BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada bab-bab terdahulu, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yang sesungguhnya merupakan ringkasan dari uraian-uraian tersebut, antara lain bahwa Soekarno merupakan tokoh “garda depan” dalam kontek pemberdayaan manusia Indonesia. Roda sejarah mengantarkannya menjadi figur sentral dalam proses-proses penting “berdirinya negara ini”: memproklamirkan kemerdekaan, merumuskan perangkat-perangkat kenegaraan, serta memimpin perjuangan deplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan di masa revolusi fisik. Soekarno jugalah putra bangsa pertama yang didaulat rakyat untuk menduduki kursi pimpinan tertinggi negara.
Kisah hidup Soekarno adalah dialektik. Dalam realitas psikohistoris masyarakat Indonesia, bagaimanapun Soekarno adalah sosok “dramatic personae”sebuah gambaran pribadi yang kompleks, yang selain populer, kharismatik dan berpengaruh besar, juga mengandung sejumlah kontradiksi.
Rasanya tidak seorangpun tokoh sejarah Indonesia yang mempunyai absolute totaliter, kolaborator Jepang, dan lain-lain.
Orang asing pun melekatkan lebel seperti “dramatic personae”, si “eksotik dari Timur”, “the Javanese”, dan lain-lain kepada Soekarno bukti dari ketertarikan mereka pada tokon ini.
Bila dilihat dari pengetahuannya tentang sejarah Islam, maka Soekarno adalah seorang muslim yang luas pengeta-huannya. Tetapi bila ditinjau dari latar belakang keluarga dan pendidikannya, ia memang lebih dekat kepada kelompoknasionalis sekuler. Di sinilah letak keunikannya. Ia tidak dapat disamakan dengan tokoh-tokoh nasionalis
Islam.Walaupun ia sendiri mengaku sebagai seorang politikus yang netral agama, namu pemikiran keIslamannya tentu banyak mempengaruhi pemikiran politik dan pemahaman nasionalismenya.
Masih di Surabaya, Soekarno telah mendirikan perkumpulan politik yang bernama “Trikoro Darmo”, yang berarti tiga tujuan suci, yang melambangkan Kemerdekaan Politik, Kemerdekaan Ekonomi dan Kemerdekaan Sosial.
Organisasi ini berlandaskan kebangsaan yang kegiatannya adalah mengembangkan kebudayaan, mengumpulkan dana sekolah dan membantu korban bencana alam. Di samping itu Soekarno juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh “studiclub”, sebuah kelompok yang aktif membahas buah pikiran dan cita-cita. Dalam studieclub inilah Soekarno pertama kalinya berpidato. Usianya pada waktu itu 16 tahun.
Soekarno mulai insaf akan agama ketika dalam penjara,di dalam penjara ia membaca berbagai kitab-kitab agama yang tipistipis, yang diterbitkan oleh Perhimpunan-Perhimpunan Is-lam. Soekarno selama di Endeh, selain rajin membaca dan mempelajari buku-buku Islam, ia seringkali berkorespondensi dengan A. Hasan, seorang ulama Islam terkenal di Bandung.
Suratmenyurat ini berlangsung sejak 1 Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936.
Di dalam surat-surat Soekarno berjumlah 12 buah tersebut dituangkannya seluruh isi hati dan jiwanya tentang keadaan agama Islam dan umat Islam di Indonesia yang diliputi oleh kebekuan dan kekolotan itu.
Islam masuk wilayah nusantara (kepulauan Indonesia)melalui para pedagang Gujarat dan para pedagang Arab.Hubungan perdagangan antara pedagang kepulauan Indonesia dengan Jazirah Arab sejak abad ke-5 masehi.
Hubungan para pedagang Gujarat dan Arab dengan penduduk pribumi berlangsung dengan cara perkawinan, dan hubungan
perdagangan. Dimulai dari rakyat yang hidup di pesisir, para pedagang Islam dapat masuk ke dalam kalangan bangsawan pribumi mulai perkawinan dengan para bangsawan istana.
Begitulah caranya agama Islam masuk ke dalam lingkungan bangsawan. Lingkungan saudagar kaya di bandar-bandar.
Makin lama.makin besarlah kuasa orang Islamdalam dunia perdagangan di daerah Timur. Dan jelas pula tampak usaha mereka mejauhkan saudagar-saudagar yang tidak beragama Islam dari daerah yang mereka kuasai. Hingga ada anggapan para bangsawan di kepulauan Indosesia.
Islam adalah Agama rasional, demikian pendapat Soekarno untuk mengajak kaum muslimin supaya berani menghadapi kenyataan hidup yang tidak adil, dan menyatakan bahwa Islamitu agama yang hidup. Oleh karenanya kaum Muslimin perlu mengadakan usaha untuk membangkitkan semangat perjuangannya di lapangan kemasyarakatan, sehingga umat Islam mampu mengejar ketinggalan-ketinggalannya. Dalam hal ini Soekarno menuliskan.
Bilakah kita punya penganjur-penganjur Islam mengerti falsafahnya historis degrees ini. Membangun kecintaan, membunuh segala “semangat kurma” dan “semangat sorban”
yang mau mengikat Islam kepada zaman kuno ratusan tahun yang lalu, kecintaan berjuang melawan segala sesuatu yang mau menekan umat Islam ke dalam kenistaan, dan kehinaan”.
Kenyataan-kenyataan hidup rakyat Indonesia telah menyadarkan umat Islam untuk berperan dalam merubah : nasibnya. Apalagi setelah terjadinya persentuhan dengan dunia Islam di luar dengan jalan pertemuan umat Islam di musim haji, telah mendorong umat Islam untuk merubah pandangannya tentang kehidupan, bahwa cara pandang terhadap agama Islam harus diperbaharui dengan “rethenking of Islam”.Kesadaran inilah yang menyebabkan umat Islam Indonesia berdiri di Bumi Indonesia untuk menegakkan tugas-tugas keislamannya, yaitu membangun kemaslahatan umat.
Penjelasan Soekarno tersebut, kita bisa mendapatkan ketegasan mengenai harapan yang akan dikejar oleh revolusi, selain berhubungan dengan jasmaniah juga menyangkut rohaniah dan Tuhaniah. Juga bukan hanya ditujukan untuk bangsa Indonesia saja, tetapi revolusi Indonesia pun ditujukan untuk umat manusia diseluruh dunia.
Cindy Adam dalam bukunya menjelaskan aktivitas Bung-Karno:
“Aku mengorganisir Seminar Alim Ulama antar Pulau Sumatra Jawa dan berhasil mengemukakan kepada mereka rencana memodernkan Islam”.
“...bahwa Soekarno adalah tokoh sejarah yang mempunyai kontribusi paling besar dalam kontek pemberdayaan manusia Indonesia. Meminjam kata-kata Mahbub Djunaidi, Soekarno adalah potongan kayu bakar yang terbesar gelondongan-nya, yang sudah membakar api nasionalisme Indonesia, membakar api persatuan nasion Indonesia, dan membakar revolusi nasional yang pada puncaknya memerdekakan negeri ini”.
Soekarno adalah “nation and character builder” yang mencita-citakan sekaligus melaksanakan upaya-upaya riil demi terbentuknya suatu bangsa yang berkepribadian kuat dan khas.
Soekarno merupakan simbul nasionalisme Indonesia.
Ia berhasil menjembatani perbedaan-perbedaan yang tercipta deantara suku, agama dan golongan yang ada di Indonesia dan menanamkan kepada mereka kesadaran tentang satu bangsa,bangsa Indonesia. Dalam percaturanpolitik internasional, ia adalah figur negarawan yang representatif pada masanya dan salah satu dari pemimpin berkharisma khusus dalam nasionalisme Asia dan Afrika. Berbagai kalangan, tanpa terkecuali yang awalnya tidak begitu respek terhadap Soekarno,akhirnya mengakui keberadaannya sebagai pemimpin terkemuka di Asia, serta salah satu tokoh politik dunia yang sangat diper hitungkan.
Di balik kegemilangan karier politik dan nama besarnya, Soekarno tetap “animal political” yang tak luput dari kesalahan dan kelemahan. Terlepas dari apa latar belakangnya, pihak-pihak yang kritis terhadap Soekarno akan selalu mengingatkan bahwa Soekarno pernah menjalankan pemerintahan secara otoriter, memanipolasi pranata-pranata hukum,dan melakukan manuver-manuver politik yang merugikan kepentingan-kepentingan yang lebih besar di luar dirinya. Soekarno juga sering keliru dalam menganalisa keadaan, seperti ketika memutuskan konfrontasi terhadap Malaysia, sebuah kekeliruan yang sangat merugikan bangsanya.
“Kesalahan dramatis seorang bapak dari bangsa yang masih bertumbuh, terbelakang dan belum dewasa”. Karena ia
;juga personifikasi pengkhianatan tragis revolusi nasionalis oleh tangan-tangan oportunis.
Pancasila sebagai Karya Bersama. Setiap fase konseptualisasi Pancasila itu melibatkan partisipasi pelbagai unsur dan golongan. Oleh karena itu, Pancasila benar-benar merupakan karya bersama milik bangsa. Meski demikian, tidak bisa dimungkiri, bahwa dalam karya bersama itu ada individu-individu yang memainkan peranan penting. Dalam hal ini, individu dengan peranan yang paling menonjol adalah Soekarno. Sejak fase”pembuahan”, Soekarno mulai merintis pemikiran kearah dasar filsafat Pancasila dalam gagasannya untuk mensintesiskan antara “nasionalismeIslamisme dan Marxisme” dan konseptualisasinya tentang
“sosionasionalisme”, “sosiodemocratie” sebagai asas Marhaenisme. Pada fase perumusan dia adalah orang pertama yang mengkoseptualisasikan dasar negara dalam konteks dasar falsafah” (philosofische grondslag) atau pandangan dunia”
(Weltanschauung) secara sistimatik dan koheren, dan dia pula yang menyebut lima prinsip dari dasar negara itu dengan istilah Pancasila, dia pula yang memimpin “Panitia Sembilan” yang melahirkan Piagam Jakarta. Dalam proses penerjemahan Pancasila itu ke dalam UUD, dia pula yang memimpin Panitia
Perancang Hukum Dasar. Akhirnya, dalam fase pengesahan Pancasila dia pula yang memimpin PPKI.
Konsep “persatuan” yang dilontarkan Soekarno tahun 1926, menjadi “grand theory” dalam menentukan corak pemikiran Soekarno berikutnya, seperti pembentukan Pron Nasional, NASA-KOM sampai pada penggalangan negara-negara dunia ketiga atau yang dikenal dengan New Emerging Forces (NEFO).Sinthesa ketiga aliran inilah ia punya pandangan. Sepert yang ditulis dalam “pemandangan” tahun 1941, mengatakan, “Saya tetap nasionalis, tetap Islam, tetap Marxis. Sinthesa daritiga hal inilah memenuhi saya punya dadasatu sinthesa yang menurut anggapan saya sendiri adalah satu sinthese yang geweldig”.
Corak nasionalisme Indonesia di atas, bukan saja disebabkan posisi Indonesia sebagai bagian dari dunia Timur, tetapi yang lebih penting lagi adalah pergerakan yang terdapat di Indonesia, menurut Soekarno, terlahir antara lain karena
“wahyunya pergerakan di negari-negari Asia yang lain.
Pengaruh nasionalisme di negeri-negeri Asia terhadap Indonesia dirumuskan oleh Soekarno, sebagaimana diterangkan dalam bab IV, poin Nasionalisme Indonesia.
Nasionalisme baru yang muncul akibat pengaruh dan perkawinan antara nasionalisme dan Marxis di dunia Timur dan juga di Indonesia itu kemudian menjadi asas dari gerakan nasionalisme Indonesia. Tetapi dalam hal ini Soekarno membedakan antara asas nasionalisme dengan asas perjuangan.
Perbedaannya adalah:
Azas (nasionalisme) tidak boleh kita lepaskan, tidak boleh kita buang, walaupun kita sudah mencapai Indonesia merdeka, bahkan malahan sesudah tercapainya Indonesia merdeka itu harus menjadi dasar caranya kita menyusun kita punya masyarakat.
Sedangkan azas perjuangan adalah menentukan hukum-hukum dari perjuangan itu, menentukan strategi dari
perjua-ngan itu. (seperti) non koperasi, machtsvorming, masa aksi dan Lain-lain.