KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Pada hasil penelitian yang telah dilakukan pada pasien RSGMP Universitas Sumatera Utara dapat disimpulkan bahwa penggunaan madu alami sebagai pengobatan stomatitis aftosa rekuren tipe minor memiliki efek yang baik. Hal tersebut dapat terlihat pada perbedaan ukuran SAR, eritema halo dan skala rasa sakit yang signifikan setelah pemberian madu alami selama tiga hari.

6.2 Saran

Pada penelitian ini, peneliti lebih fokus pada pengobatan mengenai keseluruhan kandungan yang terdapat pada madu alami dan tidak menjabarkan secara rinci mengenai kandungan dalam madu alami yang memiliki efek antiinflamasi, antimikroba maupun antioksidan yang dapat menyembuhkan SAR. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan mengenai efek yang lebih rinci pada salah satu efek tersebut. Pada waktu anamnesis, pasien selalu mengaku tidak menderita penyakit sistemik tanpa adanya bukti pasti, pada penelitian selanjutnya diharapkan peneliti lebih memperhatikan tentang penyakit sistemik pasien dengan cara memasukkan subjek yang benar-benar tidak menderita penyakit sistemik yang diketahui dengan cara pemeriksaan kesehatan umum pasien kepada dokter sebelum dijadikan sebagai subjek penelitian atau memasukkan pasien yang baru saja melakukan pemeriksaan kesehatan secara umum. Pada penelitian ini, pemilihan subjek kurang homogen, maka pada penelitian selanjutnya pemilihan subjek dapat dibuat lebih homogen, baik jenis kelamin maupun usia. Bagi dokter dan dokter gigi, penggunaan madu alami dapat dijadikan sebagai terapi alternatif selain penggunaan obat modern untuk terapi SAR.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stomatitis Aftosa Rekuren

Stomatitis aftosa rekuren (SAR) adalah suatu peradangan yang terjadi pada mukosa mulut dengan tanda khas berupa adanya ulser oval rekuren tanpa adanya penyakit lain.15 SAR mempunyai nama lain ulser aftosa dan canker sores.1,6,8

2.1.1 Etiologi

Sampai saat ini, etiologi SAR masih belum diketahui secara pasti. SAR terjadi bukan disebabkan oleh satu faktor saja tetapi multifaktorial. Faktor-faktor yang diduga dapat memicu terjadinya SAR antara lain defisiensi nutrisi, trauma, alergi, merokok, faktor herediter dan imunologi.1,7-10

1. Defisiensi Nutrisi

Pasien yang mengalami defisiensi nutrisi memiliki hubungan dengan terjadinya SAR. Sebagian penderita SAR diperkirakan mengalami defisiensi vitamin B1, B2, B6 dan B12.9-10 Laporan kasus oleh Volkov (2005) terhadap tiga pasien SAR dengan defisiensi vitamin B12 menyatakan bahwa terjadinya SAR bisa disebabkan karena kurangnya asupan nutrisi dari produk hewani seperti daging yang menyebabkan rendahnya kadar serum vitamin B12, tetapi hal ini masih diragukan karena mekanisme terjadinya SAR dengan defisiensi vitamin B12 masih belum jelas, para ahli memperkirakan bahwa ada hubungannya dengan adanya penekanan imunitas seluler (cell-mediated immunity) pada sel mukosa.16

2. Trauma

Ulser dapat terbentuk pada daerah-daerah bekas luka.Hal tersebut biasanya dapat menyebabkan terjadinya ulser pada permukaan rongga mulut. Umumnya ulser terjadi karena tergigit saat berbicara, kebiasaan buruk seperti bruksism, mengunyah, akibat perawatan gigi, dan memakan makanan atau minuman yang terlalu panas.17

3. Alergi

Alergi adalah perubahan respon imun tubuh terhadap bahan yang ada dalam lingkungan hidup sehari-hari.18 SAR dapat terjadi karena sensitivitas jaringan mulut terhadap beberapa bahan pokok yang ada dalam pasta gigi, obat kumur, lipstik, permen karet, bahan gigi tiruan atau bahan tambalan, serta bahan makanan. Setelah kontak dengan beberapa bahan yang menyebabkan sensitifitas terhadap mukosa, maka mukosa akan meradang. Gejala ini disertai rasa panas, kadang timbul gatal, dapat juga didahului dengan bentukan vesikel yang sifatnya sementara kemudian akan pecah membentuk daerah erosi kecil dan ulser yang kemudian berkembang menjadi SAR.19

Teori membuktikan terdapat hubungan antara SAR dengan reaksi autoimun (hipersensitivitas tipe IV) salah satunya adalah terlihat adanya kerusakan jaringan pada pemeriksaan histologi jaringan SAR yang menunjukkan bahwa adanya ulserasi nonspesifik yang didahului oleh infiltrasi limfosit dan terdapat respon imun yang diperantarai sel (cell-mediated).1

4. Genetik

Faktor genetik cenderung mempengaruhi pasien SAR. Lebih dari 40% dari individu yang mengalami SAR memiliki orangtua yang pernah mengalami SAR. Stomatitis aftosa rekuren mungkin berhubungan dengan human leukocyte antigen

(HLA) haplotipe B51 (juga umum pada sindrom Behçet), Cn7, A2, B12, dan DR5.6 Hubungan antara haplotipe HLA spesifik dan SAR telah diselidiki, tetapi tidak ada hubungan yang konsisten yang bisa dibuktikan oleh para ahli, kemungkinan besar karena tidak adanya dasar immunogenetik pada SAR.20

Menurut penelitian Safadi (2009), dari 684 pasien yang diteliti terdapat 408 (66,4%) penderita SAR yang mempunyai riwayat keluarga yang pernah mengalami SAR.21 Pasien dengan riwayat keluarga SAR akan menderita SAR sejak usia muda dan lebih berat dibandingkan pasien tanpa riwayat keluarga SAR.19 SAR juga sering terjadi pada kembar identik.9

5. Stres

Stres dinyatakan merupakan salah satu faktor yang berperan secara tidak langsung terhadap SAR.19 Stres dapat menyebabkan trauma pada jaringan lunak rongga mulut dikaitkan dengan kebiasaan parafungsional seperti menggigit bibir atau mukosa pipi dan trauma ini dapat menyebabkan mukosa rongga mulut rentan terhadap terjadinya ulserasi.22

Penelitian yang dilakukan oleh Farmaki et al (2008) menyimpulkan bahwa kecemasan bisa menjadi faktor penyebab terjadinya SAR. Pasien yang sering merasa cemas memiliki tingkat serum kortisol yang tinggi pada saat menderita SAR.23

6. Hormonal

Keadaan hormonal wanita yang sedang menstruasi dapat dihubungkan dengan terjadinya SAR.24 Hormon yang dianggap berperan penting adalah estrogen dan progesteron.19 Pada sebagian wanita SAR dilaporkan bisa lebih parah terjadi selama fase luteal dari siklus menstruasi, yang terkait dengan peningkatan tingkat progestogen dan menurunnya estrogen.9 Penurunan estrogen mengakibatkan terjadinya penurunan aliran darah sehingga suplai darah utama ke perifer menurun yang menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan sel-sel termasuk rongga mulut, memperlambat proses keratinisasi sehingga menimbulkan reaksi yang berlebihan terhadap jaringan mulut dan rentan terhadap iritasi lokal sehingga mudah terjadi SAR. Progesteron dianggap berperan dalam mengatur pergantian epitel mukosa mulut.19

7. Infeksi Mikroba

Beberapa teori menyatakan bahwa ada hubungan antara SAR dan beberapa agen mikrobial seperti bakteri Streptococcus, Helicobacter pylori, varicella zoster virus (VZV), cytomegalovirus (CMV), human herpes virus (HHV)-6 dan HHV-7, tetapi tidak terdapat teori dan penjelasan yang cukup kuat mengenai data yang berhubungan dengan SAR dan mikroba yang lebih spesifik.15

8. Defisiensi Hematologi

Penelitian menyebutkan bahwa 20-30% pasien yang mengalami SAR disebabkan karena defisiensi hematologi (terutama zat besi, vitamin B12 dan asam

folat).6,9,24 Oleh karena itu, pertimbangan adanya defisiensi hematologi mengharuskan pasien menjalani pemeriksaan hitung darah lengkap serta perkiraan kadar vitamin B12, dan memperbaiki seluruh folat darah dan ferritin seperti Totally Iron Binding Capacity (TIBC) atau kapasitas pengikatan zat besi secara total dari zat besi serum.10

9. Penyakit Sistemik

Pasien yang mengalami SAR terus-menerus harus dipertimbangkan adanya penyakit sistemik yang diderita dan perlu dilakukan evaluasi serta pengujian lebih lanjut oleh dokter spesialis. Beberapa kondisi medis yang dikaitkan dengan keberadaan ulser di rongga mulut adalah Behcet’s disease, penyakit disfungsi neutrofil, penyakit gastrointestinal (Chron’s disease, Celiac disease, dan kolitis ulseratif), HIV-AIDS, dan Sweet’s syndrome.19

2.1.2 Gambaran Klinis dan Klasifikasi

Ulser dimulai dengan rasa terbakar selama 2-48 jam sebelum ulser muncul dan terlihat kemerahan, selanjutnya akan muncul bentukan papula dan ulser membesar.15 SAR ditandai dengan adanya ulser bulat dan dangkal.3,10 Ulser tertutup pseudomembran kuning keabu-abuan, berbatas tegas dan dikelilingi pinggiran halo

eritematus.3,25-26 Stomatitis aftosa rekuren sering ditemukan pada daerah yang tidak berkeratin seperti mukosa bibir dan dasar mulut.10,18

Tidak semua SAR mempunyai gambaran klinis yang sama. Terlihat adanya variasi pada ukuran, kedalaman, dan rentang terjadinya ulser. Maka dari itu, SAR dibagi menjadi tiga tipe yaitu tipe minor, mayor dan herpetiformis:15

1. SAR Tipe Minor (MiRAS)

Stomatitis aftosa rekuren tipe minor (Mikulicz’s aphtae) merupakan jenis SAR yang paling sering terjadi pada populasi dengan prevalensi 75-85%. SAR tipe ini memiliki diameter <10 mm dan cenderung mengenai daerah yang tidak berkeratin seperti mukosa labial, bukal dan dasar mulut. Ulser bisa tunggal atau berjumlah lebih dari satu yang biasanya terdiri dari 4-10 ulser dan akan sembuh dalam waktu 10-14 hari tanpa meninggalkan bekas jaringan parut.10,27

Gambar 1. Stomatitis aftosa rekuren tipe minor28

2. SAR Tipe Mayor (MaRAS)

Prevalensi SAR tipe mayor (periadenitis mucosa necrotica recurrents atau Sutton disease) adalah 10-15% pada populasi. SAR tipe mayor biasanya terjadi setelah pubertas. Simtom pada tahap prodromal lebih intens dari tipe minor. Diameter SAR tipe mayor >10 mm. SAR tipe mayor biasanya sangat sakit dan sering muncul pada bibir, palatum lunak dan pangkal tenggorokan. SAR tipe mayor terjadi beberapa minggu hingga bulanan. Pasien SAR tipe mayor biasanya disertai dengan gejala-gejala seperti demam karena dehidrasi, serta disfagia dan malaise karena asupan nutrisi kurang akibat pasien merasa sakit sewaktu ingin makan dan minum.27

3. SAR Tipe Herpetiformis (HeRAS)

Stomatitis aftosa rekuren tipe herpetiformis paling sedikit dijumpai pada populasi dengan prevalensi 5-10%. Ulser biasanya terdiri dari 5 sampai 100 ulser dengan diameter antara 1-3 mm dengan bentuk kecil, bulat, dan sakit.27 SAR tipe herpetiformis tejadi selama 40-50 hari. SAR tipe herpetiformis bisa mengenai hampir semua mukosa rongga mulut. Simtom yang menyertainya biasanya lebih banyak dari tipe minor dan beberapa pasien mengalami pola kontinu dari ulserasi.7

Gambar 3. Stomatitis aftosa rekuren tipe herpetiformis28

2.1.3 Diagnosis

Diagnosis SAR pada umumnya ditegakkan berdasarkan anamnesis (riwayat penyakit), gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang. Perhatian khusus harus ditujukan pada umur terjadinya, lokasi, lama (durasi) serta frekuensi ulser. Setiap hubungan dengan faktor hormon, stres, dan alergi harus dicatat.10 Gambaran klinis SAR yang terjadi di rongga mulut terlihat dalam bentuk ulser kecil, bulat atau oval, batas margin yang jelas, dasar abu-abu atau kekuningan dan sering terjadi berulang.3

Pada pasien dengan SAR yang dicurigai ada kaitan dengan penyakit sistemik, diperlukan pemeriksaan penunjang.8 Pemeriksaan yang dapat dilakukan diantaranya pemeriksaan darah lengkap seperti ferritin, vitamin B12 dan asam folat dianjurkan bagi pasien SAR dengan defisiensi hematologi.9

2.1.4 Perawatan

Saat ini, perawatan SAR hanya berupa perawatan simtomatis. Tidak ada penatalaksanaan spesifik terhadap SAR. Tujuan perawatan SAR adalah untuk menghilangkan gejala, mengurangi jumlah dan ukuran SAR dan mencegah rekurensi.27 Obat yang dapat digunakan untuk perawatan SAR antara lain amlexanox,

chlorhexidine, colchicine, dapsone, tetrasiklin, thalidomide, vitamin dan suplemen mineral digunakan sebagai pengobatan SAR.9

Untuk kasus ringan dengan dua atau tiga ulser kecil dipakai protective agent

seperti Orabase atau Zilactin yang berperan sebagai anestesi dengan sediaan topikal. Pada kasus yang lebih parah digunakan golongan steroid topikal dengan dosis yang lebih tinggi seperti fluocinonide, betamethasone atau clobetasol yang dioleskan langsung pada lesi. Untuk kasus berat seperti SAR tipe mayor yang tidak sembuh dengan menggunakan terapi topikal, penggunaan terapi sistemik sangat dianjurkan. Obat yang dilaporkan bisa mengurangi jumlah ulser pada beberapa kasus adalah

prednisone. Obat-obatan tersebut harus dipertimbangkan sebelum diberikan kepada pasien bahwa keuntungan yang didapat harus lebih besar dari resiko efek samping yang ditimbulkan.15

Obat yang paling sering digunakan oleh dokter gigi untuk perawatan SAR adalah golongan kortikosteroid dengan sediaan topikal yaitu triamsinolon acetonide.2

Obat ini dapat membatasi proses inflamasi yang terjadi pada pasien SAR dengan menginduksi fosfolipase A2 penghambat protein (lipocortin). Selain itu,

triamcinolone acetonide ini juga memiliki efek vasokonstriksi dan antipruritis.29 Selain menggunakan obat berbahan kimia, SAR juga bisa diobati dengan menggunakan obat tradisional salah satunya dengan menggunakan madu. Perlu diperhatikan bahwa madu yang dipergunakan sebagai bahan pengobatan SAR adalah madu alami karena mengandung kadar madu asli (100%) tanpa campuran bahan lain yang biasa terdapat pada madu yang sudah diolah.11

2.2 Madu Alami 2.2.1 Definisi

Madu alami adalah madu yang diperoleh dari sarang lebah madu Apis mellifera dan spesies lainnya yang telah dimurnikan dengan pemanasan 70°C. Bentuk madu alami berupa cairan kental seperti sirup dengan warna bening atau kuning pucat sampai coklat kekuningan. Rasa madu alami biasanya khas, yaitu dengan aroma yang enak dan segar. Jika dipanaskan, aromanya menjadi lebih kuat dengan bentuk yang tidak berubah. Bobot madu alami per ml berkisar antara 1,352 gram sampai 1,358 gram.30

2.2.2 Komposisi

Komposisi madu alami terdiri dari 70% gula, 20% air, dan selebihnya terdiri dari karbohidrat (oligosakarida), protein, asam dan mineral. Gula sebagai komponen terbesar madu alami terdiri dari glukosa, fruktosa, monosakarida (gula sederhana) dan disakarida yang terdiri dari maltosa, sukrosa, kojibiosa, turanosa, isomaltosa, dan maltulosa. Hal tersebutlah yang membuat madu alami memiliki rasa manis karena sebagian besar komposisinya adalah berbagai jenis gula.31

2.2.3 Kegunaan Madu dalam Bidang Medis

Madu merupakan salah satu bahan alami yang sering digunakan dalam pengobatan. Mandal (2011) dalam penelitiannya menyatakan pentingnya pengobatan menggunakan madu telah didokumentasikan dalam kepustakaan medis tertua di dunia, dan sejak zaman kuno madu telah dikenal memiliki antimikroba yang dapat menyembuhkan luka, baik luka bakar, ulser, maupun luka terbuka. Sifat penyembuhan dari madu tersebut ditimbulkan karena adanya aktivitas antimikroba, mempertahankan kelembaban luka dan viskositas yang kental dari madu yang dapat mencegah timbulnya infeksi.12

Subrahmanyam (1998) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa penggunaan madu dapat meredakan inflamasi dan kontrol infeksi yang baik pada luka bakar. Selain itu, madu tersebut menunjukkan kontrol infeksi yang lebih baik serta memiliki efek penyembuhan yang lebih cepat jika dibandingkan dengan perawatan dengan menggunakan silver sulfadiazine.13 Selain sebagai kontrol infeksi, penelitian Vardi et al (1998) juga menyimpulkan bahwa madu sangat bermanfaat dalam perawatan luka paska bedah yang terinfeksi dan tidak memberikan respon terhadap perawatan antibiotik lokal dan sistemik secara konvensional.32

Mohamed et al (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa madu merupakan akselerator yang baik dalam penyembuhan luka. Madu alami dapat meningkatkan proses penyembuhan dan perbaikan jaringan karena memiliki kandungan nutrisi. Madu memiliki aktivitas antiinflamasi dan antioksidan sehingga dapat digunakan sebagai bahan alami dalam proses penyembuhan. Sifat asam dan osmolaritas dari madu berperan penting dalam proses penyembuhan. Kandungan antioksidan dalam madu berperan penting dalam penyembuhan luka dan membantu mengurangi infeksi mikroba. Madu sangat efektif karena mempunyai sifat antimikroba dan dapat memelihara kelembaban luka dan viskositas yang tinggi pada madu dapat membentuk satu lapisan pelindung dalam mencegah terjadinya infeksi.14

2.3 Mekanisme Penyembuhan SAR dengan Madu Alami

1. Antiinflamasi

Inflamasi yang terjadi pada ulser menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan meningkatkan pergerakan cairan ke jaringan lunak yang terinflamasi, kemudian meningkatkan kadar eksudat pada permukaan ulser dan menimbulkan rasa sakit. Madu alami berperan sebagai antiinflamasi yang relatif cepat mengurangi rasa nyeri, edema, dan mengurangi produksi eksudat, mempertahankan kelembaban lingkungan sekitar ulser, mengurangi peradangan, dan menyeimbangkan pergerakan cairan.33-34

2. Antimikroba

Aktivitas antimikroba dalam madu alami disebabkan oleh karena adanya enzim hidrogen peroksidase.34 Hal tersebut dihubungkan dengan pH madu alami yang relatif rendah dan kadar gula yang tinggi (osmolaritas yang tinggi) yang dapat mencegah pertumbuhan mikroba pada ulser. Madu alami menyerap toksin yang terdapat pada membran mukosa dan membentuk protein, sehingga eksudat inflamasi diserap oleh madu alami. 12,14

3. Covering Agent

Madu alami sebagai covering agent melindungi lapisan jaringan di bawah ulser sehingga mempercepat proses penyembuhan dan proses epitelisasi jaringan yang rusak.Viskositas madu alami yang tinggi (kental) memungkinkan madu untuk melekat pada ulser. Mekanisme tersebut akan mencegah terjadinya infeksi sekunder pada ulser dan mencegah ulser berkontak dengan mikroba dan unsur kemis lain.12,14 Madu alami memiliki kemampuan untuk merangsang pertumbuhan jaringan pada ulser untuk mempercepat penyembuhan dan memulai proses penyembuhan yang lebih cepat pada luka yang telah lama tidak sembuh.33

4. Antioksidan

Madu alami juga berperan sebagai antioksidan dengan bantuan aktivitas nonperoksida untuk memaksimalkan kerja madu alami sebagai antimikroba dan antiinflamasi. Aktivitas antimikroba yang terdapat dalam madu alami dibantu oleh aktifnya enzim katalase untuk menghambat aktivitas H2O2. Madu alami memiliki

tingkat aktivitas nonperoksida yang sangat tinggi. Sedangkan aktivitas antiinflamasi dimulai dengan terbentuknya oksigen radikal bebas yang terlibat aktif terhadap terjadinya peradangan yang akan menyebabkan inflamasi dan kerusakan jaringan.33

2.4 Kerangka Teori

Madu Alami Perawatan

Mayor Minor

Stomatitis Aftosa Rekuren

Herpetiformis Covering Agent Antimikroba Antiinflamasi Antioksidan Modern Tradisional Triamcinolone acetonide Antiinflamasi

2.5 Kerangka Konsep

Penyembuhan SAR Tipe Minor

- Eritema Halo

- Ukuran Ulser - Rasa Sakit

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Stomatitis aftosa rekuren (SAR) adalah salah satu kelainan yang paling sering terjadi di rongga mulut.1 SAR tipe minor dikarakteristikkan dengan ulser superfisial, berukuran kecil dan sakit.2 SAR di rongga mulut terjadi dalam bentuk ulser kecil, bulat atau oval, berulang, batas margin yang jelas, dan dasar abu-abu atau kekuningan.3 Pola berulang dan ketidaknyamanan yang terjadi membuat SAR sangat mengganggu penderita.1

Prevalensi SAR bervariasi tergantung daerah populasi yang diteliti. Prevalensi SAR sekitar 20% dari populasi dunia, masyarakat yang berada dalam kelompok ekonomi kelas menengah dan atas biasanya paling sering terkena SAR.1 Menurut penelitian yang dilakukan oleh Scully (2013), SAR dilaporkan mengenai 5-66 % penduduk Amerika Serikat.3 Penelitian yang dilakukan oleh Axell (1990) menunjukkan bahwa prevalensi SAR terjadi pada 11,1% penduduk Thailand.4 Prevalensi SAR di Indonesia sendiri berkisar antara 5-66% dari jumlah populasi umum.5 Angka kejadian yang paling sering dijumpai adalah pada remaja, dan biasanya SAR lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.3

Sampai saat ini, etiologi pasti SAR belum diketahui.1,6,7 Meskipun demikian telah banyak teori yang menyatakan beberapa faktor yang menimbulkan terjadinya SAR, diantaranya reaksi alergi, faktor genetik, faktor hormonal, kelainan darah, defisiensi nutrisi, stress dan trauma.1,7-10 Etiologi SAR belum sepenuhnya diketahui, maka perawatannya bersifat simtomatis, untuk pengobatannya biasanya dengan memberikan obat antiinflamasi seperti triamsinolone asetonide.1,2,7,8 SAR juga bisa dirawat dengan pengobatan tradisional dengan menggunakan madu.11

Madu merupakan salah satu bahan alami yang sering digunakan dalam pengobatan. Mandal (2011) dalam penelitiannya menyatakan pentingnya pengobatan menggunakan madu telah didokumentasikan dalam kepustakaan medis tertua di

dunia, dan sejak zaman kuno madu telah dikenal memiliki antimikroba yang dapat menyembuhkan luka, baik luka bakar, ulser, maupun luka terbuka. Sifat penyembuhan dari madu tersebut ditimbulkan karena viskositas yang kental sehingga dapat mempertahankan kelembaban luka dan adanya aktivitas antimikroba yang dapat mencegah terjadinya infeksi.12 Subrahmanyam (1998) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa penggunaan madu dapat meredakan inflamasi dan kontrol infeksi yang baik pada luka bakar.13 Madu juga memiliki aktivitas antioksidan sehingga dapat digunakan sebagai bahan alami dalam proses penyembuhan, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mohamed (2007) pada ulser rongga mulut.14

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti di atas yang mayoritas masih dilakukan di luar negeri didapatkan hasil yang baik yang menerangkan bahwa madu bisa digunakan sebagai antimikroba, antiinflamasi dan antioksidan, oleh karena itu penulis merasa perlu melakukan penelitian tentang efek penyembuhan madu alami terhadap stomatitis aftosa rekuren tipe minor pada pasien Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sumatera Utara (RSGMP USU), Medan. Madu alami menjadi pilihan karena mengandung kadar madu asli (100%) tanpa campuran bahan lain yang biasa terdapat pada madu yang sudah diolah. Pemberian madu alami pada penelitian ini diharapkan dapat menyembuhkan stomatitis aftosa rekuren tipe minor.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan pertanyaan umum penelitian sebagai berikut:

Apakah terdapat efek madu alami terhadap penyembuhan stomatitis aftosa rekuren tipe minor pada pasien RSGMP USU?

Pertanyaan khusus pada penelitian ini adalah:

1. Apakah terdapat pengurangan eritema halo pada stomatitis aftosa rekuren tipe minor setelah dilakukan pengobatan menggunakan madu alami?

2. Apakah terdapat pengurangan ukuran pada stomatitis aftosa rekuren tipe minor setelah dilakukan pengobatan menggunakan madu alami?

3. Apakah terdapat pengurangan skala rasa sakit pada stomatitis aftosa rekuren tipe minor setelah dilakukan pengobatan menggunakan madu alami?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan umum penelitian ini dilakukan adalah :

Untuk mengetahui efek madu alami terhadap penyembuhan stomatitis aftosa rekuren tipe minor pada pasien RSGMP USU.

Tujuan khusus penelitian ini dilakukan adalah :

1. Untuk mengetahui pengurangan eritema halo pada stomatitis aftosa rekuren tipe minor setelah dilakukan pengobatan menggunakan madu alami

2. Untuk mengetahui pengurangan ukuran pada stomatitis aftosa rekuren tipe minor setelah dilakukan pengobatan menggunakan madu alami

3. Untuk mengetahui pengurangan skala rasa sakit pada stomatitis aftosa rekuren tipe minor setelah dilakukan pengobatan menggunakan madu alami

1.4 Hipotesis

Terdapat efek madu alami terhadap penyembuhan stomatitis aftosa rekuren tipe minor pada pasien RSGMP USU.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat teoritis dari penelitian ini adalah :

1. Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan atau kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan, khususnya bagi instansi pendidikan bahwa madu alami dapat digunakan sebagai salah satu obat untuk menyembuhkan SAR.

2. Bagi peneliti sendiri untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan

Dalam dokumen Efek Madu Alami terhadap Penyembuhan Stomatitis Aftosa Rekuren Tipe Minor pada Pasien RSGMP USU (Halaman 36-64)