Aspek 5. Ultra Struktur Kayu Reaksi dan Dampaknya
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Karakteristik sifat makroskopik kayu reaksi pada kayu damar dan kayu sengon terutama dicirikan oleh adanya riap pertumbuhan yang besar terjadi hanya pada satu sisi batang, sehingga posisi jaringan empulur (pith) tidak lagi berada di tengah (inconcentric).
2. Karakteristik sifat mikroskopik kayu reaksi dicirikan oleh adanya perubahan bentuk dan ukuran sel-sel penyusunnya. Panjang sel-sel trakeida kayu tekan bertambah pendek rata-rata sekitar 10% dibanding kayu normal. Pada kayu normal panjang sel-sel trakeidanya rata-rata 6750 mikron (5500-7500 mikron) sedangkan pada kayu tekan panjangnya rata-rata 6200 mikron (5200-6850 mikron). Panjang sel serabut kayu tarik sengon rata-rata lebih pendek sekitar 12% dibanding kayu normalnya. Panjang sel serabut kayu normal sengon rata-rata 823 mikron (637-1274 mikron), pada kayu tarik ringan rata-rata 749 mikron (481-1170 mikron) dan pada kayu tarik berat rata-rata 720 mikron (338-1079 mikron).
3. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa ligulate extension pada ujung sel pembuluh (vessels) lebih tepat disebut hook berupa tongue dan groove daripada tail, karena fungsinya sebagai kait untuk memperkuat hubungan sel pembuluh.
4. Karakteristik ultrastruktur dinding sel kayu tekan damar dicirikan oleh : (a) Perubahan bentuk penampang melintang sel-sel trakeida menjadi bulat, sehingga kontak tiga atau empat sel trakeida menimbulkan adanya ruang antar sel. (b) Dinding sekunder kayu tekan mengalami modifikasi dengan hilangnya lapisan dinding sekuder S3 dan lapisan Ds S2 menjadi bertambah tebal. (c) Besarnya MFA kayu tekan damar bertambah besar membentuk sudut antara 40o- 45o.
5. Ultrastruktur kayu tarik sengon terjadi perubahan. (a) MFA kayu tarik bertambah besar dari sekitar 20o-22o menjadi sekitar 44o-54o terhadap sumbu panjang sel; (b) Lapisan Ds S3 yang termodifikasi diganti oleh G layer; Lapisan gelatin kayu tarik sengon tidak hanya terjadi pada dinding sel serabut kayu sengon, tetapi juga terjadi pada dinding sel parenkim.
6. Hasil penelitian sifat mikroskopik dan ultrastruktur dinding sel menunjukkan adanya indikasi bahwa jenis-jenis pohon cepat tumbuh seperti pada sengon mudah untuk mengalami cacat kayu reaksi.
7. Hasil penelitian ini juga menyatakan bahwa sifat unisotropic kayu damar antara lain disebabkan karena pola penyebaran bordered pits pada dinding sel-sel trakeida yang hampir seluruhnya terdapat pada dinding radial.
8. Sifat fisik seperti kandungan air, berat jenis dan persentase penyusutan longitudinal kayu reaksi umumnya lebih besar dibanding kayu normalnya.
B. Rekomendasi
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat diberikan rekomendasi sebagai berikut :
1. Cacat kayu reaksi terutama yang terjadi pada tegakan sengon ternyata sangat besar, dan sifat-sifat kayu reaksi mempunyai banyak kelemahan. Informasi ini dapat dipakai dasar untuk mulai mengambil langkah-langkah antisipasi untuk mengurangi cacat kayu reaksi yang terjadi.
2. Untuk lebih memperkuat dugaan bahwa ligulate extension atau hook berfungsi sebagai kait antara dua sel pembuluh dan bagaimana mekanisme pergantian Ds S3 kayu tarik sengon menjadi lapisan gelatinous, perlu dipelajari lebih dalam sehingga dapat dijadikan objek dalam penelitian yang akan datang.
3. Dari hasil penelitian ini sangat dirasakan perlunya kerja sama yang sinergis antara wood technologist dengan silvikulturist untuk melakukan kolaborasi penelitian dalam rangka membangun tegakan hutan tanaman yang lebih berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Abe H and Funada R. 2005.Review the orientation of cellulose microfibrils in the cell walls of tracheids in conifers. A model based on observations by field emission scanning electron microscopy (FE-SEM). IAWA Journal, Vol.26(2), 2005: 161-
174.
Alonzo D S et al. 1978. Wood quality problems in utilization of moluccan sau (Albizia falcataria Fosberg). Proceedings on wood quality and utilization of tropical species 1st . IUFRO Conference, Philippines, pp: 98-100.
Alrasjid H. 1973.Beberapa keterangan tentang Albizia falcataria (L.) Fosberg. Laporan No. 157. Lembaga Penelitian Hasil Hutan Bogor.
Andersson S et al. 2000. Microfibril angle of norway spruce (Picea abies (L.) Karst.) : Compression wood. comparison of measuring techniques. Journal Wood
Science (2000) 46: 343-349.
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia 2006. Pemerintah Naikkan JPT 2007 Jadi 9,1 juta m3. Buletin APHI. Nomor 18 Tahun 2, Juli 2006 pp1-4. Badan Planologi Kehutanan 2005. Data Strategis Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Departemen Kehutanan.
Bodig J, Jayne B A. 1986. Mechanics of Wood and Wood Composites. Van Nostrand Reianhold Company. New York, Toronto, London, Melbourne.
Bowyer J L, Shmulsky R, Haygreen J G. 2003. Forest Products and Wood Science An Introduction. Fourth Edition. Iowa State Press. A Blackwell Publishing Comp.
Bandstrom J, Stig L B, Geoffry D, Thomas N. 2003. The structure organisasion of S1 cell wall layer of norway spruce tracheids. IAWA Journal, Vol. 24 (1) 2003:
27-40.
Brown J A, Panshin A J. 1970. Textbook of Wood Technology. Volume I. McGrow-Hill Book Company, Inc. New York, Toronto, London.
Carlquist S. 2001. Comparative Wood Anatomy. Systematic, Ecological, and Evolutionary Aspects of Dicotyledon Wood. 2nd edition. Springer.
Clair B, Joseph G, Keiichi B, Bernard T, Junji S 2005. Precautions for the structural analysis of the gelatinous layer in tension wood. IAWA Journal, Vol. 26 (2), 2005: 189-195.
Desch H E, Dinwoodie J M. 1982. Its Structure, Properties and Utilization. The MacMillan Press Ltd. Sixth Edition. London.
Donaldson L A, Jenny G, Geoft M D. 2004. Within-tree variation in anatomical properties of compression wood in radiata pine. IAWA Journal, Vol. 25 (3), 2004 : 2253-271.
Farb P. 1978. The Forest.Time-Live Books. Alexandria, Virginia.
Gilman E F. 2005. Reaction wood. http:// hort.ifas.ufl.edu/woody/maturetreecare /reaction.htm.(5-12-2005).
Haygreen J G, Bowyer J L. 1982. Forest Product and Wood Science An Introduction. The Iowa State University Press. Ames Iowa.
Hillis W F 1987. Heartwood and Tree Exudates. Spring-Verlag Berlin Heidelberg New York London Tokyo.
Hisassi A, Ryo Funada 2005. Review-The Orientation of cellulose microfibrils in the cell walls of tracheids in conifers. IAWA Journal,Vol.26(2); 161-174.
Hoadley R B. 2000. Understanding Wood. Acraftmans Guide to Wood Technology. The Taunton Press. The United States of America.
Kartal S N, Stan L. 2000. Effect of compression wood on leaching of chromium, copper, and arsenic from CCA-C treated red-pine (Pinus resinosa ) IRG/WP 00- 30232. pp.1-8.
Pandit IK N. 1988. Struktur Anatomi Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria Nielsen) Hubungannya Dengan Sifat Dasar kayu Sebagai Bahan. Thesis S2. Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Panshin A J, Carl de Zeeuw 1980. Textbook of Wood Tecxhnology. Third Edition. McGrow-Hill Book Company. New York, Toronto, London.
PROSEA. 1994. Timber trees : Major commercial timbers.
Plant Resources of South-East Asia, No 5(1). Bogor Indonesia.
Sarajar C G. 1975. Penuntun Praktikum Anatomi Kayu. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. 49p.
Schimleck L R. et al. 2005. Estimation of microfibril angle and stiffness by near infrared spectroscopy using sample sets having limited wood density variation. IAWA Journal, Vol.26(2), 2005: 175-187.
Simangunsong B C H. 2006. Revitalisasi Industri Perkayuan Indonesia.
Paper dalam Workshop Industri Perkayuan Indonesia. Jakarta, 19-20 Des. 2006. Surjokusumo S. 1992. Studi Mengenai Persyaratan Kayu Sebagai Bahan Konstruksi
Pesawat Terbang. Fakultas Kehutanan IPB. Hal: 15-36.
Rachman R. 2001. Scanning Electron Microscope.
Laboratorium Pemuliaan dan Genetika Ternak, Fakultas Peternakan IPB Bogor.
Tantra IGM. 1981. Flora Pohon Indonesia. Balai Penelitian Hutan Bogor.
Tarumingkeng R C, Martawidjaya A. 1971. Pengujian kayu jeungjing Rayap Kayu Kering (Cryptotermes cynocephalus Light.) Secara Laboratories.
Laporan No. 137. LPHH. Bogor.
Team Reboisasi LPH. 1971. Pedoman Penanaman damar (Agathis loranthifolia Salisb.) Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi LPH Bogor. Penerbitan No.7.
Torges D. 2005. Reaction wood. http://www.bowyersedge.com/reaction.html. (7-12-2005).
Tsoumis G. 1968. Wood as raw material. Pergamon Press Ltd. London.
Tsoumis G. 1991. Science and Technology of Wood Structure, Properties, Utilization. Van Nostrand Reinhold. New York.
Usta I, Hale M D. 2003. Radial permeability of sitka spruce as affected by wood structure : Permeability of cross-field pits in uniseriante rays. IAWA Journal,
Vol. 24 (2), 2003 : 197-204.
Yamamoto H. 2004. Role of the gelatinous layer on the origin of the physical properties of the tension wood. Journal Wood Science (2004) 50: 197-208.
Yoshizawa N, Toshinaga I. 1986. Some structural and evolutionary aspects of compression wood tracheids. Wood and Fiber Science 19 (4) 1987, pp 343-352. Wapole R E. 1993. Pengantar Statistika. Edisi ke III. Penerbit PT. Gramedia Pusaka
Utama. Jakarta.
Whitmore T C, I Gusti M T. 1986. Tree Flora of Indonesia. Check liest for Sumatera. Forest Research and Development Centre, Bogor.
Zhang C. 2004. Three Dimensional cell Arrangement and Heartwood Substances Movement in Hardwoods. Thesis Kyoto University Japan.