• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan permasalah diatas dapat ditarik kesimpulan yaitu : 1. Bahwa Kedudukan tarif dalam kebijakan perdagangan internasional sesuai

dengan ketentuan WTO, pada dasarnya WTO melegalkan tarif sebagai satu- satunya instrumen bagi sebuah negara untuk melindungi industri dalam negerinya dan tidak melalui upaya-upaya perdagangan lainnya (non-tarif

commercial measures). Ada beberapa alasan penggunaan instrumen tarif

dalam perdagangan internasional yakni :

a. Tarif bisa menjadi alat yang digunakan oleh suatu negara ketika harus membalas praktek perdagangan tidak adil yang dilakukan oleh negara anggota lainnya, walaupun sebenarnya, tarif memberikan proteksi yang kecil.

b. Tarif merupakan instrumen lebih mudah dan dapat diubah sewaktu- waktu dibandingkan dengan instrumen non-tarif.

Adapun prinsip-prinsip dasar perdagangan barang yang diatur dalam GATT sebagai berikut :

a. Protection to domestic industry through tariffs. Setiap negara anggota

dapat memproteksi industri dalam negerinya dari pihak asing dalam bentuk tarif. Sedangkan pembatasan kuantitas (quantitatif restrictions) seperti kuota tidak diperbolehkan kecuali dalam situasi tertentu.

b. Binding of tariff. Setiap negara anggota diminta untuk menurunkan dan

menghilangkan bentuk-bentuk proteksi bagi industri dalam negeri dengan cara menurunkan tarif dan menghilangkan hambatan lainnya. Tarif yang telah diturunkan diwajibkan untuk terus diturunkan dan penurunan tarif tersebut harus didaftarkan pada GATT sehingga menjadi bagian tidak terpisahkan dari GATT legal system.

c. Most Favoured Nation (MFN) Treatment. Dasar dari pelaksanaan

prinsip non diskriminasi ini menghendaki penentuan tarif dan persyaratan perdagangan lainnya harus diterapkan tanpa diskriminasi pada setiap negara anggota.

d. National Treatment Rule. Setiap negara anggota tidak dibenarkan

mengenakan pajak lebih tinggi terhadap produk impor dibandingkan dengan pajak untuk produk domestik.

Namun ada beberapa pengecualian terhadap prinsip Most Favoured Nation (MFN) Treatment ini. Pengecualian tersebut yang antara lain, Pertama, perlakuan preferensi di wilayah-wilayah tertentu yang sudah ada, tetap boleh terus dilaksanakan namun tingkat batas preferensinya tidak boleh dinaikkan. Kedua, anggota-anggota GATT yang membentuk suatu Customs Union atau Free Trade Area yang memenuhi persyaratan Pasal XXIV GATT. ASEAN terus mengupayakan langkah-langkah untuk mewujudkan ASEAN sebagai kawasan perdangan bebas melalui pengurangan dan penghapusan hambatan perdagangan baik tarif maupun non-tarif dengan menggunakan skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT) sebagai

mekanisme utamanya. Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN

Free Trade Area ( CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk mewujudkan AFTA

melalui : penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kuantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya

2. Pemerintah indonesia telah ikut serta dalam menandatangani Framework

Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation sekaligus menandai

dicanangkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tanggal 1 Januari 1993 dengan Common Effective Preferential Tariff (CEPT) sebagai mekanisme utama. Sebagai salah satu negara ASEAN, Indonesia telah memberlakukan sistem klasifikasi barang berdasarkan ASEAN Harmonised

Tariff Nomenclature (AHTN) berdasarkan Protocol Governing the Implementation of the ASEAN Harmonised Tariff Nomenclature (AHTN).

Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Tentang Pengesahan International Convention on The Harmonized

Commodity Description and Coding System, Beserta Protocol-nya, Indonesia

juga telah menjadi contracting party dari the International, Convention on the

Harmonized Description and Coding System (HS Convention), World Customs Organization (WCO). Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) atau yang di kenal dengan sebutan Harmonized System (HS) yang bertujuan untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti dan

memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis untuk penetapan tarif pabean di seluruh dunia .

3. Sebagai salah satu negara ASEAN, Indonesia memberlakukan nomenklatur tarif yang harmonis diseluruh negara ASEAN sesuai kesepakatan yang tertuang dalam Protocol Governing the implementation of the ASEAN

Harmonized Tariff Nomenclature (AHTN) dalam penetapan tarif bea

masuknya. Dengan tarif bea masuk yang harmonis akan memberikan perlakuan dan peluang yang sama dan adil bagi seluruh sektor industri untuk berkembang dengan distribusi beban dan manfaat kebijakan tarif yang adil. Di Indonesia tugas untuk memungut dan mengamankan penerimaan negara dari sektor impor atau ekspor menjadi tugas dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Dengan adanya tarif yang harmonis Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Instansi Kepabeanan Indonesia) juga dapat mengurangi hambatan dalam perdagangan internasional dalam rangka mendukung terciptanya perdagangan bebas.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, untuk mendukung terciptanya perdagangan bebas saat ini, setidaknya ada beberapa saran yang dapat diberikan diataranya :

1. Pemerintah Indonesia diharapkan terus berperan aktif mengikuti perkembangan perundingan dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) maupun dalam perundingan dalam perdagangan bebas ASEAN (AFTA) agar dapat menentukan kebijakan dan langkah-langkah kedepan dalam mengantisipasi pesatnya perdagangan dunia saat ini.

2. Diantara negara-negara ASEAN indonesia merupakan negara paling banyak memiliki hambatan non-tarif. Saat ini di Indonesia terdapat 22 instansi pemerintah yang terlibat dalam kegiatan ekspor maupun impor terutama yang terkait dengan perizinan. Agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang seoptimal mungkin dari perdagangan bebas ASEAN saat ini, diharapkan segala jenis hambatan yang menyebabkan inefisiensi dan ekonomi biaya tinggi yang melemahkan daya saing baik berupa peraturan-peraturan yang tumpang tindih antara instansi pemerintah harus di benahi. Koordinasi antara sektor dan isnstansi terkait terutama dalam menyusun kesamaan persepsi antara pihak pemerintah dan stakeholder harus terus dilakukan guna mendukung perdangan bebas saat ini.

3. Instansi pabean dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diharapkan terus mengikuti perkembangan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam perdagangan bebas saat ini baik melalui program harmonisasi tarif bea masuk maupun kebijakan lainnya di bidang perdagangan guna dapat meningkatkan efisiensi, meningkatkan daya saing bagi industri dalam negeri, memberikan perlakuan yang adil bagi seluruh industri dalam negeri dan memberikan kepastian berusaha bagi investor dalam mengantisipasi globalisasi ekonomi saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Adolf, Huala., A. Chandrawulan, Masalah-Masalah Hukum Dalam Perdagangan

Internasional, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1994.

, Hukum Perdagangan Internasional, Prinsip-Prinsip dan Konsepsi

Dasar, (Bandung : Rajawali Pers, 2004), Hlm. 108.

, Hukum Ekonomi Internasional, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2005.

A. Ball, Donald., dkk., International Business, Bisnis Internasional Tantangan

Persaingan Global, Jakarta : Salemba Empat, 2004.

A.K., Syahmin., Aspek-Aspek Hukum Perdagangan Internasional dalam GATT dan

WTO, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006.

Aryaji, Susanti., Latar Belakang Kerjasama Perdagangan Internasional, Jakarta : Elexmedia Komputindo, 2007.

Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Pengantar Nilai Pabean, Jakarta : Pusdiklat Bea dan Cukai, 2005

.

, Harmonized System, Indentifikasi dan Klasifikasi Barang, Jakarta : 2005.

, Tarif, Nilai Pabean, Bea Masuk (BM), BM Anti Dumping, Bea Masuk

Imbalan, Bea Masuk Tindakan Pengamanan dan Fasilitas Kepabeanan,

Jakarta : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, 2008.

Bernabe, Alberto – Riefkohl., “To Dream the Impossible Dream : Globalization and Harmonization of Environmental Laws, “ Notrh Carolina Journal of

International Law and Commercial Regulation, (Vol. 20), 1995.

Bhati, Yudha., Masalah Anti Dumping Dalam GATT-WTO, Jakarta : 2009.

Bustami,Gusmardi., WTO dan Perlindungan Industri Dalam Negeri, Jenewa Swiss : Duta Besar RI untuk WTO, 2009.

Biro Kerjasama Luar Negeri, World Trade Organization/Organisasi perdagangan

dunia, Jakarta : Departemen Pertanian, 2009.

Direktorat Jenderal Perdagangan Internasional, Catatan Ringkas Tentang Proses

Liberalisasi Perdagangan Berdasarkan WTO Agreements, Jakarta :

Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2003.

, Pengertian Dasar FTA (Free Trade Area), Jakarta : Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2008.

, AFTA dan Implementasinya, Jakarta : Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2009.

Direktorat Hubungan Perdagangan Multilateral dan Regional, World Trade

Organization Sebagai Lembaga Pelaksana Dalam Mewujudkan Liberalisasi Perdagangan Dunia, Jakarta : Departemen Perdagangan RI, 2008.

, Partisipasi Indonesia Dalam Perundingan Putaran Uruguay, Jakarta : Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2008.

Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional, ASEAN Free Trade Area,

Gambaran Umum AFTA, Jakarta : Departemen Perdagangan, 2006.

Direktorat Kerjasama ASEAN, ASEAN Selayang Pandang, Jakarta : Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, 2007.

Dwi Saputra, Rahmat., Kerjasama Perdagangan Regional, Jakarta : Elexmedia Komputindo, 2007.

Executive Summary, Current State Play in WTO, Jakarta : Departemen Luar Negeri

Republik Indonesia, 2009.

Fuady, Munir., Hukum Dagang Internasional (Aspek Hukum dari WTO), andung : Citra Aditya Bakti, 2004.

Gandhi, L.M., Harmonisasi Hukum Menuju Hukum Responsif, Jakarta : Fakutas Hukum Universitas Indonesia, 1995.

Gayatri, Aprilia, Posisi Indonesia dan Perkembangan Perundingan WTO, (Doha

Development Agenda), Bandung : Universitas Padjadjaran 2008.

Garcia, Frank J., The Law of Peoples: By John Rawls, Houston Journal of

Hata, Perdagangan Internasional Dalam Sistem GATT dan WTO, Aspek-Aspek

Hukum dan Non Hukum, Badung : Refika Aditama, 2006.

Ispriyahadi, Heri., Mutiara Sibarani, Kerjasama Perdagangan Bilateral, Jakarta : Elexmedia Kompetindo, 2007.

Ibrahim, Johnny., Teori dan Penelitian Hukum Normatif, Surabaya : Bayu Media Publishing, 2005.

Josep Pelawi, Freddy., Penyelesaian Sengketa WTO dan Indonesia, Jakarta: Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional, Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2007.

Kantaatmadja, Komar., Harmonisasi Hukum Negara-Negara ASEAN, Kertas Kerja Pada Simposium Nasional Aspek-aspek Hukum Kerjasama Ekonomi antara Negaranegara Asean dalam rangka AFTA, Bandung : Fakultas Hukum UNPAD, 1993.

Kartadjoemena, H.S., Substansi Perjanjian GATT/WTO dan Mekanisme Penyelesaian

Sengketa: sistem, kelembagaan, prosedur implementasi, dan kepentingan negara berkembang, Jakarta : UI Press, 2000.

Kootali, Aswin., Gunawan Saichu, Integrasi Ekonomi : Konsep Dasar dan Realitas, Jakarta : Elexmedia Komputindo, 2008.

Lamberte, Mario B., An Overview of Economic Cooperation and Integration in Asia,

dalam Asian Economic Cooperation and Integration, Manila : Asian

Development Bank, 2005.

M. Donahue, Alexander., “ Equivalence : Not Quite Close Enough for the

International Harmonization of Environmental Standards” Environmental Law, (Vol. 30), 2000.

Nasution, Bismar., Hukum Kegiatan Ekonomi I, Peraturan Tentang Jasa di Bidang

Keuangan (Bank dan Non Bank) Pasca GATT-GATT’s/WTO Dalam Kaitannya Dengan Ketentuan Perdagangan di Indonesia, Bandung : Books

Terrace & Library, 2007.

, Hukum Kegiatan Ekonomi I, Era Globalisasi Hukum dan Ekonomi, Bandung : Books Terrace & Library, 2007.

, Reformasi Hukum Dalam Rangka Era Globalisasi Ekonomi, Medan : Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, 2008.

, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum, Medan : Majalah Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2003.

, Peraturan Tentang Jasa Di Bidang Keuangan (Bank, Non Bank)

Pasca GATT-GATS/WTO Dalam Kaitannya Dengan Ketentuan Perdagangan Di Indonesia, Medan : Universitas Sumatera Utara, 2007.

, Bismar Nasution, Pengaruh Globalisasi Ekonomi Pada Hukum

Indonesia, ( Medan : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2003),

hlm. 3.

Pratomo, Wahyu., Teori Kerjasama Perdagangan Internasional, Jakarta : Elexmedia Komputindo, 2007.

Purwito, Ali., Reformasi Kepabeanan, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006

Pengganti Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan,

Jakarta : Graha Ilmu, 2007.

Rajagukguk., Erman, Hukum Ekonomi Indonesia Memperkuat Persatuan Nasional,

Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Dan Memperluas Kesejahteraan Sosial,

Jakarta : Universitas Indonesia, 2009.

Suparman, Eman., Perjanjian Internasional Sebagai Model Hukum Bagi Pengaturan

Masyarakat Global, Menuju Konvensi ASEAN Sebagai Upaya Harmonisasi Hukum, Bandung : Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, 2000.

Suhaidi, Hukum Transaksi Internasional, Medan : Sekolah Pascasarjana Ilmu Hukum Univeristas Sumatera Utara, 2009.

Susan Nongsina, Flora, Pos M. Hutabarat, Pengaruh Kebijakan Liberalisasi

Perdagangan Terhadap Laju Pertumbuhan Ekspor-Impor Indonesia, Jakarta :

Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2007.

Siswanto, Joko dan Aditya Rachmanto., Menuju Kawasan Bebas Barang ASEAN

2015, Jakarta : Elex Media Kompetindo, 2008.

Sutrisno, Nandang., Eksistensi Ketentuan Khusus Bagi Negara Berkembang Dalam

Perjanjian World Trade Organization, Jakarta : Fakultas Hukum UII, 2008.

Situmorang, Boris., Perjanjian Perdagangan Regional dan WTO, (Jakarta : Direktorat Kerjasama Perdagangan Internasional, Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2005.

Satria Iswara, Dandy., Indonesia dan WTO, Ketentuan Asal Barang (Rules of Origin), Jakarta : Direktorat Kerjasama Bilateral, Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2007.

Samosir, Alfons., Catatan Singkat Tentang World Organization, Jenewa-Swiss : Atase Perdagangan Repulik Indonesia.

Setiawati, Harum., Gavriyuni Amier, Kerjasama Perdagangan Multilateral, Jakarta : Elexmedia Komputindo, 2007.

Siregar, Mahmul., Perdagangan Internasional dan Penanaman Modal, Studi

Kesiapan Indonesia Dalam Perjanjian Investasi Multilateral, Medan :

Universitas Sumatera Utara Sekolah Pascasarjana, 2008.

Siswanto, Joko., Aditya Rachmanto, Menuju Kawasan Bebas Aliran Barang ASEAN

2015, Jakarta : Elexmedia Kompetindo, 2008.

Soetanto, Herry., World Trade Organizatioan (WTO) dan Negara Berkembang, Jakarta : Direktorat Jenderal Perdagangan Internasional, Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2007.

Tim Teknis Tarif Bea Masuk dan Pungutan Ekspor, Program Harmonisasi Tarif Bea

Masuk 2005-2010, Jakarta : Depatemen Keuangan, 2004.

Widayanto, Sulistyo., Negosiasi Untuk Mengamankan Kepentingan Nasional di

Bidang Perdagangan, Jakarta: Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan

Internasional, Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2007.

B. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing

The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi

Perdagangan Dunia).

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan.

Keputusan Presiden Nomor 35 Tahun 1993 Tentang Pengesahan International

Convention on The Harmonized Commodity Description and Coding System,

Keputusan Presiden Nomor : 59 Tahun 1993, Tanggal : 7 Juli 1993 Tentang : Pengesahan International Convention On Mutual Administrative Assistance

For The Prevention, Investigation And Repression Of Customs Offences,

konvensi ini mengatur kerjasama international di dalam pencegahan dan pemberantasan berbagai bentuk penyelundupan dan pelanggaran dalam bidang pabean (Customs Administration).

Keputusan Presiden Nomor 84 Tahun 2002 tentang Tindakan Pengamanan Industri Dalam Negeri dari Akibat Lonjakan Impor (Safeguards).

Keputusan Presiden Nomor 84 Tahun 2002 tentang Tindakan Pengamanan Industri Dalam Negeri.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 130 Tahun 1998 Tentang Pengesahan

Asean Agreement on Customs (Persetujuan ASEAN di Bidang Kepabeanan).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1996 Tentang Bea Masuk Antidumping dan Bea Masuk Imbalan.

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 94 /KMK.01/1997 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Importasi Barang Dalam Rangka

Skema Common Effective Preferential Tarif (CEPT).

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 110/PMK.010/2006 Tanggal 15 Nopember 2006, Tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor.

Surat Edaran Direktur Bea dan Cukai Nomor SE-37/BC/2006 Tentang Petunjuk Penggunaan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 2007 (BTBMI 2007).

C. Jurnal

Legal Texts : GATT 1947 The General Agreement on Tariffs And Trade (GATT

1947), Article I, General Most-Favoured-Nation Treatment.

, Article III, GATT 1947 The General Agreement on Tariffs And Trade

(GATT 1947), National Treatment on Internal Taxation and Regulation.

, Article VII, GATT 1947 The General Agreement on Tariffs And Trade (GATT 1947), Valuation for Customs Purposes.

, Article XIX, GATT 1947 The General Agreement on Tariffs And Trade (GATT 1947)Emergency Action on Imports of Particular Products.

, Article XXIV, GATT 1947 The General Agreement on Tariffs And Trade (GATT 1947), Territorial Application, Frontier Traffic, Customs Unions and Free-trade Areas.

, Article Artikel XXV, GATT 1947 The General Agreement on Tariffs And Trade (GATT 1947), Joint Action by the Contracting Parties Legal Texts

GATT 1947,

, Article XXVII, GATT 1947 The General Agreement on Tariffs And Trade (GATT 1947), Withholding or Withdrawal of Concessions.

The Revised Kyoto Convention : International Convention on The Simplification And Harmonization Of Customs Procedures.

Agreement On The Common Effective Preferential Tariff (CEPT) Scheme For The ASEAN Free Trade Area Singapore, 28 January 1992.

The Revised Arusha Declaration, Tanzania, 7 Juli 1993.

The Agreement on the Application of Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS). The Agreement on Agriculture.

The Agreement on Trade-Related Investment Measures (TRIMs).

The Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs). The Agreement on Import Licensing Procedures(ILP).

D. Internet

Andreas Limongan, “Perdagangan Internasional dan Kemiskinan”

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/2001/05/24/0015.html Diakses pada

30 Maret 2009.

Mumu Muhajir, “Non Tarif Barriers Dalam Perdagangan Internasional”,

http://www.kataloghukum.com diakses pada 04 April 2009.

“Sekilas Tentang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai”,

http://www.beacukai.go.id/bout_us/sekilas.php diakses 18 Mei 2009.

http://www.depperin.go.id/Ind/publikasi/djkipi/afta.htm diakses pada tanggal 20

Agustus 2009.

http://www.beacukai.go.id/bout_us/tugas.php diakses pada tanggal 30 September

2009.

http://www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/tif_e/agrm11_e.htm diakses pada 4

Juli 2009.

http://www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/tif_e/fact2_e.htm, diakses pada 25

Dokumen terkait