• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ket ua Mahkam ah Agung yang Bert abur Prest as

Dalam dokumen Majalah Peradilan Agama Edisi XI (Halaman 36-38)

T

anggal Februari , Prof. Dr. (. M. (atta Ali, S.(., M.(., terpilih menjadi Ketua Mahkamah Agung untuk periode - . )a berhasil meraup separuh lebih satu dari total suara pemilih, suara dari hakim agung. Lima tahun kemudian, Februari yang lalu, (atta Ali kembali terpilih untuk kedua kalinya memimpin lembaga peradilan tertinggi di Republik ini. Kali ini menang telak. Dukungan mayoritas berhasil ia raih, suara dari total

hakim agung.

Dukungan mayoritas untuk putra kelahiran Pare-Pare Sulawesi Selatan tahun silam itu menunjukan tingginya tingkat kepuasan internal Mahkamah Agung dan empat badan peradilan di bawahnya selama periode pertama kepemimpinan

(atta Ali.

Ya, banyak taburan prestasi yang menghiasi masa lima tahun kepemimpinan (atta Ali dalam rentang - . Sejumlah torehan sejarah yang belum pernah dicapai sebelumnya, sukses diraih melalui tangan dingin kepemimpinan

mantan pembalap motor

ini.

C o n t o h n y a , (atta Ali berturut- turut selama empat tahun dari

sampai dengan berhasil mencatat sejarah dalam hal produkti i tas penyelesaian perkara. Begitu juga dengan sisa perkara. Selama empat tahun berturut-turut terekam

sebagai yang terendah dalam sejarah sejak berdirinya lembaga peradilan di Nusantara. Belum lagi capaian Opini Wajar Tanpa Pengecualian WTP yang pertama kali diraih pada masanya dan berhasil dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. Ada lagi sejumlah prestasi lain yang dicapai.

Bagaimana dengan periode kedua, - nanti? Apa saja yang menjadi fokus garapannya? Akankah gelimang prestasi mampu dipertahankan dan ditingkatkan sampai nanti ketika ia harus mamasuki masa purnabhakti karena mencapai usia tahun?

Pertengahan Maret lalu, Ketua Mahkamah Agung menerima permohonan wawancara Tim Majalah Peradilan Agama di ruangan kerjanya di Lantai Tower Mahkamah Agung R) Jalan Medan Merdeka Utara. Diselingi banyak gelak tawa, wawancara mengalir deras dalam suasana yang santai dan nyaman. Berikut adalah beberapa saripati dari apa yang dituturkan pemegang Sabuk (itam Karate itu kepada Tim Redaksi, Achmad Cholil, Mahrus AR, dan Rahmat Arijaya waktu itu:

Setelah banyak capaian prestasi yang diraih pada periode kepemimpinan yang pertama, apa saja yang menjadi fokus perhatian Yang Mulia pada periode kedua ini?

Jadi begini, soal penyelesaian perkara, kita sudah mengalami peningkatan yang pesat. Jika kita lihat lima tahun ke belakang, setiap tahun penyelesaian perkara itu semakin meningkat. Yang saya masih rasakan kurang, adalah soal minutasi. saya mengetahui itu sebab masih ada surat-surat dari pencari keadilan yang meminta sesegara mungkin mengirim salinan putusan ke pengadilan pengaju. Para pencari keadilan ini membutuhkan salinan putusan tersebut.

Kalau menurut SK KMA, dalam waktu bulan perkara di majelis hakim sudah harus putus. Sebenarnya minutasinya pun seharusnya demikian. Tapi dalam praktek, masih sering lambat. Bahkan ada yang minutasi lebih dari satu tahun. Nah, inilah ketimpangannya. Satu sisi perkara cepat diputus, tapi minutasi lambat. Akhirnya pengiriman salinan putusan juga otomatis terlambat. )ni yang kita harus benahi.

Disamping itu, prioritas kita berikutnya adalah masalah pengawasan. Saya katakan prioritas karena masih banyak surat-surat yang masuk yang ditujukan kepada Ketua Mahkamah Agung yang masih mempersoalkan majelis hakim atau pun non hakim yang ada di daerah- daerah.

Pada kesimpulannya, saya melihat bahwa ini akibat dari keterbatasan sumber daya manusia kita sendiri. Katakanlah hakimnya misalnya tidak mengikuti proses persidangan sesuai hukum acara yang berlaku. Kemudian dari non hakim, ada staf, pegawai, dan panitera yang dalam memberikan pelayanan kepada pencari keadilan belum maksimal. )ni yang sering menjadi alasan para pelapor dalam menyurati Ketua Mahkamah Agung.

Untuk mengatasi persoalan minutasi itu, dalam waktu dekat apa yang akan dilakukan Yang Mulia?

Kita sudah menugaskan kurang lebih orang dari Badan Pengawasan untuk melakukan pengawasan di internal Mahkamah Agung. Pengawasan yang dilakukan oleh mereka adalah memonitor, memantau penyelesaian perkara. Mereka punya data-data siapa-siapa hakim dan para panitera pengganti yang masih sangat terlambat dalam minutasi perkaranya.

Badan Pengawas akan

memberikan sanksi. Mereka yang lambat penyelesaian perkaranya sudah dipanggil dan diberi peringatan.

Beberapa kalangan menyebut Yang Mulia sebagai penggerak reformasi sistemik dan berkelanjutan di Mahkamah Agung. Apa yang menjadi kunci penggerak reformasi tersebut?

Kuncinya kita kembali kepada tugas pokok dari Mahkamah Agung

beserta seluruh jajaran peradilan di bawahnya dari empat lingkungan peradilan. Tugas pokok itu adalah memeriksa, mengadili dan memutus perkara. )ni kuncinya. oleh karena itu, ini harus jadi prioritas utama.

Misalnya kita telah menerbitkan berbagai PERMA dan SEMA. SEMA tentang penyelesaian perkara pada tingkat pertama dan tingkat banding misalnya. Sesuai SEMA No. / , penyelesaian perkara dibatasi paling lama bulan untuk pengadilan tingkat pertama dan maksimal bulan untuk tingkat banding. Sebelum ada SEMA itu, kan penyelesaian perkara maksimal bulan. Sekarang kita lebih perketat waktunya.

Begitu juga di Mahkamah Agung. Dulu tenggang waktu penyelesaian perkara kurang lebih hampir setahun. Sekarang kita persingkat menjadi paling lama bulan. Dalam tenggat waktu itu, perkara sudah harus diputus. Percepatan penyelesaian perkara ini sangat signi ikan dalam memberikan kecepatan kepastian hukum bagi masyarakat. Dan saya kira publik, terutama pencari keadilan mengetahui hal itu.

Kemudian juga masalah publikasi putusan. Kita sudah lama memiliki website Mahkamah Agung. Kita juga sudah menerbitkan regulasinya bahwa setiap perkara yang masuk sudah harus diinput ke website MA. Perkara yang sudah putus dan amar putusannnya juga kita masukan ke website.

Dengan cara ini, para pencari keadilan tidak perlu bertanya-tanya ke Mahkamah Agung atau ke badan peradilan yang berada di daerah. Cukup dengan membuka website, sudah bisa diketahui sudah sejauh mana perjalanan perkara mereka.

Yang Mulia beberapa waktu lalu pernah mengatakan bahwa dalam waktu dekat peradilan di Indonesia bisa satu level modern-nya dengan peradilan lain di dunia, minimal di tingkat Asia Tenggara. Apa yang membuat Yang Mulia optimis seperti itu?

Saya optimisnya begini. Pertama, kalau kita melihat Blueprint -

, di dalam Blueprint tersebut kan ada tahapan-tahapan. Ternyata, capaian kita selama ini sudah jauh melampaui tahapan-tahapan yang dicanangkan dalam Blueprint itu.

Kemudian yang kedua, statemen dari negara-negara di mana kita belajar tentang penyelesaian perkara seperti Belanda dan Australia. Mereka semua malah sudah menyatakan bahwa justru murid ini lebih cepat dari kami dalam penyelesaian perkaranya. (al itu tentu menjadi motivasi yang baik bagi kita dalam bekerja. Bahwa ternyata ada hasil yang kita capai.

Contohnya, pada waktu saya memulai periode pertama memimpin MA, kalau tidak salah sisa perkara berkisar sekitar . sampai . perkara. Sekarang kita kikis sisa perkara itu. Sisa tahun saja hanya . perkara.

Dan memang jika melihat Laporan Tahunan MA, sejak 2013 produktiϔitas memutus perkara selalu tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah. Begitu juga dengan sisa perkara, selalu terendah sepanjang sejarah MA. Bagaimana Yang Mulia bisa melakukan itu?

Kuncinya ada pada sistem. Sistemnya kita mulai dengan Sistem Kamar. Kemudian kita terbitkan regulasi-regulasi yang mengatur tentang penyelesaian perkara. Setelah itu, kita memotivasi mulai dari Ketua Kamar, seluruh pimpinan, sampai kepada semua aparat yang terkecil di Kamar masing-masing. )ni tentang bagaimana kita memotivasi mereka sehingga mereka tergerak bekerja secara ikhlas tulus untuk menyelesaikan perkara.

Kalau kita lihat secara logika, penyelesaian perkara yang mereka lakukan itu sudah di luar standar normal kerja. )ni berarti mereka sudah bekerja sangat maksimal di luar standarnya. Sampai-sampai mereka itu membawa berkas perkara ke rumah. )tu kan sudah melebihi standar kerja yang harus diselesaikan setiap hari. )ni terjadi karena kita terus memberikan motivasi.

Saya juga senang, kebetulan semua jajaran pimpinan di MA itu sangat kompak. Sehingga saya tidak merasakan ada kendala yang berat memimpin mereka. Karena semuanya kompak, jadi jajaran pimpinan itu bekerja secara baik sesuai pembidangannya.

Bentuk motivasi yang diberikan oleh Yang Mulia kepada jajaran pimpinan dan yang lainnya sampai mereka kompak itu bentuknya seperti apa?

Tentu yang namanya leader kita

punya trik-trik tersendiri. Tanpa trik itu kan tidak mungkin. (al seperti itu

“Sat u sisi perkara

Dalam dokumen Majalah Peradilan Agama Edisi XI (Halaman 36-38)