• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka beberapa kesimpulan dan saran, dapat disampaikan sebagai berikut:

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dimaksud adalah jawaban atas petanyaan penelitian yang sesuai temuan di lapangan. Hal ini akan dijabarkan sebagai berikut:

1. Untuk mencapai tujuan belajar didalam proses pembelajaran sejarah, diperlukan beberapa unsur diantaranya pendekatan strategi, metode, dan media. Penerapan pembelajaran sejarah dalam penelitian, dengan sentuhan diskusi kelompok, tanya jawab, penyelidikan/menemukan masalah, memberikan nuansa baru kepada siswa dalam pembelajaran, khususnya mata pelajaran sejarah. Penerapan pembelajaran dengan model problem based learning yang diterapkan dalam penelitian ini telah dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam pembelajaran. Hal ini terbukti dari siklus ke siklus terdapat peningkatan kreatifitas dan keatifan siswa seperti aktif bertanya, mencari dan mengolah informasi, berani mengemukakan ide atau gagasan, menjawab pertanyaan, mengembangkan dan menganalisis serta mengeksplorasi pengalaman belajar.

2. Perencanaan yang baik mencerminkan keberhasilan, demikian pula pembelajaran sejarah dengan model problem based learning dalam

menumbuhkan nasionalisme siswa ternyata dapat membentuk karakter, sikap didalam kehidupannya dalam lingkungan sekolah keluarga dan masyarakat. Pembelajaran sejarah yang dikembangkan sesuai dengan kejadian yanga ada di daerah berfungsi sebagai pedoman guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Diharapkan dapat menganalisa kurikulum untuk kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu diharapkan kemampuan seorang guru sejarah diantaranya mampu berkreatif dan inovatif terutama pada aspek menganalisis kurikulum (KTSP).

3. Pelaksanaan pembelajaran harus dapat dilakukan melalui perencanan yang baik, akan berdampak pada adanya perubahan pada diri. Pembelajaran sebelum pelaksanaan pendidikan tindakan kelas (PTK) ini memperlihatkan bentuk pembelajaran yang bersifat konservatif, kaku, dan terlebih lagi tidak merangsang pengembangan kemampuan akademik siswa, dikarenakan guru hanya mengandalkan kemampuan bertutur, mengutamakan hapalan angka-angka urut-urutan, peristiwa dan tokoh dengan nuansa kognitif tingkat rendah dengan ceramah yang monoton diikuti memcatat buku teks. Perubahan terjadi pada guru terutama, khususnya terhadap perbaikan pembelajaran sejarah. Semakin meningkatnya aktifitas dan kreativitas mengajar, baik dalam membuka pelajaran, apersepsi, eksplorasi, diskusi dan penjelasan konsep, maupun pengembangan aplikasi belajar. Artinya kemampuan guru menjadi semakin baik dan pembelajaran semakin bermakna bagi siswa dalam pengembangan pribadi yang utuh (konigtif, afektif, dan psikomotorik).

4. Penilaian di dalam pembelajaran tidak terfokus pada aspek konigtif namun dapat terlihat kemampuan anak dalam melaksanakan tugas seperti aspek psikomotorik yang diberikan oleh guru apakah dapat dilaksanakan dengan baik. Terutama dalam metode pendidikan tindakan kelas (PTK) pada pembelajaran sejarah dengan model problem based learning ternyata dibutuhkan kemampuan ketrampilan seorang anak untuk dapat memecahkan masalah yang diberikan atau dihadapi. Afektif anak dapat terukur bilamana dapat menunjukkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan atau lingkungan belajar (sekolah), keluarga, dan masyarakat disini terlihat prilaku anak berupa disiplin, rajin, jujur, kekeluargaan, dan gotong royong dalam kehidupan belajar di sekolah. 5. Keberadaan siswa adalah cermin bagi guru, keberhasilan siswa dalam

belajar menunjukkan kompetensi seorang guru. Kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran sejarah yang dipikirkan guru pada awal, sesungguhnya tidak mendasar, sesungguhnya belum ada kemauan atau upaya guru untuk memulainya. Ternyata pendidikan tindakan kelas (PTK) yang dilakuakan dengan menerapkan model problem based learning selama peneliti ada dilapangan mulai dari dari pertemuan awal siklus satu sampai dengan siklus terakhir didalam proses pembelajaran sejarah ternyata mampu memecahkan masalah-masalah yang ditemui pada awal pembelajaran sejarah.

B. Rekomendasi

Berdasarkan temuan yang dibahas pada bagian sebelumnya, maka perlu untuk menyampaikan beberapa rekomendasi kepada guru, siswa, kepala sekolah, dan pengambil kebijakan yang terkait, serta peneliti selanjutnya, sebagai berikut: 1. Disarankan kepada guru, khusus guru bidang studi sejarah terutama di

sekolah tempat peneliti melakukan penelitian dan secara umum guru sejarah yang melaksanakan tugas di Kabupaten Fakfak agar dapat berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dengan sumber-sumber atau referensi sejarah yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan. Diharapkan guru tidak terlalu terfokus pada buku paket atau silabus nasional tapi berkreatif dalam menggali cerita sejarah yang berhubungan dengan materi ajar. Dengan kemampuan guru yang meningkat dan berkualitas sehingga dapat merancang strategi dalam skenario model pembelajaran yang lebih inovatif tentang pengintegrasikan muatan sejarah di daerah/lokal ke dalam sejarah nasional, serta dapat menanamkan nilai-nilai sejarah secarah utuh dalam pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

2. Untuk para siswa, diharapkan mampu mengaplikasikan semangat nilai-nilai juang dalam menumbuhkan semangat nasionalisme pada kehidupan sehari-hari misalnya melakukan hal-hal positif yang bermanfaat seperti toleransi dengan teman yang memiliki perbedaan dengan kita, bersikap kesatria yang taat dan jujur dengan budi pekerti yang baik, bersikap dan berprilaku cinta tanah air, seperti tokoh-tokoh daerah yang mau mengorban segala-galanya

bahkan jiwa dan raga demi kemajuan, kejayaan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara.

3. Kepada sekolah, seluruh dewan guru diharapkan agar dapat melaksanakan tugas dan kewajibanya sebagai pengajar secara iklas dan sungguh-sungguh dengan menunjukkan kepribadian yang dapat dijadikan teladan kepada siswa dalam rangka memajukan kemajuan bangsa.

4. Kepada pemerintah, dalam hal ini Kementrian Agama Kabupaten Fakfak dan Kementrian Pendidikan Nasional Kabupaten Fakfak untuk mendukung dan mendorong kepada pihak-pihak yang terkait agar meningkatkan usaha dalam rangka penulisan sejarah di daerah yang telah dikenal dalam pembelajaran sejarah untuk membangkitkan semangat nasionalisme dan mengusulkan tokoh-tokoh daerah yang telah menunjukkan sikap dalam mempertahankan kedaulatan nasional yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia diusulkan menjadi bagian sejarah nasional minimal sebagai pahlawan nasional.

Daftar Pustaka:

Anderson, B. 1983. Imagined Communities. Norfollk: The Thetford Press, Ltd. Arends, 2008. Learning To Teach (Belajar Untuk Mengajar). Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Blank, T. & Schmidt, P. (2003).”National Identity in a United Germany: Nationalism or Patriotism? An Empirical Test With Representative Data.” Journal of Political Psychology, Vol 24.2, 2003.

Creswell, J.W. 1997. Research Design: Qualitative & Quantitave Approaches. London: Sage Publications, Inc

Djopari, J R O. 1993. Pemberontakan Organisasi Papua Merdeka. Jakarta: Gramedia.

Frederick, W. H. dan Soeroto, S. 2005. Pemahaman Sejarah Sebelum dan Sesudah Revolusi. Jakarta: LP3ES.

Garvey, Brian & Krug, Mary. 1977. Model of History Teching in the Secondary School. Oxford University Press.

Gie, The L. dan Istanto, F. S. Pertumbuhan Pemerintah Provinsi Irian Barat dan Kemungkinan-Kemungkinan Perkembangan Otonomisasi di Hari Kemudian. Yogyakarta: Fisip – UGM.

Hasbullah, 2006. Otonomi Pendidikan; Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo.

Hopkins, D. 1993. A Teacher Guide to Classroom Research. Philadelphia Open University Press

Ingleson, J. 1983. Jalan ke Pengasingan; Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927-1934. Jakarta: LP3ES.

Ismaun, 2008. Nasionalisme dan Integrasi Bangsa dalam Konteks Dinamika Sejarah dan Pendidikan pembinaan Persatuan serta Watak Bangsa Indonesia: Sejarah Sebuah Penilaian Refleksi 70 Tahun Prof. Dr. H. Asmawi Zainul, M. Ed. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS-UPI.

Joyce, B., Weil M. dan Calhoun, E. 2009. Models of Teaching: Model-model Pengajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kahin, George McTurnan. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Karim, R. 1991. Pendidikan Islam Sebagai Upaya Pembebasan Manusia Dalam “Pendidikan Islan Di Indonesia: Antara Cita Dan Fakta.” Yogyakarta: Tiara Wacana

Katopo, E. 1955. Perjuangan Irian Merdeka. Bandung: Kilat Madju.

Koentjaraningrat, & Bachtiar, H. W 1963. Penduduk Irian Barat. Jakarta: Universitas

Kohn, H. 1985. Nationalism: Its Meaning and History. Florida: Krieger Publ.Coy. Kuntowijoyo, 2008. Penjelasan Sejarah (Historical Explation). Yogyakarta: Tiara

Wacana.

Lincoln dan Guba, 1985. Naturalistic Inquiry. California: Baverly Hills.

Mahfud, MD. M. 1993. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

Milles, H 1992. Analisa Data Kualitatif, Buku sumber tentang Metode-Metode Baru. Universitas Indonesia: UI-Press.

Moleong, L.J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, A dan Darmiasti. 2009. Historiografi di Indonesia dari Magis-Religius hingga Strukturis. Bandung: Raflika Aditama.

Mulyasa, H. E. 2009. Praktik Penelitian Tindakan kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya

Nasution, S. 2003. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. PABAN IV ASS-I KASAD, 1961. Tinjauan Situasi Irian Barat. Jakarta.

PEMDA, 1972. Penentuan Pendapat Rakyat di Irian Barat. Jayapura: PEMDA Iran Barat.

Riyanto, Astim. 2006. Negara Kesatuan Konsep, Asas, dan aktualisasinya. Bandung: Yapendo.

Rosyada,D. 2007. Problematika Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Madrasah. Jakarta: Jurnal Edukasi Pendag dan Keagamaan.

Saefudin, S. U. 2008. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sanjaya, W. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Satori, D. dan Komariah. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sjamsuddin,H. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Soedarto, Bondan dan Kawan-Kawan. 1995. Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia di Irian Jaya. Jayapura: DHD. 45 IRJA BP-7.

Soeripto, 1962. Dokumen Irian-Barat. Surabaya: GRIP

Somantri, 2001. Menggagas Pembaharuan IPS. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Sugiyono, 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sumantri, E. 2000. Seabad Kebangkitan Nasional: Revitalisasi dan Reaktualisasi Kebangkitan Nasional Menuju Indonesia Baru yang Adil dan Sejahtera. CV. Yasindo Multi Aspek bekerjasama dengan Pusat Kajian Wawasan Kebangsaan UPI.

Supardan, D. 2009. Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Jakarta: Bumi Aksara.

Supriatna, N. 2007. Konstruksi Pembelajaran Sejarah Kritis. Bandung: Historia Utama Press.

________. 2007. Pembelajaran Sejarah Dalam KTSP: Sejarah Lokal; Penulisan dan Pembelajaran di Sekolah. Bandung: Salamiana Press.

Syaodi, S. N. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Strauss, A. dan Corbin, J. 2009. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Taufiq, A.M. 2009. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning:

Bagaimana Pendidikan Memberdayakan Pemelajar Di Era

Pengetahua. Jakarta: Kencana.

Tilar, H. A. R. 2007. Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Tosh, J. 1984. The Pursuit of History. New York: Longman. Inc.

Uno, H. B. 2010. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Usman, S. dan Din, I. 2010. Pasang Surut Sejarah Papua dalan Pangkuan Ibu Pertiwi. Planet Buku

Wineburg, S. 2006. Berpikir Historis Memetakan Masa Depan, Mengajarkan Masa Lalu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Wiriaatmadja, R. 2008. Paradigm Shift dalam Kajian Teoritik Faham Nasionalisme: Sejarah dalam keberagaman Penghormatan kepada Prof. Helius Sjamsuddin, Ph.D., MA. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS-UPI.

_______. 2009. Metode Penelitian Tindakan Kelas Untuk Meningkatan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Widia, Gde I. 1991. Sejarah Lokal Suatu Perspektif dalam Pengajaran Sejarah. Bandung: Angkasa.

Wonda, S. 2009. Jeritan Bangsa Rakyat Papua Barat Mencari Keadilan. Yogyakata: Galang Press.

Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. 2001. Undang-Undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Kusus Bagi Provinsi Papua. Jayapuara: Sekda Prov. Papua.

Dokumen terkait