. Melanggar hak orang lain.

2. Bertentangan dengan kewajiban hukum dari si pembuat. 3. Bertentangan dengan kesusilaan.

4. Bertentangan dengan kepatutan yang berlaku dalam lalu lintas masyarakat terhadap diri atau barang orang lain.101

Melanggar hak orang lain maksudnya adalah melanggar hak subyektif orang lain. Hak subyektif yang diakui oleh yurisprudensi adalah:

1. Hak-hak perorangan seperti kebebasan, kehormatan, nama baik.

98 Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2009, hal. 276

99 Ibid., hal. 278

100 Soetojo Prawirohamidjojo dan Marthalena Pohan, Onrechmatige Daad, Jumali, Surabaya, 2009., hal. 7

101

2. Hak-hak atas harta kekayaan seperti hak-hak kebendaan dan hak-hak mutlak lainnya.102

Jadi termasuk perbuatan melanggar hak orang lain yaitu apabila hak seseorang tersebut dihambat atau kehormatan serta nama baiknya dilanggar. Termasuk pula pelanggaran terhadap hak atas harta kekayaan dan hak-hak mutlak lain yang dimiliki oleh seseorang. Bertentangan dengan kewajiban hukum si pembuat maksudnya melanggar kewajiban yang didasarkan pada hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Bertentangan dengan kesusilaan, maksudnya bertentangan dengan norma-norma moral, selama dalam kehidupan masyarakat diakui sebagai norma hukum. Jadi jika masyarakat setempat menganggap bahwa tindakan pelaku telah melanggar norma-norma moral, maka dapat dikatakan telah melanggar kesusilaan.

Bertentangan dengan kepatutan yang berlaku dalam lalu lintas masyarakat terhadap diri atau orang lain. Dianggap bertentangan dengan kepatutan apabila: 1. Perbuatan yang sangat merugikan orang lain kepentingan yang layak.

2. Perbuatan yang tidak berguna yang menimbulkan bahaya terhadap orang lain, di mana menurut manusia yang normal hal tersebut harus diperhatikan.103

Gugatan ganti rugi yang terjadi karena adanya perbuatan melanggar hukum, ditentukan dalam Pasal 1365 KUHPerdata, yang menentukan: “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, menggantikan kerugian tersebut”. 102 Ibid, hal.83 103 Ibid., hal. 83.

Apabila memperhatikan ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata di atas, di dalamnya terkandung unsur-unsur sebagai berikut:

1. Perbuatan yang melanggar hukum (onrechtmatige daad); 2. Harus ada kesalahan;

3. Harus ada kerugian yang ditimbulkan;

4. Adanya hubungan kausal antara perbuatan dan kerugian.104

Perbuatan melanggar hukum diartikan sebagai berikut: “Berbuat atau tidak berbuat melanggar hak orang lain, atau bertentangan dengan kewajiban hukum orang yang berbuat itu sendiri, atau bertentangan dengan kesusilaan atau sikap berhati-hati sebagaimana patutnya dalam lalu lintas masyarakat, terhadap diri atau barang-barang orang lain”.105

Perihal kesalahan dalam perbuatan melanggar hukum, ditentukan dalam Pasal 1366 KUHPerdata bahwa: “Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau kurang hati-hatinya”. Hal ini berarti bahwa, dalam hukum perdata berkaitan dengan perbuatan melanggar hukum tidak membedakan antara kesalahan yang ditimbulkan karena kesengajaan pelaku, melainkan juga karena kelalaian atau kurang hati-hatinya pelaku. Ketentuan ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Riduan Syahrani sebagai berikut: “ … tidak membedakan antara kesalahan dalam kesengajaan dan kesalahan dalam bentuk kurang hati-hati”.106

104 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hal. 142.

105

Ibid., hal. 145-146. 106

Perihal kerugian dalam perbuatan melanggar hukum, “dapat berupa kerugian materiil dan kerugian immateriil”.107

Kerugian dalam bentuk materiil, yaitu kerugian yang jumlahnya dapat dihitung, sedangkan kerugian immateriil, jumlahnya tidak dapat dihitung, misalnya mengkonsumsi suatu barang mengakibatkan kematian. Adanya hubungan kausal atau hubungan sebab akibat maksudnya yaitu kerugian yang diderita tersebut ditimbulkan atau disebabkan karena perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh pelaku.

Perihal ganti kerugian dalam perbuatan melanggar hukum, menurut yurisprudensi “kerugian yang timbul karena perbuatan melanggar hukum, ketentuannya sama dengan ketentuan kerugian yang timbul karena wan-prestasi dalam perjanjian. Ketentuan tersebut diperlakukan secara analogi”.108

Kerugian atas dasar wanprestasi bentuknya berupa penggantian biaya, rugi dan bunga sesuai dengan Pasal 1246 KUHPerdata. Jadi bentuk ganti rugi dalam perbuatan melanggar hukum terdiri dari penggantian biaya, rugi dan bunga.

Biaya yang dimaksud adalah segala pengeluaran atau perongkosan yang nyata-nyata sudah dikeluarkan oleh satu pihak. Rugi adalah kerugian karena kerusakan barang-barang kepunyaan kreditur yang diakibatkan oleh kelalaian debitur. Bunga adalah kerugian yang berupa kehilangan keuntungan yang sudah dibayangkan atau dihitung oleh kreditur.109

Apabila dikaitkan dengan perjanjian penunjukkan agen sebagaimana tersebut di atas dikaitkan dengan pembatalan perjanjian keagenan karena sesuatu sebab yang oleh undang-undang diperkenankan, jika perusahaan penerbangan

107 Ibid., hal. 266. 108

Abdulkadir Muhammad, Op. Cit., hal. 146. 109

tidak mengembalikan uang jaminan kepada para agen, maka dapat dikatakan melakukan perbuatan yang dalam dunia bisnis tidak patut untuk dilakukannya. Melakukan perbuatan yang tidak patut untuk dilakukan dapat dikualifikasikan telah melakukan perbuatan melanggar hukum, sehingga unsur pertama harus ada perbuatan melanggar hukum telah terpenuhi. Sebagai suatu perusahaan penerbangan yang menjalankan usaha penjualan tiket bekerjasama dengan para agen, maka ketika perjanjian keagenan berakhir, seharusnya perusahaan penerba mengembalikan uang jaminan, namun uang jaminan tersebut nampaknya sengaja untuk tidak dikembalikan dengan alasan kesulitan keuangan.

Hal ini berarti bahwa penolakan pengembalian uang jaminan tersebut telah disengaja, yang berarti unsur kedua perbuatan melanggar hukum yaitu harus ada kesalahan telah terpenuhi. Akibat tidak dikembalikan uang jaminan sebagai salah satu persyaratan perjanjian penunjukkan keagenan tersebut oleh perusahaan penerba, menjadikan para agen menderita kerugian. Hal ini berarti bahwa unsur ketiga perbuatan melanggar hukum yaitu harus ada kerugian yang timbul telah terpenuhi. Kerugian yang diderita oleh para agen disebabkan karena perbuatan perusahaan penerbasetelah ijin operasional penerbangannya ditutup oleh pemerintah, tidak mengembalikan uang jaminan keagenan. Hal ini berarti bahwa unsur keempat perbuatan melanggar hukum yaitu adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian telah terpenuhi.

Berdasarkan pembahasan sebagaimana tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa tindakan perusahaan penerbayang tidak mengembalikan uang jaminan kepada para agen yang menjadi hak agen dapat dikualifikasikan telah melakukan

perbuatan melanggar hukum, karena keseluruhan unsur Pasal 1365 KUHPerdata telah terpenuhi. Dengan adanya perbuatan melanggar hukum tersebut mewajibkan perusahaan penerbauntuk memberikan penggantian kerugian berupa penggantian biaya rugi dan bunga sebagaimana Pasal 1246 KUHPerdata selain harus mengembalikan seluruh jumlah uang jaminan penunjukkan keagenan. Biaya maksudnya yaitu biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh agen yang berhubungan dengan perjanjian penunjukkan agen, rugi maksudnya yaitu kerugian yang terjadi dan diderita oleh agen dengan dibatalkannya perjanjian keagenan dan bunga maksudnya keuntungan yang telah dibayangkan dan dihitung oleh agen jika perjanjian keagenan tidak dibatalkan.

Agen yang tidak mendapatkan pengembalian uang jaminan keagenan sebagai salah satu persyaratan untuk dapat ditunjuk sebagai agen oleh perusahaan penerba dapat menempuh jalur hukum dengan menggugat perusahaan penerba berupa ganti kerugian baik atas dasar wanprestasi atau ingkar janji maupun perbuatan melanggar hukum atau onrechtmatige daad, karena kedua unsur wanprestasi maupun perbuatan melanggar hukum. Mengenai dasar gugatan yang diajukan oleh para agen lebih tepat atas dasar ingkar janji atau wanprestasi, karena para agen tidak perlu membuktikan adanya wanprestasi yang dilakukan oleh perusahaan penerba. Hal ini berbeda jika para agen menggugat perusahaan penerbaatas dasar telah melakukan perbuatan melanggar hukum atau onrechtmatiga daad, karena agen harus dapat membuktikan bahwa perusahaan penerbatelah melakukan perbuatan melanggar hukum sesuai dengan Pasal 1865 KUHPerdata.

A. Kesimpulan

1. Tanggungjawab PT. Graha Travel & Tour Medan sebagai agen penjualan umum dalam melakukan kegiatan usaha penunjang angkutan udara adalah memasarkan/menjual tiket transportasi udara sehingga calon penumpang dapat memperoleh tiket secara cepat dan mudah. Dalam hal ini agen penjualan sebagai distributor resmi tiket angkutan udara mempunyai peranan, kewajiban, tanggung jawab, menjaga hubungan baik dengan pihak-pihak yang terkait didalamnya dan mencegah serta mnyelesaikan masalah yang timbul apabila terjadi wanprestasi diantara para pihak.

2. Pembinaan dan penatausahaan agen penjualan tiket dan Ekspedisi Muatan Pesawat Udara dalam kegiatan usaha penunjang angkutan udara adalah dengan melakukan pengawasan. Apabila terjadi pelanggaran, maka izin usaha angkutan udara dapat dicabut setelah sebelumnya melalui proses peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 1 (satu) bulan dan jika tidak ditaati, dilanjutkan dengan pembekuan izin untuk jangka waktu 1 (satu) bulan. Apabila pembekuan izin habis jangka waktunya dan tidak ada usaha perbaikan, maka izin usaha gen penjualan tiket dan Ekspedisi Muatan Pesawat Udara dicabut

3. Pihak yang merasa dirugikan baik agen penjualan tiket penumpang angkutan udara dan perusahaan angkutan udara dapat mengajukan tuntutan ganti rugi terhadap pihak yang melakukan wanprestasi. Penuntutan ganti rugi ini

dilakukan dengan cara musyawarah, jika dengan cara musyawarah tidak tercapai kata sepakat, maka dapat dilakukan penuntutan melalui jalur hukum yaitu Pengadilan.

B. Saran

1. Hendaknya perusahaan penerbangan menyelesaikan permasalahan secara musyawarah dengan para agen penjualan tiket penumpang angkutan udara dengan maskapai penerbangan, jika harus diselesaikan dengan gugatan ganti kerugian, ada kemungkinan para agen jera ditujuk menjadi agen jika usaha tersebut benar-benar berdiri.

2. Hendaknya para agen hanya mengambil langkah gugatan ganti kerugian jika cara lain tidak membawa hasil. Karena jika cara-cara damai membawa hasil masih dimungkinkan untuk menjalin hubungan keagenan dengan maskapai penerbangan. Cara gugatan ganti kerugian hanya dilakukan sebagai upaya terakhir jika memang teerjadi wanprestasi dan perbuatan melanggar hukum.

Dalam dokumen Pembinaan dan Penataaan Usaha Agen Penjualan Tiket dan Perusahaan Ekspedisi Muatan Pesawat Udara sebagai Usaha Penunjang dalam Penyelenggaraan Angkutan Udara (Studi Pada PT. Graha Travel & Tour Medan) (Halaman 39-55)