PENDANAAN 1. APBD
4. Ketahanan Pangan dan Gizi;
4.1. Ketersediaan
Ketersediaan cadangan pangan, Lomba B2SA, Gemar ikan, penyediaan kolam terval dan dukungan dari masyarakat dalam memenuhi ketersediaan pangan terutama makanan bergizi tinggi seperti pemberdayaan ternak ayam, ternak lele yang tersebar di wilayah Kabupaten Musi Rawas.
Sekitar 50 desa yang teralokasi kolam terpal sebanyak 1.920 unit dengan bibit sebanyak 2.383,17 ton sedangkan target kebutuhan produksi hasil pada tahun 2020 sekitar 77.708,23 ton dengan masa panen sekitar 60-90 hari.
Gambar diatas penebaran bbit ikan oleh Kementerian kelautan Edi Prabowo dan di bawah Distribusi Kolam terpal di 50 desa atau 1.920 unit pada tahun 2020.
Dari kebutuhan produksi protein itu terpenuhi oleh kolam ikan sekitar 3% setiap tahunnya. Selama ini kolam Terpal mampu panen 4-5 kali dalam setahun, sekitar 200 kg per kolam perpanen.
4.2. Distribusi
Distribusi protein dan kalori hasil dari usaha binaan Dinas Perikanan dan Dinas Pertanian Pertenakan yang didukung dengan pemberdayaan ternak ayam, ternak ikan lele maka didistribusikan dalam upaya ekonomi kreatif kuliner.
Disamping untuk kebutuhan rumah tangga, ikan tersebut didistribusikan ke berbagai daerah seperti Kota Lubuklinggau, Palembang, Jambi, Sekayu bahkan ke Lampung dan sekitarnya.
4.3. Konsumsi
Hj. Ratna Machmud – Bupati Musi Rawas memberikan susu kepada balita stunting di Desa tanah Periuk, 15 April 2021 dalam kegiatan Konvergensi Stunting di Kabupaten Musi Rawas.
Masyarakat pun disajikan dalam bentuk kuliner makan tradisional pendekatan kearifan lokal seperti pecel lele, ayam geprek, bebek Shiget yang tersebar di seluruh daerah kabupaten Musi Rawas dengan menu khas ikan lele, ayam, bebek dan berbagai ikan budidaya lainnya.
Gambar Suasana Kuliner Masyarakat Kabupaten Musi rawas dengan khas Pecal Lele yang tersebar di Kawasan Kabupaten Musi Rawas. (Dok, 30 Mei 2021)
4.4. Kewaspadaan
Penyediaan kesediaan beras dan gabah dan masyarakat dengan mengembangkan kelompok Koperasi sebagaimana tabel di bawah ini.
4.5. Kemasyarakatan
Pembinaan koperasi dan pembentukan koperasi menjadi hal yang mendasar untuk menggerakan pembangunan daerah.,
No Kecamatan 2016 2017 2018 2019
1 STL Ulu 21 27 18 19
2 Selangit 31 33 28 28
3 Sumberharta 20 24 16 16
4 Tugumulyo 29 31 72 73
5 Purwodadi 26 27 22 23
6 Muara Beliti 97 109 90 90
7 Tiang Pumpung Kepungut
23 45 20 20
8 Jayaloka 24 29 21 22
9 Suka Karya 22 25 19 19
10 Muara Kelingi 57 66 55 58
11 BTS Ulu 50 61 48 50
12 Tuah Negeri 26 42 34 36
13 Muara Lakitan 56 66 54 55
14 Megang Sakti 61 67 58 58
Jumlah 593 702 555 567
Sumber : BPS, Musi Rawas Dalam Angka 2020 5. Kehidupan masyarakat Sehat yang mandiri
5.1. Perilaku hidup bersih dan sehat di tatanan RT
Salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan program PHBS dapat dilihat dari cakupan Indeks Keluarga Sehat dengan Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga.
Secara nasional cakupan PIS PK ini masih sangat rendah atau sangat memprihatinkan, sehingga sebagai upaya akselesari peningkatan kinerja diperlukan upaya konvergensi multi sektoral. Salah satu upaya tersebut melalui Program Indondesia Sehat Pendekatan Keluarga (PIS PK). Adapun kriteria kinerjanya diukur melalui tiga klaster yaitu > 0,8 berarti daerah sehat dengan simbol warna hijau, 0,5-0,8 berada pada rentang kuning dan daerah yang dinyatakan tidak sehat berada pada klaster ini yaitu 0-0,5 dengan simbol warna merah. Musi Rawas berada pada angka 0,125 yaitu tidak sehat dengan simbol warna merah.
Sebagai upaya untuk meningkatkan cakupan kinerja maka dilakukan upaya Program PISPK (program indonesia sehat pendekatan keluarga) dan edukasi PHBS. Untuk aktivitas masyarakat dengan khas budaya setempat yaitu
bertong-royong dan pemantauan melalui mass media, media sosial bahkan melalui Lembaga Swadasaya Masyarakat (LSM).
5.2. Tempat-tempat Umum
Pengawasan dan Inspeksi Kesehatan Lingkungan secara berkala dan priodik.
Salah satu pilar tempat tempat umum adalah TPM. Pembinaan TMP sebagaimana hasil laporan dalam aplikasi.
Berdasarkan data di bawah ini bahwa dari 185 TPM 49% yang dibina dengan melakukan pemeriksaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dan hasilnya sekitar 63% yang laik. Artinya pembinaan melalui program Kabupaten Kota Sehat menjadi penting dan mendasar sehingga wiwerda tahapan kedua akan lebih menjadi bermakna untuk kesehatan masyarakat pada umumnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
5.3. Permukiman, perumahan dan bangunan sehat
Pelayanan sanitasi dasar dan gotong royongmasyarakat untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan nyaman. Gerakan ini merupakan agenda rutin setiap jumat mereka mengadakan gotong royong kebersihan lingkungannya. Kegiatan ini lebih inten ketika terjadi KLB demam berdarah. Komunitas masyarakat penduli semakin tahun menunjukan peningkatan karena edukasi dari Puskesmas tiada henti untuk mewujudkan masyarakat yang dasar untuk hidup sehat yang mandiri.
Sehat itu Gaya Hidup yang Mahal.
185
Terdaftar Bina IKL Laik
TPM %
Gambar Gerakan Rutin Jum’at Bersih Gotong Royong Masyarakat dalam Pembersihan sanitas lingkungan.
5.4. Penyediaan air bersih
Berdasarkan laporqan Dinas Kesehatan pada tahun 2020 bahwa sekitar 98,04% masyarakat Kabupaten Musi Rawas telah mengakses air bersih. Ada satu wilayah kerja Puskesmas yang cakupan akses air bersihnya masih di bawah 80%
yaitu wilayah kerja Puskesmas Sungai Bunut Kecamatan BTS Ulu, dan tiga wilayah kerja Puskesmas yang cakupan akses air bersih telah mencapai 100% yaitu Puskesmas Nawangsasi dan L. Sidoharjo dan Puskessmas Kelingi IV C. Laporan terlampir.
5.5. Kesehatan dan keselamat kerja, pencegahan kecelakaan dan rudapaksa Menurut laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Rawas dari 19 unit Puskesmas yang melaksanakan program K3 terdapat 18 unit Puskesmas yang terdapat Industri kecil menengah (IKM) yang tersebar sebanyak 24 unit. Unit IKM yang terbanyak terdapat di Kecamatan Megang Sakti yaitu 4 unit, Kecamatan Sumberharta terdapat 3 unit dan Tugumulyo sekitar 2 unit. Laporan terlampir.
5.6. Kesehatan Keluarga, Reproduksi KB
Kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan KB menjadi agenda rutin dalam kegiatan Gerakan Musirawas Sempurna setiap bulan bersinergis dengan Dinas Kependudukan dan Keluarga Berencana.
Gambar Pemasangan Implant KB pada Akseptor ketika Pelaksanaan Gerakan Musirawas Sempurna 2020 di Desa Sukamana Puskesmas Terawas, 2020
5.7. Pembinaan Kesehatan Jiwa masyarakat dan Pola asuh anak
Dari 880 kasus ODGJ berat yang teridentifikasi di Kabupaten Musi Rawas pada tahun 2020 sekitar 99% terlayani dan tertangani dengan baik sesuai dengan prosedur penanganan ODGJ Berat.
Selain dengan pengobatan rutin pasien dengan gangguan jiwa ini, dilakukan pembinaan dan pemantauan pengobatan dengan cara kunjungan rumah oleh tim kesehatan Puskesmas dan Dinkes, kadang kala disupervisi langsung dari Dinas Kesehatan Provinsi dan RS Jiwa Provinsi dan Bengkulu.
Kunjungan bersama ini akan memberikan suport tersendiri bagi pasien dalam kehidupan sosial di masyarakat. Beberapa pasien dengan gangguan jiwa berat dapat bersosialisasi kembali di masyarakat dengan baik dan kondusif.
TABEL PELAYANAN KESEHATAN PADA ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA BERAT YANG MENDAPATKAN PELAYANAN KESEHATAN SESUAI STANDAR DI KABUPATEN TAHUN 2020
No Kecamatan Puskesmas
Pelayanan Kesehatan Sasaran
ODGJ Berat
Mendapat Pelayanan Jumlah %
1 C. Wawangsasi C. Nawangsasi 62 67 108,1
L. Sidoharjo 33 18 54,5
2 Muara Kelingi Muara Kelingi 60 60 100,0
Karya Sakti 24 24 100,0
3 Megang Sakti Megang Sakti 90 60 66,7
Kelingi IV C 22 13 59,1
4 Muara Lakitan Muara Lakitan 68 56 82,4
Pian Raya 17 19 111,8
5 BTS Ulu Cecar 53 56 105,7
Sungai Bunut 9 13 144,4
6 Sukakarya Ciptodadi 31 38 122,6
7 Muara Beliti Muara Beliti 48 83 172,9
8 Purwodadi O Mangunharjo 32 37 115,6
9 Selangit Selangit 38 41 107,9
10 Tuah Negeri Air Beliti 56 50 89,3
11 Jayaloka Jayaloka 32 33 103,1
12 STL Ulu Terawas 66 55 83,3
13 Sumber Harta Sumber Harta 39 37 94,9
14 T.P Kepungut Muara Kati 28 40 142,9
JUMLAH (KAB/KOTA) 808 800 99,0
Sumber : Profil Dinkes kab Mura, 2020
Gambar dibawah memaparkan saat kunjungan rumah oleh tim supervisi Dinas Kesehatan kabupaten Musi Rawas dalam agenda rutin pemantauan dan pembinaan keteraturan pengobatan selama dalam pembinaan bersama keluarga dan masyarakjat.
5.8. Kesehatan Olah Raga dan Kebugaran jasmani
Gambar Ketua Koni Kab Musi Rawas meninjau Atlit Panjat Tebing sedang mengikuti TC di lapangan Taman Beregam (Dok. KONI Mura)
Fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia di Taman Beregam Muara Beliti Baru pusat ibukota Kabupaten Musi Rawas tersedia seperti lapangan futsal,
lapangan panjat tebing, dan berbagai kegiatan atletic, senam kebugaran, yoga dan dan sebagainya.
5.9. Program anti tembakau
Tahun 2017 sampai dengan Februari 2021 gerakan Musirawas Sempurna dengan prioritas kegiatan adalah mewujudkan desa ODF dan Terbentuknya kelompok masyarakat anti tembakau. Gerakan ini diawali dengan apel siaga, pemasangan stiker rumah tanpa asap rokok dan pembangunan cakro tempat merokok di luar rumah/ di bawah pohon. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar di bawah ini.
Gambar tampak wakil Bupati Hj. Suwarti dan Dandim o4o6 diwakili Pasi Teritorial KODIM 0604 Musi Rawas.
5.10. Imunisasi
Untuk tahun 2021 sasaran vaksinasi lebih mengutamkan valsinasi Covid-19 karena sedang menjadi wabah global. Pandemi Covid-19 pada tahun 2021 diakselerasikan upaya penurunan penularan kasus dengan pemberian vaksinasi minimal 80% pada komunitas pada akhir Maret 2022. Namun sampai saat ini cakupan pemberian vaksinasi baru memasuki tahapan kedua yaitu tahapan bagi tenaga kesehatan dan pelayanan publik termasuk lansia usia >60 tahun.
TABEL VAKSINASI COVID-19 TAHAPAN PERTAMA DAN KEDUA + LANSIA KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2021
Sasaran Dosis Pertama Dosis Kedua
Cakupan % Cakupan %
Nakes 1.752 89,57% 1.572 80,37%
Yanpub 10.771 51,09% 6.616 31,38%
Lansia 4.087 13,19% 422 1,36%
Pemberian vaksinasi ini dilakukan dalam 2 (dua) interval, semuala 0-14 hari setelah direvisi menjadi 0-28 hari.
Gambar Saat Wakil Bupati Hj Suwarti mendapatkan vaksinasi Covid-19 yang Pertama di Puskesmas Muara Beliti.
Untuk cakupan imunisasi dasar dengan indikator keberhasilan adalah tercapainya desa dengansebutan UCI (universal Child Immunization) minimal 95% cakupan imunisasi campak pada anak usia 9-12 bulan. Semenjak tahun Kabupaten Musinrawas telah mencapai desa UCI 100%.
Gambar Ketua Forum Kabupaten Sehat – Ir Reza Noviarto Gustam, saat divaksinasi Covid-19 di Puskesmas Muara Beliti, April 2021
5.11. Pelayanan pengobatan dan perawatan
Tolok ukur untuk mengetahui keberhasilan pelayanan kesehatan diukur dengan angka keluhan penyakit selama satu bulan terakhir. Data ini diperleh dari BPS berdasarkan hasil survei yang dilakukannya setiap tahunnya.
Berdasarkan angka keluhan tersebut di bawah ini memberikan gambaran bahwa tantangan pelayanan kesehatan terutama sebelum masa COVID-19 terjadi penurunan akses masyarakat. Menurut BPS bahwa angka akeluhan itu adalah Keluhan kesehatan adalah keadaan seseorang yang mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan, baik
0 20 40 60 80 100 120
Selangit Terawas Nawangsasi L Sidoharjo sumberharta Mangunharjo Megang sakti Kelingi IVC Muara Beliti Muara Kelingi Karya sakti Air Beliti Ciptodadi Cecar Sungai Bunut Jayaloka Muara Lakitan Pian Raya
2018 2019 2020
karena penyakit akut, penyakit kronis, kecelakaan, kriminal, atau hal lain. Tingginya angka keluhan itu karena tingginya pevalensi penyakit kronis seperti DM, Hipertensi dan ODGJ dan kriteria inklusif BPS tidak dijelaskan secara detail sehingg kebiasan data itu dapat terjadi.
19,51 19,04 18,65 20,18
23,15 22,01
0 5 10 15 20 25
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Grafik Persentasi Angka Keluhan Kesehatan Masyarakat Musi rawas Tahun 2016-2019, BPS, 2020
5.12. Pemberantasan Malaria
Musi Rawas termasuk daerah endemis malaria, berbagai upaya dan kegiatan pemberatasan difokuskan ke daerah ini, mulai dari JICA, ICDC, Global Fan dengan sasaran rumah dan lingkungan pemukiman. Musi Rawas adalah daerah transmigrasi sehingga diperkirakan penyebaran malaria sangat dominan. Dimulai dari kegiatan biologi control, penyemprotan indoor, survei darah malaria, survei long malaria dan pengobatan, rujukan pun menjadi prioritas dalam program pemberantasan malaria di Kabupaten Musi Rawas.
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Rawas bahwa dalam dua tahun terakhir tahun 2019 dan 2020 tidak ada kasus malaria ditemukan di Puskesmas dan rumah sakit.
Pemeriksaan jentik berkala dan PSN menjadi dominan masyarakat setempat, meskipun demikian masyarakat pun turut andil berpartisipasi untuk menangkap nyamuk anopheles di malam hari bersama pengampuh dari Balitbangkes OKU Sumatera Selatan.
5.13. Pemberantasan DBD
Berdasarkan data yang dilaporkan Dinas Kesehatan bahwa angka insident Demam Berdarah setiap tahun dilaporkan terjadi peningkatan kasus, meskipun angka insiden menunjukkan penurunan secara bermakna. Lihat grafik di bawah ini.
Tahun 2017 adalah menunjukan tahun pasca terjadi KLB pola li tahunan DBD sehingga kasus secara endemi terlaporkan. Namun pada tahun berikutnya insiden menunjukan terjadi peningkatan pada tahun 2018 dan pada dua tahun terakhir 2019 sampai dengan 2020 insiden menunjukan terjadi penurunan yang berarti.
Grafik Trens Insiden DBD Kabupaten Musi Rawas Menurut Tahun 2017 - 2020
1,47
28,9
24,09
16,2
0 5 10 15 20 25 30 35
2017 2018 2019 2020
Kasus
5.14. Pemberantasan TB Paru
Grafik Persentase Cakupan Penemuan Penderita TB Paru Kab Musi Rawas 2018-2020
78 82
41
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
2018 2019 2020
Berdasarkan grafik di atas bahwa cakupan penemuan penderita TB Paru BTA Positif terlihat adanya kecenderungan meningkat dari tahun 2018 sebesar 78%
menjadi 82% pada tahun 2019. Penurunan pada tahun 2020 terjadi karena adanya pandemi Covid-19 sehingga semua aktivitas pelayanan terhenti dan terganggu kinerjanya.
5.15. Pemberantasan Diare
Seiring dengan perbaikan kualitas lingkungan dan peningkatan sumber air bersih (98%) maka prevalensi diare pun turun secara signifikan. Akselerasi program kesehatan lingkungan dengan program STBM maka pencapaian desa ODF pun meningkat, saat ini Kabupaten Musi rawas dilaporkan telah mencapai 81% desa dengan ODF pada tahun 2020.
Grafik 2.1 Jumlah Kasus Diare Menurut Intervensi Desa Siaga dan Bedah Jamban dalam Pelaksanaan GMSS
8,8 10,28 7,88 10,74 11,34 5,33 4,94 4,27 2,09
2009 2010 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Intervensi desa siaga
Bedah Jamban GMSS
5.16. Pencegahan Penyakit Sehat Degeneratif
Secara komulatif angka kasus penyakit degeneratif yang diwakili oleh penyakit hipertensi, diabetes melitus, orang dengan gangguan jiwa berat dan kanker tersebut dilaporkan bahwa kejadian lebih banyak terdapat di wilayah kerja Puskesmas Megang Sakti, diikuti Puskesmas Terawas, Muara lakitan, Cecar dan Air Beliti.
TABEL CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN PENYAKIT TIDAK MENULAR KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2020
No Puskesmas
Pelayanan dan Penanganan
Kesehatan Keteran
Hipertensi DM ODGJ Kancer
Sumber : Profil Dinkes, 2021 5.17. Gizi.
Beberapa kegiatan yang diinisiasi pemerintah adalah berupa pelayanan posyandu, PMT Balita, PMT Bumil, penemuan kasus gizi buruk, pemantauan tumbuh kembang balita. Kegiatan yang berupa partisipasi masyarakat berupa kegiatan Posyandu.
5.18. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
Pemerintah Kabupaten Musi Rawas tahun 2021 telah mengalokasikan dana untuk meningkatan cakupan kepesertaan jaminan kesehatan minimlah 95% yang disebut universal health covarage atau UHC.adapun sasaran UHC adalah kelompok sasaran sebagai kriteria inklusifnya adalah warga yang belum memiliki kepesertaan JKN pada tahun 2021 dan kepesertaan JKN Mandiri yang memiliki kelas III. Jumlah peserta setelah dikeluarkan kepesertaan unsur dari pemerintahan desa adalah sebanyak 121.398 jiwa dengan kepesertaan dari perangkat desa
sebanyak 7.248 jiwa, artinya sebanyak 181.168 jiwa yang belum memiliki akses jaminan kesehatan dari 95% jumlah penduduk 406.196 jiwa atau sebanyak 257.450 jiwa yang telah memiliki kepesertaan JKN berbagai segmen. Sehingga pada tahun 2021 ini pemerintah Kabupaten Musi Rawas akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp. 57.015.952.000.-
Untuk kelengkapan dokumen administrasi kependudukan sebagai syarat untuk menjadi kepesertaan JKN diperlukan NIK yang tercantum dalam KTP dan Kartu Keluarga. Dengan administrasi kependudukan itu maka akan lebih mudah untuk mendeteksi status keluarganya untuk mendapatkan pelayanan atau akses pelayanan kesehatan yang memiliki segmentasi penerima bantuan iuran (PBI) yang berasal dari APBD.
Lampiran-lampiran
Penghargaan yang diperoleh dari Tingkat Nasional pada setiap tatanan yang dipilih;
1. Tatanan Permukiman, sarana dan prasarana umum