Kab. Bogor
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Ketaatan Lingkungan Perusahaan
5.2.1. Pengendalian Limbah Cair
a. Perusahaan yang bersertifikat ISO 14001
Bila ditinjau dari tingkat ketaatan terhadap baku mutu limbah cair (BMLC), nilai rerata bulanan dan tahunan (2004 – 2007) periode tahun ketiga setelah penerapan PT SU yang bersertifikat ISO 14001 masih lebih baik dari BMLC sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat No. 06 tahun 1999 khusus untuk baku mutu industri cat. Namun bila ditinjau lebih lanjut dari segi hasil setiap pengukuran, ternyata terdapat parameter yang telah mendekati BMLC yaitu parameter BOD (80 mg/l) dan fenol (0,2 mg/l). Parameter BOD pernah mencapai 80 mg/l pada bulan November 2004 dan setelah itu terpenuhi sesuai dengan BMLC, sedangkan parameter fenol telah mendekati BMLC yaitu sebesar 0,2 mg/l, yang semuanya terjadi pada penerapan SML tahun ketiga dan keempat. Bahkan pada bulan Desember 2005, parameter fenol pernah mencapai 0,312 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa secara menyeluruh pengendalian limbah cair PT SU masih belum konsisten dan belum dapat menunjukkan pola kecenderungan penyempurnaan atau peningkatan kinerja pada periode ketiga setelah sertifikasi ISO 14001, sedangkan parameter lainnya masih memenuhi BMLC.
b. Perusahaan yang belum bersertifikat ISO 14001
Bila ditinjau dari tingkat ketaatan terhadap baku mutu limbah cair (BMLC), nilai rerata bulanan dan tahunan (2004 – 2007) periode tahun keempat setelah penerapan UKL/UPL menunjukkan bahwa beberapa parameter utama kualitas limbah cair pada perusahaan yang belum bersertifikat ISO14001 masih belum memenuhi baku mutu yang berlaku di Provinsi Jawa Barat yaitu SK Gubernur Jawa Barat No. 06 tahun 1999.
Bila dilihat dari hasil setiap pemantauan pada outlet IPAL yang telah dilakukan oleh PT DW, masih terdapat beberapa parameter yang telah mendekati BMLC yaitu parameter BOD (50 mg/l), TDS (2.000 mg/l) dan fenol (0,5 mg/l). Parameter BOD pernah melampaui baku mutu secara berulang yaitu mencapai 61 mg/l pada bulan Januari 2004, 87 mg/l pada bulan Juli 2004, 82 mg/l pada bulan
Oktober 2004, 54 mg/l pada bulan November 2004, 148 mg/l pada bulan September 2005 dan 64 mg/l pada bulan Desember 2005 dan setelah itu terpenuhi sesuai dengan BMLC. Sedangkan parameter fenol juga pernah melebihi BMLC (0,5 mg/l) yaitu antara 1,01 mg/l pada bulan Januari 2004, dan mencapai 0,74 mg/l pada bulan Mei-Agustus dan Oktober 2004, kemudian berulang meningkat lagi pada bulan Desember 2005 dan Mei 2006 sebesar 0,59 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa secara menyeluruh pengendalian limbah cair PT DW masih belum konsisten dan belum dapat menunjukkan pola kecenderungan penyempurnaan atau peningkatan kinerja pada periode ketiga setelah penerapan UKL/UPL.
Hal ini juga terjadi pada pemantauan kualitas limbah cair PT IND, dimana telah memenuhi BMLC sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat No. 06 tahun 1999 (Gol I). Namun bila ditinjau lebih lanjut dari segi hasil setiap pengukuran, ternyata terdapat parameter yang telah mendekati BMLC yaitu parameter pH (6,0 – 9,0) dan BOD (50 mg/l). Parameter pH pernah berada di luar batas BMLC, yang terjadi pada bulan November 2004 sampai Januari 2005 yang mencapai 9,3 dan 9,5. Sedangkan parameter BOD pernah melebihi BMLC mencapai 56 mg/l pada bulan Januari 2007 dan 53 mg/l pada bulan Februari 2007 dan setelah itu terpenuhi sesuai dengan BMLC. Hal ini menunjukkan bahwa secara menyeluruh pengendalian limbah cair PT IND masih belum konsisten pada periode kelima setelah penerapan UKL/UPL.
Limbah cair PT AG juga pernah melampaui BMLC sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat No. 06 tahun 1999 (Gol I untuk formulasi pengawetan pestisida). Hasil pemantauan parameter limbah cair yang telah melebihi BMLC yaitu parameter COD (50 mg/l) dan TSS (15 mg/l). Parameter COD pernah berada di atas BMLC (> 50 mg/l), yang terjadi pada bulan Desember 2006 yang mencapai 87,04 mg/l. Sedangkan parameter TSS pernah melebihi BMLC mencapai 115 mg/l pada bulan Mei 2004 dan 56 mg/l pada bulan Januari 2005 dan setelah itu berulang kembali pada bulan Juni 2005 sebesar 26 mg/l dan bulan Juni 2006. Hal ini menunjukkan bahwa secara menyeluruh pengendalian limbah cair PT AG juga masih belum konsisten pada periode kedua setelah penerapan UKL/UPL.
Bila ditinjau dari tingkat ketaatan terhadap baku mutu limbah cair (BMLC), nilai rerata bulanan dan tahunan (2004 – 2007) periode tahun ketiga setelah penerapan UKL/UPL menunjukkan bahwa beberapa parameter kualitas limbah cair PT M3 telah memenuhi BMLC sesuai dengan SK Gubernur Jawa Barat No. 06 tahun 1999 (Gol I untuk industri sabun deterjen). Namun bila ditinjau lebih lanjut dari segi hasil setiap pengukuran, ternyata terdapat parameter yang telah mendekati BMLC yaitu parameter BOD (75 mg/l), COD (180 mg/l) dan TSS (60 mg/l). Parameter BOD pernah sedikit melebihi BMLC (>75 mg/l) yaitu mencapai 88 mg/l terjadi pada bulan Januari 2004 dan pada April 2005 yang mencapai 105 mg/l. Sedangkan parameter COD pernah melebihi BMLC (mg/l ) mencapai 323 mg/l pada bulan Januari 2004 dan 222 mg/l pada bulan April 2004 dan setelah itu terpenuhi sesuai dengan BMLC. Hal ini menunjukkan bahwa secara menyeluruh pengendalian limbah cair PT M3 masih belum konsisten pada periode ketiga setelah penerapan UKL/UPL.
5.2.2. Pengendalian Kualitas Udara
a. Perusahaan yang bersertifikat ISO14001
Ditinjau dari kataatan terhadap peraturan perundangan tentang kualitas udara ambien, ternyata seluruh hasil pemantauan yang telah dilakukan selama periode 2003-2008 oleh peruasahaan yang telah bersertifikat ISO14001 (PT SU), menunjukkan bahwa seluruh parameter baik CO, NO2, SO2, maupun debu masih memenuhi BMU sesuai yang tetera pada Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999. Sedangkan tingkat kebisingan di luar bangunan industri pernah melampaui Baku Tingkat Kebisingan sesuai dengan Kep. No.48/MENLH/II/1996. Kebisingan yang tercatat melebihi Baku Tingkat Kebisingan (70 dBA) adalah pada pemantauan semester II tahun 2003 sebesar 70,9 dBA dan semester I tahun 2005 sebesar 74,8 dBA. Namun selanjutnya hingga pemantauan tahun 2007 telah memenuhi tingkat kebisingan yang diharapkan.
b. Perusahaan yang belum bersertifikat ISO14001
Ditinjau dari kataatan terhadap peraturan perundangan tentang kualitas udara ambien, ternyata seluruh hasil pemantauan yang telah dilakukan selama periode 2003-2008 oleh perusahaan yang belum bersertifikat ISO14001 (PT DW) menunjukkan bahwa seluruh parameter masih memenuhi BMU sesuai yang tetera
pada Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 kecuali parameter debu. Namun demikian hasil pemantauan pada periode selanjutnya tidak pernah dipantau sampai tahun 2008. Demikian juga dengan parameter debu yang dipantau oleh PT IND, terdapat pemantauan yang masih melebihi BMU debu (230 mg/m3) yang mencapai 254 mg/m3 pada pemantauan periode I tahun 2007. Pemantauan lainnya yang melampaui baku mutu adalah yang dilakukan oleh PT AG yang mencapai 281 mg/m3 pada pemantauan periode pada periode II tahun 2005 dan mencapai 258 mg/m3 pada pemantauan periode II tahun 2006. Sedangkan pemantauan oleh PT M3 tercatat 271 mg/m3 pada pemantauan periode I tahun 2006 dan mencapai 358 mg/m3 pada pemantauan periode I tahun 2007.
Pemantauan tingkat kebisingan di luar bangunan industri oleh perusahaan yang belum bersertifikat ISO14001 (PT DW) menunjukkan bahwa masih memenuhi Baku Tingkat Kebisingan (70 dBA) sesuai dengan Kep. No. 48/MENLH/II/1996. Namun demikian hasil pemantauan pada periode selanjutnya tidak pernah dipantau sampai tahun 2008. Beberapa tingkat kebisingan yang masih melampaui baku kebisingan adalah yang dilakukan sekitar PT IND dan PT M3 pada periode II tahun 2008 yang mencapai 72 dB(A), serta pemantauan di sekitar PT AG pada periode I tahun 2005 yang mencapai 81,6 dB(A).
5.2.3. Sistematika Pelaporan Implementasi
Pada dasarnya pelaporan dokumen pengelolaan pasca-AMDAL atau UKL/UPL telah ditetapkan sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor Nomor 03.C tahun 2007 tanggal 22 Mei 2007 tentang Petunjuk Teknis Penerapan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) dan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).
Untuk mengetahui sejauhmana kualitas dokumen penerapan UKL/UPL pada industri kimia, maka dilakukan tinjauan ulang (review) terhadap dokumen tersebut dengan acuan Surat Keputusan Kepala Dinas Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor Nomor 03.C tahun 2007 tanggal 22 Mei 2007. Berdasarkan telaah substansi pelaporan yang telah disampaikan oleh
kedelapan perusahaan penelitian baik yang belum maupun telah memiliki dokumen SML ISO 14001, sebagian besar belum terpenuhi sesuai petunjuk teknis tersebut. Penilaian terhadap substansi dokumen menunjukkan bahwa kedelapan perusahaan penelitian hanya terpenuhi sekitar 80 %. Kekurangan yang ada adalah belum mencantumkan identitas dan deskripsi perusahaan secara lengkap serta belum menggambarkan perkembangan lingkungan sekitar termasuk permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat sekitarnya.