• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDANAAN UNTUK PENCAPAIAN

06. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Foto: Unsplash/Aldino Hartan Putra

Pembahasan mengenai pertumbuhan hijau berkelanjutan telah semakin kuat di berbagai forum multilateral, regional dan bilateral.

Hal ini secara langsung dan tidak langsung berimplikasi terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di tingkat nasional, sub-nasional maupun dalam kerangka kerja sama internasional.

Konsep pembangunan di Indonesia harus sejalan dengan pertumbuhan hijau berkelanjutan. Ini berarti pembangunan yang terjadi bukan hanya tidak dapat semata bertumpu dan terfokus pada kemajuan ekonomi saja, melainkan juga harus didukung dan mendukung kegiatan ekonomi berbasis daratan dan perairan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pada saat bersamaan, pembangunan yang terjadi juga harus menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam yang tersedia sehingga generasi akan memiliki hak yang sama dalam memanfaatkan sumber daya alam dalam proses pembangunannya.

Kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam serta kemajuan ekonomi tidak akan memberikan manfaat jika masyarakat yang ada di dalamnya tidak meningkat kesejahteraannya, serta memastikan hak yang sama bagi generasi mendatang untuk memanfaatkan sumber daya alam dalam proses pembangunannya (inter-generational equity).

Aksi iklim, baik aksi mitigasi maupun aksi adaptasi, merupakan bagian tidak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Perubahan kondisi lingkungan global terutama perubahan iklim menyebabkan pentingnya pelaksanaan hak atas pembangunan dengan lebih bijak dibandingkan apa yang telah dilakukan negara maju selama ini. Perubahan yang terjadi akan memberikan tekanan tambahan bagi masyarakat, terutama masyarakat rentan dan masyarakat marginal (marginalized communities). Karenanya proses

berkeadilan (just transition) yang inklusif (no one left behind).

Kerjasama internasional merupakan keniscayaan. Beberapa prinsip dasar untuk berkontribusi dalam pergaulan internasional termasuk dalam berkomitmen adalah: (i) common but differentiated responsibilities and respective capabilities (CBDR-RC), yaitu tanggung jawab yang sama dengan bentuk kewajiban/kontribusi yang berlainan berdasarkan kapasitas masing-masing, (ii) kesetaraan, dan (iii) kemitraan. Berdasarkan tiga prinsip utama ini, Indonesia berhak mendapatkan dukungan dan kerja sama internasional berdasarkan kesepakatan multilateral yang ada dalam memenuhi komitmennya.

Indonesia telah berperan aktif dan memiliki komitmen tinggi dalam pelaksanaan TPB, baik di tingkat nasional maupun subnasional.

Hal ini terbukti dengan dikeluarkan dan diimplementasikannya Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang telah menghasilkan tiga dokumen penting sebagai acuan pelaksanaan TPB di Indonesia, yaitu: Rencana Aksi Nasional (RAN) periode 2017-2019, Rencana Aksi Daerah (RAD) dan Peta Jalan SDGs Indonesia menuju 2030. Indonesia juga telah secara sukarela melakukan pelaporannya di tingkat internasional melalui Voluntary National Reviews (VNR) pada tahun 2017, tahun 2019, dan tahun 2021 kepada High-Level Political Forum on Sustainable Development (HLPF SD).

Indonesia telah menyampaikan dokumen Updated NDC dengan target penurunan emisi GRK 29% dengan sumber daya sendiri dan hingga 41% dengan dukungan dan kerjasama internasional terhadap kondisi BAU di tahun 2030. Indonesia juga telah

Low Carbon and Climate Resilience 2050 (Indonesia LTS-LCCR 2050) yang di dalamnya terdapat target untuk mencapai kondisi net sink24 di sektor FOLU pada tahun 2030.

Di tingkat nasional sektor energi juga telah menetapkan target mencapai NZE di sub sektor ketenagalistrikan di tahun 2060 atau lebih cepat. Beberapa kerja sama dan dukungan internasional di sektor energi sedang berjalan saat ini sebagai bagian dari upaya mencapai target NZE tersebut, termasuk program penggantian PLTD dengan listrik berbasis energi terbarukan melalui program Mentari (Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia); peningkatan akses energi dan pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi, dan mobilisasi pendanaannya melalui program SINAR (Sustainable Energy for Indonesia’s Advancing Resilience); serta koordinasi transisi energi melalui Friend of Indonesia Renewable Energy (FIRE Dialogue) untuk dukungan internasional bagi transisi energi di Indonesia.

Di sektor FOLU, Indonesia telah mengubah paradigma, dari manajemen produk hutan menjadi manajemen lanskap hutan, sehingga pengelolaan area hutan menjadi lebih menyeluruh.

Indonesia juga melakukan restorasi ekosistem mangrove termasuk program untuk memulihkan 600 ribu hektar hutan mangrove yang rusak hingga tahun 2024.

Di sisi keuangan, OJK telah mengeluarkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap II (Sustainable Finance Roadmap Phase II) 2021-2025 untuk mempercepat transisi sektor keuangan ke arah berkelanjutan. Selain itu, berbagai BUMN sejalan dengan Per-09/MBU/07/2015 tentang Program Kemitraan dan Program

24 Net sink adalah kondisi dimana penyerapan GRK di sektor ini lebih besar daripada emisi GRK yang dihasilkan. Hal ini berlaku di sektor berbasis hutan dan tata guna lahan (forestry and land use atau FOLU)

telah secara aktif berperan dalam upaya pembangunan hijau berkelanjutan, baik dari CSR maupun dari perubahan dalam sistem kerja dan produksinya.

Transisi energi menuju pemanfaatan sumber daya energi primer yang terbarukan (menggantikan batubara) menjadi bagian dari akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau, yang didukung pelaksanaan efisiensi energi baik pada hulu (konversi energi primer) dan hilir (di tingkat pengguna energi).

Beberapa isu kunci yang diperoleh dari rangkaian Distas yang dilaksanakan mencakup:

• Perlu mendorong kebijakan berbasis definisi atau cakupan TPB yang dipakai, mengingat berbagai standar ditetapkan unilateral baik oleh negara pembeli atapun standar industri;

• Perlu diperhatikan agar komoditas berorientasi ekspor sesuai dengan kriteria berkesinambungan (sustainability) yang saat ini semakin menjadi syarat dari negara pembeli (buyer countries) dan perlu mendorong kemitraan dengan negara pembeli dan pelaku pasar untuk turut memikul tanggung jawab, antara lain, dengan memberikan premium price bagi petani Indonesia;

• Pemerintah Indonesia perlu menetapkan daftar EGs (environmental goods) yang sesuai dengan pola produksi di Indonesia, seperti produk industri dasar atau hasil pertanian/

perkebunan/kelautan, sebagai nilai tawar dalam perundingan bilateral dan regional;

• Perkembangan penyediaan energi terbarukan dan industri pengguna energi terbarukan di berbagai negara, dapat berimbas pada menurunnya minat investor asing untuk berinvestasi di Indonesia;

• Pentingnya sumber daya manusia (SDM), baik dari sisi jumlah maupun kualitas. Hal ini terutama terkait

dan kegiatan yang akan mendukung pertumbuhan hijau berkelanjutan. Dengan SDM yang andal dalam jumlah yang memadai akan mendorong lebih banyak lapangan kerja baru dalam kerangka pertumbuhan hijau berkelanjutan.

Selain pendidikan akademik, pendidikan keterampilan atau vokasi untuk peningkatan kualitas dan kapasitas tenaga kerja dalam mendukung pertumbuhan hijau berkelanjutan serta mengantisipasi permasalahan perubahan iklim perlu dikelola dengan strategi yang jelas serta perencanaan yang terstruktur dan terarah.

• Perlu adanya investasi hijau yang dapat mendukung proses pengembangan dan alih teknologi, pengembangan dan penguasaan perangkat sistem serta penguasaan pengetahuan dan teknologi di masa mendatang. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan dari kegiatan yang memberikan manfaat kepada semua pihak bahkan dengan berbagai transisi yang terjadi. Peningkatan SDM, penguasaan pengetahuan dan teknologi serta pengembangan dan alih teknologi akan menjadi jaminan terjadinya transisi yang berkeadilan.

• Berbagai Kementerian/Lembaga, pelaku usaha dan berbagai pihak lain di luar Pemerintah harus aktif berperan sesuai dengan fungsi dan tugasnya untuk memastikan terjadinya transisi yang berkeadilan. Kolaborasi di antara berbagai pihak tersebut, sehingga terjadi sinergi dan bukan saling menghalangi dalam pelaksanaan kegiatan masing-masing.

• Transisi menuju pertumbuhan hijau berkelanjutan memerlukan investor untuk melakukan investasi dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang lebih luas. Dengan tuntutan ini, investor pun membuat kriteria dan persyaratan untuk melakukan investasinya di berbagai negara. Jejak karbon menjadi salah satu kriteria dan pertimbangan

berinvestasi di negara yang dapat memberikan jaminan jejak karbon rendah. Salah satu jaminan ini adalah dari sisi penyediaan energi, terutama listrik, yang rendah atau bahkan nol emisi karbon dari sumber energi terbarukan.

Selain itu, terdapat beberapa tantangan yang sering dikaitkan dengan pertumbuhan hijau berkelanjutan, termasuk:

• Perdagangan internasional. Adanya tekanan dari negara pembeli terhadap pelaku usaha Indonesia dengan alasan komoditas yang ditawarkan belum memenuhi persyaratan dan ketentuan lingkungan. Pada kenyataannya, banyak persyaratan dan ketentuan ini ditetapkan secara unilateral (sepihak) dan bukan persyaratan dan ketentuan dalam isu yang sama yang telah disepakati secara multilateral.

• Kesiapan infrastruktur, termasuk penyediaan energi listrik.

Masih tingginya bauran energi fosil dalam pembangkitan listrik serta dalam bauran energi primer di Indonesia membuat investor asing – yang sebagian besar telah memiliki komitmen aksi iklim dan NZE – berpikir ulang dan bahkan membatalkan investasinya di Indonesia dan berpindah ke negara lain seperti Vietnam.

Selain beberapa isu di atas, isu lain yang dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia adalah kebutuhan pendanaan untuk pencapaian TPB. Berbagai skema pendanaan yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan ini di antaranya:

• Skema pendanaan sederhana bagi Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK).

• Skema pendanaan lebih kompleks untuk investasi proyek dengan skala besar.

• Skema blended financing dengan campuran sumber pembiayaan swasta dan sumber pembiayaan publik yang

seperti yang dilaksanakan melalui SDGs Indonesia One.

• Skema penjaminan investasi yang sangat diperlukan pembiayaan bagi pembangkit energi terbarukan.

Dalam rangka mendukung pendanaan untuk kegiatan-kegiatan lingkungan, Indonesia telah memiliki Indonesia Environment Fund (IEF) yang telah dibentuk pada bulan September 2019 dan diluncurkan pada Oktober 2019 sebagai Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan obligasi hijau (green bond) dan sukuk hijau (green sukuk) sebagai opsi sumber pendanaan domestik.

Sebagai Para Pihak dari UNFCCC, Indonesia dapat mengakses pendanaan iklim multilateral di bawah kerangka UNFCCC, termasuk Global Environment Facility (GEF), Green Climate Fund (GCF), dan Adaptation Fund (AF). Pendanaan ini merupakan aliran dana dari negara maju ke negara berkembang sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab negara maju dalam membantu negara berkembang melaksanakan aksi mitigasi dan aksi adaptasi.

COP26 di Glasgow pada akhir tahun 2021 memiliki peran penting dalam menetapkan rencana dan implementasi aksi untuk mencapai tujuan Persetujuan Paris. Salah satu hasil utama dari COP26 adalah terkait dengan pendanaan selain mengenai kerja sama internasional di bawah Pasal 6 Persetujuan Paris yang dapat dilakukan dengan pendekatan pasar maupun pendekatan non-pasar. Salah satu elemen dalam Glasgow Climate Pact yang penting bagi Indonesia terkait dengan phasedown of unabated coal power and phase-out of inefficient fossil fuel subsidies, memerlukan strategi yang tepat untuk memastikan ketahanan energi.

Berikut berbagai rekomendasi untuk mendukung pertumbuhan hijau berkelanjutan di Indonesia dapat dikelompokkan berdasarkan prioritas ke dalam 3 (tiga) jangka waktu, antara lain:

• Prioritas jangka pendek, yaitu rekomendasi yang perlu segera ditindaklanjuti dalam jangka waktu 1-2 tahun ke depan karena merupakan hal yang mendesak dan menjadi modal bagi pelaksanaan pertumbuhan hijau berkelanjutan di Indonesia.

Setelah periode 1-2 tahun tersebut, sangat mungkin diperlukan pengkinian sesuai dengan perkembangan yang terjadi, baik di dalam negeri maupun di internasional;

• Prioritas jangka menengah, yaitu rekomendasi yang perlu dilaksanakan dalam periode 5 tahun ke depan yang sebagiannya dapat menjadi bagian dari RPJMN berjalan sementara sebagian lainnya menjadi bagian dari RPJMN 2025-2029. Setelah 5 tahun, tetap harus dilakukan pengkinian berdasarkan perkembangan yang ada;

• Prioritas jangka panjang, yaitu rekomendasi yang pelaksanaannya dalam periode 10-20 tahun mendatang, sehingga akan menjadi bagian dari RPJPN 2025-2045 dan RPJPN selanjutnya.

Secara umum, rekomendasi untuk Kementerian Luar Negeri terkait dengan peran, fungsi, dan tugas yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2020 tentang Kementerian Luar Negeri adalah sebagai berikut.

1. Mengoordinasikan dan merumuskan posisi dan narasi